🚀BOMBASTIS! PROMO BUNDLING ULTIMATE 2 – KOLEKSI PALING MENGGAIRAHKAN DAN PALING DICARI TAHUN INI! 🚀
Dapatkan akses instan ke 7 kisah paling menegangkan, penuh intrik psikologis, dan semi-fantasy berani dalam satu penawaran eksklusif yang tidak boleh Anda lewatkan!
📖 KOLEKSI E-BOOK DALAM BUNDLING:
1. Ustadz Cabul: Dorongan Nafsu Prequel 21+ - 775 Halaman | 7 Prequel (Rp. 79.696)
2. Surga Gangbang Artis Ibu Kota Series 21+ - 399 Halaman | 3 Series (Rp. 26.969)
3. Tejo Sang Penjaga Kampus Series 21+ - 276 Halaman | 1 Series (Rp. 19.969)
4. Ibuku Di Hamili Pria Selain Ayahku Series 21+ - 609 Halaman | 1 Series (Rp. 39.696)
5. Keluarga Gunawan Series 21+ - 461 Halaman | 1 Series (Rp. 36.969)
6. Istri Jalang Series 21+ - 396 Halaman | 3 Series (Rp. 16.969)
7. Pegawai Negeri Syahwat (PNS) Prequel 21+ - 1442 Halaman | 3 Prequel (Rp. 46.969)
Promo Special Pembelian Paket Bundling Ultimate 2 Free E-Book Ibuku Kepala Sekolah dan Fantasy Nakal Ibu Kandung
💰 Harga Paket Spesial: HANYA IDR 196.969! (Hemat Luar Biasa!)
Amankan harga promo bundling ini sekarang juga sebelum periode diskon berakhir dan kembali ke harga normal masing-masing!
📅PROMO SAMPAI AKHIR BULAN AGUSTUS!!!
⚠️ DISCLAIMER: Seluruh karya dalam paket ini mengandung konten dewasa (21+), dark romance, manipulasi psikologis, mind games, dan adegan eksplisit. Harap bijak dalam membaca dan pastikan Anda sudah cukup umur!
📲Buy Now : +62 838-3634-4355 (Research Team)
Seorang gadis cantik sedang curhat pada seorang temannya di sebuah café di kota Jakarta. Tubuhnya putih mulus, ramping dengan body bertipe slim, rambutnya berwarna kecoklatan-coklatan, senyumannya sangat menggoda dan dapat membuat terbang hati para laki-laki yang menatapnya.
“Gue sebel banget deh…! pasti kerjaan salah seorang dari mereka” Nia menggerutu kesal
“Lagian salah loe juga sih.. ngapain difoto berbikini segala, dikerubungi oleh para laki-laki dikolam renang..pula ! bener-bener gila loe!”teman Nia memberikan nasihat-nasihat dan beberapa petuah.
Nia cuman bisa tersenyum pahit, menyesali perbuatannya yang ceroboh dan cenderung bodoh.
“Udah.. Ahh…,Gue nggaku Emang gua yang salah.., Nah sekarang loe mau makan apa gue ntar yang traktir…” Nia menyogok temannya agar berhenti memberikan kuliah.
“He he he Asekkk… Gitu donggg… wa udah lapar nehh… mana menunya..” teman Nia membolak-balik daftar menu ditangannya, tidak begitu lama daftar pesanan mereka sudah siap tersaji diatas meja itu.
“Ngomong-ngomong loe jadi jalan-jalan ke LA” teman Nia mengingatkan gadis itu.
“Jadi lahhh…, besok gua berangkat… itung-itung ngehindarin para wartawan Ha Ha HA” Nia tertawa lepas.
“Nyamm.. nyammm.. Emm Sssttt Nia, liat tuh cowo naksir loe kali…, dari tadi ngeliatin melulu…” teman Nia berbisik.
Nia menolehkan kepalanya,
“Gila..loe!! tuh Cowo udah tua…!! Nggak mau gua..!!”kaki gadis itu menendang tulang kering sahabatnya di bawah meja, kemudian sambil sesekali bercanda tawa kedua gadis itu meneruskan makan siang mereka.
*************************
Keesokan harinya di bandara
“Udah… nggak usah sedih gitu, gue cuma jalan-jalan bentar koq…” Nia tersenyum sambil mendorong kopernya.
“Bukan gitu..! tar selama sebulan ini siapa yang bayarin makan gue..! he he he” teman Nia bercanda.
“Yeee… dikira loe sedih gua tinggal… nggak taunya..!!” dengan kesal Nia mencubit pangkal lengan sahabatnya.
Setelah cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri), Nia melangkahkan kakinya sambil menarik koper dorongnya, singkat cerita, Nia Ramadhani menginjakkan kakinya di negri Paman Sam. Seorang pemandu wisata bernama Ben menyambut gadis cantik itu, kemudian ben membantu membawakan koper Nia, hari itu Nia beristirahat disebuah hotel berbintang lima.
