Hannah meloncat dari ranjangnya dengan wajah kaget. Jam di samping ranjang menunjukkan Pukul 07.30, Hannah khawatir mereka akan ditinggalkan oleh rombongan yang berangkat pukul 09.00 tepat.
Bagaimana tidak, sejak kemaren sore mereka bermain gila-gilaan hingga semalam suntuk, mungkin ini sebuah pemanasan yang berlebihan untuk bulan madu mereka yang tertunda. Namun Hannah terpaksa sedikit lebih lama menyabuni tubuhnya, setiap bagian tubuhnya terasa lengket, entah oleh keringat mungkin juga karena cairan mereka yang menghambur keluar.
Hannah tersenyum sendiri saat teringat aksinya tadi malam, dirinya berhasil meyakinkan Hazim suaminya bahwa sperma yang mengalir keluar dari vaginanya adalah milik Pak Izza dan disebabkan keadaan yang sangat memaksa.
Busa sabun yang menutupi sebagian kulitnya membuat tubuh itu semakin eksotis, baru kali ini dia merasa bangga ketika Pak Izza memuji tubuhnya dan mencumbunya dengan sangat bernafsu. Padahal sebelumnya dirinya selalu jijik jika pria itu memandangi nya dengan penuh nafsu.
Hannah berdecak kagum dihadapan cermin kamar mandinya, dibiarkannya shower manyapu busa sabun yang tersisa. Jika suaminya memang mengizinkannya untuk bersenang-senang pada liburan nanti, lalu kenapa dia harus menahan diri untuk mencari kesenangan, begitulah yang ada diotak Hannah saat ini.
Air shower yang hangat membuatnya betah untuk berlama-lama melihat tubuh telanjangnya dialiri air yang menciptakan sungai-sungai kecil, mengalir disela bukit payudaranya yang membusung dan akhirnya menyelusup keselangkangannya.
Komentar apa yang akan keluar dari bibir teman-teman suaminya itu jika dirinya membiarkan tubuhnya ditelanjangi oleh pandangan mereka. Adakah kekaguman bila dirinya membiarkan payudaranya tersenggol oleh ulah mereka yang usil? Adakah celoteh-celoteh nakal yang terlontar bila dirinya membiarkan selangkangannya diintip oleh mata nakal mereka?. Oohhh... tampaknya Hannah sangat ingin menikmati petualang-petualangan yang mendebarkan.
Tapi Hannah kemudian mendesah panjang, tidak mungkin semua itu terjadi, dia adalah seorang istri yang baik-baik dari suami yang baik-baik pula. Biarlah kegilaan yang kemarin menjadi intermezzo dalam kehidupannya yang takkan terulang lagi.
Duk,duk,duk...
“Sayang, buka dong pintunya, bakal telat nih kita,” teriak Hazim, yang bergegas masuk kedalam kamar mandi setelah dibukakan pintu oleh Hannah.
***
Hazim hanya bisa tersenyum kecut, ketika kedatangannya disambut oleh kicauan Fattan dan Vico. Tapi setidaknya pria itu bisa bernafas lega karena bis wisata yang mereka carter belum datang. Hazim menurunkan istrinya beserta tas dan koper dan memarkir mobil di basemen gedung. Setelah meyakinkan tidak ada yang tertinggal dimobil, Hazim bergegas untuk berkumpul dengan teman-temannya.
Dari kejauhan Hazim melihat Hannah sedang asik berbincang dengan Khusna dan Bu Fatima tepat didepan pintu masuk kantor. sementara disamping mereka Hilmawan bersama istrinya Widya yang masih sangat muda sedang bercengkrama dengan Syaima, rupanya diam-diam Hilmawan mencoba menjalin keakraban antara Widya dengan Syaima.
Tak jauh dari mereka, Pak Handoko, Vico dan Fattan asik mengisap rokok mild, tapi yang membuat Hazim jengah adalah tatapan ketiga cowok itu yang tak pernah lepas dari tubuh para wanita, khususnya Hannah yang mengenakan celana jeans ketat selutut dipadu kaos lengan panjang yang cukup kebesaran untuk tubuh rampingnya.
