Aku terbangun di atas sebuah pilar dengan tangan terbelenggu. Mulutku tidak bisa mengeluarkan suara, hanya kosong. Bukan sekadar tidak bisa bersuara, tapi seperti kata-kata itu memang tidak pernah ada di sana sejak awal.
Entah kenapa itu bisa terjadi, tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Aku mencoba melepaskan belenggu di tanganku.
Percuma.
Anehnya, ini bahkan tidak terasa seperti belenggu. lebih seperti sesuatu yang sudah lama ada, sampai aku lupa kapan mulanya. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Lalu… ada benda jatuh. Dari langit atau dari mana pun langit di tempat ini berada. Aku tidak sempat melihat dari mana asalnya. Hanya tiba-tiba ada, bergerak ke bawah, dan jatuh.
Namun... benda itu berada di luar jangkauanku. Aku menatapnya. Aku tahu itu bisa membantu. entah bagaimana aku tahu, aku hanya tahu. Tapi pilar ini tidak bergerak,
tanganku tidak bisa menjangkau, dan barang itu sudah menyentuh lantai sebelum aku sempat melakukan apa-apa. Aku hanya bisa melihat. "Mungkin akan ada lagi", pikirku. Mungkin yang berikutnya lebih dekat.
Dan benar. ada lagi yang jatuh. Kali ini lebih dekat. Kali ini tepat di tanganku.
Aku merasakannya. berat, nyata, ada. Aku menggenggamnya erat, mencoba memahami apa yang harus kulakukan. Harusnya ini cukup. Harusnya ini bisa membuka belengguku. Tapi… tanganku tidak bergerak.
Bukan karena tidak bisa. Tapi karena… bagaimana kalau aku salah? Bagaimana kalau aku memakainya dengan cara yang keliru dan semuanya jadi lebih buruk? Bagaimana kalau belenggu ini lepas, tapi yang menungguku di bawah sana jauh lebih menakutkan dari pilar ini?
Aku menggenggamnya sampai tanganku gemetar. Dan pelan-pelan, tanpa aku sadari, genggamanku mengendur. Dan barang itu pun jatuh.
Lalu ada lagi. Kali ini tidak jatuh jauh. Tidak jatuh di tanganku. Hanya… ada. Tepat di depanku, mengambang, seolah menungguku yang mengambil duluan.
Aku menatapnya lama. Aku tahu cara memakainya. Aku tahu itu akan berhasil. Tidak ada alasan untuk tidak mengambilnya. tidak ada jarak, tidak ada ketidaktahuan, tidak ada kejutan yang perlu ditakuti.
Tapi kakiku tidak melangkah. Entah sejak kapan, sesuatu di dalam diriku sudah memutuskan bahwa pilar ini lebih aman dari apapun yang ada di luar sana. Bahwa belenggu ini, sesakit apapun, setidaknya sudah kukenal.
Aku memilih diam.
Dan barang itu perlahan menghilang. bukan jatuh, bukan pergi. Hanya pudar, seperti sesuatu yang lelah menunggu.
Tidak ada lagi yang jatuh setelah itu.
Langit, atau apapun itu. diam. Kosong. Seperti sudah menyerah mencoba. Aku masih di sini, di atas pilar ini. Tangan masih terbelenggu. Mulut masih kosong. Tidak ada yang berubah, kecuali satu hal:
Sekarang aku tahu ini salahku.
Dan entah kenapa, itu tidak membuatku bergerak juga.
Aku duduk.
Belenggu ini dingin. Tapi aku sudah terbiasa.20Please respect copyright.PENANAcnL2z1mqA7
20Please respect copyright.PENANAxYOhuQeOnp
FIN


