Aku, Arman Firdaus, santri kelas tiga di Pesantren Al-Hikmah. Umurku sembilan belas tahun, tinggi sedang, dengan postur yang kurus karena jatah makan di pesantren kadang cuma cukup buat bertahan hidup. Tapi Kyai Hasan bilang kurus itu tanda keseriusan dalam menuntut ilmu. Aku termasuk santri yang dianggap 'alim'. Tapi mereka nggak tahu kalau di balik jubah putih itu, aku suka ngeramas batangku sendiri setiap malam sebelum tidur.
300Please respect copyright.PENANAMTP3ebIP5E
Pesantren Al-Hikmah bukan tempat besar. Cuma ada tiga bangunan utama: asrama putra, asrama putri yang dipisahkan tembok setinggi tiga meter, dan gedung kelas di tengah. Kami semua tahu aturannya: santri putra dilarang keras mendekati area putri kecuali ada kepentingan belajar dengan ustadzah. Tapi justru larangan itu yang bikin pikiranku makin penasaran, apalagi sejak Ustadzah Eva mulai mengajar di sini setahun lalu.
300Please respect copyright.PENANAwJlkgCvemI
Aku berjalan menyusuri koridor menuju perpustakaan, melewati tangga kayu yang menghubungkan lantai dua gedung kelas. Di situlah aku pertama kali melihat *itu*. Dua minggu yang lalu, ketika hujan deras mengguyur atap seng hingga berisik, aku melihat Ustadzah Eva bergegas naik tangga. Rok panjangnya tersangkut di pegangan, dan untuk sesaat, hanya sesaat, aku melihat bagian paha putihnya yang mulus. Tanpa celana dalam.
300Please respect copyright.PENANA17s41o19Ph
Sejak saat itu, aku jadi sering 'tersesat' di sekitar tangga itu setiap jam istirahat sore. Jam ketika Ustadzah Eva biasanya pulang dari mengajar untuk ganti baju di kamarnya yang kebetulan ada di lantai dua gedung putri. Aku tahu ini dosa besar. Tapi nafsu itu seperti air laut yang kuinum, makin banyak kuminum, makin haus aku jadinya.
300Please respect copyright.PENANAlkDOnlP8oy
---
300Please respect copyright.PENANAKBiz2jU7cA
Aku menghela napas dalam ketika bayangan Ustadzah Eva kembali mengusik pikirannya. Paha itu, mulus seperti marmer yang dipoles, putih pucat dengan garis lembut otot yang bergerak halus setiap kali ia melangkah. Tak ada sehelai kain pun yang menghalangi pandangannya saat itu; celana dalam hitam yang biasanya terlihat mengintip dari balik rok longgar sang ustadzah, hilang tanpa jejak. Hanya kulit. Hanya godaan.
300Please respect copyright.PENANAjV2bm9gonE
Ustadzah Eva memang berbeda. Di antara semua ustadzah di pesantren, dialah yang paling sering membuat bibir-bibir para santri kering. Rambut hitamnya selalu rapi di balik kerudung, tapi beberapa helai nakal kerap terlepas, melingkari wajahnya yang oval dengan alis tebal dan mata hitam seperti biji kopi. Bibirnya, ya Allah, bibirnya selalu lembap, seolah baru dijilati sebelum masuk kelas. Dan ketika ia tertawa, suaranya seperti gemerisik daun pisang di tengah malam, menggoda dan menghantui.
300Please respect copyright.PENANAjt942imYuu
Tangan kananku tanpa sadar merayap ke bawah sarung. Batangku sudah keras lagi hanya dengan membayangkan sang ustadzah. Ini mungkin sudah kesepuluh kalinya minggu ini. Setiap kali bayangan Eva muncul, tangannya seperti memiliki kehendak sendiri, memeras, menggosok, sampai akhirnya cairan panas itu keluar, dan rasa bersalah yang lebih panas lagi mengisi dadaku.
300Please respect copyright.PENANAR34D44Yuxm
Tapi hari ini berbeda. Hari ini, Aku melihat sesuatu yang membuat darahku mendidih lebih dari biasanya. Saat aku bersembunyi di balik tumpukan buku usang di perpustakaan, tempat yang memberiku sudut pandang sempurna ke kamar Ustadzah Eva, aku melihat sang ustadzah berdiri di depan cermin kecilnya. Eva perlahan melepas kerudung, lalu jilbabnya. Rambutnya jatuh bergelombang sampai ke pinggang. Tapi yang membuat Arman tersedak adalah apa yang terjadi selanjutnya: Eva dengan santai melepas rok panjangnya, memperlihatkan celana dalam renda merah yang hanya menutupi sebagian.
300Please respect copyright.PENANAnTs2bG259n
"Astaghfirullah," Aku bergumam, tapi mataku tak bisa berpaling. Eva memainkan tangan di atas pahanya sendiri, perlahan, seolah menikmati setiap sentuhan. Kemudian, dengan gerakan yang membuatku hampir pingsan, ia melepas celana dalam itu dan melemparkannya ke kasur.
300Please respect copyright.PENANAhGu1uhiKSC
***
Eva berdiri di depan cermin, tubuhnya sekarang sepenuhnya terbuka, seperti patung marmer yang dihidupkan oleh setan. Kulitnya bersinar pucat di bawah lampu kamar yang redup, lekuk tubuhnya mengalir dari bahu yang ramping ke pinggang yang ramping, lalu melebar tiba-tiba ke pinggul yang menggoda. Payudaranya, Ya Tuhan, payudaranya bulat sempurna, menggembung seperti buah delima yang ranum, dengan putik merah muda yang mengeras di ujungnya. Aku melihat Eva mengelus-elusnya sendiri, jari-jarinya yang ramping mencubit putingnya sendiri sambil mengerang pelan.