Sambil berjalan mendekati Tasya, Istri Vico yang duduk terpisah disamping gedung, Hazim mengeluarkan rokoknya. Tasya mencoba tersenyum ketika melihat Hazim mendekat namun kemudian kembali asik dengan Smart Phone yang dipegangnya.
Hazim mencoba menilai-nilai wanita disampingnya, Vico sering bercerita tentang istrinya yang pemalu dan agak kuper dalam bersosialisasi. Tak heran jika dirinya menyendiri agak jauh dari yang lain. Namun yang membuat Hazim terkesima adalah dandanan Tasya yang sedikit nakal dari yang biasa dikenakannya. Rok putih lebar yang sangat pendek dipadu kaos merah menyala tanpa lengan yang ngepres dibadannya.
“Kostum yang bagus untuk liburan,” seru Hazim sambil memantik api ke rokoknya.Tasya langsung mengangkat kepalanya, dengan wajah memerah Tasya mencoba mengapitkan kedua lengannya untuk melindungi dadanya yang menjadi pemandangan indah bagi Hazim, tapi payudara itu justru semakin membusung.Hazim yang ikut kikuk karena komentarnya sendiri tertangkap basah melototi dada istri temannya itu.
“Kamu semakin terlihat cantik dengan baju itu, dan saya rasa liburan ini akan semakin menarik dengan kehadiranmu,” ucap Hazim berusaha membuat suasana lebih santai.
Wajah wanita berkacamata dengan lesung pipit dikedua pipinya itu semakin memerah, namun apa yang diucapkan Hazim membuatnya sedikit rileks. “suami saya yang memilihkan baju-baju ini, karena tidak ingin dirinya malu dihadapan teman-teman,” kata Tasya jujur.
“Hei, apakah itu gambar mu,” sela Hazim ketika melihat sebuah gambar kecil dengan pose yang menantang di sebuah laman jejaring sosial pada HP yang tengah dipegang Tasya.
Tasya sontak tertawa dan dengan cepat menyembunyikan HP nya kedalam tas, “Hahaha... kau tidak berhak untuk melihat ini”.
“Lalu siapa yang berhak, ayolah... sepertinya banyak sekali komentar yang kau kumpulkan untuk gambar itu, pasti gambar itu benar-benar menarik minat para lelaki,” seloroh Hazim penasaran.
“Tidak juga, hanya beberapa gambar request dari beberapa teman yang tidak ku kenal,” jawab Tasya dengan sedikit ragu menyerahkan HP nya ke telapak tangan Hazim. Dengan cepat Hazim menyambut, dan dengan cepat pula decak kagum mengalir dari mulutnya seiring jempolnya yang mengekplorasi beberapa gambar menantang lainnya.
“Aku tidak percaya, kau dapat berubah menjadi begitu menggairahkan, lihatlah ratusan komentar yang kau dapat, sepertinya kau benar-benar memikat mereka,” ucap Hazim ketika mendapati sebuah gambar yang begitu menantang, tubuh montok dengan rambut yang masih basah dan hanya mengenakan handuk.
“Mungkin... tapi dalam dunia nyata aku tetap saja menjadi seorang pecundang, dan tidak akan pernah mampu menyaingi istri mu atau bu Khusna yang selalu menjadi pusat perhatian, dan begitu mudah bergaul dengan siapa saja.” lirih wanita berkacamata itu.“Dan kau dapat melihat sendiri, hanya didunia maya aku berani berekspresi, karena disitu tidak seorang pun yang mengenal jati diriku sebenarnya,”
Ada nada kecewa akan keterbatasan yang dimilikinya sebagai wanita desa yang dipinang oleh perjaka Kota dan harus bergaul dengan istri-istri suaminya yang selalu tampil modis dan percaya diri. Tepat seperti yang diceritakan Vico, Vico sendiri sudah ratusan kali berusaha membangkitkan kepercayaan diri istrinya itu.
