Jam menunjukkan pukul 22.47 malam.
Gedung perkantoran di kawasan Sudirman sudah sepi. Hanya lampu-lampu lorong yang masih menyala redup. Di lantai 28, ruangan CEO masih terang. Hanya dua orang yang tersisa di seluruh gedung ini malam itu.
Desi berdiri di depan meja kerjanya yang sudah rapi. Blus putih ketatnya sedikit basah keringat di bagian dada karena AC yang sudah dimatikan sejak jam 9. Rok pensil hitamnya yang pendek membungkus pinggulnya dengan sangat erat, memperlihatkan bentuk pantatnya yang bulat dan montok setiap kali dia bergerak. Payudaranya yang besar — ukuran 36D — menonjol jelas di balik kancing blus yang sengaja dia kancing longgar karena panas.
Dia baru dua minggu bekerja sebagai sekretaris pribadi Dimas Aditya, CEO perusahaan properti terbesar di Jakarta. Gaji yang ditawarkan sangat besar, jauh di atas rata-rata. Tapi sejak hari pertama, Desi merasa ada sesuatu yang aneh dari cara bosnya memandangnya.
Pukul 22.50, HP-nya bergetar.
Dimas: “Ke Ruanganku. Sekarang. Kunci pintu dari dalam.”
Hanya itu. Tidak ada salam, tidak ada basa-basi. Hanya perintah dingin.
Desi menelan ludah. Jantungnya berdetak kencang. Dia tahu ini bukan panggilan kerja biasa. Tapi dia juga tahu, jika dia menolak… pekerjaan impian ini bisa hilang dalam sekejap.
Dia mengambil tas kecilnya, mematikan lampu meja, lalu berjalan menyusuri lorong gelap menuju ruangan paling ujung — ruangan Dimas.
Pintu sudah terbuka sedikit. Desi mengetuk pelan.
“Masuk.”
Suara rendah dan berat itu langsung membuat lututnya lemas.
Desi masuk, menutup pintu, lalu mengunci seperti yang diperintahkan. Suara “klik” kunci terdengar sangat keras di ruangan yang hening itu.
Dimas duduk di kursi kulit hitam besar di belakang meja kerja mahoni yang luas. Jasnya sudah dilepas, hanya kemeja hitam lengan panjang dengan dua kancing atas dibuka. Lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan bawah yang berotot dan berurat. Wajahnya tampan, rahang tegas, mata hitam tajam menatap Desi seperti serigala yang baru menemukan mangsanya.
Di depannya sudah ada segelas whiskey.
“Datang ke sini,” perintahnya pelan, tapi tegas.
Desi berjalan pelan mendekati meja. Jaraknya tinggal satu meter.
Dimas menatapnya dari atas ke bawah tanpa malu. Pandangannya berhenti lama di payudara Desi yang naik turun karena napasnya yang tidak tenang.
“Blus itu ketat sekali,” katanya datar. “Kancingnya mau copot.”
Desi menunduk, pipinya memerah. “Maaf, Pak… tadi panas.”
Dimas tertawa kecil, tapi bukan tawa ramah. “Panas? Atau memang sengaja mau pamer tetek besar itu ke bos?”
Desi tersentak. “Pak…!”
“Tutup mulut.”
Dimas berdiri. Tubuhnya tinggi dan lebar. Dia mengitari meja perlahan, seperti predator yang mengelilingi mangsa. Sekarang dia berdiri tepat di belakang Desi. Napasnya terasa di tengkuk gadis itu.
Tangan kanannya naik, menyentuh pinggang Desi yang kecil, lalu naik perlahan ke bawah payudaranya. Jari-jarinya meremas pelan melalui blus.
“Enak sekali,” bisiknya di telinga Desi. “Gede. Padat. Mulus. Persis seperti yang aku bayangkan sejak pertama kali kamu masuk wawancara.”
Desi gemetar. “Pak Dimas… ini… ini tidak benar…”
“Tidak benar?” Dimas tertawa lagi, kali ini lebih kasar. “Kamu pikir aku rekrut kamu karena kemampuanmu? Kamu baru lulus kuliah, pengalaman nol. Aku terima kamu karena aku mau ini.”
Tangan kirinya naik ke leher Desi, memegang dagunya dan memaksa gadis itu menoleh ke belakang.
“Aku mau tubuh jalang ini,” katanya pelan, tapi setiap kata menusuk. “Aku mau memek basahmu. Aku mau isi rahimmu dengan sperma sampai kamu hamil. Sampai perutmu membuncit membawa anakku.”
