Malam masih pekat, jam dinding kecil di meja belajar Rama menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit. Kamar kecil itu terasa semakin pengap, udara penuh bau keringat, precum, dan aroma memek basah yang manis-mesum. Rara masih membelakangi kakaknya dalam posisi spooning yang sama, hotpants denim super pendeknya sudah basah kuyup di bagian selangkangan. Memeknya yang pink dan bengkak masih menekan batang kontol Rama yang tegang maksimal, gesekan pelan tadi membuat cairan beningnya merembes keluar dan membasahi kain tipis celana olahraga kakaknya. Rama sudah gelisah parah, napasnya kasar dan berat menyapu tengkuk adiknya yang putih mulus.
Tangan Rama yang tadi meremas payudara Rara dari belakang tidak berhenti. Jari-jarinya yang besar dan kasar kini bergerak lebih berani, meremas daging payudara kiri adiknya yang besar dan padat dengan pelan tapi kuat. Dagingnya yang lembut tapi kenyal itu tenggelam di telapak tangannya, puting pink kecil yang keras menekan tengah telapaknya seperti batu kecil yang panas. Rama merasakan getaran kecil di tubuh Rara, napas adiknya yang pura-pura teratur mulai sedikit tersengal.
“Ra… kamu masih pura-pura tidur ya?” bisik Rama serak di telinga adiknya, suaranya hampir pecah menahan nafsu. Tapi tangannya tidak berhenti. Dia meremas lebih dalam, ibu jarinya mengelus lingkar puting yang mengeras itu dengan gerakan melingkar pelan. Payudara Rara yang berat bergoyang lembut setiap remasan, keringat yang membasahi crop top tipis hitam itu membuat kulitnya licin dan hangat di tangan kakaknya.
Rara tidak menjawab dengan kata-kata. Dia tetap pura-pura tidur, mata terpejam rapat, bibirnya sedikit terbuka. Tapi tubuhnya merespons dengan jelas—pinggulnya menggesek mundur pelan, memeknya yang basah kembali menggesek batang kontol Rama yang 19 cm tebal itu dari pangkal sampai ujung. Suara basah samar terdengar di kegelapan: schlick… schlick… pelan sekali, tapi cukup untuk membuat Rama menggigit bibir kuat-kuat.
“Ohh… sialan…” desah Rama pelan. Tangannya kini pindah ke payudara kanan, meremas keduanya bergantian. Jari-jarinya mencubit puting adiknya pelan, menarik sedikit lalu melepaskan, membuat puting itu semakin keras dan sensitif. Sensasi daging payudara Rara yang padat dan berat di tangannya membuat kontolnya berdenyut-denyut ganas, ujungnya yang licin precum menekan tepat di celah memek adiknya dari luar hotpants. “Payudaramu… enak banget, Ra… besar… padat… putingnya keras gini… aku nggak tahan lagi…”
Rara pura-pura menggeliat dalam tidurnya, tubuh mungilnya menempel lebih erat ke dada bidang kakaknya yang berotot dan basah keringat. Dia mendesah kecil, suaranya manja dan mengantuk tapi penuh nafsu: “Mmmh… Kak…” Hanya itu, tapi pinggulnya menggoyang lebih dalam, memeknya menggesek kontol Rama dengan gerakan naik-turun yang lambat dan menggoda. Cairan memeknya semakin banyak, membasahi hotpants hingga menetes sedikit ke paha Rama.
Rama hampir kehilangan kendali. Napasnya memburu, dada bidangnya naik turun cepat menekan punggung Rara. Tangannya meremas payudara adiknya lebih kasar sekarang, kedua tangannya sibuk meremas, meremas, mencubit puting bergantian. Keringat mengalir deras dari pelipisnya, menetes ke bahu Rara yang putih mulus. “Ra… adikku… kamu bikin kakakmu gila… payudara gede ini… aku mau gigit… mau hisap… tapi Mama Papa di sebelah… kalau mereka denger desahanmu… atau suara tanganku remas payudaramu yang basah keringat ini… kita mati, Ra…”
Dia menekan tubuhnya lebih rapat, kontolnya yang tebal terjepit kuat di antara pantat kenyal Rara dan memek basahnya. Rama mulai menggesek pinggulnya pelan maju-mundur, membiarkan batang kontolnya menggesek bibir memek adiknya yang licin dari luar kain. Suara basah semakin jelas di malam hening: plup… plup… schlick… schlick… cairan precumnya bercampur dengan cairan memek Rara, membuat gesekan semakin licin dan panas.
