Hujan baru saja berhenti ketika Arka memarkir mobilnya di halaman rumah mertua di kawasan Bintaro. Udara masih lembap, membawa bau tanah basah dan dedaunan yang baru saja diguyur. Ia mematikan mesin, tapi tidak langsung turun. Kedua tangannya masih memegang setir, jari-jari mengerat pelan. Di dashboard, layar ponsel menampilkan pesan terakhir dari istrinya, Liora, yang dikirim dua jam lalu:
6031Please respect copyright.PENANAVT3idqnapm
*Pulang agak malam ya. Aku masih di rumah Kak Rania. Kita bantu beres-beres sisa acara.*
6031Please respect copyright.PENANAvZg7WuZy42
Acara. Ulang tahun keempat puluh Rania, kakak iparnya. Perempuan yang selalu terlihat tenang, rapi, dan sedikit dingin di mata Arka. Rania adalah kakak kandung dari Liora, lebih tua tiga tahun, sudah bercerai dua tahun lalu, dan kini tinggal di rumah orang tua mereka dengan dua anak yang sudah remaja dan sedang liburan di luar kota.
6031Please respect copyright.PENANAYe1huh3B3n
Arka menghela napas. Ia lelah. Meeting di kantor berlarut sampai sore, lalu macet di tol. Yang ia inginkan sekarang hanyalah mandi, makan, dan tidur di samping Liora. Tapi ada sesuatu yang mengganjal sejak pagi. Liora terdengar terlalu ceria di telepon. Suaranya lebih tinggi, lebih ringan, seolah ada energi yang tidak biasa. Dan Rania… Rania jarang mengadakan acara besar sejak bercerai. Kali ini ia mengundang beberapa teman lama, termasuk beberapa pria yang Arka tidak terlalu kenal.
6031Please respect copyright.PENANAyxnOHtZUkG
Ia turun dari mobil. Lampu di bagian depan rumah menyala redup. Hanya beberapa jendela di lantai atas yang masih terang. Suara musik pelan terdengar dari dalam, bukan musik pesta, lebih seperti playlist soft rock yang hampir habis volume-nya. Arka menekan bel. Tidak ada jawaban. Ia mencoba pegangan pintu. Terbuka.
6031Please respect copyright.PENANAqYrakDVUoA
Rumah itu terasa terlalu sunyi untuk ukuran acara yang baru saja selesai. Bau alkohol samar masih tertinggal di udara, bercampur dengan parfum mahal dan sedikit asap rokok yang sudah lama padam. Di ruang tamu, gelas-gelas kosong bertebaran di meja. Beberapa bantal sofa berantakan. Arka berjalan pelan, sepatu-nya hampir tidak bersuara di lantai kayu.
6031Please respect copyright.PENANArBgT8lou9z
“Liora?” panggilnya pelan.
6031Please respect copyright.PENANA1PgLIdwca2
Tidak ada jawaban.
6031Please respect copyright.PENANAQ3gCicqs2A
Ia menaiki tangga. Lantai dua lebih sunyi. Lampu lorong menyala. Pintu kamar tamu di ujung sedikit terbuka, cahaya kuning hangat merembes keluar. Arka menghampiri, siap menegur istrinya karena tidak mengunci pintu, ketika suara desahan pelan membuatnya berhenti di tengah langkah.
6031Please respect copyright.PENANAm2v2z86AJ7
Bukan desahan lelah. Bukan desahan kesal. Desahan yang panjang, basah, dan sangat familiar.
6031Please respect copyright.PENANA4myoFl5QXL
Arka membeku. Jantungnya berdetak lebih kencang. Ia tahu suara itu. Suara Liora ketika ia berada di ambang kenikmatan, ketika lehernya meregang dan jari-jarinya mencengkeram seprai. Tapi ada suara lain di baliknya—suara perempuan yang lebih dalam, lebih serak, yang ia kenali sebagai Rania.
6031Please respect copyright.PENANAftvJ4vUI2f
Ia seharusnya berbalik. Seharusnya memanggil nama mereka dengan keras. Tapi kakinya tidak bergerak. Tangannya terangkat, mendorong pintu itu sedikit lebih terbuka, cukup untuk melihat ke dalam tanpa masuk sepenuhnya.
6031Please respect copyright.PENANA3buCWrk5Rf
Kamar itu luas, dengan ranjang king size di tengah. Lampu meja di sisi ranjang menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan lembut di dinding. Di atas ranjang, dua tubuh perempuan saling berdekatan.
6031Please respect copyright.PENANAlHa9uvqWjk
Liora berbaring telentang, rambut hitamnya yang panjang tersebar di bantal putih. Gaun pesta biru navy yang ia pakai pagi ini sudah tidak utuh—bagian atasnya diturunkan sampai pinggang, menyingkap payudara yang penuh dan kenyal. Putingnya berwarna merah muda gelap, sudah mengeras, mengkilap karena air liur. Satu tangan laki-laki—bukan tangannya—memegang payudara kiri Liora, ibu jari menggosok puting dengan gerakan lambat dan menguasai. Tangan lain berada di antara paha Liora yang terbuka, jari-jari bergerak di dalam celana dalam renda hitam yang sudah digeser ke samping.
6031Please respect copyright.PENANA2cY1uSL2WU
Di samping Liora, Rania duduk bersimpuh, tubuhnya hanya dibungkus kimono sutra yang terbuka lebar di depan. Payudaranya lebih besar dari Liora, bentuknya berat dan bulat, puting berwarna cokelat tua yang sudah basah. Seorang pria di belakangnya mencium lehernya sambil kedua tangan meremas payudara itu dari belakang, menekan dan memelintir puting dengan gerakan yang membuat Rania mendongak, mulut terbuka, desahan panjang keluar.
