Malam itu rumah kami sepi seperti biasa. Aku pulang kerja lewat jam sembilan, motor kutinggal di teras, helm kulepas di rak sepatu. Lampu ruang tamu masih nyala. Ibu duduk di sofa, kaki dilipat, lagi nonton sinetron sambil nyemil keripik. Roknya kain batik yang longgar, atasan kaos rumah yang udah agak tipis. Rambutnya diikat seadanya. Dari jauh kelihatan biasa. Ibu rumah tangga empat puluh tiga tahun yang hidupnya cuma dapur, laundry, dan nunggu anaknya pulang.
1362Please respect copyright.PENANAqjztPOyV26
“Pulang, Nak?” suaranya masih terdengar dari dalam.
1362Please respect copyright.PENANAj6LRohQs6I
“Iya, Bu.”
1362Please respect copyright.PENANAxwOv5BMNDZ
Aku lewat depan sofa, cium tangan ibu sebentar. Bau sabun cuci piring masih nempel di jarinya, campur parfum murah yang dia pakai dari dulu. Aku udah hafal. Bau itu yang bikin rumah terasa rumah.
1362Please respect copyright.PENANA1uPzE3ZdYA
“Makan dulu. Nasi gorengnya masih hangat di wajan.”
1362Please respect copyright.PENANAVkG54El4Kg
“Nanti, Bu. Aku mandi dulu.”
1362Please respect copyright.PENANALNgZhmycqt
Di kamar mandi aku basuh muka. Airnya dingin. Di cermin kelihatan muka capek. Kerja gudang dari pagi, pulang malam, gaji pas-pasan. Hidup kami emang gitu-gitu aja sejak bapak pergi tiga tahun lalu. Ibu gak mau menikah lagi. Katanya udah cukup. Aku juga gak maksa. Kami berdua di rumah petak belakang gang, tetangga kiri-kanan pada kenal.
1362Please respect copyright.PENANAxiKV1mnTTG
Termasuk Rian.
1362Please respect copyright.PENANAcrLsRi2cLC
Rian itu anak kontrakan depan, dua pintu dari rumah kami. Umurnya dua puluh enam. Kerja bengkel motor. Badannya tegap, kulitnya sawo matang, rambutnya agak gondrong tapi rapi. Sering bantu ibu angkat galon, perbaiki kran bocor, ganti lampu. Ibu bilang dia anaknya sopan. Aku juga ngerasa gitu. Beberapa kali aku pulang, Rian lagi duduk di teras, ibu bikinin teh. Mereka ngobrol. Aku cuma nyapa, masuk, gak terlalu mikir.
1362Please respect copyright.PENANAkOXhwP8Ea0
Beberapa minggu terakhir ibu lebih sering masak berlebih. “Buat Rian juga, kasian anak itu makan mie terus.” Aku cuma bilang iya. Ibu kan emang suka masak. Gak ada yang aneh.
1362Please respect copyright.PENANAMCRgzr5Q0N
Tadi sore, sebelum aku berangkat shift malam, ibu berdiri di depan cermin ruang tamu. Dia ganti kaos. Yang baru lebih nempel di dada. Aku lihat sekilas dari kamar.
1362Please respect copyright.PENANAR8TCT4UkDf
“Bu, mau ke mana?”
1362Please respect copyright.PENANAlnA4tgOqdw
“Gak ke mana. Rian mau benerin kipas angin dapur. Rusak dari kemarin.”
1362Please respect copyright.PENANA1csBvqGoFS
“Nanti aja, Bu. Aku bisa beliin yang baru minggu depan.”
1362Please respect copyright.PENANAKCy5QlBCm6
Ibu nyengir. “Rian udah janji. Kasian dia udah niat.”
1362Please respect copyright.PENANAp0XCXRdNpV
Aku cuma geleng-geleng. Ibu emang gitu. Susah dibilangin kalau udah ngerasa kasihan.
1362Please respect copyright.PENANAbfsOan5vEw
Pas aku berangkat, Rian baru datang. Dia bawa tas perkakas. Ibu buka pagar, senyumnya lebar. “Masuk, Ri. Kipasnya di dapur.”
1362Please respect copyright.PENANAOHgG08xeRG
Rian angguk ke aku. “Bang, hati-hati di jalan.”
