Ada keluarga yang menyimpan rahasia di dalam lemari kayu jati.
Ada yang menyembunyikannya di balik pintu geser berlapis kertas shoji yang rapuh.
Ada pula yang menguburnya begitu dalam di dalam hati, di balik lantunan ayat suci, berharap putaran waktu dan putaran tasbih akan membuat semuanya terlupakan.
Tetapi di sebuah kawasan perumahan eksklusif di pinggiran kota sebuah klaster mewah berdesain menyerupai Ryokan penginapan tradisional Jepang, yang dilabeli sebagai kawasan hunian syariah tempat para pendosa bersembunyi di balik gamis dan peci rahasia tidak pernah benar-benar mati.
Ia hanya menunggu seseorang membuka pintu.
Dan ketika pintu fusuma itu tergeser perlahan di tengah malam yang sunyi, yang keluar bukan sekadar kebohongan.
Melainkan hasrat akhirat.
Kekuasaan yang memabukkan.
Pengkhianatan yang dibungkus dalil.
Dan dosa binal yang perlahan menggerogoti kehidupan orang-orang yang sebelumnya merasa dirinya adalah makhluk paling suci di muka bumi.
Di sanalah kisah ini dimulai.
Di antara aroma dupa dupa gaharu yang bercampur dengan teh matcha, di atas hamparan tikar tatami yang kelak akan basah oleh keringat dan cairan surgawi.
Bukan dari seorang perempuan nakal yang menjajakan diri di pinggir jalan.
Bukan pula dari seorang lelaki berandalan yang sejak awal berniat menghancurkan rumah tangga orang lain.
Semuanya bermula dari keluarga-keluarga biasa yang terlihat agamis, yang menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan rutinitas ibadah yang tak pernah putus.
Ada Vinka.
Seorang ibu muda, seorang akhwat yang kehidupan rumah tangganya terlihat sempurna dari luar. Cantik, lembut, bertutur kata halus, selalu menundukkan pandangan, dan begitu mencintai suaminya, Hendra. Kemana-mana Vinka selalu membalut tubuh sintalnya dengan gamis lebar dan khimar syar'i yang menjuntai hingga ke lutut. Mereka mempunyai seorang putri kecil bernama Opi. Rumah bergaya zen minimalis mereka terasa hangat, kehidupan mereka cukup mapan, dan tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mencurigai bahwa kebahagiaan suci itu sedang berjalan merangkak menuju jurang kenistaan.
Hendra adalah seorang pekerja keras yang cerdas dan sangat dibutuhkan perusahaannya. Bahkan ketika sebuah musibah kelak merenggut keperkasaannya, membuat tubuhnya tak lagi mampu melakukan banyak hal seperti dahulu termasuk menunaikan kewajiban batinnya sebagai suami perusahaan tetap memberinya kesempatan untuk bekerja dari rumah, dari atas ranjang futon-nya.
Namun tidak ada pekerjaan yang cukup kuat untuk mempersiapkan seorang lelaki menghadapi kelumpuhan takdir secara mendadak.
Dan tidak ada iman yang benar-benar kebal terhadap tekanan rahim yang meronta kehausan.
Vinka akan segera mengetahui hal itu.
Begitu pula Hendra.
Dan tentu saja Opi, gadis kecil yang belum memahami mengapa orang-orang dewasa di sekelilingnya tiba-tiba menjadi begitu muram, dan mengapa terdengar suara aneh dari ruang tengah setiap kali ayahnya tertidur lelap.
Tetapi sebelum semua itu terjadi, ada seseorang yang sudah lama memperhatikan Vinka dari balik tirai bambu.
Namanya Sutejo Suharso.
Tetangga sebelah rumah. Seorang tetua klaster yang dihormati, yang sering dipanggil "Haji Tejo".
Lelaki tua yang dari luar tampak seperti pria beriman biasa. Jubahnya selalu rapi, jenggotnya dipelihara, suaranya mengalun lembut saat memimpin doa.
Ia memiliki istri yang cukup dekat dengan keluarga Hendra dan Vinka. Istrinya yang juga seorang ukhti bercadar, bahkan sering membantu menjaga Opi ketika Vinka dan Hendra sedang sibuk dengan urusan medis.
Itulah yang membuat Sutejo bisa datang dan pergi ke rumah bergaya Jepang itu dengan sangat mudah.
Tidak ada yang mencurigainya. Siapa yang berani menaruh curiga pada seorang pendoa?
Tidak ada yang bertanya mengapa mata tuanya yang tajam terlalu sering mengikuti ayunan pinggul Vinka yang tersembunyi di balik kain tebal gamisnya.
Tidak ada yang menyadari bahwa di balik senyumnya yang sok ramah dan suci, ada pikiran-pikiran kotor, liar, dan sangat buas yang sudah lama tumbuh liar bagai ilalang di musim hujan.
Sutejo tidak melihat Vinka sebagai sekadar tetangga sedarah seiman.
Baginya, Vinka adalah godaan berdaging yang berjalan di depan matanya setiap hari. Sebuah oase basah di tengah kegersangan umurnya.
Dan semakin sering ia melihat perempuan bermata sayu itu, membayangkan bagaimana rupa dua bukit kenyal yang terpenjara di balik kain berlapis-lapis itu, semakin sulit baginya menyembunyikan binatang buas di dalam celananya.
“Vinka memang benar-benar ciptaan Tuhan yang paling menggairahkan,” gumamnya suatu sore, sambil menyesap teh di beranda engawa rumahnya, matanya menembus celah pagar bambu yang membatasi rumah mereka.
Tidak ada seorang pun yang mendengar.
Atau setidaknya begitulah yang ia kira.
Sutejo tahu satu hal.
Vinka mempercayainya. Menganggapnya sebagai pengganti sosok ayah sekaligus pembimbing spiritual sejak suaminya sakit.
Dan kepercayaan suci itu, bagi lelaki predator berkedok agama seperti dirinya, adalah sebuah pintu.
Pintu yang suatu hari ingin ia dobrak, ia buka paksa, untuk kemudian ia masuki hingga ke dasar yang paling dalam dan paling basah.
Namun Sutejo bukan satu-satunya lelaki pemaaf yang memiliki rahasia kotor.
Di rumah lain, di blok yang mengusung tema bamboo garden, tidak jauh dari sana, tinggal seorang perempuan bernama Rinda.
Usianya masih sangat muda.
Dua puluh enam tahun.
Istri dari seorang pendakwah muda keliling bernama Andi.
Rinda dikenal sebagai akhwat yang ceria, mudah tersenyum di balik niqabnya, suka bercanda dengan sesama jamaah pengajian, dan selalu berusaha membuat suasana rumah ryokan mereka terasa menenangkan.