6031Please respect copyright.PENANAcQAw0Td1ay
Ada dua pria lain di ranjang itu. Satu duduk di dekat kepala Liora, celananya sudah terbuka, penisnya yang tegang dipegang oleh tangan Liora yang gemetar. Yang satu lagi berlutut di antara paha Rania, wajahnya tertunduk, lidah bergerak di antara lipatan basah kakak iparnya.
6031Please respect copyright.PENANAodSXWoQJZn
Arka tidak bisa bernapas. Dunia di luar pintu itu seolah menghilang. Yang tersisa hanyalah gambar di depannya: istrinya dan kakak iparnya, tubuh mereka saling bersentuhan, kulit mengilap oleh keringat tipis, aroma seks yang pekat sudah memenuhi kamar—bau kulit, bau cairan, bau parfum yang bercampur dengan bau jantan.
6031Please respect copyright.PENANAYAuctJ0jVu
Liora mendesah lagi, lebih keras. “Pelan… jari kamu dalam banget…”
6031Please respect copyright.PENANADGmHCrywiV
Suara pria yang menyentuhnya rendah, hampir seperti gumaman. “Basah banget, Li. Dari tadi basah.”
6031Please respect copyright.PENANAuzd87E3M63
Rania tertawa kecil, suara seraknya pecah ketika lidah pria di antara pahanya bergerak lebih cepat. “Dia selalu gampang basah kalau dilihat orang.”
6031Please respect copyright.PENANAFnYhUpNg2m
Liora memalingkan wajah, pipinya merah padam. Tatapannya sempat bertemu dengan mata Rania. Ada sesuatu di antara mereka—bukan rasa bersalah, melainkan keintiman yang aneh, seolah ini bukan pertama kalinya mereka berada di posisi seperti ini.
6031Please respect copyright.PENANAIEgb48B6ZS
Arka merasa lututnya lemah. Ia bersandar di kusen pintu, masih tersembunyi oleh bayangan. Ia seharusnya marah. Seharusnya masuk dan menghentikan semuanya. Tapi yang ia rasakan bukan hanya marah. Ada panas yang merayap dari perut turun ke selangkangan, membuat celananya terasa sempit. Ia membenci reaksi tubuhnya sendiri.
6031Please respect copyright.PENANAMQn0hdE7BY
Pria yang penisnya dipegang Liora menggeram pelan. “Mulut kamu, Li. Pakai mulut.”
6031Please respect copyright.PENANAcy46HyBYbX
Liora menoleh, bibirnya yang sudah merah dan agak bengkak terbuka. Ia menjulurkan lidah, menjilat dari pangkal sampai ujung, lalu memasukkan kepala penis itu ke dalam mulutnya dengan gerakan lambat. Pipinya cekung. Air liur menetes di sudut bibir. Pria itu memegang rambut Liora, tidak kasar, tapi cukup untuk mengarahkan ritme.
6031Please respect copyright.PENANAABooI53ijb
Sementara itu Rania sudah berbalik, berlutut menghadap pria di belakangnya. Kimono-nya sepenuhnya terbuka sekarang. Bokongnya yang montok terangkat, paha terbuka. Pria itu memposisikan diri, menggosokkan ujung penisnya di celah basah Rania sebelum mendorong masuk dengan satu hentakan dalam. Rania mengerang, jari-jari mencengkeram seprai.
6031Please respect copyright.PENANAzQ9159MMPt
“Sialan… besar banget…”
6031Please respect copyright.PENANAQUh38pCmsv
Liora, masih dengan mulut penuh, menoleh ke arah kakaknya. Mata mereka bertemu lagi. Rania tersenyum miring, lalu mengulurkan tangan, memegang payudara Liora yang tidak dipegang pria lain, meremas pelan, memelintir puting sampai Liora mendesah di sekitar penis di mulutnya.
6031Please respect copyright.PENANAeEdu30ixey
Arka merasa dunia berputar. Ia mengingat malam-malam ketika ia menyentuh payudara Liora dengan cara yang sama, ketika ia mendengar desahan itu hanya untuknya. Sekarang desahan itu dibagi. Digilir. Dan Rania—kakak ipar yang selalu ia anggap dingin—terlihat sangat basah, sangat terbuka, sangat menikmati.
6031Please respect copyright.PENANAaLlSC3cTL6
Pria di antara paha Liora menarik jari-jarinya keluar. Cairan bening menarik benang di antara jari dan lipatan basah istrinya. Ia digantikan oleh pria lain yang segera menunduk, lidahnya menyapu dari bawah ke atas, mengisap klitoris Liora dengan gerakan yang membuat paha istrinya gemetar hebat.
6031Please respect copyright.PENANAtMiGP35Lcj
“Akh… di situ… jilat terus…” suara Liora pecah, mulutnya terlepas sejenak dari penis sebelum ia kembali mengisap lebih dalam.
6031Please respect copyright.PENANA2nEcCPS9tl
Rania sudah digoyang dengan ritme stabil dari belakang. Setiap hentakan membuat payudaranya yang berat bergoyang. Pria di belakangnya meraih rambut Rania, menarik kepala ke belakang sampai lehernya meregang. “Enak, Ran? Bilang enak.”
6031Please respect copyright.PENANA22YYmnJy6S
“Enak… dalam banget… jangan berhenti…”
6031Please respect copyright.PENANAdL5bZSw6sX
Arka tidak tahu berapa lama ia berdiri di situ. Waktu terasa kental. Setiap detail masuk ke matanya tanpa filter: bagaimana puting Liora digigit pelan oleh Rania, bagaimana cairan dari vagina Liora membasahi paha dalamnya sampai mengilap, bagaimana Rania mencapai orgasme pertama dengan tubuh yang kejang dan desahan yang tertahan di bantal, bagaimana Liora menyusul tidak lama kemudian, mulutnya masih penuh, air mata di sudut mata karena kenikmatan yang terlalu intens.
