From Short Story931Please respect copyright.PENANAnLfwCAN1zg
931Please respect copyright.PENANAi8aY0KCqWm
931Please respect copyright.PENANAnBNAKTEPmS
931Please respect copyright.PENANAYLax6u4zln
931Please respect copyright.PENANAiOinHUdumm
KOLEKSI CERITA GAY NAKAL LOKAL931Please respect copyright.PENANAWzAG30jI46
931Please respect copyright.PENANAWyrPeOLmvh
931Please respect copyright.PENANAhHHLIisvmJ
931Please respect copyright.PENANA7l1uvp22NP
931Please respect copyright.PENANAfVT3iuOcRR
by belok-sana-sini (cowokxcowok)931Please respect copyright.PENANAx5DjP5sqnS
931Please respect copyright.PENANAhAGKMn79Nu
931Please respect copyright.PENANAAhiRbu0eSx
931Please respect copyright.PENANAYQulFeJsGX
931Please respect copyright.PENANATGUTffQ6Jv
***931Please respect copyright.PENANA5jBc2DHxGs
931Please respect copyright.PENANAj0W3R1QVJ4
931Please respect copyright.PENANAXzBTuJNhWS
931Please respect copyright.PENANAWzaySNqgkc
Yoga pergi KKN ke desa Sekar Mulia bareng lima belas mahasiswa lainnya selama dua bulan. Selama di desa tersebut, mereka akan tinggal di rumah sang lurah, nama lurahnya Pak Purnomo.
Orangnya kelihatan ramah dan baik, meski udah kepala empat dan hampir setiap hari pergi ke ladang, tapi fisiknya masih kelihatan bugar banget, bahkan ia punya otot lengan dan perut yang sampai bikin anak-anak cowok dirombongan Yoga termasuk Yoga-nya sendiri speechless.
Awalnya semua kelihatan biasa aja, sampai Yoga mulai sadar kalau setiap Pak Purnomo ngomong, ia selalu terpana sama cara ngomongnya dan gerak-geriknya. Rasanya kayak dulu pas Yoga pertama kali naksir sama cowok.
Gak sampai di situ aja, setelah hampir seminggu tinggal satu atap sama Pak Purnomo. Yoga juga sadar kalau setiap Pak Purnomo ngobrol cuma berduaan doang sama Yoga. Pak Purnomo suka cari-cari kesempatan buat pegang-pegang dia.
Entah cuma pegang pundak, tangan, atau bahkan paha. Pernah juga pas Yoga lagi kencing di kamar mandi rumah mereka dan Purnomo tiba-tiba datang ikutan kencing di samping Yoga, Purnomo ngelirik-lirik penis Yoga sambil ngajak ngobrol ke arah mesum.
Alih-alih risih, Yoga malah kesenangan, soalnya ternyata yang menaruh hati di sini bukan cuma ia seorang. Jadi pas Purnomo ngajak ngobrol kayak git sambil kencing terus tangannya mulai grepe-grepe penisnya, Yoga diam aja sambil pura-pura polos padahal udah sange berat.
"Gimana tadi KKN-nya? Capek gak? Kalau capek, gini-gini saya bisa ngurut loh," kata Purnomo sambil mesam-mesem pada Yoga. Tangannya sendiri masih dipenis Yoga, awalnya dia urut pelan-pelan gitu, tapi lama-kelamaan jadi diremas.
Yoga-nya yang udah sadar jelas-jelas lagi dirayu malah tersipu malu sambil jawab manja, "Saya gak pernah kerja kasar, sih, jadi badan lumayan pegal-pegal, Pak."
Purnomo makin mendekatkan badannya ke Yoga. Sebelum itu, tangannya yang satu lagi sempet meraih gagang pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
"Waduh, kalau gak cepet-cepet diurut, bisa bahaya itu. Masih muda harus ekstra jaga kesehatan."
Purnomo memojokkan Yoga di dinding kamar mandi. Sekarang wajah keduanya begitu dekat, belum lagi Yoga yang ngerasain keenakan gara-gara penisnya diurut tangan Purnomo yang kasar.
Pipi sampai daun telinga Yoga memerah ketika Purnomo mulai meraba-raba pantatnya.
"Jadi gimana, mau saya urut gak?"
Yoga mengigit bibir bawahnya menimbang bimbing. Kalau ia terima, Yoga sama aja udah bikin rumah tangga orang lain hancur, belum lagi Purnomo udah punya dua anak, satu udah SMA satunya lagi masih SD. Tapi kalau ia tolak, mungkin aja Yoga bakalan nyesel seumur hidup, apalagi dia cuma dua bulan di sini. Belum lagi sekarang Yoga sendiri udah gak tahan pengen disodok. Kalau dilihat-lihat, Purnomo orangnya pinter main.
Lagi-lagi Purnomo ngeremas belahan pantat Yoga yang berisi dan kencang sampai Yoga gak tahan buat gak ngedesah, terus ketika mulutnya Yoga terbuka, tanpa izin Purnomo langsung cium bibirnya sekilas tapi mantap banget. Yoga sampai kaget sendiri.
Dia membekap mulutnya yang tadi dicium Purnomo. Purnomo senyum-senyum sendiri ngelihatin Yoga dari dekat.
Entah kenapa jantung Yoga rasanya deg-degan ketika berada di situasi terjepit seperti ini dengan Purnomo.
"Pak Purnomo, saya boleh minta dicium sekali lagi gak?" minta Yoga.
Wajah Purnomo langsung sumringah. "Jangan panggil pak dong, kalau lagi berduaan begini, panggil saja saya Mas Purnomo." Purnomo lalu menempelkan bibirnya dengan bibir Yoga yang sudah haus belaian.
Yoga semangat banget obok-obok isi mulutnya Purnomo dan mengigit bibirnya kecil-kecil sampai dia kalungin tangannya di leher Purnomo.
Belum lagi kumis dan jenggot tipis Purnomo yang berwarna silver itu menggesek-gesek wajah Yoga sampai bikin kegelian. Tapi justru itu yang bikin Yoga ketagihan ciuman sama Purnomo. Rasanya ada sesuatu yang aneh yang bikin nagih dan Yoga ingin terus merasakan sensasi itu.
Setelah perang lidah selama beberapa menit lamanya sampai bibir pegal, Purnomo mengakhiri cumbuannya. Yoga mendongakkan kepalanya untuk memberi akses pada Purnomo yang kini mulai menciumi leher Yoga, menjilatinya dan menggigitnya kecil-kecil.
"Ahh Mas Purnomo, ahh ah." Badan Yoga panas, ia benar-benar bejek ingin segera dibuahi.
"Dek Yoga suka lehernya dijilatin Mas Purnomo kayak gini?" Purnomo memeluk pinggang Yoga dari depan sementara Yoga sendiri kini membusungkan dadanya keenakan.
Yoga mengangguk, sementara pandangannya sudah semakin berkabut.
Ketika jilatan Purnomo pada leher Yoga berhenti. Yoga lantas menarik dagu Purnomo dan mencium bibirnya sekali lagi. Wajah mereka begitu dekat. Saat itu, baik Yoga mau pun Purnomo, keduanya saling jatuh cinta.
"Mas Purnomo," kata Yoga lemah. Saat itu Purnomo senang sekali mendengar suara Yoga yang memanggilnya 'mas'.
"Iya, kenapa Dek Yoga? Mau minta dicium sama Mas lagi?" Purnomo tersenyum lebar. "Lubangnya Dek Yoga mau Mas bikin makin becek gak sama mulutnya Mas?"
Yoga tersenyum simpul sambil menahan gemetar. Omongan nakalnya Purnomo makin bikin Yoga sange. "Bukan. Tapi itu loh, burungnya Mas Purnomo dari tadi nempel di selangkanganku. Bikin aku geli."
Ini yang jadi keresahan Yoga dari tadi. Dia gak bisa melihat penis Purnomo terang-terangan, tapi penis itu malah menempel pada kulitnya, yang kalau dia tebak, ukurannya juga pasti lumayan gede. Kalo itu masuk ke mulutnya, pasti bakalan penuh banget dan bikin dia keenakan. Apalagi kalo sampe masuk ke anusnya...
Purnomo malah sengaja menggesek-gesek penisnya sambil senyam-senyum jenaka; menggoda daun muda di depannya.
"Maaas! Ahh, ahh." Yoga udah gak tahan. Ia bahkan meremas bahu Purnomo untuk mengalihkan sensasi itu.
"Burungnya Dek Yoga senang gak sama burungnya Mas Purnomo?" Purnomo memegang penisnya dan menempelkannya pada penis mungil Yoga yang tegang.
"Ah, ahh. Mas, jangan gitu, ahh! Ah."
Saat itu Yoga melirik ke bawah, ternyata emang penisnya Purnomo 2x lipat lebih besar dari miliknya, juga warnanya yang kehitaman dan ditumbuhi bulu-bulu putih di sekitar buah zakarnya yang semakin menambah naik libido Yoga untuk minta disodok.
Dengan pandangan berkabut, Yoga berkata, "Mas Purnomo mau gak burungnya Mas aku bikin seneng?"
Yoga nyerah, ia udah gak tahan pengen ngerasain pusakanya Purnomo. Masa bodo dengan moral dan etika. Menuruti hawa nafsunya saat ini jauh lebih penting.
"Mas ahh, aku ah aku udah gak tahan pengen cepet-cepet kamu masukin ah." Yoga menggesek-gesekkan penisnya dengan milik Purnomo seperti kucing birahi.
Penis Purnomo semakin menegang tegak ketika Yoga semakin menggodanya dengan kata-kata kotor dan desahan seksinya. Apalagi saat tangan Purnomo mengusap belahan pantat kenyal itu, betapa beceknya jalang dari ibu kota ini.
Dengan semangat tempur, Purnomo ngomong, "Mau dong, Dek. Burungnya Mas mau banget dibikin seneng -"
Brak! Brak! Brak!
Tiba-tiba pintu toilet digedor dari luar.
"Siapa, ya, di dalam? Dari tadi gak keluar-keluar, aku kebelet, nih."
Itu suara anak bungsunya Purnomo.
Sambil menahan kesal, Purnomo berteriak, "Ini bapak yang di dalam, kamu tunggu sebentar, ya."
"Bapak ngapain aja, sih, di dalam? Lama banget."