“Saya tidak melihat satupun cacat pada diri mu yang dapat membuat mu malu, bahkan bibir mungil dipadu dengan lesung pipit yang manis, dan mata lentik berhias kacamata yang manis itu dapat membuat para lelaki tergila-gila pada mu, yaa,, seperti aku ini,,”
Tasya tertawa “Hahaha... kamu bisa saja, lelaki mana yang melirik wanita yang sudah beranak satu ini, bahkan suami ku pun kini sudah jarang memuji, apalagi sampai memuji tubuh yang sudah mulai berantakan setelah melahirkan,”
“O, ya? Maaf, bolehkah saya meminta anda untuk berdiri sebentar,”Dengan ragu-ragu Tasya mengikuti permintaan pria yang sempat beberapa kali diajak oleh Vico untuk bertamu ke rumah mereka.
“Eemmmhhh... bisakah kamu berdiri agak tegak, yaaa,, mungkin kamu dapat sedikit membusungkan dada mu, yaa begitu,,” Hazim terus memberi intruksi, matanya tak melihat adanya gumpalan lemak pada perut yang ramping itu, bahkan bukan hanya payudaranya saja yang menggairahkan, kakinya yang membunting padi dengan pangkal paha yang sekal membuat gairah Hazim semakin menggelitik.
Namun mata nakal Hazim agak kesulitan untuk mengamati pantat yang terbalut rok dengan lipatan-lipatan lebar. Tampaknya Vico berhasil menyulap istrinya untuk liburan ini. Seakan mempersiapkan istrinya untuk disantap. Sebuah transformasi yang sempurna dari seorang gadis desa menjadi seorang wanita yang menggairahkan, hanya saja yang menjadi kendala adalah rasa percaya dirinya yang bermasalah.
“Bila kamu berdiri seperti itu, mungkin tidak akan yang mengira bila kamu sudah memiliki satu anak, dan ku rasa dada mu tidak kalah dengan istri ku, bahkan lebih besar,” Walau birahinya bergejolak saat menyaksikan dengan bebas bagaimana wanita yang sangat pemalu itu membusungkan payudaranya yang terbilang besar dan masih kencang, namun Hazim berusaha membuat suaranya setenang mungkin.
Entah bagaimana, obrolan yang awalnya kaku itu semakin mencair bahkan lebih terbuka. Tasya merasa senang dengan pujian yang dilontarkan Hazim. percaya dirinya menyeruak dengan malu-malu. Matanya berkali-kali memergoki pria disampingnya itu memandangi payudaranya berlama-lama dengan binar kagum.
“Aku berani bertaruh, aku dapat membuat mu memiliki percaya diri dan menjadi pusat perhatian pada liburan ini, asalkan kamu mengikuti saran yang ku berikan,” ucap Hazim setelah Tasya kembali duduk disampingnya. Jarak mereka yang cukup jauh dari rombongan membuat rasa malu Tasya sedikit berkurang, setidaknya tidak ada yang memperhatikan dirinya selain Hazim.
“Ah... Kamu ada-ada saja. Sudahlah... kamu terus saja mengomentari tubuhku, Apa kamu tidak tertarik dengan wanita-wanita yang lebih menggairahkan itu” jawab Tasya tidak percaya.
Sesaat Hazim mengalihkan pandangannya, tampak Khusna yang megenakan rok panjang lengkap dengan penutup kepala nya sedang merangkul Fattan yang ikut bergabung dengan Hannah dan Bu Fatima. namun Tasya yang kini dihadapan lebih menarik perhatiannya.
“Ayolah... Aku berani berbugil ria keliling monas bila aku gagal,”
Sontak Tasya mengernyitkan dahinya namun sesaat kemudian bibir mungil itu tertawa lebar. Baru kali ini Tasya dapat bercanda lepas dengan pria selain suaminya.
“Tapi, apabila Aku berhasil, mungkin Aku dapat sedikit mengambil upah atas tubuhmu ini,” kalimat yang dilontarkan Hazim semakin nakal, Tasya yang tertawa langsung terdiam.
“Aaa,, apa yang akan kamu minta dari tubuh saya?” dengan tergagap Tasya bertanya.Ada tekad dihati Hazim untuk dapat meraih satu orgasme dari tubuh istri temannya itu, apalagi secara tidak sengaja tiupan angin nakal menyingkap kain rok yang ringan, sepasang paha mulus yang sekal terpampang di depannya. Dengan malu-malu Tasya segera merapikan roknya, mengapit sisi kain diantara pahanya.
