Fajar hari Kamis belum sepenuhnya menyingsing di langit Margahayu. Udara dingin masih menyelimuti kompleks perumahan itu. Di saat sebagian besar warga masih terlelap dalam selimut, Ridwan telah berdiri di dapur megah milik Maya.
Pemuda itu memutar perlahan keran air untuk mencuci bahan makanan. Senyum tipis, puas, dan penuh teka-teki tak lepas dari bibirnya. Malam tadi adalah malam yang panjang dan luar biasa. Ia telah menegaskan posisinya bukan lagi sekadar penjaga kos, melainkan raja di rumah ini. Hadiah ponsel mewah dan segepok uang tunai di kamarnya adalah bukti nyata bahwa Maya telah sepenuhnya bertekuk lutut.
Pagi ini, Ridwan memutuskan untuk memainkan peran barunya dengan sempurna. Ia akan menjadi kekasih yang tak tergantikan.
Dengan cekatan, Ridwan memasak hidangan sederhana namun dengan racikan bumbu khas desa yang luar biasa nikmat: nasi liwet hangat, ayam goreng ketumbar, dan tumis kangkung terasi. Tidak lupa, ia meracik sebuah jamu rahasia dari jahe, kunyit, dan madu murni resep warisan ayahnya untuk memulihkan stamina wanita setelah malam yang panjang.
Setelah tugas rutinnya membuka gerbang kos selesai, Ridwan kembali masuk ke rumah utama. Ia melangkah tanpa suara menaiki tangga pualam, membawa nampan berisi sarapan dan jamu itu menuju kamar utama.
Klek. Pintu terbuka perlahan.
Di atas ranjang, Maya masih terlelap dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun, hanya tertutup selimut tebal sebatas pinggang. Wajah lelahnya terlihat begitu damai.
Ridwan meletakkan nampan di atas nakas. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wanita cantik yang lebih tua tujuh tahun darinya itu dengan sorot mata memuja sekaligus mendominasi. Perlahan, Ridwan menunduk. Ia mendaratkan kecupan-kecupan seringan bulu di bahu telanjang Maya, merambat ke leher, hingga ke rahangnya.
Maya melenguh pelan dalam tidurnya. Merasakan respons itu, Ridwan menggeser wajahnya, menggosokkan pucuk hidungnya yang mancung ke hidung Maya berulang kali.
Hembusan napas hangat dan gesekan lembut itu akhirnya membuat Maya membuka matanya perlahan. Janda cantik itu tersenyum manja, matanya berbinar melihat wajah tampan Ridwan adalah hal pertama yang menyapanya pagi ini.
"Bangun, Ratu kesayanganku," bisik Ridwan dengan suara baritonnya yang serak dan membuai, mengusap anak rambut Maya. "Aku sudah buatkan sarapan dan jamu untuk memulihkan tenagamu."
Hati Maya seakan meleleh menjadi cairan madu. Ia belum pernah diperlakukan seistimewa ini, bahkan oleh mantan suaminya sekalipun. "Kamu manis sekali, Sayang... tapi badanku rasanya hancur. Aku tidak kuat jalan ke bawah," rajuk Maya manja.
Ridwan tersenyum. Ia meraih sebuah lingerie berbahan sutra yang bentuknya menyerupai daster pendek dari atas kursi. Dengan gerakan gentle dan sangat telaten, Ridwan memakaikan pakaian itu ke tubuh Maya. Setelah itu, tanpa peringatan, Ridwan menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Maya dan satu lagi di punggungnya. Ia mengangkat tubuh sintal wanita itu ala bridal style dengan sangat mudah, seolah Maya seringan bulu.
"Ah! Ridwan!" Maya terpekik pelan, refleks mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh pemuda itu.
Ridwan membawanya menuruni tangga. Di setiap ayunan langkah Ridwan, Maya bisa merasakan detak jantung pemuda itu berdegup stabil di balik dadanya yang bidang. Hawa panas dari tubuh maskulin Ridwan menembus kulitnya, memberikan rasa aman dan perlindungan yang telah lama ia rindukan. Maya menenggelamkan wajahnya di dada Ridwan, menghirup aroma sabun dan keringat pria sejati itu dalam-dalam.
