“Gilaa,, dah miring otak ni orang...” Dalam hati Hazim mengumpat mendengar usul yang ditawarkan oleh Fattan, usul gila yang dengan cepat disetujui oleh atasannya Pak Handoko, dan kedua teman yang juga memegang jabatan manager seperti dirinya.
Hari itu, Kantor Hazim menerima kunjungan pimpinan pusat yang menetapkan kantornya sebagai cabang perusahaan dengan kinerja terbaik, memberikan bonus liburan dan berhak untuk menggunakan cottage milik perusahaan yang ada disalah satu pesisir pulau jawa.
Tentunya ditambah bonus sejumlah uang. Namun di antara berbagai kegembiraan itu mungkin Hazim lah orang yang paling berbahagia. Ya... atas bantuan Pak Handoko, Hazim disetujui oleh pimpinan pusat untuk menempati bangku pimpinan yang sebelumnya ditempati oleh Pak Handoko. Handoko sendiri, atas prestasinya diminta untuk membantu pusat.
Setelah rombongan pusat meninggalkan ruangan, Pak Handoko langsung mengangkat gelas yang hanya diisi air mineral mengajak bawahannya untuk bertoast ria. Walau bagaimanapun ada kebanggaan atas penghHaziman yang diberikan.
Namun Pak Handoko dengan berat hati menyampaikan bahwa dirinya tidak dapat ikut serta dalam liburan itu, karena telah memiliki janji tersendiri dengan istrinya untuk sebuah liburan di pulau dewata.
Hazim sendiri tidak begitu peduli dengan keabsenan Pak Handoko, toh dirinya tetap dapat mengikuti liburan rombongan kantor bersama istrinya. Dan ini dapat menjadi kado bulan madu bagi istrinya yang baru dinikahi 3 bulan lalu.
“Tapi apakah Pak Handoko tetap tidak mau ikut rombongan walaupun nantinya kami mengadakan sebuah game dengan perjanjian yang menarik?,” celetuk Fattan.
“Perjanjian?, emang kalian udah bikin perjanjian apa?” Tanya pak Handoko sambil menatap Fattan dan Hazim bergantian. Seperti halnya Pak Handoko, Hazim yang tidak pernah membuat perjanjian apapun tentang liburan pada Fattan, pun dibuat bingung.
“Ya, sebagai ucapan terimaksih, Saya dan Hazim ingin mengusulkan sebuah permainan, untuk membuang kejenuhan atas rutinitas kita, bagaimana jika nanti selama liburan disana kita membebaskan pasangan kita untuk dirayu oleh sesama kita,” papar Fattan
“Maksudmu?,” Tanya Pak Handoko meminta penjelasan yang lebih mendetil.
“Ya... bagi mereka yang beruntung, mungkin dapat dilanjutkan dengan rayuan diatas ranjang, dan atas dasar perjanjian awal tentunya kita tidak boleh melarang untuk ‘penuntasan akhir’ atas usaha kawan kita,”
“Saya pikir permainan ini bisa menjadi referensi kepuasan bagi kita, yang setau saya selalu setia dengan istri masing-masing, tentang ‘cita rasa’ dan ‘varian kenikmatan’ dari wanita selain istri kita,” tambahnya.
“Gila,, bagaimana mungkin usul itu meluncur dengan lancar dari mulut Fattan, apalagi dengan membawa-bawa namaku,” Hati Hazim mengumpat. Namun ketika dirinya ingin menampik usul Fattan, Hazim melihat wajah Pak Handoko yang berbinar sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Lagian, Kenapa perjanjian ini harus mengatasnamakan balas budi, sialan,” hati Hazim kembali mengumpat ketika menyadari sulit baginya untuk mengelak dari permainan ini.
“Yang bener Meennn... pastinya loe juga ngajak istri loe yang alim itukan?,” seru Vico memastikan Fattan mengajak istrinya yang biasa menggunakan busana tertutup lengkap dengan penutup kepalanya. Fattan mengangguk pasti.