Yoga buru-buru memakai celananya kembali dengan benar. Diikuti Purnomo. Yoga membasuh wajahnya dengan air dingin agar wajahnya tak terlihat terlalu merah.
Ketika Purnomo membuka pintu kamar mandi, Tika - anak bungsunya Purnomo - melihat ayah dan kakak mahasiswa yang keluar dari dalam kamar mandi secara bersamaan dengan tatapan kaget.
"Lah, dari tadi Bapak sama-sama Kakak ini di dalam-"
"Udah, udah. Katanya kamu lagi kebelet, sana masuk!" omel Purnomo.
Seketika Tika lupa dengan apa yang ingin dikatakannya tadi dan langsung masuk ke kamar mandi.
Yoga membenarkan anak rambutnya yang berantakan. Terus pas Purnomo tiba-tiba nyium bibir Yoga, Yoga kaget banget dong dan refleks ngedorong dada Purnomo.
"Mas, jangan di sini," bisiknya.
"Lagi gak ada siapa-siapa," kata Purnomo manja, lalu lanjut nyosor lagi.
"Siapa bilang? Buktinya tadi tiba-tiba ada anakmu? Kalau istrimu sama temen-temenku tiba-tiba muncul dan pergoki kita, gimana?" Yoga melirik ke sana ke mari dengan waspada.
"Terus yang tadi gak dilanjutin?" Jujur deh, Purnomo sekarang tersiksa banget gara-gara penisnya yang udah on fire tiba-tiba dipaksa tidur, padahal tinggal sedikit lagi masuk.
"Burungku sendiri juga sakit karena gak jadi ketemu sama burungnya, Mas. Tapi gak sekarang dan di sini juga kali." Lalu Yoga pergi meninggalkan Purnomo yang lagi merajuk.
"Dek Yoga. Mas tunggu goyangan aduhaimu, Dek."
***931Please respect copyright.PENANArzM43ztUnp
931Please respect copyright.PENANA0wGMmFIPwl
931Please respect copyright.PENANANUrrNhMCKY
931Please respect copyright.PENANAgvR91znY6O
Setidaknya seminggu setelah kejadian panas di kamar mandi itu. Baik Yoga sama Purnomo masih sering diam-diam bermesraan kayak tiba-tiba nyenggol badan, tiba-tiba bercanda yang akrab banget, tiba-tiba jalan bareng, tapi cuma sampe di situ, kayak kebanyakan ABG lagi kasmaran. Soalnya kalau mau lebih pun juga susah karena di sekitar mereka selalu ada orang lain yang ganggu.
Sampai malam Minggu. Biasanya setiap malam Minggu orang-orang di desa Sekar Mulia akan berkumpul di satu tempat yang namanya udah keluar di arisan Minggu sebelumnya, tujuannya untuk tahu pengajian Minggu berikutnya akan diadakan di rumah siapa.
Nah, Minggu ini pengajiannya ada di rumah Bu Maya, kalau dari rumahnya Pak Purnomo, jaraknya lumayan jauh karena rumahnya Bu Maya itu ada di ujung desa.
Anak-anak KKN lainnya waktu itu ikut pergi ke pengajian juga, soalnya malam Minggu biasanya juga ikutan karena di ajak Bu Ani kan, istrinya Pak Purnomo. Apalagi anak-anak diiming-imingi kalau suguhannya ada bakso, besek, dan macam-macam, sekalian bantu-bantu dan dapat pengalaman rewang di desa.
Yoga sendiri semangat buat ikut, tapi Purnomo udah nge-SMS dia duluan kalau ia bakalan nyelinap kabur dari mereka biar bisa berduaan sama Yoga. Apalagi tempat pengajiannya jauh terus acaranya dimulai dari jam tujuh sampai jam setengah sebelas malam. Jadi, malam itu Yoga pura-pura lemes gara-gara sakit perut, jadi ia gak bisa pergi deh.
"Mau gue temenin gak?" kata Zainal.
Yoga yang lagi rebahan di sofa menggeleng. "Gak usah, lo pergi aja bareng anak-anak, gue palingan juga cuma tidur, kok."
"Gue ngerasa gak enak sama lo."
"Apa sih, kek gue mau ditinggal ke Jakarta aja. Orang cuma sakit perut juga."
Lalu Bu Ani datang dengan minyak kayu putih ukuran jumbo dan diberikan pada Yoga. "Nak Yoga, olesi perutnya pakai minyak ini biar agak mendingan. Gak bau kok, baunya enak malahan."
Yoga menerima minyak kayu putih itu dengan enggan. "Makasih, Bu. Duh, maaf ya, jadi ngerepotin gini saya."
Zainal melirik minyak kayu putih yang diberikan pada Yoga. "Ini di rumah saya juga selalu stok, enak baunya terus anget."
Yoga jadi ngerasa gak enak sama mereka karena udah bohong. Tapi setelah sekitar setengah jam mereka semua pergi dan tiba-tiba Purnomo masuk ke dalam rumah dengan wajah sumringah. Yoga yang lagi bete sambil main HP seketika dibuat deg-degan, padahal sebelumnya dia lagi asyik baca AU gay di Twitter (ceritanya tentang Itoshi Rin yang dibikin keenakan sama Isagi Yoichi).
Rasa bersalah yang sebelumnya sempat ia rasakan pada anak-istri Purnomo dan teman-temannya mendadak sirna, tergantikan dengan perasaan senang karena bisa berduaan dengan orang yang lagi ia sukai.
"Mas Purnomo ♡"
Purnomo udah kunci pintunya setelah masuk rumah, biar gak ada drama tiba-tiba digrebek warga pas lagi enak-enaknya ngegenjot lubang pujaan hatinya.
Ketika ngebayangin kalau mereka berdua bakalan mesra-mesraan, libido Purnomo tiba-tiba naik sampai bulu kuduknya merinding. Kalau ngebayangin daun tua kayak ia bakalan ngegagahin daun muda seperti Yoga, rasanya Purnomo kayak udah menangin lotre. Surga dunia benar-benar ada di depannya.
Dengan langkah buru-buru, Purnomo menghampiri Yoga yang ada di sofa. Ia lalu duduk di samping Yoga dan langsung mencium bibir pemuda itu beringas. Kayak kucing yang udah gak makan sebulan. Bahkan Yoga pun sampai kewalahan dengan nafsu birahi Purnomo yang melebihi kaum muda ini. Tapi gak apa-apa, cumbuan Purnomo begitu nikmat apalagi saat kumis tipis itu mengenai wajahnya. Sensasi geli bercampur nikmat menjadi kenangan indah baginya.
Dengan cepat Yoga beradaptasi, ia mengalungkan tangannya dileher Purnomo dan menerima semua cumbuan Purnomo dengan mata terpejam dan membalasnya. Mengikuti ritme permainan lidah Purnomo yang andal, lebih andal dari pacar-pacar Yoga dahulu. Inikah rasanya bercinta dengan pria matang? Yoga janji malam ini ia akan ketagihan.
Yoga mendesah pasrah, ia benar-benar gak tahan buat gak ngedesah ketika Purnomo sedang memperlakukannya dengan istimewa seperti ini, dan itu bikin Purnomo makin semangat menjamah setiap jengkal tubuh segar Yoga.
Tubuh mereka berdua mulai panas, begitu pun dengan ritme cumbuan itu yang semakin intim dan nakal. Selangkangan Yoga perlahan sakit dan terasa tegang, lendir-lendir mulai keluar dari anusnya sebagai pelumas alami; siap untuk dibuahi.
"Shh ah Mas Purnomo jangan di sini, ahh ah."
Yoga mendesah-desah dengan tubuh gemetaran ketika Purnomo berusaha melebarkan kakinya, tapi Yoga malah menutupi selangkangannya dengan dua tangan.
"Jangan di sini, Mas." Yoga masih sadar kalau mereka masih di depan TV di atas sofa. "Aku takut kalau ada yang ngintipin kita dari jendela, ahh ah. Pindah tempat, yuk."
Purnomo menciumi leher Yoga yang putih mulus dengan rakus sampai basah oleh liurnya dan berbunyi clap clap clap.
"Kalau di kamarnya Mas gimana?" kata Purnomo yang makin sange.
"Emang gak apa-apa kalau kita ngelakuinnya di kamar, Mas? Itu, kan, kamarmu sama istrimu?"
"Gak apa-apalah, gak usah dipikirin." Ciuman Purnomo turun ke dada Yoga, dia menarik kerah baju kemeja Yoga agar turun dan melepaskan kancingnya satu per satu dengan mulut.
Yoga mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, udah benar-benar gak tahan pengen meledak sambil digenjot.
"Ahh, kalau gitu aku mau, Mas, ahh ahh!" Yoga kaget banget pas Purnomo langsung ngegendong ia tanpa basa-basi dan ngebawa ia masuk ke kamarnya.
Purnomo juga langsung ngekunci pintu kamar tersebut dan langsung baringkan tubuh Yoga di atas kasur bersprei merah bunga-bunga dengan tubuhnya yang menindih tubuh Yoga.
Yoga merasa dihargai ketika Purnomo membaringkannya dengan hati-hati, padahal pacar-pacarnya dulu setiap kali mereka ngeseks pasti selalu ngebanting tubuh Yoga dulu ke kasur sampai ia pernah sakit pinggang. Kata mereka sih, Yoga makin kelihatan bikin sange kalau lagi kesakitan. Homo sinting!
Purnomo membelai wajah Yoga yang dimatanya begitu indah dan panas. Dia lalu melepaskan seluruh kancing baju Yoga dan membuang kain itu ke sembarang tempat, kini tubuh bagian atas Yoga telanjang. Purnomo memandangi pemandangan indah di bawahnya itu dengan liur menetes, seperti seekor serigala yang mendapati rusa kecilnya menyerahkan diri untuk dirinya santap bulat-bulat.
"Mas," panggil Yoga lirih.
Purnomo yang lagi melepas baju dan celananya sendiri menjawab, "Apa, Sayangku?"
Yoga malu sendiri ketika Purnomo memanggilnya seperti itu.
"Mas Purnomo mau aku nenenin gak?" Dia membusungkan dadanya. Memperlihatkan buah dadanya yang lumayan berisi dengan puting susu kecokelatannya yang berdiri keras.
Setelah menanggalkan sempaknya dan membiarkan penisnya bergelantungan. Purnomo naik ke atas ranjang menyusul Yoga dan langsung memeluk tubuh itu.
