Aku sudah lama berhenti menghitung berapa kali pintu rumah ini dibuka oleh orang yang seharusnya hanya menjadi menantu. Namun malam itu, ketika kunci berputar pelan dan aroma hujan malam yang menempel di kulitnya menyusup masuk bersama angin, aku tahu sesuatu di dalam diri telah bergeser. Bukan tiba-tiba. Bukan juga seperti petir yang menyambar tanpa peringatan. Lebih seperti retakan halus di permukaan kaca yang sudah lama ada, hanya menunggu tekanan tepat untuk merekah.
2566Please respect copyright.PENANA4Mf3cTaSle
Namanya Saffira.
Bukan nama yang mudah dilupakan, dan bukan tubuh yang mudah diabaikan.
2566Please respect copyright.PENANAhN1kBzaSWz
Ia datang dengan langkah yang tidak terburu-buru, rambut hitamnya yang basah sedikit menempel di pelipis dan leher. Jaket tipis berwarna krem yang biasa dikenakannya di malam hujan masih menggantung di bahu, tapi bagian dalam kemeja putihnya sudah agak transparan di bagian dada karena embun. Aku berdiri di ambang dapur, memegang cangkir kopi yang sudah dingin, dan untuk sepersekian detik aku membiarkan mata menelusuri garis yang seharusnya tidak kutelusuri.
2566Please respect copyright.PENANAAfvh5oH923
Payudaranya naik turun pelan saat ia menarik napas. Tidak besar secara berlebihan, tapi penuh, bulat, dan memiliki berat yang terlihat jelas di balik kain tipis. Putingnya menekan kain putih itu, dua titik gelap yang tidak sepenuhnya tersembunyi. Aku tahu ia tidak memakai bra malam itu. Aku sudah terlalu sering melihatnya dalam kondisi seperti ini untuk berpura-pura tidak tahu.
2566Please respect copyright.PENANAUAT5bJ4BuN
“Bapak masih bangun?” suaranya lembut, sedikit serak karena hujan dan perjalanan dari rumahnya yang hanya dua blok dari sini.
2566Please respect copyright.PENANA1G9F9n2hjS
Aku mengangguk. “Kopi sudah dingin. Mau aku buatkan yang baru?”
2566Please respect copyright.PENANA6gZFdB6jfI
Ia tersenyum. Senyum yang tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk membuat lekuk di pipinya muncul. “Jangan repot-repot. Aku cuma mampir sebentar. Naufal masih di kantor, lembur lagi. Katanya bisa sampai tengah malam.”
2566Please respect copyright.PENANA00G6KLBy02
Naufal. Anakku. Suaminya.
2566Please respect copyright.PENANA6U7Vif9tCG
Kata itu seharusnya cukup untuk membuatku memalingkan muka. Tapi malam ini aku tidak memalingkan muka.
2566Please respect copyright.PENANA5yw6itUF62
Saffira melepaskan jaketnya dan menggantungnya di punggung kursi. Kemeja putih itu kini lebih jelas menampakkan bentuk tubuhnya. Pinggangnya ramping, hampir terlalu ramping dibanding pinggulnya yang melebar lembut. Saat ia berbalik ke arah kulkas, bokongnya bergerak di dalam celana kain abu-abu yang agak longgar. Bukan ketat. Tapi cukup untuk memperlihatkan lekuk yang padat, bulat, dan bergoyang pelan setiap langkah.
2566Please respect copyright.PENANAlt3N7LtsVy
Aku menelan ludah.
2566Please respect copyright.PENANAJxXfFhPYIg
“Ada sisa sup ayam di panci,” kataku, suara terdengar lebih dalam dari yang kujaga. “Masih hangat.”
2566Please respect copyright.PENANAksTILcoYpD
Ia menoleh. “Bapak selalu siapkan makanan berlebih.”
2566Please respect copyright.PENANAHRIX1hMwXv
“Kebiasaan lama.”
2566Please respect copyright.PENANAmpb3Nd1PeK
Kami saling memandang sejenak. Di dapur yang hanya diterangi lampu kuning di atas meja, jarak antara kami terasa lebih dekat daripada seharusnya. Aku bisa mencium wangi sabun mandinya yang bercampur dengan hujan—sedikit manis, sedikit manis seperti susu dan bunga putih. Aroma itu selalu menempel di hidungku lebih lama daripada yang diizinkan.
2566Please respect copyright.PENANAHMaJQpxkLc
Saffira mengambil mangkuk dan menyendok sup. Ia duduk di kursi seberangku, bukan di samping. Jarak yang aman. Jarak yang masih menjaga kesopanan. Tapi matanya… matanya tidak selalu menjaga kesopanan.
2566Please respect copyright.PENANAGf6xFXrlO6
“Bapak kelihatan lelah,” katanya sambil meniup sendok. Uap naik di depan bibirnya yang tipis tapi penuh. “Kerja di kebun lagi?”
2566Please respect copyright.PENANAr7YOKfT3U9
“Sedikit. Tanaman cabai butuh perhatian.”
2566Please respect copyright.PENANAFH5yReSd27
Ia tersenyum kecil. “Naufal bilang Bapak lebih suka sendiri di kebun daripada di rumah.”
