“Eehm…” hanya itu jawabnya sebagai persetujuan.
Tanganku yang bergetar hebat segera membuka kaitan bra yang ada punggungnya, cukup sulit tapi akhirnya terbuka. Mataku terbelalak begitu payudara Siska terlepas dari penutupnya, begitu kencang dan besar, puting susunya yang hanya sebesar ujung jari kelingking kelihatan berwarna coklat agak kemerah mudaan, begitu keras.
Kelihatannya Siska sudah terangsang hebat, tapi matanya tetap terpejam rapat. Akupun mendapat ide nakal, perlahan kukeluarkan dengan hati-hati camera handphoneku dan Siska yang dalam keadaan toples itu kufoto berulang kali tanpa sepengetahuannya. Selesai mengambil gambarnya, dengan tak sabar kuraih dan kuremas kedua payudaranya dengan kedua tanganku. Siska pun menggeliat nikmat. Putingnya tak mau kusia-siakan, segera kuarahkan mulutku kesana dan mulai menjilat, menghisap dan sekali-kali kugigit-gigit kecil.
Siska menggelinjang hebat. “Ehmm… duh, Hendi, apa yang kamu lakukan… uow… ahh… ahh… enak tau… Hendi, kamu nakal banget… sudah donk, aku bisa nggak tahan nih.”
“Tuh kan, sekarang malah kamu yang nggak tahan. Makanya jangan sombong, hehe.” sambil terus kupermainkan kedua susunya.
“Ehm… Hendi, tadi kan bukannya kita mau ngukur penismu? Sudah besar belum?” katanya seakan ingin menyadarkanku.
“Nggak tau, coba aja periksa sendiri.” kataku pura-pura tidak tahu. Biar saja, akan kuajari dia untuk agresif, sembari terus kugumuli dadanya yang montok itu.
“Aku periksa ya, boleh?” tanya Siska.
“Boleh donk, buat kamu apa sih yang nggak aku kasih.” jawabku.
Perlahan kulihat dengan malu-malu tangan Siska bergerak ke selangkanganku, tak susah dia mencarinya, kini penisku sudah berada di dalam genggamannya.
“Wah, ternyata sudah besar lagi. Yuk kita ukur, Ar.” sahut Siska.
“Masa sih, sudah maksimal belum?” tanyaku.
“Aku mana tahu maksimalnya penis kamu, kalau segini sudah maksimal belum?” katanya ganti bertanya.
“Coba kita lihat,” jawabku. Akupun melepaskan cengkramanku pada susunya dan kami bangkit berdiri untuk melihat kondisi torpedoku. “Wah, kalau segini sih belum maksimal.” jawabku berbohong, padahal torpedoku sudah keras sekali.
“Ah, masa sih? Ini kan sudah besar sekali, bisa lebih besar dari ini?” tanya Siska sambil mengelus penisku.
“Iya, ini belum maksimal, masih bisa lebih besar. Rangsangan dari kamu masih belum maksimal nih.” kataku menjebaknya.
“Jadi aku harus gimana donk, aku elus-elus gini ya biar tambah gede?” tanya Siska.
“Mana bisa kalo hanya dielus-elus aja? Ini harus pake mulut kamu, ya dijilatin gitu,” jawabku mengarahkan.
“Ah, aku gak mau… kan jijik. Suamiku saja tidak pernah aku ciumin penisnya.” sanggah Siska.
“Yah sudah, kita tidak usah mengukurnya.” jawabku sambil pura-pura menarik penisku dari genggamannya dan berniat memasukkan kembali ke dalam celanaku.
“Yah, jangan dimasukkan dulu donk, kita kan belum selesai mengukurnya.” pinta Siska memelas.
“Habisnya kamu nggak mau hisapin penisku sih… mau nggak? Buruan, nanti kecil lagi loh. Lagian nantinya kamu juga akan terbiasa, trus ketagihan deh. Percaya deh.” kataku meyakinkannya.