**********************
Keesokan harinya
Setelah berjalan-jalan menikmati keglamoran kota itu, dengan sebuah mobil sewaan mereka berdua kembali ke hotel berbintang lima. Hari itu Nia mengenakan baju kaos berwarna merah dengan bawahan celana jeans berwarna biru.
“Are You Happy…” Ben bertanya dengan ramah.
“Yess.. Ammmhhhh , Thank a lot Ben…” Nia menjawab sambil menggeliatkan tubuhnya.
“It’s my pleasure…” Ben agak menelan ludah ketika Nia menggeliatkan tubuhnya.
“Have a good rest….” Ben tersenyum ramah,
Nia membalas senyuman Ben dan menutup pintu kamarnya. Setelah meminum segelas susu hangat kemudian gadis itu merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk, entah kenapa Nia merasa gerah dan panas, tubuhnya menyentak-nyentak, ada sesuatu yang bergelora, mengamuk didalam dirinya.
“Klik..” pintu kamar Nia terbuka, seorang laki-laki negro bertubuh besar masuk ke dalam kamar itu, entah dari mana si negro mendapatkan kunci duplikat kamar hotel Nia Rhamadani
Si negro segera melepaskan pakaiannya sendiri, tangannya mengusap-ngusap benda besar di selangkangannya yang semakin mengeras dan membesar.
“Bennn…., ” Nia menatap laki-laki itu, ia mengenali laki-laki negro bertubuh besar itu, Ben tersenyum kemudian naik keatas ranjang dan membaringkan dirinya disamping Nia.
Tangan Ben membelai-belai rambut Nia, hidung ben mengendus-ngendus wangi rambut gadis itu, kemudian lidahnya terjulur menjilati dan mengecupi daun telinga Nia, sampai Nia Ramadhani berkali-kali merinding kegelian. Ben melepaskan pakaian Nia, kini dikamar itu Nia Ramadhani berbaring pasrah bersama seorang pria Negro yang tersenyum-senyum sambil sesekali mengecupi bibir mungil gadis itu.
“You’re So Hot Nia, I see your picture when I surf the net, dammm, with four guys in the pool Ehhhh….? You naughty little bitch…..” Ben menggigit kecil leher Nia.
Ciuman Ben semakin liar menjelajahi leher gadis itu, jilatan-jilatan kasar menyelingi kecupan-kecupan dan gigitan-gigitan Ben dileher Nia yang putih dan lembut.
“Ahhhh, Bennn… Ahhhhh enakkkkk….” Nia mengalungkan tangannya ke leher Ben.
“Hemmm… Mmmmmmmmhhh… Mmmmmmmm” suara mulut gadis itu ketika bibir Ben menyumpal mulutnya, “Ckkkk… ckkkkk… Shhhh Ckkkkk” suara berdecak-decak mulai terdengar semakin lama semakin sering dan keras.
Lidah Ben terjulur, mengulas-ngulas sela bibir Nia kemudian terjulur lebih dalam mengait-ngait langit-langit mulut gadis itu, lidah Nia bereaksi ketika lidah Ben mengait-ngait lidahnya, saling kait, saling lumat dan saling menghisap lidah membuat birahi Nia dan Ben semakin tinggi. Gadis itu menjerit keras ketika mulut Ben menghisap puncak payudaranya., mulut si negro tampak lahap menghisap-hisap putingnya.
“Ahhhhh… Bennn Sakitttt…!! ” Nia kembali menjerit keras ketika merasakan sebuah gigitan keras dipuncak payudaranya, rupanya si negro merasa gemas dengan keindahan buah dada Nia.
Berkali-kali hisapan dan gigitan lembut datang silih berganti, tangan si negro berkali-kali meremas-remas induk buah dada gadis itu sampai-sampai dada gadis itu berwarna kemerahan dengan beberapa bekas hisapan-hisapan kuat. Mulut si negro mengecup-ngecup semakin kebawah, keperut dan kini wajah si negro berhadapan dengan permukaan vagina Nia.
“Cuppp… Cuppppp…., Nice Vagina… Ha Ha Ha” si negro tertawa gembira sambil beberapa kali mengecupi permukaan vagina Nia. Hidung Ben mengendus-ngendus, lidahnya terjulur menjilati permukaan bibir vagina gadis itu, sesekali dilumatnya bibir vagina itu yang mengeluarkan wangi harum yang sangat khas.
“Let’s see…, “setelah mengganjal pinggul Nia dengan sebuah bantal, Ben menekan pinggiran bibir vagina gadis itu, lidah ben menjilati sela-sela vagina Nia yang mulai merekah dengan indah..
“Dammmmm !!, I love it !! ” Ben melahap vagina Nia dengan rakus, Nia semakin mengangkangkan kedua kakinya melebar, matanya terpejam-pejam rapat.
“Acccchhh… Ouhhhh…. Bennn… Akkkkkkhhhhh…”Nia merengek-rengek keenakan ketika lidah si negro melingkari klitorisnya, sesekali tubuh Nia melenting keatas ketika mulut si negro mengemut lubang vaginanya.