2566Please respect copyright.PENANALzjHF4NisU
“Rumah terlalu sepi kalau hanya aku.”
2566Please respect copyright.PENANAxa3LVJeWp3
Kalimat itu keluar lebih jujur daripada yang direncanakan. Saffira menunduk sebentar, menatap mangkuknya. Rambutnya yang masih basah jatuh menutupi sebagian wajah. Aku melihat garis lehernya yang panjang, kulitnya yang mulus, dan sedikit bekas kemerahan di tulang selangka—mungkin dari tali bra kemarin, atau dari ciuman suaminya. Pikiran itu membuat perutku mengeras.
2566Please respect copyright.PENANAxb61f94uTK
“Aku bisa lebih sering mampir,” katanya pelan. “Kalau Bapak tidak keberatan.”
2566Please respect copyright.PENANA50oobjHaLf
“Tidak keberatan.”
2566Please respect copyright.PENANAnNmgdqSyRA
Kata-kata itu terlalu cepat. Terlalu jelas.
2566Please respect copyright.PENANAjFDZ7t1o2Y
Ia mengangkat wajah. Matanya hitam pekat, dengan bulu mata yang panjang. Ada sesuatu di sana yang tidak sepenuhnya polos. Bukan undangan terbuka. Lebih seperti kesadaran bahwa ia tahu aku memperhatikannya, dan ia tidak menolak perhatian itu.
2566Please respect copyright.PENANAQE0yimC7XK
Kami makan dalam keheningan yang tidak benar-benar hening. Sendok beradu dengan mangkuk, napas saling bersahutan, dan sesekali kain kemejanya bergeser ketika ia bergerak, menampakkan lebih banyak kulit di bagian dada. Aku berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi setiap kali ia menunduk untuk menyendok, garis payudaranya menjadi lebih jelas. Beratnya terlihat. Tekstur kain yang menempel membuat putingnya sedikit menonjol, seolah mengundang jari untuk memastikan apakah memang sekeras itu.
2566Please respect copyright.PENANAwedPwRiZJc
Aku mengalihkan pandangan ke jendela. Hujan masih turun tipis.
2566Please respect copyright.PENANApG4bddqTX8
“Naufal bilang dia ingin punya anak tahun ini,” ucap Saffira tiba-tiba.
2566Please respect copyright.PENANA5lb1crJC5A
Aku menoleh. “Oh.”
2566Please respect copyright.PENANAFybda0elSq
“Aku belum siap.” Suaranya pelan, hampir seperti pengakuan. “Masih takut. Masih… belum siap menjadi ibu.”
2566Please respect copyright.PENANAMakfbpCXsa
Aku mengangguk pelan. “Tidak apa-apa. Tidak perlu terburu-buru.”
2566Please respect copyright.PENANABt4LGINlTz
Ia tersenyum tipis. “Bapak selalu bilang begitu. Naufal selalu bilang sebaliknya.”
2566Please respect copyright.PENANAYhvaCiteQA
Ada kelelahan di suaranya. Bukan kelelahan fisik. Lebih dalam. Seperti seseorang yang sudah lama membawa beban yang tidak bisa diceritakan kepada suami.
2566Please respect copyright.PENANAXIylN0S34F
Aku ingin bertanya lebih jauh. Ingin tahu apa yang membuatnya takut. Ingin tahu apakah di rumah mereka ada kehangatan yang cukup, atau hanya kewajiban. Tapi aku menahan diri. Batas masih ada. Meski tipis.
2566Please respect copyright.PENANAJKQpJWBuSy
Setelah makan, Saffira berdiri untuk mencuci mangkuk. Aku ingin bilang biar aku saja, tapi mulutku terlanjur tertutup. Aku hanya duduk dan menonton dari belakang.
2566Please respect copyright.PENANAQyLa3QSSvi
Pinggangnya bergerak pelan saat ia menggosok piring. Celana kain itu turun sedikit di bagian belakang, menampakkan garis dalam kulit di atas bokong. Kulitnya putih bersih, hampir bercahaya di bawah lampu dapur. Aku membayangkan jari-jari menelusuri garis itu, dari pinggang turun ke lekuk, lalu naik lagi. Bayangan itu membuat darahku mengalir lebih cepat ke tempat yang seharusnya diam.
2566Please respect copyright.PENANAj1ZYvB7yEi
Ketika ia berbalik, aku sudah berdiri. Jarak kami hanya dua langkah.
2566Please respect copyright.PENANAUFBCZ3Hlxk
“Terima kasih untuk makanannya,” katanya.
2566Please respect copyright.PENANA0jEIqdRGPQ
“Sama-sama.”
2566Please respect copyright.PENANAqTz6IQYuyz
Ia mengambil jaketnya. Tangannya sempat tersentuh tanganku saat aku membantu memegangkan. Sentuhan itu singkat. Hangat. Tapi cukup untuk membuat kulitku merinding.
2566Please respect copyright.PENANAUAMDWoqpsi
“Aku pulang dulu, Bapak.”
2566Please respect copyright.PENANA60nDosY6HT
“Hati-hati di jalan. Hujan masih.”
2566Please respect copyright.PENANAX7UZkyU47L
Ia mengangguk. Lalu, sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. “Bapak… kalau malam-malam sepi, boleh telepon aku. Aku biasanya belum tidur sampai Naufal pulang.”