Ia bukan perempuan yang suka mencari perhatian. Pakaiannya selalu tertutup rapat.
Namun ada sesuatu dari sorot matanya, dari lekuk semampainya yang kadang tak sengaja tercetak saat angin bertiup, yang membuat orang sulit mengabaikannya. Sebuah aura liar yang tertidur pulas.
Dan salah satu orang yang paling memperhatikan kecantikan tersembunyi itu justru datang dari tempat yang seharusnya paling aman, paling dihormati.
Ayah mertuanya sendiri.
Pak Hasan.
Pria berusia lima puluh delapan tahun itu telah menduda selama bertahun-tahun. Tubuhnya besar, kepalanya sedikit botak namun selalu ditutupi peci putih, dan kehidupannya jauh dari kata mudah.
Rumahnya di desa telah hilang karena persoalan sengketa tanah warisan.
Karena itulah ia akhirnya harus tinggal sementara bersama Andi dan Rinda, di rumah berlantai kayu yang setiap langkahnya selalu berderit pelan.
Sebuah keputusan keluarga yang pada awalnya tampak sangat sederhana dan berpahala.
Hanya seorang ayah yang membutuhkan tempat tinggal di sisa usianya.
Hanya seorang menantu berbakti yang menyambutnya dengan tangan terbuka dan senyum ramah.
Hanya sebuah rumah yang kembali dihuni lebih banyak orang untuk menghidupkan sunnah.
Tidak ada yang menyangka bahwa kehadiran Pak Hasan akan menjadi awal dari mimpi buruk yang memabukkan bagi Rinda.
Hari pertama kedatangannya, Rinda bahkan menyambutnya dengan senyum hangat di ambang pintu geser.
“Lho, Bapak? Saya kira baru datang besok setelah kajian.”
Pak Hasan tersenyum. Sebuah senyuman yang menyembunyikan taring.
“Iya, Nduk. Bapak terpaksa datang lebih cepat. Rindu sama rumah ini.”
“Ya sudah. Anggap saja rumah sendiri, Pak. Biar Rinda siapkan air hangat untuk mandi.”
Kalimat sederhana.
Kalimat wajar seorang menantu yang tidak memiliki arti apa-apa bagi Rinda.
Namun bagi Pak Hasan, ada sesuatu yang berbeda. Pria tua itu menangkap aroma wangi melati dari tubuh Rinda yang menyeruak di udara.
Ia memandang menantunya terlalu lama. Terlalu turun. Tepat ke arah belahan dada yang tertutup jilbab panjang itu.
Dan untuk pertama kalinya, Rinda merasakan sesuatu yang aneh berdesir di perut bagian bawahnya.
Tatapan itu bukan tatapan seorang ayah kepada anak perempuannya.
Tatapan itu menelanjangi. Tajam, lapar, dan menuntut. Tatapan yang membuat bulu kuduk Rinda meremang, sekaligus membuat ujung putingnya mengeras tanpa izin.
Rinda mencoba mengabaikannya. Membaca istighfar dalam hati.
Mungkin ia hanya terlalu sensitif.
Mungkin ia salah mengartikan pandangan orang tua.
Mungkin.
Tetapi kemudian Andi mulai sering pergi.
Pekerjaan dakwah dan safari agama membawa suaminya keluar kota berminggu-minggu.
Hari berganti hari.
Rumah berarsitektur Jepang itu menjadi lebih sepi. Gemericik air dari pancuran bambu di taman dalam tsuboniwa terdengar semakin nyaring, seolah menghitung waktu.
Dan setiap kali hanya tersisa Rinda bersama Pak Hasan di bawah satu atap, terkurung dalam dinding-dinding kertas yang tipis, udara di dalam rumah terasa semakin berat, panas, dan mencekik napas.
“Kenapa diam saja, Nduk? Kajian kitab Qurrotul Uyun-nya sudah selesai dibaca?” sapa Pak Hasan suatu malam, saat Rinda sedang menyeduh teh di ruang tengah yang remang-remang.
Rinda menoleh kaget, menjatuhkan sendok kecilnya.
“T-tidak apa-apa, Pak.”
Pak Hasan mendekat. Langkahnya tak bersuara di atas tatami. Ia tersenyum kecil, seringai binal yang disembunyikan di balik wibawa tuanya.
“Takut sama Bapak?”
Rinda tertawa kaku, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak pilar kayu.
“Ya tidaklah, Pak. Astaghfirullah.”
Namun dalam hati, sesuatu telah berubah secara radikal. Sesuatu yang basah mulai mengalir di antara kedua paha sang menantu.
Karena terkadang bahaya paling buas tidak datang dengan wajah menyeramkan atau senjata tajam.
Bahaya justru datang sambil memutar tasbih, membacakan ayat suci, tersenyum penuh kasih.
Memanggil kita dengan nama kesayangan.
Dan berpura-pura menjadi pelindung keluarga sendiri, sebelum akhirnya menerkam dan merobek pakaian suci itu hingga tak bersisa.
Di blok timur, tempat deretan pohon sakura buatan berjejer rapi, kehidupan Nurlaela juga sedang berjalan merangkak menuju neraka yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Nurlaela adalah seorang istri, ukhti tulen yang sangat patuh, yang berusaha menjaga marwah dan kehormatan rumah tangganya bersama Riko.
Ia percaya seratus persen pada suaminya. Lelaki tampan yang selalu mencium keningnya sebelum berangkat ke kantor.
Setidaknya selama ini.
Riko bekerja di sebuah perusahaan properti syariah bergengsi dan mempunyai atasan bernama Pak Widodo.
Berbeda dengan Sutejo dan Hasan yang menyembunyikan nafsu di balik wajah ramah, Widodo bukan lelaki yang mudah membaca isi pikirannya.
Tubuhnya kekar seperti gladiator.
Kulitnya gelap terbakar matahari.
Kumisnya lebat melintang.
Wajahnya keras bagai pahatan batu tebing.
Orang-orang bahkan sering mengira ia seorang perwira militer yang kejam, atau algojo syariat, bukan pimpinan perusahaan properti.
Widodo tidak banyak tersenyum.
Tidak banyak berbasa-basi. Setiap kata-katanya adalah hukum.
Dan ketika suatu hari menjelang maghrib ia datang ke rumah Nurlaela, melewati pintu geser genkan ketika Riko sedang tidak berada di rumah, perempuan berhijab hitam itu langsung merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres. Udara di sekitarnya seakan tersedot habis.
“Bagaimana kabar Anda, Bu Nurlaela?” tanya Widodo, suaranya berat bergema di ruang tamu lesehan itu.
“B-baik, Pak. Alhamdulillah.”
