PART 1

Kisah ini dimulai di sebuah rumah sederhana yang terasa hampa dan dingin setelah kepergian sang kepala keluarga. Eni, seorang janda berusia awal tiga puluhan, duduk termenung di teras rumahnya, pandangannya kosong menatap senja yang perlahan ditelan malam. Ia mengenakan baju longgar dari bahan katun dan hijab lebar yang menutupi auratnya, sebuah pakaian yang mencerminkan ketaatannya, namun tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan bentuk tubuhnya yang masih terjaga dengan baik—bahu yang lebar, pinggul yang membentuk lekuk indah, dan dada yang padat. Ia adalah gambaran sempurna seorang ibu alim dan salehah, namun di balik kerudung itu, tersimpan seorang wanita yang kesepian, yang merindukan sentuhan hangat seorang kekasih. Di sampingnya, putra semata wayangnya, Rafi, yang baru berusia 17 tahun, duduk dengan kaku, mencoba berkuat hati di depan ibunya. Rafi adalah remaja yang lembut hati, sedikit pendiam, dan memiliki kondisi unik di mana rasa takut yang ekstrem akan memicu reaksi fisik yang tak terkendali; tubuhnya akan bergetar hebat, suaranya tercekat, dan matanya akan berkaca-kala, sebuah kelemahan yang membuatnya terlihat sangat rapuh dan mudah disakiti. Setelah kematian suaminya dalam sebuah kecelakaan mengerikan di jalan tol, Eni merasa tidak sanggup lagi tinggal di kota yang penuh kenangan pahit. Ia memutuskan untuk membawa Rafi jauh dari sana, kembali ke kampung halamannya di sebuah desa yang tenang dan asri, dengan sebuah harapan naif bahwa lingkungan baru akan menyembuhkan luka mereka dan melindungi putranya dari kekejaman dunia.24933Please respect copyright.PENANAaIB2kVsdLo
Senja itu menggantung rendah di ufuk barat, menyisakan semburat warna jingga yang perlahan memudar menjadi ungu kelam. Di teras sebuah rumah sederhana yang dikelilingi rimbunnya pepohonan desa, Eni duduk terdiam. Angin sore berembus pelan, memainkan ujung hijab lebarnya yang berwarna lembut, namun tak mampu mengusir rasa dingin yang seolah telah menetap di dalam dadanya sejak kepergian suaminya.

Ia menghela napas panjang, sebuah desahan yang membawa beban kerinduan yang amat dalam. Meskipun mengenakan baju katun longgar yang menutup rapat seluruh lekuk tubuhnya, kain itu tak bisa sepenuhnya menyembunyikan kenyataan bahwa Eni adalah wanita yang sangat menarik. Setiap kali ia bergerak sedikit saja, bahan katun itu mengikuti garis bahunya yang tegak, lekukan pinggulnya yang sintal, serta volume dadanya yang padat, menciptakan siluet feminin yang menggoda di balik penampilan alimnya.
24933Please respect copyright.PENANASRNBidujz9
Di sampingnya, Rafi duduk dengan bahu yang membungkuk, jemarinya saling bertaut dengan gelisah. Remaja itu menatap ujung sandalnya dengan pandangan kosong, seolah sedang berusaha keras untuk tidak membiarkan rasa cemas menguasai dirinya.
24933Please respect copyright.PENANAJFrEcWyju2
"Kamu merasa lebih tenang di sini, Nak?" suara Eni memecah keheningan, lembut dan penuh kasih, namun terselip nada getir di dalamnya.
24933Please respect copyright.PENANAAKfzB0diXt
Rafi mendongak perlahan, menatap ibunya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Iya, Bu. Lebih sepi. Tidak seperti di kota."
24933Please respect copyright.PENANA5wwPzEpRi0
Eni tersenyum tipis, tangannya terulur mengusap lembut rambut putranya. "Ibu hanya ingin kamu bisa bernapas lega. Ibu tidak ingin melihatmu gemetar ketakutan setiap kali kita melewati jalanan yang dulu sering kita lalui bersama Ayah."
24933Please respect copyright.PENANA2H3UU8iIy6
Mendengar kata 'Ayah', tubuh Rafi tersentak kecil. Ia menarik napas pendek, dan untuk sesaat, ujung jarinya mulai bergetar halus—sebuah reaksi fisik yang tak bisa ia kendalikan setiap kali trauma itu menyeruak kembali.

"Aku... aku akan mencoba kuat, Bu. Demi Ibu," bisik Rafi, suaranya terdengar tercekat di tenggorokan, menunjukkan kerapuhan yang nyata.
24933Please respect copyright.PENANA214UV1WA7Z
Eni menarik Rafi ke dalam pelukannya, mendekap kepala putranya di dadanya yang empuk. Dalam dekapan itu, Eni memejamkan mata, menghirup aroma rambut Rafi. Namun, di saat yang sama, ia merasakan kekosongan yang menganga di dalam dirinya sendiri. Ia adalah seorang ibu yang luar biasa, namun ia juga seorang wanita yang sudah terlalu lama tidak merasakan sentuhan pria. Kesepian itu seperti racun yang perlahan mengalir, membuatnya merindukan sesuatu yang bahkan ia takut untuk akui dalam doanya.
24933Please respect copyright.PENANA6WebbkmCSe
"Kita mulai semuanya dari awal di sini, Rafi," ucap Eni sambil melepaskan pelukannya, menatap mata putranya dengan penuh harap. "Tidak ada lagi orang-orang jahat, tidak ada lagi kenangan pahit. Hanya ada Ibu dan kamu."
24933Please respect copyright.PENANAz0igqZgzwF
Rafi mengangguk pelan, mencoba memaksakan sebuah senyum kecil di wajahnya yang pucat. "Semoga saja, Bu."
24933Please respect copyright.PENANAk8fz8AEcgM
Mereka berdua terdiam kembali, membiarkan kegelapan malam perlahan menyelimuti teras rumah itu, tidak menyadari bahwa di balik ketenangan desa ini, ada tantangan baru yang mungkin jauh lebih berbahaya bagi jiwa mereka yang rapuh.
—------------------------------------------------------------------------------24933Please respect copyright.PENANAqMsFvnfIPW
24933Please respect copyright.PENANAhZtMDEK8Kz
Esok hari tiba , rafi pertama kali berangkat ke sekolah barunya , gerbang SMA Negeri itu tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan Rafi bulat-bulat. Dengan seragam yang masih kaku dan bau kain baru yang menyengat, Rafi berjalan menunduk, berusaha sekecil mungkin agar tidak menarik perhatian. Namun, di sekolah seperti ini, menjadi "berbeda" adalah sebuah undangan terbuka bagi pemangsa.
24933Please respect copyright.PENANAbvgufzrRO7
Baru saja ia melewati koridor menuju kelasnya, sebuah lengan kekar tiba-tiba menghalangi jalannya. Rafi tersentak, hampir saja ia menabrak dada bidang seorang remaja laki-laki yang tingginya beberapa senti di atasnya.

"Wah, lihat nih. Ada barang baru," ucap Dimas dengan nada meremehkan. Ia menyeringai, matanya yang tajam memindai Rafi dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina.
24933Please respect copyright.PENANAgJLy4PB3N3
Di belakang Dimas, dua orang rekannya tertawa cekikikan, mengepung Rafi sehingga remaja itu terpojok ke dinding koridor yang dingin.
24933Please respect copyright.PENANAYoFm2xGxDe
"S-siapa... kamu?" bisik Rafi terbata, suaranya hampir hilang.
24933Please respect copyright.PENANAPC53IjAefQ
Dimas tertawa terbahak-bahak, lalu maju satu langkah hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Pertanyaan bagus. Aku adalah orang yang menentukan apakah hari pertamamu di sini bakal menyenangkan atau jadi neraka. Nama gue Dimas. Dan lo... lo kelihatan seperti tipe orang yang gampang sekali hancur."
24933Please respect copyright.PENANAahA3EkMqL7
Tiba-tiba, Dimas mendorong bahu Rafi dengan keras. *Brak!* Punggung Rafi menghantam dinding, membuat napasnya tercekat.
24933Please respect copyright.PENANAfL0wPAlt0k
"Mana uang jajan lo? Siniin!" perintah Dimas kasar, tangannya terulur menuntut.
24933Please respect copyright.PENANABM9wW84oT5
"A-aku... aku tidak punya banyak," jawab Rafi, suaranya mulai bergetar.
24933Please respect copyright.PENANAxgc7Rsfaj2
"Halah, jangan bohong! Keluarin semuanya, atau gue bantu keluarin dari kantong lo dengan cara kasar!" Dimas kembali mendorongnya, kali ini lebih keras hingga Rafi terhuyung dan hampir jatuh tersungkur.
24933Please respect copyright.PENANAXJGpECK9mF
Pada titik itulah, rasa takut yang ekstrem itu menyerang. Tubuh Rafi mulai bergetar hebat, sebuah reaksi fisik yang tak bisa ia bendung. Bahunya berguncang, lututnya terasa lemas seperti jeli, dan tanpa sadar, butiran air mata mulai menggenang di pelupuk matanya sebelum akhirnya jatuh membasahi pipinya.
24933Please respect copyright.PENANA0Pd1LDD9mi
Dimas tertegun sejenak, lalu ledakan tawa pecah dari mulutnya dan teman-temannya. "Hahaha! Liat nih! Anak umur 17 tahun tapi nangis kayak bayi! Sumpah, ini lucu banget!" Dimas mencengkeram kerah baju Rafi, menariknya mendekat agar bisa melihat wajah ketakutan itu lebih jelas. "Lo bener-bener pecundang, ya? Lemah banget!"
24933Please respect copyright.PENANAMgl3L9PzjC
"S-stop... tolong stop..." isak Rafi, tubuhnya semakin menggigil hebat di bawah cengkeraman Dimas.
24933Please respect copyright.PENANA7o61aVxPO9
"Heh! Dimas! Apa-apaan ini?!"
24933Please respect copyright.PENANA3dJCkvg95i
Sebuah teriakan menggelegar dari ujung koridor. Seorang guru BK dengan wajah garang berjalan cepat menghampiri mereka. Dimas dengan cepat melepaskan cengkeramannya, namun sempat memberikan satu dorongan terakhir yang membuat Rafi terduduk di lantai.
24933Please respect copyright.PENANAT4FfuY8HyK
"Ke ruang BK sekarang! Semuanya!" bentak guru tersebut.