300Please respect copyright.PENANA8CukYUFxu3
"Ah... jadi besar lagi," bisiknya, memijat payudaranya dengan kedua tangan seperti sedang mengeluhkan sesuatu yang mengganggu. Matanya setengah terpejam di cermin, bibirnya menganga kecil. "Harus beli BH baru..."
300Please respect copyright.PENANAai608IQdA8
Kontolku seperti dipalu godam, mengeras sampai-sampai kain sarungku membentuk tenda yang memalukan. Aku melihat Eva memutar-mutar putingnya sendiri, menariknya pelan, sementara tangan kirinya merayap ke bawah, ke antara pahanya yang putih mulus. Aku bisa melihat rambut kemaluannya yang rapi, dipotong pendek tapi cukup lebat, seperti semak kecil di atas bukit surga yang terlarang.
300Please respect copyright.PENANABMNdtrAlqD
Eva menggesekkan jari tengahnya di atas bibir kemaluannya yang sudah mengkilat oleh cairan, menggerutu, "Dasar santri-santri itu... bikin aku jadi begini..." Tangannya bergerak lebih cepat sekarang, dua jarinya menyelip masuk ke dalam dirinya sendiri sementara ibu jarinya menggosok-gosok bagian atas yang jelas-jelas bengkak. Aku tidak pernah melihat wanita melakukan ini, tidak pernah, dan rasanya seperti seluruh darah di tubuhku mengalir ke satu tempat saja.
300Please respect copyright.PENANAjCriUMwyBP
Tiba-tiba Eva menoleh ke jendela. Aku menghentakkan tubuhku ke belakang, nyaris menjatuhkan tumpukan buku. Tapi dia hanya tersenyum, senyum licik yang membuatku sadar bahwa mungkin saja dia tahu aku ada di sini. Dengan gerakan perlahan, dia mengambil sesuatu dari laci meja riasnya: sebuah BH hitam berenda, jauh lebih besar dari yang dipakai para santriwati di pesantren ini.
300Please respect copyright.PENANAt2mWamfv3Y
BH hitam itu terlempar keluar jendela seperti ikan yang melompat dari air, mendarat di tanah berdebu di depan perpustakaan dengan gerakan melambat yang seolah sengaja dibuat dramatis. Kupandangi benda itu dari balik jendela perpustakaan, renda-renda halusnya bergerak ditiup angin sore, cup-nya yang besar jelas tidak akan pernah muat di dada santriwati mana pun di pesantren ini. Jantungku berdebar seperti genderang perang ketika menyadari: ini pasti untukku.
300Please respect copyright.PENANAnowlUD4unv
Tanpa berpikir dua kali, atau bahkan sekali pun, aku melompat dari tempat persembunyianku, nyaris menabrak rak buku usang. Kaki-kakiku bergerak sendiri menuju pintu belakang perpustakaan yang jarang dipakai. Udara panas menyambutku ketika aku melesat keluar, mata terus mengawasi sekeliling untuk memastikan tidak ada santri lain yang melihat. BH itu masih tergeletak di sana, seperti buah terlarang yang sengaja dijatuhkan dari surga.
300Please respect copyright.PENANAuYJSBgLzNM
Aku menjatuhkan diri berlutut di depan benda itu, tangan gemetar meraihnya. Kainnya halus, terlalu halus untuk sesuatu yang seharusnya hanya menutupi tubuh, dan masih hangat oleh panas tubuh Eva. Aku menekannya ke wajahku tanpa bisa menahan diri, menghirup dalam-dalam. Wanginya... ya Tuhan, wanginya seperti campuran bedak talc dan keringat manis yang membuat kepalaku pusing. Ada aroma lain yang lebih dalam, lebih primal, bau perempuan dewasa yang baru saja terangsang. Kontolku berdenyut menyakitkan di balik sarung, seolah ingin meledak.
300Please respect copyright.PENANA8EaF5Wg7p9
"Psst... masuklah."
300Please respect copyright.PENANAyT6JYgZ1LZ
Suara itu, seperti suara iblis yang berbisik di telinga Hawa, membuatku tercekat. Aku menoleh ke atas. Eva berdiri di jendela kamarnya, tangannya menyibak tirai tipis. Matanya menyipit, bibirnya melengkung dalam senyum yang bukan senyum ustadzah, tapi senyum perempuan yang tahu persis kekuasaannya.
---
300Please respect copyright.PENANAc8qlSXRVrN
Kakiku seperti terpaku ke lantai kayu ketika melangkah masuk ke kamar Eva. BH renda hitam itu menggantung lemas di tanganku, seakan mengejek kepolosan pesantren yang selama ini kujalani. Eva tidak bergerak dari depan cerminnya, tubuhnya yang pucat memantulkan cahaya senja melalui jendela, setiap lekuknya terlihat lebih jelas dari khayalan-khayalan najisku selama ini. Bulu kemaluannya yang hitam pekat terlihat lebih tebal dari yang kubayangkan, terpelihara rapi membentuk segitiga sempurna di atas bibir kemaluan yang masih lembap.
300Please respect copyright.PENANA2DkCbiflXM
"Tutup pintunya," ucap Eva tanpa menoleh, suaranya datar seperti sedang memberi instruksi pelajaran tajwid. Tanganku yang gemetar menuruti perintahnya, dan bunyi klik pintu yang terkunci terdengar seperti lonceng kiamat di telingaku.