Sesaat Hazim terdiam, Cut Khusna istri sahabat karibnya itu memang memiliki daya tarik tersendiri dari tubuhnya yang selalu tertutup, wajah putih bersih, berdagu lancip dan hidung yang mancung. “Uuuugghhh...benar-benar tawaran yang menggiurkan, terlalu sayang untuk dilewatkan, tapiii...” Kini justru Hazim yang bingung.
Mungkinkah, dalam liburan ini dirinya dapat mencumbu tubuh Khusna, atau bahkan kalau memungkinkan dapat sedikit berkenalan dengan selangkangan wanita yang menjadi Beltasi seksnya sebelum menikah dengan Hannah, istrinya.
“Tapi, agar permainan ini semakin seru, kita tidak boleh memberitahukan istri-istri kita tentang permainan ini, disamping untuk menghindari timbulnya pertengkaran suami istri, saya rasa ada tantangan tersendiri bagi kita untuk dapat menikmati tubuh target kita,” ucap Fattan dengan tatapan tajam ke arah Hazim, dihias senyum penuh misteri.
Hazim bingung dengan tatapan itu, muncul pertanyaan besar di kepalanya, apakah Fattan yang menjadi temannya sejak bangku SMP itu memang menjadikan istrinya sebagai target utama dalam permainan ini.
Sekilas Hazim teringat pernyataan Fattan dihari pernikahannya, yang mengakui keindahan tubuh istrinya, saat melototi tubuh Hannah yang dibalut kebaya transparan yang sangat ketat dengan puring tipis yang hanya menutupi bagian dada.
“untuk Pak Handoko, sepertinya kita harus memberikan persyaratan tambahan, bapak hanya boleh mengajak simpanan bapak,”
“Hahahaha...” celetukan dari Vico, kontan membuat Pak Handoko terbahak tertawa, Hazimpun tersenyum kecut mengingat istri sah Pak Handoko, Bu Fatima yang merupakan aktifis arisan ibu-ibu pejabat.
Sebenarnya, Bu Fatima, istri pak Handoko yang telah memasuki umur 40-an, masih terbilang cantik dan selalu tampil seksi dengan pakaiannya yang selalu mengekspos daerah terlarang, dan pastinya masih sangat layak pakai. Hanya saja yang membuat tidak kuat adalah mulutnya yang selalu aktif mengkritik setiap sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Alias cerewet.
Mungkin itulah sebabnya Pak Handoko memilih sebuah hubungan rahasia dengan Syaima, resepsionis kantor yang terkenal montok dan murah hati kepada kaum lelaki dalam hal berpakaian, dan tentunya lebih penurut dibandingkan Bu Fatima
“Tidak, tidak... Pak Handoko silahkan saja mengajak kedua istrinya, dengan tetap merahasiakan hubungannya dengan Syaima bukankah kita melakukan permainan ini dengan diam-diam, karena bisa saja saya berhasil mendapatkan tubuh Bu Fatima dengan meminjam kamar kalian, dan pastinya Pak Handoko tidak bisa melarang saya untuk melakukan itu, bukan begitu Pak Handoko?” papar Fattan.
Pernyataan Fattan sontak membuat Hazim, Vico dan Hilmawan terkejut, kata-kata Fattan sudah kelewat batas, meskipun dirinya memang memiliki hasrat yang sama untuk menunggangi tubuh montok istri Pak Handoko itu, tapi tidak selayaknya hal itu diungkapkan langsung dihadapan Pak Handoko, yang nota bene adalah atasannya.
“Whuahahaha... saya selalu suka dengan ide gilamu, Fattan, silahkan nikmati Fatima sepuasmu bahkan kalau kau juga ingin mencicipi Syaima silahkan saja, tapi jangan salahkan saya bila nanti membuat istrimu yang alim itu terkapar oleh ku,” jawaban Pak Handoko membuat Fattan tersenyum kecut. ternyata tidak hanya Fattan yang tersenyum menyambut tawaran Pak Handoko tetapi juga Hilmawan, Vico dan tentu saja Hazim.