Purnomo mencubit kedua puting susu Yoga sampai bikin Yoga memekik kesakitan sekaligus keenakan. Purnomo menjilat-jilat puting itu sebelum mengulumnya secara bergantian sampai bikin Yoga belingsatan dan semakin membusungkan dadanya sensual.
"Mas, ahh ah, enak ahh Mas kenyot lebih cepet lagi, ahh, ah."
Setiap mulut Purnomo menyedot puting susu Yoga dan bikin bulu kumis tipisnya bergesekan dengan kulit Yoga, jiwa Yoga rasanya kayak lagi ditarik perlahan-lahan dari tempatnya sampai bikin ia lupa daratan.
Lidah Purnomo lalu turun ke perut datar Yoga, dia menjilati pusar Yoga dan menyedot-nyedotnya seperti yang ia lakukan tadi pada kedua puting susu Yoga.
"Ah ah, Mas Purnomo, ahh ah."
"Ya, Dek. Sabar ya, ahh ahh, susumu mau keluar Dek. Ahh ahh!"
"Mas, aahh ah, isep lebih kencang lagi ahh, ah."
"Ini mas isep, Dek. Prooott, ahh ah, enak, Dek."
"Ahh ah, enak Mas, enak ahh ah."
Setelah puas mempermainkan puting susu Yoga. Lama-kelamaan ciuman itu turun ke selangkangan di mana laki-laki itu masih menggenakan celana. Purnomo membuka kaki Yoga agar mengangkang, menurunkan resleting celananya di mana sesuatu di balik itu terlihat gundukan kecil yang keras. Yoga melirik kegiatan Purnomo dengan pandangan berkabut dan penisnya yang sudah berkedut-kedut.
"Mas, ohh ahh."
Yoga udah gak tahu lagi mau mendefinisikan perasaannya saat ini kayak gimana, yang jelas seluruh badannya terasa panas dengan sensasi aneh diarea intimnya.
Bukan berarti Yoga gak pernah ngelakuin seks sih, dia sering melakukannya, cuma aktivitas seksualnya kali ini dengan cowok yang hampir seusia ayahnya membuat Yoga merasakan pengalaman baru yang luar biasa.
Purnomo menelusupkan wajahnya ke selangkangan Yoga di mana penisnya masih terbungkus celana dalam tipis berwarna pink dengan pita kecil tepat di gundukan penis pemuda tersebut. Laki-laki berusia 47-an itu menghirup aroma penis Yoga sekuat-kuatnya, merasakan aroma nikmat yang semakin menaikkan libidonya. Hal itu tak acak juga mempengaruhi Yoga yang kini sampai harus mengigit tangannya sendiri demi mereda desahannya yang semakin menjadi-jadi.
"Mas ahh ahh jangan dulu Mas ah ahh." Yoga berusaha merapatkan kakinya ketika Purnomo dengan tergesa-gesa ingin melepas penghalang terakhir diantara mereka.
"Kenapa lagi, Dek? Mas udah gak tahan loh pengen cepet-cepet genjot kamu." Purnomo coba mengatur napasnya yang memburu. Penisnya yang udah berdiri tegak sejak tadi semakin berkedut-kedut sakit dan keras.
Seluruh wajah Yoga sampai dadanya memerah selayaknya udang rebus lantaran sensasi panas yang sejak tadi membakar tubuhnya.
"Mas Purnomo yakin mau ngelakuin ini sama aku?"
Yoga berusaha menahan kakinya agar tak mengangkang, padahal di dalam lubuk hatinya sendiri dia ingin segera mempersembahkan penisnya di wajah Purnomo agar laki-laki itu mengemutnya dan tergesek dengan kumis tipisnya yang kasar.
"Aku gak mau kalau sampai Mas nanti nyesel loh, aku juga gak mau kalo setelah ditiduri terus dibuang kayak sampah."
"Udah, buka aja celananya. Gak bakalan ada yang lihat ini selain saya, katanya kamu mau ngebikin burung saya seneng?" Purnomo membelai penis Yoga lembut. "Setelah tidur sama Dek Yoga, mana ada pria tua seperti saya menyesal. Yang ada ketagihan minta jatah terus sampai lupa segalanya."
Pelan namun pasti, Yoga membuka kakinya dibantu Purnomo yang meneteskan liurnya di atas celana dalam Yoga.
"Ta-tapi kalau ada yang lihat gimana, Mas? Aku kan masih kuliah, Mas juga udah punya keluarga."
"Udah lah, gak usah dipikirin, yang penting kita senang-senang dulu. Kamu gak lihat burungku udah berdiri karena pengen cepet-cepet masuk ke sarangnya?" Purnomo menggoyang-goyangkan penisnya di depan wajah Yoga, membuat wajahnya semakin merah dan panas.
Penis Purnomo benar-benar indah. Bentuk dan warnanya mirip terong, hitam panjang dan melengkung ke atas. Ujung kepala penisnya juga bulat sempurna dan mengkilat.
Dengan gemetaran, Yoga melepas celana dalamnya, lalu keluarlah penis berwarna cokelat muda yang sejak tadi sudah menegang kaku itu.
Purnomo seperti melihat emas batangan, matanya berbinar dan napasnya memburu. Dia langsung menggenggam penis Yoga begitu benda itu keluar dari tempatnya. Memasukkannya ke dalam mulutnya dan menjilatinya penuh kenikmatan.
Yoga dibuat merem-melek keenakan oleh tindakan Purnomo yang sedang melecehkannya saat ini. Selangkangannya semakin memanas dan menegang, sampai akhirnya dia menyemburkan air maninya di dalam mulut Purnomo yang menegak habis seluruh sperma Yoga tak tersisa.
Tangan kiri Yoga meremas sprei bunga-bunga itu kuat dengan bokongnya yang dia angkat naik tatkala Purnomo masih menelusupkan wajahnya di tengah selangkangannya. Sementara tangan kanannya sendiri dia sumpal ke mulutnya untuk menahan gejolak dahsyat yang meledak-ledak di dalam dirinya.
"Mas, ahh ahh, seponganmu enak banget Mas, ahh ah." Kepala Yoga dibuat pusing melayang-layang.
Tapi Purnomo belum puas, apalagi ketika tadi melihat Yoga ejakulasi, semakin menaikkan libidonya.
Dengan lembut, Purnomo mengangkat kaki Yoga, menaruhnya di atas pundaknya dan membuat selangkangan Yoga semakin lebar terekspos. Purnomo lalu memposisikan penisnya yang sudah berkedut-kedut itu di tengah lubang anus Yoga yang sudah basah.
"Dek Yoga, lubangmu udah basah banget, Dek." Purnomo menampar-namparkan penisnya di depan anus Yoga yang udah becek oleh lendirnya sendiri. "Mas masukin burungnya Mas ke sarangmu yang becek dan sempit ini, ya."
Sambil melihat kelakuan nakal Purnomo yang menggodanya, Yoga mengigit bibirnya sekuat mungkin agar tak mendesah terlalu keras.
"Iyah ah ahh masukin, Mas. Ahh, masukin aku kontolmu yang udah keras banget itu, ahh." Yoga semakin membusungkan dadanya horni. "Aah Mas ahh perkosa aku Mas, perkosa aku ahh, ah!"
"Sabar, ya, Dek, ya. Mas bakalan bikin kamu keenakan sama burung kesayangannya Mas mu ini." Dengan pelan, Purnomo memasukkan kepala penisnya ke lubang anus Yoga yang sempit. "Eengghh!"
Dia mengejan ketika penisnya begitu sulit untuk masuk ke lubang Yoga karena terlalu sempit, namun begitu kepala penis itu akhirnya dapat masuk, tanpa menunggu lebih lama lagi, Purnomo langsung melesakkan seluruh batang penisnya ke dalam anus Yoga, di dalam sana rasanya licin dan sempit. Anus Yoga menjepit penis Purnomo dengan ketat sampai laki-laki berkepala empat itu kesulitan mengatur napasnya yang memburu.
"Aungghh, Mas, ahh, sakiiit, ah ah." Yoga belingsatan, anusnya terasa sakit tapi juga enak.
Apalagi ketika bulu-bulu kemaluan Purnomo yang cukup lebat menempel ke selangkangannya yang bersih dan mulus. Yoga rasanya kayak disengat listrik yang bikin dia kegelian sekaligus keenakan. Jiwa Yoga rasanya kayak mau keluar, ia gak pernah nyangka penis pria tua akan terasa seenak dan sepenuh ini di dalam lubang rakusnya.
"Ahh, kamu legit banget, Deeek. Eughh! Aughh!" Purnomo mulai memaju-mundurkan penisnya di dalam lubang anal Yoga. "Lubang becekmu rasanya enak banget, Dek Yoga. Becek, tapi sempit. Ketat, tapi licin. Ahh ah, ahh, enakk eughha ahh ah."
"Mas, ahh ahh, eugh Mas, ahh."
Tubuh Yoga terhentak-hentak oleh permainan seks Purnomo, apalagi kini perutnya terasa digelitiki oleh ratusan kupu-kupu yang makin membuat lubangnya semakin becek dan haus akan kontol pejantan yang tengah mengawininya.
"Maaaass Purnomo, ahh ahh yah, di situ Mas, ahh ah sodok aku lagi dibagian itu, ahh ah. Enakk euhhh ahh ahh, enak Mas, ahh ahh." Tangan Yoga ikut mengocok penisnya sendiri yang terguncang-guncang ke sana ke mari. "Euhhh ahh ahhh, ahhh enghhh!"
Purnomo terus menghujani lubang Yoga yang sudah semakin longgar dengan penisnya yang kesetanan menghajar lubang surgawi becek yang membuatnya lupa diri itu. Ranjang tua yang telah berusia 20 tahun itu terguncang dan berderit-derit akibat menampung dua sejoli yang tengah dimabuk asmara.
Di tengah-tengah kegiatannya menyodomi daun muda di bawahnya itu, Purnomo meraup bibir Yoga, memasukkan lidahnya ke mulut mahasiswa yang kini analnya tengah dia hajar habis-habisan dan mencumbunya sampai kehabisan napas. Sambil terus menggenjotnya sampai kamar itu cuma terisi suara desahan keduanya dan bunyi plok plok plok yang mengganggu.
"Mass Purnomo, oohh ahhh ah kontolmu enak banget Mas, ahh ahh eughhh ahh, ahh!"