300Please respect copyright.PENANACwS3cMcxbP
"Suka ya, liat ustadzah bugil begini?" Eva akhirnya menoleh, senyum kecil mengembang di bibirnya yang selalu lembap itu. Matanya, hitam seperti bara, menatapku dengan intensitas yang membuat lututku lemas. "Heheh... aku tahu kok kamu sering mengintip aku."
300Please respect copyright.PENANAY3c5bondI3
Keringat dingin mengalir di punggungku. "Saya... saya tidak, "
300Please respect copyright.PENANAZziFk6Q5i4
"Tangga utama minggu lalu," potongnya, jari telunjuknya menunjuk ke arahku seperti pedang. "Jendela perpustakaan tiga hari yang lalu. Bahkan saat aku mandi di kamar mandi ustadzah, kau pikir aku tidak melihat bayanganmu di balik ventilasi?" Setiap tuduhannya seperti pukulan langsung ke solar plexusku. Eva mendekat, payudaranya yang masih montok bergoyang perlahan dengan setiap langkah. Aroma tubuhnya, campuran sabun mandi dan sesuatu yang lebih primal, membuat kepalaku pusing.
300Please respect copyright.PENANA2MGh8CCFBQ
Aku menunduk, BH renda hitam itu menggantung lemas di tanganku seperti bendera putih penyerahan. "Maafkan saya, Ust, "
300Please respect copyright.PENANAKMp20uykH6
"Eva," dia menyentuh daguku, memaksaku untuk menatapnya. "Panggil aku Eva sekarang." Jari-jarinya dingin tapi sentuhannya membakar. Mataku tak bisa berhenti melirik ke bawah, ke segitiga hitam di antara pahanya yang masih lembap, ke lekuk pinggangnya yang seolah dibuat untuk digenggam, ke putik merah muda di ujung payudaranya yang mengeras lagi di udara dingin kamar ini.
300Please respect copyright.PENANAzoG46jNy5z
300Please respect copyright.PENANAX6qQQS8miY
---
Eva mengambil BH dari tanganku dengan gerakan yang mengalir seperti penari, jari-jarinya yang rampit memainkan renda hitam itu dengan mahir. "Kamu suka melihat ini, ya?" bisiknya sambil memutar-mutar bra itu di udara, membuat kainnya berputar seperti spiral hitam di antara kami. Payudaranya yang montok bergoyang bebas ke kiri dan kanan dengan setiap gerakan kecil, bulat sempurna, kulitnya sehalus sutera yang meregang, bergerak dengan ritme sendiri yang memesona. Aku bisa melihat gelombang kecil menjalar di permukaannya saat Eva bergerak, putingnya yang merah muda mengeras lagi oleh udara dingin atau mungkin oleh tatapan lapar mataku, aku tak tahu.
300Please respect copyright.PENANAdSu3ATXZd9
"Ya Allah," gumamku tanpa sadar, mata tak mampu berpaling dari pemandangan itu. Eva tertawa pendek, suara serak yang tak pernah kudengar di kelas mengaji, dan mendekatkan BH itu ke hidungku. "Menciumnya lagi," perintahnya, dan aku menuruti seperti anak kecil yang diiming-iming permen. Bau bedak talc dan keringatnya yang manis menusuk langsung ke otakku, membuat kontolku berdenyut menyakitkan di balik sarung.
300Please respect copyright.PENANAfAqP7Il0L9
Dalam hatiku, sebuah suara kecil bersyukur dengan gembira: *Hanya aku. Hanya Arman yang bisa melihat keindahan terlarang ini.* Pikiranku melompat ke semua santri lain yang mungkin memimpikan Eva tapi tak pernah mendapat lebih dari senyum santunnya di kelas. Aku, Arman yang biasa, Arman yang kurus, Arman yang dianggap alim, berdiri di sini, menyaksikan tarian daging paling haram di pesantren ini.
300Please respect copyright.PENANARVHLhqOntz
Eva tiba-tiba melemparkan BH itu ke kasur dan meraih tanganku. "Pegang," desisnya, menuntun tanganku yang gemetar ke payudaranya yang kiri. Kulitnya hangat, lebih hangat dari yang kubayangkan, dan lembut, ya Tuhan, lembut seperti krim yang baru diaduk. Jari-jariku tenggelam dalam kelembutannya, mencengkeram perlahan seperti takut ini akan menghilang. Eva mengerang pelan, kepalanya sedikit menengadah, matanya setengah terpejam.
300Please respect copyright.PENANAF9re0xbSTo
"Yang satunya," pintanya, dan aku dengan patuh memindahkan tangan ke payudara kanannya, merasakan denyut jantungnya melalui kulit halus itu. Kedua payudaranya besar tapi tidak kendur, montok dan padat di telapak tanganku yang kasar. Aku tanpa sadar menggosok ibu jari di atas putingnya, merasakannya mengeras semakin kencang. Eva mendesis, "Dasar santri nakal," tapi dia tidak menghentikanku, malah memandangku dengan tatapan yang membuat perutku berputar.
300Please respect copyright.PENANAOl5fD7haFJ
----
300Please respect copyright.PENANAIutioqhtW1
Tanganku gemetar, hampir saja menarik diri dari payudaranya yang montok, rasa bersalah tiba-tiba menyergap seperti air dingin di tengah neraka. "A-astaghfirullah, Ust, "
300Please respect copyright.PENANAeJKgM9Tf0t
"Eva," potongnya dengan suara mendesis, tangan kirinya menangkap pergelanganku sebelum sempat lepas. "Jangan berhenti dong." Bibirnya yang selalu lembap itu melengkung dalam senyum licik, matanya, hitam seperti bara di malam gelap, memantulkan bayanganku yang compang-camping. "Kamu kan sudah lama mau pegang ini."