“Oke-oke deh, aku mau… tapi nggak lama-lama ya. Mana penismu? Sambil berdiri saja,” kata Siska ragu-ragu.
“Enakan sih akunya duduk dan kamu jongkok di lantai, yuk.” kataku sambil menggiringnya ke sofa ruang tamunya yang lumayan lebar dan empuk.
Siska pun mengikuti arahanku. Kulihat diawalnya dia begitu ragu-ragu dan geli, tapi setelah penisku ada di dalam mulutnya, dia sempat kaget karena tidak semua batangku bisa masuk ke dalam mulutnya, paling hanya setengahnya sudah mentok di tenggorokannya. Kelihatannya dia baru pertama kalinya melakukan ini karena beberapa kali penisku berbenturan dengan giginya. Sakit, tapi kutahan… akupun memberitahunya agar tidak bersentuhan dengan giginya dan kuminta dia juga untuk menjilati batang penisku sampai ke buah pelirku. Ooh nikmatnya.
“Ohhh… nikmat sekali bibir dan lidahmu, Sis… terus, Sis… kamu makin pintar aja.” erangku.
“Masa sih, Ar? Diginiin enak ya? Ternyata asyik juga ya, seperti makan permen lolipop… ternyata aku bodoh juga selama ini ya, terlalu termakan omongan teman-teman.” sambil mulutnya terus mengulum batang penisku.
Kurasakan semakin lama dia semakin ahli mengetahui titik-titik rangsang yang kuat pada penisku, dan kulihat juga dia semakin menikmati penisku, seperti anak kecil menemukan mainan baru, digenggam erat penisku ditangannya. Tanganku pun tak diam saja, kuremas kedua susunya dan kepermainkan kedua pentilnya, kelihatan dia menggelinjang keenakan.
“Ar, sudah maksimal belum sekarang?” tanya Siska menyudahi kulumannya pada penisku.
“Coba kulihat… iya, ini sudah besar maksimal. Betulkan lebih besar? Dan lihat kepalanya, merah sekali, seakan-akan mau meledak. Mau diukur?” jawabku.
“Mau donk, aku kan penasaran, soalnya suamiku saja tidak seperti ini. Dari kecil memangnya sudah sebesar ini?” tanya Siska.
“Ya enggak lah, aku punya rahasianya donk.” jawabku.
“Maksud kamu punya cara biar bisa sebesar ini?” tanya Siska.
“Pastinya, mau tau aja, hehe.” jawabku.
“Boleh donk bagi-bagi kau ajarkan untuk suamiku, akupun kepingin suamiku punya penis sebesar ini.” pinta Siska.
“Nggak mau ah, nanti kamu nggak mau sama penis aku lagi, hehe.” jawabku licik.
“Please donk, Ar…” pintanya.
“Ya udah, diukur dulu, berapa panjang dan diameternya…” jawabku.
“Oke-oke… wah, panjangnya 20 cm dan diameternya 4 cm. Gede banget, Ar. Kalau punya suamiku paling hanya 12 cm dan diameternya 3 cm, jauh banget sama punya kamu. Ceritain donk rahasianya,” rayu Siska.
“Boleh, tapi kamu harus tanggung jawab dulu karena sudah membesarkan penisku, hehe.” kataku sambil kuelus-elus batang penisku dihadapannya.
“Tapi kita nggak boleh melakukan hal itu, Ar. Kemaluanku hanya untuk suamiku, aku takut berdosa… maafin aku ya, Ar, aku nggak bisa.“ jawabnya sambil buru-buru dia merapikan bajunya.
“Trus aku mesti gimana donk?” tanyaku.
“Yah kamu cari cara sendiri deh, sana pakai saja wc-ku, keluarkan gih disana, pokoknya aku nggak mau.” kata Siska tetap pada prinsipnya.
