Rumah ini sudah hampir setahun terasa lebih ramai dari seharusnya. Bukan karena ada bayi yang menangis atau anak kecil yang berlari-lari di lorong, tapi karena ada satu orang lagi yang tinggal di lantai bawah. Pak Haryono. Ayahnya Fajar.
6744Please respect copyright.PENANAHYuYNt2U7V
Aku sudah terbiasa mendengar langkahnya yang pelan di pagi hari, bunyi gelas yang diletakkan di meja makan, dan batuk kecilnya waktu dia baca koran. Fajar bilang dulu Bapaknya orangnya pendiam. Setelah Ibu mertuaku meninggal lima tahun lalu, dia makin jarang bicara. Kalau ngomong, biasanya cuma soal listrik, soal atap yang bocor, atau soal Fajar yang pulang terlalu malam.
6744Please respect copyright.PENANAFvpjyq1nGH
Pagi itu aku bangun lebih dulu. Jam setengah enam. Fajar masih miring ke samping, mulutnya sedikit terbuka. Napasnya teratur. Aku duduk di tepi kasur, meraba perutku sendiri. Masih datar. Sudah empat tahun kami menikah, sudah hampir dua tahun kami “berusaha”, dan hasilnya tetap nol.
6744Please respect copyright.PENANAKQV0kYSAdd
Aku berdiri, mengambil daster tipis dari gantungan. Warnanya krem, longgar, tapi kainnya agak jatuh di dada. Aku tidak sempat pikir panjang. Langsung ke kamar mandi, cuci muka, sikat gigi, lalu turun.
6744Please respect copyright.PENANAPzufmRK7lM
Pak Haryono sudah duduk di ruang makan. Kemeja kotak-kotak yang sudah pudar, celana kain abu-abu. Rambutnya masih tebal, hanya bagian samping yang mulai memutih. Dia menoleh waktu aku masuk.
6744Please respect copyright.PENANAvy1kOaXTHV
“Sudah bangun, Nak?”
6744Please respect copyright.PENANAVdDDl8sMZB
“Iya, Pak.”
6744Please respect copyright.PENANAabHEvIayYu
Aku ambil panci dari rak, isi air, taruh di kompor. Gerakan itu sudah otomatis. Nasi goreng sisa semalam dipanaskan, telur dadar dibuat dua. Satu untuk Fajar, satu untuk mertuaku.
6744Please respect copyright.PENANAKgFRMLno5C
Pak Haryono tidak langsung makan. Dia menunggu. Matanya tidak menatapku terus-menerus, tapi aku merasakan ada yang sedikit berbeda dari biasanya. Bukan tajam. Lebih ke… lama. Seperti orang yang sedang menimbang sesuatu.
6744Please respect copyright.PENANALotAMNOKi4
“Fajar masih tidur?” tanyanya.
6744Please respect copyright.PENANApARjzKoNnD
“Masih. Semalam pulang jam sebelas.”
6744Please respect copyright.PENANAIfvrYq181u
Dia mengangguk. “Kerjaannya memang begitu. Kantormu sendiri bagaimana? Masih cuti?”
6744Please respect copyright.PENANAJih2nf91d0
“Masih, Pak. Sampai akhir bulan.”
6744Please respect copyright.PENANAqCCvY0yCQu
Aku bekerja di bagian administrasi sebuah distributor obat. Cuti karena “program hamil”. Dokter bilang stres kantor bisa mengganggu. Fajar yang menyuruhku ambil cuti. Katanya biar lebih fokus.
6744Please respect copyright.PENANAcFHzem4geo
Telur dadar tinggal dibalik. Aku berdiri di depan kompor, punggung menghadap meja makan. Daster krem itu memang agak tipis. Kalau kena cahaya dari jendela dapur, garis bra-ku kelihatan samar. Aku tahu. Aku sudah beberapa kali merasakannya. Tapi pagi-pagi begini, siapa yang sempat ganti baju.
6744Please respect copyright.PENANAZpmEN0fsDF
“Kirana.”
6744Please respect copyright.PENANAFtAucCfBon
Aku menoleh. “Iya, Pak?”
6744Please respect copyright.PENANAyIIj1947Bv
“Itu… minyaknya jangan terlalu banyak. Nanti Fajar bilang pedas lagi.”
6744Please respect copyright.PENANAPfGGw3l3RQ
“Oh. Iya.”
6744Please respect copyright.PENANAdzPDtpxYq6
Bukan omongan aneh. Biasa saja. Tapi nada suaranya agak rendah. Dan dia tidak langsung menunduk lagi ke koran. Dia masih melihat ke arah kompor, ke arah punggungku.
