Aku, Arka, sudah terbiasa dengan kesunyian itu. Dua tahun tinggal bersama Nayla di rumah mungil berlantai dua di kawasan yang relatif tenang di pinggiran kota membuatku paham betul bagaimana setiap sudut ruangan bernapas. Lantai kayu yang sesekali berderit di dekat tangga, aroma kopi yang masih tertinggal di dapur meski sudah dingin, dan cahaya matahari sore yang selalu menyusup melalui tirai tipis kamar utama—semua itu menjadi bagian dari ritme hidup kami.
7340Please respect copyright.PENANAswRvw81OIP
Nayla sedang duduk di sofa ruang tengah ketika aku pulang lebih awal dari biasanya. Hari itu kantor memberiku izin bekerja dari rumah setelah rapat pagi yang berlangsung singkat. Aku membuka pintu pelan, melepaskan sepatu, dan langsung menangkap aroma tubuhnya yang familiar: campuran sabun lavender, sedikit keringat tipis di belakang telinga, dan wangi parfum yang sudah memudar sejak pagi.
7340Please respect copyright.PENANAzhqzKihfTT
Ia mengenakan kaus oversized putih yang longgar di bahu kiri, menampakkan tulang selangka yang tajam dan kulit keemasan yang selalu membuatku ingin menyentuh. Rambutnya yang panjang sebahu tergerai berantakan, sebagian terselip di belakang telinga. Matanya yang besar dan sedikit sipit menatap layar laptop di pangkuannya, alisnya berkerut pelan seolah sedang memikirkan sesuatu yang rumit.
7340Please respect copyright.PENANAItzflOd3UM
“Kamu pulang lebih cepat?” suaranya lembut, masih tanpa menoleh.
7340Please respect copyright.PENANABoQamNElGg
“Rapatnya selesai cepat. Aku bilang mau kerja dari rumah.” Aku berjalan mendekat, menaruh tas di meja, lalu duduk di sampingnya. “Kamu lagi apa?”
7340Please respect copyright.PENANABxNPUscZIt
“Revisi desain klien. Mereka minta perubahan layout untuk ketiga kalinya.” Nayla menutup laptop perlahan, lalu menghela napas panjang. Bahunya turun. “Aku pegal banget, Arka. Punggung sama leher. Seharian duduk.”
7340Please respect copyright.PENANAIkSzzFQypF
Aku mengangkat tangan, menaruhnya di tengkuknya. Jari-jariku menekan pelan otot yang memang terasa kaku. Kulitnya hangat. Aku bisa merasakan detak nadi di dekat tulang belakangnya. Nayla mengangguk pelan, memejamkan mata sejenak.
7340Please respect copyright.PENANAvxuXsXqa3x
“Enak…,” gumamnya. “Tapi kamu nggak bisa pijat yang beneran. Tangannya kamu terlalu kasar kadang.”
7340Please respect copyright.PENANAd96CdM0Ju3
Aku tertawa kecil. “Aku bisa belajar.”
7340Please respect copyright.PENANAQwqqsoMrZH
“Nggak usah. Aku sudah pesan tukang pijat ke rumah. Jam tiga nanti.” Ia membuka mata, menatapku. Senyumnya tipis, tapi matanya terlihat lelah. “Yang biasa. Raka. Dia sudah pernah ke sini dua kali bulan lalu. Pijatnya dalam, nggak main-main.”
7340Please respect copyright.PENANAjTAe303B4d
Nama itu sempat terngiang di kepalaku. Raka. Aku ingat samar-samar. Pria tinggi, bahu lebar, tangan besar yang terlihat terbiasa menekan otot. Waktu itu aku hanya sempat bertemu sebentar di pintu sebelum pergi ke kantor. Nayla bilang dia profesional, bersertifikat, dan sudah sering dipanggil ke perumahan sekitar.
7340Please respect copyright.PENANATno5IvCtIY
“Oke,” jawabku singkat. “Aku kerja di kamar atas saja biar kamu tenang.”