Mulut Yoga yang udah selesai dikokop Purnomo terus-menerus meracau diselingi desahan, bibir tipis yang kini bengkak kemerahan itu masih aja terbuka sambil menjulurkan lidahnya kayak seekor anjing.
"Sodok aku lebih cepet lagi Mas, ahh ahh. Mas Purnomo ahh euhhh, ahh, ah. Kontolmu enak Mas, eughhh euhh." Otot-otot Yoga mulai menegang. "Mas aku ahh ahh buntingin aku, Mas! Ahh ahh ah euhh! Aku mau bunting benihmu, Mas, ahh ahh."
Purnomo mempercepat sodokannya. "Deeek Yoooga, ahh, eughhh, kontol Mas pasti bakalan buntingin kamu Dek, ahh ah."
Tubuh Yoga semakin menggelinjang ketika Purnomo menyemprotkan seluruh spermanya ke dalam lubang anusnya. Saking banyaknya yang Purnomo semprotkan, perut Yoga rasanya sampai penuh banget.
"Euughhh ahh, ahh." Giliran Yoga yang ejakulasi, air maninya menyemprot ke atas perutnya sendiri seperti air mancur.
Purnomo menurunkan kaki Yoga yang sejak tadi mengangkang di atas pundaknya. Ia mencabut penisnya yang sudah lemas itu dari lubang Yoga, seketika maninya yang putih kental nan hangat itu berjubelan keluar dari anus Yoga, mengotori sprei bunga-bunga yang sudah kusut.
"Ahhh ahh aah!" Yoga dan Purnomo mendesah panjang bersamaan.
Tangan kasar Purnomo meraup spermanya yang masih betah di dalam lubang Yoga dan mengoleskan sperma tersebut ke atas perut Yoga, meratakannya dengan sperma milik Yoga sendiri sampai licin dan mengkilat.
Yoga horni lagi melihat kelakuan random Purnomo.
"Ahh Mas Purnomo, makasih buat pejuhmu yang kental dan banyak itu."
Purnomo kembali mencolek spermanya di lubang anus Yoga dan mengoleskannya dibibir pemuda itu, dengan wajah penuh keringat Yoga menjilat sperma milik Purnomo dibibirnya, sekaligus dengan jempol tangan Purnomo yang ia tahan dengan mulutnya.
"Mas Purnomo ngomong sesuatu, dong," rengek Yoga manja.
Purnomo tak bisa melepaskan matanya dari tubuh Yoga yang begitu menggoda, tubuh mulus yang sedang berbaring mengangkang di atas kasurnya ini benar-benar jatuh ke dalam pelukannya dan ia bahkan habis menggagahinya.
"Ngomong apa lagi, Dek? Hmm?"
Penis Purnomo yang udah lemes tiba-tiba kembali turn on ketika dengan seksi Yoga mengemut jempol tangan Purnomo.
"Kamu benar-benar mau Mas buntingin, ya?"
Yoga tertawa kecil ketika merasakan penis Purnomo kembali berdiri di antara selangkangannya yang masih ngangkang, juga lubang anusnya yang habis dihajar masih menganga lebar.
"Kalau Mas Purnomo emang bisa, coba aja entot aja aku sampai aku bunting?" Yoga mengigit jempol Purnomo main-main; menantangnya.
Purnomo merasa tertantang. Plak! Ia lalu menampar bokong Yoga sebelum akhirnya kembali melesakkan seluruh batang penisnya ke lubang becek Yoga dalam sekali sodok.
"Aahhh, Maaass!"
Malam itu menjadi pengalaman seks paling panas bagi Yoga selama jadi gay. Sekaligus membuat laki-laki yang telah berkeluarga jatuh hati padanya.931Please respect copyright.PENANAWofNv0MonG
***931Please respect copyright.PENANAbU8l0Cydf7
931Please respect copyright.PENANAFN3BJw036v
931Please respect copyright.PENANAuwxcXzHoFM
931Please respect copyright.PENANAV0Emu2W0nw
Ibu Ani beserta kedua anaknya dan mahasiswa-mahasiswa lain pulang pukul sepuluh malam.
Sementara Yoga dan Purnomo mau gak mau menyudahi aktivitas seksual mereka pukul setengah sepuluh, itu pun Purnomo harus membereskan sisa-sisa percintaan mereka dulu di kamar itu kalau gak istrinya bisa-bisa curiga. Yoga gak bisa ngebantuin karena ia terlalu lelah setelah anusnya dihajar habis-habisan sama kontolnya Purnomo sampai ia hampir gak bisa jalan.
Ketika orang-orang sudah kembali, Yoga beneran tidur di sofa di depan TV tadi dengan selimut tipis akibat terlalu lelah melayani nafsu bejat Purnomo. Zainal yang melihat Yoga kedinginan merasa kasihan dan ia yang tahunya kalau Yoga lagi sakit, diam-diam memberikan selimutnya sendiri untuk Yoga.
Besoknya, baik Purnomo dan Yoga pura-pura bersikap seperti biasa saja, padahal dalam hati, setiap kali tak sengaja berpapasan satu sama lain, bayangan malam panas yang keduanya lalui kemarin malam masih terbayang-bayang sampai bikin penis Purnomo menegang sakit dan anus Yoga berkedut-kedut mengeluarkan lendirnya.
Selama beberapa Minggu tersisa Yoga KKN di desa Sekar Mulia yang dipimpin oleh Purnomo sebagai lurahnya. Purnomo selalu curi-curi kesempatan untuk meremas bokong Yoga.
Yoga sendiri juga jalang dan udah ketagihan disodok Purnomo, jadi ia sering banget ngirim pap lagi onani sambil nusuk anusnya sendiri pakai jari ke Purnomo dengan caption nakal kayak:
Mas aku kangen kontolmu.
Mas aku mau kamu perkosa aku.
Mas kapan burungmu mau main ke lubangku lagi.
Mas Purnomo aku udah becek banget.
Mas kapan kamu buntingin aku.
Mas lubangku gatel banget, aku butuh kontolmu.
Selalu dikirimin pap kayak gitu siapa yang gak gila coba?!
Jadi waktu ada kesempatan, Purnomo langsung bawa Yoga ke tempat sepi. Waktu itu anak-anak lain lagi sibuk ngurusin ini itu, hari itu Bu Ani juga sibuk ngurusin PKH kan karena ia ketuanya. Sementara anak-anaknya sendiri lagi sibuk sekolah.
Waktu itu cuma Yoga yang waktunya agak longgaran dikit, di depan dua temennya Yoga. Mega dan Gamma, Purnomo bilang ke Yoga kalau ia butuh bantuan buat bantuin dia ngurusin ladangnya.
Yoga langsung ngeh kalau ini modusnya Purnomo, jadi ia bilang gini ke Mega sama Gamma, "Kalian gak apa-apa gue tinggal berdua aja?"
"Gak apalah, kalau cuma nyiapin barang doang, berdua aja juga cukup," kata Gamma.
Mega mengangguk. "Lo bantuin Pak Purnomo aja, gih. Ingat kita numpang di rumahnya, sono bales budi."
Yoga tersenyum. "Kalau kalian oke, ya udah. Gue bantu-bantu Pak Purnomo dulu di ladang."
"Hati-hati lo, Yog. Lo, kan, takut ular."
Gamma cuma bercanda, tapi ular yang terbayang dikepala Yoga justru ular hitam yang bersembunyi diselangkangan Purnomo. Ular hitam yang bikin ia ketagihan disodomi sampai menjerit-jerit keenakan.
"Sialan lo, Gam!"
Yoga pergi naik motor dengan dibonceng oleh Purnomo. Pas berangkat posisi duduk Yoga biasa aja, setelah di jalan raya, di mana orang-orang udah gak ngelihatin mereka. Yoga memajukan bokongnya agar menempel dengan pantat Purnomo, Yoga pun juga udah gak malu-malu lagi buat merengkuh pinggang Purnomo dan memeluknya dari belakang dengan menempelkan dagunya dibahu Purnomo.
Purnomo yang melihat kelakuan Yoga cuma bisa senyum-senyum, dalam hati merasa beruntung banget bisa menaklukkan daun muda secakep Yoga diusianya sekarang.
Sesampainya di ladang, di tengah tanaman jagung yang telah tumbuh setinggi bahu orang dewasa, ketika telah memastikan bahwa di tempat itu tak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua.
Purnomo langsung menarik pergelangan tangan Yoga yang jalan di depannya, membawanya ke dalam dekapannya, lalu meraup bibir tipis itu dengan bibirnya. Dalam ciuman mereka, Yoga tersenyum puas. Ini yang ia nanti-nantikan sejak lama. Dengan semangat, Yoga membalas ciuman Purnomo sambil mengalungkan kedua tangannya dileher laki-laki tua itu.
Purnomo memasukkan lidahnya ke dalam mulut Yoga, mengobrak-abrik lembut lidah dan gusi kekasihnya. Kedua tangannya pun tak tinggal diam, Purnomo dengan aktif meremas-remas pantat Yoga yang semok. Menusuk-nusukkan jari-jarinya ke dalam anus Yoga yang masih terbungkus celana.
Lama-kelamaan tangan Purnomo semakin nakal karena menelusup masuk ke dalam celana Yoga dan meremasnya dari dalam, menutup lubang anal Yoga yang mulai basah dengan kesepuluh jarinya yang kasar, memberikan sensasi geli pada Yoga yang kini sedang berusaha membalas ciuman Purnomo yang brutal dan membuatnya kewalahan.
Perut Yoga diisi kupu-kupu, rasanya geli, nikmat, dan candu. Apalagi ketika sensasi dingin terkena angin kala Purnomo melorotkan celananya hingga membuat bokong Yoga yang mulus dan sintal terekspos di tempat terbuka tanpa seinchi pun penghalang.
Purnomo melepaskan pagutan mulut mereka sambil masih mengelus-elus bokong Yoga. Keduanya saling bertatapan penuh nafsu.
"Dek Yoga, Mas udah sange banget nih. Langsung Mas tusuk aja, ya, lubangmu?"
Yoga mengigit bibir bawahnya menahan nafsu. "Tusuk lah, Mas. Mas kan yang bikin aku becek, Mas juga dong yang harus tanggung jawab."
Purnomo seneng banget sama Yoga. "Aduhh, Dek. Kamu manis galak banget, Mas Purnomo jadi makin cinta."