Mereka sarapan bersama di meja makan dengan suasana yang sangat intim. Maya terus tersenyum, pipinya merona setiap kali Ridwan menyuapkan makanan ke mulutnya. Selesai makan, Maya yang merasa staminanya mulai kembali berkat jamu racikan Ridwan, menarik tangan pemuda itu ke halaman belakang.
"Berenang yuk. Cuacanya mulai hangat," ajak Maya.
Tentu saja, acara berenang itu tidak sekadar olahraga. Di dalam air kolam yang biru, di bawah sinar matahari pagi, Ridwan dan Maya saling membelit. Air menyembunyikan sentuhan-sentuhan nakal tangan besar Ridwan yang menyusup ke balik pakaian renang Maya. Ciuman panas yang basah bertukar di tengah kolam. Setiap kali Maya mencoba menjauh, Ridwan akan menarik pinggangnya kembali, menempelkan tubuh mereka hingga Maya bisa merasakan pusaka pemuda itu kembali mengeras di bawah air. Namun, Ridwan menahan diri. Ia sengaja menggantung gairah Maya, membuat janda itu semakin tergila-gila.
Setelah puas berenang, Maya mengajak Ridwan melakukan yoga di atas matras pinggir kolam. Ridwan yang tidak tahu apa-apa hanya menurut. Dulu ia hanya bisa mengintip, kini ia menjadi partnernya. Sembari memegang pinggang Maya untuk "membantu" meluruskan posturnya, Ridwan mencuri-curi kesempatan. Sentuhan kulitnya, napasnya di leher Maya, semuanya dirancang untuk menjaga gairah Maya tetap menyala.
Kelelahan beraktivitas, mereka kembali ke kamar dan tidur siang berpelukan, meresapi kebahagiaan yang terasa begitu nyata.
Namun, kedamaian sore itu terpecah oleh dering ponsel Maya di atas nakas.
Maya mengangkatnya dengan malas. Di seberang sana, terdengar suara seorang wanita. Itu Kania.
"Mbak Maya, maaf mengganggu. Anu... guru ngaji anakku tiba-tiba sakit sore ini. Padahal besok pagi di sekolah swastanya ada tes hafalan surat pendek dan bacaan Iqro. Aku bingung nyari pengganti dadakan. Katanya penjaga kos Mbak Maya anak pesantren dari desa ya? Bisa baca Al-Qur'an kan? Boleh nggak aku minta tolong dia ngajar anakku malam ini aja habis Maghrib?"
Ridwan yang telinganya tajam, mendengar percakapan itu meski tak di-loudspeaker. Seketika, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum yang sangat tipis dan licik.
Insting predatornya langsung berbunyi nyaring. Kania. Ibu muda berusia dua puluh delapan tahun yang sering ia lihat pagi hari di taman. Wanita yang selalu mengenakan pakaian tertutup, namun memiliki paras ayu khas Sunda dengan kelembutan yang memikat. Di mata Ridwan yang kini telah dirasuki iblis penakluk, wanita berhijab yang kesepian adalah sebuah tantangan perburuan yang paling eksotis. Target selanjutnya telah datang menyerahkan diri.
Maya menutup telepon pembicaraan. Wajahnya terlihat gusar. "Kania minta tolong kamu ngajar ngaji anaknya nanti malam. Aku mau tolak, rasanya aku masih ingin bermanja-manja sama kamu semalaman."
Ridwan mengusap pipi Maya dengan lembut. "Mbak Maya, kita tidak boleh egois. Kalau ditolak tanpa alasan, nanti Bu Kania atau warga lain bisa curiga kenapa Mbak menahanku terus di rumah. Biarlah aku pergi sebentar. Hitung-hitung menjaga citra baikku di kampung ini."
Mendengar alasan logis itu, Maya menghela napas pasrah. "Baiklah. Tapi kamu pulangnya jangan malam-malam ya."