7340Please respect copyright.PENANAIMlzab8I9O
Nayla mengangguk, lalu menyandarkan kepala di bahuku sejenak. Aku mencium puncak kepalanya. Aroma rambutnya masih wangi shampoo yang sama sejak kami pertama kali tinggal bersama. Ada kehangatan yang familiar di antara kami, tapi juga ada jarak yang pelan-pelan terbentuk tanpa kami sadari. Pekerjaan, kelelahan, dan ritme yang semakin jarang bertemu di malam hari membuat sentuhan kami lebih sering menjadi formal daripada penuh hasrat.
7340Please respect copyright.PENANACl0NR0THCU
Aku bangkit, mengambil laptop, dan naik ke lantai atas. Kamar kerja kecil di pojok rumah menjadi tempatku menghabiskan sisa siang. Dari jendela, aku bisa melihat halaman belakang yang dihiasi beberapa pot tanaman yang dirawat Nayla. Suara burung sesekali terdengar, tapi lebih banyak keheningan.
7340Please respect copyright.PENANA9gxNtAafYr
Jam menunjukkan pukul dua empat puluh ketika bel rumah berbunyi.
7340Please respect copyright.PENANAUUlPzHodwq
Aku tidak turun. Aku mendengar suara Nayla membuka pintu, lalu percakapan singkat yang sayup-sayup. Suara pria yang lebih dalam, tenang, dan sedikit serak. Raka.
7340Please respect copyright.PENANAegPO3utCQZ
“Masuk aja, Raka. Langsung ke ruang tengah ya. Aku siap.”
7340Please respect copyright.PENANARJDNhdUIvw
Aku mencoba fokus pada layar. Pekerjaan harus diselesaikan. Tapi telinga tetap menangkap setiap suara dari bawah. Langkah kaki di lantai kayu. Suara tas yang diletakkan. Lalu suara Nayla lagi.
7340Please respect copyright.PENANAGAfUGyMcYK
“Aku pegal banget di sini… dan di sini.”
7340Please respect copyright.PENANAvTtR4gYQl5
Aku membayangkan jarinya menunjuk ke leher dan punggung bawah. Aku pernah memijatnya di tempat yang sama. Aku tahu bagaimana ototnya mengeras, bagaimana ia mengerang pelan ketika tekanan tepat mengenai titik yang sakit.
7340Please respect copyright.PENANAvXR8R1LRDQ
Lalu keheningan. Hanya suara napas dan gesekan kain.
7340Please respect copyright.PENANAINfoqGhPIS
Aku berdiri dari kursi. Kaki membawa diriku ke pintu kamar yang terbuka. Dari sana, aku bisa melihat turun ke ruang tengah melalui pagar tangga yang terbuat dari kayu berukir. Ruang tengah terlihat jelas dari sudut itu jika seseorang berdiri di posisi yang tepat.
7340Please respect copyright.PENANAHAYM9OPO1R
Nayla sudah berbaring telungkup di atas matras pijat yang dibentangkan di lantai. Ia masih mengenakan kaus oversized itu, tapi sekarang bagian bawahnya sudah digulung hingga pinggang, menampakkan punggung telanjang sampai tepat di atas bokong. Celana pendek olahraga abu-abu yang biasa ia pakai di rumah masih menempel di pinggang, tapi kainnya sudah tertarik sedikit ke bawah, menampakkan lekuk tulang pinggang yang dalam dan kulit mulus yang mengkilap karena minyak.
7340Please respect copyright.PENANAXGKQ3QbgPy
Raka berlutut di sampingnya. Pria itu lebih besar dari yang aku ingat. Bahu lebar memenuhi kemeja hitam yang digulung hingga siku. Lengan berotot dengan vena yang menonjol ketika ia menuangkan minyak ke telapak tangan. Wajahnya tegas, rahang kuat, rambut pendek agak acak-acakan. Matanya menatap punggung Nayla dengan fokus yang profesional—setidaknya begitu kelihatannya dari jauh.
7340Please respect copyright.PENANANUBjXb0HBM
“Nafas pelan, Mbak,” suaranya rendah. “Aku mulai dari leher dulu.”
7340Please respect copyright.PENANAZ0bpiU5Bir
Tangannya yang besar menempel di tengkuk Nayla. Ibu jari menekan, lalu bergerak lambat ke bawah mengikuti garis tulang belakang. Nayla mengerang pelan. Suara itu lembut, hampir seperti desahan yang tertahan. Aku berdiri diam di balik pagar tangga, tubuhku kaku.