Nia mengangkat pinggulnya keatas, kedua tangannya yang mungil semakin kuat menekan kepala si negro, Nia menjerit-jerit semakin liar
“Ahhhhh…, Bennnnn, hisappppp Bennnn…. terussssssshhhh” butiran-butiran keringat mulai membasahi tubuh Nia Ramadhani yang halus dan mulus.
“Ahhhh…, Ouhhhhhh, Auhhhhhh…. Crttttt…. Crrrrrrtttt… Crrrtttt” nafas Nia Ramadhani tersendat-sendat, tangannya mengusap-ngusap kepala Ben yang botak mirip telur raksasa berwarna hitam legam.
Lidah si negro menjilati cairan-cairan gurih yang meleleh dari sela-sela bibir vagina Nia sampai kering. Tangannya mengangkangkan kaki Nia melebar kemudian ia menggeser posisi tubuhnya agar berada ditengah-tengah diantara kedua kaki Nia yang mulus.
Beberapa kali ia memukul-mukulkan batang kemaluannya pada permukaan vagina Nia, entahlah apa maksudnya dengan memukul-mukulkan batang penisnya. Ben kini menggenggam batang penisnya kemudian mulai menggesek-gesekan kepalanya pada bibir vagina Nia yang sudah merekah dengan pasrah siap untuk diperawani oleh Ben.
Batang kemaluan si negro mulai melakukan gerakan menekan. Gerakan pinggul Nia membuat kepala penis si negro terpeleset menggesek keatas dan membentur klitoris gadis itu.
“Hennnhhh… Aaaaa….” Nia memejamkan matanya rapat-rapat ketika kepala penis Ben yang berukuran besar mulai mendongkrak sela-sela vaginanya.
“Ouhhhhhh……. Ohhhhhhhh” Nia Ramadhani mengeluh panjang ketika merasakan sentakan-sentakan kepala penis si negro yang mulai kasar melakukan penerobosan memasuki lubang naginanya yang masih kesulitan menerima penis berukuran raksasa milik pria negro yang tengah menindih tubuh gadis itu.
“Haa Akkhhhhhhh…..” mata Nia melotot ketika merasakan satu tusukan yang kuat dan kasar membuahkan rasa perih dan nyeri diselangkangannya. Jeritan Nia kembali terdengar ketika si negro dengan semakin kasar menjejal-jejalkan kemaluannya, tangan Nia berpegangan pada pinggang si negro yang tengah asik menindih tubuh mungil gadis itu, pinggul si negro tampak asik berkutat berkali-kali dalam gerakan menekan, tubuh Nia Ramadhani yang putih mulus tampak kontras dengan tubuh besarnya yang besar dan hitam.
“Ahhh.. Ahhhh… Bennn…, sakittt… benn sakittt” Nia menjerit setinggi langit, rasa sakit dan perih semakin hebat mendera selangkangannya ketika Ben mulai menarik dan menusukkan kemaluannya dengan kuat dan kasar.
“Dammm, I don’t believe it…!! You are a virgin.., ” Ben terkejut , ia pikir Nia sudah tidak perawan lagi.
“Whoaaaa, lucky me… Ehe he he he he” Ben terkekeh-kekeh sambil terus memacu batang kemaluannya menggasak lubang vagina Nia Ramadhani yang peret dan sempit.
“Essshhhh… Oooo…. Benn.. Pelannnhhh… Awwww…..” Nia menggeliat-geliat kesakitan
“Stop it !! Bennn Stoppp Ittt!!! Whaaaww!!” tubuh Nia terguncang-guncang dengan hebat seirama dengan sodokan-sodokan ben ang semakin liar, gadis itu berusaha menggeliatkan dirinya keluar dari himpitan Ben.
“Take thiss you bitch!!! Yeahhh” tangan Ben mencengkram bahu Nia sehingga gerakan Nia terbatasi dan si negro semakin kuat dan kasar mengocok-ngocok lubang vaginanya, ada bercak-becak merah yang terpecik ketika kemaluan hitam itu menghantam lubang vaginanya dengan keras.
“Achh… Ahhhh Aaaa Crrrtttt… Crrrrttttt….” Nia mengejang , gadis itu menelan ludah merasakan kenikmatan yang menyembur dari lubang vaginanya yang baru diperawani oleh si negro.
“Do yo like it ehhhh ? ” si negro bertanya dengan nada mengejek, Ben mengangkangi wajah Nia,
Tangannya sedikit menjambak rambut Nia sambil menggesek-gesekkan kepala penisnya ke bibir dan ke pipi gadis itu.
“Nowww…open your mouth….” Ben memerintahkan Nia Ramadhani agar membuka mulutnya.
“Open it bitch….!!and suck it!!” Ben membentak kemudian dengan kasar dan menjejalkan kepala penisnya ke mulut gadis itu.
“Hoommmmmhh, Ummmmmmmhhh… Mmmmmmmm” suara mulut Nia yang sedang mengulum penis si negro.