Di dalam ruang BK yang pengap, suasana terasa mencekam. Dimas duduk dengan posisi santai, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah tak berdosa, sementara Rafi duduk di sampingnya dengan posisi meringkuk, masih sesekali terisak kecil dan gemetar.
24933Please respect copyright.PENANAR9rhrP163K
"Dimas, kamu sudah berapa kali saya panggil? Jangan pernah membuat onar lagi, terutama pada siswa baru!" tegur sang guru dengan nada tinggi. "Kalian berdua, bersihkan perpustakaan sore ini sebagai hukuman!"
24933Please respect copyright.PENANAdHZFq8XUR5
Setelah guru itu keluar, suasana menjadi sunyi. Dimas tidak bergerak, namun ia menolehkan kepalanya perlahan ke arah Rafi. Matanya tidak lagi tertawa; ada kilatan kebencian dan dendam yang membara di sana.
24933Please respect copyright.PENANACVujbdiRmp
"Lo pikir lo menang karena gue dihukum?" bisik Dimas, suaranya rendah namun tajam seperti pisau. "Lo baru saja membuat gue terlihat bodoh di depan guru. Sekarang, gue punya alasan lebih besar buat bikin hidup lo di sekolah ini benar-benar menderita, Pecundang."
24933Please respect copyright.PENANAusNF668ULO
Rafi hanya bisa menunduk, air matanya jatuh lagi, merasakan bahwa perlindungan desa yang dijanjikan ibunya hanyalah sebuah ilusi yang hancur dalam sekejap.
Bel pulang sekolah berbunyi para murid SMA tersebut mulai berhamburan keluar kelas , dan Rafi mempercepat langkahnya, berusaha sekuat tenaga untuk segera sampai di rumah. Ia memeluk tas sekolahnya erat-erat di depan dada, seolah tas itu adalah satu-satunya perisai yang melindunginya dari dunia luar. Ia memilih melewati sebuah gang sempit yang memotong jalan, berharap bisa menghindari kerumunan siswa lain. Namun, harapan itu hancur saat ia melihat tiga sosok remaja laki-laki sudah berdiri tegak, menghalangi jalan keluarnya.
24933Please respect copyright.PENANAgL9at9EuPz
Dimas berdiri di tengah, melipat kedua tangannya di dada dengan senyum miring yang mengerikan. Di sampingnya, dua rekannya tampak bersiap, seolah sedang menunggu aba-aba untuk menyerang.
24933Please respect copyright.PENANAkXlVvZjDP8
"Wah, lihat siapa yang mencoba mengambil jalan pintas," ucap Dimas, suaranya bergema di dinding-dinding gang yang lembap dan pengap. "Lo pikir lo bisa kabur dari gue gitu aja, Rafi?"
24933Please respect copyright.PENANABZ1fKHK2Pv
Rafi tersentak, langkahnya terhenti seketika. Ia mencoba berbalik arah untuk kembali, namun dua rekan Dimas dengan cepat bergerak menutup jalan di belakangnya. Kini, Rafi benar-benar terperangkap.
24933Please respect copyright.PENANACPN2CH8Fcu
"T-tolong... biarkan aku lewat," bisik Rafi, suaranya sudah mulai bergetar.
24933Please respect copyright.PENANAAwmu7upgsv
Dimas melangkah maju, setiap hentakan sepatunya di atas tanah berkerikil terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Ia mencengkeram bahu Rafi dengan sangat keras, memaksa remaja itu untuk berdiri tegak.
24933Please respect copyright.PENANAf7woawBSfM
"Mana uang lo? Siniin semua!" bentak Dimas tepat di depan wajah Rafi.
24933Please respect copyright.PENANAr35RLw5ZAu
"A-aku... aku tidak punya banyak, Dimas... tolong," isak Rafi.
24933Please respect copyright.PENANA2oTy18sW2X
"Gue nggak tanya lo punya banyak atau nggak! Gue cuma bilang: KELUARKAN!" Dimas berteriak, lalu dengan kasar ia merampas tas Rafi dan menggeledahnya dengan brutal. Buku-buku dan alat tulis berserakan di tanah, terinjak-injak oleh sepatu Dimas.
24933Please respect copyright.PENANAa5OgOVEogz
Saat Dimas menemukan beberapa lembar uang di saku kecil tas itu, ia tertawa puas. "Cuma segini? Pelit banget lo! Tapi ya sudahlah, buat uang jajan tambahan gue hari ini."
24933Please respect copyright.PENANAIQQXwl2CHn
Dimas tidak berhenti di situ. Ia melihat tubuh Rafi yang mulai bergetar hebat—sebuah reaksi fisik yang selalu berhasil memicu rasa puas di hati Dimas. Dimas mendekatkan wajahnya, menikmati pemandangan mata Rafi yang berkaca-kaca dan napas yang tersengal-sengal.
24933Please respect copyright.PENANAttoCKmUtq3
"Liat nih, temen-temen! Dia mulai gemetaran lagi! Hahaha! Sumpah, lo itu makhluk paling menyedihkan yang pernah gue temuin," ejek Dimas sambil mendorong kepala Rafi dengan telunjuknya secara meremehkan.
24933Please respect copyright.PENANAiYlwv92KAB
"Hiks... t-tolong... jangan..." Rafi hanya bisa terisak dalam hening, tubuhnya terguncang hebat, lututnya terasa lunglai hingga ia perlahan merosot dan terduduk di tanah yang kotor.
24933Please respect copyright.PENANAHCos9KzHof
"Sana pulang! Jalan kaki sampai rumah, Pecundang!" Dimas meludah ke samping kaki Rafi, lalu memberi isyarat kepada rekan-rekannya untuk pergi.
24933Please respect copyright.PENANAskuCNUM5I3
Mereka bertiga berlalu sambil tertawa terbahak-bahak, meninggalkan suara tawa yang masih terngiang-ngiang di telinga Rafi. Di gang yang sepi itu, Rafi tetap terduduk diam. Seragamnya kini kotor terkena debu, rambutnya berantakan, dan jiwanya terasa hancur berkeping-keping.
24933Please respect copyright.PENANARGJKstMYrs
Ia memunguti buku-bukunya yang kotor dengan tangan yang masih gemetar hebat. Sambil terisak pelan, ia berdiri dan mulai berjalan pulang dengan langkah gontai, membawa luka yang tak terlihat namun terasa begitu menyiksa, tidak tahu bagaimana ia harus menghadapi ibunya saat sampai di rumah nanti.
24933Please respect copyright.PENANAYeCsjIoK2G
Lalu dimas berjalan dengan perlahan dengan keadaan mengenaskan dan setibanya dirumah, pintu depan rumah berderit terbuka pelan, dan Rafi melangkah masuk dengan kepala tertunduk sangat rendah. Ia berusaha bergerak seringan mungkin, seolah-olah jika ia tidak membuat suara, kenyataan pahit tentang harinya akan ikut menghilang. Namun, Eni sudah menunggu di ruang tengah, berdiri dengan raut wajah yang seketika berubah drastis saat melihat putranya.