Desi terengah. Matanya membelalak. “Pak… aku… aku belum pernah…”
“Belum pernah apa?” Dimas memutar tubuh Desi sehingga sekarang mereka berhadapan. “Belum pernah dientot kasar? Belum pernah diperlakukan seperti pelacur kantor? Tenang saja. Malam ini aku akan ajari semuanya.”
Tangan Dimas turun ke rok Desi. Dengan satu gerakan cepat dan kasar, dia angkat rok itu sampai ke pinggang. Celana dalam Desi yang berwarna hitam kecil langsung terlihat. Ada noda basah di bagian tengahnya.
Dimas tersenyum sinis. “Lihat ini. Baru dua menit di ruanganku sudah basah kuyup. Memekmu lapar ya, Desi?”
Desi ingin menutup pahanya, tapi Dimas langsung menendang kursi kecil di belakangnya sehingga Desi terduduk di pinggir meja kerja yang dingin.
“Jangan gerak,” perintahnya.
Dimas meraih gunting kertas di meja, lalu dengan tenang memotong celana dalam Desi dari samping. Kain itu jatuh ke lantai. Sekarang memek Desi yang mulus, pink, dan sudah mengkilap karena cairan cinta terpapar langsung di depan bosnya.
“Lebarin kaki,” perintah Dimas.
Desi gemetar, tapi dia patuh. Dia buka pahanya lebar-lebar di pinggir meja.
Dimas menatap memeknya dengan rakus. “Cantik juga memekmu. Mulus. Belum banyak dipakai. Tapi malam ini aku akan rusak.”
Dia membuka kancing celananya sendiri. Suara resleting terdengar. Lalu kontolnya keluar — panjang, tebal, 19 cm, berurat, kepala merah mengkilap, sudah mengeluarkan cairan bening di ujungnya.
Desi menatapnya dengan campuran takut dan nafsu. “Itu… terlalu besar, Pak…”
Dimas memegang kontolnya sendiri, mengusap-usap pelan di depan wajah Desi. “Ini akan masuk ke dalam tubuhmu. Semua. Sampai ujungnya menyentuh rahimmu. Dan aku akan keluarkan sperma di dalam sana. Banyak. Sampai kamu hamil.”
Dia mendekatkan kontolnya ke bibir Desi. “Buka mulut. Jilat.”
Desi ragu-ragu sebentar, tapi akhirnya membuka bibirnya. Lidahnya menjulur, menjilat kepala kontol Dimas yang panas dan asin. Dimas menggeram puas.
“Bagus. Sekarang hisap.”
Desi mulai menghisap kepala kontol itu. Mulutnya kecil, tapi dia berusaha. Dimas memegang rambut Desi dan mendorong kepalanya lebih dalam. Kontolnya masuk setengah, menyentuh tenggorokan Desi.
“Guk…!” Desi tersedak.
“Jangan berhenti,” kata Dimas dingin. “Ini baru permulaan. Nanti aku akan ewe mulutmu sampai air matamu keluar.”
Setelah beberapa menit, Dimas menarik kontolnya keluar. Air liur Desi menetes dari dagunya.
Dia mendorong Desi supaya berbaring di atas meja kerja. Rok masih terangkat di pinggang. Kaki Desi digantung di pinggir meja. Dimas berdiri di antara pahanya.
Dia mengusap kepala kontolnya di lubang memek Desi yang sudah sangat basah.
“Siap?” tanyanya, tapi bukan pertanyaan sungguhan.
Tanpa menunggu jawaban, Dimas mendorong pinggulnya ke depan dengan satu hentakan kuat.
“AAAAH!!” Desi menjerit. Kontol tebal itu merobek masuk, meregangkan dinding memeknya yang sempit dengan paksa. Sakit. Panas. Penuh.
Dimas tidak berhenti. Dia dorong sampai seluruh 19 cm masuk. Pangkal kontolnya menempel di bibir memek Desi.
“Ketat sekali,” geram Dimas. “Memek perawan kantor ini enak.”
Dia mulai menggerakkan pinggulnya. Awalnya pelan, tapi cepat menjadi kasar. Setiap hentakan membuat meja bergetar. Suara “plak-plak-plak” tubuh bertemu tubuh menggema di ruangan.
Desi menangis, tapi bukan hanya karena sakit. Ada kenikmatan yang aneh bercampur. Setiap kali kontol Dimas menghantam dalam, ada sesuatu yang menyentuh titik sensitif di dalamnya.