6031Please respect copyright.PENANArA6RRKFf9O
Ketika salah satu pria akhirnya masuk ke dalam Liora, Arka harus memegang kusen lebih kuat. Ia melihat penis itu menghilang di antara lipatan istrinya, pelan-pelan, sampai pangkal. Liora melengkungkan punggung, payudara terangkat, mulut terbuka tanpa suara.
6031Please respect copyright.PENANAhPbbFTng8k
“Lihat,” bisik Rania di telinga Liora, suaranya serak. “Dia masukin kamu sambil aku pegang tetek kamu. Suka, kan?”
6031Please respect copyright.PENANANqV33LHnUn
Liora hanya bisa mengangguk, mata setengah tertutup.
6031Please respect copyright.PENANAWc9AnTndSl
Arka merasa sesuatu di dalam dirinya retak. Bukan hanya rasa memiliki yang hancur. Ada rasa lain yang lebih gelap, lebih memalukan: rasa ingin terus melihat. Rasa ingin tahu seberapa jauh mereka akan pergi. Rasa ingin mendengar Liora mendesah nama pria lain.
6031Please respect copyright.PENANABWlHgeCZuH
Ia mundur selangkah. Pintu berderit pelan.
6031Please respect copyright.PENANA09168ST8sQ
Semua gerakan di dalam kamar berhenti sepersekian detik.
6031Please respect copyright.PENANAQSIdziYXRj
Liora membuka mata. Tatapannya langsung ke arah pintu.
6031Please respect copyright.PENANAu8DXXgXcXU
Dan mata mereka bertemu.
6031Please respect copyright.PENANAHxPgK4FHCY
Wajah Liora pucat. Mulutnya terbuka. Tapi ia tidak berteriak. Tidak mendorong pria di atasnya. Ia hanya menatap Arka dengan mata yang penuh panik, rasa bersalah, dan sesuatu yang lain—sesuatu yang mirip dengan kelegaan yang aneh, seolah rahasia yang terlalu lama ditahan akhirnya terbongkar.
6031Please respect copyright.PENANA4yseApUbkR
Rania menoleh. Wajahnya masih merah karena orgasme, bibirnya bengkak. Ia tidak terlihat kaget. Hanya menghela napas pelan, seolah sudah menduga ini akan terjadi.
6031Please respect copyright.PENANAvkv36bmAAn
Arka berdiri membeku di ambang pintu, napasnya pendek, celananya masih menegang dengan memalukan. Di dalam kamar, empat pasang mata menatapnya. Dan di antara mereka, Liora—istrinya—masih tertusuk oleh penis pria lain, payudaranya masih digenggam oleh tangan kakak iparnya sendiri.
6031Please respect copyright.PENANA6ntQSXnIAK
Keheningan yang mengikuti terasa lebih berat dari hujan yang baru saja berhenti di luar.
6031Please respect copyright.PENANACCj6VWIwa8
Liora akhirnya membuka mulut. Suaranya parau, hampir tidak terdengar.
6031Please respect copyright.PENANAKFIIhEnkAR
“Arka… aku bisa jelaskan…”
6031Please respect copyright.PENANAHQFX0WexNs
Tapi Arka sudah tahu. Tidak ada penjelasan yang cukup. Yang ada hanya gambar di depannya, aroma seks yang pekat, dan kesadaran bahwa hidupnya, pernikahannya, dan segalanya yang ia anggap pasti, baru saja berubah selamanya di balik pintu kamar tamu yang tidak terkunci itu.
6031Please respect copyright.PENANAQjIEaJUutC
Keheningan di kamar itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi terasa seperti jam. Napas Arka tersangkut di tenggorokan. Matanya masih tertuju pada tubuh Liora yang terbentang di ranjang, dress biru navy-nya sudah tidak berguna, hanya tersisa di pinggang sebagai kain kusut. Payudaranya yang penuh naik-turun cepat, puting merah muda gelap masih mengkilap basah karena air liur dan gigitan ringan Rania. Di antara pahanya yang terbuka lebar, penis pria yang belum Arka kenal masih tertanam dalam, urat-uratnya menonjol di pangkal.
6031Please respect copyright.PENANA9yiu7A8O9X
Liora menatapnya dengan mata membulat. Bibirnya yang bengkak bergetar. “Arka… tunggu… jangan—”
6031Please respect copyright.PENANAnwaRs3fOPH
Tapi pria di atasnya tidak berhenti.
6031Please respect copyright.PENANApGb0oy3RsM
Ia bahkan tidak menoleh terlalu lama ke arah pintu. Tangannya yang besar menekan paha dalam Liora lebih lebar, jempol menekan tepat di atas klitoris yang sudah bengkak, lalu pinggangnya bergerak lagi. Hentakan pertama setelah keheningan itu dalam dan lambat, seolah sengaja. Batang tebal itu keluar hampir seluruhnya sampai hanya kepala yang tertinggal di bibir vagina yang kemerahan, lalu masuk kembali dengan satu dorongan yang membuat perut bawah Liora sedikit menggelembung.
6031Please respect copyright.PENANAbJnVbMoYw3
Liora tersentak. Desahan panjang keluar dari mulutnya sebelum ia sempat menahan. “Ahh… tunggu… suami aku—”
6031Please respect copyright.PENANA8wTC4YDubT
“Dia lagi nonton,” suara pria itu rendah, serak, hampir seperti gumaman di dekat telinga Liora. “Jadi kita lanjut. Kamu basah banget, Li. Lihat, dia keluar-masuk gampang.”
6031Please respect copyright.PENANAK4pOB8zSgt
Ia mengoyang lagi. Kali ini lebih dalam, lebih stabil. Setiap kali pangkal penisnya menumbuk mulut vagina Liora, ada suara basah yang jelas—ciplak pelan, basah, berulang. Cairan Liora sudah membasahi paha dalam dan seprai di bawah bokongnya, mengkilap di bawah lampu kuning.