“Ah, kamu tega sekali sama aku, Sis. Gimana kalau kamu hisepin aja seperti tadi, lama-lama juga bisa keluar. Tolong ya?” kali ini aku yang ganti merajuk.
“Hihi… nggak mau ah, biarin aja kamu pusing sendiri, hihi.” candanya nakal, membuatku semakin terangsang. Pikirku, apa aku perkosa saja dia? Tapi akal sehatku bicara, bisa rugi nantinya bagiku karena resikonya dia bisa kapok main sama aku lagi.
“Hihi, ya udah, sini aku bantuin pakai mulutku. Tapi ingat ya, aku nggak mau disetubuhi.” jawab Siska pada akhirnya, tidak tega.
“Oke deh, aku janji.” sahutku sambil menyodorkan penisku ke mulutnya yang saat itu sedang duduk di sofa.
Sambil berdiri, penisku kembali dihisapnya. Cukup lama dia menjilati penisku, dan tanganku kembali mempermainkan susunya. Setelah hampir lima menit, akhirnya penisku mulai ada tanda-tanda mau meledak. Aku ada ide nakal lagi, sengaja aku tidak mau bilang-bilang kalau penisku mau meledak. Siska pun tidak curiga dan semakin rakus menjilati penisku.
Saat aku sudah tidak bisa menahan ledakan sperma yang mau keluar, sengaja kubenamkan penisku dalam-dalam di mulut Siska, dan muncratlah spermaku di dalam mulutnya. Siska terkaget-kaget dibuatnya, tapi sudah terlambat. Sebagian spermaku menyemprot di tenggorokannya, sebagian lagi muncrat di wajahnya. Uhh, puasnya hatiku. Siska terbatuk-batuk dan segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan spermaku. Hehe… kena juga lu, rasain. Lagian gua sudah pusing sampai ke ubun-ubun, tapi lu nggak mau disetubuhi.
Tak lama Siska keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk kecil dan menyeka mulut serta wajahnya. “Ih, kamu nakalin aku ya? Kamu nggak bilang kalau mau keluar, sebagian spermamu tertelan sama aku. Tadi sperma kamu kental banget dan rasanya asin, ini sperma pertama yang aku cicipi. Kalau suamiku tahu bisa gawat kamu. Ar.” rengut Siska sambil mencubit pinggangku.
“Iya, biar kamu makin sayang sama penisku, hehe.” jawabku.
Kami berpelukan dan berciuman mesra seperti sepasang kekasih yang tidak bertemu cukup lama.
“Oh iya, janji ya ngasih tahu rahasianya penis kamu itu.” pinta Siska mengingatkanku.
“Nggak mau ah, biarin aja punya suami kamu kecil. Nanti kalau aku ajarin, kamu lupain aku. Udah, kamu nikmati aja penisku ini, selamanya buat kamu deh, hehe.” jawabku.
“Tuh kan, janjinya nggak bisa dipegang. Tapi… bener nih penismu milik aku selamanya?” tanya Siska sambil tangannya meraba penisku.
“So pasti lah, hehe.” jawabku.
Tak terasa hari sudah sore, Siska memintaku untuk pulang, dia takut suaminya datang dan menemukan kami sedang berdua.
“Oh iya, Sis, soal CV lamaran kapan bisa aku berikan ke suamimu?” tanyaku sebelum kembali ke kontrakanku.
“Nanti jam setengah tujuh malam saja kamu datang kesini lagi, ok?” jawabnya.
“Ok deh, tapi nanti kamu pakai baju yang sexy ya biar nanti malam aku tidurnya nyenyak, hehe.” pintaku.
“Ih, masih nakal aja. Nggak mau ah, keenakan kamu nanti.” katanya sambil kembali mencubit tanganku.
Berat rasanya berpisah dengan wanita cantik dan menggairahkan ini. Tapi daripada nantinya membahayakan, lebih baik aku segera pamit. Sebelum pamit, aku melumat bibirnya kembali dan meremas buah dadanya.