Yoga mendekatkan selangkangan mereka. Menggesek-gesekkan penisnya dengan penis Purnomo yang telah menggunduk sejak di atas motor tadi.
"Cinta gak bikin aku kenyang," katanya. "Mas Purnomo, kan, udah janji bakalan ngebuntingin aku." Wajah cemberut Yoga bikin ia makin terlihat manis.
Purnomo benar-benar dibuat birahi sama Yoga. "Mas bikin kamu gak bisa jalan gara-gara kontolku kamu, Dek!"
Purnomo langsung melepaskan celananya, mengeluarkan penisnya yang kecokelatan yang telah berdiri tegak dan mengeras.
Meski ini bukan pertama kalinya bagi Yoga melihat penis Purnomo yang gagah perkasa, tapi ia masih saja melotot melihat betapa benda kecokelatan itu sangat menggoda dan panas.
"Burungmu gagah banget, Mas." Yoga mengelus penis Purnomo kagum. Ternyata kalo dilihat saksama, setelah Purnomo makin sange, kejantanannya jadi membesar melebihi besar pergelangan tangan Yoga.
"Gede, kan, Dek?" kata Purnomo bangga.
Dengan malu-malu Yoga jawab, "Gede banget, Mas."
"Adek suka?"
"Kontol gak bikin kenyang." Yoga lalu melet ngeledek.
"Tapi kontol Mas bikin lubangnya adek puas, loh. Hayoloh," balas Purnomo menggoda.
Hati Yoga gimbira sekali. "Apa, sih. Mesum banget, deh, mulutmu, Mas."
"Ehh, jangan salah. Ini mulut yang bikin mulutmu keenakan sampe minta dikokop terus." Purnomo menarik-turunkan alisnya.
"Mas." Yoga memeluk Purnomo manja. "Aku jadi makin becek kalau ngebayangin kontolmu yang gagah perkasa ini bakalan ngebuntingin aku, deh," katanya. "Perutku nanti bakalan ada anakmu, hasil kerja keras kamu nunggangin aku diam-diam gini."
Itu gak mungkin sih karena ini bukan cerita mpreg. Tapi kata-kata nakal semacam itu, benar-benar bisa bikin tingkat antusias nafsu mereka bertambah dan Yoga mau pun Purnama menikmati percakapan kotor semacam ini. Kalau dipikir-pikir istrinya Purnomo pasti tidak akan bisa melayani Purnomo seperti yang Yoga lakukan padanya. Mungkin karena alasan itu juga, Purnomo memilih selingkuh dengan seorang pria. Sebuah pengalaman baru yang kini membuatnya mabuk kepayang.
Yoga lalu berbalik dan menyodorkan lubang bokongnya yang berwarna pink ke kepala penis Purnomo yang mirip jamur, berwarna hitam kecokelatan dengan otot-otot tebal yang membuatnya tampak lebih perkasa. Bayangkan sebuah pisang raja utuh yang telah diolesi cokelat dan mengering, lalu ada buah persik segar yang baru dibuka. Letakkan pisang cokelat tersebut di atas persik dan olesi susu putih kental. Gesekkan pisang cokelatnya dengan buah persik. ◜‿◝
Purnomo dibuat merinding menahan nafsunya yang meluap-luap. Ia lalu memegang kedua pipi pantat Yoga dan memposisikan penisnya di lubang Yoga yang sudah kelihatan becek dan berkedut-kedut. Purnomo meludahi anal dan penisnya sendiri sebelum akhirnya melesakkan seluruh batang penisnya masuk ke dalam lubang surgawi Yoga yang selalu membuatnya melayang-layang.
"Eunghh, ahh, Mas Purnomo kasar, ahh!" Lubang Yoga terasa penuh, ia gak bisa berhenti mendesah. "Ahh ahh, Mas Purnomo. Sakiiit, pelan-pelan aja Mas, ahh! Ahh ahh, euhhh euuhh aku bisa gila cuma gara-gara kontol itemmu Mas, ahh ah!"
Tapi Purnomo menyodomi Yoga seperti seseorang yang udah lama gak ngeseks. Benar-benar brutal sampai tubuh Yoga terhentak-hentak hebat dan di ladang itu cuma terdengar suara plok plok plok kulit mereka yang saling bergesekan, serta suara desahan laknat Purnomo dan Yoga yang sedang dimabuk cinta.
"Dek Yoga, lubang surgamu sempit empuk banget, Dek! Ahh ahh, burungnya Mas kamu jepit ketat banget sampai susah gerakinnya, ahh ah enak banget memekmu, eughhh ahh."
Setiap kali Purnomo menyodok prostat Yoga, mata Yoga melotot kayak mau loncat dari tempatnya. Rasanya kayak lagi dihantam dua penis sekaligus, padahal cuma satu penis, itu pun dari seorang laki-laki berusia 47 tahun. Apa Purnomo memang seperkasa ini hingga membuat Yoga yang masih segar bugar kewalahan?
Oh, betapa beruntungnya Yoga kalau bisa dikawini Purnomo setiap saat sampai lemas gak bisa jalan. Sambil terus terhentak-hentak menerima sodokan di area belakang tubuhnya, pemuda itu jadi membayangkan ia dan Purnomo ngeseks di tempat umum gila-gilaan sambil dilihatin oleh orang-orang. Kamera ponsel menyala untuk merekam tubuh telanjangnya, cowok-cowok lain antre menunggu giliran untuk dapat memperkosanya. Sementara ia, mulut dan lubang anusnya keenakan menyedot penis-penis itu...
"Gila banget, eughhh ahh ah, Mas aku mau pipis ahh, ahh, udah diujung ahh ahh." Yoga merem-melek merasakan perutnya terus digenjot.
"Ahh, ahh, iya sabar Dek, kontolnya Mas masih keenakan, sabar ya, ahh aughh ahh ah."
Yoga meremas bahu Purnomo. "Eughh euhh ahh, ahh, ahh, Mas aku udah gak tahan, ahh ahh!"
Kepala Yoga dibuat pusing seperti mengonsumsi dopamin setiap kali Purnomo memujinya dengan mulut nakal dan penisnya yang mengobrak-abrik lubangnya ini tanpa ampun.
"Aahh, ahh eughhh, ahh. Dek Yoga, lubangmu enak banget, Dek. Ahh ah!"
Saking mantapnya genjotan Purnomo, Yoga sampai menangis keenakan. Belum lagi wajahnya yang udah merah banget itu gara-gara disodomi di tempat terbuka seperti ini. Kemungkinan ada orang lain yang mempergoki perbuatan mesum mereka besar banget, tapi justru itu yang membuat aktivitas seksual mereka kali ini lebih menantang. Entah kenapa Yoga berharap ada seseorang yang sedang mengintip mereka saat ini.
"Mas, pipisku udah diujung eughh ahh, Mas aku udah gak tahan, ahh ahh." Penis mungil Yoga terhentak-hentak dan mengeluarkan spermanya, mengotori tanah di bawah mereka dengan cairan beningnya yang berbau khas.
Meski tahu kalau Yoga lagi orgasme, tapi Purnomo gak berhenti buat nyodok Yoga. Purnomo masih terus nyodok Yoga dan gak membiarkan pemuda itu beristirahat barang sejenak saja.
"Mas, ahh ahh, aku capek banget Mas, ahh ah aah."
"Sabar, ya, Dek. Mas masih belum selesai genjot kamu nuh, sedikit lagi ya, sabar ya, ahh aah!"
Purnomo makin kuat menyodok anus Yoga sampai kedua tangannya harus dipegangi dari belakang oleh Purnomo kayak orang yang lagi nyetir motor, belum lagi badan dan pantat Yoga yang melengkung seksi ke arah penis Purnomo membuatnya semakin terlihat mirip jalang murahan yang bisa ditusuk sembarang orang.
Purnomo melepaskan satu tangannya dan menarik dagu Yoga ke belakang untuk kemudian dicium, dengan penis Purnomo yang masih terus menyodok anus Yoga beringas.
"Mmhhhh!" Yoga mendesah keenakan di antara cumbuan mereka ketika lagi-lagi Purnomo menyentak prostatnya, membuatnya kembali orgasme untuk yang kedua kalinya. "Eeuggghhhh! Mmmghhh! Aaghhh!"
Gilanya. Purnomo belum sekali pun keluar, makin menguatkan asumsi Yoga kalau Purnomo emang perkasa banget.
Sekitar sepuluh menit setelah Yoga selesai ejakulasi untuk yang ketiga kalinya, barulah Purnomo menunjukkan tanda-tanda kalau ia mau keluar.
Terbukti dengan Purnomo yang semakin mempercepat dan memperdalam sodokannya sambil memeluk Yoga erat banget, tak lama kemudian bagian dalam anus Yoga disemprot oleh sperma Purnomo yang hangat dan kental. Saking banyaknya sperma Purnomo, bahkan sebelum Purnomo mencabut penisnya dari lubang Yoga pun, spermanya udah meleleh keluar. Jatuh di antara selangkangan Yoga dan mengotori betisnya.
Cairan putih lengket itu adalah bukti cinta dan persetubuhan keduanya yang berlangsung panas dan indah. Yoga dan Purnomo tak mungkin bisa melupakan sensasi nikmat ini begitu saja. Bahkan setelah Purnomo mengeluarkan seluruh cairan kebanggaannya dilubang laki-laki yang dicintainya, penisnya masih belum mau tidur dan masih berdiri gagah.
Yoga melihat penis itu masih semangat menggempurnya kala Purnomo mencabut benda perkasa itu dari lubang anusnya, yang seketika membuat seluruh sperma Purnomo berjubelan keluar dan jatuh di antara selangkangan Yoga.
Lagi-lagi, Purnomo mencium bibir Yoga dengan penuh nafsu. Kumisnya yang tipis tak pernah gagal membuat Yoga kecanduan dikokop.
"Di sini ada sungai, kita mandi di sungai sekalian Mas lanjut ngegenjot kamu di sana, yuk, Dek." Suara serak Purnomo setiap habis bercinta tak pernah membuat Yoga bosan mendengarnya.
"Mas Purnomo, yakin? Nanti kalau ada yang lihat gimana?" Yoga membalas ciuman Purnomo. Ia benar-benar berharap ada orang lain yang memergoki mereka mesum.
"Ssshh, gak bakalan ada yang lihat. Di ladang ini semuanya punya Mas, kalau emang ada yang lihat, biar Mas habisin."
