“Kak…” panggilku.1094Please respect copyright.PENANAGhPg6KsLMl
“Hmm? Apa dek?”1094Please respect copyright.PENANAlPb8K4d3ap
“Malam ni tidur bareng lagi yuk…”1094Please respect copyright.PENANA0nrrlMHCzI
“Tidur bareng? Kamu udah ngantuk emangnya?”1094Please respect copyright.PENANAvoqHC5kbsC
“Belum sih kak… pengen guling-gulingan sama kakak aja sampai ngecrot, hehe”1094Please respect copyright.PENANARTh2Nzk8zS
“Huuu… ngecrot, ngecrot… enak aja! Kan kemarin malam adek udah bobok di kamar kak Rizsa?”
“Hehe.. iya sih kak, abisnya kebayang terus sama yang kemarin siang” Aku mengingat kejadian hari sebelumnya di mana kak Rizsa nekat menemui peminta sumbangan dengan telanjang badan. Walau hanya berdiri di balik pagar yang tertutup plastik fiber hitam, tetap saja apa yang dilakukan kak Rizsa membuatku tegang dan panas atas bawah.
Itu saja baru berdiri di balik pagar dan masih di dalam halaman rumah kami, entah bagaimana kalau kak Rizsa sampai nekat bertelanjang badan sampai keluar rumah. Dan membayangkannya saja sudah membuat penisku menegang sangat keras hingga malamnya aku tak tahan dan mengerjai kakakku di kamarnya. Apalagi kalau bukan karena nakalnya kakak kandungku..
“Males ah! Bed cover sama celdam kesukaan kakak ampe kotor tuh belepotan peju kamu, awas ya ngga dicuci! Kakak ngga bolehin kamu ngecrot lagi.. huuu..” ledek kak Rizsa dengan gaya manyunnya yang imut itu. Oh, kak Rizsa.. Kenapa aku harus jadi adekmu sih kak?
“Kan adek udah janji bakal cuciin semuanya kak.. mau ya kaak..?”1094Please respect copyright.PENANA2WV0WSz1Ag
“Hihihi.. bolehin gak yaah?”
“Hehe, bolehin donk kaak?” tanyaku lagi. Aku betul-betul pengen pejuin kakakku yang cantik ini lagi seperti malam sebelumnya.
“Hihihi… dasar kamu tuh… Jadi kamu pengen ngecrot sebelum tidur yah dek?”1094Please respect copyright.PENANA09YZgOLYiG
“Iya kak… pengen ngecrotin badan kak Rizsa pake peju aku, hehe”1094Please respect copyright.PENANApoQ6vzn4S7
“Dasar porno, kakak sendiri dicabulin terus, dipipisin lagi pake peju!”1094Please respect copyright.PENANAi7r7uk8LxJ
“Abis kak Rizsa ngegemesin sih.. hehe..”1094Please respect copyright.PENANAhLqF3fNuiY
“Kayak semalem donk dek?”1094Please respect copyright.PENANA6Ei5GvjD3L
“Hehehe.. iya nih kak.. Pleasee..”1094Please respect copyright.PENANArOKPnENGra
“Bener nih cuma mau gitu ajah?”1094Please respect copyright.PENANAK5xpHgAjEr
“Hah? maksudnya kak?”1094Please respect copyright.PENANABy84jxQebv
“Hmm… sekarang jam berapa yah?”1094Please respect copyright.PENANAiGEkJeqVsQ
“Baru jam sebelas kak”1094Please respect copyright.PENANASaO4SL7zpc
“Tuh… masih jam sebelas. Cepat banget sih kamu boboknya…”1094Please respect copyright.PENANAI60lLwj0lH
“Biarin, lagian gak tahu pengen ngapain lagi”
“Pikiranmu nyabulin kakak terus sih… hihihi”1094Please respect copyright.PENANAsJUkyM02zq
“Hehehe… kakak juga siih..”1094Please respect copyright.PENANA2WGENXWo5o
“Hmm… jam segini di luar rumah udah sepi kan yah, dek?” tanya kak Rizsa sambil senyum-senyum manis.1094Please respect copyright.PENANArakvSlM5b3
“Iya kak, kenapa?”
“Buka celana kamu, terus lihat kakak yah dek…” ujar kak Rizsa mengedipkan mata. Aku yang bingung dia mau apa hanya menuruti saja perintahnya, akupun membuka celanaku dan langsung memgang penisku yang mulai menegang di depan kak Rizsa.
Dengan senyum-senyum melihatku, kak Rizsa juga membuka celana legging ketatnya dengan perlahan di depanku, bagian bawah tubuhnya kini terbuka! Paha, pantat dan vaginanya yang tembam berbulu halus di atasnya terpampang bebas untuk dilihat. Semua kancing kemejanya juga dia buka sehingga buah dadanya jadi tergantung dengan bebas, tapi dia masih mengenakan jilbab!
“Nih dek… kakak kasih kamu bahan coli malam ini… nikmatin puas-puas yah dek” kak Rizsa dengan santainya berjalan ke luar rumah dengan kondisi seperti itu! Hanya memakai jilbab serta kemeja pink yang seluruh kancingnya terbuka. Susu kak Rizsa yang putih dengan puting coklat kemerahan bergoyang bebas kesana kemari. Kakakku betul-betul nakal. Akupun mengikutinya ke luar rumah sambil mulai mengocok penisku. Tapi tiba-tiba dia bilang…
“Adeeek…. Lihat yah, sekarang kakak bakal keluar pagar nih…”1094Please respect copyright.PENANA6NmGfZnlqo
“Hah? Ke..keluar pagar, kak? Tapi kalau dilihat orang gimana?” tanyaku heran, tapi dianya malah hanya tersenyum manis, lalu melangkah dengan santainya keluar pagar, kak Rizsapun berdiri di tengah jalan dengan kondisi seperti itu, yang mana kakak kandungku ini hampir bertelanjang bulat! Badanku langsung lemas dan panas dingin melihatnya.
Entah apa jadinya bila ada tetangga kami yang melihatnya. Jam segini lingkungan rumah kami memang sudah sangat sepi, tapi bukan berarti gak ada orang yang bakal lewat juga kan!?? Dan kocokan penisku juga makin cepat melihat pemandangan ini. Kak Rizsa yang hampir telanjang sedang berpose nakal di luar rumah kami.
Aku yang jadi cemas minta ampun dibuatnya karena tingkah binal kakakku ini. Berkali-kali aku celingak-celinguk untuk memastikan tidak ada orang yang lewat. Kak Rizsa sendiri malah mondar-mandir dengan santainya sambil sesekali melirik padaku, tersenyum manis dan juga berekspresi imut padaku. Sungguh bikin gemeeeeeesss.
“Adek…” panggilnya setelah beberapa lama dan mendekatiku kepagar rumah.1094Please respect copyright.PENANAErX6JJvNGk
“I..iya kak?”1094Please respect copyright.PENANAlVFes1pfxJ
“Kakak sering bikin adek tersiksa yah?”1094Please respect copyright.PENANAWpjkVTN7Bo
“Uhm.. Iya, kakak nakal..”1094Please respect copyright.PENANAngNtHNUSWK
“Hihihi.. Kakak jahat donk sama adek?”1094Please respect copyright.PENANAmoCtF2WTa6
“Iya tuh.. Kak Rizsa selalu bikin burung aku sakit, pengen dicrotin terus tiap hari..”1094Please respect copyright.PENANAgXGPRp2ECf
“Kalo kakak jahat sama adek.. kakaknya dihukum donk dek?”1094Please respect copyright.PENANACSAiblSkL2
“Dihukum kak?”
