Selama lima tahun terakhir, aku menghabiskan hampir seluruh waktuku di toko pakaian muslimah yang kami bangun dari nol. Toko ini jadi tempatku dan istriku, Zahra, berbagi peran dalam mengelola bisnis yang alhamdulillah terus berkembang. Kami berdua bekerja sama, mulai dari mencari supplier kain sampai melayani pembeli yang datang setiap hari. Meski cuma berdagang pakaian, ekonomi kami terbilang lumayan bagus dan cukup untuk hidup nyaman.
36Please respect copyright.PENANAjSTo5q2suk
Zahra adalah sosok yang tenang dan sangat teratur dalam segala hal. Beberapa tahun lalu, dia memutuskan untuk lebih mendalami agama dan memilih untuk mengenakan cadar dalam kesehariannya. Aku nggak pernah memaksanya, tapi aku sangat menghargai keputusannya untuk menutup aurat dengan lebih rapat. Kami belum dikaruniai anak, jadi seluruh fokus dan kasih sayang kami tumpah pada rumah tangga dan toko kecil kami. Bagiku, Zahra bukan cuma sekadar istri, tapi juga partner bisnis yang paling bisa aku andalkan. Dia punya cara bicara yang lembut yang membuat pelanggan merasa nyaman saat berbelanja.
36Please respect copyright.PENANAWaHvqGzBZ7
Toko kami memang spesialis pakaian muslimah, tapi Zahra punya ide cerdas untuk menyediakan satu etalase khusus. Di sana, dia menjual berbagai macam pakaian dalam wanita, mulai dari lingerie, BH, sampai thong dan g-string. Etalase ini posisinya agak tersembunyi, jadi hanya pelanggan wanita yang benar-benar ingin tahu yang akan menemukannya. Pelanggan kami banyak yang juga bercadar, dan mereka sering menganggap Zahra sebagai konsultan rahasia mereka. Di balik kain cadarnya, Zahra sering membisikkan tips intimasi atau merekomendasikan model lingerie terbaru yang bisa membuat suami terpikat. Aku nggak keberatan sama sekali, malah merasa lucu melihat bagaimana mereka berbagi rahasia kewanitaan di sela-sela memilih gamis.
36Please respect copyright.PENANAxvYlSYSwV9
----------
36Please respect copyright.PENANAWhHVegz5Tn
36Please respect copyright.PENANA4eNXXUcq6n
Bagiku, Zahra adalah definisi sempurna dari kecantikan yang terjaga dengan sangat rapi. Aku merasa menjadi pria paling beruntung karena bisa memiliki istri yang tidak hanya cantik secara fisik, tapi juga begitu sholehah. Kalau aku membandingkannya dengan istri teman-teman tongkronganku, Zahra benar-benar berada di level yang berbeda.
36Please respect copyright.PENANALEBUS9LlJg
Mencari wanita cantik itu sebenarnya perkara mudah karena mereka ada di mana-mana, mulai dari mall sampai media sosial. Tapi, menemukan wanita yang mau menutup aurat dengan konsisten dan menjaga agamanya dengan sungguh-sungguh itu yang sulit. Banyak wanita cantik di luar sana, tapi tidak semuanya paham esensi ibadah atau memiliki ketenangan jiwa seperti yang dimiliki Zahra. Ia tahu kapan harus bersikap tegas sebagai pengusaha dan kapan harus menjadi lembut sebagai seorang istri. Itulah alasan kenapa aku sangat bersyukur setiap kali terbangun di sampingnya. Bagiku, cadar itu bukan penghalang, melainkan bingkai yang membuat kecantikannya terasa eksklusif hanya untukku.
36Please respect copyright.PENANAeI0w5Aw8FA
Namun, rasa syukur itu belakangan ini seringkali beradu dengan perasaan tidak nyaman yang sulit kujelaskan. Ada satu pelanggan pria yang akhir-akhir ini terlalu sering mampir ke toko kami, padahal dia tahu betul kalau kami tidak menjual barang untuk laki-laki. Namanya kalau tidak salah adalah Pak Hendra, seorang pria paruh baya dengan penampilan yang terlalu rapi untuk sekadar lewat. Dia sering datang dengan alasan ingin memesan gamis untuk istrinya atau mencari kado untuk kerabat wanitanya. Masalahnya, setiap kali dia datang, tatapannya tidak pernah benar-benar tertuju pada katalog pakaian yang ditunjukkan Zahra. Matanya seringkali tertuju pada sosok Zahra, seolah sedang berusaha menebak apa yang ada di balik kain penutup wajah itu.