6031Please respect copyright.PENANAoB25HdDcif
Arka berdiri membeku di ambang pintu. Kakinya tidak mau bergerak. Tangannya mencengkeram kusen sampai buku-buku jarinya memutih. Ia ingin berteriak, ingin masuk dan menarik pria itu, tapi tubuhnya seperti dikunci oleh gambar di depannya. Penis di dalam celananya sudah tegang sempurna, menekan kain dengan sakit yang memalukan.
6031Please respect copyright.PENANA2bKFBJMLMz
Rania, yang masih berlutut dengan penis pria lain tertanam di belakangnya, menoleh ke arah Arka. Wajahnya merah, bibir bawah digigit, tapi matanya tidak menunjukkan rasa bersalah yang dalam. Ia bahkan tersenyum tipis, serak.
6031Please respect copyright.PENANAPxJqB3OImS
“Masuk, Arka,” katanya pelan, suaranya pecah setiap kali pria di belakangnya menghentak. “Atau berdiri di situ. Terserah. Tapi jangan suruh berhenti sekarang.”
6031Please respect copyright.PENANABazYadldbA
Pria di belakang Rania meraih rambut panjangnya, menarik kepala ke belakang sampai leher ramping itu meregang. Hentakan di bokong Rania menjadi lebih cepat. Setiap kali ia masuk, daging montok itu bergelombang, dan payudara berat Rania yang tergantung bergoyang hebat. Puting cokelat tuanya sudah sangat keras, digigit oleh gigi Rania sendiri ketika kenikmatan datang bergelombang.
6031Please respect copyright.PENANAvchUSVzRk7
“Dalam… ahh, dalam banget… jangan berhenti…” Rania mengerang, mata setengah terpejam, tapi masih melirik ke arah Arka.
6031Please respect copyright.PENANAtDNchUYW7e
Di ranjang, pria yang menguli Liora mengubah sudut. Ia mengangkat kedua kaki Liora ke bahunya, sehingga bokong istrinya terangkat dan penis itu masuk lebih dalam lagi. Dari posisi Arka berdiri, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana bibir vagina Liora yang merah dan bengkak meregang di sekeliling batang itu, bagaimana cairan kental ikut keluar setiap kali penis ditarik, menarik benang transparan yang mengkilap.
6031Please respect copyright.PENANAKBjF8npEnO
Liora memalingkan wajah ke samping, air mata di sudut mata. Bukan hanya karena rasa bersalah. Ada kenikmatan yang jelas di ekspresinya—alis berkerut, mulut terbuka, lidah sedikit keluar setiap kali ujung penis menumbuk titik di dalam yang membuat perutnya berkontraksi.
6031Please respect copyright.PENANAAbmIxHoZTM
“Arka… aku… ahh… dia kena… terus…” suaranya pecah. “Aku nggak bisa… tahan…”
6031Please respect copyright.PENANAfaYgoiGb12
Pria itu tertawa rendah. “Bilang ke suami kamu. Bilang enak.”
6031Please respect copyright.PENANALiNq4OdU53
Liora menggigit bibir sampai memutih. Tatapannya kembali ke Arka. Air mata mengalir ke pelipis. “E-enak… dia dalem banget… Arka… dia lagi ngewein aku di depan kamu…”
6031Please respect copyright.PENANALmgsmmn2Q3
Kata-kata itu seperti pukulan. Arka merasa napasnya hilang. Tapi ia tidak berpaling. Matanya terus menonton bagaimana pinggang pria itu bergerak—lambat dulu, lalu semakin cepat, kulit bertemu kulit dengan bunyi basah yang semakin keras. Payudara Liora berguncang hebat setiap hentakan. Rania yang masih digoyang dari belakang mengulurkan tangan, memegang salah satu payudara Liora, meremas dan memelintir puting sampai Liora menjerit pelan.
6031Please respect copyright.PENANAtu9cIUSn0Y
“Lihat,” bisik Rania ke Liora, tapi suaranya cukup keras untuk Arka dengar. “Suami kamu masih berdiri di situ. Celananya sudah gede. Dia suka nonton kamu digilir.”
6031Please respect copyright.PENANAzv5gJepFm8
Liora menggeleng lemah, tapi pinggulnya bergerak berlawanan arah, menyambut setiap hentakan. “Jangan… bilang gitu…”
6031Please respect copyright.PENANAlWH268UUME
Pria di mulut Liora—yang tadi hanya menunggu—sekarang mendekat lagi. Ia menepuk pipi Liora pelan. “Buka mulut. Sambil digoyang, hisap.”
6031Please respect copyright.PENANAG3zc9IMcEQ
Liora menurut. Mulutnya terbuka, dan penis kedua itu masuk, memenuhi pipinya. Air liur langsung menetes di sudut bibir, turun ke dagu, lalu ke leher. Sekarang Liora digoyang dari bawah sambil mengisap di atas. Setiap kali pria di vaginanya menghentak dalam, kepala Liora terdorong maju, membuat penis di mulutnya masuk lebih dalam sampai hampir ke tenggorokan.
6031Please respect copyright.PENANA5HaAH0sp0A
Arka mendengar suara gag reflex pelan, lalu Liora menyesuaikan napas dan mengisap lebih serius. Pipinya cekung. Matanya berkaca-kaca, memandang ke arah suami sambil terus dilukai kenikmatan dari dua arah.
6031Please respect copyright.PENANAYQLibaSzk9
Rania mencapai orgasme lebih dulu. Tubuhnya kejang, bokong terangkat lebih tinggi, desahan panjang keluar sambil ia mencengkeram seprai. Pria di belakangnya tidak berhenti. Ia terus mengoyang melalui orgasme itu, membuat Rania tersentak-sentak, payudara berguncang liar, cairan membasahi paha dan seprai.