6744Please respect copyright.PENANAn5gxG7nhc6
Aku matikan kompor. Piring-piring disusun. Fajar turun beberapa menit kemudian, rambutnya masih berantakan, kemeja kerja sudah dikancing tapi dasi belum.
6744Please respect copyright.PENANAv6JHo2jtjp
“Pagi, Yah.”
6744Please respect copyright.PENANA4kKqoheVpB
“Pagi.”
6744Please respect copyright.PENANAVbNrmRMd0h
Mereka makan berdua. Aku duduk di ujung meja, menyendok nasi sedikit. Fajar makan cepat. Bicara soal rapat, soal klien dari Surabaya, soal mobil yang harus servis minggu depan. Pak Haryono hanya mengangguk-angguk.
6744Please respect copyright.PENANASWTiDEAEEE
“Kirana, nanti sore belikan obat maag di apotik deket sini ya,” kata Fajar sambil mengelap mulut. “Yang kemarin abis.”
6744Please respect copyright.PENANAWqOTjKOtwt
“Iya.”
6744Please respect copyright.PENANAq7KWUAAYN9
Dia berdiri, ambil jaket, cium keningku sebentar. Ciuman itu kering. Cepat. Seperti kebiasaan, bukan rindu.
6744Please respect copyright.PENANAYzvhi1REZB
“Pulang malam lagi kemungkinan. Jangan nunggu.”
6744Please respect copyright.PENANAnuXmp244AD
Pintu ditutup. Suara motor Fajar menjauh.
6744Please respect copyright.PENANAdtJdqUFest
Rumah tiba-tiba sepi. Hanya ada bunyi jam dinding dan sendok Pak Haryono yang sesekali beradu dengan piring.
6744Please respect copyright.PENANA18P6MN8bau
Aku berdiri, kumpulkan piring. Pak Haryono ikut berdiri, membawa gelasnya ke wastafel.
6744Please respect copyright.PENANAwJCB0cWft3
“Biar saya yang cuci, Nak.”
6744Please respect copyright.PENANAKxdWyAJt32
“Tidak usah, Pak. Saya saja.”
6744Please respect copyright.PENANANPrkCOHT1P
Tangan kami nyaris bersentuhan di atas keran. Tangannya lebih besar, kulitnya lebih kasar, urat-uratnya kelihatan. Aku menarik tangan lebih dulu.
6744Please respect copyright.PENANAEHc0Q7IOCE
“Sudah, Pak. Duduk saja.”
6744Please respect copyright.PENANAWkC6vnqeHt
Dia tidak memaksa. Kembali ke kursi, buka koran lagi. Tapi halaman yang sama sudah dia baca dari tadi.
6744Please respect copyright.PENANARTicQ6fkJH
Aku cuci piring sambil memandang ke luar jendela. Halaman belakang agak basah karena hujan semalam. Pohon rambutan di pojok sudah berbuah kecil-kecil. Fajar dulu bilang mau potong pohon itu karena daunnya sering jatuh ke talang. Pak Haryono yang menahan. Katanya sayang.
6744Please respect copyright.PENANA8GWyVWv5PG
“Kirana.”
6744Please respect copyright.PENANA3IJr7ZpjiV
Aku matikan keran. “Iya?”
6744Please respect copyright.PENANA6BVNeMQmER
“Kamu tidak ke mana-mana hari ini?”
6744Please respect copyright.PENANAS6aeMAH5ti
“Tidak, Pak. Di rumah saja.”
6744Please respect copyright.PENANA1sYUDoey6H
“Bagus. Nanti siang kalau panas, kipas di ruang tamu dinyalakan saja. Jangan hemat-hemat listrik.”
6744Please respect copyright.PENANA6KzzP04556
“Iya.”
6744Please respect copyright.PENANA3YoWwB5blo
Dia berdiri, lipat koran rapi, taruh di rak. “Saya ke kamar dulu. Ada yang mau dibaca.”
6744Please respect copyright.PENANAgFue6w2pfZ
Langkahnya naik tangga. Kamarnya di lantai dua, ujung lorong, berseberangan dengan kamar kami. Dulu itu kamar tamu. Setelah Ibu mertua meninggal, dia pindah ke situ. Katanya biar Fajar dan aku lebih bebas.
6744Please respect copyright.PENANAu4VduWyXWa
Aku mengelap meja. Sendirian di dapur, aku baru sadar dasterku basah sedikit di bagian perut karena percikan air. Kainnya nempel. Aku tarik pelan supaya tidak terlalu menempel di dada.