36Please respect copyright.PENANAmYUfHfC7dL
Aku mencoba berpikir positif dan menganggap itu hanya rasa penasaran biasa, sampai suatu sore aku menyadari sesuatu yang aneh. Area jemuran pakaian dalam Zahra berada di bagian belakang toko, tertutup tembok tinggi namun memiliki celah kecil di bagian atas yang mengarah ke gang samping. Awalnya aku pikir aku hanya salah hitung saat membantu Zahra mengangkat jemuran. Tapi setelah kejadian itu terulang tiga kali dalam dua minggu, aku mulai merasa ada yang tidak beres. Satu per satu pakaian dalam pribadi Zahra hilang, mulai dari celana dalam katun yang sederhana sampai lingerie renda hitam favoritnya yang biasanya hanya kupakai untuk malam jumat.
36Please respect copyright.PENANADf23YJk5C6
Yang membuatku semakin curiga adalah pola hilangnya barang-barang tersebut yang selalu bertepatan dengan hari kunjungan Pak Hendra. Tidak mungkin seorang pencuri masuk ke area belakang hanya untuk mengambil pakaian dalam bekas tanpa menyentuh barang berharga lainnya di toko. Ada sesuatu yang terasa sangat intim sekaligus menjijikkan dari cara barang-barang itu lenyap secara sistematis. Aku mulai memperhatikan setiap gerak-gerik pria itu dengan lebih teliti, mencoba mencari tahu apakah instingku benar atau aku hanya terlalu posesif. Rasa cemburu mulai menggerogoti ketenanganku, menciptakan ketegangan yang aneh setiap kali lonceng pintu toko berbunyi.
36Please respect copyright.PENANAiDoFNz77jg
36Please respect copyright.PENANAgJyPALcozD
Sebenarnya yang pertama kali sadar kalau ada pakaian dalam Zahra yang hilang itu justru aku. Kenapa bisa begitu? Karena aku sangat hafal setiap malam aku dan Zahra hampir selalu berhubungan badan. Hehehe, aku benar-benar bersyukur karena syahwat Zahra itu sangat besar. Meski di luar dia berhijab, berniqab, dan bercadar, ternyata nafsu di atas kasur sangat membara. Karena hampir setiap malam kami melakukannya dengan Zahra memakai lingerie atau pakaian "haram", besok paginya pakaian yang penuh lendir itu pasti langsung dicuci. Nah, karena aku hafal betul semalam Zahra pakai "baju dinas" warna apa, jadi terasa sangat aneh ketika pakaian itu tiba-tiba hilang lenyap entah ke mana.
36Please respect copyright.PENANAiWAYlO9Z00
Aku mencoba mengingat kembali kapan tepatnya keanehan ini dimulai. Awalnya aku pikir mungkin saja pakaian itu terselip di tumpukan baju lain atau terbawa saat dicuci bersama. Namun, ketika lingerie merah marun dengan tali tipis yang baru kubelikan bulan lalu tidak kunjung muncul, aku mulai merasa ada yang janggal. Pakaian itu adalah salah satu favoritku karena membuat lekuk tubuh Zahra terlihat sangat menggoda. Aku bahkan sempat bertanya pelan pada Zahra saat kami sedang bersantai, tapi dia hanya menjawab dengan polos kalau dia tidak merasa kehilangan apa pun. Sepertinya dia memang tidak terlalu memperhatikan jumlah pakaian dalamnya sebanyak aku memperhatikan setiap jengkal tubuhnya.
36Please respect copyright.PENANAoDzVdSE9rl
36Please respect copyright.PENANAuEe5wegLW3
---------
Soal kehilangan-kehilangan pakaian dalam ini entah kenapa Zahra tampak terlalu santai, padahal yang hilang adalah pakaian dia. Dan yang hilang itu pakaian dalam, yang seksi.