6031Please respect copyright.PENANAOloEAThMpc
“Masih… ahh, masih goyang… sakit enak…” Rania mengerang, wajahnya tertanam di bantal sejenak sebelum ia mengangkat kepala lagi dan menatap Arka. “Masuk, Arka. Atau setidaknya buka celana kamu. Aku tahu kamu keras.”
6031Please respect copyright.PENANAtLsTNhLpht
Arka tidak menjawab. Ia hanya berdiri, napasnya pendek, penisku berdenyut sakit di dalam celana. Ia membenci diri sendiri karena tidak bisa berhenti menonton. Karena setiap hentakan di tubuh Liora membuat darahnya semakin panas.
6031Please respect copyright.PENANA0Y7j5yOhgl
Pria yang mengentot Liora merasakan vagina istrinya semakin mencengkeram. “Dia mau keluar. Lihat, Li. Suami kamu lagi nonton kamu ngewe. Keluarin di depan dia.”
6031Please respect copyright.PENANAdac0H4Gjam
Liora menggeleng, mulut masih penuh, tapi tubuhnya sudah tidak terkendali. Paha gemetar hebat. Perut bawah berkontraksi. Ketika orgasme datang, ia menjerit di sekitar penis di mulutnya, tubuh melengkung, cairan menyembur membasahi perut pria di atasnya dan seprei. Pria itu terus mengoyang melalui orgasme itu, tidak memberi jeda, memaksa gelombang kedua yang lebih panjang dan lebih basah.
6031Please respect copyright.PENANAtGjgPC9D8A
“Bagus… ahh, bagus… keluarkan semua,” gumam pria itu sambil terus bergerak. “Masih kuat. Kita belum selesai.”
6031Please respect copyright.PENANAgtI7uv69ch
Ia mengubah posisi tanpa keluar. Liora dibalik menjadi tengkurap, dada menekan ranjang, bokong terangkat. Dress yang tersisa di pinggang digeser lebih naik. Pria itu masuk lagi dari belakang dengan satu hentakan dalam. Sekarang Arka melihat dengan jelas bagaimana bokong Liora yang kenyal bergelombang setiap kali ditumbuk, bagaimana lubang yang kemerahan itu meregang dan menutup di sekeliling batang yang mengkilap basah.
6031Please respect copyright.PENANANxIAj1RhyG
Rania merangkak mendekat, berbaring di samping Liora, wajah mereka berdekatan. Ia mencium bibir adiknya sambil digoyang dari belakang oleh pria lain yang belum selesai. Ciuman mereka basah, lidah saling bermain, desahan bercampur.
6031Please respect copyright.PENANAEOrWEy93pG
“Dia masih nonton,” bisik Rania di sela ciuman. “Terus goyang. Biar suami kamu lihat kamu basah dan terbuka.”
6031Please respect copyright.PENANAjcJKBWT1Uv
Liora hanya bisa mengangguk lemah, air mata dan air liur membasahi bantal. Pinggulnya digerakkan oleh pria di belakang, dalam, stabil, melelahkan. Setiap hentakan terdengar basah. Setiap kali penis keluar, cairan kental ikut tertarik, menetes ke paha.
6031Please respect copyright.PENANAop4iImzZGH
Arka merasa sesuatu di dalam dirinya hancur dan terbentuk ulang di saat yang sama. Ia tidak masuk. Ia tidak berteriak. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menonton istrinya dan kakak iparnya terus digoyang, digilir, dibasahi, sementara penisku berdenyut sakit dan pikirannya penuh dengan satu pertanyaan yang semakin gelap:
6031Please respect copyright.PENANADnQfbBXp7b
Seberapa jauh ia akan membiarkan ini berlanjut… dan seberapa dalam ia ingin melihat Liora hancur kenikmatan di depan matanya.
6031Please respect copyright.PENANAn6R0D30s1E
Pria di belakang Liora meraih rambut istrinya, menarik kepala ke atas sampai leher meregang, lalu menghentak lebih cepat. Suara basah semakin keras. Desahan Liora semakin pecah.
6031Please respect copyright.PENANA02Nq7huGRK
Pria di belakang Liora tidak memberi jeda.
6031Please respect copyright.PENANA677WyjDl7k
Pinggangnya bergerak dengan ritme yang semakin dalam dan semakin menguasai, seolah tubuh Liora sudah menjadi miliknya sepenuhnya malam itu. Setiap hentakan membuat bokong istrinya yang kenyal bergelombang hebat, daging putih itu bergetar, lalu kembali ke bentuk semula sebelum ditumbuk lagi. Suara basah yang keluar dari pertemuan kulit mereka kini lebih keras—ciplak-ciplak basah yang berulang, bercampur dengan desahan Liora yang semakin pecah dan napas berat pria itu.
6031Please respect copyright.PENANAM2uK2tSkQS
Arka masih berdiri di ambang pintu. Ia tidak masuk. Ia juga tidak pergi. Kakinya seperti tertanam di lantai kayu. Matanya tidak bisa lepas dari bagaimana penis tebal itu keluar hampir seluruhnya, mengkilap oleh cairan Liora yang kental dan bening, lalu masuk kembali dengan dorongan yang membuat punggung Liora melengkung. Dress biru navy yang sudah kusut di pinggang istrinya naik-turun mengikuti gerakan, menyingkap lekuk pinggang yang biasanya hanya ia yang sentuh.
6031Please respect copyright.PENANAWIJ3zRQVeQ
Liora menekan wajahnya ke bantal, jari-jari mencengkeram seprai sampai buku jarinya memutih. Air liur menetes dari sudut bibirnya karena mulutnya masih terbuka lebar. Pria yang tadi memakai mulutnya sekarang berlutut di depan kepala Liora, memegang penisku sendiri, menggosokkan ujungnya ke bibir istrinya.
6031Please respect copyright.PENANAp2GPUUxs0H
“Buka lagi,” perintahnya pelan. “Sambil digoyang, hisap. Biar suami kamu lihat.”