1362Please respect copyright.PENANARMGId57oOI
“Iya. Makasih udah bantuin ibu.”
1362Please respect copyright.PENANAjIQK3gh1Yj
“Santai, Bang. Biasa.”
1362Please respect copyright.PENANAU5yLmuOhXj
Aku gas motor. Di belakang kulihat ibu nutup pagar, Rian udah masuk. Biasa. Tetangga bantu. Gak usah dibesar-besarin.
1362Please respect copyright.PENANAaIQLAhLobc
Kerja malam itu agak sepi. Aku sempat buka chat. Ibu kirim foto wajan nasi goreng. “Nanti pulang makan, ya.” Aku balas oc. Gak ada chat lain. Rian gak pernah chat aku. Kami gak terlalu akrab. Cuma sapa-sapa.
1362Please respect copyright.PENANApI36bNiu4o
Jam sembilan lebih aku pulang. Ibu masih di sofa. Nasi gorengnya emang masih ada. Aku makan di meja, ibu pindah duduk di depanku.
1362Please respect copyright.PENANANd5FqiBjyR
“Riannya udah pulang?” tanyaku sambil nyendok.
1362Please respect copyright.PENANAznTYl5caHY
“Udah. Tadi lama juga. Kipasnya parah, katanya dinamo aus.”
1362Please respect copyright.PENANADI0xS4e3SP
“Bayar berapa?”
1362Please respect copyright.PENANAZOZOdrKCKr
Ibu geleng. “Gak mau dibayar. Bilangnya tetangga.”
1362Please respect copyright.PENANALqPtrjWNtx
Aku mengangguk. “Orangnya emang baik.”
1362Please respect copyright.PENANAQ4CZ1LJB6v
Ibu senyum kecil. Jari-jarinya muter gelas teh. “Iya. Perhatiannya lebih dari anak seumurannya. Kadang aku sampai lupa dia itu tetangga, bukan…” Dia berhenti. “Bukan apa-apa. Minum yang banyak, Nak. Kamu pucat.”
1362Please respect copyright.PENANA0axgWJZcK9
Aku gak nanya lanjutan kalimatnya. Capek. Habis makan aku langsung ke kamar. Tidur. Jam dua belas lebih aku bangun karena haus. Tenggorokan kering. Air galon di kamar habis. Aku turun, masih setengah ngantuk, celana pendek sama kaos oblong.
1362Please respect copyright.PENANAc61aLsF2XH
Tangga kayu kami berderit pelan. Lampu ruang tamu udah mati. Dari dapur ada cahaya kuning redup. Lampu neon kecil di atas wastafel. Aku dengar suara. Bukan suara TV. Suara orang. Pelan.
1362Please respect copyright.PENANAhCrdcBWLr0
Aku berhenti di anak tangga terakhir.
1362Please respect copyright.PENANAvXpElmkWsj
Suara ibu. Ketawa kecil, terus “Ssst. Pelan, Ri…”
1362Please respect copyright.PENANApEfJRchE9W
Dada aku agak aneh. Bukan kaget banget. Lebih ke… gak nyangka. Aku berdiri di situ, tangan masih pegang railing. Aku bisa putar balik. Minum di kamar mandi. Anggap gak dengar. Tapi kaki gak gerak.
1362Please respect copyright.PENANAkUnabrxMZn
Aku usahain napas pelan. Dari sudut dinding aku bisa lihat sebagian dapur.
1362Please respect copyright.PENANAspyxUdX2PO
Ibu berdiri di depan meja makan. Punggungnya ke arah tangga. Rian di belakangnya. Dekat banget. Tangan Rian di pinggang ibu. Bukan pegangan biasa. Jemari Rian masuk ke dalam kain rok, meraba dari samping.
1362Please respect copyright.PENANAg8NCzPgqrt
Ibu gak menyingkir.
1362Please respect copyright.PENANAGy3nicLysd
Aku telan ludah. Otak masih nyari alasan. Mungkin lagi bercanda. Mungkin Rian cuma nunjukin sesuatu di meja. Mungkin…
1362Please respect copyright.PENANAos1j5gwmji
Rian nyium leher ibu dari belakang. Ibu mendongak dikit, mata terpejam. Suaranya keluar pelan. “Rian… jangan di sini.”