Aku pun pulang dan beristirahat untuk bersiap-siap memulai petualanganku nanti malam. Rencananya aku akan mengintip Ece Geulis nanti. Akupun tertidur. Tak sadar ternyata jam sudah setengah tujuh malam, aku dibangunkan oleh suara sms yang setelah kubuka ternyata dari Siska yang bertanya apakah aku jadi untuk datang ke rumahnya.
Aku segera bersiap-siap dan berjalan keluar rumahku mendekati rumah Siska lalu mengetuk pintunya. Tak lama pintupun terbuka dan kulihat wajah orang yang kugumuli tadi siang membuka pintu untukku. Malam itu kulihat Siska menggunakan gaun tidur warna hitam, kelihatan kontras sekali dengan kulitnya yang putih mulus. Tangannya memberi kode di bibirnya agar aku berhati-hati dalam bicara dengan suaminya. Aku kemudian dipersilakan duduk olehnya.
“Sebentar ya, Ar, aku panggilkan suamiku. Dia baru selesai mandi, mungkin sekarang sudah selesai ganti baju.” kata Siska.
“Siapa, mam?” tanya orang di dalam kamar.
“Ini pah, Hendi tetangga sebelah. Dia mau ketemu sama kamu, katanya mau antar CV lamaran.” teriak Siska.
“Oh iya, tunggu ya.”
Tak lama keluarlah Ernest, suami Siska, dari kamarnya. “Halo, Hendi, apa kabar?” sapanya.
“Baik, pak Ernest.” jawabku, sementara batinku bicara, “Luar biasa hari ini, pak. Istrimu sungguh-sungguh luar biasa nikmat.”
Pak Ernest duduk di sofa dan mempersilahkanku duduk juga, sementara Siska duduk disampingnya. “Mana CV-nya, aku mau lihat. Oh iya, tunggu sebentar, aku lupa ambil kacamata bacaku.” Kata pak Ernest.
Sementara laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya, aku dan Siska saling bertatapan. Aku mencoba menggodanya dengan mengelus-elus penisku yang berada di balik celana. Siska melotot sambil tersenyum, diapun membalas dengan memegang dadanya sambil lidahnya dikeluarkan seakan ingin menjilat. Kami saling tersenyum. Tingkah kami berhenti setelah mendengar langkah kaki Ernest berjalan keluar dari kamar.
Setelah pembicaraan serius hampir 30 menit, akhirnya aku pamit untuk pulang. Di depan pintu, Siska yang berdiri dibelakang suaminya, mengerlingkan matanya kepadaku.
Sesampainya di rumah, aku segera menyusun rencana. Segera kunaiki atap rumahku, tadinya kupikir mau langsung ke atas rumah Ece Geulis, tapi kuurungkan niatku. Aku masih penasaran dengan Siska, aku mau tahu yang akan mereka lakukan malam ini. Kini aku sudah tepat diatas kamar mereka.
Kulihat sepasang suami istri itu tengah berbaring berdua diranjang dan tengah bercakap-cakap.
“Gimana hari ini, Mas?” tanya Siska.
“Baik-baik aja, semuanya lancar. Bisnis perusahaan semakin besar, penjualannya meningkat, ke depannya mungkin aku akan sering pulang telat karena aku ditunjuk untuk bertanggung jawab pada Div. Accounting.” jawab suaminya.
“Apakah itu artinya mas naik posisi?” tanya Siska.
“Iya, apakah kamu senang?” tanya suaminya.
“Yah pasti senang dong, mas. Mas ini gimana sih?” sahut Siska. “Kalau begitu malam ini kita harus merayakannya,” lanjutnya.
“Bagaimana kita merayakannya?” tanya suaminya sambil mencium dan memeluk tubuh sintal Siska.