36Please respect copyright.PENANAPulhaepPJW
36Please respect copyright.PENANA5qP3SEl9j2
"Mungkin terbang kebawa angin, Mas," jawab Zahra santai sambil melipat mukena. Dia sama sekali nggak terlihat panik atau terganggu meski aku baru saja bilang kalau lingerie merah marunnya hilang lagi. Baginya, kehilangan sepotong kain kecil itu bukan masalah besar yang harus diperdebatkan sampai sore. Dia malah tersenyum di balik cadarnya, sebuah senyum yang bisa kurasakan dari lekukan matanya yang menyipit. Aku cuma bisa melongo melihat betapa rileksnya dia menghadapi situasi ini. Rasanya aku seperti bicara dengan tembok yang sangat tenang dan tidak peduli.
36Please respect copyright.PENANAVEmJDfiADN
Lalu, dia mengucapkan sesuatu yang benar-benar membuat jantungku hampir copot. Zahra bilang, anggap saja itu sedekah buat orang yang mencurinya, supaya orang itu bisa membayangkan tubuhnya saat memegang kain itu. Jujur saja, aku kaget bukan main mendengar kalimat yang keluar dari mulut istriku. Aku terdiam beberapa saat, mencoba mencerna bagaimana mungkin seorang wanita yang sudah hijrah sedalam itu punya pikiran seperti ini. Pikiran itu terasa begitu liar dan sangat tidak biasa bagi sosok yang terlihat begitu tertutup. Aku sampai harus berkedip beberapa kali untuk memastikan aku tidak salah dengar.
36Please respect copyright.PENANAqil0pJjJNE
Sebenarnya aku tahu, Zahra mungkin cuma ingin menghiburku supaya aku nggak terlalu stres dan terus-terusan curiga. Dia tahu aku tipe orang yang gampang kepikiran, jadi dia mencoba mencairkan suasana dengan candaan yang agak berani. Tapi, di sudut hatiku yang paling dalam, ada rasa takut yang tiba-tiba muncul. Aku takut kalau ternyata dia benar-benar berpikir begitu dan merasa senang ada orang asing yang mengincar privasinya. Ada perang batin yang berkecamuk antara rasa percaya pada kesolehannya dan rasa cemburu sebagai seorang suami.
36Please respect copyright.PENANAYatwivw7tA
Setelah momen aneh itu, aku mencoba kembali fokus pada pekerjaan, meski pikiranku sudah melayang ke mana-mana. Aku melihat ke arah pintu depan toko, berharap Pak Hendra tidak muncul lagi hari ini. Setiap kali mengingat ucapan Zahra, ada perasaan aneh yang menggelitik, campuran antara rasa geli dan rasa tidak terima. Aku tidak ingin berbagi imajinasi tentang tubuh istriku dengan pria mana pun, apalagi dengan pencuri pakaian dalam. Bagiku, setiap inci dari Zahra adalah wilayah terlarang yang hanya boleh aku jelajahi sendirian.
36Please respect copyright.PENANAV2G3ZvypuM
----------
36Please respect copyright.PENANAXTiDG5ZG74
36Please respect copyright.PENANA3uQCeF0iOh
Sore ini toko kami tutup lebih awal dari biasanya. Alasan utamanya adalah karena malam ini ada jadwal kajian rutin di masjid dekat kompleks rumah kami. Sebenarnya aku merasa malas sekali karena badan sudah remuk setelah seharian melayani pelanggan. Tapi kalau sudah urusan agama, Zahra tidak bisa diajak kompromi dan pasti memaksaku ikut. Dia memang sangat ketat soal ibadah sejak memutuskan hijrah beberapa tahun lalu. Bagiku, mengikuti kemauannya adalah cara paling cepat agar suasana rumah tetap damai.
36Please respect copyright.PENANAg9Xb7lrB5O
Kajian yang sering kami datangi ini punya topik yang menurutku agak tidak biasa. Isinya hampir selalu berkutat soal nasihat rumah tangga, keharmonisan antara istri dan anak, sampai urusan ranjang. Bahkan, beberapa kali pematerinya terang-terangan menganjurkan poligami sebagai solusi kebahagiaan keluarga. Jujur saja, dalam benakku kajian ini terasa aneh karena terlalu fokus pada urusan domestik dan nafsu. Namun, aku tetap mengangguk setuju di depan jamaah lain demi menjaga perasaan istriku. Aku hanya mencoba menyerap hal-hal positif yang bisa kami terapkan berdua.