Untuk menebus waktu yang akan tersita nanti, Ridwan memanjakan Maya di sisa sore itu. Ia membawa Maya duduk di pangkuan ayunan kayu di teras belakang yang menghadap kolam renang. Maya duduk menyamping di pangkuan Ridwan, menyandarkan kepalanya di dada sang pemuda. Ridwan mengayunkan mereka perlahan, membiarkan Maya bercerita tentang masa mudanya, ambisinya, dan kegagalannya. Sebagai pria yang tahu cara mengambil hati wanita, Ridwan menjadi pendengar yang sempurna. Ia memberikan pujian-pujian yang membuat Maya merasa dirinya adalah wanita paling berharga di dunia.
Hingga azan Maghrib berkumandang, Ridwan pun bangkit. Ia membersihkan diri, mengenakan kemeja koko berwarna putih bersih, celana bahan gelap, dan meminjam motor Honda Stylo milik Maya untuk menuju rumah Kania.
Jarak rumah Kania tidak terlalu jauh, berada di blok yang lebih tenang dengan pepohonan rindang. Saat Ridwan memencet bel, pintu berderit terbuka.
Di ambang pintu, berdirilah Kania.
Napas Ridwan sedikit tertahan, meski wajahnya tetap datar. Kania mengenakan gamis rumahan berwarna peach pastel dan hijab instan yang menutup dada. Meskipun tertutup rapat, bahan kain yang jatuh itu tetap mencetak siluet tubuhnya yang padat dan ranum sebagai seorang ibu muda. Wajah Kania putih bersih, tanpa riasan berlebih, memancarkan aura kesucian yang membuat iblis di dalam dada Ridwan semakin berontak ingin menodainya.
"Assalamualaikum, Mas Ridwan. Maaf banget ya jadi merepotkan malam-malam," sapa Kania dengan senyum ramah dan sopan.
"Waalaikumsalam, Bu Kania. Tidak apa-apa, ini juga ladang pahala buat saya," jawab Ridwan sambil menundukkan pandangannya sebuah gestur alim yang kini hanya menjadi topeng mematikannya.
Ridwan dipersilakan masuk. Di ruang tengah, seorang anak laki-laki berusia enam tahun sudah duduk rapi di depan meja lipat kecil. Ridwan duduk bersila di hadapannya. Pemuda itu memang memiliki bekal ilmu agama yang kuat dari desanya. Selama satu setengah jam, lantunan ayat suci terdengar merdu dan fasih dari mulut Ridwan, mengajari dan membenarkan tajwid anak Kania dengan sangat sabar dan keibuan.
Kania, yang duduk di sofa tak jauh dari sana sambil melipat pakaian, diam-diam memperhatikan. Hatinya menghangat. Melihat sosok laki-laki yang sabar mengajari anaknya mengaji adalah pemandangan yang sangat ia rindukan. Suaminya tidak pernah melakukan ini.
Setelah jam menunjukkan pukul delapan lewat, pelajaran selesai. Anak itu mencium tangan Ridwan dan masuk ke kamar untuk bermain.
"Terima kasih banyak, Mas Ridwan. Bacaan Mas bagus sekali, anak saya sampai langsung paham tajwidnya," puji Kania, membawakan secangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng hangat ke atas meja tamu.
"Alhamdulillah. Putranya memang cerdas, Bu," jawab Ridwan, menyesap kopinya perlahan.
Kania duduk di sofa yang berhadapan dengan Ridwan. Keheningan sempat menyelimuti mereka. Di luar, suara angin malam membuat suasana di dalam rumah terasa semakin sepi. Entah karena aura Ridwan yang begitu menenangkan, atau karena beban di dadanya sudah terlalu penuh, Kania tiba-tiba merasa butuh teman bicara. Ia butuh siraman rohani.
"Mas Ridwan ini... bicaranya tenang sekali. Pasti ilmu agamanya dalam," Kania memulai dengan suara lirih. "Kadang, aku merasa iri melihat keluarga di desa yang hidup sederhana tapi batinnya tenang. Di sini... walau rumah besar, rasanya kosong."