Merekapun berpagutan dengan mesranya. Tangan Ernest mulai menjelajah ke bagian-bagian sensitif dari tubuh Siska, mereka melakukan foreplay yang sungguh panas cukup lama. Kulihat Siska begitu bernafsu, mungkin itu gara-gara tadi siang hasratnya belum tersalurkan bersamaku dan kini dia lampiaskan bersama suaminya. Tapi sekarang mulai ada perubahan dari cara bercinta Siska, kulihat dia sudah mau melakukan oral terhadap penis suaminya. Kudengar suaminya sangat senang melihat perubahan dari istrinya itu, saat ini Siska sedang menjilati penis Ernest. Tak berapa lama kulihat suaminya tak dapat menahan ledakan spermanya, tapi cepat-cepat dikeluarkan oleh Siska sehingga tak sampai tertelan, hehe… sudah pengalaman nih ye, batinku.
Kulihat Siska kelihatan kecewa karena setelah spermanya keluar, ternyata penis suaminya tidak mau membesar kembali walaupun sudah beristirahat dan dirangsang olehnya. “Mas Ernest, burungnya dah bobo ya? Masa baru satu ronde sudah keok, akunya aja belum apa-apa, mas.” kata Siska.
“Maaf ya, sayang, aku hari lelah sekali, pekerjaan lagi banyak-banyaknya. Hal itu lah yang mau aku bicarakan dengan kamu, mungkin minggu-minggu yang akan datang staminaku akan terkuras lebih banyak. Aku mohon pengertian dari kamu.” pinta suaminya.
“Iya deh nggak apa-apa, aku ngerti. Tapi mas mesti jaga kesehatan juga, jangan sampai sakit loh.” jawab Siska.
Diatas atap, hatiku bersorak gembira karena keadaan yang menimpa suaminya, jawaban dari Siska yang mau mengerti aku pikir mungkin karena dia teringat sama penisku yang sangat besar, hehe… ternyata arah angin keberuntungan sedang berjalan ke arahku.
“Oh iya, mas, btw si Hendi nanti pekerjaannya sama dengan mas Ernest?” tanya Siska.
Benar saja dugaanku, ternyata dia teringat sama penisku, hahaha… hampir saja aku tertawa lepas, tapi cepat-cepat kututup mulutku.
“Beda, Mah. Dia di bidang IT yang urusin komputer-komputer di kantorku. Sebenarnya kerjanya enteng dan cepat kalau memang dia sudah ahli. Enaknya lagi, pekerjaan Hendi bebas waktunya, seperti orang freeland, tidak terikat waktu.” jawab suaminya.
Kulihat Siska tersenyum puas.
“Bagaimana menurut mama, si Hendi itu?” tanya suaminya.
“Keliatannya orangnya pintar, supel, dan bertanggung jawab. Oh iya, ada satu lagi, dia lumayan ganteng juga, hihi…” jawab Siska.
“Ganteng mana sama aku?” tanya suaminya.
“Masih gantengan mas sih, tapi gak tau burungnya kuatan mana, hihihi…” canda Siska.
“Kok kamu bicaranya gitu sih?” jawab suaminya.
“Habisnya burungnya mas belum masuk kandangnya malam ini, udah tewas tertembak duluan, hihi…” sahut Siska. Merekapun tertawa bersama dan Siska menghabiskan malam itu tanpa orgasme… sungguh kasihan kau, Siska. Lagian sombong sekali sih kau tadi siang tidak mau menerima torpedoku, aku mau lihat sampai kapan kau bertahan, batinku.
Malam itu berlalu begitu saja. Aku juga tidak jadi mengintip aktifitas dari Ece Geulis dan suaminya. Aku segera turun untuk beristirahat, akupun merebahkan tubuhku dan tertidur. Kira-kira pukul 11.30 malam, handphoneku berbunyi. Aku terbangun dan melihat, ternyata ada sms. Wah, ternyata dari Siska. Ada apa nih, pikirku.
“Ar, kamu sudah tidur?” begitu bunyi sms tersebut.
“Belum, Sis. Ada apa ya?” segera kujawab dengan sms.