“Mungkin akan ku pikirkan nanti, setelah usaha ku menumbuhkan rasa percaya diri mu berhasil. Tapi satu yang pasti, aku sangat berminat dengan apa yang tersembunyi di balik kaos merah ini, bahkan jika diizinkan aku ingin sedikit berkenalan dengan milik mu yang tersembunyi dalam kain indah ini,” ucap Hazim sambil meletakkan telapak tangannya diatas paha Tasya yang tertutup rok.
“Eehh,ehm,,jangan nakal ya,,” seru Tasya, menepis tangan Hazim dengan cepat.
“Shit...” Hazim mengumpat dalam hati, hanya gara-gara tak mampu membendung nafsu, telapak tangannya itu telah merusak semua rencana, mungkin dirinya harus sedikit bersabar, Tasya memang bukan wanita seperti Syaima atau wanita lainnya yang begitu mudah diajak ke tempat tidur.
“Upss... maaf... aku terlalu bergairah saat melihat kulit mulus mu,” Ujar Hazim serampangan, dan hatinya kembali mengumpat, kenapa mulutnya harus begitu jujur menturkan isi hatinya. Suasana kembali kaku, Hazim tidak lagi memiliki kata-kata yang tepat untuk mencairkan suasana.
“Kemana eemm,,anak mu dititipkan,” ucapnya asal, meski tak yakin kalimat itu dapat memperbaiki suasana, bahkan suara yang keluar dari mulutnya agak serak dan terbata.
“Sial, sial,sial,,” umpatnya dalam hati, saat melihat Tasya justru tertawa melihat kegugupannya. Bahkan tubuh wanita itu sampai terguncang membuat payudara turut bergoyang.
“Apakah kata-kataku memang lucu,” hati Hazim menjadi kesal dengan sikapnya sendiri.
“Eemmm,, lalu apa yang harus aku lakukan untuk menumbuhkan rasa percaya diriku,” ucap Tasya tanpa menjawab pertanyaan Hazim, Tasya sadar lelaki di depannya kini merasa bersalah dan menjadi serba salah.
“Yaa,, mungkin kita bisa memulai dari sekarang,” ucap Hazim.
“Apakah harus menggunakan telapak tanganmu,” balas Tasya cepat, sepertinya wanita itu justru ingin meledek Hazim.
“Tidak, tidak, maaf atas perbuatanku tadi. seperti yang kubilang tadi, kamu dapat memulai dengan belajar menegakkan punggung, sehingga payudara itu semakin membusung, dan biarkan kedua bukit itu mendominasi pemandangan dari tubuhmu,” Hazim kembali berusaha menguasai keadaan setelah sadar dirinya sedang dikerjai oleh istri temannya itu.
Dan benar saja, kini giliran Tasya yang kembali kikuk dan bingung, haruskah dirinya mengikuti saran lelaki yang hanya dikenal dari suaminya. Tapi tak urung saran itu diikutinya juga.
“Apakah seperti ini?” ucapnya menahan malu, payudaranya memang terbilang besar, apalagi jika harus duduk tegak seperti itu.
“Ya,ya... mungkin kamu bisa sedikit bersandar agar tidak terlalu capek, tapi jangan pernah lagi menekuk pundak dan menundukkan kepala, biarkan kepala mu tetap tegak, dan yakinlah kamu tidak kalah cantik dengan wanita manapun…dan mungkin sekarang saat yang tepat untuk menguji kelebihan yang kamu miliki, aku yakin dengan keindahan tubuh yang kau miliki, kamu dapat menggoda penjaga kantor itu,” ucap Hazim sambil menunjuk seorang pria paruh baya di sebrang mereka, Mang Hendi.
“Tapi apa yang harus ku lakukan,” balas Tasya yang kebingungan,” “Sekarang ikuti intruksiku... Ok, coba rentangkan kedua kakimu... ya,, terus,, biarkan angin menyapa kulit, bagus...dan tetaplah menatapku seolah kita sedang mengobrol,, bagus...” Mata Hazim yang begitu tajam menatap Tasya seakan memberikan semangat kepada ibu muda yang berusaha menahan malu mengikuti intruksinya.