“Iyah.. Sekarang kamu kunci kakak dari dalam yah…”1094Please respect copyright.PENANAWOSxHgqBFL
“Hah??????”1094Please respect copyright.PENANAlkgCMt5YBt
“Iya… kunci kakak, kurung kakak di luar, 10 menit aja… hihihi…” katanya lagi melirik nakal. Aku betul-betul terkejut mendengarnya. Dia meminta aku menguncinya di depan rumah dengan busana seperti itu!? Meski cuma 10 menit tapi kan tetap sangat beresiko. Ini betul-betul di luar fantasiku! Kakakku betul-betul nakal!
“Tapi… kalau ada apa-apa gimana kak?”
“Hihihi, Gak tahu deh, mungkin kakak bakal diperkosa habis-habisan kali yah dek… Pokoknya apapun yang terjadi kamu gak boleh buka pagarnya sebelum 10 menit yah… kalau kakak sampai diperkosa ya gimana lagi, kakak cuma bisa pasrah aja… hihihi” hah? Aku sungguh dibuat lemas mendengarnya.
“Adek! Tutup deeeeeekk… dikunci!” ujar kak Rizsa yang segera menutup pintu pagar. Aku entah kenapa betul-betul menuruti perkataanya untuk mengunci pintu pagar. Sekarang kakakku terkunci di luar sana. Entah apa yang akan terjadi selama 10 menit dari sekarang. Jantungku berdebar dengan kencangnya… Kak Rizsa…
“Kak… masih di sana kak?” tanyaku dari balik pagar.1094Please respect copyright.PENANA1heLXsVB1k
“Eh, adek! Jangan ngintip!” teriak kak Rizsa pelan saat aku mencoba mendekat ke pagar untuk dapat melihat apa yang sedang kakakku lakukan di luar sana. Aku memang tidak bisa melihat dengan jelas karena pagar rumah kami ditutup fiber plastik berwarna gelap.
“I..iya… tapi kakak baik-baik aja kan?” tanyaku lagi.1094Please respect copyright.PENANAorxi34Zef8
“Iyah… kenapa sih? Belum 1 menit juga…”
“Iya sih.. tapi kan…” Duh… entah kenapa 10 menit ini terasa sangat lama. Aku sungguh panas dingin di sini. Membayangkan kakak kandungku yang cantik jelita dengan kondisi nyaris telanjang bulat dan terkunci di luar sana betul-betul membuat aku belingsatan. Ugh.. kak Rizsa.
“Kamu sendiri sedang apa dek? Lagi ngocok yah?” ujarnya.1094Please respect copyright.PENANAtXkKmOw7jR
“Iya kak.. sedang ngocok…”
“Hihihi… Kocok terus yah dek… Kamu bayangin gih… kakak yang sehari-hari bila keluar rumah selalu dikenal sopan dan memakai pakaian tertutup, sekarang nyaris telanjang bulat dan terkunci di luar pagar”1094Please respect copyright.PENANAgPP6VIJbTP
“Ugh… kak Rizsa…”
“Aurat kakak kebuka semua kayak gini dek.. vagina kakak, susu kakak… tapi masih pake jilbab. Gak tahu deh apa jadinya kalau ada tetangga yang lihat, hihihi…”
“Duh kak… jangan sampai tetangga lihat kak.. udah dong kak… masuk yah…” ajakku lagi sungguh berdebar-debar, tapi penisku tetap tegang luar biasa sambil terus ku kocok-kocok.
“Kalau kakak teriak, kira-kira apa yang bakal terjadi yah dek? Hihihi”1094Please respect copyright.PENANABzCwXnUp9K
“Hah? Kak… pliss… jangan!”
“Aw!” teriak kak Rizsa pelan yang kemudian tertawa cekikikan.1094Please respect copyright.PENANA8jW7Lf4tVy
“Kak… jangan teriak-teriak!” Gila, aku sungguh panas dingin. Kalau sampai para tetangga terbangun dan melihat keadaan kak Rizsa, entah apa yang akan terjadi.
“AAWW!” Teriaknya lagi lebih keras.1094Please respect copyright.PENANApmrygm4Wjj
“Kak… please…… jangan….”1094Please respect copyright.PENANA3K4KwxSfzh
“AAAAAWW!” teriaknya semakin keras. Sumpah! Jantungku mau copot rasanya.1094Please respect copyright.PENANArIYLTdGloQ
“Kak… please stop… please….” Lututku betul-betul lemas.
“Hihihihi… iya deh iya… tapi dek…” ujarnya kemudian.1094Please respect copyright.PENANAzqCTpZ8abd
“A..apa kak?”
“Kayaknya ada yang datang deh…”1094Please respect copyright.PENANAifjnT4yIkA
“Hah?? kak… masuk kak! Aku buka yah pagarnya…” tawarku cemas.1094Please respect copyright.PENANATqomG34wjr
“Jangan dek… udah kakak bilang apapun yang terjadi jangan dibukain… dan jangan ngintip yah…” katanya memperingatiku.
“Tapi kan kak…” Jantungku betul-betul berdebar dengan cepat. Tapi terdengar kalau Kak Rizsa malah melangkah semakin menjauh ke arah jalan untuk melihat siapa yang datang. Duh… kak… jangan bikin aku mati lemas dong…
“Makin deket dek… adek…. Makin deket!” Ujar kak Rizsa pelan dari kejauhan yang malah terkesan sangat antusias bila ketelanjangannya terlihat oleh orang lain, sedangkan aku di sini mati kecemasan. Nafasku tertahan. Apakah akan ketahuan…? Oh… kak Rizsa…..
“Hihihi… Cuma anjing lewat kok dek…” ujarnya kemudian menjawab rasa penasaranku. Fiuuuuuuuuuuuuuh… lega mendengarnya.
“Udah… kamu masuk gih ke dalam rumah… masih lama lho 10 menit” ujarnya yang terdengar semakin menjauh dari pagar rumah.
“Kak… kak Rizsa! Kakak mau ngapain? Jangan jauh-jauh kak!” teriakku tertahan.1094Please respect copyright.PENANAVAm37VVMAH
“Kakak mau… pipis…” ucapnya centil.
“Hah? Pipis???” Gila! Kak Rizsa mau kencing di luar sana!?? Tak lama kemudian terdengar suara air mengucur di sebelah sana. Sepertinya di seberang jalan, kalau gitu berarti kak Rizsa… pipis di depan rumah tetangga kami!
Rumahnya Pak Haji Somad!1094Please respect copyright.PENANA0EtW41uOYy
Lemas rasanya badanku….. Ini semakin melebihi fantasiku. Bahkan belum 5 menit. Oh… apakah yang akan terjadi selanjutnya….
Aku sungguh tidak mengira kakakku akan senekat itu. Entah apa yang terjadi bila keluarga Pak Somad melihat kelakuan kak Rizsa, kakakku yang mereka kenal sangat sopan, kini sedang pipis sembarangan di depan rumah mereka.
Tapi sepertinya yang aku takuti itu tidak terjadi, mudah-mudahan juga tidak meninggalkan bau pesing besok paginya. Sekarang aku hanya bisa berharap agar kakakku segera kembali ke rumah.
“Kak… kak Rizsa!” teriakku pelan berusaha memanggil kakakku.1094Please respect copyright.PENANArK6NYeKUF0
“Dek… kamu kok masih di sana aja sih? Masuk gih ke dalam rumah” suruhnya yang terdengar kembali mendekat ke arah pagar.