Ridwan meletakkan cangkirnya. Ia menatap mata Kania lekat-lekat, memberikan seluruh perhatiannya. "Apakah Ibu merasa kesepian?"
Pertanyaan yang begitu menohok namun diucapkan dengan nada sangat lembut itu membuat pertahanan Kania runtuh. Air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Suamiku PNS di kementerian pusat, Mas. Jabatannya lumayan. Tapi... dia jarang sekali pulang. Seminggu sekali pun belum tentu. Kalau pulang, dia cuma tidur karena lelah," Kania tersenyum getir, meremas ujung hijabnya. "Aku menikah umur delapan belas, baru lulus SMA. Ini murni perjodohan. Suamiku lebih tua tujuh tahun. Aku tidak pernah tahu rasanya pacaran, rasanya dikejar-kejar atau disayang layaknya seorang kekasih. Aku langsung jadi istri, lalu jadi ibu. Kadang aku merasa... aku ini cuma penjaga rumah dan pengasuh anaknya saja."
Inilah celahnya. Ridwan, sang singa yang menyamar menjadi domba, mulai merangkai jaringnya.
"Bu Kania," suara bariton Ridwan mengalun, dalam dan berwibawa layaknya seorang Ustadz. "Dalam agama, memang kesetiaan istri adalah kunci surga. Tapi, Tuhan itu Maha Tahu bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, letaknya dekat dengan hati untuk disayangi, dan di bawah lengan untuk dilindungi."
Ridwan mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya mengunci tatapan Kania. "Ada sebuah kisah lama... tentang seorang wanita yang hatinya mati karena diabaikan. Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya tersiksa dalam kesepian yang membunuh kalbu. Terkadang, ujian itu datang bukan dalam bentuk musibah, melainkan dalam bentuk... kehadiran seseorang yang dikirimkan untuk menghidupkan kembali hati yang mati itu."
Suara Ridwan semakin rendah, berubah menjadi bisikan yang menghipnotis. "Sebuah pernikahan yang hanya di atas kertas tanpa ada nafkah batin, tanpa ada kehangatan yang mengalir, adalah kezaliman bagi seorang istri. Bu Kania masih sangat muda, sangat cantik. Tubuh dan jiwa Ibu berhak merasakan getaran. Terkadang, mengambil sedikit kehangatan untuk menyelamatkan kewarasan jiwa... adalah sebuah rahasia antara hamba dan Penciptanya."
Kania tertegun. Bulu kuduknya meremang hebat. Perkataan Ridwan terdengar seperti nasihat agama yang menenangkan, namun jika ditelaah lebih dalam, itu adalah sebuah pembenaran atas dosa. Itu adalah undangan untuk memberontak. Namun, bagi Kania yang hatinya sudah mengering bak kerontang, kata-kata licik nan puitis itu terasa seperti setetes air di padang pasir.
Pukul sepuluh malam. Kania berpamitan sebentar untuk menidurkan anaknya ke kamar.
Di ruang tamu yang sepi, Ridwan tersenyum miring. Ia mengeluarkan ponsel baru pemberian Maya. Dengan cepat, ia mengetik pesan kepada sang janda. Mbak, maaf. Aku dicegat Bapak-bapak ronda di pos depan, disuruh ikut ngopi dan main gaple. Mungkin sampai larut. Mbak tidur duluan saja ya, jangan tunggu aku. I miss you.
Balasan dari Maya datang dengan cepat. Yah... padahal aku kangen banget. Ya sudah, kamu hati-hati. Jangan lupa besok pagi Bi Inah sudah pulang dari kampung. Luv u.
Ridwan mengunci layar ponselnya, memasukkannya ke dalam saku. Alibi sudah terbangun sempurna. Tak ada yang akan mencarinya malam ini.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar anak terbuka. Kania keluar dengan langkah gontai. Lampu ruang tengah sudah ia redupkan sejak tadi agar anaknya bisa tidur.
Melihat Ridwan masih duduk bersandar di sofa, Kania terdiam. Entah godaan setan dari mana, alih-alih duduk di seberang, Kania berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelah Ridwan. Jarak mereka hanya sebatas jengkal.