2566Please respect copyright.PENANAuSfQ7jKIc0
Aku menatapnya. “Baik.”
2566Please respect copyright.PENANAOAIc6mMlrn
Pintu tertutup.
2566Please respect copyright.PENANAy1ZjhUL7Oa
Aku berdiri di tempat yang sama cukup lama. Napas masih belum stabil. Di dalam celana, sesuatu sudah mulai menegak, memalukan dan sulit disembunyikan. Aku pergi ke kamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin, tapi bayangan tubuhnya tidak ikut hilang.
2566Please respect copyright.PENANAa01ny2elXZ
Malam itu aku tidur dengan pikiran yang kotor.
2566Please respect copyright.PENANAVMidKHJQa5
Bayangan payudaranya yang terangkat saat ia menarik napas. Bayangan puting yang menekan kain. Bayangan bokong yang bergoyang pelan. Dan suara desahannya—meski belum pernah kudengar—sudah terasa di telinga.
2566Please respect copyright.PENANA8yMwxiir4a
Aku bangun tengah malam dengan tangan di selangkangan, basah, dan merasa bersalah.
2566Please respect copyright.PENANAFgMV1QEHMe
Tapi rasa bersalah itu tidak cukup kuat untuk menghapus keinginan.
2566Please respect copyright.PENANAWxEyKElb0T
---
2566Please respect copyright.PENANAkwTsNV8cMS
Dua hari kemudian, Naufal datang bersama Saffira untuk makan malam. Seperti biasa. Seperti keluarga yang baik.
2566Please respect copyright.PENANAgkt4Q9c6yy
Naufal duduk di sebelahku, membicarakan proyek di kantor, gaji yang naik sedikit, rencana liburan ke Bali yang entah kapan. Saffira duduk di seberang, memakai gaun sederhana berwarna biru muda yang longgar di bagian atas tapi cukup menampakkan tulang selangka dan sedikit lekuk payudara. Rambutnya diikat tinggi, menampakkan leher yang panjang dan telinga yang kecil.
2566Please respect copyright.PENANAEUImvwSa6m
Setiap kali ia tertawa mendengar cerita Naufal, payudaranya bergoyang pelan. Aku berusaha tidak melihat. Gagal.
2566Please respect copyright.PENANAi9WZbx8FYa
Setelah makan, Naufal diminta teman kantornya lewat telepon. Ia keluar ke teras untuk berbicara. Tinggal aku dan Saffira di ruang tamu.
2566Please respect copyright.PENANAtnfhEybUoi
“Bapak mau teh?” tanyanya.
2566Please respect copyright.PENANAoLjjSEkcFS
“Boleh.”
2566Please respect copyright.PENANAvcnWkAdC0c
Ia pergi ke dapur. Aku mendengar suara gelas dan air. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan dua cangkir. Saat meletakkan cangkir di mejaku, tubuhnya sedikit membungkuk. Dari sudut pandangku, aku bisa melihat belahan payudaranya yang dalam. Kulitnya mulus, tanpa noda. Ada sedikit kilau keringat di tengah dada.
2566Please respect copyright.PENANAYtlBzAYUR5
Aku menelan ludah lagi.
2566Please respect copyright.PENANAzrss4aF11E
Saffira duduk di sofa seberang, menarik kaki ke bawah tubuhnya. Gaunnya naik sedikit, menampakkan paha yang putih dan kenyal. Ia tidak menyadari, atau mungkin menyadari dan tidak peduli.
2566Please respect copyright.PENANADpuYxnkZEJ
“Naufal bilang Bapak dulu sering bawa dia ke pantai waktu kecil,” katanya sambil menyeruput teh.
2566Please respect copyright.PENANA4cI7RUJWWn
“Iya. Dia suka air.”
2566Please respect copyright.PENANAlzUrvAP5NG
“Aku juga suka air. Tapi Naufal jarang ajak aku ke pantai sekarang. Katanya sibuk.”
2566Please respect copyright.PENANAb3gXvQ3DiE
Aku mengangguk. “Kerja memang menyita.”
2566Please respect copyright.PENANA1wHOJkPtDN
“Kadang aku merasa… sendirian.” Suaranya pelan. “Meski ada suami.”
2566Please respect copyright.PENANAYfpwAAmkx8
Aku menatapnya. “Kamu bisa cerita ke aku. Kalau mau.”
2566Please respect copyright.PENANAcLmjyH8QqY
Ia tersenyum kecil. “Bapak selalu jadi tempat cerita yang nyaman.”
2566Please respect copyright.PENANA5qISzbX5nH
Kata “nyaman” itu terasa berbahaya.
2566Please respect copyright.PENANAz2CwgQ5F9I
Kami berbicara lama. Tentang masa kecilnya di Solo, tentang ibunya yang sudah meninggal, tentang ketakutan menjadi ibu yang tidak cukup baik. Aku mendengarkan. Sesekali bertanya. Tapi pikiranku tidak sepenuhnya di kata-katanya. Pikiranku di cara bibirnya bergerak, di cara lidahnya menyentuh bibir bawah saat berpikir, di cara napasnya sedikit memburu ketika topik menjadi terlalu pribadi.