1362Please respect copyright.PENANACETAbRJ3Lf
“Di sini aja, Tante. Aku kangen dari tadi sore.”
1362Please respect copyright.PENANAl03iifvI3l
Tante. Dia panggil ibu tante. Selama ini di depan aku Rian selalu bilang Bu Wati.
1362Please respect copyright.PENANAo7TRKrF5aZ
Ibu ketawa pelan, napasnya pendek. “Aku kan ibunya dia. Kalau ketahuan…”
1362Please respect copyright.PENANA4s8wwKw4hZ
“Dia tidur, Tante. Aku denger pintunya tadi.”
1362Please respect copyright.PENANAoyZTGHoYOL
Tangan Rian naik. Dari luar aku lihat kaos ibu terangkat. Kulit perut ibu kelihatan. Putih, agak kendur dikit di bawah pusar, tapi pinggangnya masih ramping. Rian usap perut itu, naik ke tulang rusuk, terus ke bawah lagi.
1362Please respect copyright.PENANAJaDINFdaUg
Aku harusnya teriak. Harusnya masuk. Harusnya “Bu, lagi ngapain.”
1362Please respect copyright.PENANA96zuAaRSbT
Tapi aku diam.
1362Please respect copyright.PENANASTbKrLVO3q
Ibu putar badan. Sekarang aku lihat mukanya dari samping. Bibirnya terbuka. Rian cium dia. Bukan cium pipi. Mulut ke mulut. Lama. Ibu pegang bahu Rian, bukan dorong. Jari ibu masuk ke rambut Rian.
1362Please respect copyright.PENANAmVzI8G71pG
Aku berdiri di tangga kayak orang beku. Jantungnya berisik di telinga.
1362Please respect copyright.PENANAIny08g0CXO
Mereka lepas ciuman. Ibu bisik, “Aku gak kuat kalau kamu cium gitu.”
1362Please respect copyright.PENANA1X4NOBFTOb
Rian senyum. “Tante yang mulai dari kemarin.”
1362Please respect copyright.PENANAWuDhHpgEyh
“Jangan bilang gitu. Aku cuma… kesepian.”
1362Please respect copyright.PENANAUTZgrfrifp
Rian usap pipi ibu. “Aku di sini.”
1362Please respect copyright.PENANAYMQJ3jALlP
Ibu tunduk, keningnya nempel di dada Rian. “Anakku tidur di atas. Jangan keras-keras.”
1362Please respect copyright.PENANASX6Zdz1ekJ
Rian angkat dagu ibu, cium lagi. Kali ini tangannya masuk ke dalam kaos ibu dari bawah. Aku lihat kaos itu naik. Bra hitam. Bukan bra rumah yang biasa ibu pakai. Yang ini lebih ketat, nyembul di atas.
1362Please respect copyright.PENANAeqmeoZQH0t
Aku baru sadar. Ibu ganti baju sore tadi. Bukan karena kipas.
1362Please respect copyright.PENANAMm0vMOt5ou
Rian turunin tali bra satu sisi. Payudara kiri ibu keluar. Besar, masih kencang, putingnya gelap dan udah tegang. Rian peluk dari depan, mulutnya turun ke situ. Ibu gigit bibir, pegang kepala Rian. “Aduh… pelan…”
1362Please respect copyright.PENANAw7dcZeFHGZ
Suara isapan basah kedengeran di dapur yang sepi. Ibu desah, napasnya putus-putus. Kakinya bergeser, buka dikit.
1362Please respect copyright.PENANAYXYsYauO7N
Aku pegang railing lebih kuat. Kuku masuk ke kayu.
1362Please respect copyright.PENANAkUjnPuR2K0
Ini ibu. Ibu yang masakin aku setiap hari. Ibu yang nyuci baju aku. Ibu yang duduk di sofa nonton sinetron pakai kacamata baca.
1362Please respect copyright.PENANAwiZWJrtoKl
Sekarang payudaranya dilahap tetangga depan rumah.
1362Please respect copyright.PENANAuOQR6hE4xU
Rian pindah ke payudara kanan. Tangannya yang lain naikkin rok ibu dari belakang. Rok batik itu naik ke pinggang. Dalaman ibu warna maroon, udah basah kelihatan dari sini. Rian usap dari luar, ibu langsung merapatkan paha, terus lemas lagi.