Hening. Suara detak jam dinding bergema kuat.
Nasihat melenceng Ridwan tadi terus berputar di kepala Kania, menghancurkan benteng ketakwaannya. Kesepian yang memuncak mengalahkan logikanya. Perlahan, dengan tangan bergetar, Kania menyandarkan sisi kepalanya ke dada bidang Ridwan.
Deg. Deg. Deg.
Kania memejamkan mata, merasakan ritme jantung pemuda itu. Kehangatan tubuh pria yang selama bertahun-tahun tidak ia dapatkan dari suaminya, kini memeluknya.
Ridwan tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu, mangsanya telah takluk.
Dengan gerakan yang sangat tenang, Ridwan mengangkat tangannya, merangkul bahu Kania. Ia tidak tahu bahwa sebelum Kania keluar tadi, Ridwan diam-diam telah mengunci slot pintu depan dan mematikan sakelar lampu teras agar tak ada tetangga yang curiga. Rumah ini kini menjadi sangkar emasnya.
"Bu Kania..." bisik Ridwan di telinga wanita itu, suaranya parau dan menggoda. Ibu jarinya membelai lembut rahang Kania dari balik bahan hijab.
Kania hanya melenguh pelan, tak sanggup menjawab. Tubuhnya terasa lemas oleh sentuhan itu.
Tangan Ridwan bergerak naik. Dengan perlahan namun pasti, ia menarik peniti di bawah dagu Kania. Ia meloloskan hijab instan itu dari kepala sang ibu muda, membiarkan rambut hitam legam Kania yang wangi sampo apel jatuh terurai membelai bahunya.
Melihat leher jenjang yang selama ini tertutup rapat itu terekspos, sisi predator Ridwan mengaum liar. Ia menundukkan wajahnya, langsung menyambar perpotongan leher Kania. Ia memberikan ciuman-ciuman basah, menghisap kulit putih itu hingga meninggalkan jejak kemerahan.
"Aah... M-Mas... Astagfirullah..." Kania mengerang tertahan, tangannya mencengkeram kemeja Ridwan. Namun bukannya mendorong, ia justru meremasnya erat.
Ridwan tak memberi ampun. Ia beralih ke daun telinga Kania, menggigitnya pelan sebelum akhirnya membungkam bibir ranum ibu beranak satu itu. Ciuman Ridwan begitu menuntut, buas, dan kasar, menyedot habis seluruh akal sehat Kania. Respons Kania di luar dugaan. Meskipun ia seorang ibu, ciumannya membalas dengan kaku namun penuh hasrat yang meledak-ledak. Ia bagaikan gadis perawan yang baru pertama kali merasakan sentuhan nakal pria. Bukti nyata bahwa suaminya tak pernah menyentuhnya dengan cinta.
Sambil terus melumat bibir Kania, Ridwan menarik tangan wanita itu. Ia menuntun telapak tangan Kania yang lembut ke bagian bawah perutnya.
Kania tersentak keras, matanya terbelalak di sela ciuman mereka. Tangannya menyentuh sebuah benda yang sangat keras, tebal, dan berdenyut kuat di balik celana bahan Ridwan. Ukurannya sama sekali tidak masuk akal bagi Kania. Suaminya tidak memiliki seperempat dari kebesaran pusaka pemuda ini.
Batin Kania menjerit ngeri bercampur gairah yang meledak. Ia sadar, malam ini akan menjadi malam yang sangat menyakitkan, namun sekaligus menjadi pelepas dahaga yang akan memuaskannya hingga ke sumsum tulang.
Ridwan melepaskan tautan bibir mereka. Tanpa melepaskan tatapan matanya dari Kania, pemuda itu berdiri. Dengan gerakan cepat dan maskulin, ia membuka kancing kemeja kokonya, melemparnya ke lantai, disusul oleh celana bahannya.