300Please respect copyright.PENANAO6FLMxCOp9
Aku mengulum lidah sendiri, jari-jariku kembali mencengkeram lembut payudaranya yang hangat. Rasanya seperti memegang buah delima ranum yang kulitnya sehalus sutera basah, dengan biji keras di ujungnya yang semakin membesar di bawah gesekan jempolku. Eva mengerang pelan, kepalanya sedikit menengadah, rambut hitamnya yang bergelombang jatuh ke belakang seperti tirai.
300Please respect copyright.PENANA9dA5O0QcRZ
"Kamu suka onani ya?" tanyanya tiba-tiba, suaranya datar seperti sedang menanyakan pelajaran.
300Please respect copyright.PENANAta0exVUrKH
Darahku mendadak beku. "Saya, saya tidak, "
300Please respect copyright.PENANAk57cdGaYrv
Tanganku gemetar di atas payudaranya yang halus, ingin menarik diri tapi terkunci oleh tatapannya yang gelap. "Aku... aku tidak, "
300Please respect copyright.PENANAg7JrFxaSFj
"Jangan bohong," Eva memotong, jari-jarinya yang dingin melingkari pergelanganku, menahanku tetap di tempat. Senyumnya melengkung seperti bulan sabit di atas bibirnya yang lembap. "Aku sering melihatmu, Arman. Di balik jendela asrama, di kamar mandi malam hari, tanganmu sibuk mengocok batangmu yang keras sambil matamu melotot ke arah kamarku."
300Please respect copyright.PENANAxOEJe5vFOi
Darahku mendidih, wajahku terbakar seperti ditampar. Selama ini kupikir aku sembunyi dengan baik, tapi ternyata,
300Please respect copyright.PENANAwEsz4MUZi2
"Bahkan minggu lalu," bisiknya, mendekatkan bibirnya ke telingaku sampai napas hangatnya menggelitik, "ketika kau pikir aku tidak melihat dari balik tirai mandi... kau berdiri di kegelapan, sarungmu terangkat, tangan kananmu bergerak cepat, "
300Please respect copyright.PENANAWgBxIUyYoo
"A-astaghfirullahal'adzim!" teriakku hampir histeris, ingin menyembunyikan wajah tapi tanganku masih terjebak di antara kelembutan payudaranya.
300Please respect copyright.PENANAbNjd7DReRy
"Jangan berhenti dong," Eva berbisik, jari-jarinya menekan pergelanganku dengan lembut namun pasti, memastikan tanganku tetap mencengkeram payudaranya yang montok. Kulitku terasa seperti terbakar di mana saja dia menyentuh. "Kamu suka onani ya? Ngocok kontol kamu sambil bayangin ini semua?"
300Please respect copyright.PENANA7I8vYtENS9
Suaranya bergetar kecil di telingaku, seperti tetesan madu yang jatuh di atas api. Aku menggeleng cepat, hampir membuat kepala pusing. "Saya tidak, saya tidak pernah, "
300Please respect copyright.PENANApyknkXsnDr
"Heheh." Nafasnya hangat di pipiku, membuat bulu kuduk di leherku merinding. "Aku tahu kamu bohong." Jarinya yang dingin meluncur ke bawah, menyentuh pelipisku yang berkeringat. "Minggu lalu, jam dua pagi. Kamu berdiri di kegelapan dekat pohon mangga, sarungmu terangkat, tangan kananmu bergerak cepat, "
300Please respect copyright.PENANAMNMV1PbBUT
Dadaku sesak. Pohon mangga itu persis di seberang jendela kamar mandinya. Aku pikir gelapnya malam menyembunyikanku.
300Please respect copyright.PENANAZyf8AbKVBW
"Dan tiga hari sebelumnya," lanjutnya, ibu jarinya sekarang mengusap-usap putingnya sendiri melalui celah antara jari-jariku, "kamu bersembunyi di balik tumpukan kayu di belakang asrama. Aku melihat dari balik tirai, pundakmu bergerak naik turun, lalu kamu mendesah pelan ketika, "
300Please respect copyright.PENANAbNlmHELWb8
300Please respect copyright.PENANAOJ9Er9ki21
---
Aku menarik tanganku dari payudaranya yang hangat seperti tersengat listrik. Tubuhku langsung membungkuk, tangan terlipat di depan dada seperti sedang berdoa, tapi yang ini jelas bukan doa. "M-maaf Ust, Eva... Astaghfirullahal'adzim... saya tidak bermaksud..." Suaraku pecah, lidah terasa kaku. Keringat dingin mengalir deras di punggungku. "Tolong jangan laporkan saya ke Kyai... ke orang tua saya..."
300Please respect copyright.PENANAevAjXzZxdz
Eva hanya tertawa, tawa pendek yang membuat kulitku merinding. Jari-jarinya yang ramping meraih daguku, memaksa aku menatap matanya yang hitam pekat. "Sudah kubilang, aku tahu segalanya." Napasnya hangat di wajahku, bercampur aroma kopi dan sesuatu yang manis. "Dari pertama kali kau mengintip di tangga itu... sampai malam-malam kau mengocok kontolmu di kegelapan."
300Please respect copyright.PENANAndL5fY83jc
Aku mencoba menitikkan air mata, memelintir wajah seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen, tapi mataku tetap kering. Yang ada hanya rasa panas memalukan di pipi dan denyut menyakitkan di celana. "Saya... saya tidak akan mengulangi lagi. Demi Allah, "
300Please respect copyright.PENANArux7NYEOqC
"Bohong." Eva memotong dengan suara datar. Tangannya tiba-tiba meraih sarungku, membuka ikatannya dengan gerakan mahir. Kain itu jatuh berdebu di lantai kayu, memperlihatkan celana panjang usang yang sudah menggelembung di bagian depan. "Lihat ini," bisiknya sambil menunjuk ke tonjolan itu, "ini yang bilang sebenarnya."
300Please respect copyright.PENANA4ZPT5NOmHr
Kontolku berdiri tegak seperti menara yang ditakdirkan roboh, mencuat begitu saja di hadapan Ustadzah Eva. Celana dalam hitamku, yang biasanya longgar, sekarang membentuk tenda sempit yang nyaris melukai kulit karena tekanan dari dalam. Bagian atasnya bahkan tidak bisa menahan kepala kontolku yang sudah berwarna pucat kebiruan, terlihat jelas seperti kuncup bunga aneh yang memaksa diri mekar terlalu cepat.
300Please respect copyright.PENANA4OF9u3E3xO
Eva tidak langsung bicara. Dia hanya mengamati dengan tatapan seorang ilmuwan yang menemukan spesimen langka, matanya menyipit penuh minat. Bibirnya yang lembap itu melengkung perlahan, membentuk senyum genit yang membuatku ingin menyelam ke dalam tanah. "Wah... sudah lama ya nggak keluar?" bisiknya, jari telunjuknya, panjang dan ramping, tiba-tiba menyentuh ujung kontolku yang berkilat karena kebelet.
300Please respect copyright.PENANAP66wWpNUVG
"Aaah, !" Aku menjerit kaget, tubuhku melengkung seperti dipanah. Belum pernah ada yang menyentuh sana, bahkan aku sendiri biasanya pakai sarung sebagai pembatas. Tapi Eva hanya tertawa kecil, jarinya sekarang memainkan tetesan precum yang menggantung di ujung. "Dasar santri nakal," gumamnya, "sampai ngocok setiap malam ya?"
300Please respect copyright.PENANAbmeHWoADl5
Kepalaku pusing, antara ingin lari dan ingin berlutut. Kontolku berdenyut-denyut sakit di udara dingin, seperti ikan yang terlempar ke darat. Eva dengan santai melangkah mundur, duduk di tepi kasurnya sambil menyilangkan kaki, sengaja membiarkan celah pahanya terbuka lebar, memperlihatkan segitiga hitam yang masih lembap tadi. "Ayo," bisiknya, matanya berbinar seperti bara di kegelapan, "tunjukkan pada Ustadzah bagaimana cara kamu ngocok."
300Please respect copyright.PENANAGkR7mXjtoW
Tanganku gemetar seperti daun pisang kering. Selama ini aku melakukannya dalam gelap, dalam diam, dengan rasa bersalah yang membakar. Tapi sekarang, di bawah sorot mata Eva yang terang benderang, rasanya seperti sedang dipermalukan di pengadilan terakhir. "Saya... saya tidak bisa, "
300Please respect copyright.PENANALXaWnqaal5
, -
Eva menggeleng perlahan, rambut hitamnya bergoyang seperti sungai di malam hari. "Bisa," bisiknya, jari-jarinya yang dingin menyentuh pergelangan tanganku yang berkeringat. "Lakukan seperti biasanya. Aku ingin melihat." Matanya, hitam seperti bara yang menunggu untuk dinyalakan, memantulkan bayanganku yang compang-camping.
300Please respect copyright.PENANARUvDIqnnvx
Aku menghela napas gemetar, tangan kanan perlahan merayap ke bawah. Jari-jariku menyentuh batang yang sudah mengeras seperti besi, panas, berdenyut, dan basah oleh precum di ujungnya. Eva mengerang kecil, kakinya yang ramping meregang di atas kasur. "Ya, begitu," desisnya, bibirnya mengembang dalam senyum genit. "Pelankan... rasakan setiap gesekannya."
300Please respect copyright.PENANAZE1M5jOiwJ
Kulit telapak tanganku kasar dari tahunan menggosok tanpa pelumas, tapi sekarang terasa seperti pertama kali, setiap lipatan, setiap urat terasa asing di bawah tatapan Eva. Ia rebahan di kasur, satu tangan menopang kepala, yang lain memainkan putingnya sendiri dengan gerakan mahir. "Jangan malu-malu," godanya, jari tengahnya memutar-mutar puting kanannya yang merah muda. "Aku sudah lihat kamu melakukannya lebih... semangat di kegelapan."
300Please respect copyright.PENANAsK4xGtGHu5
Dadaku sesak, tangan mulai bergerak naik turun dengan ritme lambat, persis seperti yang kulakukan di balik pintu asrama setiap malam. Tapi ini berbeda. Ini bukan lagi khayalan; ini Eva sungguhan, berbaring setengah telanjang di hadapanku, matanya menatap tajam setiap gerakan tanganku. Bau tubuhnya, campuran sabun mandi dan keringat manis, menusuk hidungku, membuat gerakanku semakin cepat.
300Please respect copyright.PENANAW61hTLb7L4
"Ah, kamu cepat belajar," Eva berbisik, kakinya sekarang terbuka lebar, memperlihatkan bagian dalam pahanya yang pucat. Tangannya yang bebas merayap ke bawah, menyentuh dirinya sendiri dengan gerakan mahir. "Lihat, Arman," bisiknya, jari tengahnya menyelip di antara bibir kemaluannya yang mengkilat, "ini yang kamu lihat dari balik jendela, kan?"
300Please respect copyright.PENANAlERWTdAhb1
Tangan ustadzah tanpa kusadari mengambil sebotol baby oil yang penuh isinya. Jemarinya lentik membuka tutup botol itu, meski matanya masih menatap mataku, ekspresinya binal. Lalu tanpa kuminta, minyak itu ia tuangkan ke kontolku.
300Please respect copyright.PENANAYPgLHl8GLG
Baby oil itu mengalir deras seperti air terjun kecil, menelusuri setiap lekuk kontolku yang sudah merah padam. Dinginnya membuatku menghela napas tajam, sensasi mentah minyak pertama kali menyentuh kulit sensitif di sana. Eva mengguyur lebih banyak lagi, sampai minyak itu meluber ke pahaku yang gemetar, membentuk genangan kecil di kasur putihnya yang sudah kotor oleh cairan-cairan tak dikenal.
300Please respect copyright.PENANAdkMStlBS0Q
"Yah, nanti kasurnya basah," protesku lemah, tapi tanganku tak berhenti menggesek batang yang sekarang licin seperti belut. Setiap tarikan tangan menghasilkan suara 'jlet jlet' yang memalukan, memenuhi kamar sempit itu bersama erangan pendek Eva di belakangku.
300Please respect copyright.PENANAl1gAImSduT
Botol plastik itu sampai tertekuk di genggaman Eva, mengeluarkan bunyi 'klok-klok' kosong ketika dia menggoyang-goyangkannya. "Abis," bisiknya dengan nada bangga, seperti anak kecil yang baru saja menghabiskan susu kotaknya. Dia melemparkan botol kosong itu ke sudut kamar, lalu menatapku dengan mata berbinar, hitam seperti bara di tengah malam. "Lanjut dong," desisnya, bibir sensualnya mengembang dalam senyum genit sambil tangannya sendiri sibuk memainkan bagian bawah perutnya.
300Please respect copyright.PENANAhd6kwcKugq
Kontolku sekarang lebih licin dari jalan tol basah, setiap gesekan tangan terasa seperti meluncur di atas es. Eva menyenggol pahaku dengan lututnya, memaksaku untuk membuka kaki lebih lebar. "Jangan pelit-pelit geraknya," godanya, jari-jemarinya sekarang mencolek genangan baby oil di kasur, lalu mengoleskannya ke putingnya sendiri yang sudah berdiri kaku. "Aku mau lihat kamu... sampai habis."
300Please respect copyright.PENANAtN8J4f0Gu7
Aku menggigit bibir bawahku sampai berdarah. Rasanya berbeda, sangat berbeda, dari saat aku melakukannya sendiri dalam gelap. Baby oil itu membuat setiap gesekan terasa seperti ditunggangi setan kecil; licin tapi tetap ada gesekan yang tepat di tempat-tempat rawan. Ujung kontolku yang sudah merah padam mengeluarkan tetesan precum lebih banyak sekarang, bercampur dengan minyak sampai membentuk cairan putih keruh yang menetes ke pahaku.
300Please respect copyright.PENANAL5DCmtA06b
-------
300Please respect copyright.PENANA6QZBUIPm5D
Lebih keras," Eva mendesis, jari-jarinya yang putih dan lentik mencontohkan gerakan kasar di udara, gerakan yang tak pernah terlintas dalam khayalan najisku selama ini. Jemarinya melengkung seperti cakar kucing, memutar-mutar dengan gaya yang begitu binal sehingga aku bisa mendengar suara gesekan kulitnya meski tak menyentuh apa-apa. "Kayak gini, Arman. Jangan kayak nenek-nenek ngocok telur."
300Please respect copyright.PENANAmJSBlKEXOr
Aku menelan ludah. Perintahnya menggema di kepalaku seperti azan subuh yang tak bisa diabaikan. *Wajib taat perintah ustadzah*, bisik suara nakal di benakku, sementara tanganku mulai meniru ritme liar yang dia tunjukkan. Kulit kontolku yang sudah licin oleh baby oil itu kini terasa seperti terbakar, setiap tarikan tangan yang kasar meninggalkan sensasi mentah yang membuatku mengerang pendek.
300Please respect copyright.PENANAZCuVXRoaqj
Eva tertawa, suara serak yang sama sekali tak kusangka akan keluar dari mulut seorang ustadzah. "Nah, gitu," godanya sambil menjilat bibir bawahnya yang sudah bengkak. Matanya, hitam seperti cerat tinta yang tumpah di kertas putih, tak pernah lepas dari gerakan tanganku. "Kamu cepat belajar ya?"
300Please respect copyright.PENANA0CMlMmYeua
Baby oil itu kini berbuih putih di pangkal batangku, tercampur dengan precum yang terus mengalir deras. Aku menggigit bibir sampai berdarah ketika mencoba mempertahankan ritme kasar yang dia ajarkan, telapak tangan mengepal erat, ibu jari menggesek bagian bawah kepala dengan tekanan yang membuat mataku berkunang-kunang.
300Please respect copyright.PENANAFfvQH5EdQk
"Tanganmu," bisik Eva tiba-tiba, kakinya yang ramping melingkar di pinggangku dari belakang. Aku baru sadar posisinya sudah berubah, dia sekarang duduk di belakangku, dadanya yang telanjang menempel di punggungku, putingnya yang keras menggores kulitku melalui kain sarung. "Terlalu kaku."
300Please respect copyright.PENANA7B26kwhH31
300Please respect copyright.PENANATL0UJ1YVm2
Aku mengendurkan genggamanku, membiarkan jari-jariku mengalir mengikuti lekuk batang yang sudah mengkilap oleh baby oil. Gerakanku sekarang seperti menari, santai tapi dalam, setiap tarikan tangan menyapu seluruh panjang dengan tekanan yang pas di ujung-ujung saraf yang paling rawan. Eva mengerang kecil di belakangku, napasnya hangat di leherku ketika dia mengamati perubahan ritmeku.
300Please respect copyright.PENANA7Q4slAYNOW
"Ahh... b-begini, Ustadzah?" aku menghela napas terbata-bata, sensasi yang berbeda sama sekali dengan genggaman kasar yang biasa kulakukan dalam gelap. Baby oil itu membuat segalanya terasa seperti melayang, setiap gesekan sekarang seperti ditunggangi oleh seribu bulu halus yang menyapu tepat di titik-titik paling sensitif.
300Please respect copyright.PENANAutcZACBFtW
Eva menjawab dengan menggigit bahuku, gigitan kecil yang membuatku menggeliat. "Lebih... lebih baik," bisiknya, tangannya yang licin oleh baby oil meraih pergelanganku, memandu gerakanku dengan tekanan yang berbeda. "Tapi jangan... jangan terlalu longgar."
300Please respect copyright.PENANAYo7zvu5hAN
Kontolku berdenyut-denyut sakit di genggamanku yang sekarang lebih mahir, kepala kemaluannya sudah merah padam dan mengkilat oleh campuran precum dan minyak. Aku merasa tekanan itu mengumpul di pangkal perut, gelombang panas yang tak terbendung.
300Please respect copyright.PENANA8v26hKlPiG
"Mau... mau keluar, Ustadzah?" aku memohon dengan suara serak, seperti anak kecil yang meminta izin ke toilet.
300Please respect copyright.PENANAcdyCzEBtEN
Eva mengerang kecil, bibirnya yang lembap itu menyentuh daun telingaku. "Boleh ga ya?" bisiknya dengan nada menggoda, sengaja memonyongkan bibirnya seperti gadis kecil padahal tubuhnya bergerak seperti ular di belakangku. Matanya berbinar nakal di cermin depan, memperhatikan setiap kedutan di wajahku yang sudah memerah.
300Please respect copyright.PENANA5Cu3O47U6r
Aku tak bisa menjawab, hanya bisa mengerang ketika tangan Eva tiba-tiba menutup di atas tanganku, mempercepat ritme dengan gerakan memutar yang membuat mataku berkunang-kunang. Bibirnya sekarang menempel di leherku, lidah kecilnya menjilat keringat asin di sana. "Keluar aja," bisiknya, suaranya berubah jadi serak dan dalam, sangat berbeda dari nada mengajinya di kelas, "Ustadzah mau liat."
300Please respect copyright.PENANAic60iIkFuW
Tekanan di pangkal perutku meledak tiba-tiba, rasanya seperti bendungan yang pecah setelah hujan deras. Kontolku berdenyut liar di tangan kami yang saling bertumpuk, mengeluarkan cairan putih kental yang memancar deras, sebagian mendarat di kasur, sebagian lagi mengenai perutku sendiri yang naik turun cepat.
300Please respect copyright.PENANApy5l1wVN4Y
Eva mengerang puas di belakangku, tangannya terus menggosok perlahan meski aku sudah menggelepar seperti ikan di darat. "Banyak banget," gumamnya dengan nada kagum, jari-jarinya yang berlumuran cairanku mengoles-oles sisa spermaku yang masih menetes. "Dasar santri rajin... sehari berapa kali sih?"
300Please respect copyright.PENANAVrq6NZ2acu
Aku tak bisa bicara, badanku masih gemetar menahan aftershock yang datang bergelombang. Eva dengan lembut memelukku dari belakang, payudaranya yang montok menekan punggungku melalui kain sarung yang basah oleh keringat.
300Please respect copyright.PENANAJIbmNuaKZo
300Please respect copyright.PENANAAE1xZ8kIhE
---
300Please respect copyright.PENANActU23t8z0f
Eva mengecup pipiku, cepat, basah, dan dunia seperti berhenti berputar. Kulitku terbakar di tempat bibirnya menyentuh, aroma bedak talek dan keringat manisnya memenuhi hidungku. Aku jadi kaku, tangan masih menggenggam kontolku yang lemas tapi tetap sensitif. "P-Pak..." aku bergumam, tapi Eva sudah tertawa kecil, napasnya hangat di telingaku.
300Please respect copyright.PENANAmh9Wzj7wRA
"Salut sekali," bisiknya, jari-jarinya yang licin oleh baby oil mengelus-elus perutku yang masih basah oleh spermaku sendiri. Aku menggigil, rasanya seperti kami sepasang suami istri yang baru saja selesai bercinta, bukan santri dan ustadzah yang seharusnya terpisah oleh tembok pesantren. Pipiku memerah, mataku tak berani menatapnya. Eva mendekatkan bibirnya lagi ke telingaku. "Mulai sekarang kalau mau onani, sama Ustadzah aja ya? Ga boleh sendirian."
300Please respect copyright.PENANA8tTsXo1toz
Aku menelan ludah. Kalimat itu terdengar seperti fatwa haram sekaligus undangan terlarang. Eva mengambil handuk kecil dari samping kasur, mulai mengelap tubuhku dengan gerakan lembut, seperti ibu membersihkan anaknya setelah mandi. Tapi ini bukan air, ini sisa-sisa dosa kami.