“Bagaimana dengan Riko? Apakah dia suami yang lurus?”
“Mas Riko... dia baik, Pak. Sangat bertanggung jawab.”
Widodo terdiam. Ia duduk bersila di atas bantal zabuton, menatap Nurlaela dengan sorot mata elang yang memburu mangsa.
Kemudian pria bertubuh besar itu membuka tas kulit kerjanya.
Mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal.
Nurlaela mengerutkan kening. Tangannya meremas ujung khimarnya dengan gelisah.
“Ada apa, Pak Widodo? Mas Riko ada masalah di kantor?”
Widodo meletakkan beberapa lembar foto berwarna di atas meja kayu chabudai yang rendah.
Wajah Nurlaela seketika berubah pasi. Darahnya seakan surut dari wajahnya.
“A-apa ini?” suaranya bergetar.
“Saya ingin membicarakan sesuatu tentang kelakuan asli suami Anda di belakang Anda.”
“Masalah pekerjaan? Penggelapan dana?”
“Bukan. Masalah syahwat.”
Widodo menatapnya lurus, menembus pertahanan rapuh wanita itu.
“Apakah Anda tahu kebiasaan Riko jika sedang dinas ke luar kota? Apakah Anda tahu tempat-tempat maksiat yang dia kunjungi dengan uang perusahaan?”
Jantung Nurlaela berdegup gila-gilaan, seakan ingin melompat dari dadanya.
Ia masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan kejam ini.
Tetapi beberapa detik kemudian, ketika pandangannya jatuh pada foto-foto tersebut gambar Riko tanpa busana, tertawa lebar, diapit oleh wanita-wanita malam berpakaian serba minim, dikelilingi botol minuman keras dunia seolah berhenti berputar. Langit-langit rumah berputar hebat.
Riko, sang suami yang selalu mengimaminya shalat tahajud, ternyata menyimpan iblis dan rahasia yang lebih kelam daripada yang pernah ia bayangkan.
Dan ketika seorang istri yang selama ini menjaga kesuciannya mati-matian mengetahui bahwa lelaki yang dicintainya mempunyai sisi gelap yang menjijikkan, ada dua pilihan yang tersisa.
Meninggalkannya dan menghancurkan nama baik keluarga.
Atau ikut terseret ke dalam kegelapan itu untuk menutupi aib.
“Suamimu harus membayar kafarat atas dosanya, Nurlaela,” bisik Widodo parau, matanya kini turun menatap dada Nurlaela yang naik-turun karena syok. “Dan karena dia tidak punya uang untuk mengganti dana perusahaan yang dia pakai berzina... kamulah yang harus membayar utang desahannya.”
Nurlaela belum tahu pilihan mana yang akan diambilnya. Namun air matanya yang menetes malam itu adalah awal dari pengabdian binalnya di bawah paksaan sang algojo bertubuh kekar.
Sementara itu, di sudut lain kota, di bawah binar lampu jalanan yang temaram, ada dua orang muda yang justru sedang menikmati masa-masa paling indah dan murni dalam hubungan mereka.
Widyalisa Wibisono dan Ardit Darmawan.
Mereka sudah bertaaruf dan menjalin ikatan pertunangan hampir dua tahun lamanya.
Kini mereka tinggal menghitung minggu menuju pelaminan.
Ardit adalah senior Widyalisa di kampus, seorang aktivis masjid yang tampan dan telah lulus setahun sebelumnya. Ia sedang menjalani masa magang di sebuah perusahaan swasta.
Widyalisa sendiri sedang menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Ia adalah bidadari idaman. Kulitnya putih bersih tak tersentuh matahari, selalu terbalut gamis dan hijab syar'i yang anggun.
Pernikahan agung mereka sudah berada di depan mata.
Keduanya masih sangat muda.
Masih penuh harapan suci.
Masih percaya bahwa doa dan cinta yang dijaga akan membuat semuanya berjalan sempurna sesuai rencana Ilahi.
Di dalam mobil Toyota Avanza hitam yang membelah jalan tol menuju klaster perumahan Ryokan, Widyalisa, dengan senyum usilnya yang jarang terlihat orang, mencubit paha Ardit dengan genit dari balik kainnya.
Ardit menoleh sekilas, menahan napas. Sentuhan sekecil itu dari sang tunangan selalu sukses membuat darahnya berdesir.
“Astaghfirullah, Widy. Jangan ganggu saya nyetir. Bukan mahram,” tegur Ardit lembut, meski senyum tak bisa lepas dari bibirnya.
Widyalisa tertawa merdu, suara yang terdengar seperti lonceng angin.
“Takut batal wudhunya, Mas?”
“Bukan takut.”
“Terus?”
Ardit tersenyum penuh arti.
“Kalau kamu terus menggoda dan memancing insting lelakiku, kita bisa terlambat sampai di rumah Mbak Vinka. Dan aku takut tidak bisa menahan diri sampai malam pertama kita.”
Widyalisa merona merah, mendekatkan tubuhnya sedikit, membiarkan wangi mawar dari hijabnya menguar di dalam kabin mobil yang sempit.
“Memangnya kenapa kalau terlambat? Kita kan cuma mau jenguk Mas Hendra.”
Ardit menghela napas panjang, menetralkan denyut di dadanya.
“Kamu ini... benar-benar ujian terindahku.”
Tawa Widyalisa kembali memenuhi mobil. Sebuah kebahagiaan murni yang tak ternoda.
Mereka tidak tahu bahwa kebahagiaan suci itu sedang dihitung mundur menuju kehancuran yang sangat buas.
Karena di klaster berarsitektur Jepang yang akan mereka datangi itu, ada keluarga yang sedang menghadapi badai rahasia.
Ada Hendra yang terkapar tak berdaya.
Ada Vinka yang mulai gila oleh rasa sepi.
Ada Opi yang kebingungan.
Dan ada seseorang yang diam-diam, dari balik jendela kaca rumahnya, telah lama mengincar dan memperhatikan Widyalisa dengan liur yang menetes.
Seseorang yang tidak pernah mengenal kata cukup, tidak peduli seberapa banyak ia telah beribadah.
Sutejo.
Ketika pertama kali melihat Widyalisa datang berkunjung bulan lalu, mata tua lelaki itu berhenti terlalu lama pada lekuk pinggang sang gadis yang samar-samar terlihat saat angin menyingkap gamisnya.
“Subhanallah... sungguh bidadari yang sempurna untuk dikotori,” gumamnya saat itu.
Itu hanya satu kalimat nista.
Tetapi cukup untuk membuat dirinya sendiri tersenyum binal dalam kegelapan.
Widyalisa tidak menyadarinya.
Ia sedang tertawa bermain bersama keponakannya, Opi.