36Please respect copyright.PENANAeVFSihIto6
Setelah makan malam sederhana, kami mulai bersiap-siap untuk berangkat. Aku memperhatikan Zahra yang sedang memilih gamis di depan cermin besar di kamar. Sambil membetulkan letak kopiahku, aku mengingatkannya agar tidak memakai pakaian yang terlalu mencolok. Aku bilang padanya untuk jangan tampil terlalu cantik malam ini. Aku khawatir perhatian laki-laki di masjid nanti justru teralihkan dari ceramah ke arahnya. Apalagi bayangan tentang pencuri pakaian dalam itu masih menghantui pikiranku sampai sekarang.
36Please respect copyright.PENANAkqjCNjZHgT
"Ingat ya, pakai yang simpel saja, jangan yang terlalu membentuk tubuh," kataku sambil menatapnya tajam. Zahra hanya tertawa kecil di balik cadarnya, sebuah tawa yang terdengar seperti ejekan lembut bagiku. Dia seolah menganggap kekhawatiranku ini adalah hal yang menggemaskan, padahal aku sedang serius. Dia kemudian memilih gamis hitam polos yang longgar, namun entah kenapa tetap terlihat anggun. Baginya, menutup aurat bukan berarti menghilangkan pesona, tapi justru menyimpannya untuk orang yang tepat.
36Please respect copyright.PENANAx2g3tGeiaJ
Sepanjang perjalanan menuju masjid, aku terus memikirkan ucapan Zahra tempo hari tentang sedekah imajinasi. Ada rasa panas yang menjalar di dadaku setiap kali membayangkan Pak Hendra atau pria mana pun memegang renda-renda pakaian dalam istriku. Aku menggenggam tangan Zahra lebih erat saat kami berjalan masuk ke area masjid. Aku ingin semua orang tahu bahwa wanita di sampingku ini adalah milikku sepenuhnya. Sementara itu, Zahra hanya berjalan dengan tenang, seolah dia tahu persis bagaimana cara memainkan perasaan cemburuku.
36Please respect copyright.PENANA10Qx2Ht9VX
----
36Please respect copyright.PENANAKSg7vWpLRh
36Please respect copyright.PENANAxqSZ0KwzGD
Masjid itu letaknya memang cukup dekat dari rumah dan toko kami, jadi kami lebih memilih untuk jalan kaki saja. Udara sore itu terasa lembap, dan sejujurnya badanku masih terasa remuk setelah seharian berkutat dengan stok pakaian. Zahra yang menyadari langkahku mulai melambat terus saja menyemangatiku dengan kata-kata manis. Dia berjalan dengan sangat ringan, kontras sekali dengan langkahku yang terasa berat. Sambil sesekali membenarkan letak cadarnya yang tertiup angin, dia terus mengajakku mengobrol. Aku hanya bisa tersenyum tipis, berusaha mengimbangi ritme jalannya yang energik.
36Please respect copyright.PENANA361NUCElVD
Tiba-tiba, Zahra berbisik pelan di sampingku, menawarkan sesuatu yang langsung membuat rasa capekku menguap. "Nanti sehabis kajian, kita sunnah yuk, Mas?" ucapnya dengan nada yang menggoda. Aku sudah sangat paham kalau 'sunnah' yang dia maksud bukan sekadar ibadah biasa, melainkan berhubungan badan di atas ranjang. Seketika itu juga, semangatku kembali berkobar dan aku mengangguk dengan sangat antusias. Melihat reaksiku, Zahra tampak senang karena berhasil mengembalikan mood-ku yang tadinya sedang turun. Dia seolah tahu persis tombol mana yang harus ditekan untuk membuatku ceria lagi.
36Please respect copyright.PENANAsB4ltdErl1
Belum sempat aku membalas, dia justru melontarkan pertanyaan yang membuatku hampir tersedak ludah sendiri. "Mas mau nanti aku pakai lingerie, atau full polosan saja?" tanyanya dengan suara yang sangat rendah namun jelas. Sebenarnya, pembicaraan seperti ini sama sekali tidak pantas dilakukan di ruang publik, apalagi kami sedang menuju tempat ibadah. Tapi aku tahu, Zahra sengaja melakukan ini untuk mengalihkan pikiranku dari rasa cemburu dan lelah. Dia ingin aku merasa diinginkan dan bersemangat menghadapi sisa hari ini. Aku merasa jantungku berdegup lebih kencang mendengar keberaniannya.