"Astagfirullah, Rafi!" Eni tersentak, langkahnya cepat menghampiri Rafi.
24933Please respect copyright.PENANANGpLXXMuJK
Eni meraih bahu putranya, memaksa remaja itu untuk mendongak. Mata Eni membelalak melihat kondisi Rafi; seragam putih yang seharusnya bersih kini penuh noda debu kecokelatan, kerahnya tertekuk tidak beraturan, dan rambutnya acak-acakan seolah baru saja ditarik paksa. Wajah Rafi pucat pasi, dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.
24933Please respect copyright.PENANAGnBlsUzzzG
"Apa yang terjadi, Nak? Kenapa bajumu jadi seperti ini?" tanya Eni dengan nada suara yang bergetar karena cemas.
24933Please respect copyright.PENANAWHmS4cVb5o
Tangan Eni yang lembut bergerak dengan kasih sayang, mencoba merapikan helai rambut Rafi yang menutupi dahi. Saat ia mendekat, aroma lembut bedak dan wangi khas tubuh Eni menyeruak, memberikan rasa nyaman yang kontras dengan kekejaman yang baru saja dialami Rafi. Namun, bagi Rafi, kenyamanan itu justru terasa menyakitkan karena ia tahu ia sedang membohongi wanita yang paling ia cintai.
24933Please respect copyright.PENANA2wKGbXLe09
Rafi tersentak kecil saat tangan ibunya menyentuhnya. Ia segera memalingkan wajah, menghindari tatapan mata Eni yang tajam dan penuh selidik.
24933Please respect copyright.PENANAc6QQxYOMCK
"T-tidak apa-apa, Bu," jawab Rafi, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.
24933Please respect copyright.PENANAZDk6HUgvO9
"Tidak apa-apa bagaimana? Lihat bajumu, Rafi! Kamu terluka? Ada yang memukulmu?" Eni bertanya dengan lebih mendesak, jemarinya kini beralih memeriksa lengan baju Rafi yang kotor.
24933Please respect copyright.PENANA0fu3spRbrH
Rafi menelan ludah dengan berat. Bayangan wajah Dimas yang bengis dan ancaman tentang 'neraka' yang menantinya di sekolah kembali terlintas. Jika ia mengadu, Dimas tidak akan berhenti. Lebih buruk lagi, Rafi takut Dimas akan mencari tahu di mana ia tinggal dan mengganggu ibunya yang polos ini.
24933Please respect copyright.PENANAhnU0k0PIeX
"Cuma... cuma tadi kejedot pintu, Bu. Terus aku jatuh di jalan," ucap Rafi dengan cepat, meski suaranya terdengar sangat tidak meyakinkan dan bergetar di ujung kalimat.
24933Please respect copyright.PENANAt6BjWCdYLj
Eni terdiam. Ia menghentikan gerakannya dan menatap lekat-lekat mata putranya. Sebagai seorang ibu, ia tahu persis perbedaan antara anak yang sekadar terjatuh dengan anak yang sedang memikul ketakutan hebat. Ia bisa melihat bagaimana bahu Rafi sedikit menggigil, dan bagaimana remaja itu tidak berani menatap matanya lebih dari satu detik.
24933Please respect copyright.PENANAaj31Kq23jq
"Kejedot pintu sampai bajumu sekotor ini?" bisik Eni, suaranya kini lebih rendah, penuh dengan kecurigaan yang mendalam.
24933Please respect copyright.PENANAbKasdTHfIh
"I-iya, Bu... tadi pintunya agak rendah," jawab Rafi terbata-bata, semakin merasa terpojok.
24933Please respect copyright.PENANAz1HoTdTqp8
Eni menghela napas panjang. Ia ingin sekali memeluk putranya dan memaksa semua kebenaran keluar, namun ia melihat ketakutan yang begitu nyata di mata Rafi—sebuah ketakutan yang melampaui sekadar rasa malu. Ia merasa ada sesuatu yang sangat gelap yang sedang menghantui putranya, sesuatu yang membuat Rafi lebih memilih berbohong daripada meminta perlindungan.
24933Please respect copyright.PENANAkqreZyTxOl
"Masuklah ke kamarmu. Mandi dan ganti bajumu," ucap Eni akhirnya, suaranya lembut namun terselip nada kecewa karena tidak mendapatkan jawaban jujur. "Ibu akan siapkan makan."
24933Please respect copyright.PENANArIUS91EPWk
"Terima kasih, Bu," bisik Rafi. Ia segera berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya, menutup pintu dengan bunyi klik yang pelan namun terasa final.
24933Please respect copyright.PENANAI7TBcXNDsO
Eni berdiri mematung di ruang tengah, menatap pintu kamar putranya yang tertutup rapat. Ia membawa tangannya ke dadanya, merasakan jantungnya berdegup kencang. Kecurigaan itu kini tumbuh liar di dalam batinnya, menyiksanya dengan berbagai kemungkinan buruk. Ia tahu Rafi sedang menderita, dan kenyataan bahwa ia tidak bisa membantu putranya sendiri membuat Eni merasa tidak berdaya.
24933Please respect copyright.PENANAzZQRrWfZCT
Di tengah kesunyian rumah itu, Eni hanya bisa berdoa, berharap bahwa apa pun yang terjadi di sekolah baru itu, tidak akan menghancurkan jiwa putranya lebih jauh lagi. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
24933Please respect copyright.PENANAgGRhp1IqBu
Hari kedua terasa lebih mencekam, seolah udara di sekolah itu sengaja memberat untuk menghimpit napas Rafi. Baru saja jam istirahat dimulai, Dimas dan dua rekannya sudah mencegat Rafi di depan kelas. Tanpa sepatah kata pun, Dimas mencengkeram kerah belakang seragam Rafi dengan kasar, menyeret remaja itu menjauh dari keramaian siswa, menuju area belakang sekolah yang terbengkalai.
24933Please respect copyright.PENANAKVYygqZ9DT
Rafi memberontak lemah, kakinya terseret di atas semen kasar. "T-tolong... lepas... aku mau ke kelas..." isaknya, namun suaranya tenggelam oleh tawa rendah Dimas.
24933Please respect copyright.PENANAe1KHRETAFz
Mereka sampai di sebuah gudang tua yang pintunya berderit memilukan saat dibuka. Ruangan itu gelap, pengap, dan dipenuhi aroma debu yang menyesakkan paru-paru. Hanya ada satu jendela kecil di bagian atas yang membiarkan seberkas cahaya remang-remang masuk, memperlihatkan partikel debu yang menari-nari di udara.
24933Please respect copyright.PENANAEgm4trl5qV
*Brak!*
24933Please respect copyright.PENANAHdooKrFhav
Dimas mendorong Rafi hingga punggungnya menghantam tumpukan kursi kayu tua yang sudah lapuk. Sebelum Rafi sempat bernapas, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya.
24933Please respect copyright.PENANAhxf8KCIyHr
*Plak!*
24933Please respect copyright.PENANAdjOzvggfKR
Kepala Rafi tersentak ke samping. Rasa panas menjalar seketika di kulit pipinya, dan telinganya berdenging.
24933Please respect copyright.PENANAUfei0CT25W
"Lo pikir gue bakalbiarin lo, hah?" Dimas membungkuk, mencengkeram rahang Rafi dengan kuat, memaksa remaja itu menatap matanya yang penuh kebencian.
24933Please respect copyright.PENANAcQkBElGZpt
"S-stop... tolong stop..." tangis Rafi pecah. Tubuhnya mulai bergetar hebat, reaksi fisik yang tak terbendung itu membuat seluruh tubuhnya terguncang, membuat Dimas semakin tergelitik.
24933Please respect copyright.PENANAbmzbUyZYsu
"Hahaha! Liat nih! Dia gemetaran lagi! Sumpah,dasar lembek !" salah satu rekan Dimas tertawa terbahak-bahak sambil mendorong bahu Rafi.
24933Please respect copyright.PENANAl1zympbTsY
Dimas kemudian mengeluarkan sebuah sikat gigi bekas dari sakunya dan melemparkannya ke lantai, tepat di depan kaki Rafi. Ia kemudian mengangkat satu kakinya, menyodorkan sepatu hitamnya yang kotor penuh lumpur kering.
24933Please respect copyright.PENANAvCcJVyf738
"Sikat. Sekarang. Sampai mengkilap," perintah Dimas dengan nada dingin yang tidak bisa dibantah.
24933Please respect copyright.PENANAYwIuWOXKUA
Rafi terdiam, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang mulai membiru. "A-aku... aku tidak bisa..."
24933Please respect copyright.PENANAYtxf3FnIHH
*Bug!*
24933Please respect copyright.PENANA8U3QnbYSOw
Satu pukulan mendarat di perut Rafi, membuatnya tertekuk dan terengah-engah mencari oksigen.
24933Please respect copyright.PENANAf8UKhqdxyp
"Gue bilang SIKAT!" bentak Dimas.
24933Please respect copyright.PENANAgjh9B6DWJv
Dengan tangan yang gemetar hebat dan isak tangis yang tak kunjung reda, Rafi terpaksa berlutut di lantai gudang yang kotor. Ia mengambil sikat gigi itu dan mulai menggosok sepatu Dimas dengan penuh ketakutan. Setiap kali ia berhenti sejenak karena terisak, Dimas akan menendang pelan tulang keringnya atau mengejeknya dengan kata-kata kasar.
24933Please respect copyright.PENANAkAaF57qnrX
"Ayo lebih cepat, Pecundang! Masa bersihin sepatu aja lama banget? Lo emang nggak berguna ya?"
24933Please respect copyright.PENANADx6qcBNxN9
Setelah puas mempermainkan Rafi selama hampir satu jam, Dimas meninggalkan gudang itu bersama gengnya, membiarkan Rafi tergeletak di lantai yang berdebu, hancur secara fisik dan mental.
—--------------------------------------------------------
Siang hari Saat pulang sekolah langkah kaki Rafi terasa begitu berat, seolah-olah setiap inci tanah yang ia pijak menariknya lebih dalam ke dalam keputusasaan. Setiap kali ia bernapas, rasa nyeri di perutnya berdenyut, mengingatkannya pada pukulan Dimas di gudang sekolah. Pipi kanannya terasa kaku dan panas, membengkak hingga mengubah bentuk wajahnya yang lugu menjadi pemandangan yang menyedihkan. Ia berjalan dengan bahu yang merosot, mencoba menutupi wajahnya dengan tas sekolah yang kini sudah kusam, berharap kegelapan sore bisa menyembunyikan kehancurannya.
24933Please respect copyright.PENANACk5YFQzACR
Namun, saat ia membuka pintu depan rumah, ia menemukan Eni sudah berdiri di ruang tamu. Wanita itu tidak sedang memasak atau membereskan rumah; ia hanya berdiri diam, menatap pintu dengan tatapan yang penuh kecemasan yang tak tertahankan.
24933Please respect copyright.PENANA04Knp7d3VG
Begitu mata mereka bertemu, Eni tersentak. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak lebar.
24933Please respect copyright.PENANAzMzYya4gYE
"Rafi..." bisik Eni, suaranya hampir hilang.
24933Please respect copyright.PENANA8NtqvQGHMN
Rafi tertegun di ambang pintu. Ia mencoba memalingkan wajah, namun rasa sakit di pipinya membuatnya meringis. "B-bu..."
24933Please respect copyright.PENANAgM4j8OPLbN
Eni tidak menunggu sedetik pun. Ia melangkah cepat, hampir berlari, dan meraih wajah putranya dengan kedua tangan yang gemetar. Saat ia melihat memar biru keunguan yang membentang di pipi kanan Rafi, bibir yang bengkak, dan goresan merah di dahi, jantung Eni serasa diremas oleh tangan tak terlihat. Air mata seketika menggenang di pelupuk matanya.
24933Please respect copyright.PENANAbQyY9rhynK
"Ya Allah, Nak! Apa ini?! Siapa yang melakukan ini padamu?!" teriak Eni, suaranya kini pecah oleh tangis dan kepanikan.
24933Please respect copyright.PENANAxINM1qSJTU
Rafi tersentak, ia mencoba menarik diri, ketakutan akan ancaman Dimas kembali menghantuinya. "Aku... aku jatuh lagi, Bu... aku benar-benar jatuh..."
24933Please respect copyright.PENANAnLbvAp2cjq
"Bohong!" Eni berteriak, namun bukan karena marah pada Rafi, melainkan karena rasa sakit yang teramat sangat melihat kondisi anaknya. "Jangan bohongi Ibu lagi, Rafi! Jatuh tidak akan membuat pipimu membiru seperti ini! Jatuh tidak akan membuat bibirmu bengkak!"
24933Please respect copyright.PENANA4zbiAn7nez
Eni menarik Rafi ke dalam pelukannya dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, putranya akan hancur berkeping-keping. Ia mendekap kepala Rafi di dadanya, membiarkan putranya merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat karena cemas.
24933Please respect copyright.PENANAyvMNH7qA4F
"Katakan pada Ibu, Sayang... tolong katakan," bisik Eni di telinga Rafi, suaranya kini berubah menjadi lembut namun penuh desakan. "Ibu di sini. Ibu akan melindungimu. Tidak ada yang bisa menyakitimu jika kamu jujur pada Ibu. Tolong, beri tahu Ibu siapa yang tega melakukan ini padamu."
24933Please respect copyright.PENANA7ZtmFWrweL
Pertahanan Rafi yang selama dua hari ini ia bangun dengan susah payah akhirnya runtuh total. Rasa hangat dari pelukan ibunya, aroma harum yang menenangkan, dan kasih sayang yang tulus itu menghancurkan semua dinding ketakutannya. Tubuh Rafi mulai bergetar hebat, lebih hebat dari biasanya. Isak tangis yang selama ini ia tahan di sekolah meledak seketika.
24933Please respect copyright.PENANAfDf2epbp03
"Hiks... Bu... hiks... Dimas... Dimas dan teman-temannya..."
24933Please respect copyright.PENANAgvNAxb3ZpR
Rafi terisak sejadi-jadinya, air matanya membasahi baju katun Eni. Di sela-sela tangisnya yang tersengal, Rafi menceritakan semuanya. Tentang bagaimana ia dipalak, tentang bagaimana ia diseret ke gudang yang gelap dan pengap, tentang rasa sakit saat dipukuli, dan penghinaan yang paling menyiksa saat ia dipaksa berlutut untuk menyikat sepatu Dimas dengan sikat gigi.
24933Please respect copyright.PENANAitCRaByZ8e
"Mereka... mereka tertawa, Bu... hiks... mereka bilang aku pecundang... aku lemah..." Rafi meratap, tubuhnya masih terguncang hebat dalam dekapan Eni.
24933Please respect copyright.PENANA81okpAo8C8
Eni mendengarkan setiap kata dengan napas yang tertahan. Setiap detail kekejaman yang diceritakan Rafi terasa seperti sembilu yang mengiris-iris hatinya. Awalnya, wajah Eni dipenuhi oleh kesedihan dan air mata, namun perlahan-lahan, sesuatu berubah.
24933Please respect copyright.PENANAYgJmyocA2f
Raut wajah lembut dan alim itu mulai mengeras. Matanya yang biasanya memancarkan kedamaian kini berkilat tajam, memerah karena amarah yang membara. Tangannya yang memeluk Rafi perlahan mengerat, bukan lagi sekadar untuk menenangkan, tetapi sebagai bentuk perlindungan yang agresif.
24933Please respect copyright.PENANA7zQn5eNVoi
Rasa sedih itu kini bermutasi menjadi dendam yang dingin dan mematikan. Eni tidak pernah menyangka bahwa di desa yang ia anggap tenang ini, ada iblis kecil yang berani menyentuh harta paling berharganya.
24933Please respect copyright.PENANAtRWy0APGLO
Eni melepaskan pelukannya perlahan, lalu memegang kedua bahu Rafi dan menatap matanya dengan tajam. Tidak ada lagi air mata di wajah Eni; yang ada hanyalah tekad yang membatu.
24933Please respect copyright.PENANAqJeWedMdrF
"Cukup, Rafi. Jangan menangis lagi," ucap Eni, suaranya kini rendah, dingin, dan mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
24933Please respect copyright.PENANAU3mCqlJko7
Rafi menatap ibunya dengan bingung, ia belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajah ibunya yang lembut.
24933Please respect copyright.PENANAMlBpzfeaZt
"Besok," lanjut Eni, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti vonis. "Ibu akan datang ke sekolah itu. Ibu akan temui guru-gurumu, dan Ibu akan temui anak bernama Dimas itu. Ibu tidak peduli siapa dia atau siapa orang tuanya."
24933Please respect copyright.PENANAIvh2DJW2ag
Eni menarik napas dalam-dalam, dadanya yang padat naik turun dengan cepat seiring dengan amarah yang masih bergejolak. "Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti putraku dan lolos begitu saja. Ibu akan pastikan mereka tahu bahwa mereka telah menyentuh orang yang salah."
24933Please respect copyright.PENANAyMyXugJ7Ym
dan di malam hari itu, rumah yang biasanya terasa hampa dan dingin berubah menjadi medan persiapan bagi seorang ibu yang sedang terbakar amarah. Eni tidak bisa tidur; ia terus membayangkan wajah memar Rafi, dan setiap bayangan itu hanya menambah api dendam di hatinya. Ia bersumpah, esok hari, dunia akan melihat sisi lain dari seorang wanita alim berhijab yang selama ini mereka anggap lemah.
24933Please respect copyright.PENANAGsh4EzJfrx
Malam yang panjang dan gelisah akhirnya mencapai puncaknya saat fajar menyingsing. Eni tidak banyak tidur; setiap kali ia memejamkan mata, ia hanya melihat bayangan wajah putranya yang memar. Rasa sakit yang dirasakan Rafi seolah berpindah ke dalam dadanya, menciptakan badai amarah yang tidak bisa lagi ia bendung dengan doa atau kesabaran.
—--------------------------------------------------------------------
24933Please respect copyright.PENANAS58sUvfzl1
Pagi itu, suasana di rumah terasa tegang. Rafi sudah bersiap dengan wajah yang masih membengkak, menatap ibunya dengan campuran rasa takut dan harap. Eni tidak banyak bicara, namun sorot matanya yang tajam sudah cukup untuk memberi tahu Rafi bahwa kali ini, ibunya tidak akan tinggal diam.