2566Please respect copyright.PENANAROZoirx5QV
Ketika Naufal kembali, Saffira sudah duduk lebih tegak, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi matanya sempat bertemu denganku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya.
2566Please respect copyright.PENANA516L1zmgn8
Malam itu, setelah mereka pulang, aku duduk di teras sendirian. Udara malam dingin. Aku merokok—kebiasaan yang sudah jarang kulakukan. Asap naik pelan.
2566Please respect copyright.PENANAsyw7pM0qoe
Aku membayangkan Saffira di rumah mereka. Mungkin sudah mandi. Mungkin memakai kaos oblong tipis milik Naufal. Mungkin payudaranya bebas di balik kaos itu. Mungkin ia berbaring di sofa menunggu suami yang lelah. Mungkin jari-jarinya sesekali menyentuh dirinya sendiri karena sepi.
2566Please respect copyright.PENANA9F6BJvwZMT
Pikiran itu membuatku mengerang pelan.
2566Please respect copyright.PENANAvLAbEPq4Bn
Aku masuk ke kamar, mengunci pintu, dan membiarkan tangan turun. Aku membayangkan mulutnya di sekitarku. Membayangkan lidahnya yang hangat. Membayangkan payudaranya yang berat di telapak tanganku. Membayangkan desahannya yang tertahan karena takut terdengar suami.
2566Please respect copyright.PENANAP9bN134Ay0
Aku keluar dengan cepat, basah, dan merasa lebih kotor dari sebelumnya.
2566Please respect copyright.PENANAJP4tNQvghW
Tapi keinginan tidak hilang. Justru tumbuh.
2566Please respect copyright.PENANAnLC2oOTB61
---
2566Please respect copyright.PENANA14pVNImc1G
Seminggu kemudian, Naufal harus dinas ke luar kota selama tiga hari.
2566Please respect copyright.PENANAJyojwnwKgm
Saffira datang ke rumahku pada malam pertama, membawa sepanci sayur yang dimasaknya. “Biar Bapak tidak makan indomi terus,” katanya sambil tersenyum.
2566Please respect copyright.PENANA9fB07KLAW8
Ia memakai kemeja kotak-kotak yang longgar dan celana pendek abu-abu. Paha yang terbuka membuatku sulit berkonsentrasi. Saat ia duduk di lantai ruang tamu—kebiasaan anehnya yang selalu dilakukannya di rumahku—celana pendek itu naik lebih tinggi. Aku bisa melihat bagian dalam pahanya yang lebih putih, lebih lembut.
2566Please respect copyright.PENANATpYZeciRwo
“Bapak mau nonton film?” tanyanya.
2566Please respect copyright.PENANASJGdPmQVxg
Aku mengangguk.
2566Please respect copyright.PENANAPg9hf0SIXO
Kami duduk di sofa. Jarak masih aman. Film yang dipilihnya adalah drama lama yang tidak terlalu menarik. Aku lebih banyak memperhatikan gerakan napasnya daripada layar.
2566Please respect copyright.PENANAGXwhxMwjXY
Di tengah film, ia menguap dan meregangkan tubuh. Kemeja naik sedikit, menampakkan perut yang rata dan lekuk pinggang. Aku melihat garis di bawah pusar yang mengarah ke bawah celana. Aku memalingkan muka, tapi terlambat. Ia menangkap pandanganku.
2566Please respect copyright.PENANA07rTIpBDdZ
“Bapak… sedang melihat apa?” suaranya pelan, hampir menggoda.
2566Please respect copyright.PENANAmVb69slSbm
Aku terdiam.
2566Please respect copyright.PENANAW08OTfIZGn
Saffira tidak bergerak menjauh. Justru ia memiringkan kepala. “Aku tahu Bapak sering melihat.”
2566Please respect copyright.PENANAy7p66ySvGt
Jantungku berdegup kencang. “Saffira…”
2566Please respect copyright.PENANAjlow9lnc2d
“Tidak apa-apa,” potongnya lembut. “Aku tidak marah. Justru… kadang aku juga melihat Bapak.”
2566Please respect copyright.PENANAVWC3YOqyzK
Kalimat itu menggantung di udara seperti asap.
2566Please respect copyright.PENANApdQqJgQ9Xp
Aku menelan. “Ini salah.”
2566Please respect copyright.PENANAQv4hbYMU36
“Aku tahu.”
2566Please respect copyright.PENANAthNDsXjBpc
Ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Bukan terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat lutut kami hampir bersentuhan. Aku bisa mencium aromanya lebih kuat sekarang—sabun, kulit, dan sedikit manis dari lotion yang biasa dipakainya.
2566Please respect copyright.PENANAwWUhcL74be
“Naufal tidak pernah melihatku seperti Bapak melihat,” katanya hampir berbisik. “Dia melihatku sebagai istri. Sebagai kewajiban. Bapak… melihatku sebagai perempuan.”
2566Please respect copyright.PENANANRyqHiTNww
Aku menutup mata sejenak. “Jangan bilang begitu.”
2566Please respect copyright.PENANAFddOrthvHe
“Kenapa? Karena benar?”
2566Please respect copyright.PENANA81Cp12mRA4
Aku membuka mata. Saffira sudah menatapku langsung. Matanya gelap, bibirnya sedikit terbuka. Napasnya lebih cepat.