Ia sedang bercanda manis dengan Ardit.
Ia sedang menjalani hidupnya sebagai seorang gadis perawan berhijab yang sebentar lagi akan sah disentuh oleh suaminya.
Namun Sutejo melihat sesuatu yang lain.
Ia melihat selembar kanvas putih yang menggiurkan untuk dirobek dan diwarnai dengan desahan. Ia melihat kesempatan baru untuk membuktikan kejantanannya yang tak lekang oleh waktu.
Dan kesempatan itu membuat pikirannya kembali dipenuhi keinginan-keinginan binatang yang seharusnya tidak pernah bersarang di kepala seorang pemuka agama.
Di sisi lain, dalam lingkaran pertemanan Widyalisa, ada Verra.
Sahabat karib Widyalisa sejak di pesantren.
Perempuan berhijab modis yang instingnya lebih peka terhadap perubahan suasana dibandingkan siapa pun.
Verra mengenal Widyalisa luar dalam. Dari A sampai Z.
Ia tahu kapan sahabatnya itu sedang benar-benar bahagia.
Ia tahu kapan Widyalisa sedang menutupi kesedihan.
Bahkan ia tahu ketika senyum Widyalisa sebenarnya hanya sebuah tameng rapuh untuk menyembunyikan sebuah skandal kotor yang menjijikkan.
“Aku tahu kamu luar dalam, Widy,” kata Verra suatu hari di kantin kampus, sambil menepuk lutut sahabatnya. “Mata kamu nggak bisa bohong. Kalau ada apa-apa, kalau ada cowok atau om-om hidung belang yang gangguin kamu, kamu harus cerita ke aku.”
Widyalisa tersenyum lebar, meski ada sebersit keraguan yang melintas cepat di matanya.
“Janji, Ver. Cuma kamu tempat aku cerita.”
Janji yang sangat sederhana.
Namun janji persahabatan itu akan diuji oleh guncangan yang jauh lebih buas dan brutal daripada sekadar masalah nilai tugas akhir atau pertengkaran kecil sepasang kekasih.
Karena tidak lama kemudian, di bawah bayang-bayang Haji Sutejo, Widyalisa akan berubah drastis.
Gadis yang dahulu ceria dan menjaga kesuciannya itu akan menjadi pendiam.
Gadis yang dahulu senang datang ke majelis taklim akan lebih sering mengurung diri di kamar, mencium aroma maskulin yang bukan milik tunangannya, dan menyentuh tubuhnya sendiri sambil merintih di tengah malam.
Dan Ardit, sang tunangan yang malang, akan bertanya-tanya dengan hati hancur:
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Widy? Siapa yang sudah menyentuhmu?”
Widyalisa tidak akan pernah mudah menjawab.
Sebab ada dosa yang terlalu manis, gairah yang terlalu liar, dan lilitan kenikmatan yang terlalu dalam untuk diceritakan dengan kata-kata suci.
Di tengah pusaran kaum elit dan pemuka klaster itu, datanglah Sukardi.
Seorang lelaki paruh baya bertubuh kurus, berkulit gelap legam dibakar matahari, yang awalnya hanya dikenal sebagai penjual bakso keliling yang diizinkan masuk ke perumahan eksklusif tersebut.
Suara pukulan mangkuk keramik dan teriakannya menjadi pemandangan dan melodi biasa di sekitar rumah Vinka.
“Bakso! Bakso panas, Mbak! Ukhti!”
Tidak ada yang menyangka bahwa lelaki berpenampilan gembel dan sederhana itu kelak akan memainkan peranan penting dalam membongkar atau justru memanfaatkaan kemunafikan di klaster tersebut.
Sukardi memiliki masa lalu yang sangat tidak sederhana.
Ia pernah mendekam di penjara Nusakambangan karena kasus pembunuhan tak disengaja. Mantan preman yang mencoba hijrah.
Ia tidak menceritakannya kepada Vinka atau warga klaster lainnya.
Bukan karena ingin menipu umat, melainkan karena ia tahu masa lalunya yang berdarah bisa menghancurkan kesempatan hidup baru yang baru saja ia dapatkan di lingkungan agamis ini.
Ketika kondisi Hendra memburuk drastis akibat kecelakaan, Vinka membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya dan kuat secara fisik untuk membantu mobilitas keluarga, menggendong suaminya, dan menyetir mobil.
Dan orang itu, entah takdir dari mana, ternyata adalah Sukardi si tukang bakso.
“Mas Sukardi?” panggil Vinka suatu sore dari balik pagar bambu rumahnya.
“Iya, Bu Vinka? Ada yang bisa dibantu? Bakso uratnya habis, Bu.”
“Bukan mau beli bakso. Saya ingin menawarkan pekerjaan tetap.”
Sukardi terdiam. Mangkok di tangannya berhenti berbunyi.
“Sebagai sopir keluarga dan perawat harian Mas Hendra?”
Vinka mengangguk pelan, tatapannya menyiratkan keputusasaan seorang istri.
Lelaki itu tersenyum tipis, menyimpan sekelumit simpati bercampur rasa syukur.
“Kalau saya diberi kesempatan itu, Bu, saya bersumpah atas nama Tuhan, saya akan bekerja dan menjaga Ibu sebaik mungkin. Dengan nyawa saya.”
Dan begitulah roda nasib berputar. Seorang mantan narapidana penjual bakso berubah menjadi sopir dan orang kepercayaan keluarga Hendra.
Vinka tidak mengetahui semua masa lalu kelam dan insting buas di balik wajah pasrah Sukardi.
Namun mungkin, ketika segala kemunafikan para tokoh agama di klaster itu meledak, justru lelaki dengan rekam jejak kriminal inilah yang suatu hari menjadi satu-satunya pria yang berani berdiri dan menghajar mereka semua ketika orang lain memilih menunduk dan diam.
Ada pula sosok Andi, sang suami dari Rinda.
Seorang pemuda lurus, pendakwah yang terlalu sibuk dengan urusan umat.
Terlalu yakin dan percaya kepada kesucian keluarganya.
Dan terlalu naif meyakini bahwa rumah kayu berdesain Ryokan yang ia tinggali adalah tempat yang paling aman dan barokah bagi istri cantiknya.
Ia sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan ayah kandungnya sendiri, Hasan, di saat ia pergi.
Tidak tahu bagaimana istrinya mulai berkeringat dingin dan bergetar ketakutan sekaligus memendam desir aneh di selangkangannya ketika dirinya pamit untuk berdakwah ke luar kota.
Tidak tahu bahwa setiap kali ia mengepak tas dan mengatakan,
“Besok Abi harus safar lagi selama seminggu ke Jawa Timur, Umi.”