"Iihh, aku gak mau Mas jadi pembunuh, ah." Yoga cemberut, yang membuatnya makin manis sekaligus panas.
"Kalau gitu, kamu mau gak main lagi sama burungnya, Mas?"
Yoga tersenyum malu-malu. "Mau, dong. Aku juga belum puas dientot sama Mas, Mas janjinya, kan, mau entot aku sampai bunting."
Purnomo lalu mengendong tubuh Yoga bridal. "Kamu nakal banget, sih, Dek. Mas Purnomo jadi makin cinta."
Yoga memeluk leher Purnomo manja. "Aku juga cinta banget sama Mas Purnomo, pengen deh bisa disodok kayak gini setiap hari sama Mas. Tapi sayangnya Mas, kan, suami orang."
"Jangan, kan, minta diewe setiap hari, Dek. Minta dinikahin pun, Mas bakalan jabanin."
"Iihh, Mas Purnomo bisa aja ngegombalnya. Kalau kita nikah, anak istrimu mau kamu taruh di mana?"
"Kan, tinggal ku ceraikan saja."
"Mas Purnomo jahat, deh."
"Kan, demi bisa ngewe halal sama kamu, Dek." Purnomo membawa Yoga ke arah sungai kecil di ladangnya.
Yoga tergelak. "Mana ada ngehomo halal, yang ada ntar kita dirukyah, dikatain pengikutnya kaum sodom."
Purnomo ikut tergelak. "Asal di dunia Mas bisa terus ngegenjot Adek, dilempar ke neraka pun Mas gak takut."
Yoga mencubit dada Purnomo. "Ihh apaan, sih. Jangan ngegombal sembarangan, deh, kalau belum bisa bikin aku keenakan sampai bunting, huh."
Setelah sampai di sungai. Purnomo segera menurunkan Yoga dan keduanya lanjut sodok-sodokan sambil main air hingga menjelang sore hari. Mereka berdua benar-benar sedang dimabuk asrama dan lupa dengan semua hal.
Tapi mereka berdua lupa, sebaik apa pun bangkai ditutupi, baunya pasti bakal tercium juga. Orang pertama yang menyadari kedekatan Yoga dan Purnomo yang gak bisa dibilang wajar adalah Zainal. Tapi Zainal juga gak bisa nuduh temennya gitu aja, ia itu orangnya sangat hati-hati.
Zainal coba ngomong sama Gamma dan Irwan yang sekamar sama Yoga, ternyata bukan cuma Zainal aja yang curiga. Bahkan temen-temen mereka yang cewek-cewek pun juga bilang hal yang sama.
Akhirnya pas Yoga lagi mandi, mereka coba buka HP-nya Yoga. Untungnya Irwan pernah minjam HP-nya Yoga buat telepon ibunya, jadi ia tahu sandinya. Yang pertama mereka buka adalah WhatsApp, dipesan paling atas ada kontak bernama Mas ♥, isi chatnya pun bikin geleng-geleng karena di sana Yoga sering ngirim pap gak senonoh dengan kata-kata jorok.
Orang yang dichat sama Yoga gak ngirim pap balik atau pun pasang foto profil, tapi dari salah satu chat Yoga, Yoga ada nyebut-nyebut Mas Purnomo yang semakin menguatkan asumsi mereka.
Jadi ketika Yoga udah keluar dari kamar mandi, ia langsung dicegat sama tiga orang temennya dengan wajah galak.
Zainal lantas mengembalikan HP Yoga yang masih berada di aplikasi WhatsApp dan berkata, "Gue gak pernah ada masalah sama orientasi seksual temen gue karena itu bukan urusan gue, tapi mungkin lo bisa sedikit jelasin tentang isi chat lo itu, Ga?"
Yoga keringat dingin ketika sadar kalau hubungannya sama Purnomo mungkin udah kecium.
"Maksud lo apa, Zai?" Yoga masih pura-pura bego.
"Lo jadi selingkuhannya Pak Purnomo, kan?" Gamma ngomong blak-blakan banget sampai bikin Zainal sama Irwan syok. Untungnya di sana gak ada siapa-siapa lagi kecuali mereka berempat.
"Anjing, jangan keras-keras bego, nanti kalau Bu Ani atau anaknya denger gimana? Otak lo mikir, dong," omel Irwan.
"Gue emang gay, tapi jangan nuduh orang seenaknya, apalagi tanpa bukti," kesal Yoga.
"Bukannya gimana-gimana, Ga. Tapi anak-anak lain termasuk kita-kita, perhatiin kelakuan lo sama Pak Purnomo itu, tuh, gak wajar. Hubungan kalian berdua, tuh, kayak orang yang lagi kasmaran tahu gak, tapi masih malu-malu Dugong."
Zainal menepuk pundak Yoga.
"Kita bukannya mau nuduh lo, kita cuma mau pastiin biar jadinya kita gak berprasangka buruk sama lo. Kita gak mungkin ngomong sama Pak Purnomo, jadi kita coba ngomong sama lo duluan."
"Terus kita bukannya gak ada bukti, karena buktinya ada di dalam chat mesum lo itu," kata Gamma, "di situ lo nyebut-nyebut Mas Purnomo, Mas Purnomo itu maksudnya Pak Purnomo, kan?"
"Kita gak mau bikin suasana gaduh sama kisah percintaan lo yang gak wajar itu, jadi kalau emang kalian ada hubungan, mending langsung akhiri aja. Ingat, Yoga. Pak Purnomo itu udah punya anak-bini, seenggak punya otaknya lo, lo seharusnya bisa mikir buat gak ngerebut suami orang." Irwan menceramahi.
Yoga membaca isi chatnya dengan Purnomo lalu tersenyum kecut. "Gak usah ikut campur, Sialan."
Yoga berusaha kabur dari kepungan mereka bertiga, tapi Gamma lebih dulu menarik pundaknya yang belum memakai baju - cuma pakai handuk di bawah - dan basah kuyup.
"Mau ke mana lo, Bajingan?" maki Gamma.
"Bukan urusan lo, urusin aja urusan kalian sendiri!" Yoga menyentak tangan Gamma yang memegang pundaknya.
Gamma tahu apa maksud penolakan Yoga yang enggan menjelaskan hubungannya dengan seseorang di dalam chat itu dan reaksi Yoga yang terbilang aneh. Jadi dengan kesal, Gamma menonjok pipi Yoga sampai cowok itu terhuyung ke lantai.
HP Yoga jatuh dan remuk. Zainal dan Irwan berusaha memegangi Gamma agar tak makin memukuli Yoga yang sudah terbatuk-batuk.
"Woy, kerasukan lo? Jangan mukulin anak orang sembarangan lo, Gam," kesal Irwan.
"Bajingan kayak dia emang pantas digebukin sampai mati!" marah Gamma.
"Anjing lo!"
Sampai akhirnya mereka sadar, kalau handuk yang sejak tadi melilit tubuh bagian bawah Yoga dari pusar sampai lutut itu jatuh. Yoga yang hendak bangkit dari lantai pun merangkak dan terlihatlah anus Yoga yang merekah merah, terdapat pula ruam-ruam seperti habis dicupang. Mereka bertiga langsung tahu, kalau itu bekas disodomi.
"Jadi lo habis ngelacur sama Pak Purnomo, Ga?"
"Tutup mulut busuk lo, Anjing!" Yoga menendang kaki Gamma lalu memungut handuknya dan pergi dari ruangan itu.
"Mampus, ancur hubungan pertemanan kita."
"Dahlah, ngapain juga temenan sama pelacur yang ngerebut suami orang. Mana homo lagi, bajingan."
"Terus sekarang gimana?" tanya Irwan.
"Tunggu aja tanggal mainnya.”
Sejak hari itu, Yoga gak pernah mau ngomong lagi sama Zainal, Irwan, dan Gamma. Sama anak-anak lain pun Yoga juga jadi lebih tertutup dan ketus.
Sampai KKN mereka selesai. Yoga masih sering berhubungan dengan Purnomo. Kadang-kadang Purnomo suka mampir ke kosan Yoga, bawain Yoga oleh-oleh ini itu, pokoknya semua makanan kesukaan Yoga. Purnomo juga sering nginep cuma buat ngeseks sama Yoga.
Masalahnya, Yoga ngekos berdua bareng sepupunya Si Wanto. Wanto sendiri jarang banget ada di kos, kalau pulang ke kos pun palingan cuma buat ambil baju atau istirahat sebentar. Meski begitu, Wanto pun juga sering dapat aduan dari ibu kos kalau Yoga sering bawa orang buat nginep dikos. Iya mending kalau cuma sekadar nginep, ini suara desahan mereka sampai kedengeran ke kamar penghuni kos lain dan bikin mereka keganggu.
Wanto coba ngomong baik-baik sama Yoga, tapi Yoga justru tersinggung dan mutusin buat pindah kos-kosan.
Yoga pindah kos ke tempat yang lebih bagus dan lumayan mahal, semuanya dibayarin sama Purnomo. Gara-gara itu Yoga ngerasa makin cinta sama Purnomo karena merasa Purnomo mau ngelakuin apa aja buat dia.
Bahkan termasuk ceraikan istrinya, padahal pas Yoga ngomong gitu, posisi mereka lagi ngeseks dan Yoga juga cuma asal ngomong aja kalau dia bakalan mau dinikahin sama Purnomo asal Purnomo udah cerai.
"Jadi kapan Dek Yoga mau Mas nikahin?"
Yoga melengkungkan punggungnya ketika sodokan Purnomo makin cepat dan penis laki-laki itu terasa makin membesar di dalam anusnya yang kini mengencang ketika hendak ejakulasi. Mata Yoga merem-melek dengan lidah terjulur merasakan tubuh bagian dalamnya diobrak-abrik tanpa ampun oleh Purnomo hingga membuat pikirannya melayang.
"Eughh ah, ahh, Mas jangan tanyain aku pertanyaan sulit kayak gitu pas lagi seks ahh, ah ahh."
Tubuh telanjang Yoga terhentak-hentak hebat. Badannya yang sedang tengkurap di atas bantal dengan bokong semoknya yang mengkilat akibat keringat terguncang-guncang mengemaskan.
Saking gemasnya Purnomo sampai harus mempercepat sodokannya dilubang Yoga agar penisnya semakin dijepit oleh pemuda itu.