“Terus kakak mau ngapain lagi? Udah dong kak… masuk please…” bujukku.1094Please respect copyright.PENANAFR5JuV7C0E
“Hihihi… kamu ini… Kan belum 10 menit dek…”
“Kak… please… udahan dong…” bujukku terus. Aku betul-betul tidak kuat. Kakak kandungku yang cantik ini terkunci di luar sana sendirian dengan kondisi busana yang sangat sembarangan. Aku tidak yakin 5 menit selanjutnya masih akan tetap aman seperti sebelumnya.
Apa aku buka saja yah pagarnya dan menarik kak Rizsa masuk ke dalam? Seharusnya memang itulah yang mestinya aku lakukan, tapi entah kenapa aku malah terus membiarkan aksi kakakku di luar sana, malah aku sambil terus mengocok penisku pula. Penisku dari tadi tegang bukan main melihat dan mendengar aksi-aksi nakal kakakku. Aku tidak menyangka kalau kakakku sebinal ini.
“Kak… udah 10 menit nih…” ujarku berbohong karena aku ingin kakakku segera menyudahi aksinya. Aku sangat takut kalau ada orang yang akhirnya memergokinya.1094Please respect copyright.PENANAOdGS4N1cHq
“Hihihi… bohong kamu dek…”1094Please respect copyright.PENANAo8LzZ78xg1
“Be..benar kok kak…”
“Kakak kan bawa hape dek, belum 10 menit kok.. dasar adek tukang bohong, udah mesum pembohong lagi, hihihi” jawabnya cekikikan. Sial, ternyata dia bawa hape, aku gak merhatiin hal itu dari tadi.
“I..itu… tapi… masuk aja deh kak…”1094Please respect copyright.PENANAnvqWhKJdp2
“Kamu deg-deg kan yah dek? Sama, kakak juga kok… Tapi kan kamu jadi ada bahan buat coli dek, hihihi” jawabnya santai. Ugh… kak Rizsa baik amat, tapi gak perlu sampai sejauh ini juga kali. Walaupun fantasiku memang dibuat melambung tinggi sih karenanya.
“Dek, kamu bawa hape nggak?”1094Please respect copyright.PENANAEwG76ngOYj
“Nggak kak, kenapa?”1094Please respect copyright.PENANAWLKkS8d4M8
“Kamu ambil gih ke dalam”1094Please respect copyright.PENANAVENpLGHq6n
“Untuk apa sih kak?”1094Please respect copyright.PENANA4Q6DV3kH8X
“Udaaaaah…. Kamu ambil aja gih…” suruhnya lagi. Dia mau apa sih? Tapi aku akhirnya masuk juga ke rumah dengan langkah cepat untuk mengambil hapeku.
Baru saja aku masuk ke dalam kamarku ternyata hapeku berbunyi. Kak Rizsa! Ngapain sih dia nelepon-nelepon segala? Aku yang penasaran segera mengangkat hapeku.
“Kak!” sahutku cepat di telepon.1094Please respect copyright.PENANAsKXMYVCZ6W
“Hai adek…” sahutnya balik dengan irama merdu seperti tidak terjadi apa-apa.1094Please respect copyright.PENANAeauWx7zlpL
“Ada apa sih kak? Kok pake nelepon segala!??”
“Hmm… kamu ngawasin kakaknya lewat telepon aja yah dek… pokoknya kamu di dalam rumah aja terus”1094Please respect copyright.PENANAYvaN8Mc3sG
“Hah?? Enggak ah… aku mau temenin kakak di depan pagar, kalau perlu aku tarik kakak masuk ke dalam!” jawabku tegas.
“Kakak udah jauh nih dek… udah di depan rumahnya Buk Rahma” Jdar! Jantungku rasanya mau meledak mendengarnya. Di depan rumah Buk Rahma? Berarti kakakku sudah di ujung jalan! dengan kondisi pakaian seperti itu?? Ugh… kak Rizsa…1094Please respect copyright.PENANAHJgj2YbrSL
“K..kak…” panggilku lemas.
“Tenang aja… teleponnya gak bakal kakak tutup kok. Jadi adek bisa tahu apa yang terjadi. Kalau misalnya teleponnya terputus, itu artinya kakak udah diculik dan diperkosa dek, hihihi” Hah? Santai banget kak Rizsa berkata seperti itu. Aku yang jadi lemas mendengarnya.1094Please respect copyright.PENANAZjFfI95Eh5
“K..kak Rizsa…”
“Udah… kamu sedang di kamar kan? Baring aja gih di tempat tidur sambil terusin ngocokmu. Cukup bayangin aja kakak sedang ngapain. Asal kamu nggak ketiduran aja yah… Ntar kakak terkunci semalaman dong di luar, hihihi” ujarnya sambil cekikikan pelan.
Ugh… ngebayangin kakakku semalaman terkunci di luar sana makin membuatku panas dingin. Seharusnya aku mengejar kakakku dan menariknya masuk, tapi aku malah menuruti omongannya untuk berbaring di ranjang sambil mengocok penisku.
“Kak… dimana?” tanyaku setelah beberapa saat kemudian.1094Please respect copyright.PENANA84HN1C2eKD
“Hmm… hampir tiba dekat mini market dek, masih buka ternyata mini marketnya. Kamu mau kakak beliin coklat nggak dek?”
“Hah?? Nggak! Putar arah dong kak!”1094Please respect copyright.PENANAPxiilPe7GL
“Hihihi.. iya iya… bercanda kok… nih kakak putar arah” Duh, kakakku ini. Bikin jantungku berdebar terus. Entah apa jadinya kalau kak Rizsa beneran belanja di sana dengan busana begituan.
“Eh, dek! Kayaknya orang yang jaga di dalam mini market ngeh deh dek!”1094Please respect copyright.PENANAFhoF0lrHY1
“Ah, serius kak!”
“Kalo orangnya nyusul kakak kesini gimana donk dek? Mana kakak cuman pake kayak gini.. ehmm, ternyata kakak putih banget yah dek? Hihihi..”
“Aarghh, kakak jangan nakal donk! Balik donk kak!”1094Please respect copyright.PENANAg6HT1nfvS0
“Hihihi.. iya adekku.. panik amat sih, paling dia juga ngira ngeliat hantu..”
“Iya, kalau hantunya kayak kak Rizsa pasti malah dikejar..”1094Please respect copyright.PENANAiThH5GyqBu
“… terus kak Rizsa diperkosa deh.. kalau dia panggil temen-temennya kesini semua, gimana donk dek? Ada hantu cantik diperkosa rame-rame lho dek…”
“Ugh! Aku bakal susul kakak kesana, aku bakal..”1094Please respect copyright.PENANAlKrkMTvO6x
“Ngga usah adek! Adek cukup dengerin suara kak Rizsa lagi diperkosa lewat HP ajah.. Hihihi..”1094Please respect copyright.PENANAzKhzSYhup4
“Aduh, cepet pulang donk kak!”
“Iya iya.. Dek, kamu pengen kakak bugil total atau terus dipake aja jilbab dan kemejanya?” tanyanya kemudian.1094Please respect copyright.PENANApAwBILd5Tr
“Eh… di..dipake aja kak!” jawabku. Sebenarnya aku nyuruh dia tetap memakainya supaya gak jelas amat kalau kakakku sedang telanjang bila terlihat orang dari jauh. Walaupun tentunya aku gak berharap kakakku benar-benar akan terlihat oleh orang.
“Kak…” panggilku karena suasana sempat hening beberapa saat.1094Please respect copyright.PENANAamJdWEn197
“Iya…”1094Please respect copyright.PENANA15nUzt5iFt
“Lagi dimana sih kak? Buruan balik gih… udah hampir 10 menit nih… jangan bilang kalau mau nambah!?”