6744Please respect copyright.PENANA35eoGwfbx5
Di cermin kecil dekat kulkas, aku lihat wajahku. Mata masih agak sembab. Bibir kering. Rambut dikuncir seadanya. Aku bukan perempuan yang rajin dandan di rumah. Fajar juga tidak pernah minta.
6744Please respect copyright.PENANAsS6uFGOkNx
Tapi tadi, waktu Pak Haryono melihat ke arah kompor, aku sempat merasa aneh. Bukan takut. Lebih ke… sadar. Sadar ada orang lain di rumah ini yang bisa melihat.
6744Please respect copyright.PENANACKW3H1wNgf
Aku buang perasaan itu. Mertua. Orang tua. Sudah hampir enam puluh. Pasti cuma kebetulan.
6744Please respect copyright.PENANALrFJc4EH8O
Siang hari aku setrika baju Fajar di ruang keluarga. Televisi dinyalakan, volume kecil. Sinetron atau berita, aku tidak perhatikan. Pak Haryono turun jam dua belas. Bawa gelas teh.
6744Please respect copyright.PENANAbj0JqQXkBx
“Sudah makan siang?” tanyanya.
6744Please respect copyright.PENANAILHWUpJzbV
“Belum, Pak. Nanti saja.”
6744Please respect copyright.PENANA348X3utEqf
Dia duduk di sofa yang berhadapan denganku. Bukan di kursi goyangnya yang biasa. Sofa itu lebih dekat.
6744Please respect copyright.PENANArjBMa5zGhA
Aku terus setrika. Baju kemeja Fajar, celana kain, lalu dasterku sendiri yang kemarin. Daster ungu tua. Yang itu lebih tipis dari yang krem.
6744Please respect copyright.PENANARs4CLBqlCt
Pak Haryono minum tehnya pelan. “Fajar bilang kalian masih coba.”
6744Please respect copyright.PENANARjA2DXAOpv
Aku menekan setrika lebih dalam. “Iya, Pak.”
6744Please respect copyright.PENANAHKbSMiViNr
“Sudah lama.”
6744Please respect copyright.PENANAHWCECM91RB
“Hampir dua tahun.”
6744Please respect copyright.PENANAilQWjbxB0p
Dia terdiam. Aku tidak menoleh. Tapi aku tahu dia sedang melihat. Bukan ke televisi.
6744Please respect copyright.PENANA5e9c18LaMX
“Jangan dipaksa terlalu keras,” katanya akhirnya. “Badan perempuan ada batasnya.”
6744Please respect copyright.PENANAqeXl3buJ1p
“Iya, Pak.”
6744Please respect copyright.PENANAugFQwKQbxA
Omongan biasa. Perhatian mertua. Aku bilang dalam hati. Orang tua zaman dulu memang suka kasih nasihat soal anak.
6744Please respect copyright.PENANAXnmQ6txf60
Tapi nada suaranya tadi tidak seperti nasihat. Lebih pelan. Seperti orang yang sudah lama memperhatikan dari jauh.
6744Please respect copyright.PENANAEQK5NkkHZX
Aku selesaikan setrika, lipat baju, masukkan ke keranjang. “Saya masak mie saja, Pak. Mau?”
6744Please respect copyright.PENANAXQZfGNlfOj
“Tidak usah. Nanti malam saja kita makan bersama.”
6744Please respect copyright.PENANA62mLUOZviB
Aku ke dapur. Rebus air. Dari dapur aku masih bisa lihat punggungnya di sofa. Punggung tegap untuk ukuran orang seusianya. Bahunya masih lebar.
6744Please respect copyright.PENANA9ajeVmhG6S
Aku menggeleng. Apa-apaan pikiranku.
6744Please respect copyright.PENANAAC6bvsxtuj
Sore hari Fajar telepon. Suaranya terburu-buru.
6744Please respect copyright.PENANAQUupUc7gQ0
“Kirana, aku lembur. Ada revisi laporan. Mungkin jam sembilan baru pulang. Makan dulu saja sama Bapak.”
6744Please respect copyright.PENANAPTqzQ0YGiI
“Iya.”
6744Please respect copyright.PENANA0jEis7NmUD
“Obat maag-nya sudah?”
6744Please respect copyright.PENANArtD02fCx8g
“Belum. Nanti aku ke apotik.”
6744Please respect copyright.PENANAhmC4kf5xTt
“Jangan jauh-jauh. Pulang cepat.”