“Pak… pelan… ahh… terlalu dalam…”
Dimas tertawa sinis. Dia pegang kedua payudara Desi melalui blus, meremas kasar. “Diam. Kamu cuma lubang kontol sekarang. Lubang untuk bosmu isi sperma.”
Dia percepat hentakannya. Meja berderit. Desi merasa seperti akan patah. Tapi tubuhnya mulai bergetar.
“Aku… aku mau keluar…” desah Desi malu-malu.
“Keluar?” Dimas menampar payudara Desi dengan keras. “Bilang dengan benar. ‘Aku mau orgasme, Pak.’”
Desi menangis malu. “Aku… mau orgasme, Pak… tolong…”
Dimas tersenyum puas. Dia angkat kedua kaki Desi ke bahunya, membuka tubuh gadis itu lebih lebar. Posisi ini membuat kontolnya masuk lebih dalam lagi.
Dia ewe Desi dengan sangat kasar. Setiap dorongan disertai kata-kata kotor.
“Memekmu basah sekali… pelacur… “Aku akan buat kamu hamil malam ini… “Spermaku akan berenang di rahimmu… “Kamu akan jadi ibu anakku… sekretaris jalang yang hamil karena bosnya…”
Desi tidak tahan lagi. Tubuhnya tegang, punggung melengkung, dan dia mencapai orgasme pertama malam itu dengan jeritan panjang.
“AAAAAAAAH!!”
Memeknya berkedut-kedut menggenggam kontol Dimas erat. Tapi Dimas tidak berhenti. Dia terus ewe melalui orgasme Desi, membuat gadis itu kejang-kejang karena kelebihan rangsangan.
Setelah beberapa menit, Dimas merasakan dirinya hampir klimaks.
Dia tarik Desi turun dari meja, putar tubuhnya, dan banting wajah Desi ke permukaan meja. Sekarang dari belakang. Dia masukkan kontolnya lagi dengan satu hentakan dan ewe dengan sangat brutal.
Tangan kirinya menarik rambut Desi ke belakang. Tangan kanannya menampar pantat Desi berkali-kali sampai merah.
“Bilang kamu mau hamil!” perintahnya.
Desi menangis, tapi mulutnya mengatakan apa yang Dimas mau. “Aku mau hamil… Pak… isi aku… buat aku hamil…”
Dimas menggeram keras. Pinggulnya bergerak sangat cepat, lalu dia dorong dalam-dalam dan meledak.
Sperma panas menyembur deras ke dalam rahim Desi. Banyak sekali. Dimas terus mendorong, memastikan setiap tetes masuk ke dalam.
Desi merasa perut bagian bawahnya hangat. Dia baru saja dicreampie oleh bosnya di meja kerja.
Tapi Dimas belum selesai.
Dia tarik kontolnya keluar. Sperma langsung menetes dari memek Desi yang menganga. Dimas menyuruh Desi berlutut di lantai.
“Hisap bersih,” perintahnya.
Desi patuh. Dia hisap kontol yang masih setengah tegang itu, menjilat sperma yang bercampur dengan cairannya sendiri.
Dimas memegang kepala Desi dan mendorong kontolnya masuk lagi ke tenggorokan.
Malam itu baru dimulai.
Dimas mengangkat Desi, bawa ke sofa panjang di sudut ruangan, dan ewe lagi dalam berbagai posisi — doggy, missionary dengan kaki di bahu, bahkan berdiri sambil menekan Desi ke dinding kaca yang menghadap kota Jakarta yang gemerlap.
Setiap kali dia akan klimaks, dia selalu isi ke dalam. Berulang kali.
Pukul 01.15 dini hari, Desi sudah tidak bisa menghitung berapa kali dia orgasme. Tubuhnya lemas, penuh keringat, rambut acak-acakan, rok robek, blus terbuka, dan memeknya merah bengkak penuh sperma Dimas.
Dimas duduk di kursi kerjanya lagi, kontolnya masih setengah tegang. Desi berbaring telanjang di sofa, napasnya masih tersengal.
Dimas menyalakan rokok, lalu berkata dengan suara dingin:
“Mulai besok, kamu tidak pakai celana dalam lagi ke kantor. Setiap hari kamu harus siap kapan saja aku panggil. Dan setiap kali aku isi kamu… kamu harus bilang ‘terima kasih, Pak’.”
Desi menatap langit-langit, air mata mengalir di pelipisnya.
Tapi di antara kaki nya, memeknya kembali basah mendengar kata-kata itu.
Dia tahu… hidupnya sudah berubah selamanya.
ns216.73.216.48da2