“Boleh aku ke kontrakanmu?” balas Siska.
“Boleh aja sih, tapi ini kan sudah malam, nanti kalau suamimu tahu gimana?” balasku.
“Dia sudah tidur pulas banget, ngorok lagi, nggak mungkin bangun deh biarpun ada geledek.” jawab Siska. “Boleh ya? Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Boleh ya, Ar, please?” pinta Siska.
“Oke deh, tapi hati-hati ya, jangan sampai suamimu tahu.” kataku.
“Iya, tenang aja. Bukain pintunya ya,” balas Siska.
Dengan gembira aku bergegas bangun menuju pintu rumahku dan membuka kuncinya. Tak lama Siska muncul hanya dengan menggunakan gaun malam hitam yang mempertontonkan lekuk tubuhnya yang sexy. Ia segera masuk ke dalam rumahku.
“Ada apa, Sis?” tanyaku pura-pura.
“Ar, enaknya ngobrolnya jangan di ruang tamu, nanti kalau ada tetangga yang dengar bisa berabe.” katanya.
“Oke deh, kita ke kamarku saja.” jawabku. Kupegang tangan Siska dan kuajak ke kamarku. Sesampainya di kamar, aku minta dia untuk duduk di ranjangku. “Ada apa sih, Sis?” tanyaku lagi.
“Aku mau minta tolong sama kamu, Ar.” katanya.
“Apa yang bisa kubantu?” tanyaku.
“Itu… tapi aku malu ngomongnya.” balas Siska.
“Apaan sih, jadi penasaran gini.” tanyaku lagi.
“Begini, Ar… tolongin dong, aku lagi nanggung nih…” jawab Siska.
“Maksudmu nanggung apa? Ngomong aja, nggak usah malu-malu sama aku.” sahutku.
“Bantu aku keluarin…” jawab Siska malu.
“Keluarin apaan?” tanyaku semakin penasaran.
Dengan wajah memerah dia menunjuk ke aarah kemaluannya.
“Oh, maksud kamu, aku bantuin keluarin cairanmu gitu? Supaya orgasme? Hahaha,” kataku sambil tertawa geli.
“Ih, kamu nakal godain aku. Ya udah deh, nggak jadi aja kalau kamu ledekin aku kayak gitu.” Siska berdiri seakan mau pergi.
“Jangan marah gitu dong.” kuraih tangannya. “Kan ada suamimu, kenapa kamu nggak minta sama dia?” balasku lagi.
“Maunya sih begitu, tapi dia sudah keburu lemes duluan, kecapekan kerja. Aku dicuekin malam ini.” jawabnya.
“Gimana caranya aku bisa buat kamu orgasme kalau masukin penisku aja gak boleh?” tanyaku.
“Iya sih… tapi aku butuh banget nih, gimana ya?” tanya Siska kebingungan.
“Boleh nggak aku masukin?” tanyaku lagi.
“Ehmm… oke deh. Tapi nanti lubangku jadi longgar nggak ya, soalnya punyamu kan lebih besar dari milik mas Ernest. Nanti ketahuan sama dia nggak ya?” tanya Siska.
“Hahaha… ya pasti enggaklah. Lubangmu itu elastis tahu, jadi dia akan kembali normal seperti biasa. Kalau nggak elastis, wah… banyak ibu-ibu diceraikan sama suaminya setelah melahirkan.” jawabku.
“Tapi bukannya setelah melahirkan jadi longgar?” tanya Siska lagi.
“Kepala bayi kan lebih besar dari punyaku, Sis. Gimana sih, mau nggak?” balasku.
“Oke deh… tapi pelan-pelan ya, aku belum pernah ngerasain yang sebesar itu.” jawab Siska.
“Sip lah… kenapa nggak dari tadi siang aja, kamu bikin repot aku aja, tapi…” kataku.
“Tapi apa, Ar?” balas Siska.