1362Please respect copyright.PENANA9D863yfcru
“Tante basah banget.”
1362Please respect copyright.PENANAQJtuEkbcqO
“Jangan bilang begitu…”
1362Please respect copyright.PENANAqLA8FchPfB
“Bagus. Aku suka.”
1362Please respect copyright.PENANAb8sQ7c2Olu
Rian selipin jari ke dalam dalaman, geser ke samping. Aku gak lihat jelas dari sini, tapi gerakan pergelangan Rian naik-turun pelan. Ibu bungkuk dikit, tangan numpu di meja. Desahannya ketahan di tenggorokan.
1362Please respect copyright.PENANAJn5hhhijOE
“Rian… jari kamu…”
1362Please respect copyright.PENANAFxuDTE5kiP
“Dalam, Tante?”
1362Please respect copyright.PENANAgv6fzuD1FB
Ibu angguk, rambutnya berantakan. “Dalam… iya…”
1362Please respect copyright.PENANArR71vFPqkP
Dua jari, kelihatan dari cara punggung tangan Rian. Ibu mengangkat pantat, ngejar gerakan itu. Meja goyang pelan.
1362Please respect copyright.PENANABhcZrmibhn
Aku masih di tangga. Masih bisa mundur. Masih bisa pura-pura gak lihat.
1362Please respect copyright.PENANAoUmXqjbY0Y
Aku gak mundur.
1362Please respect copyright.PENANAjqZE1w3lLa
Rian cabut jarinya, jilat. Ibu liat, malu, tapi gak nolak. Rian putar ibu, bungkukkin dia ke meja makan. Piring dan gelas tadi malam masih di ujung, bergeser. Ibu numpu siku, pipinya nempel kayu meja. Roknya udah di pinggang. Rian turunin dalaman ibu sampai lutut, ibu angkat satu kaki lepasin.
1362Please respect copyright.PENANAoWEsCiWEov
Dari posisi aku, pantat ibu kelihatan utuh. Bulat, putih, ada bekas duduk di sisi. Di tengahnya basah, mengkilap kena lampu dapur. Rian buka resleting, keluarkan. Aku gak mau lihat detailnya, tapi bentuknya tegang, menempel di belahan pantat ibu dulu, gesek-gesek.
1362Please respect copyright.PENANAHIAKEif0pq
Ibu lirik ke belakang. “Masukin. Tapi pelan. Lama gak…”
1362Please respect copyright.PENANAIpTw0wB2YF
“Tante kangen, ya.”
1362Please respect copyright.PENANAVggueBAT1h
Ibu gak jawab. Cuma dorong pantat ke belakang.
1362Please respect copyright.PENANA4ZJ0x0tr9L
Rian pegang pinggul ibu, geser ujungnya di lubang yang udah basah. Ibu tarik napas. Rian dorong. Pelan. Ibu mengerang, suara itu pecah di dapur.
1362Please respect copyright.PENANA591h44qb46
“Ahh… dalam…”
1362Please respect copyright.PENANAkmZDIMu3VG
Rian maju sampai mentok. Diam dulu. Ibu napasnya berat, jari-jari mencengkeram tepi meja.
1362Please respect copyright.PENANARuZ817FDQO
Aku geser satu langkah. Kayu tangga berderit.
1362Please respect copyright.PENANA5GxJGwHwVC
Ibu angkat kepala.
1362Please respect copyright.PENANAczwJZ5L2fU
Matanya ketemu mataku.
1362Please respect copyright.PENANAAVznlURu5a
Waktu berhenti beberapa detik. Mulut ibu terbuka. Rian masih di dalam, belum sadar. Ibu lihat aku. Aku lihat ibu. Lampu dapur kuning ngena muka ibu yang basah keringat tipis.
1362Please respect copyright.PENANApvWXJo4bBO
Aku nunggu ibu teriak. Nunggu ibu dorong Rian. Nunggu “Nak, ini gak seperti yang kamu pikir.”
1362Please respect copyright.PENANAOiBhdtK1Dj
Ibu gak teriak.
1362Please respect copyright.PENANAFSVc5tZDLR
Bibirnya getar. Matanya basah. Terus dia tunduk. Bukan karena malu nutup. Dia tunduk lebih dalam ke meja, pipi nempel kayu, dan dorong pantatnya ke belakang, ngejar Rian yang masih diam.