Rinda sebenarnya ingin menjerit, merobek cadarnya, dan berteriak:
Jangan tinggalkan aku sendirian di kandang singa tua ini, Mas! Aku takut diriku akan menyerah pada gairahnya!
Tetapi bibir ranum di balik kain penutup itu selalu terpaksa berkata lembut:
“Iya, Abi. Fii amanillah. Hati-hati di jalan. Umi akan jaga diri dan jaga Bapak.”
Sebuah kebohongan kecil yang diucapkan dengan senyuman. Kebohongan yang kelak dibayar mahal dengan desahan dan peluh yang membasahi ranjang ketika ayah mertuanya menindihnya tanpa ampun.
Dan kemudian ada barisan karakter lain yang mengisi ekosistem dosa ini. Ada Joko.
Seorang lelaki muda, teknisi CCTV perumahan yang kehidupannya bersinggungan dengan Nurlaela. Melalui lensa kameranya, ia menjadi saksi bisu, seorang voyeur yang diam-diam merekam bagaimana Nurlaela diseret dalam pusaran masalah Riko dan dipalak harga dirinya oleh Widodo. Mata Joko menjadi saksi atas desahan-desahan tertahan di balik jendela yang setengah tertutup.
Ada pula Ngadi, penjual mainan anak-anak keliling yang polos, yang suatu hari menemukan dirinya berada di tempat kejadian perkara pada waktu yang sangat salah, memaksanya melihat sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan: seorang tokoh agama melakukan ritual kebejatan di ruang ganti.
Ada Abah Aseng, juragan beras keturunan yang memiliki pengaruh besar dan menguasai logistik orang-orang di sekitarnya. Orang yang tampaknya netral, namun memegang kunci rahasia utang piutang yang menjerat leher Pak Hasan.
Ada orang-orang pasar, para pekerja harian, para preman bayaran, dan berbagai sosok kecil yang tak kasat mata, yang perlahan terseret seperti sampah ke dalam pusaran air bah kehidupan keluarga-keluarga munafik tersebut.
Di antara mereka ada Wakidi dan beberapa kawannya.
Orang-orang keras dari dunia hitam. Para penagih utang yang tak kenal ampun.
Sebagian besar dari mereka memiliki masa lalu yang jauh dari kata suci. Tato menghiasi lengan mereka, alkohol adalah minuman harian.
Namun, ironisnya, bahkan orang-orang yang hidup di got dan pinggiran hukum ini pun terkadang masih memiliki sisa-sisa nurani. Mereka memiliki batas moral yang tak berani mereka lewati, berbeda dengan para manusia berjubah di klaster syariah yang menghalalkan segala cara atas nama syahwat.
Dan jangan lupakan Burhan, pemuda kampus teman sekelas Widyalisa. Mahasiswa sastra dengan gaya bicara hiperbola dan berlebihan yang sering membuat Widyalisa dan Verra menahan tawa hingga perut kram.
“Kalian tahu tidak,” kata Burhan suatu hari di perpustakaan, dengan suara bariton yang dibuat-buat penuh percaya diri. Matanya menatap Widyalisa dengan kekaguman buta. “Kehadiran kalian berdua di kampus teknik yang kering ini, ibarat embun pertama setelah kemarau panjang. Menyegarkan jiwa-jiwa yang gersang.”
Verra menutup mulutnya dengan buku, mendengus geli.
Widyalisa menggigit bibir bawahnya keras-keras agar tawanya tidak meledak, menjaga wibawa hijabnya.
Burhan mengernyit, merasa dramanya gagal.
“Kenapa kalian diam saja, ukhti? Apakah ada yang salah dengan rima kata-kataku?”
“Tidak apa-apa, Han,” jawab Widyalisa dengan suara bergetar menahan tawa.
“Kalian sedang meresapi dan menikmati puisi indah saya, kan?”
Verra akhirnya tidak tahan lagi. Tawanya pecah.
“Banget, Han. Bikin kita mau mual saking indahnya!”
Burhan tersenyum bangga, membusungkan dada.
Ia sama sekali tidak sadar bahwa dua perempuan cantik di depannya hampir meledak menahan tawa karena kepolosannya.
Momen-momen ringan, murni, dan penuh canda tawa remaja seperti itu akan menjadi komoditas langka yang semakin berharga. Ingatan yang akan ditangisi ketika badai kegelapan mengubah hidup mereka selamanya.
Karena tidak semua cerita gelap dan menjijikkan dimulai dengan langit mendung atau suasana menyeramkan.
Kadang-kadang, tragedi pelecehan dan kejatuhan moral yang paling buas justru dimulai di bawah terik matahari, ketika semua orang sedang tertawa riang dan merasa paling aman.
Dan di pusat dari semua benang kusut itu, berdirilah satu keluarga yang menjadi jangkar kehancuran.
Keluarga Hendra.
Rumah berdesain Ryokan di kavling utama.
Vinka sang istri yang tertekan.
Hendra sang suami yang layu.
Opi sang anak yang polos.
Serta bayangan orang-orang yang semakin berani keluar masuk rumah berlapis kayu itu.
Rumah yang awalnya didesain hanya sebagai tempat untuk beristirahat. Surga kecil di dunia.
Tempat seorang suami mencium kening istrinya sepulang mencari nafkah.
Tempat seorang ibu menidurkan anaknya dengan lantunan ayat Al-Quran.
Tempat sanak saudara dan jamaah berkumpul menimba ilmu.
Tetapi perlahan, udara di dalamnya berubah. Menjadi pusat dari rahasia-rahasia birahi yang tidak pernah seharusnya mekar.
Sutejo datang mengetuk pintu dengan kedok sebagai tetangga yang peduli.
Sukardi datang memarkir mobil sebagai pekerja yang butuh makan.
Widyalisa datang membawa buah tangan sebagai adik sepupu yang hendak meminta doa restu menikah.
Ardit datang menemani sebagai calon anggota keluarga yang sopan.
Semuanya terlihat sangat normal di bawah sinar lampu pijar.
Semuanya terlihat wajar dan sesuai syariat.
Tetapi di balik setiap kunjungan, di balik setiap seduhan teh panas, ada insting binatang buas yang mengintai.
Sebuah tatapan lapar yang menelusuri lekuk tubuh.
Sebuah kebohongan manis yang dibisikkan di telinga.
Sebuah ancaman halus yang mengunci mulut.
Sebuah keinginan purba untuk mendominasi dan menghancurkan.
Dan sebuah rahasia binal yang dipompa oleh desahan-desahan liar yang semakin sulit diredam oleh kertas shoji pelapis dinding.
Malam itu, gerimis turun membasahi atap genteng klaster. Udara terasa dingin menggigit.