Dalam kegelisahan dan terburu-buru, Eni bersiap-siap. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal: keadilan bagi putranya. Dalam kondisi emosi yang meluap, ia tidak lagi terlalu teliti memilih pakaian. Ia mengambil sebuah gaun panjang berbahan katun berwarna pastel yang biasanya ia kenakan untuk acara santai di rumah atau berkumpul dengan keluarga dekat.
24933Please respect copyright.PENANAEUyfNdR8qh
Saat ia mengenakannya, kain katun itu terasa lebih melekat dari biasanya. Mungkin karena ia telah kehilangan sedikit berat badan akibat stres, atau mungkin karena potongan gaun itu memang mengikuti lekuk tubuh. Namun, dalam ketergesaannya, Eni tidak menyadari bahwa gaun itu kini menjadi relatif ketat. Bahan katun tersebut membungkus pinggulnya yang sintal dengan jelas, mempertegas lekukan pinggang yang ramping, serta memeluk volume dadanya yang padat dengan sangat presisi.
24933Please respect copyright.PENANAOTaCTyBNbJ
Ia kemudian mengenakan hijabnya, mencoba menutup auratnya sesuai ketaatannya. Namun, hijab yang menjuntai itu justru menciptakan kontras yang menarik; sementara wajah dan kepalanya tertutup rapi, bagian tubuh di bawahnya justru menonjolkan siluet feminin yang sangat menggoda. Eni mengabaikan hal itu. Baginya, saat ini kecantikan atau penampilan adalah hal terakhir yang ada di pikirannya. Yang ada hanyalah amarah seorang ibu.
24933Please respect copyright.PENANAPMCqJ3KlIr
"Tunggu di mobil, Nak," ucap Eni singkat sambil menggandeng tangan Rafi menuju kendaraan mereka. Suaranya rendah, namun ada getaran kekuatan yang belum pernah Rafi dengar sebelumnya.
24933Please respect copyright.PENANAKNdNRfptWy
Perjalanan menuju sekolah terasa sangat singkat bagi Eni, namun terasa seperti menuju medan perang. Begitu sampai di gerbang sekolah, Eni berjalan dengan langkah tegas. Setiap hentakan kakinya di koridor sekolah seolah mengirimkan pesan peringatan. Beberapa siswa yang berpapasan dengannya sempat tertegun, bukan hanya karena aura kemarahan yang terpancar dari wajah wanita itu, tetapi juga karena penampilan Eni yang secara tidak sengaja terlihat sangat menarik dan provokatif di balik kesan alimnya.
24933Please respect copyright.PENANAe2pBnkQbZn
Eni tidak peduli. Ia langsung menuju ruang Bimbingan Konseling (BK).
24933Please respect copyright.PENANAcUSXpbMEjJ
*Brak!*
24933Please respect copyright.PENANASxv4P9wqyE
Ia membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk, membuat guru BK yang sedang duduk di balik mejanya tersentak kaget.
24933Please respect copyright.PENANA3Oim0fKYIF
"Selamat pagi, Ibu... ada apa ya?" tanya guru BK itu, mencoba bersikap sopan meski terkejut dengan kedatangan Eni yang tiba-tiba.
24933Please respect copyright.PENANAw9TjVIf9gP
Eni tidak menjawab dengan salam. Ia melangkah maju, meletakkan tasnya di meja dengan kasar, dan menatap sang guru dengan mata yang berkaca-kaca menahan air mata kemarahan.
24933Please respect copyright.PENANAfb02j2bn63
"Apa ini yang kalian sebut dengan lingkungan pendidikan?!" suara Eni bergetar, bukan karena takut, melainkan karena ledakan emosi yang sudah berada di ujung tenggorokan.
24933Please respect copyright.PENANAN3lfhNsMLU
Guru BK itu mengerutkan kening. "Maaf, Ibu maksudnya apa?"

"Lihat anak saya!" Eni menarik Rafi yang berdiri di belakangnya, memaksa sang guru untuk melihat wajah putranya yang memar. "Lihat pipinya! Lihat bibirnya! Anak saya dipukuli, dipalak, dan dipermalukan di sekolah ini! Di mana tanggung jawab kalian?!"
24933Please respect copyright.PENANAnv9WLvJSmd
Suara Eni mulai meninggi, memenuhi ruangan BK yang pengap itu. Napasnya memburu, membuat dadanya yang terbungkus ketat oleh gaun katun itu naik turun dengan cepat, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya.
24933Please respect copyright.PENANAvk3IHvnC5q
"Saya tidak ingin mendengar alasan tentang 'kenakalan remaja' atau 'pertengkaran biasa'. Anak saya disiksa!" Eni memukul meja dengan telapak tangannya, membuat beberapa kertas di atas meja bergeser. "Saya menuntut keadilan sekarang juga! Saya ingin tahu siapa pelakunya, dan saya ingin mereka mendapatkan hukuman yang setimpal!"
24933Please respect copyright.PENANAQTPxFbHZ35
Mata Eni kini benar-benar basah, namun air mata itu bukan air mata kelemahan. Itu adalah air mata kemarahan seorang ibu yang melihat darah dagingnya terluka. Ia berdiri tegak, menantang siapa pun di ruangan itu yang mencoba meremehkannya, sementara tubuhnya yang sintal masih bergetar karena emosi yang belum terpadamkan.
24933Please respect copyright.PENANAv25qBd18vg
Guru BK itu menghela napas panjang, mencoba menenangkan badai yang sedang mengamuk di hadapannya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih telepon di mejanya dan menghubungi bagian kesiswaan untuk memanggil Dimas dan kawan-kawannya ke ruang BK saat itu juga.
24933Please respect copyright.PENANAcWtf6WvOc4
"Tolong tenang dulu, Ibu Eni. Kami akan segera memanggil siswa-siswa yang bersangkutan untuk mengklarifikasi masalah ini," ucap guru itu dengan nada yang sangat hati-hati, seolah sedang menghadapi bom waktu.
24933Please respect copyright.PENANAsSjtxVRXrz
Eni tidak menjawab. Ia hanya berdiri tegak, napasnya masih memburu, sementara tangannya menggenggam erat bahu Rafi yang masih tertunduk lesu. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit, sampai akhirnya pintu terbuka dan tiga remaja laki-laki melangkah masuk dengan gaya yang sangat tidak menunjukkan rasa bersalah.
24933Please respect copyright.PENANAluSXd9ptND
Dimas berjalan di depan, dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana dan seringai tipis yang masih tertinggal di bibirnya. Namun, begitu ia melangkah sepenuhnya ke dalam ruangan dan matanya menangkap sosok wanita yang sedang berdiri di tengah ruangan, seringai itu perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi yang sulit diartikan.
24933Please respect copyright.PENANAT64L5moA0f
Eni kembali meledak. "Kalian! Jadi kalian yang sudah berani menyentuh anak saya?!" teriak Eni, suaranya menggelegar, membuat Rafi tersentak.

Namun, anehnya, Dimas sama sekali tidak mendengarkan kata-kata kemarahan itu. Baginya, suara Eni kini hanya terdengar seperti dengungan latar belakang yang tidak penting. Fokusnya tersedot sepenuhnya oleh pemandangan di hadapannya.
24933Please respect copyright.PENANAAcCXCMcwj1
Mata Dimas bergerak liar, menelanjangi setiap inci tubuh Eni dengan tatapan lapar. Ia baru pertama kali melihat seorang ibu dengan fisik seperti ini. Pandangannya terpaku pada bagaimana gaun katun itu melekat begitu ketat di bagian pinggul Eni yang lebar dan sintal, menciptakan lekukan sempurna yang membuat Dimas menelan ludah dengan berat.
24933Please respect copyright.PENANAISmTkeYanR
Setiap kali Eni bergerak dengan emosi, setiap kali ia menunjuk-nunjuk dengan marah, bahan gaun itu tertarik, mempertegas bentuk bokongnya yang padat dan pinggangnya yang ramping. Dimas kemudian mengalihkan pandangannya ke atas, tepat pada bagian dada Eni yang membusung kencang di balik kain katun yang tipis. Gerakan napas Eni yang memburu membuat dadanya naik turun dengan ritme yang menggairahkan, seolah-olah kain itu hampir tidak sanggup lagi menampung volumenya.
24933Please respect copyright.PENANAQWL1M1gzpR
Bahkan detail kecil tidak luput dari perhatian Dimas. Hijab Eni yang sedikit bergeser karena emosinya memperlihatkan sebagian kecil lehernya yang putih bersih dan jenjang, memberikan kontras yang sangat provokatif dengan citra alim yang dipancarkannya.
24933Please respect copyright.PENANAetqFgjN0r4
"Heh! Kamu dengar tidak?!" bentak Eni, menyadari bahwa remaja di hadapannya ini justru menatapnya dengan cara yang sangat tidak sopan.
24933Please respect copyright.PENANAfEBiimGb17
Dimas tidak menjawab. Ia justru memberikan tatapan nakal, sebuah tatapan yang seolah-olah mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan amukan Eni, melainkan lebih tertarik pada apa yang ada di balik pakaian wanita itu.
24933Please respect copyright.PENANA2RZNDt4FCd
Hal itu menjadi pemicu terakhir. Eni, yang merasa dihina bukan hanya sebagai ibu tetapi juga sebagai wanita, tidak bisa menahan diri lagi. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia mengayunkan tangan kanannya.
24933Please respect copyright.PENANAYcarAlJAqT
*Plak!*
24933Please respect copyright.PENANAqjUW0dAH3o
Suara tamparan itu menggema keras di seluruh ruangan BK. Kepala Dimas terlempar ke samping, meninggalkan bekas merah yang kontras di pipinya yang putih. Rasa panas menyengat seketika, dan keheningan mendadak jatuh di ruangan itu. Rafi terbelalak, ketakutan akan reaksi Dimas.
24933Please respect copyright.PENANA2fLOl1hXHi
Dimas terdiam sejenak, merasakan denyut perih di pipinya. Namun, alih-alih merasa takut atau terhina, sebuah sensasi aneh menjalar di tulang belakangnya. Rasa sakit itu justru memicu sesuatu yang jauh lebih gelap dan liar di dalam dirinya. Ia memutar kepalanya kembali menatap Eni, dan kali ini, ada kilatan nafsu yang membara di matanya. Tamparan itu tidak mematahkan semangatnya; justru itu menjadi bumbu yang membuat obsesinya terhadap wanita ini semakin menjadi-jadi.
24933Please respect copyright.PENANAjx24KSbhVx
"Sudah, sudah! Cukup!" guru BK segera berdiri dan mencoba melerai. "Dimas, minta maaf sekarang juga kepada Rafi dan ibunya! Saya tidak mau masalah ini berlarut-larut sampai ke kepolisian!"
24933Please respect copyright.PENANAUKM7SbZgtF
Dengan wajah yang masih memerah, Dimas akhirnya membuka suara, namun nadanya tidak menunjukkan penyesalan. "Maaf, Bu... maaf, Rafi," ucapnya datar, tanpa sedikit pun rasa tulus.
24933Please respect copyright.PENANAQ5nnyX4Vsq
Pihak sekolah akhirnya memaksa kedua belah pihak untuk saling bermaafan secara formal agar masalah selesai di tingkat sekolah. Eni, meski masih sangat marah, terpaksa menyetujui hal itu demi ketenangan Rafi. Ia membawa putranya pergi dari ruangan itu dengan perasaan yang masih mengganjal, tidak menyadari bahwa ia baru saja menciptakan monster yang lebih berbahaya.
24933Please respect copyright.PENANAp3cimZCO9q
Saat Eni melangkah keluar ruangan dengan pinggul yang bergoyang mengikuti langkah kakinya yang tegas, Dimas berdiri mematung, menatap punggung wanita itu sampai hilang di balik pintu.
24933Please respect copyright.PENANApU268f10tt
Di dalam benak Dimas, dendam terhadap Rafi karena telah membuatnya dihukum dan nafsu yang menggelegak terhadap Eni kini melebur menjadi satu racun yang memabukkan. Ia tidak lagi hanya ingin membully Rafi; ia ingin menghancurkan harga diri remaja itu dengan cara yang jauh lebih kejam, dan di saat yang sama, ia memiliki keinginan terlarang untuk menaklukkan wanita alim yang baru saja menamparnya.
24933Please respect copyright.PENANA2I7RIvXAhh
"Kita lihat saja nanti, Ibu yang cantik..." bisik Dimas sangat pelan, sebuah seringai predator kini terukir permanen di wajahnya.
24933Please respect copyright.PENANAyROJbiaMaB
Setelah meninggalkan sekolah, pikiran Dimas tidak lagi berada pada pelajaran atau bahkan pada rasa sakit di pipinya. Setiap kali ia memejamkan mata, yang terbayang adalah siluet tubuh Eni yang terbungkus ketat oleh gaun katun itu. Bayangan tentang bagaimana dadanya membusung saat marah dan bagaimana pinggulnya bergoyang saat berjalan terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
24933Please respect copyright.PENANAwjuWFVkxa2
Sore itu, Dimas berkumpul dengan dua rekannya di markas biasa mereka—sebuah warung kopi remang-remang di pinggir desa.
24933Please respect copyright.PENANASiWL42NON4
"Gila ya, gue nggak nyangka si Pecundang itu punya nyali buat bawa emaknya ke sekolah," ucap salah satu teman Dimas sambil tertawa kecil.
24933Please respect copyright.PENANAzr1nkaQqM3
Dimas tidak tertawa. Ia terdiam, menatap kosong ke arah jalanan. "Kalian nggak lihat emaknya, kan?" gumamnya dengan suara rendah.
24933Please respect copyright.PENANAFsu3pgq2wC
"Lihat, lah. Cantik banget, tapi galak. Gila, tamparannya keras banget tadi," sahut teman lainnya.
24933Please respect copyright.PENANAwSvROEBQxH
Dimas menyeringai, sebuah ekspresi yang terlihat lapar. "Justru itu yang menarik. Dia pikir dia bisa mengontrol gue dengan tamparan itu. Dia pikir dia suci dengan hijab lebarnya itu." Dimas mengepalkan tangannya. "Gue nggak cuma mau bikin si Rafi menderita. Gue mau bikin emaknya berlutut di depan gue. Gue mau lihat gimana wajah alim itu berubah jadi memohon saat gue kuasai."
24933Please respect copyright.PENANAkiDUSzQes9
Rencana balas dendam yang lebih keji pun mulai disusun. Mereka berdiskusi tentang cara mengintimidasi Rafi lebih jauh, namun bagi Dimas, itu hanyalah pembuka. Tujuan utamanya kini telah bergeser; ia ingin menaklukkan sang ibu.
—---------------------------------------------------------------
Malam harinya, suasana kamar Dimas terasa pengap. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar sambil merasakan panas yang menjalar di area selangkangannya. Setiap kali ia membayangkan leher putih Eni yang sempat terlihat tadi siang, napasnya menjadi berat. Ia mencoba memejamkan mata, namun imajinasinya justru liar membawa dirinya masuk ke dalam gaun katun ketat wanita itu, meraba setiap lekukan yang tadi hanya bisa ia lihat.