“Herrrmmmmmmhhh……” mata Nia tiba-tiba mendelik ketika si negro dengan kasar menusukkan penisnya semakin dalam dalam mulut gadis itu.
Kepala penis itu menyumpal kerongkongan Nia sampai gadis itu kesulitan mengambil nafas. Nia Ramadhani meronta dengan kuat sampai akhirnya si negro merasa kasihan dan menarik penisnya dari mulut gadis itu.
“Jangannnhh Bennn…..!!”telapak tangan Nia menghalangi kepala Penis Ben dengan telapak tangannya ketika kemaluan hitam itu kembali tersodor untuk mulut gadis itu, Nia Ramadhani memohon-mohon agar Ben tidak melanjutkan keinginannya untuk mendeepthroat mulutnya.
“Well, It depend !! how good you.re..!?” Ben berdiri kemudian duduk mengangkang di atas kursi sofa.
Nia Ramadhani merangkak di antara selangkangan si negro, mulut gadis itu terbuka lebar dan menciumi biji kemaluan si negro yang bergelayutan di selangkangannya.
Si negro menengokkan kepalanya kebawah, tangannya membelai-belai rambut Nia Ramadhani yang acak-acakkan, disibakkannya rabut gadis itu kebelakang, Bibirnya tersenyum memandangi Nia yang tengah melakukan jilatan dan ciuman-ciuman lembut pada biji kemaluannya. Ia menggenggam kemaluannya kemudian menyodorkan kepala penisnya kearah mulut Nia, gadis itu membuka mulutnya dan
“Hmmmfffh…, mmmmmhhhh…, Hmmmmmmm, Mmmmmmmhhh”
Tangannya mendekap kepala gadis itu disisi kiri dan kanan, kemudian Ben memaju mundurkan kepala Nia.
“Yesss, That’s It.. Ouhhhh Yeahhhh…, suck it bitch, damm you!! Harder bitchhh!!! ” Ben kini bersandar ke belakang, kedua kakinya semakin lebar mengangkang.
Nia tampak semakin rakus menghisapi dan menjilati batang kemaluan Ben, negro berkepala botak itu. “Slllcckkkkk…, slllllcccckkkkk… Cupkkhh.. cupkkhh….”
“Nowww…, He he he” Ben meraih tubuh Nia dan menarik agar gadis itu mengangkangi kemaluannya dalam posisi saling berhadapan, kemudian tangan Ben menekan bokong gadis itu agar turun dan perlahan-lahan kemaluan Ben menggeliat-geliat sedikit demi sedikit memasuki sela-sela vagina Nia Ramadhani.
“Uhhhhhhhhhhhhhhhh….” Nia Ramadhani melenguh panjang ketika kemaluan Si Negro perlahan-lahan menyesaki selangkangannya.
Kedua tangan Ben melingkar dan mendekap pinggang gadis itu, sementara mulutnya mengejar puting Nia Ramadhani kemudian sambil menyentakkan kemaluannya keatas. Ben menggigit puncak payudara Nia sampai gadis itu menjerit keras, jeritan gadis itu seolah-olah menjadi pemacu agar Ben segera menghujam-hujamkan kemaluannya keatas.
“Ahhh.. Aaaaa” Nia menjerit-jerit ketika Ben menyodok-nyodokan penisnya dengan kasar, mulut si negro melahap bulatan buah dada Nia yang ranum. Biarpun buah dada gadis itu tidak besar namun tampak proporsional dan indah menggantung di dada gadis itu.
“Owwww… Crrrtttt… Crrrttttt……” tangan Nia mencengkram bahu Ben kuat-kuat ketika merasakan semburan kenikmatan diselangkangannya, belum juga Nia sempat mengambil nafas, Ben mendekap bokong gadis itu dan berdiri
“Auuhcccchhhhh…..” Nia memeluk erat-erat leher Ben karena takut terjatuh, posisi itu membuat rasa tidak nyaman , was-was dan kwatir,namun selain itu ada rasa nikmat yang semakin membuat jantung Nia berdetak dengan lebih kencang.
“Ahhhhhh, Bennnn hati-hati, ohhhh Shhhhh Shhhh” tubuh Nia terayun-ayun mengikuti irama sodokan si negro.
Ben hanya tersenyum sinis ketika Nia menjerit semakin keras, tubuh gadis itu semakin basah, keringat bercucuran dengan deras dari tubuh mulus gadis itu dan menetes-netes keatas lantai. Si negro menunggingkan tubuh Nia diatas lantai di dekat jendela
“Tidakkk…jangannnn Bennnn !! Nooooo…” Nia menolak ketika si negro hendak menyodominya.
“Shuuuutttt… Upppp!!! Sret….!!” tangan si negro menyobek kain gorden dan kemudian mengikat kuat-kuat tangan Nia kebelakang.