7340Please respect copyright.PENANAfK4Be9DIle
Aku seharusnya kembali ke kamar. Aku seharusnya menutup pintu dan memasang earphone. Tapi kaki tidak bergerak.
7340Please respect copyright.PENANAjUSAtlQ0ah
Raka bekerja dengan gerakan yang teratur. Telapak tangannya yang lebar menutupi hampir seluruh lebar punggung Nayla. Ia menekan, menggeser, lalu menekan lagi. Minyak membuat kulit Nayla mengkilap di bawah cahaya sore yang masuk dari jendela. Setiap kali jari Raka melewati pinggang, kaus yang digulung itu sedikit bergeser lebih tinggi, menampakkan lebih banyak kulit.
7340Please respect copyright.PENANAe6NSPfjnra
“Sini lebih kaku,” gumam Raka. “Mbak sering duduk lama ya?”
7340Please respect copyright.PENANAfYmlrqCiEB
“Iya… seharian,” jawab Nayla, suaranya terdengar serak. “Lebih dalam sedikit… ah—”
7340Please respect copyright.PENANAJSkBc7a24f
Desahan itu lebih jelas. Bukan sekadar suara sakit. Ada sesuatu yang lebih dalam di nadanya. Raka tidak menjawab. Ia hanya menambah tekanan. Kedua ibu jarinya sekarang menekan di sisi tulang belakang, bergerak naik turun dengan ritme yang lambat dan dalam. Tubuh Nayla sedikit bergoyang mengikuti gerakan itu. Bokongnya yang masih tertutup celana pendek bergerak pelan di atas matras.
7340Please respect copyright.PENANAKpNx0V6OFS
Aku menelan ludah. Jantung berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.
7340Please respect copyright.PENANA3hIoIQzNUt
Raka bergeser ke posisi yang lebih rendah. Tangannya sekarang berada di pinggang Nayla, tepat di atas garis celana. Ia menarik sedikit kain itu ke bawah—hanya sedikit, cukup untuk menampakkan lekuk bokong bagian atas. Kulit di sana lebih cerah, mulus, dan sedikit bergetar ketika jari Raka menekan otot di dekat tulang pinggang.
7340Please respect copyright.PENANAJzxEqg9Bdt
“Mbak, boleh aku longgarkan celananya sedikit? Biar lebih leluasa di area pinggang bawah.”
7340Please respect copyright.PENANAwNp7G7aMGe
Nayla terdiam sejenak. Lalu, dengan suara yang hampir berbisik, “Boleh… pelan-pelan aja.”
7340Please respect copyright.PENANA7pHjwuBAwi
Aku melihat Raka menarik celana pendek itu lebih turun. Sekarang bokong Nayla setengah terbuka. Bentuknya bulat, padat, dengan lekuk yang dalam di tengah. Minyak yang tumpah sedikit mengalir ke celah itu, membuat kulit mengkilap. Raka menuangkan minyak lagi ke telapak tangan, lalu meletakkan kedua tangan di atas bokong Nayla. Ia tidak langsung memijat. Ia hanya menekan pelan, seolah mengukur ketegangan otot.
7340Please respect copyright.PENANABYLaO1ezW8
Nayla menghela napas panjang. Punggungnya naik turun. Rambutnya yang tergerai di samping wajah bergerak pelan ketika ia memalingkan kepala ke samping. Dari posisiku, aku bisa melihat separuh wajahnya. Mata terpejam, bibir sedikit terbuka, dan ada rona merah tipis di pipi.
7340Please respect copyright.PENANAcbYfa02w8i
Raka mulai memijat. Gerakannya lambat, dalam, dan sangat fokus pada area bokong dan pinggang bawah. Jari-jarinya menekan, menggeser, lalu menekan lagi dengan tekanan yang membuat daging lembut di sana bergoyang pelan. Sesekali ibu jarinya masuk lebih dalam ke celah bokong, bukan dengan maksud menggoda—setidaknya begitu kelihatannya—tapi cukup untuk membuat Nayla menahan napas.