1362Please respect copyright.PENANAKtLk4SukDC
Rian kaget dikit. “Tante?”
1362Please respect copyright.PENANA79mm2DkSOp
Ibu suaranya serak, pelan, tapi cukup aku dengar. “Jangan berhenti. Terusin.”
1362Please respect copyright.PENANALwaxJaYNzx
Rian ikuti arah pandang ibu. Kepala Rian putar. Dia lihat aku di tangga.
1362Please respect copyright.PENANArtNqaaW5S7
Kami saling pandang. Rian gak cabut. Tangannya masih di pinggang ibu.
1362Please respect copyright.PENANAvMd7QxZQWY
Ibu bicara lagi, muka masih nempel meja, suara tertahan. “Nak… jangan di situ. Pulang ke kamar.”
1362Please respect copyright.PENANAMtchnVnFY0
Bukan minta Rian berhenti. Minta aku yang pergi.
1362Please respect copyright.PENANAixn1oqp06k
Rian mulai gerak lagi. Pelan dulu. Ibu mengerang ke kayu meja. “Yah… gitu…”
1362Please respect copyright.PENANAxJMlSBad4b
Aku turun satu anak tangga. Terus satu lagi. Sekarang aku di lantai. Jarak beberapa meter. Meja makan, punggung ibu, pantat yang terbuka, Rian yang maju-mundur.
1362Please respect copyright.PENANASR1M1laVhq
Ibu buka mata, liat aku dari samping. Air matanya pecah satu, jatuh ke kayu. Bukan takut. Campur. Malu dan basah.
1362Please respect copyright.PENANAcbov6y2r28
“Kenapa kamu turun…” suaranya putus karena Rian hentak pelan.
1362Please respect copyright.PENANAP0z5NTqIKg
Aku gak jawab. Tenggorokan kering.
1362Please respect copyright.PENANApJYNAGeTr6
Rian percepat dikit. Bunyi kulit ketemu kulit. Basah. Ibu gigit bibir, tapi desahan lolos. Payudaranya yang bebas bergoyang ke meja tiap Rian masuk.
1362Please respect copyright.PENANAz6sv88MieA
Aku berdiri di ambang dapur. Gak maju. Gak mundur.
1362Please respect copyright.PENANAOduX1k7z61
Ibu ulur tangan ke belakang, pegang pantat Rian, tarik biar lebih dalam. “Sama… kayak kemarin sore…”
1362Please respect copyright.PENANAMUFoulLgaO
Kemarin sore. Waktu aku berangkat kerja. Waktu ibu bilang kipas rusak.
1362Please respect copyright.PENANA72O2p0tue4
Rian condong, cium punggung ibu, tangan putar ke depan, remas payudara yang tergantung. “Tante enak banget dari belakang.”
1362Please respect copyright.PENANAkqLZgk6MZT
“Jangan dikata-katain di depan…” Ibu gak selesai. Rian hentak lebih dalam. Ibu lenguh.
1362Please respect copyright.PENANAGperRj2Oj8
Aku bisa lihat semuanya. Cara lubang ibu ngejepit, basahnya ngelembek ke paha. Cara perut ibu bergelombang kecil tiap ditumbuk. Bau dapur campur keringat, parfum ibu, dan bau seks yang mulai nempel di udara.
1362Please respect copyright.PENANA78u7UmegdH
Ibu liat aku lagi. “Kamu… liatin ibu?”
1362Please respect copyright.PENANAAFt7H0Yy2K
Aku angguk. Gak bisa bohong.
1362Please respect copyright.PENANANyiIAp7dsj
Ibu ketawa kecil, pecah, hampir nangis. “Ibu jelek, ya, Nak.”
1362Please respect copyright.PENANAmvv48qMxEL
“Gak.” Suaraku keluar serak.
1362Please respect copyright.PENANA72NfczJJub
Rian gak peduli percakapan itu. Dia pegang rambut ibu, pelan, bukan kasar, angkat dikit biar punggung ibu lengkung. Sudut masuknya berubah. Ibu teriak pelan. “Di situ… Ri, di situ terus…”
1362Please respect copyright.PENANAWYHmelnmFx
Kelanjutannya ada link di bawah ini
https://lynk.id/famili99
ns216.73.216.48da2