“Arrrrhhhhhhh….!! Sakitttt Bennnnnn!!! Sakitttt sekaliiiii….” Nia menjerit-jerit ketika dengan kasar kepala penis si negro mulai memasuki lubang anusnya. Nia menangis merasakan rasa panas dan nyeri di lubang anusnya,
“Ahhhhhhh..!!! ” Nia menjerit keras ketika si negro menjebloskan penisnya sekaligus kedalam lubang anus gadis itu.
Ben mulai memacu penisnya keluar masuk menggasak lubang dubur Nia, sementara Nia menjerit-jerit sambil menangis memohon agar Ben menghentikan kompaan ke lubang anusnya yang semakin kasar dan kuat sehingga gadis itu tersentak-sentak maju kedepan.
“Croooootttt…Keccrrrotttttt…….” gerakan si negro tiba-tiba berhenti tangannya meremas – remas pinggul Nia. Batang penisnya yang panjang masih tertancap di lubang anus gadis itu, untuk sesaat Nia merasa lega karena gerakan-gerakan si negro yang kasar berhenti, namun Nia mulai kembali resah ketika merasakan sesuatu mulai kembali membesar di dalam lubang anusnya.
“Bennnnn, Please Bennnnnn!! Slowlyyyy… I Beg Youu… Hkkk Hkkk” Nia tampak cemas ketika Ben mulai kembali melakukan gerakan memompa, gadis itu mulai terisak-isak menangis ketakutan.
Tanpa melepaskan cengkramannya Ben menjatuhkan dirinya kebelakang , tubuh Nia ikut terbetot dan kini gadis itu menduduki penis si negro yang tampak melengkung ketika akan masuk semakin dalam.
“Slowly…? Like thiss memmmm?” si negro bertanya sambil meremas-remas buah dada Nia dengan lembut, Nia terdiam.
“Heeeyyyy!! I’m Asking !!” Ben tampak tersinggung sambil meremas kuat-kuat buah dada Nia sebelah kiri.
“Yesss Bennn, Yesssss…..” Nia segera menjawab untuk menenangkan emosi Ben.
Si negro berbisik lembut menyuruh agar Nia segera melakukan tugasnya, Nia mengangguk kemudian Nia mulai belajar untuk menaik turunkan pinggulnya, sesekali gadis itu meringis merasakan rasa ngilu di lingkaran duburnya.
“Good Girl, Gooooddd Girl…” tangan si negro mencengkram pinggul gadis itu dan membantunya agar Nia tidak terlalu capai ketika menaik turunkan pinggulnya.
Tubuh Nia menggeliat kekiri dan kekanan ketika perlahan-lahan penis si negro menyodominya, Nia Merintih-rintih dalam keadaan duduk mengangkang diatas tubuh besar dan hitam yang tersenyum-senyum keenakan. Tangan Ben menjambak rambut Nia ke belakang sambil memacu penisnya dengan lembut.
“Yesss , That’s it roll it, Up and Down, Perfect!!”
Si negro mengajari Nia agar menaik turunkan pinggulnya dengan sebuah kombinasi menggerakkan pinggulnya dalam gerakan memutar, sesekali tangan si negro memukul pinggul Nia Ramadhani agar gadis itu lebih giat lagi mengerjakan tugasnya.
****************************
Keesokan paginya
“Hahhhhh….” Nia tiba-tiba terbangun, gadis itu merasakan sakit disekujur tubuhnya, pegal, dan rasa pedih di selangkangan dan juga di lubang anusnya, seorang pria negro membelai rambutnya kemudian mengecup keningnya.
Di pagi hari itu si negro kembali melahap gadis itu kembali sampai Nia terengah-engah kehabisan nafas, Ben mengecupi bibir Nia, tubuh keduanya sudah basah kuyup bercucuran keringat. Sinar matahari bersinar dengan terik.
Seorang pria negro menuntun seorang gadis berkulit putih, mulus, berwajah cantik, Nia tertunduk lesu, tubuh gadis itu kadang-kadang tertarik oleh tubuh besar yang menuntunnya entah kemana. Si negro berhenti di depan sebuah rumah besar yang tidak terawatt penuh dengan coretan-coretan disana sini.
“klikk…” Ben membuka pintu rumah itu dan menarik Nia masuk kedalam
“Blammmm..!!” Pintu rumah itu terbanting dengan kasar.
Beberapa orang pria negro segera menghampiri Ben dan Nia
“I love you baby…”Seorang diantara mereka meremas buah pantat Nia, gadis itu menepiskan tangan si negro yang kurang ajar, Nia membalikkan tubuh hendak mendamprat orang itu namun dirinya tertarik dengan keras oleh Ben.
Ben hanya tersenyum kemudian kembali menarik Nia kelantai atas, sayup-sayup terdengar suara teriakan memaki.
” Klikkkk….” Ben membuka pintu kamar itu, suara makian terdengar semakin keras.
“ahhhh…” Nia terkejut setengah mati, melihat didalam kamar itu ada beberapa orang Pria Negro dengan kemaluannya yang mengacung keras, bahkan beberapa kemaluan yang hitam legam itu jauh lebih besar dari milik Ben.