6744Please respect copyright.PENANAF9Qp7SRvB3
Telepon diputus.
6744Please respect copyright.PENANAZXprroM4Z1
Aku ganti baju. Celana pendek rumah dan kaus oblong putih. Kaus itu agak kebesaran, tapi bagian dada tetap kelihatan bentuknya. Aku tidak pakai bra. Di rumah, siapa yang peduli.
6744Please respect copyright.PENANAFs0jTurX46
Pak Haryono ada di teras belakang, menyiram tanaman. Aku lewat pintu kaca.
6744Please respect copyright.PENANAqccXaApYdO
“Pak, saya ke apotik dulu.”
6744Please respect copyright.PENANAHy1c5yW6I9
Dia menoleh. Air dari selang masih menyala. Matanya turun sebentar ke kausku, lalu naik lagi ke wajah. Cepat. Hampir tidak kelihatan.
6744Please respect copyright.PENANAu84SuMHLHk
“Hati-hati. Langit sudah agak gelap.”
6744Please respect copyright.PENANAySbkizbcT6
“Iya.”
6744Please respect copyright.PENANAvX7QWn5oKV
Aku keluar. Jalan kaki lima menit. Beli obat, beli juga sabun cair yang hampir habis. Waktu pulang, hujan rintik-rintik. Kausku basah di bahu dan dada. Kain putih jadi agak transparan. Aku berjalan cepat.
6744Please respect copyright.PENANA9d9b2LVgeO
Pak Haryono sudah berdiri di pintu depan, bawa payung.
6744Please respect copyright.PENANAgbW3Ah5eCp
“Masuk, cepat.”
6744Please respect copyright.PENANAaDQ4Zx9Bxy
Dia buka payung di atas kepalaku. Tubuhnya dekat. Bau sabun mandi dan sedikit bau rokok yang sudah lama tidak dia hisap di dalam rumah. Tangannya yang memegang payung nyaris menempel di punggungku.
6744Please respect copyright.PENANA8Zu8xi1WSp
Di dalam, aku langsung ke kamar mandi. Ganti baju. Daster lagi. Yang krem. Yang tadi pagi.
6744Please respect copyright.PENANApIWFqFeEr9
Waktu keluar, Pak Haryono sudah di dapur, menggoreng ikan. Aku tidak minta tolong. Dia yang inisiatif.
6744Please respect copyright.PENANAXseqLxBQ43
“Biar saya yang masak malam ini,” katanya. “Kamu istirahat.”
6744Please respect copyright.PENANAbfAhDCDuX5
“Tidak usah, Pak. Saya bisa.”
6744Please respect copyright.PENANAy1lmGw4tGn
“Sudah. Duduk.”
6744Please respect copyright.PENANA1fHKtvqD6Z
Aku duduk di kursi makan. Melihat punggungnya dari belakang. Gerakannya pelan, teliti. Seperti orang yang sudah biasa hidup sendiri lama.
6744Please respect copyright.PENANAoaRHpXGXiz
Makan malam kami berdua. Ikan goreng, tumis kangkung, nasi. Fajar belum pulang.
6744Please respect copyright.PENANAPVJfJE496F
Pak Haryono makan sedikit. “Kamu kurang nafsu makan.”
6744Please respect copyright.PENANAf4ct9fWwqP
“Biasa, Pak.”
6744Please respect copyright.PENANAiPflMrIQMW
“Fajar pulang malam terus. Kamu sendirian di sini.”
6744Please respect copyright.PENANAjJ0cYiqomg
“Ada Bapak.”
6744Please respect copyright.PENANA0wMlu9H4uv
Dia tersenyum kecil. Senyum itu jarang. “Iya. Ada saya.”
6744Please respect copyright.PENANAoyGNuEk7wK
Setelah makan, aku cuci piring. Dia membantu mengeringkan. Kali ini tangan kami tidak bersentuhan. Tapi jaraknya dekat. Aku bisa mendengar napasnya.
6744Please respect copyright.PENANABoNqUIGtMd
Jam delapan Fajar belum pulang. Aku naik ke kamar, berbaring. Buka HP. Scroll tanpa tujuan. Fajar chat singkat: “Masih di kantor. Jangan tidur dulu.”
6744Please respect copyright.PENANA8LbzMGS5eJ
Aku tidak balas.
6744Please respect copyright.PENANAIbIeYtKTWX
Pak Haryono ketuk pintu kamar. Pelan.
6744Please respect copyright.PENANANQ6JWouFcg
“Kirana. Teh.”