2566Please respect copyright.PENANAQlhkONGSvB
“Aku takut,” katanya. “Tapi aku juga… ingin.”
2566Please respect copyright.PENANA6ctpmQdpMp
Aku mengangkat tangan. Jari-jariku gemetar saat menyentuh pipinya. Kulitnya hangat. Lembut. Ia memiringkan kepala, menekan pipinya ke telapak tanganku.
2566Please respect copyright.PENANA4cKBj2EFYw
“Bapak…” desahnya pelan.
2566Please respect copyright.PENANAtuDxiHege2
Aku mendekat. Bibir kami hanya berjarak napas. Aku bisa merasakan hangat napasnya di mulutku. Aku bisa melihat detil bibirnya yang agak kering di bagian tengah, dan basah di sudut.
2566Please respect copyright.PENANAMXbwuo0bDf
“Kalau kita lakukan ini,” bisikku, “tidak ada jalan kembali.”
2566Please respect copyright.PENANASLaCeFd8Nk
Saffira tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangguk sangat pelan, lalu menutup mata.
2566Please respect copyright.PENANA96pma0zxXA
Aku menciumnya.
2566Please respect copyright.PENANAgfRcJMJXof
Ciuman pertama itu lambat. Hampir ragu. Bibirku menekan bibirnya, merasakan tekstur, kehangatan, dan getaran kecil di tubuhnya. Ia membalas dengan lembut, membuka mulut sedikit, membiarkan lidahku menyentuh bibir bawahnya. Rasa teh manis masih tertinggal di lidahnya.
2566Please respect copyright.PENANA1oA1qrp5xW
Aku menarik napas dalam melalui hidung, mencium aromanya lebih dalam. Tanganku yang lain naik ke pinggangnya, merasakan kain kemeja dan kehangatan kulit di baliknya. Ia mengerang pelan di dalam mulutku ketika jari-jariku menekan pinggangnya lebih kuat.
2566Please respect copyright.PENANAAdmN1WCbES
Ciuman menjadi lebih dalam. Lidah saling mencari. Napas saling bertukar. Aku merasakan payudaranya menekan dadaku ketika ia mendekat lebih jauh. Beratnya terasa. Hangatnya terasa. Aku ingin membuka kemejanya sekarang juga, ingin melihat, ingin menyentuh, ingin menghisap.
2566Please respect copyright.PENANABoa9x27tCl
Tapi aku menahan.
2566Please respect copyright.PENANACihsF4qhNm
Aku menarik wajah sedikit, masih saling menatap. Bibirnya basah, agak bengkak. Matanya berkabut.
2566Please respect copyright.PENANA4M4tjZEEBP
“Bapak…” suaranya serak.
2566Please respect copyright.PENANAZTS8EWAuvf
Aku mengusap bibirnya dengan ibu jari. “Belum. Belum sekarang.”
2566Please respect copyright.PENANAECubU4j8wj
Ia mengerutkan kening. “Kenapa?”
2566Please respect copyright.PENANApr0LACZ6aU
“Karena kalau aku mulai… aku tidak akan berhenti. Dan aku ingin kamu benar-benar siap. Bukan karena sepi. Bukan karena marah pada Naufal. Tapi karena kamu menginginkanku.”
2566Please respect copyright.PENANAkj7OOrIs4l
Saffira terdiam lama. Lalu ia mengangguk pelan. “Aku siap. Tapi… aku juga takut.”
2566Please respect copyright.PENANAKpq8eBU9M5
Aku mencium keningnya. “Maka kita pelan-pelan.”
2566Please respect copyright.PENANAdW0O9ks4e4
Ia tersenyum kecil, masih dengan bibir basah. “Bapak kejam.”
2566Please respect copyright.PENANAruNIiEuphE
“Lebih baik kejam sekarang daripada menyesal nanti.”
2566Please respect copyright.PENANAFImNivfWdb
Kami duduk diam beberapa saat, tubuh masih saling bersentuhan. Jantungku masih berdegup kencang. Di dalam celana, kekerasanku sudah penuh, menekan kain dengan menyakitkan. Aku tahu ia merasakannya ketika lututnya sesekali menyentuh pahaku.
2566Please respect copyright.PENANA2GpWEHhcxG
“Aku harus pulang,” katanya akhirnya. “Sebelum aku memaksa Bapak melakukan sesuatu yang belum waktunya.”
2566Please respect copyright.PENANAZFJR8vj8i6
Aku tersenyum getir. “Pergilah. Sebelum aku yang tidak bisa menahan.”
2566Please respect copyright.PENANApWktXiOEyX
Saffira berdiri. Ia merapikan kemeja, tapi tidak berhasil menyembunyikan putingnya yang sudah mengeras di balik kain. Aku menatapnya terang-terangan sekarang. Ia membiarkan.
2566Please respect copyright.PENANAVfa0nS4KAa
Di pintu, ia berbalik sekali lagi. “Bapak… malam ini aku akan memikirkan ciuman tadi. Dan mungkin… aku akan menyentuh diri sendiri sambil memikirkan Bapak.”
2566Please respect copyright.PENANAqrb70HGr3n
Kalimat itu membuatku mengerang pelan.