"Dek, lubangmu kenapa makin enak dan becek banget sih, bikin Mas gak tahan dan sange terus sama Dek Yoga, ahh ah!"
Yoga mengigit sprei di bawahnya. "Mas Purnomo, ahh ah, yahh ahh, sodok aku lebih cepet lagi, ahh ah, Mas kontolmu enak banget, ahh ah Mas Puenomo!"
Mereka ngeseks siang-siang ketika panas terik di kamar di rumah lamanya Purnomo di desa. Karena setelah cerai, Bu Ani membawa kedua anaknya pulang ke rumah orang tuanya di Yogyakarta dan Purnomo sekarang tinggal sendiri. Meski begitu Purnomo gak pernah merasa kesepian, karena desahan Yoga lah yang kini mengisi hari-harinya yang lebih bergairah.
"Dek Yoga, Mas mau keluar, Dek. Ahh ah eughh euhh. Siap-siap kamu Mas buntingin, yaah, ahh ah."
Yoga merasakan penisnya sendiri mulai menegang. "Ah ahh, aku juga mau keluar Mas, eughh ahh ah!"
Keduanya orgasme bersamaan dengan sangat nikmat. Rasanya kayak tubuhnya yang tadi tegang tiba-tiba enteng banget setelah berhasil mengeluarkan cairan putih bukti cinta keduanya yang berkali-kali mekar.
Purnomo memeluk tubuh Yoga dari belakang. Tubuh keduanya yang telanjang saling bergesekan penuh keringat yang membuat mereka berdua semakin lengket. Purnomo menarik dagu Yoga, mencium bibir Yoga yang kini lemas tak bertenaga. Yoga kemudian membalas ciuman itu dengan genit, menggoda Purnomo yang penisnya kini sudah kembali berdiri.
"Astaghfirullahaladziiiiiiim!"
Yoga dan Purnomo kaget. Ada seorang ibu-ibu yang mengintip kegiatan intim keduanya di luar jendela kamar tersebut. Tak sampai di situ, ibu-ibu itu langsung berteriak memanggil para warga untuk berkumpul.
Baik Yoga dan Purnomo sudah ketangkap basah sedang berbuat mesum sesama jenis. Mereka berdua diarak keliling desa dengan hanya dililit selimut karena kalau dibiarkan pakai baju takut kabur. Sebelum akhirnya, Yoga dan Purnomo dinikahkan secara paksa dan diusir dari desa.
SELESAI!931Please respect copyright.PENANAopH80SrBDK
931Please respect copyright.PENANAnsrgfVa8Uu
931Please respect copyright.PENANA3f6sWcxJFu
931Please respect copyright.PENANAyzJY6exrrH
931Please respect copyright.PENANAUnxdpohKlK
931Please respect copyright.PENANAHl1tmi1cMF
931Please respect copyright.PENANAD06e2nqmfe
931Please respect copyright.PENANA0HCehkDRVA
931Please respect copyright.PENANAGUvbgq8wl2
931Please respect copyright.PENANAC7fIaksvuH
931Please respect copyright.PENANADtMFvfAUod
931Please respect copyright.PENANACm8RtKdtG5
931Please respect copyright.PENANAc44F2lgPC4
931Please respect copyright.PENANASyYrZ912jS
931Please respect copyright.PENANAYjcMf0ElHh
931Please respect copyright.PENANAie009rN5Ms
931Please respect copyright.PENANArdm596zsqx
931Please respect copyright.PENANA9OGkwcvD0G
931Please respect copyright.PENANAX8n0nJcf86
931Please respect copyright.PENANAZ1Pc8qqO2Q
931Please respect copyright.PENANASBigxb6Nx6
931Please respect copyright.PENANAYNDmxaZO4q
931Please respect copyright.PENANAgyZ0UIK8yw
931Please respect copyright.PENANA5OnMgTP7mb
931Please respect copyright.PENANA8kXpCeg6r3
931Please respect copyright.PENANAlHtkL4il6g
931Please respect copyright.PENANAxJg7AHMi3J
931Please respect copyright.PENANAcTApmADzuD
931Please respect copyright.PENANABkWHzabpY3
931Please respect copyright.PENANAWUqniLh581
931Please respect copyright.PENANA5kNxehWHEZ
931Please respect copyright.PENANA55OjuUrmeM
931Please respect copyright.PENANA53klWvGezZ
931Please respect copyright.PENANAPKiExPlUyg
931Please respect copyright.PENANAIhRnuvmu0c
931Please respect copyright.PENANAja2S1thmWp
931Please respect copyright.PENANAuYkz36XIlx
931Please respect copyright.PENANA5Ecc3YRje3
931Please respect copyright.PENANAkdIGhrUNWJ
931Please respect copyright.PENANAXg7hUwAn3G
931Please respect copyright.PENANAa1FhJ3TCRt
931Please respect copyright.PENANAOGfDkdeSkg
931Please respect copyright.PENANAWfuXUqd8P5
931Please respect copyright.PENANA5sMhSLQ3sB
931Please respect copyright.PENANAg5Q6BzKiXi
931Please respect copyright.PENANAashITY5zMQ
931Please respect copyright.PENANAPT9NGT281s
931Please respect copyright.PENANAcFTqTt1iRY
931Please respect copyright.PENANAvFiE87Eagf
931Please respect copyright.PENANApTZ6tLoHIF
931Please respect copyright.PENANAebsr5wksxQ
931Please respect copyright.PENANA0j2nfcW1vS
931Please respect copyright.PENANAHXFkZ7Rbut
931Please respect copyright.PENANAQ9FbssJcDK
931Please respect copyright.PENANAPLlNK0e7sR
931Please respect copyright.PENANAwPzGdOBUaN
931Please respect copyright.PENANAbm7TmyxUnM
931Please respect copyright.PENANAkyQsGpTgMR
931Please respect copyright.PENANAqajScFuJYH
931Please respect copyright.PENANAIsAHlke44t
931Please respect copyright.PENANARqtV5b1pyG
931Please respect copyright.PENANAvZCUfrRTW5
931Please respect copyright.PENANAY4wxbOnBiw
931Please respect copyright.PENANAU8WIIdqQ6w
931Please respect copyright.PENANATQNatN4CbL
931Please respect copyright.PENANAuOMlhvcUIR
931Please respect copyright.PENANAxCoj6Aixru
931Please respect copyright.PENANAYClXRrMqTR
931Please respect copyright.PENANAzNMNiXtWz9
931Please respect copyright.PENANA0PoOgvfqkm
931Please respect copyright.PENANA0FOcaBbPMP
931Please respect copyright.PENANAIeJ6dvNaDF
931Please respect copyright.PENANAVePBVLICds
931Please respect copyright.PENANAe2YaCeoDgl
931Please respect copyright.PENANAVVEMxsYj89
931Please respect copyright.PENANAc9GG379qHR
931Please respect copyright.PENANAztgxmyjlFj
931Please respect copyright.PENANAmrzPWWcYY7
931Please respect copyright.PENANAN0Gu0D05a2
931Please respect copyright.PENANAcKurCZacBZ
931Please respect copyright.PENANAOfNgjLrB0q
931Please respect copyright.PENANAc4EsmQEqiu
931Please respect copyright.PENANAnVGm6ysWIT
931Please respect copyright.PENANAnhz3Vcy9Zg
931Please respect copyright.PENANAnqTR6pKwev
931Please respect copyright.PENANARH72IHjMPb
931Please respect copyright.PENANAgNr3LBV4Lv
931Please respect copyright.PENANAzZWw2z0Ssy
931Please respect copyright.PENANAfD8ucoSCPb
931Please respect copyright.PENANAdlQ4kIZGQR
931Please respect copyright.PENANAif1J64HOkt
931Please respect copyright.PENANA19Mn6pcZgR
931Please respect copyright.PENANA0ezEIj464L
931Please respect copyright.PENANATKLFHc03ER
931Please respect copyright.PENANAkuszPLEemt
931Please respect copyright.PENANACbedH5u1kM
931Please respect copyright.PENANAFomA55HffV
931Please respect copyright.PENANARIYq7xgZBu
931Please respect copyright.PENANAQfB3gQXBhH
931Please respect copyright.PENANA7HOjlnDnXA
931Please respect copyright.PENANAkphWA7gExQ
931Please respect copyright.PENANAQQcwzBtOwV
931Please respect copyright.PENANA65lpCQ9kwL
931Please respect copyright.PENANA8nNv6p8Pba
931Please respect copyright.PENANAMTz2YO3mrO
931Please respect copyright.PENANAmfhSWVGeeo
931Please respect copyright.PENANALT6lxMuGcY
931Please respect copyright.PENANAJPNhpnPWCW
931Please respect copyright.PENANAbRrRjZOs3M
931Please respect copyright.PENANApVb72VIupJ
931Please respect copyright.PENANAysOrdkARCR
931Please respect copyright.PENANAz91OjDakTh
931Please respect copyright.PENANArUKbhHbBh2
931Please respect copyright.PENANA3c9A3cdEUt
931Please respect copyright.PENANADhhyhvc8W4
931Please respect copyright.PENANADFwdtA5XNn
931Please respect copyright.PENANAKBXwWx48rX
931Please respect copyright.PENANAOoTL7WvMim
931Please respect copyright.PENANAQayR866R5x
931Please respect copyright.PENANASaPJlJfYy5
931Please respect copyright.PENANAU5JoZOVER7
931Please respect copyright.PENANA50kPBsygWg
931Please respect copyright.PENANAw71L4bYjQ6
931Please respect copyright.PENANAs4zgcUpjT9
931Please respect copyright.PENANA2BDSFAQ7s3
931Please respect copyright.PENANAwIbIP8vb5r
931Please respect copyright.PENANAp9bT290Gtm
931Please respect copyright.PENANA4y5EhPs5by
931Please respect copyright.PENANAC02XAXmuO2
931Please respect copyright.PENANAN9049X1jWz
931Please respect copyright.PENANAPIiYuFvC8e
931Please respect copyright.PENANANTNdUp8Je1
931Please respect copyright.PENANAe8yYIm5b8d
931Please respect copyright.PENANA0s6TjKxrMM
931Please respect copyright.PENANASl6XZvXtLE
931Please respect copyright.PENANAJMEBrmZq7g
931Please respect copyright.PENANAe5iqlqSNCS