Rara masih pura-pura tidur, tapi desahannya semakin sering dan panjang. “Ahh… mmmh… Kak…” Tubuhnya bergetar kecil setiap kali jari Rama mencubit putingnya. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang di telapak tangan kakaknya, daging kenyal itu bergetar setiap remasan. Keringat mereka bercampur, bau tubuh Rara yang manis bercampur aroma memek basahnya yang semakin kuat memenuhi kamar. Rambut panjang hitamnya lengket di leher dan punggung, beberapa helai menempel di keringat Rama.
Rama merasa kepalanya pusing karena nafsu. Dia menunduk, bibirnya hampir menyentuh tengkuk adiknya, napas panasnya menyapu kulit Rara yang sensitif. “Rara… kamu sengaja kan dari awal… pakai baju seksi gini… gesek memekmu ke kontol kakakmu… sekarang payudaramu aku remas-remas gini… aku hampir nggak tahan, Ra… kontolku udah sakit… pengen masuk ke memek adikku yang sempit dan basah ini… pengen ngentot pelan-pelan supaya nggak berisik… creampie dalem-dalem sampe penuh… tapi… ahh… kita saudara… ini salah… tapi enak banget…”
Tangannya turun sedikit, meremas payudara Rara sambil ibu jarinya terus memainkan puting. Dia menarik crop top tipis itu ke atas pelan, memperlihatkan payudara adiknya yang telanjang sepenuhnya di kegelapan. Kulit putih mulus itu mengkilap karena keringat, puting pinknya berdiri tegak. Rama meremas langsung ke kulit telanjang, sensasi hangat dan lembut itu membuatnya mendesah panjang. “Payudaramu… tanpa kain… langsung di tangan kakakmu… lembut… berat… aku mau hisap puting ini, Ra… tapi pelan… pelan banget…”
Rara merespons dengan menggesek memeknya lebih kuat, pantat bulat kenyalnya menekan kontol Rama hingga ujungnya hampir menembus pinggiran hotpants. Cairan memeknya sudah banjir, membasahi paha dalam Rama. Dia mendesah lebih jelas sekarang, suaranya manja dan vulgar meski masih pura-pura mengantuk: “Mmmh… Kak… enak… tangan Kakak besar… remas payudara Rara yang gede ini… cubit puting Rara lebih keras… Rara suka… meskipun Rara tidur… tapi memek Rara nggak bohong… basah banget gara-gara Kakak remas-remas gini…”
Rama hampir meledak. Tubuhnya bergetar hebat, otot perutnya yang keras menegang, keringat mengalir deras di dada bidangnya. Dia meremas payudara Rara dengan dua tangan sekaligus, jari-jarinya tenggelam dalam-dalam di daging padat itu, mencubit putingnya lebih kuat sambil menggesek kontolnya maju-mundur di celah memek adiknya. “Ra… aku hampir kehilangan kendali… kontolku pengen masuk sekarang juga… dorong pelan ke memekmu yang basah ini… denger suara plup basahnya… pompa pelan-pelan sambil tutup mulutmu supaya nggak desah keras… creampie Rara sampe sperma kakakmu netes-netes dari memek adikku… bikin Rara hamil… tapi… ahh… Mama Papa… suara kita… kalau kedengeran…”
Dia menahan diri dengan susah payah, tangannya masih sibuk meremas payudara Rara tanpa henti, bibirnya mengecup tengkuk adiknya pelan, lidahnya menjilat keringat di sana. Rara pura-pura tidur tapi tubuhnya bergetar hebat, memeknya menggoyang lebih cepat, gesekan basahnya semakin intens. Keduanya basah kuyup, bau nafsu pekat, napas saling memburu di kegelapan kamar yang penuh risiko.
Akhirnya, setelah beberapa menit foreplay ringan yang menyiksa itu, Rara membuka mata sedikit di kegelapan. Bibirnya yang penuh mendekat ke telinga kakaknya, suaranya bisik pelan sekali, manja dan penuh godaan:
“Kak… panas ya?”
Versi PDF: lynk.id/bande41/32v34yk6q13q
ns216.73.216.98da2