“Nggak kok… ntar kamunya betul-betul jantungan lagi, hihihi”1094Please respect copyright.PENANA9oWMHVEXVU
“Ya udah, buruan balik kak…”1094Please respect copyright.PENANAOQhfMSGomO
“Iya iya….” Ugh, akhirnya. Aku betul-betul tersiksa di sini. Awas saja! Akan ku pejuin dia! Sambil dia berjalan balik ke arah rumah, kami terus ngobrol.
Aku sengaja tanya-tanya terus dia lagi dimana untuk memastikan kalau kak Rizsa baik-baik saja. Akhirnya kak Rizsa berkata kalau dia sudah di depan pagar, teleponpun dimatikan. Aku segera bangkit dari ranjang dan menuju ke luar untuk menjemput kakakku.
“Kak… aku buka yah…” kataku dari balik pagar bersiap membuka kuncinya.1094Please respect copyright.PENANAqoOWYzOlC3
“Eh, belum pas 10 menit kan… masih ada 1 menit lagi nih… pokoknya harus pas 10 menit kamu kurung kakaknya di luar!” Duh, kak Rizsa.
“lima puluh detik lagi dek…”1094Please respect copyright.PENANATjpKVbTTkQ
“Kak… aku buka aja yah…”1094Please respect copyright.PENANA3mH2welbFs
“Jangan… 40 detik lagi kok dek… Hmm… dek, kayaknya ada tukang nasi goreng ke arah sini deh…”1094Please respect copyright.PENANAuItxJoYdjM
“Hah??”1094Please respect copyright.PENANAG13QrweXUW
“Iya… tukang nasi goreng ke arah sini”1094Please respect copyright.PENANAlpeEjlgpGj
“A..aku buka pagarnya yah kak!”
“Belum adeeeeek… 30 detik lagi…” kakakku ini apa-apaan sih?? Apa dia gak takut apa!? tapi akupun lagi-lagi menurutinya saja untuk tidak membuka dulu kunci pagar.
Tic toc tic toc.. Ugh… ini betul-betul 30 detik terlama dalam hidupku.1094Please respect copyright.PENANAEszEWBqxEW
“Dua puluh detik lagi dek… tukang nasi gorengnya makin deket dek… makin deket!” ujarnya pelan.1094Please respect copyright.PENANA0UKGTgwgTA
Ugh… kak Rizsa…
“10 detik lagi yah dek… Eh, kayaknya dia ngelihat kakak deh dek.. jalannya makin cepat ke sini”1094Please respect copyright.PENANAcxDvsKbrfB
“Hah??”
“Pokoknya jangan buka dulu!” ujarnya cepat seakan tahu isi pikiranku. Aku gemetaran di dalam sini, badanku lemas, jantungku berdebar tidak karuan.
“Udah dek! Buruan buka!” teriak kak Rizsa. Dengan secepat kilat aku buka buka kunci pagar dan menggeser pagar. Kak Rizsapun segera masuk ke dalam dan jongkok bersembunyi di balik pagar sambil menahan tawa. Tidak lama kemudian tampak tukang nasi goreng itu lewat di depan rumah kami. Tepat waktu! Sungguh-sungguh tepat waktu! Kak Rizsa… kamu bikin aku jantungan!
“A..ada apa pak?” tanyaku pada tukang nasi goreng itu karena berhenti di depan pagar rumah kami.
“Itu… Kayaknya tadi ada cewek yang masuk ke rumah yah dik? Pake jilbab gitu… bapak pikir tadi dia mau beli nasi goreng” jawab bapak itu dengan wajah bingung celingak- celinguk berusaha melihat ke arah rumah kami. Aku melirik ke arah kak Rizsa yang berjongkok bersembunyi di sebelahku. Kak Rizsa menempelkan telunjuknya ke bibirnya dengan ekspresi imut, tanda supaya aku jangan ngomong apapun ke bapak itu.
“Eh, nggak kok pak… bapak salah liat mungkin” kataku pada bapak itu.1094Please respect copyright.PENANApsDZNpBeJa
“Oh… iya juga kali yah.. Mana kayak ngga pake bawahan lagi, ngga mungkin lah ya dik?”
“Iya pak… mana mungkin, hehehe” padahal emang benar! Untung saja tepat waktu. Kak Rizsa sungguh nakal.
Akhirnya tukang nasi goreng itupun pergi, walau masih sempat melongok kesana sini, jangan-jangan nih tukang nasi goreng yakin dengan apa yang dilihatnya. Tapi paling tidak Aku bisa bernafas lega sekarang. Kak Rizsa yang kini berdiri melihat kepergian tukang nasi goreng itu tertawa dengan lepasnya. Duh… kakakku ini.
“Hihihihihi… hampir aja yah dek…”1094Please respect copyright.PENANAEFH3mCZ0fn
“Kak Rizsa nekat! Kalau ketahuan gimana coba?”1094Please respect copyright.PENANAXbmrCHUmBG
“Ya kakakmu pasti diperkosa sama dia kayaknya dek, hihihi” ujarnya sambil berlari kecil masuk ke dalam rumah. Sungguh bikin gemes! Segera ku kejar dia ke dalam. Ku peluk dia, dan ku jatuhkan ke atas sofa.
Aku cium kakakku yang cantik ini sejadi-jadinya, sampai-sampai kami jatuh terguling menggelinding ke karpet. Kak Rizsa hanya tertawa geli menerima perlakuanku. Ku peluk erat kakakku sambil pinggulku ku goyang-goyangkan sehingga penisku bergesekan di pantat bulatnya. Dia harus kena pejuku!
“Kakak nekat banget… kak Rizsa nakal…” erangku sambil makin mempercepat gesekan penisku di belahan pantatnya.1094Please respect copyright.PENANAcP9mJrIvgG
“Ngh… tapi kamu suka kan dek… sshh… pelan-pelan…”1094Please respect copyright.PENANA4yvgX8wyn5
“Ugh… kak Rizsa…”
“Kamu bayangin gih dek, kalau misalnya kakak tadi ketahuan, si bapak tadi langsung nindih kak Rizsa dari belakang”
“Uugh.. Kak Rizsa…..”1094Please respect copyright.PENANAi8dymC3PfX
“Terus dengan kontol itemnya, kakak kandungmu ini dientotin gila-gilaan sama bapak itu”
“Kakak..”1094Please respect copyright.PENANA9O95rxj9dv
“Bayangin deh, kakak dientotinnya sambil tetap make kemeja dan jilbab ini dek… hihihi”
Gak kuat lagiiiiiiii…..1094Please respect copyright.PENANAIgcTZS6PxB
“Croooottttttttt” pejuku muncrat-muncrat berhamburan di pantat bulatnya yang putih dan montok. Badanku langsung lemas dibuatnya. Akupun terengah-engah ambruk menindih tubuhnya. Malam ini sungguh menegangkan. Yang awalnya hanya membayangkan saja kalau kak Rizsa bertelanjang keluar rumah, malam ini kak Rizsa benar-benar mewujudkan fantasiku.
“Dek..”1094Please respect copyright.PENANArXrenJ0M2v
“Ya kak?”1094Please respect copyright.PENANATlqZt1PZzQ
“Lain kali coba semalaman yuk…”1094Please respect copyright.PENANAfSURTOZf28
“Hah?? Nggak!”