Karena tidak bisa menahan gejolak nafsu yang membakar, Dimas meraih ponselnya. Ia merasa butuh pelampiasan segera sebelum ia benar-benar gila karena memikirkan Eni. Ia membuka sebuah aplikasi kencan yang sudah lama ia instal, menggeser layar dengan bosan, mencari sesuatu yang bisa memuaskan hasratnya malam itu.
24933Please respect copyright.PENANA8tprRh8Z94
*Swipe kiri. Swipe kiri. Swipe kiri.*
24933Please respect copyright.PENANAi46nAShu7m
Hingga tiba-tiba, jemarinya terhenti pada satu profil. Matanya membelalak.
24933Please respect copyright.PENANAR6FTmzFH3a
Profil itu milik seorang wanita yang menyebut dirinya sebagai janda. Foto profilnya sangat provokatif; ia mengenakan gaun malam berbahan satin hitam yang sangat tipis dan terbuka di bagian dada, memperlihatkan belahan dada yang dalam dan kulit yang tampak kenyal. Wanita itu tersenyum misterius ke arah kamera, dengan tatapan mata yang seolah-olah mengundang siapa pun yang melihatnya untuk masuk ke dalam kamarnya.
24933Please respect copyright.PENANAUEpN0xBjaQ
"Sial... ini baru benar," bisik Dimas, suaranya serak.
24933Please respect copyright.PENANAz6W6Bbmr54
Nafsu yang tadi tertahan kini meledak. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengirimkan pesan. Dimas tidak menggunakan kata-kata manis; ia langsung menunjukkan ketertarikannya dengan bahasa yang vulgar dan lugas, meminta pertemuan malam itu juga.
24933Please respect copyright.PENANAzEiMbtV67V
Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk.
24933Please respect copyright.PENANAkttEYDWuvu
*“Aku suka laki-laki yang percaya diri dan agresif. Datanglah ke penginapan 'Mawar Merah' di pinggir kota, kamar 204. Aku menunggumu sekarang.”*
24933Please respect copyright.PENANAqCrTBmdUwc
Dimas terperangah. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tetapi karena adrenalin yang memuncak. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya, mengenakan pakaian dengan tergesa-gesa. Ia tidak peduli dengan waktu yang sudah larut atau risiko yang mungkin ada. Yang ia inginkan hanyalah menyentuh kulit wanita, memuaskan rasa haus yang selama ini tertahan, dan melampiaskan segala rasa frustrasinya.
24933Please respect copyright.PENANAKtyDX6SHaO
Ia menyambar kunci motornya dan memacu kendaraannya membelah kegelapan malam menuju pinggiran kota. Pikirannya melayang antara bayangan wanita di aplikasi itu dan bayangan Eni. Baginya, malam ini adalah tentang penaklukan.
24933Please respect copyright.PENANAfJn2epqsEw
Setibanya di penginapan 'Mawar Merah', sebuah bangunan tua dengan lampu neon yang berkedip-kedip redup, Dimas melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Aroma pengap khas penginapan murah menyambutnya, namun ia tidak peduli. Ia menaiki tangga kayu yang berderit menuju lantai dua.
24933Please respect copyright.PENANAwoGcdRcAhH
Di depan pintu kamar 204, Dimas berhenti sejenak. Ia mengatur napasnya yang memburu, merasakan ketegangan di seluruh otot tubuhnya. Ia mengetuk pintu itu dengan keras, tiga kali.
24933Please respect copyright.PENANAnGIeAx1wmv
"Masuk saja, pintunya tidak dikunci," terdengar suara wanita yang lembut namun menggoda dari dalam.
24933Please respect copyright.PENANAf14Fl1OW5V
Dimas memutar knop pintu dan mendorongnya terbuka pelan. Begitu pintu terbuka, aroma parfum yang kuat dan manis segera menyerbu indra penciumannya, menciptakan suasana yang terasa sangat intim dan berbahaya.
24933Please respect copyright.PENANAwzDMqBV98n
Dimas mendorong pintu kayu yang sudah kusam itu perlahan, membiarkan cahaya lampu kuning redup dari dalam kamar menyambut penglihatannya. Aroma parfum vanilla yang manis dan berat segera memenuhi indra penciumannya, menciptakan suasana yang terasa sangat intim, lembap, dan menggoda.
24933Please respect copyright.PENANADnc75jG4Hc
Di tengah ruangan, seorang wanita berdiri membelakanginya. Ia mengenakan gaun malam berbahan satin hitam yang sangat tipis, memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Kain satin itu mengkilap tertimpa cahaya lampu, memperlihatkan lekukan pinggul yang sintal dan bokong yang padat—persis seperti yang ia lihat di foto profil aplikasi itu.
24933Please respect copyright.PENANAbYvYthni4q
"Kamu sudah datang, Sayang?" suara wanita itu terdengar rendah dan manja, sebuah nada yang sangat kontras dengan apa yang Dimas dengar pagi tadi.

Wanita itu memutar tubuhnya perlahan, memberikan senyum misterius yang mengundang. Namun, begitu matanya bertemu dengan mata Dimas, senyum itu lenyap seketika. Wajahnya memucat, seolah seluruh darah di tubuhnya tersedot habis.
24933Please respect copyright.PENANARLPZwqW4Yy
Dimas membeku di ambang pintu. Matanya membelalak, jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa detik.
24933Please respect copyright.PENANA4icylDm1Yf
"B-Bu Eni?" bisik Dimas, suaranya antara tidak percaya dan terkejut luar biasa.
24933Please respect copyright.PENANALvFi9bKMbC
Eni terkesiap, tangannya spontan menutupi dadanya yang terbuka lebar oleh potongan gaun satin yang sangat rendah. Matanya terbelalak lebar, napasnya tertahan. Dunia seolah runtuh di bawah kakinya saat ia menyadari bahwa pria yang baru saja ia undang ke tempat terlarang ini adalah remaja laki-laki yang tadi pagi ia tampar di sekolah—pembully putranya sendiri.
24933Please respect copyright.PENANALHZW27xrvW
"K-kamu... kenapa kamu bisa di sini?!" teriak Eni, suaranya kini bergetar hebat karena panik yang luar biasa. "Keluar! Keluar sekarang juga!"
24933Please respect copyright.PENANA9RZFjVNb3C
Eni melangkah maju dengan terburu-buru, mencoba mendorong Dimas keluar dari kamar. Wajahnya yang tadi terlihat menggoda kini dipenuhi ketakutan yang amat sangat. "Pergi dari sini! Jangan pernah kembali! Aku... aku tidak tahu kamu yang akan datang! Pergi!"
24933Please respect copyright.PENANAnmffvOuWkX
Dimas, yang awalnya terkejut, kini mulai memproses situasi ini. Rasa kagetnya dengan cepat berubah menjadi sebuah kesadaran yang memabukkan. Ia tidak bergerak mundur. Sebaliknya, ia justru menyandarkan punggungnya ke pintu, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap Eni dengan senyum sinis yang merayap di bibirnya.
24933Please respect copyright.PENANA3SYAnzh9ia
Ia memindai tubuh Eni dari atas ke bawah. Wanita itu tidak mengenakan hijab. Rambutnya yang hitam terurai panjang, dan kulit putih leher serta bahunya terpapar jelas di bawah lampu remang-remang. Gaun satin hitam itu benar-benar menempel di tubuhnya, memperlihatkan puting dadanya yang menonjol di balik kain tipis karena udara dingin AC dan rasa takut yang menyerang.
24933Please respect copyright.PENANAz21XtVlRlP
"Wah, wah... lihat siapa yang kita temukan di sini," ucap Dimas, suaranya kini rendah dan penuh kemenangan. "Ibu yang alim. Ibu yang salehah. Ibu yang tadi pagi menceramahi saya soal moral di ruang BK... ternyata adalah seorang wanita penghibur di aplikasi kencan."
24933Please respect copyright.PENANAEiDTNbQcNI
"Diam! Pergi kamu, Dimas! Aku mohon, pergi!" Eni mencoba meraih lengan Dimas untuk mendorongnya, namun Dimas dengan cepat menangkap pergelangan tangan Eni, mencengkeramnya dengan kuat.
24933Please respect copyright.PENANAQNokt6eeEj
"Mohon? Baru sekarang Ibu memohon?" Dimas tertawa kecil, tawa yang terdengar jahat dan predator. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Eni, membisikkan kata-kata yang terasa seperti racun. "Bayangkan, Bu... bagaimana reaksi Rafi kalau dia tahu ibunya yang sangat dia cintai, ibu yang selalu terlihat suci, ternyata mencari pria asing untuk tidur bersamanya di penginapan murah seperti ini?"
24933Please respect copyright.PENANAJLquuZdpa7
Eni tersentak, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Dimas, namun ia terpaku di tempatnya. Ancaman itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan mana pun. Hubungannya dengan Rafi adalah satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya. Jika rahasia gelap ini terbongkar, ia bukan hanya akan kehilangan harga dirinya, tetapi ia akan menghancurkan jiwa putranya yang sudah sangat rapuh.
24933Please respect copyright.PENANAf9BULxEWWh
"Kamu... kamu tidak mungkin melakukannya..." bisik Eni, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
24933Please respect copyright.PENANAoznkWhWL77
"Oh, saya sangat mungkin melakukannya, Bu. Satu pesan singkat, satu foto profil ini dikirim ke ponsel Rafi, dan hidup Ibu selesai," jawab Dimas dengan nada dingin. Ia menatap Eni dengan tatapan lapar, nafsu yang tadi membara kini bercampur dengan rasa haus akan kekuasaan. "Kecuali... Ibu mau bekerja sama dengan saya."
24933Please respect copyright.PENANA07Q6PtjESt
Eni terdiam, napasnya tersengal-sengal. Ia menatap pintu keluar, lalu menatap Dimas. Ia merasa terjebak dalam perangkap yang ia buat sendiri. Di satu sisi, ia merasa jijik karena harus berurusan dengan remaja yang ia benci, namun di sisi lain, rasa takut akan kehilangan Rafi jauh lebih besar daripada rasa jijiknya.
24933Please respect copyright.PENANAL0LeDTDHpS
Dengan air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya, Eni menundukkan kepalanya. Bahunya berguncang pelan, tanda kekalahan yang total.
24933Please respect copyright.PENANAjed94kOeKS
"Apa... apa yang kamu mau?" tanya Eni dengan suara yang hampir tidak terdengar, penuh dengan keputusasaan.
24933Please respect copyright.PENANAQUKsKjtPJg
Dimas tersenyum puas. Ia melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Eni bisa merasakan panas tubuh remaja itu. Dimas mengulurkan tangannya, dengan berani menyentuh dagu Eni dan memaksanya untuk mendongak, menatap matanya yang penuh nafsu.
24933Please respect copyright.PENANAD5erZqiYIk
"Sederhana, Bu. Masuklah ke dalam, tutup pintunya, dan beri saya semua yang seharusnya saya dapatkan dari wanita di aplikasi itu... bahkan lebih," bisik Dimas.
24933Please respect copyright.PENANAf7n7ddxOXD
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Eni bergerak perlahan menuju pintu. Ia memutar kunci pintu dengan bunyi *klik* yang pelan namun terasa sangat final di telinganya. Suara kunci itu menandai berakhirnya kebebasannya dan dimulainya sebuah permainan kekuasaan yang gelap, di mana ia kini berada sepenuhnya di bawah kendali remaja yang tadi pagi ia rendahkan.
24933Please respect copyright.PENANAH0IUQZOQ6q
Suasana di dalam kamar penginapan itu terasa begitu mencekam, seolah-olah oksigen telah dihisap habis dari ruangan tersebut. Aroma penyegar ruangan yang menyengat dengan bau kimia yang tajam menusuk hidung, namun tidak mampu menutupi aroma keringat dingin dan ketakutan yang menguar dari tubuh Eni. Lampu kuning redup di langit-langit menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding, menambah kesan suram dan terisolasi.
24933Please respect copyright.PENANAtfkdsHSBfG
Dimas berdiri diam, namun tatapannya tidak pernah lepas dari Eni. Ia memandang wanita itu bukan lagi sebagai seorang ibu atau guru, melainkan sebagai mangsa yang sudah benar-benar terpojok di sarangnya. Ada kepuasan yang gelap di matanya, sebuah rasa kuasa yang jauh lebih memabukkan daripada apa pun yang pernah ia rasakan.
24933Please respect copyright.PENANABHGvhWXzZi
"Lepas pakaianmu," perintah Dimas. Suaranya rendah, hampir berupa bisikan, namun setiap kata yang keluar terasa seperti cambukan yang menghantam harga diri Eni.
24933Please respect copyright.PENANAyUGRPl6lFA
Eni tersentak. Ia terdiam mematung, tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Matanya yang berkaca-kaca menatap Dimas dengan tatapan memohon, namun ia hanya menemukan kekosongan dan nafsu yang membara di sana.
24933Please respect copyright.PENANAS6ZT8VQBXS
"Apa... apa kamu benar-benar tega melakukan ini padaku?" bisik Eni, suaranya bergetar hebat.
24933Please respect copyright.PENANAnudzK4lsiP
Dimas hanya menyeringai tipis. "Ingat satu hal, Bu. Saya hanya melakukan apa yang Ibu minta di aplikasi itu. Bedanya, sekarang saya tidak perlu membayar. Dan kalau Ibu menolak...haha…." Dimas sengaja menggantung kalimatnya, memberi ruang bagi imajinasi Eni untuk membayangkan hancurnya dunia Rafi.
24933Please respect copyright.PENANAgkCjOO4yji
Dengan bahu yang merosot dan hati yang hancur, Eni perlahan mengangkat tangannya. Jemarinya yang gemetar hebat mulai menyentuh kancing pertama dari gaunnya. *Klik.* Kancing itu terlepas.
24933Please respect copyright.PENANAi3RqrbUcIy
Eni memejamkan mata, air mata jatuh membasahi pipinya. Setiap kali satu kancing terbuka, ia merasa seolah-olah ada lapisan harga diri dan martabatnya yang robek paksa. Ia bisa mendengar napas Dimas yang mulai memberat di belakangnya, suara napas yang lapar dan tidak sabar.
24933Please respect copyright.PENANAoaBvgNrpng
*Klik. Klik.*
24933Please respect copyright.PENANAxutIg0E67H
Kain satin yang licin itu perlahan melonggar, memperlihatkan kulit bahunya yang putih bersih, lalu turun perlahan mengungkap belahan dadanya yang penuh dan padat. Eni terisak pelan, mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan, namun tatapan Dimas mengunci setiap gerakannya, memaksanya untuk terus melanjutkan.

