-
info_outline Info
-
toc Table of Contents
-
share Share
-
format_color_text Display Settings
-
exposure_plus_1 Recommend
-
Sponsor
-
report_problem Report
-
account_circle Login
“Gilaa,, dah miring otak ni orang...” Dalam hati Hazim mengumpat mendengar usul yang ditawarkan oleh Fattan, usul gila yang dengan cepat disetujui oleh atasannya Pak Handoko, dan kedua teman yang juga memegang jabatan manager seperti dirinya.
Hari itu, Kantor Hazim menerima kunjungan pimpinan pusat yang menetapkan kantornya sebagai cabang perusahaan dengan kinerja terbaik, memberikan bonus liburan dan berhak untuk menggunakan cottage milik perusahaan yang ada disalah satu pesisir pulau jawa.
Tentunya ditambah bonus sejumlah uang. Namun di antara berbagai kegembiraan itu mungkin Hazim lah orang yang paling berbahagia. Ya... atas bantuan Pak Handoko, Hazim disetujui oleh pimpinan pusat untuk menempati bangku pimpinan yang sebelumnya ditempati oleh Pak Handoko. Handoko sendiri, atas prestasinya diminta untuk membantu pusat.
Setelah rombongan pusat meninggalkan ruangan, Pak Handoko langsung mengangkat gelas yang hanya diisi air mineral mengajak bawahannya untuk bertoast ria. Walau bagaimanapun ada kebanggaan atas penghHaziman yang diberikan.
Namun Pak Handoko dengan berat hati menyampaikan bahwa dirinya tidak dapat ikut serta dalam liburan itu, karena telah memiliki janji tersendiri dengan istrinya untuk sebuah liburan di pulau dewata.
Hazim sendiri tidak begitu peduli dengan keabsenan Pak Handoko, toh dirinya tetap dapat mengikuti liburan rombongan kantor bersama istrinya. Dan ini dapat menjadi kado bulan madu bagi istrinya yang baru dinikahi 3 bulan lalu.
“Tapi apakah Pak Handoko tetap tidak mau ikut rombongan walaupun nantinya kami mengadakan sebuah game dengan perjanjian yang menarik?,” celetuk Fattan.
“Perjanjian?, emang kalian udah bikin perjanjian apa?” Tanya pak Handoko sambil menatap Fattan dan Hazim bergantian. Seperti halnya Pak Handoko, Hazim yang tidak pernah membuat perjanjian apapun tentang liburan pada Fattan, pun dibuat bingung.
“Ya, sebagai ucapan terimaksih, Saya dan Hazim ingin mengusulkan sebuah permainan, untuk membuang kejenuhan atas rutinitas kita, bagaimana jika nanti selama liburan disana kita membebaskan pasangan kita untuk dirayu oleh sesama kita,” papar Fattan
“Maksudmu?,” Tanya Pak Handoko meminta penjelasan yang lebih mendetil.
“Ya... bagi mereka yang beruntung, mungkin dapat dilanjutkan dengan rayuan diatas ranjang, dan atas dasar perjanjian awal tentunya kita tidak boleh melarang untuk ‘penuntasan akhir’ atas usaha kawan kita,”
“Saya pikir permainan ini bisa menjadi referensi kepuasan bagi kita, yang setau saya selalu setia dengan istri masing-masing, tentang ‘cita rasa’ dan ‘varian kenikmatan’ dari wanita selain istri kita,” tambahnya.
“Gila,, bagaimana mungkin usul itu meluncur dengan lancar dari mulut Fattan, apalagi dengan membawa-bawa namaku,” Hati Hazim mengumpat. Namun ketika dirinya ingin menampik usul Fattan, Hazim melihat wajah Pak Handoko yang berbinar sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju.
0 sponsors' comments
will be deducted After each update request, the author will receive a notification!
smartphone100
→ Request update
Thank you for supporting the story! :)
Please Login first.
Reading Theme:
Font Size:
Line Spacing:
Paragraph Spacing:
Load the next issue automatically
Reset to default