36Please respect copyright.PENANAGf25HmXWrs
Sambil tertawa kecil, aku menjawab dengan ide yang sebenarnya cuma bercanda. "Aku mau kamu pakai g-string saja, tapi tetap pakai cadar," kataku sambil terkekeh. Bayangan melihat istriku tampil tidak senonoh namun tetap tertutup kain hitam di wajahnya terasa sangat liar sekaligus menggairahkan. Aku tidak menyangka kalau imajinasiku bisa liar seperti itu di tengah jalan menuju masjid. Namun, menurutku itu akan menjadi kontras yang luar biasa menarik untuk kunikmati nanti malam. Aku hanya ingin melihat sejauh mana dia bisa mengikuti permainan fantasiku.
36Please respect copyright.PENANAvlsnin8AXt
Tak disangka, Zahra justru memeluk lenganku erat dan mengiyakan permintaanku itu tanpa ragu. "Boleh, nanti kita main yang lama ya, Mas," bisiknya sambil mengecup pipiku sekilas. Sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku merasa menjadi pria paling beruntung karena memiliki istri yang bisa menyeimbangkan sisi religius dan sisi gilanya dengan sangat sempurna. Rasa kesal soal pakaian dalam yang hilang tadi seolah tertutup oleh rasa bahagia yang meluap-luap. Kami pun melanjutkan langkah menuju masjid dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
36Please respect copyright.PENANAs327T8K5Rj
36Please respect copyright.PENANACz5JQYF6Yy
Sesampainya di area masjid, suasana sudah mulai ramai oleh jamaah pria dan wanita yang terpisah safnya. Aku mengantar Zahra sampai di batas area wanita dengan penuh rasa protektif, memastikan tidak ada mata pria yang terlalu lama menatapnya. Saat dia berbalik untuk masuk, dia sempat memberikan kedipan mata yang hanya bisa kulihat dari celah kecil di atas cadarnya. Gestur kecil itu terasa seperti janji rahasia yang hanya kami berdua yang tahu. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak di dalam dadaku agar bisa fokus mendengarkan ceramah nanti.
36Please respect copyright.PENANAsryA9NTQTj
Namun, saat aku melangkah mencari tempat duduk di saf tengah, mataku tiba-tiba menangkap sosok yang sangat kukenali. Di ujung teras masjid, berdiri Pak Hendra dengan pakaian koko putih bersih dan peci yang terpasang sangat rapi. Dia sedang mengobrol dengan beberapa pengurus masjid, tapi begitu melihatku, dia melemparkan senyum ramah yang terasa sangat palsu di mataku. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku merasa tidak nyaman, seolah dia tahu rahasia kecil tentang apa yang sedang terjadi di belakang toko kami. Aku terdiam sejenak, menyadari bahwa pria ini mungkin lebih sering hadir dalam hidup kami daripada yang kubayangkan.
36Please respect copyright.PENANAn1HRCWJAva
---------
36Please respect copyright.PENANAsl82GRcpZj
36Please respect copyright.PENANA9dcwLj7GxF
Begitu melihatku, Pak Hendra langsung menepok-nepok karpet kosong di sampingnya dengan semangat. Dia memberi isyarat lewat gerakan tangan agar aku segera duduk di sana bersamanya. Dengan perasaan campur aduk, aku terpaksa menghampirinya sambil memaksakan senyum tipis. Dia menyambutku dengan sangat akrab, menjabat tanganku erat, dan mulai bertanya soal kabarku. Tak butuh waktu lama sampai namanya Zahra muncul dalam percakapan kami yang terasa dipaksakan. Dia memuji-muji istriku dengan kalimat yang menurutku sudah terlalu berlebihan untuk ukuran pelanggan toko.
36Please respect copyright.PENANArU2VJZeFyV
Aku merasa sangat risih, tapi sebagai orang yang berdagang, aku tidak bisa tiba-tiba marah atau membentaknya. Setiap kali dia menyebut nama Zahra atau memuji kesolehannya, senyumannya berubah menjadi aneh. Ada kilatan di matanya yang terasa seperti tatapan orang mesum yang sedang membayangkan sesuatu. Dia bicara soal betapa "terjaganya" Zahra, namun nadanya justru terdengar seperti sedang menguliti privasi istriku. Aku hanya bisa menjawab singkat-singkat sambil terus menggeser posisi dudukku agar ada sedikit jarak. Hatiku mulai bergejolak, mencoba menahan emosi yang mendidih di balik wajah datarku.