Vinka berdiri di dekat jendela tsuboniwa taman dalam rumahnya. Suara air yang jatuh membentur batu terdengar monoton.
Rumah telah begitu sunyi, bagaikan kuburan yang hidup.
Hendra terbaring di atas ranjang futon-nya di kamar utama. Matanya terpejam karena pengaruh obat penenang.
Tubuhnya yang dulu kekar kini kurus kering, tak lagi memiliki keperkasaan untuk menghangatkan istrinya.
Vinka memandang ke luar, menembus kaca. Ia mengusap lengannya sendiri yang meremang di balik gamis tipis berbahan sutra yang ia kenakan untuk tidur.
Lampu-lampu jalan di perumahan tampak seperti titik-titik kecil yang kesepian di kejauhan, membias di antara rintik hujan.
“Bagaimana hidup kita dan hasratku setelah ini, Mas?” bisiknya lirih kepada kekosongan.
Hendra tidak menjawab. Hanya dengkuran halusnya yang menjadi balasan.
Vinka menundukkan kepala yang tak tertutup hijab. Rambut panjang bergelombangnya jatuh menutupi wajah cantiknya yang lelah.
Ia mencoba tersenyum, menguatkan diri dengan doa.
Namun air mata frustrasi dan rasa lapar akan sentuhan lelaki lebih dulu jatuh menitik membasahi pipinya.
Kemudian, di tengah keheningan yang mencekik itu, terdengar sebuah ketukan pelan dari arah pintu kaca geser di beranda belakang. Pintu yang langsung terhubung dengan pagar pembatas rumah Sutejo.
Tok.
Tok.
Tok.
Vinka mengangkat wajahnya dengan cepat. Jantungnya berdegup satu ketukan lebih lambat.
Siapa yang berani datang menyelinap dari beranda belakang malam-malam berhujan seperti ini?
Ia berjalan perlahan, kakinya menapak tanpa suara di atas lantai kayu.
Tangannya yang bergetar pelan menyentuh gagang kuningan pintu.
“Siapa?” tanyanya dengan suara tertahan.
Tidak ada jawaban dari luar. Hanya suara rintik hujan dan hembusan angin.
Vinka menelan ludah. Rasa takut dan penasaran bercampur aduk. Ia membuka kunci dan menggeser pintu itu sedikit saja.
Dan seketika itu juga, warna di wajahnya memudar. Matanya membelalak kaget.
Haji Sutejo berdiri di sana, di bawah remang lampu teras, mengenakan sarung dan kaus oblong. Tubuh tuanya masih terlihat tegak dan kokoh. Bau maskulin yang tajam, campuran antara keringat, rokok kretek, dan minyak wangi gaharu menusuk hidung Vinka, membangkitkan saraf-saraf purba di tubuhnya secara paksa.
Senyum lelaki tua itu mengembang. Sangat lebar.
Terlalu lebar hingga memperlihatkan taring imajinernya.
“Sendirian saja, Vinka sayang?” suara Sutejo parau dan berat, langsung menghantam telinga Vinka seperti mantra iblis.
Vinka refleks mundur selangkah, menarik rapat kerah gamis tidurnya yang sedikit terbuka.
“A-astaghfirullah, Pak Haji Sutejo... ini sudah jam sebelas malam.”
“Memangnya kenapa kalau malam? Malam diciptakan Tuhan untuk hamba-hambanya beristirahat... dan menikmati kenikmatan-Nya, Vinka.”
“Saya tidak ingin diganggu, Pak Haji. Mas Hendra sedang sakit di dalam.”
Sutejo tertawa kecil, suara tawa yang dalam dan meremehkan. Mata liarnya turun tanpa malu-malu menatap siluet payudara Vinka yang membusung di balik sutra tipis, mencetak puting yang mulai menegang karena hawa dingin.
“Jangan tegang begitu, Ukhti. Otot-otot yang tegang akan membuatmu cepat tua.”
Vinka menatap lelaki yang sangat dihormati di masjid kompleks itu dengan tatapan tajam dan marah.
“Saya serius, Pak Haji. Tolong pulang. Ini bukan perbuatan yang pantas bagi orang seumur Bapak.”
Sutejo tidak bergeming. Ia malah melangkah maju, kakinya melewati ambang pintu. Jarak mereka kini tak sampai dua jengkal. Vinka bisa merasakan hawa panas memancar dari tubuh sang predator.
“Justru karena kamu serius, Vinka, justru karena kesucian yang selalu kamu jaga itu, saya jadi semakin penasaran. Gairah saya memuncak melihat kepatuhanmu.”
“Penasaran apa maksud Bapak?! Keluar!” Vinka mendesis marah, takut suaranya membangunkan Opi atau suaminya.
Lelaki berpeci itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap mata Vinka lekat-lekat selama beberapa detik panjang. Tatapan yang menguliti jiwa, membuat perempuan itu merasa telanjang bulat, tak berdaya, dan anehnya... perut bagian bawah Vinka berkedut hebat merespons dominasi itu.
Sebuah pertempuran antara keimanan yang kokoh dan biologi kewanitaan yang haus kasih sayang.
Kemudian Sutejo memiringkan kepalanya dan berbisik sangat pelan, tepat di depan wajah Vinka, hembusan napasnya menerpa bibir sang wanita.
“Suatu hari nanti, Vinka... ketika suamimu benar-benar tak lagi bisa menyentuhmu, kamu akan sadar bahwa tidak semua gairah buas di dalam sana bisa terus kamu sembunyikan dengan ayat-ayat dan doa panjangmu. Dan ketika bendungan sucimu itu jebol, aku yang akan menampung semuanya.”
Vinka menggeleng kuat-kuat, matanya berkaca-kaca menahan marah dan malu.
“Saya tidak mengerti dan tidak mau tahu apa maksud kotor Bapak. Keluar dari rumah saya sekarang!”
“Tidak perlu tahu dan paham sekarang, Sayang.”
Senyum Sutejo menghilang, digantikan oleh raut wajah serius seorang serigala alfa yang sedang menandai wilayah teritorialnya. Tangannya dengan kilat terulur, ibu jarinya mengusap pipi Vinka yang mulus dengan tekanan yang mendominasi.
“Yang penting, jangan pernah mengira saya tidak memperhatikan setiap lekuk tubuhmu setiap kali kamu menjemur pakaian. Simpan gairahmu untukku.”
Sutejo menarik tangannya, berbalik, dan melangkah pergi menembus gerimis tanpa menoleh lagi.
Pintu kaca itu ditutup Vinka dengan tangan bergetar hebat.
Ia mengunci rapat pintu tersebut, memunggungi kaca, dan melorot merosot jatuh ke lantai kayu hingga terduduk.