Tak urung aksi itu membuat jantung Tasya berdegup kencang, ini adalah untuk pertama kalinya Tasya memperlihatkan selangkangannya yang hanya tertutup oleh pakaian dalam kepada pria lain. Jemarinya meremas bangku kayu dengan kuat, Tasya sangat yakin jika penjaga kantor itu memang tengah menatap selangkangannya pasti mendapati sepasang paha montok yang menggairahkan.
“berapa lama saya harus melakukan ini,” Tanya Tasya, dirasakannya semilir angin dengan mesra mengecupi kulit pahanya, membuat bulu-bulu halus yang menghias paha sintalnya berdiri.
“Teruslah, Biarkan rasa malu menguasai dirimu, biarkan rasa malu menyelimuti seluruh tubuhmu, rasakanlah wajah mu yang mulai terasa panas dan memerah, dan terus nikmati rasa malumu,”
Tasya memejamkan matanya, membayangkan ekspresi pria di hadapannya yang siap menerkam tubuhnya.
“Nikmati rasa malu itu, hingga kamu mampu menguasai tatapan nakal pria itu,” kata-kata Hazim bagai menghipnotis geraknya, Tanpa sadar Tasya semakin membuka pahanya semakin lebar.“Dan sekarang tarik sedikit rok mu, biarkan pria itu menikmati selangkangan mu, biarkan pria itu menerkam kemaluan mu dengan matanya.”
Mata Tasya terbuka, Wajahnya menunjukkan kata-kata protes, jika hanya mengangkangkan kakinya mungkin tidak terlalu masalah, tapi dengan membuka roknya semakin keatas sama saja memberi undangan terbuka kepada Mang Hendi. Meski wajah Hazim dan Tasya tetap saling menatap, tapi mata mereka sesekali melirik dan memperhatikan apa yang tengah dilakukan Mang Hendi.
“Tidak Hazim, Aku tidak mau jika harus melakukan itu,” “Ayolah, Aku yakin kamu dapat menggoda pria itu, lihatlah dia mulai memperhatikanmu, Oowwhh,, pria itu mulai membungkukkan tubuhnya mengambil sesuatu, tapi aku yakin dirinya hanya ingin mencari tau apa yang tersembunyi dibalik rok mu itu, mungkin kau bisa memberinya sedikit rejeki di pagi hari,” goda Hazim.
“Tapi aku tidak mengenakan apapun selain celana dalam,” balas Tasya cepat.
Lagi-lagi Hazim menganggukkan kepalanya menegaskan kepada wanita muda itu bahwa inilah waktu yang tepat untuk mengubah pribadinya. Sementara hati Tasya mencoba mencari-cari pembenaran atas apa yang dilakukannya saat ini.
Setelah menghela nafas panjang, jemari nya secara pasti menarik rok itu semakin ke atas. Meski tidak yakin dapat merubah sifat pemalunya, setidaknya Tasya ingin menikmati sedikit kenakalan yang tidak pernah dilakukannya. Sepasang paha putih nan sekal, perlahan mulai terpampang dengan lebih jelas berujung pada secarik kain pelindung, seandainya Hazim sedikit menundukkan kepalanya maka dirinya akan dapat pula menikmati suguhan indah di pagi hari nan indah itu.
“Apakah ini cukup,” suara Tasya terdengar berat. Beberapa tetes keringat menetes diwajah wanita berkacamata itu. Sementara jemarinya kini meremas tangan Hazim dengan kuat, seakan meminta dukungan atas apa yang dilakukannya.
“Ya, kurasa cukup,” ada nada-nada cemburu dan iri dimata Hazim atas keburuntungan yang tengah dinikmati Mang Hendi. Tekad Hazim untuk dapat menyetubuhi Tasya semakin menggebu, dan ini adalah jalan pintas terdekat untuk cita-cita nya tersebut.
Mang Hendi yang memang sedang menikmati pemandangan indah itu, semakin dibuat kelimpungan ketika dua paha sekal yang membuat batangnya berdenyut keras mulai memberikan akses pemandangan yang lebih gila, Sepasang batang mulus yang berujung pada segitiga bermuda berbalut kain biru muda, yang menjadi misteri bagi lelaki yang tak pernah lulus SD ini.
Tasya merasakan vaginanya mulai basah, seandainya Mang Hendi berada lebih dekat mungkin pria paruh baya itu dapat melihat bagaimana celana dalam itu mulai lengket dan basah.
Sementara Hazim berulangkali mengumpat dalam hati atas kemujuran yang didapat Mang Hendi, ingin sekali Hazim menyibak rok Tasya dan melihat bagaimana keindahan selangkangan wanita di sampingnya itu.
Tanpa diduga, Tasya memalingkan wajahnya dan menatap Mang Hendi yang hampir terjengkang karena kaget dan berlalu pergi dengan cepat.“Kenapa pria itu pergi...” keluh Tasya, padahal dirinya hanya ingin melihat wajah lelaki yang telah menikmati keindahan tubuh yang ditawarkannya.
“Tidak,tidak... justru kau telah berhasil menguasai rasa malumu dengan berani menatap pria itu, lihat pada akhirnya dia yang malu, bukan kamu, kaulah pemenangnya”
“Ya kurasa ini sudah lebih dari cukup, pria itu tak mampu melawan godaanku,” ucap Tasya dengan senyum lebar.
“Teeett...Teeet...” suara klakson bis wisata yang begitu kencang membuat Hazim dan Tasya terkaget.
Mang Hendi yang sempat menghilang dibalik gedung kembali menunjukkan batang hidungnya dan bergegas mengarahkan bis besar yang memasuki halaman kantor. Sesekali matanya mencoba melirik Tasya berharap menemukan pemandangan seperti yang dinikmatinya tadi.
“Lihatlah, apa yang telah dilakukan selangkangan mu pada pria paruh baya itu, ternyata kau memang nakal,” bisik Hazim sambil beranjak. sumber
“Tapi ku rasa bukan hanya pria itu yang menikmati...” balas Tasya menggoda. Entah kenapa Tasya merasa memiliki kebebasan untuk bercanda dan sedikit menggoda pria yang telah berhasil ‘menelanjangi’ tubuhnya ditengah umum.
Hazim hanya terkekeh, “Eitss,, ingat tubuh mu harus selalu tegak, dan biarkan aku menikmati keindahan payudara mu, ehmm,, maksud saya para lelaki,” ucap Hazim mencoba mengiringi langkah kaki Tasya menuju rombongan yang sibuk mengepak tas mereka kebagasi.
Mungkin ada benarnya yang diinginkan Pak Handoko, dengan menggunakan bis wisata, mereka akan lebih cepat akrab dibanding menggunakan mobil pribadi masing-masing.
***
Hannah merentangkan kedua tangannya dan mengambil nafas panjang untuk mengisi rongga parunya dengan udara pantai yang begitu sIzza. Khusna yang ada disampingnya hanya tersenyum melihat ulahnya.
Di hadapan mereka tampak sebuah cottage yang keseluruhan bangunannya menggunakan kayu dan atap dari rumbia, dikeliling sebuah pagar yang cukup tinggi. Sebuah pemandangan yang sangat artistik dengan nuansa natural, mungkin pencipta bangunan ini sengaja mempertahankan kealamian pemandangan yang ada, walaupun disana-sini terdapat beberapa tambahan bangunan permanen untuk menjaga keamanan dan penunjang fasilitas.
Dengan ditemani Vico, Hazim menemui penjaga cottage yang dijaga oleh seorang lelaki berumur 40an dan seorang wanita muda yang bertugas sebagai juru masak bagi para tamu yang menginap, kulit nya yang hitam seakan memberi tanda bahwa lelaki itu memang telah lama mendekam dipulau tersebut.
Sementara Pak Handoko terlihat sibuk memberikan beberapa isyarat kepada Syaima, memang cukup sulit menjaga kerahasiaan hubungan dengan simpanannya itu. Walau bagaimanapun Syaima adalah wanita normal yang mengharapkan kemesraan perlakuan penuh kasih sayang dari pasangannya. Untungnya semua wanita, selain Bu Fatima, telah mengetahui skandal itu, dan mereka mencoba menemani Syaima.