6031Please respect copyright.PENANAoQdrY1GxAf
Liora menurut. Mulutnya terbuka, dan kepala penis itu masuk lagi. Pipinya langsung cekung. Setiap kali pria di belakang menghentak dalam, kepala Liora terdorong maju, membuat penis di mulutnya masuk lebih dalam sampai air liur meluap di dagu dan menetes ke bantal. Suara isapan basah bercampur dengan suara hentakan di bawah.
6031Please respect copyright.PENANA6xpa4Slctl
Rania di samping mereka sudah berbalik posisi. Ia sekarang telentang, kaki dibuka lebar, digoyang oleh pria ketiga yang menekan kedua lututnya ke dada. Payudara Rania yang berat berguncang hebat setiap kali ditumbuk. Puting cokelat tuanya sudah sangat keras dan kemerahan, digigit dan ditarik oleh jari-jari pria di atasnya. Cairan dari vaginanya sudah membasahi seprai sampai membentuk noda gelap di bawah bokongnya.
6031Please respect copyright.PENANAJj7zcIdGzm
“Arka…” suara Rania serak, terputus-putus karena hentakan. “Masih berdiri di situ? Celana kamu pasti sudah basah dari dalam.”
6031Please respect copyright.PENANAAtayOm9mCx
Arka tidak menjawab. Rahangnya mengerat. Ia bisa merasakan penisku berdenyut sakit, menekan kain celana dengan desakan yang memalukan. Setiap kali Liora mendesah di sekitar penis di mulutnya, sesuatu di perut Arka berkontraksi. Bukan hanya cemburu. Ada rasa lapar yang gelap, rasa ingin melihat lebih jauh, rasa ingin mendengar istrinya hancur kenikmatan di depan matanya.
6031Please respect copyright.PENANAIZv2CXDbOw
Pria di belakang Liora meraih rambut panjang istrinya, menarik kepala ke atas sampai leher ramping itu meregang sempurna. Punggung Liora membentuk lengkung yang indah. Dari posisi itu Arka bisa melihat dengan jelas profil wajah istrinya—mata setengah terpejam, air mata di sudut, bibir yang meregang di sekeliling penis, dan ekspresi campur aduk antara rasa bersalah dan kenikmatan yang sudah tidak bisa ditahan.
6031Please respect copyright.PENANAQ0Sj3gKk1S
“Bilang ke suami kamu,” perintah pria itu sambil menghentak lebih dalam. “Bilang kamu suka digoyang di depan dia.”
6031Please respect copyright.PENANAWxxD9AwsUA
Liora mencoba menggeleng, tapi mulutnya penuh. Pria di depan menarik penisku keluar sejenak, membiarkan Liora bernapas.
6031Please respect copyright.PENANA02F7usOJrm
“A-aku… ahh… suka…” suaranya parau, pecah. “Dia… dalem banget… Arka… dia lagi ngewein aku… terus…”
6031Please respect copyright.PENANAk7bMesATqM
Pria di belakang tersenyum tipis, lalu mendorong masuk lagi sampai pangkal. “Bagus. Sekarang keluarin. Di depan suami kamu.”
6031Please respect copyright.PENANAzvnO7Ao9RE
Ia mempercepat tempo. Hentakan menjadi lebih pendek, lebih cepat, lebih kasar. Bokong Liora bergetar tanpa henti. Payudara yang tergantung berguncang liar. Liora sudah tidak bisa menahan suara. Desahannya keluar bertubi-tubi, semakin tinggi, semakin putus asa.
6031Please respect copyright.PENANAekFf4QVoxf
“Akh… akh… di situ… kena… terus… aku mau—”
6031Please respect copyright.PENANA8Y7IS9D4ln
Orgasme datang seperti gelombang yang menelan. Tubuh Liora kejang hebat. Vaginanya mencengkeram penis di dalamnya dengan kuat, cairan menyembur membasahi paha pria dan seprai. Ia menjerit, wajah tertanam di bantal, jari kaki menegang. Tapi pria itu tidak berhenti. Ia terus mengoyang melalui orgasme itu, memaksa gelombang kedua yang lebih panjang, lebih basah, sampai Liora menangis pelan karena terlalu banyak.
6031Please respect copyright.PENANAGxPq18TUAb
“Masih kuat,” gumam pria itu. “Kita belum selesai.”
6031Please respect copyright.PENANAGWSzhwLRyK
Ia keluar sejenak, membalik tubuh Liora menjadi telentang lagi. Kaki istrinya digangkat ke bahu, lalu penis itu masuk kembali dengan satu hentakan dalam. Sekarang Arka melihat wajah Liora sepenuhnya—merah, basah oleh air mata dan keringat, bibir bengkak, mata yang tidak berani menatapnya terlalu lama tapi juga tidak bisa sepenuhnya menghindar.
6031Please respect copyright.PENANAolfmSvOVo3
Rania di samping sudah mencapai orgasme keduanya. Tubuhnya melengkung, desahan panjang keluar sambil ia mencengkeram lengan pria di atasnya. Ketika orgasmenya reda, pria itu menarik keluar, lalu berpindah posisi. Ia mendekati Liora, berlutut di dekat kepala, sementara pria yang tadi di mulut Liora sekarang berpindah ke antara paha Rania.
6031Please respect copyright.PENANA6UgacJWE3P
Mereka bertukar.
6031Please respect copyright.PENANA4zo1KQqNeb
Liora sekarang digoyang lagi dari bawah, sementara penis lain menunggu di depan bibirnya. Rania digoyang di samping, payudaranya digenggam dan diremas oleh tangan Liora yang gemetar. Kedua perempuan itu saling berpegangan, jari-jari saling mencengkeram, desahan saling bercampur.
6031Please respect copyright.PENANAlawWXpWtSs
Arka merasa lututnya hampir lemas. Ia bersandar lebih berat di kusen. Bau seks di kamar itu sudah sangat pekat—bau kulit basah, bau cairan, bau keringat pria, bau parfum yang sudah rusak. Setiap napas yang ia tarik membawa aroma itu masuk ke paru-parunya.