7340Please respect copyright.PENANAwoAF8Uedye
“Sini… lebih dalam,” bisik Nayla. Suaranya hampir tidak terdengar, tapi aku menangkapnya.
7340Please respect copyright.PENANARs8cHQtSmq
Raka menurut. Tekanan bertambah. Sekarang kedua telapak tangannya menutupi hampir seluruh bokong Nayla, menguli, menekan, dan sesekali menarik sedikit ke samping sehingga celah di tengah terbuka lebih lebar. Minyak mengilap di sana. Aku bisa melihat sedikit kulit lebih gelap di dekat lubang anus yang masih tertutup, dan lebih ke depan, bayangan lipatan vagina yang mulai terlihat karena posisi kaki Nayla yang sedikit terbuka.
7340Please respect copyright.PENANA7pVfxWvAU6
Aku merasa panas di dada. Bukan hanya cemburu. Ada sesuatu yang lebih rumit. Hasrat yang bercampur dengan rasa tidak percaya. Aku belum pernah melihat Nayla seperti ini—begitu pasrah di bawah tangan pria lain, tubuhnya bereaksi dengan cara yang biasa hanya aku yang lihat.
7340Please respect copyright.PENANATQJFd2lebk
Raka bergeser lagi. Sekarang ia berada di antara kedua kaki Nayla yang sedikit dibuka. Posisi itu membuat celana pendek yang sudah longgar semakin turun. Hampir seluruh bokong dan bagian atas paha terlihat. Raka menuangkan minyak ke paha dalam Nayla, lalu mengusap perlahan dari lutut naik ke atas, berhenti tepat di bawah lipatan bokong.
7340Please respect copyright.PENANANy70A7c2ws
“Mbak, kaki dibuka sedikit lagi biar aku bisa ke otot dalam.”
7340Please respect copyright.PENANA80gDxj2tLr
Nayla menurut. Kedua kakinya merenggang. Sekarang aku bisa melihat lebih jelas. Celana dalam putih tipis yang ia pakai sudah basah di bagian tengah. Kainnya menempel di bibir vagina yang sedikit terbuka karena posisi. Ada noda basah yang semakin melebar.
7340Please respect copyright.PENANAgJ1NKUZ5PH
Raka melihatnya. Aku yakin ia melihatnya. Tapi ia tidak berkomentar. Tangannya hanya terus bergerak, memijat paha dalam dengan gerakan naik turun yang semakin mendekati pusat. Setiap kali jari-jarinya hampir menyentuh kain basah itu, Nayla mengerang lebih keras.
7340Please respect copyright.PENANAzvqx0MWJif
“Ahh… Raka… di situ…”
7340Please respect copyright.PENANAmnYJgpJGeG
Suara itu membuat seluruh tubuhku tegang. Aku meremas pagar tangga sampai buku-buku jari memutih.
7340Please respect copyright.PENANAgI5REZzFbP
Raka berhenti sejenak. Ia menatap punggung Nayla, lalu suaranya turun lebih rendah.
7340Please respect copyright.PENANAHrTaMMVoAA
“Mbak basah.”
7340Please respect copyright.PENANAywgWkeQzpf
Nayla tidak menjawab langsung. Napasnya terdengar berat. Lalu, dengan suara yang hampir seperti bisikan malu-malu sekaligus penuh hasrat, “Aku… aku nggak tahu kenapa. Pijatnya kamu… terlalu dalam.”
7340Please respect copyright.PENANAzd95Y5HlZN
Raka tidak tertawa. Ia tidak mengomentari. Ia hanya mengusap lagi paha dalam itu, kali ini lebih lambat, lebih sengaja. Jari tengahnya menyentuh tepi kain basah, menekan pelan bibir luar yang sudah membengkak.
7340Please respect copyright.PENANAxYBPJTtbyt
Nayla menggigit bibir. Pinggulnya bergerak sedikit ke belakang, seolah mencari tekanan itu.
7340Please respect copyright.PENANAkUBwhCgQ0f
Aku berdiri mematung. Darah di kepalaku berdesir. Aku tahu aku harus turun, harus menghentikan ini, harus bilang sesuatu. Tapi tubuh menolak. Mataku terpaku pada jari Raka yang sekarang sudah menyusup di bawah kain celana dalam, menggeser perlahan bibir vagina yang licin.