Napasnya memburu berat, seolah baru saja berlari maraton. Tangannya mencengkeram dadanya yang naik-turun dengan ekstrem.
Jantungnya berdegup gila-gilaan, namun di antara lututnya, kain celana dalamnya terasa hangat dan sangat basah.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah ketaatannya, ia menyadari sesuatu fakta yang sangat sederhana namun mengerikan:
Lelaki tua berpeci itu bukan sekadar tetangga atau guru ngajinya.
Ia adalah ancaman paling buas yang sanggup meruntuhkan iman dan merobek rahimnya kapan saja ia mau.
Pada malam yang sama, dengan rintik hujan yang sama, di rumah kayu bergaya Ryokan milik Rinda yang berjarak dua blok dari sana, keheningan dipecahkan oleh suara telepon yang berdering nyaring.
Rinda yang sedang melipat pakaian di atas tatami, buru-buru mengangkatnya. Nama suaminya tertera di layar.
“Assalamualaikum, Abi?”
Andi, suaminya, merespons dengan suara lelah dari seberang pulau.
“Waalaikumsalam, Umi. Besok pagi Abi harus lanjut berangkat safar lagi ke pondok pesantren cabang.”
Rinda memejamkan mata cantiknya yang lentik. Jari-jarinya meremas seprai kuat-kuat.
“Berapa lama lagi, Bi?”
“Mungkin seminggu atau sepuluh hari, Mi. Ada konflik internal yang harus Abi urus.”
Sunyi menggantung di udara. Suara detik jam dinding terasa menyiksa.
“Rinda? Umi?” panggil Andi.
“Iya, Mas.”
“Kamu baik-baik saja di rumah? Bapak tidak rewel makanannya kan?”
Rinda menelan ludah. Lidahnya kelu. Bau keringat apek dan pandangan buas ayah mertuanya berkelebat di benaknya seperti film horor.
Kemudian ia memaksakan pita suaranya, menjawab dengan suara selembut dan setenang mungkin, khas seorang ukhti penurut.
“Alhamdulillah baik, Mas. Bapak sehat dan makannya lahap.” Sangat lahap hingga matanya hampir menelanku hidup-hidup, batin Rinda menjerit.
Andi tertawa kecil dari seberang telepon. Tawanya yang polos dan bodoh.
“Alhamdulillah. Jangan terlalu kangen sama Abi ya, Mi.”
Rinda memaksakan tawa sumbangnya, air matanya nyaris jatuh.
“Siapa yang kangen, Abi ge-er deh.”
“Pasti Umi kangen berat. Sabar ya sayang, insyaallah ini ladang pahala kita.”
“Iya... Sudah sana Abi istirahat dan tidur. Besok kan harus jalan pagi.”
“Iya sayang. Sayang kamu karena Allah, Umi.”
Rinda terdiam lama. Dadanya sesak oleh ketakutan yang menjalar bagai bisa ular.
“Sayang kamu juga... karena Allah.”
Sambungan telepon itu berakhir.
Rinda menatap layar ponselnya yang menggelap dengan tatapan kosong dan hampa.
Kemudian, dengan gerakan patah-patah, matanya bergerak perlahan, dipenuhi teror, menuju celah pintu kamarnya yang dibiarkan terbuka sedikit.
Di luar sana, di lorong rumah yang remang, terdengar derit kayu lantai berbunyi. Suara langkah berat yang diseret.
Langkah kaki Pak Hasan.
Pria itu tidak tidur. Ia sedang berjalan mengitari rumah.
Rinda buru-buru menarik selimut tebalnya hingga ke bawah dagu, membungkus seluruh tubuhnya seakan selimut itu bisa melindunginya dari monster.
Ia tahu persis lelaki tua itu ada di luar sana, berdiri diam di balik pintu kamarnya, mengendus udara, mendengarkan percakapannya.
Dan untuk alasan gila yang tidak bisa ia jelaskan kepada ahli agama atau psikolog mana pun, di tengah rasa takut yang melumpuhkan itu, liang kewanitaannya berdenyut kencang mengantisipasi bahaya. Keberadaan sang ayah mertua yang mendominasi dan mengintimidasinya itu kini membuat rumah sucinya sendiri terasa seperti arena ranjang pesakitan yang liar dan asing.
Sementara itu, kembali ke dalam kabin Avanza hitam di jalan tol. Widyalisa masih tersenyum manis, memamerkan lesung pipinya.
Tangannya yang berbalut sarung tangan tipis menggenggam lembut tangan Ardit yang sedang memegang persneling.
“Sebentar lagi kita menikah, Mas. Sempurna sudah separuh agama kita.”
Ardit mengangguk mantap, menatap lurus ke depan.
“Iya, Sayang. Insyaallah, surga menanti ikatan kita.”
“Kamu bahagia, Mas?” tanya Widyalisa dengan mata berbinar.
“Banget. Membayangkan akhirnya aku bisa memelukmu tanpa takut dosa... itu impian terbesarku.”
Widyalisa menyandarkan kepalanya yang tertutup khimar tebal ke bahu Ardit, mengabaikan jarak aman sejenak.
“Aku juga, Mas. Nggak sabar pengen jadi bidadari surgamu seutuhnya.”
Ardit tersenyum lembut, lalu dengan keberanian yang jarang ia tunjukkan, ia menunduk dan mengecup sekilas puncak kepala Widyalisa yang terbungkus kain. Sebuah kecupan suci tanpa nafsu buas.
Mereka berdua tertawa bahagia. Kepolosan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara syariah.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa beberapa meter dari rumah Vinka yang sedang mereka tuju menembus hujan gerimis ini, ada mata tua berdarah dingin yang sedang mengawasi kedatangan mereka.
Ada seseorang yang sedang merekam dan menghafalkan rutinitas kedatangan sang gadis incaran.
Ada seseorang yang sedang mengasah insting buasnya, menunggu kesempatan terkecil ketika sang penjaga lengah.
Dan ada sebuah rencana berkedok agama, sebuah rahasia biadab yang sudah disusun rapi, yang kelak akan merobek-robek kepolosan Widyalisa, mencabik hijabnya, dan membuat senyum sucinya perlahan menghilang, digantikan oleh rintihan binal seorang budak syahwat yang tak bisa lepas dari jerat pesona sang predator tua.
Begitulah epik kehancuran moral ini semuanya bermula.
Sangat sunyi, pelan, dan membunuh secara perlahan bagai racun yang diteteskan ke dalam teh manis.
Tidak ada petir yang menyambar dramatis membelah langit.
Tidak ada suara jeritan histeris peringatan dari langit.