****************************
Sementara di atas ranjang, Ivan Gunawan tengah meronta-ronta, kedua tangannya terikat keatas, disebelah kanan dan kirinya tampak………!!!!
( Red: Whaduhhhhh..!! Salahhhhh….!! Pasti Para Mupenger’s Pada Ngeri deh , kalo Ivan Gunawan yang terikat mah…… he he he ^^ )
Sementara di atas ranjang seorang gadis tengah meronta-ronta, kedua tangannya terikat keatas, disebelah kanan dan kirinya tampak Julie Estelle dan Marshanda tengah asik mengelus-ngelus buah dada Nikita Willy.
“Keparat… Lepaskan…!!! Julie…!! ChaCha !! brengsek kalian…” Nikita Willy berteriak-teriak, memaki dan mendamprat Chacha dan Julie Estelle.
“Ehhh… Julie…, susunya loe nggak apa- apa kan?” tanya Chacha Pada Julie sambil mencubiti putting susu Nikita, sampai Nikita Willy meringis kesakitan.
“Maksud loe, nggak apa – apa gimana ?” Julie Estelle balik bertanya sambil membelai rambut Chacha.
“Yaaaaa, waktu dicomot orang itu dijalan,… ha ha ha… Cuphh”
Marshanda tertawa lepas sambil mencium bibir Julie Estelle.
“Sialan Loe Cha…, Gue jadi inget lagi kejadian itu… sebel banget deh sama orang negro kemaren itu …., yang rada-rada sangar itu loh.” Julie Estelle mengumpat kemudian ikut tertawa cekikikan.
“Ya…, maksud gua sihhh , kalo mau pegang jangan cuma sebelah dongg !! Kan Jadi berat sebelah, gimana gitu rasanya…..,sekalian dua-duanya, coba kalo susu gue dua-duanya yang dipegang pasti deh gue nggak akan marah! Paling cuma gua gampar!!!! ” Kata Julie kemudian ia mengulum bibir Chacha tanpa mempedulikan Nikita Willy yang masih berteriak-teriak sambil meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya.
“Udah.., lagian salah loe juga kan pake kaos bertulisan U Can’T Touch ”
“Yeee, Salah dimananya, jelas-jelas nggak boleh dipegang…”
“Yaa, tapikan hurup T nya ketutupan lelehan ice cream… Ha Ha HA HA” Marshanda tertawa nggakak, Julie Estelle cuma tersenyum pahit…..
“Ehhhhhhmm…. Julieee Hemmmmh Cupphhh” Marshanda mengigit kecil bibir Julie kemudian bibirnya menciumi lembut bahunya.
“Chacha…. Shhhhh Arrhhhhhhhhhh” Julie semakin liar menjerit-jerit ketika Marshanda menciumi lehernya.
“Plakkkkk..!! ” tiba – tiba Julie Estelle menampar mulut Nikita.
“Berisik amat sih loee, ngeganggu gua ama Chacha tau !!” Julie Estelle tampak berang.
“Sabar Julieiiii…, Nikita belon tau enaknya bercinta, ketimbang dihajar, lebih baik dia diajarin He he he….” Chacha membelai-belai pinggul Julie Estelle.
Kini Julie menggeser tubuhnya menindih tubuh Nikita, kemudian Julie menggesek-gesekkan buah dadanya pada buah dada Nikita, sesekali Julie menekan-nekan dadanya yang membuntal padat menekan buah dada Nikita Willy.
“Brengsekkk…, dasarrrr binal..!! Keparammmmmhhh Emmmmmhh…”Umpatan Nikita terputus ketika Marshanda menjambak rambut gadis itu sambil mengulum bibirnya.
“Heemmmm, Hemmm, Emmmm” Suara mulut Nikita yang sedang dilumat – lumat oleh Marshanda.
Sementara Julie semakin bernafsu menggesek-gesekan buah dadanya pada buah dada Nikita. Julie menciumi bulatan dada Nikita, ciumannya semakin turun kebawah dan…..
“Emmmmmhhhhh” Nikita mengejang ketika merasakan lidah Julie menjilati permukaan vaginanya, lidah Julie tampak begitu professional menyentil-nyentil klitoris Nikita Willy, sesekali lidahnya bergerak dalam gerakan memutar mengitari klitoris Nikita yang semakin mengkilap dengan indah, satu gigitan lembut kadang-kadang mampir di klitoris Nikita sampai gadis itu tersentak keenakan.
Sementara Chacha melepaskan kulumannya pada bibir Nikita, dengan lembut Chacha membelai rambut Nikita, sesekali dikecupnya kening gadis itu, suara makian tidak terdengar lagi dari bibir Nikita, mata Nikita tampak sayu menatap Chacha yang tersenyum memandanginya sambil mempermainkan dan meremasi buah dada gadis itu, tangan Marshanda mengelusi buah dada Nikita dengan lembut, kemudian ditarik-tariknya putting Susu Nikita dengan agak kuat sampai Nikita willy meringis – ringis.