“Apa kata orang kalau kita melakukan ini, nanti kalau suami tahu gimana?” godaku.
“Kamu nakalin aku lagi ya, Ar?” sahut Siska sambil mencubit pahaku.
Kutangkap tangannya dan segera kupeluk tubuh sintalnya. Kami pun tertawa bersama-sama sambil berguling-guling di atas kasur. Kenyalnya payudara Siska yang bersentuhan dengan dadaku kembali membangkitkan kelaki-lakianku. Dengan lembut kucium bibirnya. “Kamu cantik dan sexy sekali malam ini, Sis.” kataku.
“Kan tadi sore kamu yang pesan supaya aku pakai yang sexy.” jawab Siska.
“Oh iya, berarti sudah sesuai pesanan donk? Dan artinya pula aku harus bayar, karena yang aku pesan sudah sampai malam ini dengan mulus.” kataku sambil dengan nakal menyusupkan tangan ke balik gaunnya, mencari payudara montoknya dan mulai meraba serta meremasnya. Terasa di telapak tanganku pentilnya sudah mengeras tanda dia sudah terangsang.
“Pembayarannya pakai apa, Sis? Cash atau cicilan perbulan nih?” tanyaku menggoda.
“Ehm, sebentar aku pikir dulu ya… ehm, kalau bayarnya sih sudah jelas pakai ini.” katanya sambil mengelus penisku yang sudah membesar. “Kalau soal kapan bayarnya, aku pikir aku minta di muka dulu malam ini, selanjutnya atau sisanya harus cicilan keras loh, pak. Hehe…” kata Siska sambil tersenyum-senyum nakal.
“Maksud kamu bayar dimuka itu seperti ini?” kataku sambil mengeluarkan penisku dan mengarahkan ke mukanya.
“Betul sekali, Pak, hehe… ini baru customer yang pintar sekali. Tapi ingat ya, cicilannya mesti rutin dibayar loh, kalau gak rutin aku kenakan denda.” jawabnya sambil meraih penisku dan mulai mencium dan menjilatinya dengan penuh nafsu.
“Ehm… oke deh, nanti tolong dibuatkan schedull cicilan rutinnya ya. Tapi kalau saya mau bayar cicilan agak besar dan sebelum schedullnya, boleh ya?” tanyaku sambil mengelus rambutnya dan tanganku yang satunya lagi meremas payudara dan memainkan pentilnya.
“Ugh… boleh, asal dikonfirmasi dulu. Ingat ya, bayarnya harus melalui saya loh.” balas Siska.
“Ah, kita ini seperti lagi kredit rumah ja. Padahal kita kan sekarang lagi persiapan mau menggapai nikmat, hehe… mana punyamu sini, biar aku masukin penisku ke lubangmu, biar kamu lega.” kataku lembut dan mulai membuka seluruh gaun tidurnya. Akupun terpesona begitu melihat celana dalam Siska, wow begitu sexynya. Malam ini dia memakai cd lingerie warna hitam yang hanya mampu menutupi kemaluannya, sedangkan pantatnya yang bulat terbuka kelihatan begitu menantang.
Sebelum aksiku kulanjutkan, aku segera mengambil cameraku dan meminta Siska untuk berpose sexy dengan hanya menggunakan bra hitam dan cd lingerinya. Tadinya dia menolak, tapi setelah kurayu terus dengan mengatakan kalau hal ini bisa membuat penisku tambah besar, akhirnya dia mau juga dan mulai berpose sexy dengan wajah bersemu merah. Hal ini membuatnya keliatan sangat sexy.
“Oke deh, aku sudah nggak tahan melihat kamu berpose seperti ini. Coba kamu nungging, aku mau tusuk kamu dari belakang.” pintaku.
“Boleh, siapa takut?” balas Siska.
“Jangan kapok ya dientot sama aku, Sis.” kuarah penisku ke lubangnya. Sangat sulit bagiku untuk memasukkannya pertama kali, tapi setelah kulumasi dengan ludah, akhirnya jebol juga pertahanannya. Siska pun meringis kesakitan.