Akhirnya, gaun itu tergelincir jatuh ke lantai dengan suara gesekan kain yang halus, meninggalkan Eni hanya dengan pakaian dalam yang sangat minim dan hijab yang masih melilit rapi di kepalanya. Ia berdiri di sana, gemetar, dengan tubuh sintal yang terpapar jelas di bawah cahaya lampu yang remang-remang—payudaranya yang besar membusung kencang, pinggangnya yang ramping, dan pinggulnya yang lebar membentuk lekukan yang sempurna.
24933Please respect copyright.PENANASTszSn9yG3
Dimas terdiam sejenak, matanya membelalak melihat keindahan yang selama ini tersembunyi di balik pakaian longgar. Namun, saat ia melihat hijab yang masih dikenakan Eni, sebuah ide jahat terlintas di benaknya.
24933Please respect copyright.PENANA5wprziTeKU
"Jilbabmu tetap pakai itu," ucap Dimas, nadanya penuh otoritas sambil menunjuk ke arah hijab Eni.
24933Please respect copyright.PENANAEQIicRfpyu
Eni tersentak, ia segera membawa tangannya ke hijabnya. "Apa? Tolong... tolong jangan paksa aku melakukan itu... ini... ini sangat berdosa..."
24933Please respect copyright.PENANAXYa2Vs9PVF
"Sssttt," Dimas melangkah maju, suaranya terdengar kejam. "Justru itu bagian terbaiknya, Bu. Saya ingin melihat wanita yang merasa dirinya paling suci, yang memegang teguh keyakinannya, harus menyerah dan melayani saya sementara dia masih memakai simbol kesuciannya itu. Itu membuat semuanya terasa lebih... nyata."
24933Please respect copyright.PENANADbls1Xs5k3
Permintaan itu terasa lebih menjijikkan bagi Eni daripada sekadar telanjang. Baginya, tetap mengenakan hijab dalam situasi seperti ini adalah penodaan terhadap seluruh hidupnya, keyakinannya, dan cintanya kepada Tuhan. Ia merasa mual, merasa hina hingga ke sumsum tulangnya. Namun, bayangan wajah Rafi yang hancur jika mengetahui rahasia ini kembali muncul, membungkam semua protesnya.
24933Please respect copyright.PENANAmFpqhM1dCk
Eni hanya bisa menunduk, membiarkan air matanya mengalir deras, pasrah pada takdir gelap yang menjeratnya.
24933Please respect copyright.PENANADEsOtMb43J
Dimas tidak membuang waktu lagi. Ia melangkah mendekat, menutup jarak di antara mereka hingga Eni bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh remaja itu. Tanpa peringatan, Dimas melingkarkan lengannya yang kekar di pinggang Eni, menarik tubuh sintal itu dengan kasar hingga punggung Eni menempel erat pada dada bidang Dimas.
24933Please respect copyright.PENANAoaH5zgfQSP
Eni terpekik kecil, tubuhnya menegang. Ia bisa merasakan napas panas Dimas yang membara di ceruk lehernya, mengirimkan sensasi panas yang mengerikan sekaligus membingungkan. Aroma parfum maskulin yang tajam dari tubuh Dimas kini bercampur dengan aroma vanilla dari kulit Eni, menciptakan suasana yang sangat menyesakkan.
24933Please respect copyright.PENANAa4WHSgbjBF
"Sekarang, Ibu milik saya," bisik Dimas dengan nada predator.
24933Please respect copyright.PENANAesetr4WF0E
Dengan satu gerakan cepat dan kuat, Dimas mendorong Eni ke depan, menjatuhkannya ke atas kasur yang empuk. *Bruk!* Tubuh Eni membal di atas kasur, rambutnya yang tersembunyi di balik hijab tersebar, dan ia hanya bisa terengah-engah, menatap langit-langit kamar dengan perasaan hancur, sementara sosok Dimas kini membayanginya, siap untuk mengambil apa pun yang ia inginkan.
24933Please respect copyright.PENANAvwOuMbhOVM
Dimas tidak segera menerjang. Ia justru mengambil posisi menjulang di atas tubuh Eni, membiarkan bayangannya menutupi seluruh tubuh wanita itu yang tengah gemetar hebat di atas kasur. Ia menatap wajah Eni yang sembab, lalu perlahan, tangannya yang kasar mulai bergerak, mengusap punggung terbuka Eni dengan gerakan melingkar yang provokatif.

"Ngomong-ngomong, Bu..." Dimas memulai, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang dingin dan penuh selidik. "Suami Ibu... masih ada? Atau dia juga hobi main aplikasi kencan kayak Ibu?"
24933Please respect copyright.PENANAu9PJRJsZoZ
Eni memejamkan mata erat-erat, memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan predator itu. "Sudah... sudah meninggal," jawabnya dengan suara yang pecah dan bergetar. "Aku... aku seorang janda."
24933Please respect copyright.PENANAweM5r2NKvS
Mendengar pengakuan itu, seringai Dimas melebar. Ada rasa puas yang membuncah di dadanya. Fakta bahwa wanita di bawahnya ini tidak memiliki pelindung—tidak ada suami yang akan datang menyelamatkannya atau membalas dendam—membuat nafsu Dimas meledak menjadi sesuatu yang tak terkendali. Baginya, Eni kini bukan lagi seorang ibu, melainkan sebuah properti yang sah untuk ia kuasai sepenuhnya.
24933Please respect copyright.PENANAx1T0iSwOR1
Dimas dengan kasar membalikkan tubuh Eni hingga wanita itu kini telentang, menatap langit-langit kamar dengan napas yang tersengal. Dimas memposisikan dirinya di antara kedua paha Eni, memberikan tekanan berat yang membuat Eni merasa terhimpit.
24933Please respect copyright.PENANAWx3JdF3wMC
Tangan Dimas tidak tinggal diam. Ia mulai bergerilya, meraba lekukan pinggang Eni sebelum akhirnya naik ke atas, mencengkeram payudara Eni yang terbungkus bra dengan kasar.
24933Please respect copyright.PENANA298PK3tfX6
"Ah!" Eni terpekik, tubuhnya melengkung refleks. "J-jangan... tolong hentikan..."
24933Please respect copyright.PENANAN67VFVmigo
Dimas tidak mendengarkan. Ia justru semakin kuat meremas gundukan daging yang padat dan kenyal itu, menekannya hingga bra yang dikenakan Eni terasa hampir robek. Ia bisa merasakan jantung Eni berdegup kencang di balik kulitnya, sebuah reaksi ketakutan yang justru terasa sangat menggairahkan bagi Dimas.
24933Please respect copyright.PENANAi4Kcsrzaue
"Tuh kan, tubuh Ibu nggak bisa bohong," bisik Dimas sambil tertawa rendah. "Mulut Ibu bilang jangan, tapi payudara Ibu terasa kencang sekali di tangan saya. Ibu sebenarnya pengen, kan? Pengen disentuh laki-laki setelah sekian lama kesepian?"
24933Please respect copyright.PENANAEfxeJZFbWq
"T-tidak... hiks... lepaskan aku!" Eni mencoba memberontak, tangan mungilnya mencoba menepis lengan Dimas, namun tenaganya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan remaja laki-laki yang sedang dikuasai nafsu bejat itu.
24933Please respect copyright.PENANAIQVdU6SN1U
Dimas dengan cepat menangkap kedua pergelangan tangan Eni dan menguncinya di atas kepala dengan satu tangan, membuat Eni benar-benar tak berdaya. Posisi ini membuat dada Eni semakin membusung, memperlihatkan lekukan tubuhnya yang sintal dengan sangat jelas.
24933Please respect copyright.PENANA6390ri0BBw
"Sekarang, lihat siapa yang memohon, Bu," ucap Dimas dengan nada menghina.
24933Please respect copyright.PENANAQZPEhgSGou
Dengan satu sentakan kasar, Dimas menarik pengait bra Eni hingga terlepas. *Klik!* Pertahanan terakhir dari harga diri Eni runtuh seketika. Payudaranya yang besar, putih, dan kencang terpapar sepenuhnya di bawah lampu kuning remang-remang. Putingnya yang berwarna merah muda sudah mengeras, bereaksi terhadap suhu dingin AC dan sentuhan kasar Dimas.
24933Please respect copyright.PENANAPcnFZGHqV2
Dimas terengah-engah melihat pemandangan itu. Tanpa ragu, ia menundukkan kepalanya, melahap salah satu puting Eni dengan mulutnya, mengisapnya dengan kuat dan rakus.
SLUURPPPPP PWAAHHH UHHHH SLUURPPPP
24933Please respect copyright.PENANAiUUSPpkfNx
"Nghhh... aahhh!" Eni mengerang, suara yang seharusnya menjadi tangisan kini berubah menjadi desahan yang tertahan sambil meneteskan air mata. Tubuhnya bergetar hebat, bukan hanya karena takut, tetapi karena ada sengatan listrik aneh yang menjalar ke seluruh sarafnya saat area sensitifnya disentuh secara brutal.
24933Please respect copyright.PENANAtSvio0LlbA
Tangan Dimas yang bebas kini turun ke bawah, merayap melewati perut Eni yang rata dan langsung menuju ke arah underwear yang sudah lembap. Ia tidak memberi waktu bagi Eni untuk memproses apa yang terjadi. Dengan kasar, Dimas menarik pakaian dalam wanita itu hingga terlepas, menyingkapkan area paling intim dari sang ibu.
24933Please respect copyright.PENANADMOMydqcSv
Dimas terpana melihat lubang wanita itu yang tampak merah dan menggairahkan. Ia bisa melihat cairan bening mulai merembes keluar, bukti bahwa tubuh Eni mengkhianati moralitasnya sendiri.
24933Please respect copyright.PENANAD2vqXeuqDx
Dimas tidak memberikan jeda sedikit pun bagi Eni untuk bernapas. Ia mempercepat tempo genjotannya, mengubah ritme menjadi serangan brutal yang tak berkesan belas kasihan. Ia memperlakukan Eni benar-benar seperti wanita sewaan murahan yang ia bayar untuk dipuaskan, bukan sebagai manusia, apalagi sebagai seorang ibu.
24933Please respect copyright.PENANAvulvbtlObR
*PLAK! PLAK! PLAK!*
24933Please respect copyright.PENANAlnjJNo2O7a
Bunyi hantaman daging bertemu daging menggema keras di ruangan itu. Setiap kali kontol berurat Dimas menghujam masuk hingga mentok, tubuh Eni terdorong ke belakang, kepalanya terhentak-hentak di atas kasur, dan hijabnya semakin berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang sudah banjir air mata dan keringat.
24933Please respect copyright.PENANAV5yCJeiqqW
"Nghhh! Aaaah! Dimas... hiks... terlalu dalam... aahhh!" teriak Eni, suaranya sudah serak.
24933Please respect copyright.PENANATjSVFMOh0C
Dimas justru semakin beringas. Ia mencengkeram paha Eni, mengangkat kedua kaki wanita itu tinggi-tinggi hingga menekuk ke arah dada, membuat lubang memek Eni terbuka lebar dan benar-benar terekspos. Dalam posisi ini, Dimas bisa menghujamkan kontolnya dengan sudut yang lebih tajam dan lebih dalam, tepat mengenai titik sensitif di dinding rahim Eni.
24933Please respect copyright.PENANAtHybJbifZA
"Lihat ini! Kamu benar-benar becek, Bu! Memekmu seperti haus banget sama kontol saya!" geram Dimas sambil terus memompa dengan kecepatan maksimal.
24933Please respect copyright.PENANAW6vAHn0ZpI
Hantaman yang begitu intens dan tekanan yang luar biasa pada kandung kemih Eni membuat wanita itu merasakan sensasi yang asing dan menakutkan. Tubuhnya bergetar hebat, otot-otot vaginanya menjepit kontol Dimas dengan sangat kencang dalam reaksi *kelojotan* yang tak terkendali.
24933Please respect copyright.PENANAKDJKPfCm9g
"Aahhh! Nghhh! Aku... aku mau... aahhh!"
24933Please respect copyright.PENANAzENKbs1HOz
Tiba-tiba, saat Dimas memberikan satu hantaman paling keras yang membuat Eni melengkungkan punggungnya secara ekstrem, sebuah semburan cairan hangat keluar dari saluran kencing Eni. *Sshhhhhhh… ENGHHHHH OOOOKKK AAAHHHH* SPLUURURRTTTTTT CUURRTTT CERRTTTTT!!!

24933Please respect copyright.PENANApHxoYWNU8Q
Eni terkencing-kencing di atas kasur, membasahi sprei dan paha Dimas karena gairah dan tekanan yang terlalu hebat.
24933Please respect copyright.PENANAJ48a66szDA
"Hahaha! Gila! Kamu sampai terkencing-kencing, Bu! Benar-benar wanita jalang!" ejek Dimas sambil tertawa puas, namun ia tidak berhenti. Ia terus menggenjot Eni yang sudah hampir pingsan karena kenikmatan yang menghancurkan harga dirinya itu.
24933Please respect copyright.PENANAcpo9V8M79C
Setelah beberapa menit melakukan serangan brutal, Dimas akhirnya mencapai puncaknya. Dengan satu raungan rendah, ia menghujamkan kontolnya sedalam mungkin dan menyemprotkan cairan kental panasnya di dalam rahim Eni.
24933Please respect copyright.PENANAcKc0fCRmBP
"PWAAAAHHH! NGHHH!"
24933Please respect copyright.PENANAHG7Vn4GMO7
Dimas terengah-engah, ia perlahan menarik keluar kontolnya yang masih berdenyut. *PLOP!* Cairan putih susu bercampur dengan cairan pelumas dan air seni Eni mengalir keluar dari lubang memek yang kini tampak merah dan menganga.
24933Please respect copyright.PENANAeq77D70eRh
Dimas tidak langsung menjauh. Ia bergeser, memposisikan wajahnya tepat di depan area intim Eni yang masih bergetar. Ia bisa mencium aroma khas wanita yang baru saja dikuasai—campuran antara keringat, cairan seksual, dan bau pesing yang justru memicu nafsu baru di kepalanya.
24933Please respect copyright.PENANAqpSKPZTE2d
Tanpa aba-aba, Dimas menjulurkan lidahnya yang panjang dan kasar.
24933Please respect copyright.PENANAl4SnFhI9mz
*SLRUUUUUPPP!*
24933Please respect copyright.PENANA3qAd2ed3hP
Ia menjilat lubang memek Eni dari bawah ke atas dengan satu sapuan panjang, membersihkan sisa-sisa spermanya sendiri dan cairan Eni.
24933Please respect copyright.PENANAyhWfcP6MzT
"A-ahhh... jangan... hiks... sudah cukup... lepassss hiyaaaaakk jangannnn disituuu aaaaaaahhhh nnghhhhhh" isak Eni, mencoba menutup kakinya, namun Dimas menahan paha wanita itu dengan kuat.
24933Please respect copyright.PENANA85FlJMzyeC
Dimas tidak berhenti di situ. Ia menggeser lidahnya lebih ke belakang, menuju area yang lebih gelap dan terlarang. Ia mulai menjilat lingkaran cokelat anus Eni dengan gerakan memutar yang basah dan intens.
24933Please respect copyright.PENANAEBfjnp3Zi8
*SLRUUUUP... SLURP...*
24933Please respect copyright.PENANAjRMzJ3Yvxr
"JANGAN! Hiks... jangan di situ! Dimas, tolong... jangan di situ! Itu kotor... aahhh!" teriak Eni dengan panik, tubuhnya menggeliat hebat. Ia merasa sangat terhina saat lidah seorang remaja laki-laki menyentuh bagian paling kotor dari tubuhnya.
24933Please respect copyright.PENANAmX3iE86Dv4
Namun, penolakan Eni justru menjadi bahan bakar bagi Dimas. Ia semakin dalam memasukkan ujung lidahnya ke dalam lipatan anus Eni, mengulum dan memainkan lubang kecil itu dengan rakus, seolah sedang mencicipi hidangan paling lezat.
24933Please respect copyright.PENANAB8z8QNmgbG
"Sssttt... diamlah, Bu. Kamu kan toilet saya. Toilet harus dibersihkan sampai ke lubang paling belakang, kan?" bisik Dimas di sela-sela jilatan basahnya, membuat Eni hanya bisa menjerit pasrah sambil memeluk hijabnya erat-erat, menyadari bahwa ia telah jatuh ke dalam neraka yang tidak ada jalan keluarnya.
24933Please respect copyright.PENANAEu6qoH8ZRH
Dimas tidak membiarkan Eni beristirahat barang sedetik pun setelah ia selesai menjilat bagian paling terlarang dari tubuh wanita itu. Dengan kasar, ia menarik rambut Eni yang terurai, memaksanya untuk berbalik dan mengambil posisi merangkak di atas kasur. Posisi *doggy style* ini membuat bokong sintal dan bahenol Eni terangkat tinggi ke atas, memberikan pemandangan lubang memek yang merah, becek, dan menganga lebar tepat di hadapan mata Dimas.
24933Please respect copyright.PENANAd4jSXa30cn
"Lihat dirimu, Bu... benar-benar seperti binatang yang siap dikawini," ejek Dimas dengan napas yang memburu.
24933Please respect copyright.PENANAAyJnNveEFI
Eni meronta, mencoba merayap menjauh, namun Dimas jauh lebih kuat. Ia mencengkeram pinggul lebar Eni dengan jari-jarinya yang kuat, mengunci posisi wanita itu agar tidak bisa bergerak sedikit pun. Eni terisak, wajahnya terbenam di sprei yang sudah basah oleh air seni dan keringat.
24933Please respect copyright.PENANABAU9vVVPp3
"T-tolong... jangan lagi... hiks... aku mohon..." rintih Eni, suaranya nyaris hilang.
24933Please respect copyright.PENANAModBDYXSND
Dimas tidak peduli. Ia memposisikan kontolnya yang berurat dan tegang maksimal tepat di mulut memek Eni yang berdenyut. Tanpa peringatan, dengan satu dorongan yang sangat kuat dan brutal, Dimas menghunjamkan seluruh batang kerasnya masuk ke dalam.
24933Please respect copyright.PENANAUXBNsVG2dW
*SRETTTT! BLESHHHHHHKKK!!*
24933Please respect copyright.PENANA12aEDHF74C
"NGHHH HIAAAKKK AAAAKKK DIM...MASSS JANG OOOOOHGGGG JANGAANNNNNNN AAAAHHH AHHHHH AHHHH AHHHH TIDAKK LEPASSS DASARRR ANAKKKK OOGHHH KURANG AJAR LEPASSS !!! HIYYAAKKKK!!"
24933Please respect copyright.PENANAULCSnuI3H5
Seketika itu juga, tubuh Eni melenting hebat. Punggungnya melengkung secara ekstrem, seolah-olah ada sebilah pedang panas yang baru saja menusuk tepat ke jantung rahimnya. Eni terkesiap, mulutnya terbuka lebar namun tidak ada suara yang keluar selama beberapa detik; ia benar-benar kehilangan kemampuan untuk berkata-kata karena rasa penuh yang teramat sangat dan tekanan yang merobek dinding vaginanya.
24933Please respect copyright.PENANAC7ucDoqATz
"A-aaaaghhhh... nngghhh..." Eni akhirnya bisa mengeluarkan suara, namun itu bukan lagi kata-kata, melainkan erangan keputusasaan yang sangat dalam.
24933Please respect copyright.PENANAJi4kBIccdN
"Nghhh... sial! Sempit sekali! Kau benar-benar menjepitku, Bu!" geram Dimas.
24933Please respect copyright.PENANAFdGiOc61EJ
Dimas mulai menggenjot. Ia tidak melakukannya dengan lembut; setiap dorongan adalah serangan. Ia memompa tubuh semok Bu Eni dengan kecepatan yang mengerikan, membuat kasur berderit keras dan tubuh Eni terguncang hebat ke depan dan ke belakang.
24933Please respect copyright.PENANA5uOyf0YdK1
*PLOKKKK PLOKKKK PLOKKKK PLOKKKK PLLOKKKKK!!!*
24933Please respect copyright.PENANA35WA6Gm4j4
Suara hantaman kulit bokong Dimas yang bertemu dengan bokong bahenol Bu Eni terdengar sangat nyaring dan basah. Eni mulai kelojotan, saraf-saraf di seluruh tubuhnya seperti terbakar. Di tengah genjotan brutal itu, Dimas menjangkau ke depan, mencengkeram salah satu puting besar Eni yang masih bergoyang hebat, lalu menggigitnya dengan keras dan menariknya dengan paksa.
24933Please respect copyright.PENANALTjAq1SJyC
"HYAAAKKKKKK DIMASSSS KURANGG AJARRR OOOGHHHHH SAKIIT SAKIIT LEPASSSS JANGANNN OOOGHH NGHHH MHHHH LE LEPASSSSS HIYAAAAAAAAAH AAAAHH!!!!"
24933Please respect copyright.PENANAU2hHFiMTkN
Jeritan Bu Eni meledak, memenuhi ruangan penginapan yang pengap itu. Ia merasa hancur, baik secara fisik maupun mental. Rasa sakit dari gigitan di putingnya bercampur dengan rasa nikmat yang menghina dari hantaman kontol berurat Dimas yang terus menghajar titik terdalam di rahimnya. Eni tidak bisa lagi membedakan mana rasa benci dan mana gairah; ia hanya bisa pasrah saat tubuhnya terus diguncang tanpa ampun.
24933Please respect copyright.PENANAv1TnrsnBUU
Dimas semakin menggila. Ia mengabaikan segala rintihan dan tangisan Eni. Baginya, ini adalah puncak dari segala dendam dan nafsu. Ia mempercepat tempo genjotannya, membuat Eni benar-benar kelojotan, dengan kaki yang gemetar hebat dan napas yang tersengal-sengal.