“Ahhhhhhh…..,” mulut Nikita terbuka lebar, tubuhnya tampak bergetar dengan hebat “Crrrtttttttttt… Crrrtttttttttttttt” kemudian gadis itu terhempas tanpa daya, jempol Julie Estelle mengurut-ngurut klitoris Nikita dengan lembut, kadang-kadang dengan gerakan mengucek-ngucek kasar, sampai tubuh Nikita menggeliat-geliat sambil menjepitkan kedua pahanya rapat-rapat.
Julie Estelle tidak kehilangan akal ia menggigit paha Nikita sampai ia menjerit kesakitan sambil mengangkangkan kedua pahanya berusaha menghindari gigitan Julie Estelle, Nikita mencoba menahan kedua pahanya dalam posisi mengangkang ketika jari tengah Julie Estelle bergerak teratur dalam gerakan mengesek-gesek belahan di selangkangan gadis itu, Nikita mengigit bibirnya agar dapat menahan rintihan yang hampir keluar dari bibirnya.
“Hemmmm…, he he he…, enakkkk ?” Chacha terkekeh ia bertanya sambil mengecup bibir Nikita, Nikita mengangguk perlahan, tubuhnya tampak pasrah seolah-olah sedang menanti permainan selanjutnya.
“Ha Ha Ha.. Ayolah Nikita…, nggak usah tegang gito koq, rileks ajaa..”Marshanda membelai-belai sambil menyibakkan rambut Nikita yang acak-acakan menutupi wajah gadis itu, kemudian ia merundukkan kepalanya menciumi ketiak Nikita dengan lembut, sesekali lidahnya bergerak seperti sedang mengulas-ngulas sambil dilanjutkan dengan mengigit ketiak gadis itu.
Jari tangan Marshanda menjepit putting Susu Nikita Willy kemudian memilin-milin puting Susu gadis itu.
“Ohhhhhh… Chachaaaaaa…., Julie….. Ennnnnhhhhh” Nikita Willy memejamkan matanya rapat-rapat, jantung Nikita Willy berdetak dengan irama yang tidak beraturan air keringat sudah sedari tadi mengucur membasahi tubuhnya yang mulus..
Julie Estelle menjentikkan jarinya kearah tiga orang pria negro yang sudah sedari tadi menunggu untuk segera memulai aksi mereka. Tiga pria negro naik ke atas ranjang, yang dua menarik pinggul Chacha dan Julie Estelle agar sedikit menungging sedangkan yang satu menggesek-gesekkan kepala penisnya pada bibir vagina Nikita.
“Nggakkk… Nggakkkk mauuuu!! Ahhhhh…. Jangannnn Julie!!!!… Chacha !!! Gue nggak mauuu !!!” Nikita tampak panik ketika tangan Chacha dan Julie menarik dan merentangkan kedua kaki Nikita keatas, keduanya hanya saling berpandangan dan tersenyum kecil.
Tubuh Nikita tampak kejang menahan tekanan kepala kemaluan si negro yang terus menekan berusaha memasuki lubang vaginanya, si negro terus berkutat untuk melakukan penetrasi pada belahan vagina Nikita Willy.
“Ennnnnhhhhh………!! Jangan, aaaahhh !!” Nikita mengerang keras ketika penis si negro yang hitam dan besar menekan semakin dalam, kepala penis yang besar itu tampak kesulitan ketika ingin memasuki sela-sela vagina diselangkangan Nikita yang bentuknya seperti sebuah cincin yang elastis. Tubuh Nikita kejang – kejang ketika merasakan vaginanya seperti melar dan sesak, disumpal oleh kepala penis si negro yang besar.
“Awwwww…….!! ” Nikita menjerit keras ketika satu sodokan yang kuat merojok lubang vaginanya, ada sesuatu yang terobek-robek ketika kepala penis si negro menusuk semakin dalam.
Bersamaan dengan itu terdengar rintihan keras dari mulut Marshanda dan Julie ketika lubang vagina mereka juga disodok oleh dua orang pria negro, selanjutnya mereka tersentak-sentak oleh penis hitam yang besar dan panjang yang terbenam dalam kemaluan mereka yang sempit dan peret.
Tubuh Nikita Willy terguncang-guncang dengan hebat di atas ranjang, berkali-kali mulutnya mengerang kesakitan ketika si negro memompai lubang vaginanya. Nikita mengerang-ngerang ketika si negro melakukan penetrasi yang dalam dan kuat, batang penis itu bergerak keluar masuk. Penis yang panjang dan hitam itu menekan dan terbenam dalam-dalam. Nikita mendesah-desah setiap kali batang penis itu merojoki lubang vaginanya dengan kuat dan kasar.
“Deep and Hard Baby.., he he he” mulut si negro menceracau
Ia tidak mempedulikan Nikita yang kewalahan menerima genjotan penis besar itu di lubang vaginanya, nafas nikita tersendat-sendat setiap kali penis besar itu menekan kasar.