2566Please respect copyright.PENANAnBMPkq5LQS
Ia tersenyum, lalu pergi.
2566Please respect copyright.PENANAzdyDy8Qco0
Aku menutup pintu. Bersandar di kayu. Napas masih kacau.
2566Please respect copyright.PENANAGYTzjGqgKS
Tangan turun ke celana, membuka resleting, mengeluarkan kekerasanku yang sudah basah di ujung. Aku mengocok pelan, membayangkan mulut Saffira di situ, membayangkan lidahnya, membayangkan payudaranya yang menggantung di atas wajahku, membayangkan desahannya saat aku masuk ke dalamnya untuk pertama kali.
2566Please respect copyright.PENANAaQ5nSKnnim
Aku keluar dengan suara tertahan, sperma membasahi tangan dan lantai.
2566Please respect copyright.PENANAvDqQACPaCZ
Tapi itu tidak cukup.
2566Please respect copyright.PENANAohzaIfb5uc
Tidak akan pernah cukup.
2566Please respect copyright.PENANAy0xU47skSV
---
2566Please respect copyright.PENANAwty5X15iin
Keesokan harinya Saffira datang lagi. Lebih awal. Wajahnya sedikit kemerahan, seolah malu dengan apa yang dikatakannya semalam.
2566Please respect copyright.PENANAVPsVozEvLf
“Aku tidak bisa tidur,” katanya saat aku membukakan pintu. “Aku… melakukan apa yang kukatakan.”
2566Please respect copyright.PENANAsSmA0ZiEbz
Aku membiarkannya masuk. Menutup pintu. Mengunci.
2566Please respect copyright.PENANAuUoL0JfvJZ
Ia berdiri di tengah ruang tamu, tangan saling menggenggam di depan perut. Kemeja yang dipakainya hari ini lebih tipis. Putih. Hampir tembus. Aku bisa melihat bentuk payudaranya dengan jelas, termasuk puting yang sudah tegang.
2566Please respect copyright.PENANAeCBJrvAfm7
“Tunjukkan,” kataku pelan.
2566Please respect copyright.PENANAVMOffJZG9F
Saffira menatapku. “Apa?”
2566Please respect copyright.PENANAyDm5z6KRNQ
“Tunjukkan bagaimana kamu menyentuh dirimu semalam.”
2566Please respect copyright.PENANAMC5Z2AE4G9
Pipinya semakin merah. Tapi ia tidak menolak. Jari-jarinya naik ke kemeja, membuka kancing satu per satu dengan tangan gemetar. Kain terbuka. Payudaranya bebas. Berat. Bulat. Putingnya gelap, sedikit mengeras, dan sudah basah di ujungnya karena ia mungkin sudah bermain sebelumnya.
2566Please respect copyright.PENANAYElHrYaWRP
Aku menelan ludah. “Lanjutkan.”
2566Please respect copyright.PENANARyQXs8GMg8
Ia membuka celana pendeknya, menurunkannya bersama celana dalam. Rambut kemaluannya rapi, hitam, dan di bawahnya sudah mengkilap. Ia duduk di sofa, membuka paha, dan memasukkan dua jari ke dalam dirinya dengan desahan yang tertahan.
2566Please respect copyright.PENANAQnDZWOjxKv
Aku berdiri di depannya, membuka celana, mengeluarkan kekerasanku yang sudah tegang penuh. “Lihat ini. Ini karena kamu.”
2566Please respect copyright.PENANAxci1qEgZZf
Saffira menatap, mata membesar, lalu menggigit bibir. Jari-jarinya bergerak lebih cepat. Suara basah terdengar jelas di ruangan.
2566Please respect copyright.PENANAKxkPtsa9oc
Aku mendekat. Berlutut di antara pahanya. Mengamati dari dekat bagaimana jari-jarinya masuk dan keluar, bagaimana cairan bening mengalir ke bokongnya, bagaimana klitorisnya membengkak.
2566Please respect copyright.PENANAV9R8FBn8q7
“Berhenti,” perintahku.
2566Please respect copyright.PENANAakVDjkmiEr
Ia berhenti, napas terengah.
2566Please respect copyright.PENANACb2KEvyOvO
Aku menunduk. Lidahku menyentuh klitorisnya untuk pertama kali. Rasanya asin-manis, hangat, dan berdenyut. Saffira menjerit pelan, tangan mencengkeram rambutku. Aku menjilat pelan, lalu menghisap, lalu memasukkan lidah sedalam mungkin. Ia gemetar. Pahanya menutup di kepalaku. Aku terus, tidak berhenti, sampai tubuhnya menegang dan ia orgasme pertama kali di mulutku dengan suara yang pecah.
2566Please respect copyright.PENANALogvfDT2PT
Aku belum selesai.
2566Please respect copyright.PENANAz6zUZTiCRL
Aku bangkit, mengangkat tubuhnya, membawanya ke kamar. Melemparkannya ke tempat tidur. Menanggalkan sisa pakaian. Lalu aku menatap tubuhnya yang telanjang sepenuhnya untuk pertama kali.
2566Please respect copyright.PENANApn7b6eBax9
Payudara yang naik turun cepat. Puting yang basah. Pinggang yang ramping. Pinggul yang melebar. Paha yang gemetar. Dan di tengah, vagina yang merah, basah, dan masih berdenyut.