6744Please respect copyright.PENANAQg0k6px6S2
Aku buka pintu. Dia berdiri di luar, bawa nampan. Dua gelas teh hangat.
6744Please respect copyright.PENANAvXfOUSLcAs
“Masuk saja, Pak.”
6744Please respect copyright.PENANAcAlVneyxSZ
Dia masuk, taruh nampan di nakas. Tidak duduk di kasur. Berdiri saja.
6744Please respect copyright.PENANAbHGq6kMfkb
“Fajar masih lama?”
6744Please respect copyright.PENANAtKIswQZ8tW
“Katanya jam sembilan.”
6744Please respect copyright.PENANAQ8QjuYmhRO
Dia mengangguk. Matanya lihat sekeliling kamar. Tempat tidur yang belum dirapikan, bra-ku yang tergantung di kursi, botol pelembap di meja.
6744Please respect copyright.PENANAlVuwYvypTp
“Kamu jaga kesehatan,” katanya. “Jangan terlalu dipikirkan soal anak. Datang sendiri nanti.”
6744Please respect copyright.PENANAIbgbOTcY9L
“Iya, Pak.”
6744Please respect copyright.PENANAhhOx7qPb2v
Dia keluar. Pintu dibiarkan terbuka sedikit.
6744Please respect copyright.PENANAW7VtZ7XPUf
Aku minum teh. Pahit. Tidak pakai gula.
6744Please respect copyright.PENANAvCqCBmiQaC
Jam setengah sepuluh Fajar pulang. Bau kantor, bau keringat tipis. Dia langsung ke kamar mandi, mandi cepat, lalu naik ke kasur.
6744Please respect copyright.PENANALfGHtHm28v
“Capek,” katanya.
6744Please respect copyright.PENANAcLZ6qb2jbu
Aku sudah ganti ke kaus tidur. Dia mendekat, tangan ke pinggangku. Ciuman di bibir, singkat. Tangan naik ke dada, meremas pelan, lalu turun. Celana dalamku diturunkan. Dia masuk. Cepat. Dalam. Beberapa kali hentakan, napasnya memberat, lalu dia menahan di dalam. Tidak lama.
6744Please respect copyright.PENANAp9A6RNptva
Selesai.
6744Please respect copyright.PENANA9n3w6qrq7l
Dia tarik keluar, berbaring telentang, mata sudah terpejam.
6744Please respect copyright.PENANA3Z9UVFEJvj
“Besok pagi aku berangkat lebih awal,” gumamnya.
6744Please respect copyright.PENANAbB8nIqXzIa
Aku ke kamar mandi, bersihkan diri. Air hangat. Aku berdiri di depan kaca, melihat tubuh sendiri. Payudara yang masih kencang, puting yang agak tegang karena sisa sentuhan. Perut datar. Paha. Aku sentuh sendiri, pelan, di antara kaki. Masih basah. Bukan karena Fajar. Karena tidak selesai.
6744Please respect copyright.PENANA4f1DhNAPJF
Aku matikan lampu kamar mandi, kembali ke kasur. Fajar sudah tidur. Mendengkur pelan.
6744Please respect copyright.PENANAO0bNqYI5vz
Aku tidak langsung tidur. Berbaring miring, memandang langit-langit.
6744Please respect copyright.PENANAUntIfvpTjw
Dari lantai bawah terdengar bunyi televisi dimatikan. Lalu langkah naik tangga. Pelan. Berhenti sebentar di depan kamar kami. Pintu masih terbuka sedikit.
6744Please respect copyright.PENANAjb0j4F68WZ
Langkah itu tidak langsung ke kamarnya.
6744Please respect copyright.PENANAK461GqmZt6
Aku menahan napas.
6744Please respect copyright.PENANAU3y0Lvl84G
Beberapa detik. Tidak ada suara.
6744Please respect copyright.PENANASZitNI8Ocz
Lalu langkah itu bergerak lagi, menjauh ke ujung lorong.
6744Please respect copyright.PENANAvniMkEuRiE
Aku tutup mata. Bilang dalam hati, mertua. Orang tua. Pasti cuma mau pastikan lampu sudah padam.
6744Please respect copyright.PENANAsD3HDO31ZN
Aku tutup mata. Coba hitung napas. Satu. Dua. Tiga.
6744Please respect copyright.PENANAmsS6urNNK0
Tidak bisa.
6744Please respect copyright.PENANAW5egooOrMk
Bagian bawahku masih basah. Bukan basah karena Fajar. Fajar tadi cepat. Masuk, beberapa kali, keluar. Selesai. Aku tidak sempat merasakan apa-apa selain tekanan dan panas sebentar. Sekarang sisa itu malah bikin gelisah. Aku geser pelan, hati-hati supaya kasur tidak berbunyi. Tangan turun, masuk ke dalam celana dalam. Jari tengah menyentuh celah yang masih lengket. Aku gigit bibir. Pelan saja. Jangan sampai Fajar bangun.
6744Please respect copyright.PENANAq9GBqz8oVV
Tapi aku berhenti. Tidak di sini. Tidak di samping dia.
6744Please respect copyright.PENANA28uwZAVfqc
Aku bangun. Ambil daster yang tadi digantung di kursi, pakai tanpa nyalakan lampu. Keluar pelan. Pintu kamar kami kutinggalkan terbuka seperti semula.
6744Please respect copyright.PENANAcEKCXXR2Wd
Lorong gelap. Aku turun tangga pelan-pelan, pijakkan kaki di sisi supaya tidak berderit. Di ruang tamu lampu meja masih nyala redup. Pak Haryono tidak di sana. Televisi sudah mati.
6744Please respect copyright.PENANAz7Tx1fQOXm
Aku ke dapur, ambil air. Gelas diisi, diminum berdiri di depan wastafel. Dingin. Aku sandarkan pinggang ke meja, tarik napas.
6744Please respect copyright.PENANAI8rED2njel
“Tidak tidur?”
6744Please respect copyright.PENANAzRGRG1yTQm
Suara itu datang dari belakang. Pelan. Tidak kaget, tapi dada ku langsung naik.
6744Please respect copyright.PENANAsazMV8qY4H
Aku menoleh. Pak Haryono berdiri di ambang dapur, masih pakai kemeja kotak-kotak yang sama dari tadi malam, hanya dikancing dua. Celana kain. Rambutnya agak berantakan. Matanya tidak mengantuk.
6744Please respect copyright.PENANAlAWLO5uhoq
“Saya… haus, Pak.”
6744Please respect copyright.PENANAzMyZm0fZNU
Dia maju selangkah. Tidak banyak. Cukup dekat supaya aku bisa mencium sisa teh dan sabun di bajunya.
6744Please respect copyright.PENANA73RRxmS4Of
“Fajar tidur?”
6744Please respect copyright.PENANAbRIeVa2K3e
“Sudah.”
6744Please respect copyright.PENANAqVAuXK7T2S
Dia mengangguk. Matanya turun ke dasterku. Kain krem itu longgar, tapi di dapur yang terang lampu neon, bentuk dada ku kelihatan. Puting menekan kain. Aku sadar belakangan. Aku silangkan tangan di depan perut.
6744Please respect copyright.PENANAbuin1XP5Mc
“Kamu gelisah,” katanya.
6744Please respect copyright.PENANAOa6ov1sFLb
“Tidak, Pak.”
6744Please respect copyright.PENANASXsXwsAjtX
“Tadi pintu kalian terbuka.”
6744Please respect copyright.PENANAixVzRWYOlA
Aku menelan. “Saya lupa nutup.”
6744Please respect copyright.PENANACj7yr3Clrq
Dia tidak langsung jawab. Berdiri di situ, melihat wajahku. Bukan seperti mertua yang biasa tanya kabar. Lebih lama. Lebih dalam.
6744Please respect copyright.PENANAugVjQejKgE
“Fajar cepat,” katanya tiba-tiba. Suaranya rendah. “Saya dengar.”
6744Please respect copyright.PENANA1OT3lERcmx
Wajahku panas. “Pak…”
6744Please respect copyright.PENANAWjHjQbzRD7
“Dinding kamar atas tipis, Nak. Saya sudah lama tahu.”
6744Please respect copyright.PENANAGg6NCLAJhn
Aku mundur sampai pantatku kena tepi meja. “Itu urusan kami, Pak.”
6744Please respect copyright.PENANAs8wOT5XENJ
“Saya tahu.” Dia maju lagi. Sekarang jaraknya hanya selengan. “Tapi kamu tidak selesai. Saya juga tahu.”
6744Please respect copyright.PENANAd15UekuxhK
Aku geleng. “Jangan bilang begitu.”
6744Please respect copyright.PENANAnFpMHptX7p
“Kamu ke kamar mandi lama. Lalu duduk di kasur tidak tidur. Lalu turun.”
6744Please respect copyright.PENANASbf5LK86fc
Aku buka mulut, mau menyangkal. Tidak keluar.
6744Please respect copyright.PENANAwuYYqB9NeV
Tangannya naik, tidak langsung ke badanku. Hanya menaruh di tepi meja, di samping pinggangku. Jari-jarinya panjang, uratnya kelihatan. Kulitnya lebih gelap dari kulitku.
6744Please respect copyright.PENANAQG0zzbbnUW
“Kirana.”
6744Please respect copyright.PENANAfMPTt4ociM
Nama itu diucapkan pelan. Bukan seperti biasa.
6744Please respect copyright.PENANAA6uuKFNCbX
Aku menunduk. “Pak, ini salah.”
6744Please respect copyright.PENANAGKKNyRSZgb
“Saya tahu salah.” Dia tidak mundur. “Saya sudah tahan setahun. Lihat kamu tiap pagi pakai daster tipis. Lihat kamu setrika. Lihat kamu masak. Lihat kamu pulang basah-basahan sore tadi.”
6744Please respect copyright.PENANA2dMM9Ffcdj
Aku angkat wajah. “Saya tidak maksud—”
6744Please respect copyright.PENANAJkKk2ARNjY
“Saya tahu kamu tidak maksud.” Ibu jarinya bergerak, menyentuh ujung kain dasterku di pinggang. “Tapi badan kamu tidak bisa bohong. Tadi juga. Kamu basah sendiri.”
6744Please respect copyright.PENANATYVhxbFYE2
Aku mau dorong dadanya. Tangan ku naik, menempel di kemejanya. Tidak mendorong. Hanya menempel. Jantungnya terasa. Kencang.
6744Please respect copyright.PENANA1nNpIFaRXz
“Fajar di atas,” bisikku.
6744Please respect copyright.PENANAnGmQmWuQIN
“Dia selalu tidur nyenyak.”
6744Please respect copyright.PENANAIeDaAh3YwV
Jari-jarinya masuk ke bawah kain daster, menyentuh kulit perutku. Hangat. Kasar. Aku menahan napas.
6744Please respect copyright.PENANALa7wFLStHe
“Pak, jangan.”
6744Please respect copyright.PENANA9C4vn170ke
“Bilang sekali lagi kalau kamu mau saya berhenti.”
6744Please respect copyright.PENANAWqipkUEXqJ
Aku tidak bilang.
6744Please respect copyright.PENANAU0WYbGFbt8
Tangannya naik pelan, menangkup payudaraku dari bawah kain. Besar. Penuh. Dia meremas pelan, ibu jari mencari puting yang sudah tegang. Aku gigit bibir sampai sakit.
6744Please respect copyright.PENANAW9WQoGVrTn
“Sini,” gumamnya.
6744Please respect copyright.PENANAGJyg9CzW2C
Dia peluk pinggangku, angkat sedikit supaya aku duduk di tepi meja. Daster naik ke paha. Dia berdiri di sela kakiku. Wajahnya dekat. Napasnya mengenai bibirku.
6744Please respect copyright.PENANARrOIWSDUsl
Ciuman pertama tidak lembut. Dia langsung buka mulutku, lidahnya masuk, dalam, basah. Aku sempat kaku. Lalu tangan ku naik ke lehernya, ke rambut belakangnya yang agak kasar. Dia cium lebih dalam. Gigi, lidah, bibir bawahku dihisap sampai aku mengeluarkan suara kecil di tenggorokan.
6744Please respect copyright.PENANAV6bDQj7Lye
Tangannya tidak berhenti di dada. Satu tangan tetap meremas, memilin puting lewat kain, tangan yang lain turun ke paha dalam, naik, masuk ke celana dalam. Jari tengahnya langsung nemu celah yang sudah basah. Dia usap dari bawah ke atas, pelan, menekan klitoris.
6744Please respect copyright.PENANAgpWkmSwQr6
Aku lepas ciuman, napas putus. “Pak… ah…”
6744Please respect copyright.PENANAS1CYvORF4s
“Sudah basah dari tadi.” Suaranya serak. “Fajar tidak sampai ke sini.”
6744Please respect copyright.PENANAPtVqrd6jBl
Dua jari masuk. Tidak terburu. Pelan-pelan, sampai pangkal. Aku pegang pergelangan tangannya, tidak menarik. Dia gerakan di dalam, mencari, menekan ke atas. Ibu jari tetap di luar, memutar di klitoris.
6744Please respect copyright.PENANAKi9PWkONkq
Aku tundukkan kepala ke bahunya. Daster sudah naik sampai perut. Payudaraku keluar dari leher daster karena dia tarik. Dia turunkan kepala, mulutnya langsung ke puting kanan, hisap kuat. Lidahnya putar, gigi gigit pelan.