Bersambung…
“Adeek! Buruan gih berangkat.. entar telat loh”1094Please respect copyright.PENANAvAsG6CX15A
“Iya Kak Rizsa yang cantiik.. gak liat nih Didi lagi ngiket tali sepatu?”1094Please respect copyright.PENANAzva4RuUxuR
“Oh, benarkah adikku? Ngiket sepatu itu liatnya ke sepatu doonk, masa ke kakak siih?”1094Please respect copyright.PENANAzYl6vQHhCl
“Adududuh! Iya kak.. iya..”
“Enak dek?”1094Please respect copyright.PENANAjBiWntNrmr
“Hehe.. apanya kak? Liat kak Rizsa? Enak kak?”1094Please respect copyright.PENANALUlYnQrwvG
“Bukan! Dijewernya deek..”1094Please respect copyright.PENANAqCB1Isyl3t
“Aduh kak! Kok lagi sih?”1094Please respect copyright.PENANAE2GUnYG5C7
“Lagian kamunya, mau ngiket tali sepatu.. atau mau ngiket kakak sih dek?”
Takjub mendengar tebakan kak Rizsa , aku hanya bisa memandangnya sambil cengengesan.1094Please respect copyright.PENANAV5KT3Hu2Eh
“Kok tau sih kak? Boleh ya kak?”
“Enak aja kak Rizsa diiket-iket.. emm, emangnya kak Rizsa sapi?”1094Please respect copyright.PENANAGrKxExX11E
“Kak Rizsa jadi sapii..?”
Duh, pikiranku mendadak menerawang kemana-mana. Kak Rizsa jadi kayak sapi? Dengan hanya bertelanjang dan lehernya diikat tali. Lalu payudara putih kak Rizsa menggantung bebas menanti bocah-bocah sapi untuk menyedot dan memeras susu yang ada di dalam buah dada kak Ayla. Uugh.. aku mauu jadi anak sapi ituu..
“Hihi.. lagi mikirin apaan sih dek? Mukanya ampe jelek begitu? Dasar mesum”1094Please respect copyright.PENANAqJbTmyE07z
“Hah? Hehe.. anu kak.. sapi..”1094Please respect copyright.PENANA45LT9WnNOy
“Sapi.. sapi.. gih, buruan berangkat!”
“Iya iya.. kak Rizsa, aku berangkat yah..” aku memonyongkan bibirku kearah wajahnya, kak Rizsa yang menyambutku dengan dipegangya kepalaku dan ditundukkan kebawah lalu mengecup keningku. Gagal sudah percobaanku untuk mencium bibir kakakku ini.
“Bandel ih! Kakak sendiri mau dicium.. ati-ati dijalan yah dek..”1094Please respect copyright.PENANAtLUzmL7htI
“Hehe.. dag kak Rizsaa..” sambil menstarter motorku, aku mulai berangkat sekolah. Meninggalkan kak Rizsaku yang cantik di rumah. Dan tidak ada hal lain yang kupikirkan selain ingin cepat pulang kerumah untuk menemui kakakku ini. Kakakku yang nakal abis, dan hanya aku yang mengetahuinya.
Pagi ini Dado temanku ingin menjemputku untuk berangkat bersama. Kebetulan arah menuju sekolah dari rumahnya ke sekolah kami satu jurusan. Tapi terkadang suka kutolak. Apalagi kalau bukan ingin mampir dan melihat kakakku.
Kak Rizsa yang cantik, putih, berbulu mata lentik, dan bibir yang merona merah Bahkan Dado sering sekali sengaja goda-godain kakakku. Dari ngajak ngobrol, sering-sering ngajak salaman, sampai minta-minta foto sama kakakku.
Mending nih anak enak dilihat. Udah item, jerawatan pula. Keseringan main layangan di jalan tol sepertinya. Belum lagi temanku yang lainnya seperti Feri dan Bono alias Bon bon.
Walau kami sering main PS bareng, punya otak mesum yang sama, kalau sudah urusan tentang kakakku, aku sering merasa tidak rela. Siapa juga yang mau melihat kakaknya yang cantik dan seksi digodain mereka-mereka ini yang kucel, item, dan mendekati jelek. Entah bagaimana rasanya melihat kak Rizsaku digangguin terus sama mereka.
———————-
Ketika hendak pulang ke rumah, teman-temanku, Dado, Feri dan Bono ingin mampir ke rumahku. Katanya sih pengen ngerjain PR bareng-bareng. Hanya saja aku setengah percaya karena pasti tujuan utama mereka hanya ingin ngobrol dan menggoda kakakku.
Mereka itu memang mesum, tapi aku tidak bisa juga menyalahkan mereka yang sangat mengidolakan kakakku. Kak Rizsa, yang meski kalau di luar busananya selalu tertutup, tapi kalau sudah di dalam rumah sering sekali nyaris telanjang.
Aku saja dibuat tidak tahan oleh penampilan maupun ulah kakakku sendiri sehari-hari bila di rumah, apalagi orang lain. Lihat saja saat beberapa hari yang lalu ketika kak Rizsa menemui peminta sumbangan dengan hanya mengenakan tanktop saja, orang itu sampai salah tingkah.
Bahkan Dado saja mengaku padaku bahwa ia menjadikan kak Rizsa sebagai bahan coliannya sehari-hari, dengan hanya berbekal foto kak Rizsa yang entah kapan dia ambil saat berada di rumahku. Sialan tuh anak.
Sesampainya di rumah aku memarkirkan motorku dan yang lainnya di depan garasi lalu segera masuk kedalam.
“Kak… aku pulaang… Bawa demit tiga ekor” Sambil memanggil kakakku pelan aku meledek teman-teman yang suka mengganggu ketenangan di rumahku.
“Ah sial lo bro, tapi biarlah.. mana tau kakak lo demen demit kayak gue, hehe” jawab Dado seenaknya bikin telinga panas. Dasar kampret.
Sambil menaruh tas di ruang tamu aku masuk menuju ruang tengah bersama teman-temanku. Mereka bilang ingin nonton acara TV dulu sebelum mengerjakan PR, tapi tiba-tiba salah satu temanku memanggilku dengan nada setengah terkejut.
“Wah, bro! Apaan nih? Kemari woi semua…!” panggil Bono. Dengan penasaran aku dan yang lainnya pun menghampirinya dan ikut melihat apa yang membuatnya terkejut. Dan memang apa yang dia lihat juga ikut membuatku terkejut. Malahan bagian bawahku juga berontak karena ikut terkejut. Kami melihat kak Rizsa!
Kakakku sedang tertidur di sofa panjang depan tv dengan pulasnya. Tapi yang membuat kami terkejut bukan itu, tapi penampilannya! Rambut kak Rizsa tergerai indah menutupi sebagian pipinya yang merona dari kulitnya yang putih.
Baju kaos pink bergambar Hello Kitty-nya tersingkap hingga hampir sampai ke pinggul! Memperlihatkan meki kak Rizsa yang ditumbuhi bulu-bulu halus dengan bebasnya. Astaga kakakku ini… Dia benar-benar selebor tidurnya.
Untung yang datang hanya kami, coba kalau tamu asing yang tidak jelas, pasti kakak kandungku ini sudah diperkosa habis-habisan tanpa ampun. Meskipun tetap saja tidak lebih baik jika orang itu teman-temanku ini. Aku bahkan bisa mendengar suara ketiga temanku sedang menelan ludah.
Kak Rizsa mulai sadar dan terbangun dari tidurnya, mungkin karena suasana yang mulai agak berisik. Aku yakin kak Rizsa pasti akan kaget melihat kami sedang mengelilinginya, menonton aurat-auratnya, tapi tebakanku sepertinya salah..