Di bawah cahaya remang ruang tamu, tubuh Ridwan terekspos sempurna. Otot-ototnya terbentuk alami dari kerja keras, perutnya berpetak, dan pusakanya yang gagah perkasa telah berdiri tegak lurus, menantang langit, seolah siap merobek apa pun yang menghalanginya.
Kania menelan ludah dengan susah payah. Kepolosannya sebagai wanita yang hanya mengenal satu pria seumur hidupnya membuat ia menatap takjub pada keindahan anatomi sang pemuda.
"Berdirilah, Sayang," perintah Ridwan mutlak.
Kania, yang telah sepenuhnya dihipnotis oleh gairah, berdiri dengan lutut gemetar. Ridwan melangkah maju. Tangan besarnya merengkuh pinggang Kania, sementara tangan satunya mulai melucuti gamis peach itu. Dalam hitungan detik, seluruh kain yang menutupi tubuh Kania luruh ke lantai.
Ridwan menahan napas. Tubuh Kania benar-benar mahakarya. Kulit khas wanita Sundanya putih bersih tanpa cela. Payudaranya penuh, ranum, dan menggoda, dengan perut yang masih rata meski telah memiliki satu anak.
"Kamu sangat indah," geram Ridwan.
Ia langsung membopong tubuh telanjang Kania, membaringkannya di atas karpet bulu yang tebal di ruang tamu. Ridwan tidak langsung menghunjamnya. Ia tahu, wanita ini butuh dipuja.
Ridwan memanjakan Kania dengan sentuhan yang memabukkan. Lidahnya bergerilya dari ujung kaki, menyapu paha bagian dalam, hingga akhirnya membenamkan wajahnya di pusat kewanitaan Kania.
"Hyaaah!! Ya Allaaah... Maaasss!!" Kania menjerit melengking, kepalanya terlempar ke belakang, rambutnya berserakan di atas karpet.
Sentuhan lidah dan jilatan liar dari Ridwan yang mengobrak-abrik inti kewanitaannya membuat seluruh saraf di tubuh Kania bergetar hebat. Ia menangis karena kenikmatan yang terlalu gila ini. Belum sempat pusaka itu masuk, Kania telah mengejang hebat, mencapai klimaks pertamanya dengan semburan yang luar biasa deras.
Melihat wanitanya sudah sepenuhnya siap dan basah, Ridwan tak lagi menahan diri. Ia memosisikan dirinya di antara kedua paha Kania. Menatap mata sayu wanita itu, Ridwan mengarahkan ujung senjatanya, lalu dengan satu dorongan pinggul yang brutal, ia menembus masuk.
"AAAAAARRGHHH!!"
Kania menjerit panjang, kuku-kukunya menancap kuat di punggung Ridwan hingga berdarah. Rasa sakit akibat robekan paksa karena ukuran Ridwan yang terlalu raksasa menyayat bagian dalamnya. Rahimnya terasa penuh sesak. Ia merasa seakan-akan keperawanannya baru saja direnggut kembali dengan cara yang paling buas.
"Tarik napas... ahh... rasakan aku, Kania," bisik Ridwan di sela gigitannya pada bahu wanita itu.
Setelah jeda sesaat, Ridwan mulai memompa. Ritme pinggulnya layaknya mesin penghancur. Dalam, keras, dan tanpa ampun. Suara decakan kulit beradu dengan erangan panjang memenuhi ruang tamu. Kania tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa mendesahkan nama Ridwan berkali-kali. Ia dipaksa menerima, dipaksa merentangkan batas ketahanan tubuhnya di bawah hujaman kenikmatan sang guru ngaji.
"Pindah ke kamar," titah Ridwan dengan napas terengah setelah setengah jam menghajar Kania di atas karpet.
Masih dalam keadaan menyatu, Ridwan berdiri, mengangkat tubuh Kania. Kania melingkarkan kakinya di pinggang Ridwan. Dalam posisi berdiri itu, Ridwan berjalan menuju kamar tidur utama, sambil terus mengayunkan pinggulnya, memompa pusakanya ke dalam rahim Kania di setiap langkah.