36Please respect copyright.PENANAoDqLiv1cwy
Seketika itu juga, ingatanku terlempar pada ucapan Zahra tempo hari soal pakaian dalamnya yang hilang. Dia bilang itu anggap saja sedekah supaya si pencuri bisa membayangkan bagaimana "kebinalan" Zahra di balik cadarnya. Aku mendadak merinding membayangkan jika pria yang duduk tepat di sampingku inilah orangnya. Pikiran itu terasa begitu nyata sampai aku merasa mual secara tiba-tiba. Rasanya mengerikan membayangkan Pak Hendra memegang kain renda milik istriku sambil tersenyum seperti itu. Namun, kalau dipikir-pikir, memang tidak ada orang mesum lain di sekitar sini yang cukup nekat mencuri pakaian dalam istri orang.
36Please respect copyright.PENANAdP7WEPpt0p
Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan membetulkan letak peci, tapi Pak Hendra justru semakin menjadi-jadi dalam pembicaraannya. Dia mulai bertanya apakah toko kami sedang butuh bantuan atau ada barang baru yang menarik. Aku merasa dia tidak benar-benar tertarik pada bisnis pakaian muslimah kami sama sekali. Fokusnya hanya satu, yaitu mencari celah untuk terus membicarakan Zahra dengan cara yang halus namun menjebak. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti sindiran yang hanya dipahami oleh orang-orang dengan pikiran kotor. Aku hanya bisa beristighfar dalam hati, mencoba tetap tenang meski rasa cemburuku sudah sampai ke ubun-ubun.
36Please respect copyright.PENANAcn2am4uPNv
Tepat saat itu, ustadz pemateri mulai naik ke mimbar dan suasana masjid perlahan menjadi hening. Pak Hendra akhirnya berhenti bicara, tapi dia sempat melirik ke arah saf wanita dengan tatapan yang sangat intens. Aku refleks menoleh ke arah Zahra, yang saat itu sedang duduk tenang mendengarkan pembukaan ceramah. Kontras antara kesucian suasana masjid dan pikiran kotor yang berkecamuk di kepalaku membuatku merasa tertekan. Aku menggenggam jempolku sendiri dengan kuat, mencoba mengusir bayangan lingerie merah marun yang mungkin sekarang tersimpan rapi di lemari pria di sebelahku ini. Malam ini, janji 'sunnah' bersama Zahra menjadi satu-satunya hal yang bisa menenangkan sarafku yang tegang.
36Please respect copyright.PENANAf87qjwBNgS
--------
36Please respect copyright.PENANAgvL8mHKQ9v
36Please respect copyright.PENANAnDgUGoEZWl
Sumpah, aku benar-benar nggak menyangka kalau topik kajian malam ini bakal nyasar ke urusan ranjang lagi. Pak Ustadz mulai masuk ke pembahasan tentang sunnah, tapi kali ini fokusnya spesifik banget soal hubungan badan antara suami istri. Jujur saja, aku sudah mulai bosan dengar bahasan yang itu-itu saja setiap kali datang ke sini. Rasanya seperti mendengarkan kaset rusak yang diputar ulang setiap bulan. Tapi anehnya, bapak-bapak di sekelilingku justru terlihat sangat semangat dan menyimak dengan serius. Mereka saling sikut dan berbisik seolah-olah ini adalah ilmu rahasia yang paling penting dalam hidup mereka.
36Please respect copyright.PENANAKn2Rd5mZde
Pak Ustadz menyambut antusiasme jamaah dengan memberikan penjelasan yang sangat detail dan panjang lebar. Beliau bilang kalau hubungan badan suami istri itu bukan cuma soal nafsu, tapi ibadah yang berpahala besar. Karena itu, menurut beliau, prosesnya harus disetting senikmat dan senyaman mungkin supaya hasilnya maksimal bagi keharmonisan rumah tangga. Penjelasan beliau makin menjadi-jadi sampai masuk ke ranah teknis bagaimana cara membangkitkan gairah pasangan. Aku cuma bisa menghela napas sambil melirik jam tangan, berharap ceramah ini cepat selesai.
ns216.73.217.36da2