7340Please respect copyright.PENANAsRFcf969hf
“Mbak,” suara Raka masih tenang, tapi nada profesionalnya sudah retak. “Kalau aku lanjut… kamu yakin?”
7340Please respect copyright.PENANAfLizx2DmI0
Nayla mengangguk pelan. Rambutnya bergoyang. “Lanjut… jangan berhenti.”
7340Please respect copyright.PENANAsZFBKdV91L
Raka menarik celana dalam itu ke samping. Sekarang vagina Nayla terbuka sepenuhnya di hadapannya. Bibir luar yang sudah bengkak, berwarna merah muda gelap, mengilap karena cairan. Klitoris sedikit menonjol di atas, dan lubang yang berdenyut pelan seolah sudah menunggu. Aroma seksual yang samar-samar naik sampai ke posisiku—campuran minyak pijat, keringat tipis, dan bau khas Nayla yang biasa hanya aku yang kenal.
7340Please respect copyright.PENANAfDgsZ9vLD8
Raka menunduk. Aku melihat lidahnya keluar, menyentuh bibir luar itu dengan jilatan panjang yang lambat dari bawah ke atas. Nayla melonjak. Desahan panjang keluar dari mulutnya, tertahan di bantal matras.
7340Please respect copyright.PENANAXsfpwMUQd4
“Ohh… fuck…”
7340Please respect copyright.PENANATFaMkNFoer
Raka tidak buru-buru. Ia menjilat lagi, lebih dalam, membuka bibir itu dengan lidah, menghisap pelan klitoris yang sudah keras. Tangannya yang bebas memegang bokong Nayla, membuka lebih lebar supaya lidahnya bisa masuk lebih dalam. Suara basah, suara hisapan, dan desahan Nayla yang semakin tidak terkendali memenuhi ruang tengah.
7340Please respect copyright.PENANA1kEWcnchgD
Aku merasa celana dalamku basah. Kontolku sudah tegang sempurna, menekan kain celana kerja. Aku tidak bergerak. Aku hanya menonton.
7340Please respect copyright.PENANAtPPEaP088C
Raka bangkit sedikit. Ia membuka resleting celananya dengan satu tangan. Kontolnya keluar—besar, tebal, urat-uratnya menonjol, kepala sudah mengkilap karena pre-cum. Ia mengusapkan kepala kontol itu di bibir vagina Nayla, naik turun, membasahi seluruh batang dengan cairan Nayla.
7340Please respect copyright.PENANA6woegdcGbJ
“Mbak… aku masuk.”
7340Please respect copyright.PENANAH1CWmsPO5L
Nayla mengangguk cepat. “Masuk… pelan…”
7340Please respect copyright.PENANAPiiRepU0GH
Raka menekan. Kepala kontol itu membuka lubang yang sempit. Nayla mengerang panjang ketika batang itu masuk perlahan, senti per senti, sampai seluruhnya tertelan. Pinggul Raka menempel di bokong Nayla. Ia diam sejenak, membiarkan Nayla menyesuaikan.
7340Please respect copyright.PENANATeSKChWkvt
Lalu ia mulai bergerak.
7340Please respect copyright.PENANAbvVcHbrz4U
Thrust pertama lambat. Keluar sampai hampir lepas, lalu masuk lagi sampai mentok. Suara basah “plok… plok…” mulai terdengar. Nayla mendorong pinggulnya ke belakang, menyesuaikan ritme. Raka memegang pinggangnya dengan kedua tangan, jari-jari menekan daging lembut di sana, lalu mempercepat.
7340Please respect copyright.PENANAM8U18NA0BU
Aku melihat semuanya. Bagaimana kontol tebal itu keluar-masuk, mengkilap karena cairan, bagaimana bibir vagina Nayla meregang mengelilingi batang itu, bagaimana bokongnya bergoyang setiap kali ditumbuk. Desahan Nayla berubah menjadi erangan yang lebih keras, lebih terbuka.
7340Please respect copyright.PENANAblT2nnrX0x
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI


