Aku Felisha, tapi kamu bisa panggil aku Bu Felisha kalau di kampus. Umurku tiga puluh lima, dan tubuhku masih ramping kayak model, untuk ukuran seorang ibu yang baru melahirkan setahun lalu. Payudaraku sih agak berubah bentuk, sekarang lebih lonjong kayak pepaya karena harus menyusui bayi kecilku. Kalau lagi sendiri, kadang aku masih suka geli sendiri lihat bentuknya sekarang.
2035Please respect copyright.PENANAODPOsAjOjz
Baru tiga bulan yang lalu aku resmi bercerai. Mantan suamiku bilang aku "terlalu banyak maunya," tapi menurutku dia yang nggak bisa ngikutin ritmeku. Sekarang aku tinggal di apartemen kecil dekat kampus, dan setiap pagi sebelum berangkat ngajar, aku ninggalin bayiku ke Mbak Yati, pembantu yang udah kayak keluarga sendiri. Dia yang nemenin si kecil seharian sambil aku sibuk jadi dosen.
2035Please respect copyright.PENANA288VQBvrQ7
Kampus tempat aku ngajar itu termasuk bergengsi, Universitas Pejujuran, dan aku mengampu mata kuliah Metodologi Penelitian. Tapi bukan cuma itu, aku juga jadi dosen pembimbing skripsi. Dan... aku punya *cara khusus* buat memotivasi mahasiswa. Cuma anak-anak berprestasi yang boleh nikmatin *bimbingan eksklusif* dariku. Nilai A itu tiketnya.
2035Please respect copyright.PENANATnF9gpRSRJ
------
2035Please respect copyright.PENANA3caI6FUxyc
Hari ini aku lagi di ruang dosen, sambil santai ngecek email. Kancing blus putihku aku buka dua dari atas, karena udara agak panas dan... well, payudaraku mulai terasa penuh lagi. Bayiku tadi pagi cuma minum sedikit, jadi sekarang mulai ngerasa berat. Aku geli sendiri mikirin ekspresi mahasiswa-mahasiswaku kalau tahu dosen favorit mereka suka ngepasin pompa ASI di antara jam mengajar.
2035Please respect copyright.PENANAIAy2WL0xqW
Aku masih asyik mengetik balasan email di laptopku ketika bau parfum mahal menyengat hidungku. Aku tahu persis siapa pemiliknya sebelum aku melihat, Pak Hendra, dosen Ekonomi yang selalu pakai parfum kebanggaan. "Lagi sibuk, Bu Fel?" suaranya menggelitik telingaku dari belakang. Aku pura-pura tak mendengar, tapi tahu betul matanya sedang menelusuri garis tali bra merah marunku yang sengaja kubiarkan terlihat di balik tanktop transparan.
2035Please respect copyright.PENANA9dEQC4R5ji
"Wah, baju baru?" tanya Pak Arifin tiba-tiba muncul di sampingku, kopinya hampir tumpah karena terlalu fokus melihat belahan dadaku. Aku sengaja membungkuk sedikit saat mengambil pena, membuat bagian atas tanktop melorot dan memperlihatkan lebih banyak kulit. "Bukan baju baru, Pak. Cuma aku baru sadar AC di sini panas banget," jawabku sambil tersenyum manis, tahu persis efek yang kucari.
2035Please respect copyright.PENANAqlEXmMsgWb
Di ujung ruangan, aku melihat Pak Joko tersedak minumannya saat matanya tertumbuk pada putingku yang mulai mengeras karena ASI yang penuh. Aku sengaja menggeser dudukanku agar cahaya dari jendela tepat menerangi bentuk payudaraku yang menonjol. "Ibu Felisha... ada meeting besok jam sembilan," ujarnya gagap, matanya tak bisa lepas dari gerakanku saat aku memainkan rambutku.
2035Please respect copyright.PENANAj15UQZN6uO
2035Please respect copyright.PENANAECQbk94M8I
2035Please respect copyright.PENANALaFEec8hKI
"Makasih infonya, Pak," balasku sambil berdiri perlahan, memastikan gerakanku memperlihatkan lekuk tubuhku. Tanganku pura-pura tak sengaja menyenggol cangkir kopi di meja, seolah-olah tak sengaja, tapi sebenarnya sangat dihitung, dan bendungan kecil tumpah tepat di antara payudaraku. "Aduh!" Aku terbahak sambil melihat mereka semua terdiam, mata melotot saat aku mengelap cairan hangat itu dengan jari-jariku, membuat tanktop basah semakin transparan.
2035Please respect copyright.PENANARwYEpk3YYk
"Kalian kok diam semua?" tanyaku berpura-pura polos, padahal tahu betul apa yang terjadi di celana mereka semua. Pak Hendra langsung berdehem dan berpaling, tapi aku masih bisa melihat genggaman tangannya yang mengepal di samping badan. Pak Arifin malah semakin mendekat, mengaku ingin membantu membersihkan, tapi tangannya jelas ingin meraih sesuatu yang lain. "Nggak usah repot-repot, Pak," bisikku sengaja dekat telinganya.
2035Please respect copyright.PENANAmDae481r32
"Aduh, Pak-Pak ini... kan sudah punya istri di rumah, masa masih suka jelalatan ke aku sih," aku memainkan senyum genit sambil membenarkan tali bra merah marun yang melintir di bahu. Jari-jariku dengan sengaja bergerak lambat, memastikan setiap gerakan memperlihatkan sedikit lebih banyak kulit. "Aku kan cuma janda begini, gak ada yang ngurus," keluhku dengan nada setengah bergurau, tapi mata aku mengintip reaksi mereka satu per satu.