931Please respect copyright.PENANAy3nuyTxyYT
931Please respect copyright.PENANAIXd9VMrkkB
931Please respect copyright.PENANAGNVESGQU9y
931Please respect copyright.PENANAxcphsKT0uu
931Please respect copyright.PENANAbjPIM9TWtP
931Please respect copyright.PENANARi2w6creXt
931Please respect copyright.PENANAji4hfK2qkA
931Please respect copyright.PENANAGRfRjTW2ZZ
931Please respect copyright.PENANAbZCnLUGwF1
931Please respect copyright.PENANAhN4FmyzuZ0
931Please respect copyright.PENANAP6GrkEbgfM
931Please respect copyright.PENANApMm0aw7pmL
931Please respect copyright.PENANAZfhBvmY6L8
931Please respect copyright.PENANAzMEfYrQqhG
931Please respect copyright.PENANAVUrZGEhxk7
931Please respect copyright.PENANArgNRSQLtNh
931Please respect copyright.PENANAABpBoOOsq8
931Please respect copyright.PENANAQ2eDv2AOfA
931Please respect copyright.PENANAQUJHTpgxjE
931Please respect copyright.PENANAQ4d5dDBAGl
931Please respect copyright.PENANAuHy8SvHFCJ
931Please respect copyright.PENANA9meq9HMwsF
931Please respect copyright.PENANAnXEVkwSYwH
931Please respect copyright.PENANASgmZOPFJl1
931Please respect copyright.PENANAOzC8toS2CJ
931Please respect copyright.PENANAnP6mh5oEhJ
931Please respect copyright.PENANAouBmGqQhSK
931Please respect copyright.PENANAeyQv3AC31M
931Please respect copyright.PENANATsjWb71adZ
931Please respect copyright.PENANA4uWSdYd4Kp
931Please respect copyright.PENANA0xvdCvQLxA
931Please respect copyright.PENANApsJhwTfidY
931Please respect copyright.PENANAR1F6UKyriW
931Please respect copyright.PENANAZEhGGbeVux
931Please respect copyright.PENANAAzIQ0XomMi
931Please respect copyright.PENANAyxt6kj6Ogl
931Please respect copyright.PENANAfasglVcBXw
931Please respect copyright.PENANABAF09fnAao
931Please respect copyright.PENANAWRLFM4ftBY
931Please respect copyright.PENANA2gvkAp7IBp
931Please respect copyright.PENANA9fqj2G1MxE
931Please respect copyright.PENANAxmicJMIPSA
931Please respect copyright.PENANAOiBXdu7Yqe
931Please respect copyright.PENANAWYWZyO8zS0
931Please respect copyright.PENANAEQOOwsLvRF
931Please respect copyright.PENANAmYmuNf1sLR
931Please respect copyright.PENANAZMvce9vuaA
931Please respect copyright.PENANAtqfVhyquLU
931Please respect copyright.PENANAoKdPzMSvsN
931Please respect copyright.PENANAFMVV6EugNp
931Please respect copyright.PENANAda0RKLxtZJ
931Please respect copyright.PENANAcLADNiZa9i
931Please respect copyright.PENANAJSgKO0pN9m
931Please respect copyright.PENANAOnYpeymHqI
931Please respect copyright.PENANA957cr3kZNU
931Please respect copyright.PENANA91FMidqIkJ
931Please respect copyright.PENANA6uQkAfJHdB
931Please respect copyright.PENANAcQfY0wY0rn
931Please respect copyright.PENANAERpZayzIRA
931Please respect copyright.PENANA0v5nWx7tip
931Please respect copyright.PENANANOJPPqQBPD
931Please respect copyright.PENANAlk726HHiYS
931Please respect copyright.PENANAP0WqvHJxrd
931Please respect copyright.PENANA1CIapyyvTZ
931Please respect copyright.PENANAmxGHVXqcCJ
931Please respect copyright.PENANAsxDMMAwSuC
931Please respect copyright.PENANAmmmYYYjlp7
931Please respect copyright.PENANAwLF7UPtqfF
931Please respect copyright.PENANAosz0u8ERSg
931Please respect copyright.PENANA7AgVmHmwF6
931Please respect copyright.PENANAQ2kWgqrIOj
931Please respect copyright.PENANA7ADG3i1nB5
931Please respect copyright.PENANA6EoIXknv1t
931Please respect copyright.PENANAyUahsIyksp
931Please respect copyright.PENANAfYRsz0lOkD
931Please respect copyright.PENANAeETys8bVa5
931Please respect copyright.PENANAGf3drRTiY2
931Please respect copyright.PENANAAITD4oJ9C2
931Please respect copyright.PENANAeS9JvCNkeJ
931Please respect copyright.PENANAmSKE5LVbPp
931Please respect copyright.PENANAwiNWLNLTI8
931Please respect copyright.PENANALqyKCI5CGJ
931Please respect copyright.PENANAgCdeoPXMhL
931Please respect copyright.PENANAP4GDvrOxk2
931Please respect copyright.PENANA62Qr9XOE4a
931Please respect copyright.PENANAa8I5okCrzn
931Please respect copyright.PENANAStJJGqpvSf
931Please respect copyright.PENANAViyMkoNbri
931Please respect copyright.PENANArKY57k8SKW
931Please respect copyright.PENANAqCb9pRhAoF
931Please respect copyright.PENANAMlFCUXYFtL
931Please respect copyright.PENANAZCyij1ACvE
931Please respect copyright.PENANAvp43T26d3M
931Please respect copyright.PENANAH0rKD5rnK2
931Please respect copyright.PENANA4GrekmoYEn
931Please respect copyright.PENANAE9MKFoDw47
931Please respect copyright.PENANAoU4azVPr2H
931Please respect copyright.PENANAiqAhl1nu3C
931Please respect copyright.PENANA8VnSmBNegH
931Please respect copyright.PENANA0x0OTW2BxU
931Please respect copyright.PENANAQcfZ7bS4vn
931Please respect copyright.PENANAbhW9ZL3KYI
931Please respect copyright.PENANAjxTxald49q
931Please respect copyright.PENANAe23EZRP9Fn
931Please respect copyright.PENANAr6CofTmvZ2
931Please respect copyright.PENANAvV4HUm5II5
931Please respect copyright.PENANAQ05wjyH6j9
931Please respect copyright.PENANA8HQXFZAhuA
931Please respect copyright.PENANArypqMTqjCQ
931Please respect copyright.PENANAed0pfsMMWM
931Please respect copyright.PENANAjuKJDQa7Zw
931Please respect copyright.PENANAPPJbT0MWw9
931Please respect copyright.PENANAKkDkuditjr
931Please respect copyright.PENANAzcntP6z3K9
931Please respect copyright.PENANA58HPlL3eXs
931Please respect copyright.PENANAnpBlrYuEw6
931Please respect copyright.PENANAMEOagPj4l1
931Please respect copyright.PENANAtb8Ig6R6LF
931Please respect copyright.PENANAXXJPIMf645
931Please respect copyright.PENANAiauyDeqOx5
931Please respect copyright.PENANAAjNDxOKVuF
931Please respect copyright.PENANAqXZVH9FNjf
931Please respect copyright.PENANAxjjLh76P7f
931Please respect copyright.PENANAatvTLY7sjx
931Please respect copyright.PENANAfEMpPBnV72
931Please respect copyright.PENANAdH52GGCpqA
931Please respect copyright.PENANAuvysccssZ3
931Please respect copyright.PENANAmLZgJtcbSA
931Please respect copyright.PENANAJMOrxu9EQI
931Please respect copyright.PENANAc8LkfqiFnS
931Please respect copyright.PENANA97bDB4o5lv
931Please respect copyright.PENANACrpHprYy69
931Please respect copyright.PENANAmz0HzG7zV9
931Please respect copyright.PENANAFvsOMRoIpz
931Please respect copyright.PENANAY2eaEWNjGT
931Please respect copyright.PENANAqL4IExGIDI
931Please respect copyright.PENANA8QVqrpAOVN
931Please respect copyright.PENANAklffmsF6Vg
931Please respect copyright.PENANAULSGPcs0Ze
931Please respect copyright.PENANAtyIVG8QrXv
931Please respect copyright.PENANA5Y9kgmlLg0
931Please respect copyright.PENANADxCNxtgbBE
931Please respect copyright.PENANAFfREJgDVEL
931Please respect copyright.PENANAL9kSiDqPDa
931Please respect copyright.PENANAhwojPCMbt8
931Please respect copyright.PENANAt8m8tQIuIS
931Please respect copyright.PENANACq29smoWeq
931Please respect copyright.PENANAOUFxFPFnuh
931Please respect copyright.PENANA4hsbdXQieF
931Please respect copyright.PENANALM8S7DrEmV
931Please respect copyright.PENANA2UEJvWtkXb
931Please respect copyright.PENANAbBYsSf5wXu
931Please respect copyright.PENANAL5jQo6SQ6S
931Please respect copyright.PENANACJbv1dcJAa
931Please respect copyright.PENANA8Ojo7GljVy
931Please respect copyright.PENANAyekKgkBtaK
931Please respect copyright.PENANAv6er9DqvFE
931Please respect copyright.PENANA2iaVgOs6v1
931Please respect copyright.PENANArFdhArxhYO
931Please respect copyright.PENANArblyGJwMGw
931Please respect copyright.PENANAq9mSeKwBx2
931Please respect copyright.PENANA7GTgseuJ9c
931Please respect copyright.PENANAUBOInYH7hA
931Please respect copyright.PENANAMwdwgicrgx
931Please respect copyright.PENANAbbuMJKNqq8
931Please respect copyright.PENANAzRr2jX8lC7
931Please respect copyright.PENANAiMRoSj6oYg
931Please respect copyright.PENANANg5kSLBZnN
931Please respect copyright.PENANAgDDAUIKFFt
931Please respect copyright.PENANAOs9IqtT3pP
931Please respect copyright.PENANATOQf0cLEzn
931Please respect copyright.PENANA7FnvfJhcpG
931Please respect copyright.PENANAo6eG6M381O
931Please respect copyright.PENANAc8HxpnAKCi
931Please respect copyright.PENANAuz2dGndb9a
931Please respect copyright.PENANA7AFdasY0Rs
931Please respect copyright.PENANAUUqwMrfhtX
931Please respect copyright.PENANAMPaBFWlRlk
931Please respect copyright.PENANAbm7sxGDUQZ