“Ehh.. ada temen-temen adek rupanya? Baru pada dateng yah?” sapa kak Rizsa pada mereka sambil merapikan kaos bagian bawahnya. Ha? Kok kak Rizsa malah terlihat tenang sekali dan gak ada kaget-kagetnya!?
“Hehe.. iya nih kak, baru aja pada datang. Jadi ganggu tidurnya kak Rizsa nih.. aduh, bening amat yak?” ujar Dado sok merasa segan.
“Iya kak Rizsa, tidur aja lagi. Kita gak bakal ganggu kok..” kata Feri ikut nimbrung. Kampret, mereka pasti bermaksud ingin melihat kak Rizsa buka-buka paha lagi. Lagian kak Rizsa juga sih pake tidur sembarangan. Mana kakakku ini gak pake daleman lagi. Uhh, benar-benar kakakku ini.
“Hihi.. kakak udahan kok tidurnya. Tadinya sih suguhan buat adek aja, tapi karena udah pada disini.. anggap aja yang tadi itu rejeki buat kalian juga yah…” jawab kak Rizsa melirik manis padaku. Aku hanya melongo tak percaya dengan yang kak Rizsa ucapkan barusan.
Sial, seharusnya aku yang mendapatkan pemandangan indah ini sendiri, sekarang jadi harus berbagi dengan teman-temanku juga. Duh, andaikan aku tidak mengiyakan mereka untuk mengerjakan PR di rumahku, pasti kakakku yang bening dan seksi ini bakal habis kucabuli seharian.
“Ya udah, kakak mau mandi dulu… kakak tinggal bentar yah..” kata kak Rizsa sambil bangkit berdiri, tapi teman-temanku ini menghalangi.
“Gak mandi juga tetap cantik kok kak… hehe”1094Please respect copyright.PENANADS2zM3xdVU
“Iya kak… kita ngobrol-ngobrol aja dulu. Masa udah mau pergi aja sih?” ujar mereka berusaha menahan-nahan kakakku.
“Woi! Lo semua apa-apaan sih! Kakak gue mau mandi dulu.. Hush! Hush!” gayaku setengah mengusir mereka ke ruang tamu, karena aku masih merasa tidak rela harus berbagi rejeki dengan teman-temanku yang berotak mesum semua.
“Kak Rizsa mau mandi? Kalo kakak butuh bantuan, saya bersedia kok bantuin kakak mandi, hehe…” si Dado yang cengengesan mulai kumat cabulnya. Terkadang nih bocah suka kebablasan kalau bercanda ke kakakku, tapi hal itu juga membuat aku panas dingin karenanya.
“Hihihi.. adeek, kakak mau dibantuin mandi tuh sama si Dado.. boleh ga sih dek?” tanya kak Rizsa yang malah menggodaku.
“Ah! Gila kali, ga boleh kak! Enak aja.. sono-sono..” sambil mengusir aku pasang tampang sewot. Yang bener saja, aku saja belum pernah memandikan kakakku, masa mereka duluan yang dapat.
“Tuh Dado, dengerin Didi.. Emangnya kakak kamu ini mirip sapi kali yah dek, pake dimandiin segala? Hihihi..” ujar kak Rizsa malah bercanda.
“Hehe.. Sapi betina dong kak?” celetuk Bono dari belakang.
“Ya iya lah.. masa sapi jantan.. ya udah kakak tinggal mandi dulu yah. Kalian pasti mau ngerjain PR kan?”
“Eh.. iya kak, ngerjain sapi, eh.. PR kak!” jawab ketiga temanku serempak.
“Ya udah sana, ngerjainnya yang rajin yah.. jangan ngerjain kakak melulu, kayak si Didi nih”
“Ih! Apaan sih kak?” sambil sewot aku agak menghindarkan kepala saat kak Rizsa mengacak-acak rambutku. Kak Rizsapun beranjak dari sana menuju ke belakang untuk mandi.
Kembali ke ruang tamu, kami mulai membuka buku masing-masing untuk mengerjakan tugas sekolah. Aku berusaha untuk konsen, tapi tetap tidak bisa. Entah kenapa terlintas di kepalaku sebuah bayangan mesum seandainya kak Rizsa benar-benar dijadikan sapi betina.
Dengan susu yang menggantung indah menunggu untuk dikenyot dan ku sedot habis isinya. Bahkan ketika sudah habis aku masih tidak mau berhenti mengenyotnya, jadilah aku seperti anak sapi yang selalu mengikuti induknya kemana saja.
Tapi kehadiran teman-temanku ini mengganggu kesenanganku saja, aku ingin mereka cepat pulang agar aku bisa berduaan lagi dengan kakakku yang seksi ini. Ugh… Kak Rizsa.
Sambil mengerjakan PR, ku lihat Dado berbicara pelan pada Feri dan Bono.
“Elo sih bro… tadi pake bengong… kan tinggal keluarin HP aja, lama amat…”1094Please respect copyright.PENANAOcNGlkDQne
“Gue sibuk bro, hehe.. liatin susu sapi. Cetakannya gak nahan.. hampir aja gue coli kalo gak inget ada si Didi, hehe”
“Hehe, iya.. kalau tadi gak ada Didi pasti kita semua udah coli bareng-bareng tuh di depan kakaknya itu, hehe”1094Please respect copyright.PENANAkq0jNZ4OSs
“Iya… Apalagi jembutnya itu, aduhhh… bikin pusing atas bawah bro. Itu daging tembem amat yak? Hehe”
Sial, mereka ngomongin kakakku! Gaya mereka seperti tidak mau aku mendengarnya, tapi suara mereka cukup keras untuk dapat ku dengar. Aku malah berpikir kalau mereka memang sengaja supaya aku juga bisa mendengarnya.
“Inget susu sapi gue jadi haus nih bro, jadi pengen icip-icip, kenyot-kenyot dikit, hehe..” lanjut mereka terus berbisik-bisik.
“Si Didi liat susu sapi jadi haus ga ya? Hahaha..”1094Please respect copyright.PENANAgGSEbocBfI
“Didi mah haus tiap hari, hahaha..” mereka terus saja mengatakan hal yang tidak-tidak tentang kak Rizsa. Aku tidak tahan lagi. telingaku mulai panas mendengar mereka membicarakan kakakku seperti itu.
“Woi, setan! Lo kira gua gak denger apa!?” makiku pada mereka.
“Hahaha, becanda broo.. jangan sewot melulu..” si Dado menoleh untuk menenangkanku.
“Iya bro.. bagi-bagi rejeki buat kita sekali-sekali gak ada salahnya kan?” Feri ikut nimbrung yang malah bikin aku tambah panas.
“Lagian bro, kayaknya kakak lo gak masalah juga tuh kita liatin kayak tadi.. jangan-jangan kakak lo emang demen lagi kita liatin? Hehehe..” Bono malah semakin menjadi bicaranya tentang kakakku. Seolah kak Rizsa adalah objek untuk kepuasan nafsu mereka. Benar-benar pelecehan! Kakak kandungku sedang dilecehkan!
Sebenarnya aku antara terima dan tidak terima melihat kejadian tadi, namun seperti yang dikatakan Bono, kak Rizsa memang seperti tidak keberatan sama sekali. Tapi biasanya kak Rizsa bertingkah nakal begitu bila di hadapan orang asing yang gak dikenal sama sekali, tapi masa di hadapan teman-temanku kak Rizsa juga tetap bertingkah begitu…?