“OK... jika semua memang semua telah sepakat, ada baiknya kita mempersiapkan istri-istri kita untuk menyambut pertempuran yang panjang besok lusa,” Pak Handoko menyudahi rapat tambahan para pimpinan itu dengan tertawa terbahak.
“Tunggu pak, saya hanya ingin memastikan, perjanjian ini hanya berlaku saat liburan sajakan?” semua tersenyum dengan pertanyaan Hilmawan yang sedari tadi lebih banyak diam dan hanya mengangguk-agukkan kepala. Widya, gadis remaja yang dinikahi Hilmawan hampir berbarengan dengan hari pernikahan Hazim itu memang seorang gadis lugu yang dinikahinya satu bulan setelah gadis itu lulus dari bangku SMU.
Pastinya Hilmawan tidak berbeda dengan Hazim yang merasa keberatan dengan permainan yang diusulkan Fattan, karena mereka sendiri masih belum puas mengayuh tubuh istri mereka.
“Itu Pasti, permainan kita ini cukuplah menjadi skandal saat liburan, karena tentunya kita tidak ingin rumah tangga kita ataupun rumah tangga rekan kita berantakan,” pungkas Fattan sambil merapikan beberapa berkas yang ada dihadapannya.
***
Hazim yang duduk santai di depan TV rumahnya sesekali menatap istrinya yang tengah menyiapkan makan malam mereka.
“Ada-ada saja permintaan Pak Izza itu, komentar dan sikapnya selalu saja bikin orang emosi,” keluh istrinya sambil meletakkan piring berisi ikan Nila yang baru digoreng.
“Ada apalagi dengan Pak Izza, Dia masih sering menggodamu,” Hazim memandangi tubuh semampai yang berjalan menuju freezer disampingnya. tubuh Hannah terbilang langsing dengan pinggul yang bertaut serasi dengan bongkahan pantat montok yang selalu bergetar mengiringi tiap langkah kakinya.
“Sungguh aku gak relaaa...” bibir Hazim mendesah pelan ketika teringat obrolan dikantornya tadi siang, bagaimana mungkin dirinya membiarkan tubuh indah itu ditunggangi oleh teman-teman sekantornya.
“Apa? Bicaramu selalu saja pelan, bagaimana aku bisa mendengar,”
“Oh... Tidak,, aku hanya memanggilmu,” Hazim memeluk istrinya dari belakang, membaui rambut tergerai yang masih sedikit basah, tangannya mengelus lembut bongkahan pantat yang selalu saja membuatnya bergairah.
Telah sering Hazim ingin mencoba lubang bagian belakang yang ada ditengah-tengah pantat itu, sebuah seks anal, tapi Hannah selalu saja menolaknya, dengan berbagai macam alasan, jijik, jorok, takut sakit, dan puluhan alasan lainnya.
“Sayang... aku masih terlalu capek hari ini, aku tidak yakin dapat melayanimu malam ini, bahkan mungkin aku akan langsung tertidur ketika menyentuh kasur,” keluh Hannah saat Hazim meremasi payudaranya.
“Hahaha... Tidak sayang, aku hanya ingin menawarkan sebuah liburan kepadamu, apakah kau bisa mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan? Bukankah kau belum mengambil cuti tahun ini,” Hazim mencoba mengingat-ingat, bahkan pada saat perkawinan mereka, tepat tiga bulan yang lalu Hannah tidak dapat mengambil jatah cutinya, semua gara-gara ulah pak Izza manager personalia salah satu Bank swasta tempat Hannah bekerja.
“Liburan? Kemana? Kapan?,” Wajah Hannah langsung berbinar, mungkin inilah kesempatan untuk sesaat melepas semua rutinitas yang melelahkan. “Aku yakin kali ini pasti bisa mendapatkan jatah cutiku,” sambungnya cepat, seakan takut Hazim menarik kembali tawarannya.
“Besok lusa kantorku mengadakan liburan kesalah satu villa di pesisir pantai, rasanya sangat sayang bila kita melewatkan kesempatan itu, hitung-hitung kita dapat berbulan madu dengan gratis,”
“Bersama rombongan kantormu?,” dahi Hannah mengerut, dirinya memang telah lama ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan suaminya. Ingin sekali Hannah mencoba beberapa busana yang menantang, memperlihatkan keindahan tubuhnya dalam berbagai balutan busana yang sengaja dibelinya untuk bulan madu, tapi hanya di depan Hazim.
Hazim membaca rona kecewa pada wajah cantik itu. “Kau boleh mengenakan apapun yang kau mau, bahkan kau boleh melakukan apa saja disana,” Hazim bingung sendiri dengan kalimat yang dilontarkannya, kenapa ia justru begitu takut Hannah tidak bisa ikut dalam liburan kantornya.
“Tapi aku malu, disana banyak teman-temanmu...”
“Kenapa harus malu, mereka Cuma teman-teman sekantorku, bahkan beberapa dari mereka sudah pernah menginap dirumah kita, Ayolah sayang...”
“Tapi... apakah nanti aku boleh mengenakan hadiah yang diberikan Syaima pada saat perkawinan kita?” Hannah bertanya dengan pelan, takut mengundang kemarahan Hazim.
“Hadiah dari Syaima?” Hazim mencoba mengingat-ingat hadiah apa yang telah diberikan oleh staff yang menjadi istri simpanan Pak Handoko itu.
“Owwgghh... dua lembar pakaian renang One Piece dan two piece, kenapa pula Syaima menghadiahkan pakaian semacam itu diacara pernikahan,” Hazim mengumpat, jika Hannah menggunakan itu maka tak ubahnya seperti menjajakan tubuhnya untuk dijamah dan dilahap teman-temannya.
“Yah,, mungkin kau bisa menggunakan salah satunya, dan menurutku one piece tidak terlalu jelek untukmu,” timpal Hazim cepat, One piece lah pilihan terbaik dari yang terburuk.
Hazim merinding ketika Hannah menyambut usulnya dengan wajah yang tersenyum. Ruangan menjadi senyap, masing-masing sibuk dengan pikirannya. Tidak ada lagi percakapan serius hingga mereka selesai makan dan beranjak ke tempat tidur.
***
Paginya Hazim melahap roti selai kacang dengan sedikit enggan, matanya terus memandangi tubuh Hannah yang dibalut seragam biru muda dengan list putih disetiap sisinya. Sungguh tubuh yang mempesona, apalagi seragam itu melekat ketat, wajarlah bila banyak lelaki yang menggoda.
Tapi, heeyy... kenapa Hannah mengenakan seragam yang lebih ketat dari hari-hari biasanya, tidak salah lagi itu adalah seragam yang telah lama dikeluhkannya karena sudah terlalu kecil untuk membalut tubuhnya yang semakin montok. Seragam itu telah lama tidak digunakan.
Bahkan rok yang sudah terlalu kecil itu berhasil mencetak dengan indah segitiga celana dalam yang membalut bongkahan pantat yang padat, dan lebih tinggi beberapa sentimeter dari rok yang biasa dikenakannya.
“Mas, sebenarnya aku tidak yakin bisa mendapatkan cuti untuk liburan besok,” suara Hannah mengagetkan lamunan Hazim,
“Memangnya kenapa?”
“Ya, kau tau sendiri bagaimana sikap dan tingkah laku Pak Izza, aku tidak mau dia mengambil kesempatan atas permohonan cutiku ini,” ucap Hannah sambil mengangkat roknya lebih tinggi untuk mengenakan stocking, hingga Hazim dapat melihat celana dalam yang dikenakan istrinya, dengan cepat birahinya terbakar.