2035Please respect copyright.PENANAnyEwP9Xpt3
Pak Hendra langsung batuk-batuk kecil, wajahnya memerah seperti anak SMA ketahuan ngintip cewek ganti baju. "Bu Fel... itu kan, " ujarnya gagap, sementara tangannya meremas-remas ujung jasnya. Aku tahu dia pengen bilang aku yang memancing, tapi jelas dia gak bakal berani ngomong langsung ke mukaku.
2035Please respect copyright.PENANALtpEtK0FE1
"Loh, aku salah ya?" aku pura-pura innocent, sambil berdiri dan sedikit membungkuk ke depan, biar belahan dadaku semakin jelas. ASI yang penuh bikin payudaraku terasa berat dan sensitif, dan aku tahu itu bikin bentuknya semakin menggoda. Pak Arifin sampai nelen ludah keras, suaranya kedengeran banget. "Pak Arifin, kamu kok kayak baru liat perempuan ya?" ledekku sambil terkekeh, sengaja memainkan rambut panjangku.
2035Please respect copyright.PENANAeS9fKctz4F
Tiba-tiba pintu ruang dosen terbuka, dan masuklah mahasiswa bimbinganku, Raka, anak yang nilainya selalu A dan sering dapat *bimbingan khusus* dariku. Matanya langsung mencuri pandang ke arahku, terutama ke bagian tanktop basah yang masih transparan menempel di kulit. "Oh, Raka!" sambutku dengan nada manja, langsung berubah fokus. "Kamu datang pas banget".
2035Please respect copyright.PENANAyNvTSnCsU3
Aku sengaja ngomong itu dengan suara agak besar biar dosen-dosen lain dengar. "Obat apa, Bu?" tanya Raka polos, padahal kita berdua tahu maksudku apa. "Obat... *stres*," jawabku sambil menggigit bibir bawah, mataku menantang. Dosen-dosen lain pada bengong, mereka tahu persis arti kode itu.
2035Please respect copyright.PENANABRPFQMKC1g
Raka itu pendek sih, tapi badannya kekar kayak anak angkat besi. Kulitnya agak gelap karena sering main futsal, dan matanya selalu tajam kayak elang, kecuali sekarang, karena aku lagi pakai bra merah marun baru, dan mukanya merah kayak tomat. "Nih, Bu... revisian skripsinya," bisiknya sambil naro tumpukan kertas di meja aku. Matanya ngeces ke tali bra yang melintir di bahuku, terus langsung ngacir ke jendela kayak anak ketahuan nyontek.
2035Please respect copyright.PENANAromMWlCEnf
Aku sengaja geser kursi biar kakiku nyenggol pahanya. "Makasih, sayang," bisikku pura-pura fokus liat berkas. Bra barunya emang sengaja beli yang tali tipis, biar keliatan dari balik baju. Raka dah tau sih bentuk tubuhku, udah berapa kali dia liat aku bugil pas *bimbingan khusus*, tapi tetep aja dia kikuk tiap liat aku pakai lingerie baru.
2035Please respect copyright.PENANAzeAITjGfg3
"Kamu revisi bagian metodologi juga?" tanyaku sambil nyender ke meja, biar dadaku agak maju. ASI penuh bikin payudaraku kenceng, dan bra barunya rada ketat, putingku keliatan banget di balik kain katun tipis. Raka nelen ludah. Suaranya kedengeran.
2035Please respect copyright.PENANApNueZ6hYUm
"Iya, Bu... halaman 40 sampe 45," jawabnya sambil nunjuk ke dokumen, tapi jarinya gemeteran. Aku tau pasti dia lagi ngitungin detik sampe aku bilang kode *bimbingan khusus*.
2035Please respect copyright.PENANA17vvVw4mmd
Aku berdiri perlahan, biarpun tinggi aku cuma 160 cm, sepatu hak tinggiku bikin Raka harus ngadah. "Bagus," desisku sambil membolak-balik hasil kerjaan Raka.
2035Please respect copyright.PENANAGANUzKryYk
Sambil aku bolak-balik halaman revisian Raka, aku sadar matanya nggak sekali pun ngeliatin kertas di tanganku, dia cuma fokus ke tubuhku, khususnya ke belahan dadaku yang masih basah bekas tumpahan kopi tadi. "Kamu dengerin nggak komentar aku soal metodologinya?" tanyaku pura-pura kesal, sengaja menggoyang-goyangkan badan biar payudaraku yang masih penuh ASI itu bergoyang di balik bra merah marun. Meski pakai bra, tetep aja gondal-gandul kesana kemari, apalagi ukurannya sekarang lebih besar sejak menyusui.
2035Please respect copyright.PENANAzW46KiUMdd
"Eh, iya Bu... metodologinya..." Raka nyaut otomatis, tapi matanya masih nempel di gerakan payudaraku. Aku nyengir. "Kamu suka ya liat aku pakai baju kayak gini?" godaku sambil memainkan tali bra tipis di bahu, perlahan nariknya ke bawah sedikit biar bagian atas payudaraku keliatan. Mukanya langsung merah kayak lampu lalu lintas.
2035Please respect copyright.PENANAxxTfhUjrMs
Aku mundur selangkah, biar kursi dosen menghalangi pandangan dosen-dosen lain yang masih pada ngintip di belakang. Mataku nggak lepas dari wajah Raka yang udah kayak orang kesurupan. "Halaman 40 sampe 45 ya?" bisikku sambil nyender ke meja, biar dada aku makin deket ke mukanya. Aroma vanilla parfumku pasti nyampur sama bau ASI yang mulai merembes di ujung puting, aku bisa liat pupil Raka melebar.
ns216.73.216.66da2