Setelah beberapa saat, kak Rizsa sudah muncul kembali ke ruang tamu dengan memakai kemeja putih lengan panjang dan rok panjang berwarna ungu gelap lengkap dengan jilbab berwarna pink. Kak Rizsa lalu ikut duduk bergabung bersama kami.
Penampilan Kak Rizsa sekarang sangat kontras dengan penampilannya tadi. Yang mana sebelumnya sangat mempertontonkan auratnya, kini malah sangat tertutup, rapi dan begitu sopan. Hanya saja, kak Rizsa sepertinya tidak mengenakan dalaman BH lagi! Karena aku bisa melihat dengan cukup jelas pentil kak Rizsa agak nyetak pada kemejanya. Kak Rizsa ini benar-benar deh… Teman-temanku ini kan orangnya cabul semua.
“Eh, kak Rizsa yang cantik sudah balik lagi,” celetuk Dado merayu kakakku.
“Hihihi, bisa aja kamu Dado” balas kak Rizsa dengan senyum manisnya pada kami.
“Iya kak, udah cantik, baik, seksi lagi.. beruntung banget yang jadi adeknya, hehehe..” Bono ikut nimbrung. Aku hanya cengengesan membenarkan omongannya, ya… betapa beruntungnya aku memiliki kakak seperti kak Rizsa, tapi si otong juga sangat tersiksa punya kakak cewek seperti dia ini.
“Iya tuh, makanya adek kakak itu jadi suka bolos, telat sekolah, jarang main-main ke luar. Kerjaannya di rumah melulu sih gangguin kakaknya. Iya dek yah?” tanya kak Rizsa melirik sambil senyum–senyum padaku. Duh! kak Rizsa malah buka-bukan soal keseharianku di depan demit-demit ini.
“Wuaa! Ketahuan lo! Suka bolos, telat nyampe kelas, ternyataa..” sorak teman-temanku membuatku malu.
“Iya tuh, kayak tadi pagi, sambil ikat tali sepatu tapi matanya ngelihatin kakaknya terus. Ngebayangin kakak diiket kayak sapi yah dek? Hihihi..” goda kak Rizsa lagi padaku.
“Wuih! Ngebayangin kak Rizsa diiket kayak sapi, aku mau donk kak jadi anak sapinya, hehe..” Feri mulai ikut nimbrung dengan tampang mesum.
“Gua juga mau lho kak… Kita-kita jadi anak sapinya, terus nyusu ama emaknya, hehehe..” ujar Bono juga ikut-ikutan.
“Hihihi Emak? Emangnya kakak mirip emak sapi yah dek? Bagusan dikit dong manggilnya.. misalnya, mama sapi yang suka menyusui sapi-sapi mudanya, Hihihi..”
“Hah? Eh, anu kak.. iya, mama sapi.. hehe, jadi pengen nih kak…” mereka mulai salah tingkah di depan kakakku. Aku juga ikut membayangkan yang tidak-tidak tentang kak Rizsa sekarang. Celanaku mendadak mulai terasa sempit.
“Pengen? Kalian bertiga mau nyusu sama kakak? Yee, mana bisa.. susu kakak kan cuman dua, kalau kalian bertiga, satu lagi nyusu dimana donk?” Gila nih kak Rizsa! Malah terus melayani omongan mereka, bahkan nantangin segala. Aku yang mendengarnya semakin panas dingin dibuatnya.
“Yang satu gak usah jadi anak sapi deh kak.. jadi papa sapi aja, hehehe..” Bono mulai ikut-ikutan kelewatan.
“Iya bro.. mama sapinya diiket, biar gak kemana-kemana.. hehe..” sekarang Feri yang mulai terbawa suasana. Aku entah kenapa hanya bisa terdiam tak percaya dengan pembicaraan kak Rizsa dan teman-temanku yang semakin menjurus ini.
“Dek, masa kakak mau dijadikan sapi tuh sama mereka, diiket-iket, terus susu kakak diperas-peras, hihihi” ujar kak Rizsa yang malah cekikikan mendengar semua omongan kurang ajar mereka terhadapnya. Aku tentu saja marah, tapi membayangkan kakakku dijadiin sapi betul-betul membuatku horni. Aku sampai tak bisa bereaksi apa-apa.
“Adeeeek, kamu kok diam aja sih?? Jadi mereka boleh nih jadiin kakak sapi? ya udah… kalian ikat kakak gih, hihihi” ujar kak Rizsa sambil menjulurkan kedua tangannya seperti pasrah untuk diikat. Aku dan teman-temanku tentu saja terkejut bukan main melihat ulah kakakku yang malah menantang mereka itu. Mereka tentu saja sangat bersemangat.
“Eh, jangan kak!” ujarku cepat, gila aja kalau kakakku benar-benar akan diikat oleh mereka.
“Hihihi… kakak bercanda kok dek…” ujar kak Rizsa yang membalas kecemasanku dengan tertawa renyah.
“Lagian kakak juga gak kebayang betapa repotnya ngurusin si papah sapi sama anak-anaknya sekaligus.. Hihihi.. Kamu kebayang gak sih dek? Pengen lihat?” ujar kak Rizsa yang terus membuatku panas dingin.
Kakakku ini sadar gak sih kalau dia sedang dilecehin? Kok malah kelihatannya suka seperti ingin hal itu benar-benar terjadi sih? Aduh, aku yakin bukan aku saja yang merasakan sempitnya celana bagian selangkangan. Ku lihat ketiga temanku duduknya juga sudah tidak nyaman.
“Eh! Anu kak.. Emm..” mendadak aku jadi bingung antara ingin lihat atau tidak.
“Hihi.. Liat deh muka adek tuh, jadi sama jeleknya kayak muka temen-temen adek. Cabul! Udah ah, bukannya pada lanjut bikin PR malah ngerjain kak Rizsa nanti” kata Kak Rizsa sambil pergi menuju ke dalam, meninggalkanku dalam keadaan mupeng berat. Duh! Mana celana sudah berasa sempit, malah ditinggalin begini aja. Kak Rizsa memang jahat! Tapi seksi banget! Obrolan panas antara kak Rizsa dengan teman-temanku tadi sungguh bikin aku terangsang.
“Aduh bro.. gua numpang kamar mandi yak? Dah gak tahan nih..” si Dado sepertinya sudah tidak kuat menahan gejolak otongnya. Tentu saja dia tidak kuat, hanya dengan melihat sosok kak Rizsa saja siapapun pasti bakal mupeng, apalagi sampai digoda-godain segitunya sama kakakku yang cantik ini.
Lagian juga sih kakakku. Pake goda-godain mereka. Kayak gak tahu aja mereka seperti apa. Aku saja sudah mau meledak rasanya. Tapi rugi kalau kukeluarkan di kamar mandi. Pokoknya harus di depan kak Rizsa.
“Woi! Awas salah belok lo!” hardikku mengingatkan Dado. Siapa tahu tuh anak kalap lalu memperkosa kakakku, bisa kacau urusan.
“Sumpah bro, gue beneran mau kekamar mandi kok…” sambil seperti menahan sesuatu Dado berjalan santai kekamar mandi, membuat roman mukanya yang sudah demek menjadi semakin jelek.
Dua temanku yang lainpun sepertinya juga sedang mengalami hal yang sama. Ingin coli karena tidak tahan membayangkan hal yang tidak-tidak tentang kakak kandungku. Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu ketika kak Rizsa menggoda bapak-bapak peminta sumbangan. Entah kemana bapak itu melampiaskan nafsunya yang tertunda itu.