Tidak ada tanda-tanda gaib atau firasat bahwa kehidupan sempurna para manusia agamis ini akan segera luluh lantak rata dengan tanah.
Hanya klaster perumahan mewah bergaya perpaduan timur tengah dan jepang yang berdiri berdampingan dengan damai.
Lampu lampion teras yang menyala hangat mengusir gelap.
Suara kendaraan yang lewat perlahan.
Anak-anak yang masih lugu tertawa bermain sore harinya.
Para ummahat dan ukhti yang berbincang soal sedekah dan kajian.
Para lelaki berpeci yang pulang dari mencari rezeki halal.
Dan malam-malam panjang yang dari luar terlihat sangat suci dan damai, diberkati oleh doa-doa penduduknya.
Tetapi kedamaian dan kesucian itu hanyalah lapisan gula di atas racun. Hanyalah permukaan air telaga yang tenang, yang menyembunyikan pusaran mematikan di bawahnya.
Di bawah lantai kayu jati dan tikar tatami itu, gairah dan hasrat liar telah mulai merayap dan bergerak aktif bagai cacing tanah di musim hujan.
Sutejo dengan pikiran mesumnya yang semakin gila, liar, dan terobsesi merobek gamis tetangganya.
Hasan dengan rahasia berahinya pada sang menantu, yang disembunyikannya di balik jubah dan tasbih besarnya, bersiap menggunakan dalil ketaatan untuk memaksa Rinda membuka paha.
Widodo si algojo dengan amplop cokelat berisi senjata tajam tak kasat mata, bukti-bukti maksiat yang mampu menghancurkan sebuah rumah tangga dan menelanjangi istri sahabatnya sendiri.
Riko si pemuda kebanggaan dengan masa lalu kotor yang kini mulai membusuk dan terbongkar ke permukaan.
Rinda sang istri sholehah dengan ketakutan mematikan yang perlahan bermetamorfosis menjadi gairah terlarang yang tidak mampu ia ceritakan pada siapa pun.
Vinka sang ibu penyayang dengan rumah tangga yang perlahan membusuk dari dalam, sedang berada di ujung batas keimanannya karena rahimnya yang meronta menuntut haknya.
Hendra sang pemimpin keluarga dengan tubuh tak berguna yang tidak lagi sama, menyaksikan kelumpuhannya akan menjadi awal penjajahan istrinya.
Nurlaela si perempuan lurus dengan pilihan yang semakin sempit, dipaksa menelan harga diri demi menutup aib sang suami.
Widyalisa sang bidadari kampus dengan masa depan bersinar yang seharusnya berakhir indah, namun telah dibidik oleh moncong senapan syahwat seorang pemangsa berkedok kyai.
Ardit sang tunangan yang soleh dengan cinta polos yang belum tahu akan dihancurkan seberapa keras dan seberapa brutal oleh pengkhianatan.
Verra sang sahabat peka dengan ikatan persahabatan yang kelak menuntut pengorbanan dan keberanian luar biasa.
Sukardi si mantan pembunuh bertopeng tukang bakso dengan masa lalu berdarah yang masih ia simpan rapat-rapat di balik senyum ramahnya.
Andi sang pendakwah naif dengan ketidaktahuan bodohnya, yang mungkin akan menjadi dosa dan kesalahan terbesarnya membiarkan serigala masuk ke dalam rumah.
Dan Opi
gadis kecil malang yang hanya ingin ayah dan ibunya tetap tersenyum bahagia, yang pendengarannya kelak akan dinodai oleh suara-suara lenguhan asing dari kamar sebelah.
Mereka semua mempunyai cerita yang belum selesai ditulis.
Mereka semua mempunyai rahasia kotor yang disembunyikan di balik wudhu mereka.
Dan mereka semua akan segera bertabrakan, saling menghancurkan, dan bertemu di dalam satu pusaran neraka kehidupan yang semakin panas, semakin liar, dan semakin buas dari hari ke hari. Sebuah klaster di mana doa dan desahan bercampur menjadi satu harmoni yang memabukkan dan menghancurkan akal sehat.
Sebab terkadang, dosa yang paling mematikan tidak datang dengan mengetuk pintu secara paksa, membawa senjata, atau merampok di tengah malam buta.
Dosa terbesar justru datang sebagai tamu yang sangat dihormati.
Datang mengucap salam, duduk bersila sopan di ruang tamu yang beralas karpet mahal.
Disuguhkan minum kopi atau teh matcha hangat.
Tersenyum sangat ramah, memberikan nasihat-nasihat tentang akhirat.
Kemudian, dengan sangat perlahan dan sistematis, membuat dirinya merasa betah. Menyusup ke dalam celah-celah kerapuhan mental tuan rumah.
Sampai akhirnya, ketika racun gairah itu telah menyebar ke seluruh aliran darah, penghuni rumah tidak lagi memiliki sisa tenaga, sisa iman, atau cara untuk mengusirnya. Mereka justru akan bertekuk lutut memohon untuk dilumat lebih dalam.
Malam semakin larut di klaster Ryokan Syariah itu. Hujan gerimis perlahan berhenti, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Lampu-lampu dari rumah-rumah mewah satu per satu mulai padam, ditelan gelap.
Tetapi di beberapa rumah tertentu, masih ada mata binal yang menyala dalam kegelapan, belum terpejam.
Seseorang sedang berpikir licik menyusun siasat.
Seseorang sedang gemetar memeluk lutut karena takut gairahnya sendiri meledak.
Seseorang sedang merangkai kebohongan baru untuk esok hari.
Dan seseorang lainnya... sedang menatap tajam dari balik tirai kamar, memegang senjatanya yang mengeras di balik sarung, menunggu dengan sabar.
Menunggu waktu yang paling tepat untuk mendobrak masuk, merobek kain suci itu, dan membisikkan satu kalimat di dekat telinga mangsanya, kalimat pamungkas yang akan meruntuhkan seluruh dunia dan mengoyak surga
“Jangan takut, Ukhti sayang… tanggalkan saja jilbabmu. Malam ini, di atas tatami ini, biarkan Tuhan memejamkan mata, karena kita berdua punya dosa dan gairah buas yang baru.”
Dan sejak malam bersejarah itu, tidak ada lagi kehidupan, doa, maupun iman yang benar-benar sama di klaster tersebut.
Semuanya melebur dalam desahan panjang, peluh yang lengket, dan kenikmatan purba yang menggantikan ayat-ayat suci.
Karena di balik setiap pintu shoji yang tertutup rapat, di balik setiap helaian jilbab panjang yang menjuntai, selalu ada rahasia liar, basah, dan mengerikan yang tidak ingin, namun sangat dinikmati, oleh siapa pun.
Bersambung…
ns216.73.216.88da2