“Ayolah sayang, aku rasa kau bisa sedikit menggodanya untuk mendapatkan izin itu, dan aku yakin kau dapat melakukannya,” kalimat itu mengalir dari mulutnya dengan dada yang bergemuruh, paha jenjang yang mulus siapa yang tidak tergiur bila kaki indah itu melenggang dengan seksi. Hazim bingung dengan perasaan yang menyesak didadanya, entah kenapa dirinya kini justru ingin sekali memamerkan keindahan itu kepada teman-temannya.
“Baiklah sayang, semoga aku bisa melakukannya, tapi kau harus tau aku melakukan ini semua hanya untukmu,” ucap Hannah yang telah siap dengan sepatu hak tinggi. Jemari lentiknya mengambil kunci mobil Yaris yang tergeletak disamping tv.
***
Di kantor Hazim tidak dapat bekerja dengan tenang, pikirannya dihantui berbagai misteri yang akan disuguhkan dalam liburan mereka nantinya. Di ruang sebelah, dari dinding pemisah ruangan yang keseluruhan menggunakan kaca, Hazim tersenyum melihat Hilmawan, keponakan Pak Handoko yang tampak asyik berbincang dengan Syaima.
Tampaknya pemuda yang masuk dalam lingkungan kerjanya dengan jalan KKN itu mulai berusaha menggoda Syaima, wajar saja karena dalam liburan nanti dirinya memiliki kebebasan penuh untuk mendapatkan tubuh bahenol dari simpanan pamannya itu. Pukul 15.30, Hazim yang melirik jam di ruangan, merasakan waktu berjalan dengan sangat lambat.
“Heeii,,heii,,heeiii,,Apakah kalian sudah siap dengan liburan esok,” teriak Fattan ketika melewati pintu kacanya yang terbuka.
Hazim mendapati sesosok tubuh semampai terbalut jilbab putih dibelakang Fattan. Melemparkan senyum termanis dengan lesung pipit yang mengapit dikedua pipinya, matanya berbinar indah, dengan raut muka yang penuh keramahan dan keakraban. Ya... sebuah senyum yang selalu saja membuat hati Hazim tak berkutik.
Cut Khusna, dokter muda istri sahabatnya itu memang memiliki sejuta pesona bagi dirinya. Hazim sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin gadis kalem dan lembut itu justru memilih Fattan yang terkadang urakan, untuk menjadi teman hidupnya.
“Untuk liburan besok, Aku dan Khusna telah mempersiapkan semuanya, dan aku harap kau dan istrimu juga begitu,” ucap Fattan sambil memeluk pundak istrinya.
“Aku harap kau mengajak Hannah, karena liburan ini pasti akan sangat menyenangkan,” sambung Khusna, Fattan mengedipkan matanya ke arah Hazim sambil menyeringai.
“Ya pasti liburan ini akan sangat menyenangkan,” balas Hazim yang tersenyum kecut.37Please respect copyright.PENANAcq3Eby2aa4
Seandainya Khusna tau, Fattan suaminya telah mempersilahkan kepada mereka untuk berlomba mendapatkan tubuh indahnya.
“Apa kau benar-benar merelakan wanita alim itu disantap oleh teman-temanmu,” bisik Hazim, setelah Khusna meninggalkan mereka untuk mengambil beberapa Hazimng di ruang kerja Fattan.
“Justru itu, aku sangat ingin melihat semuanya terjadi, tentunya tanpa membuatnya marah, dan aku rasa kau bisa membantuku,” Hazim tercengang dengan jawaban sahabatnya sejak di bangku SMP itu.
Dengan langkah santai Fattan menggamit pinggul Khusna melangkah keluar. Tepat didepan pintu, tanpa diduga Fattan meremas pantat istrinya yang dibalas tatapan tajam Khusna yang marah atas ulah suaminya.
***
Hazim mencoba mencoba memejamkan matanya di atas sofa di ruang tamu rumahnya. “Uuuggghhh...” lelaki itu menghela nafasnya, minggu ini benar-benar hari yang melelahkan bagi batinnya.
Hannah dan Khusna, dua sosok wanita yang memiliki kesempurnaan tubuh yang sering diimpikan kaum hawa. Hannah dengan gayanya yang riang dan supel membuat semua lelaki berlomba untuk berakrab ria dengannya, sambil mengagumi setiap lekuk bagian tubuh yang sempurna.
Sedangkan Khusna, sosok wanita kalem dengan senyum yang menawan dan mata yang teduh, membuat para lelaki merasa betah untuk berlama-lama mencumbu keindahannya. Hanya saja bagi Hazim, Khusna memiliki arti lebih dari sekedar seorang wanita yang ramah, di balik tubuhnya yang selalu tertutup oleh gaun putih khas seorang dokter, Khusna memang memiliki mistery yang begitu besar.
Sayup-sayup dirinya mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumahnya. Tak lama terdengar suara Hannah yang bersenandung riang, memasuki rumah. Hazim terjaga dari lamunannya.
“Sayang, aku telah mendapatkan cuti seperti yang kau mau,” seru Hannah riang, mengecup kening Hazim yang tengah tiduran.
“Oh yaa?... bagaimana cara kau mendapatkannya, bukankah itu tidak mudah?,”
“Ya, seperti yang kau katakan tadi pagi, aku harus sedikit menggodanya,” Hannah mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
“Untuk mendapatkan cuti yang kau inginkan, aku harus melepas dua kancing bagian atas blazer ku ketika memasuki ruangannya, bahkan ketika duduk di depannya aku sengaja melipat kedua pahaku untuk memberikan Pak Izza sedikit tontonan yang menarik, berharap orang tua itu dapat langsung memberikan izinnya.”
“Lalu?” sambar Hazim cepat dengan suara yang dibuat sesantai mungkin. Matanya menatap rok Hannah yang semakin tertarik keatas ketika istrinya itu duduk disampingnya, pikirannya mecoba membayangkan suguhan apa saja yang telah diberikan istrinya.
“Dan seperti katamu, tidak mudah untuk mendapatkan izin itu, orang tua itu justru semakin ngelunjak ketika aku mengajukan permohonan cuti, dia memintaku untuk menemaninya mengobrol disofa diruangannya, dan tahu kah kau apa yang dilakukannya selama obrolan itu terjadi,” Hannah berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.
“Dia mulai berani meraba pahaku ini, bahkan berulangkali mencoba memasukkan jemarinya kedalam rok sempit yang jelas tidak akan cukup untuk tangan gemuknya, meski aku tau usahanya sia-sia, aku tetap menepis ulah usilnya itu,” Hannah mencoba menutup ceritanya sambil mengecup bibir suaminya.
Dengan sangat bernafsu Hannah meneguk minuman dingin milik Hazim yang ada di depannya. sumber
“Baiklah, Banyak persiapan yang harus kulakukan untuk besok, dan aku tidak ingin ada Hazimng penting yang tertinggal nantinya,” Hannah beranjak dari duduknya, meski wajahnya sedikit pucat karena kelelahan setelah bekerja sehari penuh, namun wanita cantik itu terlihat begitu bersemangat menyambut liburan.
Sementara Hazim sibuk mengingat-ingat sosok tambun Pak Izza, dengan jari-jari tangan yang juga dipenuhi lemak. Tubuhnya yang pendek membuat pria paruh baya itu semakin membulat. Namun seberkas noda yang mengering pada rok bagian belakang Hannah membuat Hazim meloncat dari peraduan.
“Apakah hanya itu yang dilakukannya padamu,” sela Hazim sambil perlahan menarik Hannah hingga kembali duduk disampingnya. Entah mengapa Hazim begitu penasaran dengan noda yang dilihatnya.
“Ya...Setelah tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya pada bagian bawah tubuhku, tangan yang dipenuhi bulu itu menghiba kepadaku untuk bisa merasakan sedikit kepadatan payudaraku,”37Please respect copyright.PENANAXUGQJoXBew
Hazim mendengarkan cerita istrinya dengan jantung yang mulai berdegub kencang, meski ada rasa cemburu disana tapi tak ada sebersitpun gelora amarah, entah mengapa?.
“Selama dia melakukannya dari luar blezerku kupikir tak mengapa, dan bisa kau tebak bagaikan anak kecil yang mendapat mainan baru, tangannya bergerak cepat meraba, meremas dan terkadang mencubit dengan kuat hingga membuatku sedikit menjerit.
Tapi tak lama kemudian Pak Izza mengeluhkan blazerku yang terlalu tebal dan memintaku untuk melepas beberapa kancing yang tersisa. Aku teringat akan pesanmu tadi pagi untuk memberikan sedikit tontonan pada orang tua yang sudah hampir pensiun itu, jadi biarlah dirinya mendapatkan sedikit keindahan dari tubuhku, toh aku masih mengenakan blus yang menutupi tubuhku” Suara Hannah semakin berat, matanya menerawang mencoba mengingat kejadian tadi siang.
“Lalu?” Tanya Hazim dengan suara tercekat.
“Yaaa,, aku mempersilahkan tangan gemuknya itu masuk kedalam blazerku, tohhh masih ada blus yg menutupi tubuhku,”
“Dan Mungkin hari itu memang hari keberuntungan baginya, karena aku mengenakan bra yang terlalu tipis, jadi sangat mungkin jemarinya dapat merasakan kedua puting payudaraku yang mengeras karena godaannya. Tapi bukan Pak Izza jika tidak melakukan berbagai kejutan-kejutan,”
“Kejutan? Apakah dia mencoba memperkosamu?”
“Tidak,tidak... kukira dia tidak akan berani melakukan itu, dia hanya menyerang bibirku dan berusaha memasukkan lidahnya yang basah kedalam untuk merasakan lidahku. Bibirku yang tertutup rapat dan terus menolak justru membuat wajahku basah oleh jilatannya, karenanya aku membuka sedikit bibirku agar pria itu tidak melakukan tindakan yang menjijikkan itu.
Bagai orang yang haus, lidahnya berusaha menarik bibirku untuk bertandang ke dalam mulutnya, bahkan berulangkali menyedot ludahku, aku tak kuasa menolak undangan itu, dan tau kah kau sayang?...ternyata lidahnya begitu panas, mengait dan menghisap lidahku yang akhirnya ikut menari-nari dalam mulutnya,”
Tanpa sadar Hazim meneguk liurnya. (Kalo pembaca Ngocokers yang budiman lagi tegang mendengar penuturan Hannah, ingin meneguk ludah juga, boleh koq...)
“Namun justru di situ kesalahanku, di saat lidahnya beraksi dengan nakal dan harus kuakui aku terbuai, tanpa kusadari tangannya berhasil membuka beberapa kancing atas blus-ku dan terus menyelusup kedalam bra, dan akhirnya dia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, kedua payudaraku diremasnya bergantian, sesekali mulutku menjerit tertahan dalam pagutan bibir tebalnya ketika tangannya meremas terlalu keras.”
Hazim tak mampu menahan tangannya untuk tidak bertandang kedalam blus Hannah yang telah melepas blezernya, seakan tak ingin kalah dengan cerita istrinya Hazim meremas kedua bukit kembar itu dengan kuat, membuat Hannah memekik.
Hannah mencoba mengangkat pantatnya mencoba membantu Hazim yang kini berusaha menyingsingkan rok ketat itu ke pinggulnya. Hannah sangat paham dengan tingkah suaminya yang sedang birahi.
Sesaat Hazim memandangi dua paha mulus yang bertemu pada kuncup selangkangan yang begitu indah. Stocking yang masih melekat pada kaki Hannah membuat bagian bawah Hannah semakin menggoda. Hazim membaui vagina istrinya yang basah.
Bersambung…
ns216.73.217.123da2