"Aku akan mengisimu sampai penuh, Bu! Terima ini!" raung Dimas.
"HHHAAAAAAAKKK AAAAAHKKKK JANGAAANN DASARRR OOOGHHHH LEPASKANNN AKUUU TIDAKKKK UOOOGHHH TIDAAKKK ENGGHHHH GHAAAAAAAAKK HIIIIGHHHHH MHHHHHH!!!" Bu eni berusaha meronta ronta melawan namun saat dimas mencapai titik puncaknya, Dimas memberikan satu hantaman terakhir yang paling dalam, menghentakkan seluruh berat tubuhnya hingga kontolnya terasa mencoba menerobos masuk lebih jauh ke dalam rahim Eni.
JBLOOKKKKKKKK!!!!! BLESHHHHH!!!
CPROOOOOTTTTT CROOOOTTTT CPLUURTTTTTT!!!
24933Please respect copyright.PENANAYZkQTaEgjc
Dimas memuncratkan seluruh cairan spermanya yang kental dan panas ke dalam rahim wanita itu. Ia terus menekan, membiarkan setiap tetes benihnya mengisi rahim sang ibu yang ia bully di sekolahnya , wajah bu eni kini sangat mengenaskan dengan matanya melotot , mulutnya menganga lebar berusaha berteriak namun karena ia syok dan kesakitan menerima peju jorok dimas bu eni tidak dapat berkata apa apa kecuali mendesah
24933Please respect copyright.PENANAakTtJlAPy8
"PWAAAAHHHHHHH ENGGAAAAAHKKKK PANASSS TIDAKKK OOOOOOOOOGHHHHHHHHH HIIIIGHHHHH JO JOROKKK LEPASKANNNN ANAK NAKALL OOOOGHHHH!!!!!!!" Erang Bu eni saat ia menerima peju panas dan kental dimas seorang pembully anaknya tersebut yang kumuh dan jorok
24933Please respect copyright.PENANAIdXDcDk5hc
"UHHH ENAKK BANGETTT ANJINGG!! RAHIM MU ENAK BANGET BU HAHA MHHH , SINI BUKA MULUTMU AKU MAU RASAKAN LIUR WANITA JANDA YANG NGELONTE HAHA!" Ucap dimas sambil ia mendekatkan wajahnya lalu dengan paksa melumat mulut Bu eni hingga bu eni gelagapan
24933Please respect copyright.PENANADzvGwdIdL3
"ENGGAKKKK JANG CIUUPPP PWLHHHH AAAMHHH DIMM MWLEHHH MWLAAAHHH AHHH CIUUPP MMUUAACHHH SLUURPP PWLEEEHHH AAANGHHH BAA... BAUUU WLEEHHH AHHHHHHH!!" Bu eni kepalanya berusaha menolak namun dimas terus menyosor mulut Bu eni dengan paksa
24933Please respect copyright.PENANAHfY0IsliV0
Tubuh Bu Eni terkapar lemas di atas ranjang yang kini sudah kacau balau. Ia terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat, sementara seluruh otot tubuhnya terasa lumpuh setelah dihantam badai nafsu Dimas yang begitu brutal. Ia telentang sepenuhnya, membiarkan kulit putihnya yang sintal dan berpeluh terpapar lampu kuning redup. Kontras yang sangat menghina terlihat jelas; tubuhnya telanjang bulat, memperlihatkan lekukan pinggul yang lebar dan paha yang masih bergetar, namun kepalanya masih terbalut hijab yang kini sudah berantakan dan lembap oleh keringat serta air mata.
24933Please respect copyright.PENANAvsn8TcKnOx
Dimas tidak langsung beranjak. Ia masih berada di atas tubuh wanita itu, memandangi hasil penaklukannya dengan tatapan lapar. Ia mulai menjilati sisa-sisa keringat di leher jenjang Eni, lalu turun perlahan, memberikan kecupan-kecupan basah di tulang selangka dan lembah dadanya yang masih berdenyut kencang.
24933Please respect copyright.PENANAMb3kyA9Dor
"Nghhh... s-sudah... cukup... lepaskan aku..." rintih Eni, suaranya hampir tidak keluar, hanya berupa bisikan serak yang penuh keputusasaan.
24933Please respect copyright.PENANA3IjTvGmm8N
Dimas tidak menjawab. Ia justru memusatkan perhatiannya pada kedua payudara besar Eni yang masih membusung indah. Dengan rakus, ia membenamkan wajahnya di antara gundukan daging yang kenyal itu. Ia mengulum salah satu puting merah muda yang sudah bengkak karena digigitnya tadi, menghisapnya dengan kuat seolah-olah ia adalah seorang bayi yang sedang kelaparan.
24933Please respect copyright.PENANACkrhUUJLnI
*SLUURPP... MHMHH... SLUURRPPP... PWLAAHHH...*
24933Please respect copyright.PENANAg7XoGQhihg
"Aaaaahhh... h-hentikan... hiks... jangan di situ... nnghhh..." Eni melenguh, tubuhnya sedikit melenting saat merasakan hisapan kuat Dimas. Meski hatinya dipenuhi rasa jijik, namun saraf-saraf di tubuhnya yang masih sensitif memberikan reaksi yang mengkhianati moralitasnya.
24933Please respect copyright.PENANAt2H7Qkv7NK
Dimas berpindah ke payudara satunya, mengulumnya dengan lebih dalam, lidahnya bermain-main di sekitar areola yang lebar sebelum menghisap putingnya dengan suara yang basah dan menggairahkan.
24933Please respect copyright.PENANAAeHkDKKotC
*SLRUUPPP... MMMMHHH... SLURP...*
24933Please respect copyright.PENANAvrgYeCmueB
"Nghhh... aahhh... m-muak... aku muak... hiks..." gumam Eni, namun tangannya yang lemas tidak mampu mendorong kepala Dimas. Ia hanya bisa terkapar, membiarkan remaja itu menyusu pada tubuhnya hingga merasa kenyang, benar-benar memperlakukannya seperti objek pemuas nafsu yang tidak memiliki harga diri.
24933Please respect copyright.PENANAfInaJWH8kc
Setelah merasa puas menghisap seluruh keindahan dada Eni, Dimas akhirnya melepaskan tautannya. Ia menjilat bibirnya yang basah oleh cairan tubuh Eni, lalu bangkit berdiri dengan santai. Tanpa mempedulikan kondisi Eni yang hancur, Dimas mulai mengenakan pakaiannya kembali. Ia memakai celana dan mengancingkan kemejanya satu per satu dengan gerakan tenang, seolah-olah apa yang baru saja ia lakukan adalah hal yang biasa.
24933Please respect copyright.PENANAVaSCYkVnlm
Sebelum melangkah menuju pintu, Dimas berhenti tepat di samping wajah Eni. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga Eni bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat namun terasa mengancam.
24933Please respect copyright.PENANATsX5uGtpAl
"Ingat apa yang saya bilang tadi, Bu," bisik Dimas, suaranya dingin dan penuh otoritas. "Mulai sekarang, Ibu harus nurut. Apa pun yang saya minta, kapan pun saya panggil, Ibu harus siapi. Jangan mencoba bermain trik atau mengadu pada siapa pun."
24933Please respect copyright.PENANA02ML0l3h6y
Eni menoleh perlahan, matanya yang sembab menatap Dimas dengan sisa-sisa amarah yang masih membara. "K-kamu... anak nakal... h-hina…!!!!!" ucapnya terbata-bata, suaranya putus-putus karena kelelahan yang luar biasa.
24933Please respect copyright.PENANAYTDKux7WrD
Dimas tertawa kecil, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Eni merinding. "Hina? Mungkin. Tapi sekarang saya yang pegang kendali. Kalau Ibu tidak nurut... siap-siap saja, Rafi akan jadi taruhannya. Saya bisa buat hidup anak Ibu jauh lebih menderita dari yang kemarin. Saya bisa bikin dia memohon-mohon di sekolah HAHAHA !."
24933Please respect copyright.PENANA51LhdMUkZM
Mendengar nama putranya disebut, Eni tersentak. Rasa takut yang luar biasa seketika mengalahkan amarahnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, berusaha meraih ujung celana Dimas dengan gerakan lemah.
"R-rafi...!? h-hiks... j-jangan... t-tolong... j-jangan bully... h-dia lagi... d-dimasss... j-jangan... sakiti... anakkuu!!!" Eni terisak, kata-katanya terputus-putus, napasnya tersengal-sengal saat memohon demi anaknya.
24933Please respect copyright.PENANABAIGbFd0u6
Dimas tersenyum puas. Ia melihat bagaimana seorang ibu yang tadinya begitu perkasa di ruang BK, kini benar-
24933Please respect copyright.PENANAVKBba5be8d
Dimas tersenyum puas, menatap wajah Eni yang hancur dengan tatapan kemenangan yang absolut. Ia merasa seperti raja yang baru saja menaklukkan wilayah baru, dan wilayah itu adalah harga diri seorang wanita yang selama ini dianggap suci oleh semua orang.
24933Please respect copyright.PENANA1OPCZPYtnS
"Pilihan yang pintar, Bu, Hahaha" ucap Dimas dingin. Ia melepaskan cengkeramannya dari dagu Bu Eni, membuat kepala wanita itu terkulai lemas kembali ke bantal. "Saya tunggu kabar dari Ibu. Jangan sampai saya yang mencari Ibu lebih dulu dengan cara yang tidak menyenangkan."
24933Please respect copyright.PENANAagAshnbGSB
Tanpa menoleh lagi, Dimas berbalik dan melangkah menuju pintu. Setiap langkah kakinya terdengar mantap, kontras dengan napas Eni yang masih tersengal-sengal dan putus-putus. Saat ia sampai di ambang pintu, Dimas berhenti sejenak dan melirik ke belakang, menatap tubuh bahenol Eni yang terkapar telanjang dengan hijab yang masih melilit kepalanya.
24933Please respect copyright.PENANANNcRvziQTt
"Oh, satu lagi," Dimas menyeringai. "Bersihkan dirimu sendiri, Bu. Bau peju saya di dalam rahimmu itu... jangan sampai tercium oleh Rafi saat kau memeluknya nanti. Itu akan jadi rahasia yang sangat manis, kan?"
24933Please respect copyright.PENANAwCudZ5fyRz
*Klik.*
24933Please respect copyright.PENANALQa2EhOQRa
Pintu tertutup dengan suara yang pelan, namun bagi Eni, suara itu terdengar seperti dentuman palu hakim yang menjatuhkan vonis seumur hidup baginya. Ia kini benar-benar sendirian di dalam kamar penginapan yang pengap itu.
24933Please respect copyright.PENANAocLRZFY27q
Eni tidak bergerak. Ia tetap terkapar telentang, menatap langit-langit kamar yang kusam dengan mata yang kosong. Tubuhnya masih bergetar hebat, lubang memeknya yang merah dan menganga, membasahi sprei yang sudah kotor oleh air seni dan keringat.
24933Please respect copyright.PENANAStZA4c13DW
"Hiks... hiks... Ya Allah... apa yang telah kulakukan..." isak Eni, suaranya terdengar sangat rapuh.
24933Please respect copyright.PENANA4VPtROMmdz
Ia mencoba mengangkat tangannya untuk membenarkan hijabnya, namun lengannya terasa seperti terbuat dari jelly; terlalu lemas untuk sekadar bergerak. Ia merasakan rasa perih yang berdenyut di puting dadanya yang bengkak akibat gigitan Dimas, dan rasa penuh yang menyesakkan di bagian bawah tubuhnya.
24933Please respect copyright.PENANAmQ9zZCfuxk
Aroma di ruangan itu kini menjadi campuran yang menjijikkan bau kimia dari penyegar ruangan, bau pesing, dan aroma jantan yang kuat dari sperma Dimas yang memenuhi indra penciumannya. Eni merasa mual, namun di saat yang sama, ada bagian gelap dari dirinya yang masih merasakan getaran gairah yang tersisa,
24933Please respect copyright.PENANA2dKAbn8Jbn
Ia memejamkan mata, dan seketika bayangan wajah Rafi muncul. Putranya yang polos, yang sedang berjuang melawan trauma di sekolah. Eni membayangkan bagaimana reaksi Rafi jika tahu bahwa demi melindunginya, sang ibu harus menyerahkan seluruh tubuh dan martabatnya kepada monster yang menyiksa anaknya.
24933Please respect copyright.PENANAnjPxs7nz5O
"Maafkan Ibu, Nak... maafkan Ibu..." rintihnya di sela isak tangis bu eni24933Please respect copyright.PENANAUz2JMpVf6r
24933Please respect copyright.PENANAWPnaua84IG
Lalu……
24933Please respect copyright.PENANA1MnLxbGuyS
24933Please respect copyright.PENANA6vTxGOObx5
24933Please respect copyright.PENANAjYHmHfuLFb