“Ahhhhhhhhhh….! ” Nikita menjerit keras-keras ketika batang penis si negro mengaduki lubang vaginanya, ia ingin mencabut penis si negro yang tertancap di lubang vaginanya kemudian melarikan diri dari atas ranjang itu namun tenaganya hilang entah kemana, jangankan untuk berlari untuk menggerakkan tangan saja rasanya berat sekali.
Marshanda dan Julie Estelle saling berpandangan sebelum sama-sama memperhatikan buah dada Nikita Willy yang terguncang-gucang. Buah dada yang ranum itu menjadi mainan bagi Marshanda dan Julie, sesekali Chacha dan Julie bergantian menggigit-gigit kecil puting susu Nikita Willy sampai pemiliknya menjerit antara sakit dan nikmat, mulut Marshanda dan Julie agak meruncing ketika menghisap kuat-kuat puncak payudara Nikita.
“Ahhhhhhhhhhh…. Crrrrrrrrtttt…. Crut” Nikita menahan nafas, tubuhnya mengejang merasakan nikmatnya rasa klimaks, Marshanda dan Julie mengelus-ngelus rambut Nikita, Chacha melepaskan ikatan di tangan Nikita, Julie tersenyum sambil terus disetubuhi oleh tiga orang negro bertubuh besar, ketiga artis muda itu berciuman satu sama lain
“Aduh, Chaaa…, memek gue…. ” Julie meringis ketika merasakan sodokan kasar dilubang vaginanya, isi vaginanya terasa terbetot ketika penis itu ditarik dan dijejalkan kembali kedepan ketika si negro membetot dan menghujamkan penisnya kuat-kuat.
“Aduh.., Aduhhhh, Julieee, mampus gue dahhhhh…., AWWWWWWW!!” Marshanda mengerang kuat ketika si negro menggerakan penisnya semakin cepat.
Mata Marshanda medelik-delik, mulutnya ternganga-nganga tanpa dapat berkata-kata, hanya erangan dan ringisan yang dapat keluar dari mulutnya.
“Arhhhh…, Jangan, Tolonggggg,,,!! Owwwwwwwww……!!!” Jeritan Nikita terdengar keras, lubang vaginanya terasa dirobek-robek dan ditumbuk hingga hancur oleh batang penis yang hitam, besar dan panjang, yang semakin keras menghantam lubang vaginanya.
“They’re good ehhhh?”
“Yeahhhh…, I like Asian girl”
“Smooth skin, cute face, hot &sexy, ”
“and don’t you dare to forget their tight little vagina He he he”
Ketiga pria negro itu berbincang-bincang sambil terus mengayunkan kemaluan mereka tanpa mempedulikan Nikita , Marshanda dan Julie Estelle yang kewalahan menghadapi penis mereka yang besar, hitam dan panjang.
“Chacha…, My Girl !! Come here….!!” Ben berteriak memanggil Marshanda yang masih sibuk melayani nafsu seorang pria negro berambut poni, Marshanda menggeliat tubuhnya berusaha melepaskan dirinya dari dekapan tangan si negro kemudian menghampiri Ben.
“Do You Know Her ? ” Ben bertanya pada Marshanda
Marshanda tersenyum nakal dan mengangguk
“Ok, teach her how to play….”
“Sini Nia, gue ajarin…., loe pasti ketagihan” Marshanda menelanjangi Nia Ramadhani dengan dibantu oleh Ben.
“Nggak mau Cha…! gue wanita normal…!!” Nia membentak sambil memalingkan wajahnya ketika Marshanda hendak mengulum bibirnya.
“Gue tau loe normal Nia, tapi gue juga normal koq…” Marshanda tersenyum nakal sambil memeluk pinggang Nia, Nia Ramadhani meronta-ronta, tanpa disengaja buah dada Nia Ramadhani yang terus bergesekan dengan buah dada Marshanda membuat percikan-percikan api birahi yang semakin lama semakin berkobar-kobar dengan dahsyat.
“Ohhhhhhhhhhhhh…….” Nia Ramadhani hanya dapat mendesah panjang ketika tangan Marshanda meremas buah pantatnya dengan lembut, Chacha terenyum ia tahu kalau Nia sudah mulai terrangsang..
“Julurin lidah loe Nia….” Marshanda mendesah sambil mengecup bibir Nia Ramadhani, Nia menelan ludahnya berkali-kali sebelum mulutnya terbuka dan menjulurkan lidahnya keluar.
Lidah Marshanda mengait lidah Nia kemudian menghisapi lidah Nia yang terjulur keluar. Si negro berambut poni menghampiri tempat pertarungan, ia mengambil posisi dibelakang tubuh Nia Ramadhani, sementara Ben mengambil posisi dibelakang tubuh Marshanda, tanpa disuruh Marshanda agak menunggingkan bokongnya kebelakang sambil merentangkan kedua kakinya melebar, Marshanda agak meringis ketika Ben menyodok lubang anusnya dengan kasar.
Bersambung...
ns216.73.216.176da2