300Please respect copyright.PENANA0xdW1m1MDR
"Jujur saja," Eva berbicara sambil tangannya bekerja, suaranya tiba-tiba datar seperti sedang mengajar di kelas, "sejak mengajar di sini, aku jenuh." Jarinya menyeka tetesan spermaku yang mengering di pahaku. "Tak ada hiburan. Tak ada teman ngobrol. Hanya tembok pesantren dan buku-buku agama." Dia menghela napas panjang, mataku tak sengaja menangkap bayangannya di cermin, wajahnya yang biasanya tegas kini terlihat lelah.
300Please respect copyright.PENANAukb5zEWDfa
Tangannya berhenti sejenak di atas pusarku. "Lalu aku menemukan... ini." Jempolnya menggosok perlahan sisa minyak di kulitku. "Masturbasi jadi satu-satunya pelepas penat." Tiba-tiba dia tertawa, suara serak yang tak pantas keluar dari mulut ustadzah. "Dan ketika tahu kau sering mengintip, sering onani..."
300Please respect copyright.PENANAWKRZn0DxX9
Aku menunduk. Pipiku terbakar. Eva mengangkat daguku dengan ujung jari. "Aku merasa menemukan teman," bisiknya, matanya berbinar licik, "yang punya hobi sama."
300Please respect copyright.PENANAaXeAM9qLN4
Dunia seperti bergoyang. Ustadzah Eva, perempuan yang selalu memakai kerudung rapi di kelas, sedang mengaku bahwa dia dan aku sama-sama pecandu onani. Kontolku yang baru saja lemas tadi berdenyut lagi, seolah mendengar panggilan jihad.
300Please respect copyright.PENANAAvZ56ulpZ1
Eva menyeka spermaku yang tersisa di ujung kontolku. "Mulai sekarang," bisiknya sambil memijat perlahan, "kalau mau onani, ke sini aja." Jarinya melingkar longgar di batangku yang mulai bangkit lagi. "Jangan sendirian di kamar mandi lagi."
300Please respect copyright.PENANAk9QpnSLt1K
Aku mengangguk kaku. Otakku masih berusaha mencerna bahwa Ustadzah Eva, guru mengaji yang sering memberi ceramah tentang bahaya zina, sedang menawarkan dirinya sebagai partner masturbasi.
300Please respect copyright.PENANAgzW29ocXT0
Dia menyimpan handuk kotor itu di bawah bantal, gerakan yang membuatku tersentak. "Jangan khawatir," Eva tertawa melihat ekspresiku, "besok aku cuci sendiri." Tiba-tiba dia meremas payudaranya sendiri dengan dua tangan, matanya menatapku penuh tantangan. "Kamu mau lihat aku melakukannya? Onani seperti biasanya?"
300Please respect copyright.PENANADh7TXbx8KS
Eva langsung memangkang di depanku, kakinya yang ramping membentang lebar hingga telapaknya menempel dingin di lantai kayu. Senyumnya mengembang seperti bulan purnama ketika tangannya yang lentik meraih paha bagian dalam, kulit putihnya yang halus berkilau di bawah lampu temaram. "Mau lihat ga?" godanya, suaranya bergetar kecil seperti senar biola yang dipetik. Aku menganga, ludah menetes tanpa kusadari, membasahi dagu yang sudah berkeringat.
300Please respect copyright.PENANAzZRPZGL46z
Tapi Eva belum juga memulai. Bibirnya yang merah menggantung di udara, seolah menunggu sesuatu. "Biar kamar ini jadi dunia kita berdua," bisiknya, jari telunjuknya melingkar di udara seperti sedang menggambar peta khayalan. Bau tubuhnya, campuran bedak bayi dan sesuatu yang lebih asam, membuat mataku berair. "Mau lihat gak? Gratis lho."
300Please respect copyright.PENANA9QBfGDKt80
Aku tidak menjawab. Tubuhku bergerak sendiri, tangan yang gemetar meraih pinggangnya yang ramping, menariknya ke dalam pelukan sampai perutku yang masih basah oleh spermaku sendiri menempel di pahanya yang halus. Eva tertawa pendek, napasnya hangat di leherku ketika kepalaku mengangguk-angguk seperti boneka mekanik. "Dasar santri nakal," bisiknya sambil mengecup pipiku, cepat, basah, seperti cap stempel rahasia.
300Please respect copyright.PENANA0Tt7fBzrJx
Lalu dunia berputar. Bibir Eva yang selalu lembap itu tiba-tiba menempel di mulutku, keras, panas, tak terduga. Aku tersentak, lidahku yang kaku diketuk-ketuk oleh ujung lidahnya yang lancip. Rasanya seperti buah markisa yang belum matang, asam tapi manis, membuatku ingin lebih tapi sekaligus ingin melarikan diri. Tangannya yang bebas kini merayap ke bawah, jari tengahnya menyelip di antara dua labia merah muda yang bergelambir sempurna, basah mengkilat seperti permen jelly yang baru dibuka.
300Please respect copyright.PENANA8OGL9QDm1W
"Ahh..." erangannya pecah di antara ciuman kami yang berantakan, membuat pipiku basah oleh embusan napasnya. Aku bisa merasakan setiap gerakan jarinya melalui ciuman itu, setiap lingkaran kecil, setiap tekanan ke dalam, setiap gemetar halus ketika dia menemukan titik yang tepat. Bau khasnya yang manis dan tajam memenuhi rongga hidungku, lebih intens dari yang pernah kubayangkan.
300Please respect copyright.PENANAsAjeTaz0Lv
Lalu ia pun mulai masturbasi dan memastikan aku menontonnya. Bukan dari jauh, dari balik tembok, tapi tepat persis di depannya.
300Please respect copyright.PENANAL73Wd8jsrH