6031Please respect copyright.PENANA0RyyMtZht4
Pria yang mengentot Liora menunduk, menggigit puting kiri istrinya sambil terus bergerak. “Suami kamu masih nonton. Kamu semakin nyetelin karena itu, kan?”
6031Please respect copyright.PENANA2boSxdGtWD
Liora menggeleng lemah, tapi pinggulnya bergerak berlawanan, menyambut setiap hentakan. “Jangan… bilang… ahh…”
6031Please respect copyright.PENANAcsZssHnfQF
“Bilang yang jujur.” Pria itu menghentak lebih dalam. “Kamu suka digilir di depan dia.”
6031Please respect copyright.PENANA2wNTHRJoCE
Liora membuka mulut, tapi yang keluar hanya desahan panjang ketika orgasme ketiga mulai merayap. Tubuhnya gemetar lagi. Kali ini lebih dalam, lebih melelahkan. Cairan keluar begitu banyak sampai terdengar suara kecipak setiap kali penis bergerak.
6031Please respect copyright.PENANAgA5w140Apz
Rania menoleh ke arah Arka, wajahnya basah, bibir terbuka. “Masuk, Arka. Atau setidaknya dekati. Lihat lebih dekat bagaimana adik aku basah dan terbuka.”
6031Please respect copyright.PENANADIjuWsXZc9
Arka tidak bergerak. Tapi kakinya selangkah maju. Lalu selangkah lagi. Sekarang ia berdiri di dekat kaki ranjang. Dari jarak ini ia bisa melihat detail yang sebelumnya kabur: bagaimana bibir vagina Liora yang kemerahan meregang tipis di sekeliling batang yang masuk-keluar, bagaimana klitoris yang bengkak digosok oleh jari pria setiap kali ia menghentak, bagaimana perut bawah Liora sedikit naik setiap kali ujung penis menumbuk titik paling dalam.
6031Please respect copyright.PENANAJgiPWyYQnk
Liora akhirnya menatap langsung ke mata Arka. Air mata mengalir lebih deras. “Maaf… Arka… aku… ahh… aku nggak bisa berhenti… enak banget…”
6031Please respect copyright.PENANAefq7pBbH4P
Pria di atasnya tertawa rendah. “Dengar sendiri. Istri kamu bilang enak. Jadi kita lanjut.”
6031Please respect copyright.PENANAMy9HCYWdgN
Ia mengubah posisi lagi. Liora dibawa ke tepi ranjang, tubuhnya digeser sampai bokong hampir keluar dari tepi. Pria itu berdiri di lantai, mengangkat kedua kaki Liora, lalu masuk dari sudut yang berbeda. Hentakan kali ini lebih dalam, lebih vertikal. Setiap dorongan membuat payudara Liora berguncang ke arah wajahnya sendiri.
6031Please respect copyright.PENANAAes35AQL1U
Rania merangkak mendekat, berlutut di samping kepala Liora, lalu menurunkan payudaranya yang berat ke mulut adiknya. “Hisap. Sambil digoyang.”
6031Please respect copyright.PENANA6j4AgRDNNS
Liora membuka mulut, mengisap puting Rania dengan lapar sementara tubuhnya terus digoyang. Suara isapan basah bercampur dengan suara hentakan. Rania mendesah, memegang kepala Liora, mendorong payudaranya lebih dalam ke mulut adiknya.
6031Please respect copyright.PENANAXOX167eCb0
Arka merasa penisku berdenyut begitu keras sampai sakit. Ia tidak sadar tangannya sudah turun, menekan celana dari luar, menahan denyutan itu. Matanya tidak berkedip. Ia menonton bagaimana istrinya dihancurkan kenikmatan di depan matanya, bagaimana kakak iparnya ikut serta, bagaimana kedua perempuan itu saling memberi dan menerima sambil digilir oleh pria-pria yang bahkan tidak ia kenal namanya.
6031Please respect copyright.PENANAWgPSO2WlyO
Pria yang mengentot Liora merasakan cengkeraman semakin kuat. “Mau keluar lagi? Keluarkan. Basahi aku.”
6031Please respect copyright.PENANACaEmYSkMQG
Liora melepaskan puting Rania, menjerit. Orgasme keempat datang lebih hebat dari sebelumnya. Tubuhnya kejang, kaki di udara gemetar tanpa kendali, cairan menyembur deras membasahi perut pria dan lantai di bawah ranjang. Pria itu terus mengoyang, tidak memberi istirahat, memaksa orgasme itu berlanjut sampai Liora hanya bisa terisak dan menggeliat lemah.
6031Please respect copyright.PENANA2tJvSim9UH
Ketika akhirnya pria itu keluar, penisnya masih tegang, mengkilap oleh cairan Liora yang sangat banyak. Ia beralih ke Rania tanpa menunggu. Rania sudah siap, kaki terbuka, dan penis itu masuk dengan mudah karena basah yang berlimpah.
6031Please respect copyright.PENANAp9hPIwDL2y
Liora tergeletak di ranjang, napasnya kacau, tubuh masih bergetar. Matanya mencari Arka. Ketika menemukan suami yang berdiri di dekat kaki ranjang, ia mengulurkan tangan lemah.
6031Please respect copyright.PENANAkcB31ZQmMZ
“Arka… datang… sini…”
6031Please respect copyright.PENANANue01tx82I
Arka tidak menjawab. Ia hanya menatap. Di dalam dadanya, sesuatu yang lama tertutup sekarang terbuka lebar—rasa cemburu, rasa sakit, rasa lapar, dan rasa ingin melihat lebih banyak lagi.
6031Please respect copyright.PENANAYod3VFaiWx
Pria-pria itu belum selesai. Rania digoyang dengan tempo cepat, desahannya memenuhi kamar. Liora masih tergeletak, payudaranya naik-turun, vagina yang kemerahan masih berkedut terbuka, cairan terus menetes ke seprai.
6031Please respect copyright.PENANA535Q58pfyb
Dan Arka, suami yang seharusnya marah dan menghentikan segalanya, hanya berdiri di situ, penisku tegang sakit, matanya tidak bisa lepas, sementara di dalam kepalanya satu pertanyaan yang semakin gelap terus berputar:
6031Please respect copyright.PENANANYzlHqRdCm
Liora masih tergeletak di tepi ranjang, napasnya pendek dan tidak beraturan. Dada yang penuh naik-turun cepat, payudara bergoyang pelan setiap kali ia menarik napas dalam. Putingnya yang kemerahan dan bengkak masih mengilap oleh air liur Rania dan keringat. Di antara pahanya yang terbuka, bibir vagina yang merah dan bengkak berkedut pelan, cairan kental terus menetes pelan ke seprei yang sudah basah kuyup. Ia mencoba menutup kaki, tapi otot-ototnya masih terlalu lemah.
6031Please respect copyright.PENANAlsO8tvpDDJ
Arka berdiri hanya satu meter dari kaki ranjang. Dari jarak itu ia bisa mencium aroma istrinya yang pekat—bau seks, bau kulit basah, bau cairan yang sudah bercampur dengan bau pria. Penisku di dalam celana berdenyut begitu keras sampai ia harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak mengerang.
6031Please respect copyright.PENANAGwcLAgGnvC
Rania sedang digoyang di tengah ranjang. Pria yang baru saja keluar dari Liora sekarang menekan kedua lutut Rania ke dadanya, menghentak dalam dan stabil. Setiap kali batang itu masuk sepenuhnya, perut bawah Rania sedikit naik, dan desahan serak keluar dari mulutnya.
6031Please respect copyright.PENANAUrtVXJJxyI
“Lebih dalam… ahh, iya… kayak gitu…” suara Rania pecah. Payudaranya yang berat berguncang hebat, digenggam dan diremas oleh tangan pria di atasnya. Puting cokelat tua ditarik, dipelintir, sampai Rania menggigit bibir sampai memutih.
6031Please respect copyright.PENANAmcEO6Nxy1G
Liora memalingkan wajah ke samping, matanya mencari Arka. Ketika tatapan mereka bertemu, air mata baru mengalir di pelipisnya. Bibirnya bergerak, membentuk kata tanpa suara: *Maaf.*
6031Please respect copyright.PENANA4V4GeLY8Ul
Tapi Arka tidak menjawab. Ia hanya menatap. Dan di dalam dadanya, rasa sakit bercampur dengan rasa lapar yang semakin tidak terkendali.
6031Please respect copyright.PENANAMz1I7RyK1B
Pria yang mengentot Rania tiba-tiba menarik keluar. Penisnya mengkilap, basah kuyup. Ia berpaling ke Liora yang masih tergeletak lemah.
6031Please respect copyright.PENANAqvxioPGnMr
“Belum selesai, Li,” katanya rendah. “Kaki kamu buka lagi.”
6031Please respect copyright.PENANAwdmhcyP116
Liora menggeleng pelan, tapi tubuhnya tidak melawan ketika pria itu menarik kedua pergelangan kakinya dan membuka pahanya lebar-lebar. Ia masuk dengan satu hentakan dalam. Liora tersentak, punggung melengkung, desahan panjang keluar seolah napasnya dicuri.
6031Please respect copyright.PENANA0vV8sp4lqh
“Akh… masih sensitif… pelan…”
6031Please respect copyright.PENANAxhpz1ST6iO
“Nggak bisa pelan,” jawab pria itu sambil mulai bergerak. “Kamu masih basah banget. Lihat, masuk gampang.”
6031Please respect copyright.PENANAOd7uKfBawB
Ia mengoyang dengan tempo sedang, dalam, menguasai. Setiap hentakan membuat payudara Liora berguncang ke arah wajahnya. Arka melihat dengan jelas bagaimana batang itu keluar-masuk, menarik cairan kental setiap kali ditarik, lalu menghilang lagi di dalam tubuh istrinya.
6031Please respect copyright.PENANAkKpHJrmU4Y
Rania merangkak mendekat ke kepala Liora. Ia menunduk, mencium bibir adiknya dengan lapar, lidah masuk, saling bermain sementara Liora digoyang di bawah. Ciuman mereka basah, berisik, penuh desahan yang saling bertukar.
6031Please respect copyright.PENANAFzt56CAzWF
“Dia masih nonton,” bisik Rania di sela ciuman. “Suami kamu nggak pergi. Dia suka lihat kamu digilir.”
6031Please respect copyright.PENANA7Hhq0mno6j
Liora hanya bisa mengerang ke dalam mulut kakaknya. Pinggulnya sudah bergerak sendiri, menyambut hentakan, seolah tubuhnya sudah menyerah total pada kenikmatan yang dipaksakan.
6031Please respect copyright.PENANAsRjsObbdMH
Pria kedua mendekat ke sisi lain. Ia berlutut di dekat wajah Liora, memegang penisku yang masih tegang, menggosokkan ujungnya ke pipi istrinya.
6031Please respect copyright.PENANAamV4Qws949
“Hisap sambil digoyang,” perintahnya.
6031Please respect copyright.PENANAEM6RhfXMIM
Liora membuka mulut tanpa perlawanan. Penis itu masuk, memenuhi rongga mulutnya. Sekarang ia digoyang dari bawah sambil mengisap di atas. Setiap hentakan dalam membuat kepala Liora terdorong, dan penis di mulutnya masuk lebih dalam sampai air liur meluap deras di dagu dan leher.
6031Please respect copyright.PENANAF9RZSoL9d6
Kelanjutannya ada link di bawah ini