2566Please respect copyright.PENANAuKxr4oXX36
Aku turun lagi. Menjilat lebih lama. Menghisap putingnya sambil jari masuk ke dalamnya. Membuatnya orgasme kedua dengan jari dan mulut. Lalu ketiga dengan hanya lidah di klitoris.
2566Please respect copyright.PENANABo790xScwz
Aku masih berlutut di antara pahanya yang terbuka lebar ketika orgasme ketiganya mereda. Tubuh Saffira masih gemetar hebat, paha dalamnya berkedut tak terkendali, cairan bening mengalir deras dari lubangnya yang merah dan menganga, membasahi seprai di bawah bokongnya. Napasnya pendek-pendek, dada naik-turun cepat, payudara yang penuh bergoyang pelan setiap kali ia menarik udara. Putingnya masih basah oleh liurku, mengilap di bawah cahaya lampu kamar yang redup, mengeras sempurna, seolah memohon untuk dihisap lagi.
2566Please respect copyright.PENANAasRMjOFk6o
Aku mengusap wajah yang basah oleh cairannya, lalu naik perlahan, menempatkan lutut di sisi kepalanya. Kekerasanku yang sudah tegang penuh, urat-uratnya menonjol, ujungnya basah oleh cairan pra-ejakulasi, menggantung tepat di depan bibirnya yang masih terbuka karena kelelahan.
2566Please respect copyright.PENANAn0VSNNzEts
Saffira menatap ke atas, mata berkabut nafsu, bibir bawahnya bergetar. Tanpa diperintah, tangannya yang masih lemas naik, jari-jari rampingnya memegang batangku dengan hati-hati, seolah takut mematahkannya. Ia mengusap pelan dari pangkal ke ujung, merasakan denyut yang kuat di bawah kulitku. Ibu jarinya menyentuh celah di ujung, mengoles cairan kental yang sudah menggenang di sana, lalu membawanya ke lidahnya sendiri. Ia menjilat jari itu perlahan, mata masih menatapku, seolah ingin aku melihat bagaimana ia menikmati rasaku.
2566Please respect copyright.PENANAiQVezkk5X6
“Bapak… besar sekali,” desahnya serak. Suaranya masih pecah karena terlalu banyak berteriak tadi. “Aku… mau rasain.”
2566Please respect copyright.PENANAqmG1isUIFc
Aku tidak menjawab dengan kata. Hanya mengangguk pelan, tangan kananku turun, jari-jari menyisir rambut hitamnya yang berantakan, lalu mencengkeram tengkuknya dengan lembut tapi tegas, menarik kepalanya sedikit lebih dekat.
2566Please respect copyright.PENANA6nu4oub7an
Saffira membuka mulut. Lidahnya yang merah muda, basah, dan hangat keluar lebih dulu, menyentuh bagian bawah ujungku. Ia menjilat pelan, hanya satu kali, dari bawah ke atas, merasakan tekstur kulit yang tegang dan rasa asin-manis yang sudah menetes. Lalu ia mengulangi, lebih lambat, lidahnya rata menekan sepanjang urat besar di sisi batangku, naik sampai ke puncak, lalu berputar di sekitar kepala, mengumpulkan setiap tetes cairan yang keluar.
2566Please respect copyright.PENANAuH6oqcFlyV
Aku mengerang rendah. Jari-jari di rambutnya menegang.
2566Please respect copyright.PENANAeXIMp47nQt
Ia semakin berani. Bibirnya yang lembut dan sedikit bengkak karena ciuman tadi membuka lebih lebar, menelan hanya ujungnya dulu. Hangat mulutnya menyelimuti kepala kontolku seperti selimut basah. Ia menghisap pelan, pipinya cekung, lidahnya terus bergerak di bawah, menggosok celah kecil yang terus mengeluarkan cairan. Suara hisapan basah terdengar jelas di kamar yang sunyi—cek… cek… cek—bercampur dengan desahan hidungnya yang tertahan.
2566Please respect copyright.PENANAyIYMVVbENm
Aku mendorong pinggul sedikit. Saffira tidak menolak. Ia membuka mulut lebih lebar, membiarkan batinku masuk lebih dalam, sampai separuh. Lidahnya tetap aktif, bergelombang di bawah batang, sementara bibirnya yang licin bergerak maju-mundur pelan. Setiap kali ia menarik kepala, liurnya mengalir deras dari sudut bibirnya, membasahi dagunya, lalu menetes ke leher dan payudaranya yang masih naik-turun.
2566Please respect copyright.PENANA6KwvrkHWVS
“Lebih dalam,” bisikku, suara serak.
2566Please respect copyright.PENANAvqd5VuebFW
Saffira mengangguk kecil, mata masih menatapku dari bawah. Ia menarik napas panjang lewat hidung, lalu mendorong kepalanya maju. Batinku masuk lebih jauh, menekan langit-langit mulutnya, lalu terus ke belakang tenggorokan. Aku merasakan otot tenggorokannya menegang, mencoba menyesuaikan. Ia tersedak pelan, air mata keluar di sudut matanya, tapi ia tidak mundur. Justru tangannya yang bebas naik ke bokongku, menarikku lebih dekat, memaksa dirinya sendiri menelan lebih banyak.