“Hei,,hei... disini menyediakan 7 kamar, dan pada kunci-kunci ini terdapat nomor dari kamar, dan aku bersama Hannah akan mengambil kamar nomor lima, dan untuk menghormati Pak Handoko yang akan meninggalkan kita, ada baiknya kamar dengan nomor satu kita persilahkan kepada bapak untuk menempati,” terang Hazim sambil menyerahkan kunci kamar kepada Pak Handoko.
Hazim sengaja mengambil kamar nomor lima karena kamar tersebut ada dilantai dua dengan jendela tepat mengarah ke kolam renang dibawahnya. Sedangkan Vico mengambil kamar paling belakang. Setelah membagi kunci yang akan menentukan dikamar mana mereka akan tidur, ruang lobby sekaligus ruang untuk bersantai itu perlahan kembali sepi. Matahari masih memberikan mereka beberapa menit untuk melepas lelah sebelum bersama-sama menyaksikan sunset pertama dipantai yang indah itu.
Pak Handoko menghisap dalam-dalam rokok yang masih tersisa setengah, pandangannya tidak lepas dari tubuh sekal Tasya yang asik menanti ombak yang datang silih berganti, menyapa jemari kaki, membuat kaki indah itu sedikit terbenam dalam timbunan pasir. Telah lama memang dirinya menyimpan hasrat pada wanita berkacamata itu.
Dan mungkin inilah masa-masa yang tepat untuk menjajal kehebatannya pada tubuh wanita yang memiliki tubuh bohay itu. Sesekali roknya terangkat tertiup angin laut yang nakal, memperindah pemandangan dengan latar belakang sunset dipantai eksotis itu. Hazim yang ada disampingnya masih sibuk mengotak-atik GPS yang dipinjamnya dari Mang Diky, si penjaga cottage.
Sesekali Hazim tersenyum menyaksikan keberhasilannya menyulap pribadi seorang Tasya, Hazim sangat yakin jika wanita itu menyadari tatapan nakal Pak Handoko karena matanya sesekali melirik kearah Pak Handoko yang tak bergeming dari pandangannya. tampaknya ia tengah menguji saraf rasa malunya di hadapan Pak Handoko.
“The party is begin, tentukan targetmu, taklukkan dan nikmati sepuasmu,” seru Fattan yang datang diiringi Vico dan Hilmawan.
“Naf, sepertinya sudah ada yang menjadikan istrimu sebagai target,” tambah Fattan melontarkan umpan. Sementara yang disinggung mengangkat kedua bahunya dan tertawa lebar, Vico sepertinya memang sudah mempersiapkan hatinya untuk pesta ini, bahkan dirinya mendadani Tasya seindah mungkin seakan menawarkan kepada para gladiator yang berminat.
“Terus terang saja, aku telah menetapkan seluruh wanita disini sebagai target ku, dan tentu saja termasuk istrimu,” ucap Vico sambil menepuk bahu Fattan, lelaki itu memang terbiasa bicara ceplas-ceplos namun solidaritasnya kepada teman patut diacungi jempol.
“Silahkan saja, jika kau mampu menaklukkannya,” jawab Fattan tak ingin kalah.“Tasyaaa... ayo sini...” terdengar suara Khusna yang tengah menuju gazebo bersama para wanita lainnya.
Sore itu Khusna tampak anggun dengan penutup kepala berwarna biru muda, senada dengan kaos yang dikenakannya, celana panjang dari bahan tisyu yang dikenakannya cukup sukses mencetak kaki indah yang tak pernah terekspos didepan umum. Siapa pulakah yang beruntung mengayuh tubuh indah dengan paras yang cantik itu
“Ok, agar liburan ini lebih berarti saya ingin menawarkan beberapa acara, dan untuk diketahui acara ini tidak mengikat siapapun jadi apabila ada diantara kita tidak dapat ikut ataupun malas untuk ikut berkumpul tak mengapa...” Sebagai calon pemimpin yang baru pada anak perusahaan, Hazim mencoba menunjukkan power dengan gayanya sendiri.