6744Please respect copyright.PENANAdJMRzl3zMM
“Enak?” tanyanya di sela hisapan.
6744Please respect copyright.PENANAXd2EqWGO2a
Aku hanya mengangguk di bahunya. Tidak berani jawab.
6744Please respect copyright.PENANAmUe8ecwypX
Dia ganti ke kiri. Hisap lebih lama. Jari di bawah semakin cepat. Bunyi basah terdengar jelas di dapur yang sepi. Aku buka kaki lebih lebar sendiri. Malu. Tapi tidak bisa tutup.
6744Please respect copyright.PENANAcPBc5Tv88L
“Lihat,” katanya. Dia mundur sedikit, tetap memasukkan jari. “Lihat tangan Bapak di dalam kamu.”
6744Please respect copyright.PENANA2VznWX7mvc
Aku turunkan pandangan. Jari telunjuk dan tengahnya hilang di antara bibir vaginaku yang sudah mengkilap. Tiap kali dia cabut, cairan ikut ke luar, merembes ke pergelangan tangannya.
6744Please respect copyright.PENANAsTOrA4AJhx
Aku tutup mata.
6744Please respect copyright.PENANATEo5wZ1GIl
“Jangan ditutup.” Dia cium lagi, sambil jari tetap bergerak. “Kamu cantik begini.”
6744Please respect copyright.PENANAaUdgweLWQc
Aku datang pertama kali masih duduk di meja. Tidak sempat tahan. Pinggulku maju, paha gemetar, suara yang keluar tertahan di mulutnya. Dia tidak berhenti. Terus usap dan tekan sampai aku dorong bahunya karena terlalu sensitif.
6744Please respect copyright.PENANAB7N1br2Pm5
Dia cabut jari, bawa ke mulutnya, jilat. Lalu ke bibirku. Aku cium sisa basah itu tanpa dipaksa.
6744Please respect copyright.PENANAoyiuExhGBr
“Turun,” katanya.
6744Please respect copyright.PENANAI3ooWjwqMp
Aku turun dari meja. Kaki masih lemas. Dia putar badanku, hadapkan ke meja, daster diangkat sampai punggung. Celana dalam diturunkan sampai lutut, lalu aku injak lepas.
6744Please respect copyright.PENANABbHx75Q6KS
Dia berlutut di belakangku.
6744Please respect copyright.PENANAtlN8Y6vMFt
Lidahnya langsung ke pantat, turun ke celah, masuk ke vagina dari belakang. Aku pegang tepi meja. Dia jilat dari bawah ke atas, pelan, lebar, lalu kumpulkan di klitoris, hisap. Tangan kirinya meraih ke depan, meremas payudara yang menggantung. Tangan kanan buka pantatku.
6744Please respect copyright.PENANAmAxC6JVPm1
Aku tidak bisa diam. Pinggul mundur ke mulutnya. Dia makan di situ lama. Lidah masuk, keluar, jilat bibir dalam, hisap. Air liurnya campur cairanku, turun ke paha.
6744Please respect copyright.PENANA5Ztnoflxvp
“Pak… cukup… aku…”
6744Please respect copyright.PENANAfoQchlaTjY
Dia tidak cukup. Terus sampai aku datang lagi, kali ini lebih dalam, perut mengencang, kaki hampir tidak kuat. Aku biting lengan sendiri supaya tidak berteriak.
6744Please respect copyright.PENANAyzDtWSundg
Dia berdiri. Aku dengar gesekan resleting. Aku tidak menoleh. Tapi aku merasakan kepalanya yang sudah basah menempel di pantatku, gesek ke atas ke bawah di sela basah.
6744Please respect copyright.PENANAWuqChfE5vr
“Kirana.”
6744Please respect copyright.PENANAcxbpeEX60i
“Masukin,” bisikku. Suaraku hampir tidak keluar. “Pelan.”
6744Please respect copyright.PENANAb7Nnry3sDM
Dia masuk. Pelan sekali. Kepala dulu, aku rasakan bibir vagina meregang. Lalu batang. Tebal. Lebih tebal dari Fajar. Panas. Dia berhenti di tengah, napasnya berat di tengkukku.
6744Please respect copyright.PENANAFFqM2PGnBs
“uh,uh enak banget memekmu kirana.”
6744Please respect copyright.PENANABGnjhw0rj7
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47
ns216.73.216.48da2