"Ahhh... Masss... dalam... terlalu dalaaamm... ya Allaaah," racau Kania, air matanya tak henti mengalir karena tak sanggup menanggung puncak-puncak gairah yang terus meledak.
Mereka tiba di kamar utama. Di atas ranjang King Size yang empuk itu, tepat di dinding, terpasang bingkai besar foto pernikahan Kania dan suaminya yang berseragam PNS.
Namun ironisnya, di bawah foto sakral itu, sang istri sedang mengangkang lebar, meliukkan tubuh polosnya di bawah dominasi laki-laki lain.
Malam itu adalah malam eksperimen keliaran bagi Kania. Ridwan membawanya melampaui batas kewarasan. Setelah gaya misionaris yang menghancurkan tulang rusuknya, Ridwan membalik tubuh Kania. Ia memaksa ibu muda yang biasanya anggun itu untuk menungging bagaikan anjing. Ridwan mengangkat sebelah kaki Kania, memosisikannya dengan sudut yang paling curam, lalu menghajarnya dari belakang tanpa ampun.
Pusaka Ridwan menembus titik terdalam, menghantam dinding rahim Kania dengan suara plak plak plak yang memekakkan telinga. Payudara ranum Kania berayun liar akibat kerasnya hentakan dari belakang.
"Hhh... Masss... bunuh saja akuuu... ahhh keluarrr ahhh!!" jerit Kania, menumpukan wajahnya di atas bantal, meremas sprei dengan keputusasaan yang nikmat.
Sepanjang malam itu, waktu seakan berhenti berputar. Hanya ada keringat, desahan, dan perpaduan dua tubuh yang terbakar api neraka. Kania, wanita yang selama ini kehausan sentuhan, benar-benar dibuat tenggelam dalam lautan gairah. Entah sudah belasan atau puluhan kali tubuhnya mengejang, mencapai klimaks yang membuatnya beberapa kali hampir kehilangan kesadaran.
Sementara bagi Ridwan, tubuh Kania adalah surga barunya. Stamina dewa perang itu seolah tak ada habisnya.
Di setiap puncak pelepasannya, Ridwan sengaja mencabut pusakanya sepersekian detik sebelum meledak, menunda klimaksnya, demi menyiksa Kania lebih lama. Hingga pada akhirnya, Kania menangis, memohon ampun agar Ridwan menuntaskan hasratnya karena tubuhnya sudah benar-benar mati rasa.
Dalam posisi Kania berbaring terlentang dengan kedua kaki diangkat ke bahu Ridwan, sang predator akhirnya mengaum keras. Tubuhnya menegang kaku, otot-otot lengannya menonjol.
"Aaaargh!!"
Dengan hentakan paling brutal yang menyentuh ujung rahim Kania, Ridwan menembakkan benihnya. Tembakan itu luar biasa deras, panas, dan beruntun, membanjiri bagian terdalam tubuh Kania. Sensasi rahimnya yang dihujami bertubi-tubi oleh lahar panas sang pemuda membuat Kania menjerit melengking untuk yang terakhir kalinya sebelum kegelapan mengambil alih kesadarannya.
Malam itu, di bawah bingkai foto pernikahan itu, Kania menerima empat kali pelepasan penuh dari Ridwan. Rahimnya luber oleh benih laki-laki yang bukan suaminya.
Saat Ridwan menghembuskan napas panjang, menempelkan keningnya yang berkeringat di dada Kania yang naik turun tak beraturan, samar-samar dari kejauhan... suara syahdu lantunan Qira'at menggema dari pelantang suara masjid desa, menandakan waktu Subuh telah tiba.
Ridwan perlahan mencabut pusakanya yang masih setengah mengeras. Cairan putih campur lendir bening menetes membasahi paha putih Kania. Sang penakluk duduk di tepi ranjang, menatap tubuh ibu muda yang telah pingsan dalam keadaan paling berantakan namun paling memuaskan itu.
Ridwan tersenyum miring. Target keduanya telah hancur dan bertekuk lutut. Dan matahari esok hari, akan membawanya lebih dekat pada takhta absolut di Margahayu.
ns216.73.216.66da2