Ngebayangin kak Rizsa bugil dari balik pagar. Uugh, aku saja sampai meledak-ledak gak karuan ke dada kak Rizsa. Mana sembarangan pula nyampirin tanktopnya. Tapi aku malah jadi penasaran, tanktop kak Rizsa yang disampirin di pagar mendadak hilang. Siapa yang ambil ya?
Setelah beberapa saat aku melamun sendiri tentang kak Rizsa, si Dado sudah kembali dengan wajah cerah sumringah seperti demit yang habis makan korban.
“Wuih! Lega broo.. lo mendingan buruan deh keluarin, dari pada sakit nahan, hehe..” katanya cengengesan.
“Ah lo! Buang tai aja pake ngomong-ngomong.. risih gua dengernya..” ujar si Feri tapi tetap saja beranjak gantian ke kamar mandi, kemudian setelah itu si Bono. Bener-bener kacau teman-temanku ini.
Baru kali ini aku melihat orang coli bergantian pake kamar mandi, mana kamar mandi rumahku lagi. Hingga akhirnya mereka semua selesai dan sudah berkumpul kembali di ruang tamu. Aku tidak yakin kita masih bisa terus melanjutkan PR ini karena sepertinya semuanya sudah tidak lagi konsen, ya.. gara-gara kak Rizsa!
Mungkin ini saatnya giliranku untuk juga buang pejuh. Hanya saja jurusanku tentunya bukan kamar mandi, melainkan kamar kak Rizsa. Aku ingin langsung beronani di depan kakakku, kalau bisa ngepejuin dia. Tanpa menunggu lagi aku langsung bangkit menuju ke kamar kakakku tercinta yang cantik dan seksi itu.
“Kak Rizsaa..” ketokku pada pintu kamarnya. Tidak ada yang menjawab. Apa kak Rizsa sedang tidur? Mumpung lagi tidur aku masuk saja, otong sudah ngga tahan. Bener kata Dado, kalau nggak disalurkan bisa sakit, hehe..
“Kak Rizsaa.. aku masuk yaa?” ketika aku masuk kedalam kamarnya ternyata kak Rizsa tidak ada di dalam. Kamar kak Rizsa kosong! Kemana kak Rizsa? Masa iya kak Rizsa lagi ada di..
“Adeek! Minta tolong donk deek.. ambilin kakak handuk!” suara kak Rizsa memanggil dari ruangan lain. Dari ruang kamar mandi! Sejak kapan kak Rizsa berada di kamar mandi? Bukankah teman-temanku tadi juga dari kamar mandi? Membayangkan hal-hal yang mungkin saja terjadi mendadak membuat tubuhku lemas, badanku jadi panas dingin.
“Kak Rizsa lagi apa sih..?” tanyaku kemudian saat sudah sampai di depan pintu kamar mandi. Kak Rizsa membuka pintu kamar mandi sedikit dan mengeluarkan kepalanya.
“Hihi.. ya lagi mandi lah…” jawabnya sambil senyum-senyum.1094Please respect copyright.PENANAWLmMueyq5k
“Kan tadi udah mandi? Kok mandi lagi sih kak?”
“Iya nih dek.. abisnya gerah banget.. jadi mandi lagi deeh.. lagian kamu pengen liat kakak tetep cantik, bersih dan segar kan? Hihihi”
Kak Rizsa sepertinya memang baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang basah dan butiran air di wajahnya yang mengalir sampai ke dagunya. Aku betul-betul terpana melihat kecantikan kakakku ini. Kak Rizsa sendiri membalas melihatku dengan senyuman manis.
Aduh… jantungku berdetak cepat, darahku berdesir memandang kakakku yang cantik ini tersenyum dengan sangat manisnya. Kondisinya yang sedang basah-basahan makin menambah keseksiannya. Membuat celanaku menjadi sempit!
Sambil mengambil handuk yang ada di jemuran kecil yang terletak di dekat sana, aku lalu menerobos masuk ke kamar mandi untuk memberikan handuk itu padanya. Sekalian minta dicoliin kakakku.
“Kak.. aku masuk ya… gak tahan nih” pintaku.1094Please respect copyright.PENANAqRJElP7BEg
“Eh eh, apaan nih mau masuk–masuk aja?” kak Rizsa menahan pintunya agar aku tidak masuk.
“Kaak.. pengen nih kak…” rengekku.1094Please respect copyright.PENANAEDFXNPDySX
“Hihihi.. kamu tuh apa-apaan sih? Kakak tuh lagi mandi, nanti kotor lagi lhoo..”1094Please respect copyright.PENANA9aeEhj1b05
“Yaah, kak Rizsa.. ya udah deh..” Yah… tidak boleh, ya sudahlah. Seperti biasa ketika kak Rizsa menolak keinginanku, aku berusaha untuk memahaminya. Walau sebenarnya otong sudah tidak bisa diajak kerjasama lagi.
“Adeek..” kak Rizsa tiba-tiba memanggilku dengan genit. Apakah kak Rizsa akan berubah pikiran?
“Iya kak, apa kak? Boleh masuk yah?” tanyaku penuh semangat.
“Bukaaaann….. Hmm… Kakak mau kasih lihat sesuatu yang spesial buat kamu” sambil mengedipkan matanya kak Rizsa tersenyum manis banget. Sungguh seksi gayanya.
“Beneran kak?”1094Please respect copyright.PENANA1qAgTQZww2
“Hihihi..”1094Please respect copyright.PENANAK1QHSkB0X6
“Kak? Serius nih..” ditanyain dianya malah ketawa.1094Please respect copyright.PENANA0BXUar4sIZ
“Umm.. beneran gak yah? Kok kakak jadi bingung yah dek? Hihi..” kak Rizsa memanyunkan bibirnya dan mengerutkan alisnya seperti sedang pura-pura bingung.
“Yaah.. kakak? Ga usah bingung-bingung deh!” aku memburu kak Rizsa supaya tidak ragu-ragu, karena yang tersiksa adalah kontiku juga. Karena apapun yang dia lakukan, selalu akan membuat otongku muncrat tak terkendali.
“Makanya siniin handuk kakak.. entar kakak berubah pikiran lho.. sana gih, ada temen-temennya jugak” kata kak Rizsa mengusirku, tapi demi sesuatu yang membuatku penasaran, aku coba untuk bertahan. Sebentar lagi yah tong, kasihan banget otongku ini, tak berdaya melawan cantik dan genitnya kak Rizsa.
Sebelum kembali aku melihat pakaian kak Rizsa di tumpukan keranjang pakaian kotor di sebelah jemuran kecil. Baju yang dia pakai tadi… kini kulihat ada bercak-bercak cairan yang sudah hampir mengering! Pasti ini kerjaan ketiga temanku.
Kak Rizsa tahu gak sih kalau pakaiannya jadi korban onani para dedemit cabul itu!? Duh! Ingin rasanya onani juga, tapi teringat apa yang akan kak Rizsa suguhkan nanti membuatku mengurungkan niatku. Kak Rizsa ini bener-bener nakal. Selalu saja menggodaku terus.
Kak Rizsa menjewer telingaku karena mengikat tali sepatu gak kelar-kelar. Siapa yang bisa cepat kelar kalau kak Rizsa malah duduk di depanku pakai daster bergambar hello kitty dengan potongan bawahan sepaha.
Dan saat dia duduk bagian bawahnya ketarik sampai ke pangkal paha, dan memperlihatkan kulit mulus pahanya yang putih. Kalau perlu aku gak usah berangkat sekolah saja untuk melihat pahanya selama mungkin. Dari pada ngiket tali sepatu, mendingan ngiket kakak sendiri deh, hehe..
Bersambung…
ns216.73.216.176da2