Bibir Hazim dengan tenang memaparkan beberapa ide acara yang ada dikepalanya, dan tampaknya semua yang ada disitu mengaggukkan kepala tanda setuju. Tanpa disadari yang lain, tampak sepasang mata penuh rasa kagum terhadap pribadi Hazim yang tenang dan terkadang cukup humoris. Obrolan berlanjut pada hal-hal yang ringan.
Vico yang mencoba mendekati Widya dengan menawarkan sepotong kentang goreng yang sudah jatuh kelantai, ulah Vico itu tentu saja membuat Widya terpingkal. Hilmawan yang paham dengan gelagat Vico mencoba memberi tempat dengan alasan mengambil wedang jahe untuk gelasnya yang memang telah kosong.
Gazebo itu memang terbilang cukup besar dengan atap daun nipah, dengan beberapa tempat duduk yang terbuat dari batangan-batangan pohon dipotong seukuran kursi yang diletakkan secara acak.
Empat buah meja dari batu besar berwarna hitam sepanjang satu meter terletak disetiap sudutnya. Suara canda dan tawa mulai mengalir menandakan keakraban yang mulai terjalin, sungguh suasana keakraban yang sangat hangat, sehangat wedang jahe yang dihidangkan Lik Dewi, istri Mang Diky.
Namun siapa yang menduga kehangatan tersebut dalam beberapa jam kedepan akan menjadi sangat panas, dihias berbagai desahan dan jeritan yang tertahan dari para betina, berselimut rasa solidaritas penjantan terhadap pemiliknya.
Pak Handoko sesekali melirik tubuh Lik Dewi yang telah menyulap dirinya dengan pakaian ala pelayan dengan kain kebaya lengkap dengan jariknya, sementara Mang Diky mengenakan celana hitam yang longgar dengan kain sarung yang dilipat rapi.
Harus diakui, Lik Dewi memang memiliki wajah yang manis khas wanita jawa pesisir, meski kulitnya sawo matang namun tubuhnya begitu kencang mendukung gerakannya yang lincah dalam melayani berbagai permintaan para tamu cottage.
Pak Handoko meneguk ludahnya ketika Lik Dewi berjalan menjauh, meninggalkan pemandangan yang begitu indah, bokongnya yang cukup besar berayun gemulai seakan mengundang untuk dijajal. Dan sepertinya bukan hanya Pak Handoko yang tertarik dengan olah gerak dari tubuh wanita muda itu, karena tatapan Hilmawan dan Vico pun tak terlepas dari geol nakal tubuh yang terbalut erat kain khas wanita desa itu.
Mang Diky yang menangkap tatapan nakal para lelaki hanya tersenyum, dirinya telah terbiasa menghadapi para tamu yang menunjukkan minat pada tubuh istrinya.“Silahkan disantap tuan-tuan, kalo ada keperluan lain bisa memanggil saya atau istri saya,” ucap Mang Diky sambil tersenyum penuh makna, lalu pergi meninggalkan gazebo.
Hazim yang sibuk meladeni celoteh manja Hannah beberapa kali melotot melihat ulah Tasya sepeninggal Vico. Tampaknya wanita itu telah begitu pandai menonjolkan keindahan tubuhnya, dengan tatapan genit sesekali Tasya merentangkan sayap pahanya dengan begitu lebar memamerkan paha sekal dan selangkangan yang terbalut kain putih.
Ada sensasi luar biasa pada diri Hazim dan Tasya ketika berusaha untuk saling memberi dan menerima keindahan ditengah hiruk pikuk tawa dan canda. Untuk kesekian kalinya Tasya merentangkan kakinya, hanya saja kali ini lebih lama dari sebelumnya, seakan mempersilahkan kepada Hazim untuk lebih mengenali bagian paling sensitifnya.
Sementara matanya bersiaga mengawasi sekelilingnya. Untung tak dapat dicegah, Khusna yang masih penasaran dengan keindahan pulau itu mengajak Hannah untuk sedikit berjalan-jalan. Bagi Khusna sinar mentari senja yang menapaki setiap bulir pasir dapat menghadirkan ketenangan. Langkah kaki Khusna dan Hannah tampaknya diiringi oleh yang lain.
Bersambung…
ns216.73.216.136da2