“Ughh… Ar, jangan digoyang dulu. Uuuh… penismu padat sekali di lubangku. Ohh…” rintihnya.
“Sudah enakan belum?” tanyaku.
“Ehmm… iya, pelan-pelan ya, Ar.” pintanya.
Akupun mulai mengenjot tubuhnya dari belakang. Mata Siska terpejam-pejam menikmatinya. Baru sepuluh kali sodokan, ternyata dia sudah di puncak. “Ooh… enak banget batangmu, Ar. Aku nggak kuat nih. Aku sudah mau sampai… terus sodok memekku, Ar… ah… ah… ah…” rintih Siska dengan napas memburu.
Kugenjot terus tubuh mulusnya sambil tak lupa kuremas-remas tonjolan buah dadanya yang menggantung indah.
“Hendi, ahh… aku keluar! Oooh… batanngmu perkasa sekali… uh… ah!!” teriak Siska kelojotan. Kurasakan tubuhnya mengejang dan melengkung penuh kenikmatan. Terus saja kugenjot dia meski kurasakan sensasi yang luar biasa karena kurasakan memeknya seperti meremas-remas penisku. Aku berusaha bertahan. Pikirku, aku harus benar-benar menikmati tubuh sintalnya dan membuatnya tidak mudah melupakan kontolku.
Hampir satu jam aku menggenjotnya dengan berbagai macam gaya dan entah sudah berapa kali dia mencapai orgasme, sampai akhirnya akupun ingin meledak. Kutekan sedalam-dalamnya kontolku dan ingin kukeluarkan spermaku di dalam liang nikmatnya.
“Ooohh… Sis, aku entot kamu sampai habis! Ughh… biar kamu tahu rasa karena sudah nolak kontolku tadi siang. Uuh… uhh… uhh… ahh… aku keluar, Sis! Ini, nikmati peju panasku!” erangku sambil terus kugenjot sedalam dan secepat-cepatnya kontolku ke liang memeknya.
“Aduh, ah… ah… terus, Ar. Tapi jangan dikeluarin di dalam. Jangan…” teriak Siska seakan ingin berontak dan melepaskan diri.
Aku tetap tak mempedulikan permintaannya. ”Aku harus menghukum kamu, Sis, dengan kontolku. Biar tahu rasa kamu, hehe…” Terus kugenjot kontolku dan akhirnya meledak juga spermaku, menyemprot semua ke ruang basah di dalam rahim Siska. Aku pun tergeletak di atas ranjangku di samping tubuh telanjang Siska yang basah oleh keringat. Napas kami sama-sama terengah-engah.
“Kamu jahat, Ar. Kenapa dimasukkan di dalam tadi?” terlihat air mata Siska berlinang.
“Aku melakukan itu karena aku sayang sama kamu, Sis. Apapun yang terjadi, aku akan tanggung jawab sama kamu. Percayalah, sayang.” kataku sambil kucium bibirnya yang mungil.
“Oh, Hendi, aku juga sayang sama kamu… terima kasih ya sudah mau bantu aku. Pejumu banyak dan hangat sekali di dalam memekku, enak banget…” jawab Siska.
Kamipun beristirahat sambil berpelukan mesra. Sampai kami tersadar waktu sudah menunjukan pukul satu malam. Kamipun berpisah dengan berat hati. Sesampainya di rumah, Siska memberitahuku dengan sms kalau suaminya masih lelap tertidur. Aku pun bernapas lega. Malam itu sebelum tertidur, kembali Siska mengirim sms yang bunyinya seperti ini: “Ar, aku puas sekali tadi. Kontol kamu benar-benar perkasa. Terima kasih ya, kutunggu cicilan selanjutnya, hihi.”
Setelah membacanya, akupun tertidur dengan begitu pulasnya….
Bersambung…
ns216.73.216.62da2


