Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini? kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan.Iya si Yanthi, teman kuliah Ridha..! kataku.Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu..! katanya lagi.Tapi, benar nih.. Mas.. kamu ijinkan saya bekerja..?Mas Hadi mengangguk mesra sambil menatapku kembali.Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.Terimakasih.. Mas.., mmhh..! kusambut ciuman mesranya.Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang lagi, dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masingmasing.Perlu kuceritakan di sini bahwa Rendy, anak kami tidak bersama kami. Dia kutitipkan ke nenek dan kakeknya yang berada di lain daerah, walaupun masih satu kota. Kedua orangtuaku sangat menyayangi cucunya ini, karena anakku adalah satusatunya cucu lakilaki mereka.Siang itu ketika aku terbangun dari mimpiku, aku tidak mendapatkan suamiku tidur di sisiku. Aku menengok jam dinding. Rupanya suamiku sudah berangkat kerja karena jam dinding itu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Aku teringat akan percakapan kami semalam. Maka sambil mengenakan pakaian tidurku (tanpa BH dan celana dalam), aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju ruang tamu rumahku, mengangkat telpon yang ada di meja dan memutar nomor telpon Yanti, temanku itu.Hallo ini Yanti..! kataku membuka pembicaraan saat kudengar telpon yang kuhubungi terangkat.Iya.., siapa nih..? tanya Yanti.Ini.. aku Ridha..!Oh Ridha.., ada apa..? tanyanya lagi.Boleh nggak sekarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..! kataku.Silakan.., kebetulan aku libur hari ini..! jawab Yanti.Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahmu. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..! kataku sambil sedikit tertawa.Sialan luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., ditunggu loh..!Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..! kataku sambil menutup gagang telpon itu.Setelah menelepon Yanti, aku berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi itu aku melepas pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadiankejadian yang semalam baru kualami. Membayangkan penis suamiku walau tidak begitu besar namun mampu memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu menutup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Hadi dengan bermasturbasi, karena kadangkadang bermasturbasi lebih nikmat.Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yanti yang besar itu. Dan Yanti menyambutku saat aku mengetuk pintunya.Apa khabar Rida..? begitu katanya sambil mencium pipiku.
Seperti yang kamu lihat sekarang ini..! jawabku.Setelah berbasabasi, Yanti membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilakan aku untuk duduk.Sebentar ya.., kamu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang lalu Yanti meninggalkanku.Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasanhiasan yang indah, dan pasti mahalmahal. Fotofoto Yanti dan suaminya terpampang di dindingdinding. Sandi yang dahulu katanya sempat menaksir aku, yang kini adalah suami Yanti, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikirku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.Sambil terus memandangi foto Sandi, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaki keturunan Manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yanti dan Sandi memang satu kampus). Sandi memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak kutanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.Lamunannku dikagetkan oleh munculnya Yanti. Sambil membawa minuman, Yanti berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilakanku untuk minum.Ayo Rid, diminum dulu..! katanya.Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.Oh iya, Mas Sandi ke mana? tanyaku.Biasa Bisnis dia, kata Yanti sambil menaruh gelasnya. Sebentar lagi juga pulang. Sudah kutelpon koq dia, katanya dia juga kangen sama kamu..! ujarnya lagi.Yanti memang sampai sekarang belum mengetahui kalau suaminya dahulu pernah naksir aku. Tapi mungkin juga Sandi sudah memberitahukannya.Kamu menginap yah.. di sini..! kata Yanti.Akh enggak ah, tidak enak khan..! kataku.Loh nggak enak gimana, kita kan sahabat. Sandi pun kenal kamu. Lagian aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, dan aku pun sedang ambil cuti koq, jadi temani aku ya.., oke..! katanya.Kasihan Mas Hadi nanti sendirian..! kataku.Aah Mas Hadi khan selalu menurut keinginanmu, bilang saja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku.
Apa harus aku yang bicara padanya..?Oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya..! kataku.Tuh di sana! kata Yanti sambil menujuk ke arah telepon.Aku segera memutar nomor telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku minta ijin untuk menginap di rumah Yanti. Dan menganjurkan Mas Hadi untuk tidur di rumah orangtuaku. Seperti biasa Mas Hadi mengijinkan keinginanku. Dan setelah basabasi dengan suamiku, segera kututup gagang telpon itu.Beres..! kataku sambil kembali duduk di sofa ruang tamu.Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukkan kamarmu..! katanya sambil membimbingku.Di belakang Yanti aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yanti tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang ketat melenggaklenggok. Pinggulnya yang ramping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantat itu.Kamu masih montok saja, Yan..! kataku sambil mencubit pantatnya.Aw.., akh.. kamu. Kamu juga masih seksi saja. Bisabisa Mas Sandi nanti naksir kamu..! katanya sambil mencubit buah dadaku.Kami tertawa cekikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku.Nah ini kamarmu nanti..! kata Yanti sambil membuka pintu kamar itu.Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan seprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.Akhirnya di kamar itu sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalamanpengalaman dahulu hingga kejadian kami masingmasing. Kami saling bercerita tentang keluhankeluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari perkimpoianku sampai sedetildetilnya, bahkan aku bercerita tentang hubungan bercinta antara aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucurahkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahan bapaknya yang direktur.Gampang itu..! kata Yanti. Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung diberi pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satusatunya sahabatku di dunia ini.. lanjutnya sambil tertawa lepas.Tentu saja aku senang dengan apa yang dibicarakan oleh Yanti, dan kami pun meneruskan obrolan kami selain obrolan yang serius barusan.Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku pun minta ijin ke Yanti untuk mandi.
1113Please respect copyright.PENANAtCKq2Xp7fj
bersambung....
ns216.73.217.85da2