2566Please respect copyright.PENANAotmSQKwE8B
Aku mengerang panjang. Panas dan basah menyelimuti hampir seluruh batinku. Ujungku menyentuh bagian terdalam tenggorokannya. Saffira menahan di situ beberapa detik, tenggorokannya berdenyut di sekitarku, air liur mengalir deras ke pangkal, membasahi rambut kemaluanku. Lalu ia mundur perlahan, batuk kecil, liur menghubungkan bibirnya dengan kontolku seperti benang transparan yang panjang.
2566Please respect copyright.PENANAzYN4r3f8aZ
Ia tidak memberi jeda. Langsung masuk lagi. Kali ini lebih dalam, lebih cepat. Kepala bergerak maju-mundur dengan ritme yang semakin stabil. Pipinya cekung setiap kali menghisap, lidahnya terus bekerja di bawah, sesekali giginya menyentuh lembut kulitku, memberi sensasi yang membuat punggungku menggigil. Tangannya yang memegang pangkal ikut bergerak, memutar, mengocok bagian yang tidak masuk ke mulutnya, sementara tangan lainnya naik ke bola kemaluanku, mengusap, menekan pelan, sesekali menarik dengan hati-hati.
2566Please respect copyright.PENANARfDIUer8jp
Aku memegang kepalanya dengan kedua tangan sekarang, jari-jari tertanam di rambutnya. Aku mulai menggerakkan pinggul, menyesuaikan dengan iramanya, menusuk mulutnya dengan gerakan pendek tapi dalam. Setiap kali ujungku menabrak tenggorokannya, Saffira mendesah tertahan, getaran suaranya mengalir ke batinku, menambah kenikmatan yang hampir gila.
2566Please respect copyright.PENANACsV09WHFyo
Payudaranya bergoyang hebat setiap kali kepalanya bergerak. Aku meraih salah satunya, memijat kasar, memelintir puting yang basah di antara jari. Saffira mengerang lebih keras di sekitarku, getaran itu membuatku hampir keluar. Aku menahan. Belum.
2566Please respect copyright.PENANAGao08o2e9g
Ia menarik kepalanya, membiarkan kontolku keluar dengan suara “plop” basah. Liurnya mengalir deras dari bibirnya yang merah dan mengkilap, turun ke dagu, ke leher, menetes ke putingnya sendiri. Ia menjilat bibir, lalu menurunkan kepala lagi, kali ini menjilat sepanjang batang dari pangkal sampai ujung, seperti menjilat es krim yang meleleh. Lidahnya rata, basah, menekan kuat, naik-turun berkali-kali, lalu beralih ke bola kemaluanku. Ia menghisap satu per satu, lidah berputar di sekeliling, lalu kembali ke batang, menelan lagi sampai pangkal.
2566Please respect copyright.PENANACWbaqrJcx1
Aku tidak tahan lagi. “Saffira… aku mau keluar.”
2566Please respect copyright.PENANA3ioGv1zoJG
Ia menggeleng pelan, mulut masih penuh, seolah bilang “di dalam”. Ia mempercepat gerakan. Kepala naik-turun cepat, hisapan kuat, lidah bekerja tanpa henti. Tangannya mengocok pangkal dengan cepat, basah oleh liurnya sendiri. Aku mencengkeram rambutnya lebih kuat, pinggulku menegang, lalu meledak.
2566Please respect copyright.PENANAent4WPxL8i
Sperma keluar deras di dalam mulutnya. Saffira menelan sekuat tenaga, tapi terlalu banyak. Sebagian mengalir dari sudut bibirnya, membasahi dagunya lagi. Ia terus menghisap, memeras setiap tetes terakhir, lidahnya bergelombang seolah ingin memastikan tidak ada yang tersisa. Aku mengerang panjang, tubuh gemetar, lutut hampir lemas.
2566Please respect copyright.PENANAfpKrtnwUGa
Baru setelah aku selesai, ia menarik kepala, membuka mulut, menunjukkan lidahnya yang masih berlumur putih kental, lalu menelan sisa-sisanya dengan gerakan leher yang jelas kelihatan. Ia tersenyum kecil, bibir masih basah, mata berkabut.
2566Please respect copyright.PENANAL8ASxoskC4
“Enak… Bapak,” desahnya pelan. “Aku mau lagi.”
2566Please respect copyright.PENANAK5VTVhlqh3
Aku menarik napas dalam, masih belum stabil. Kekerasanku belum sepenuhnya lemas. Masih setengah tegang, basah oleh liur dan spermanya sendiri.
2566Please respect copyright.PENANAMpPCTNYGs4
Saffira tidak menunggu. Ia mendorong dadaku pelan sampai aku terbaring telentang. Lalu ia naik, berlutut di antara pahaku, payudaranya menggantung di atas wajahku. Ia menggesekkan puting yang basah ke bibirku, membiarkanku menghisap sebentar, lalu turun lagi, menjilat kontolku yang masih sensitif dari pangkal sampai ujung, membersihkan sisa-sisa, mempersiapkannya untuk putaran berikutnya.
2566Please respect copyright.PENANAsARQTd4oyU
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI


