Malam itu udara masih terasa lembab setelah hujan deras sore tadi. Jam dinding dapur sudah menunjukkan pukul 10.45 malam ketika Bayu mendorong pintu samping rumah dengan pelan. Tubuh atletisnya yang tinggi tegap masih mengenakan kaos hitam ketat yang melekat di dada bidang dan perut six-pack-nya, dipadukan celana pendek olahraga hitam yang sudah tidak mampu menyembunyikan tonjolan besar di selangkangannya. Bayu baru berusia 21 tahun, tampan dengan wajah tajam dan rahang tegas, tapi nafsu yang menggelegak di dalam dirinya jauh lebih tua daripada umurnya.
Kontolnya yang sudah terkenal di kalangan teman-teman dekatnya—panjang 20 sentimeter saat ereksi penuh, tebal seperti pergelangan tangan, penuh urat-urat menonjol yang keras dan kepala jamurnya yang besar mengkilap—sudah setengah tegang hanya karena memikirkan rumah yang sepi ini. Mama Afni dan kakaknya Tiara sudah tidur di lantai atas. Adiknya Dina juga pasti sudah meringkuk di kamarnya yang imut. Hanya Puput, pembantu rumah tangga berusia 19 tahun yang baru dua bulan bekerja di sini, masih terjaga.
Puput sedang membungkuk membersihkan meja dapur dengan kain lap. Tubuhnya yang ramping namun berlekuk indah terlihat jelas di bawah seragam pembantu sederhana berwarna biru muda. Rok pendeknya naik hingga pertengahan paha, memperlihatkan kulit sawo matang yang mulus dan pantat kecil yang kencang. Payudaranya yang lumayan besar untuk ukuran tubuh rampingnya bergoyang pelan setiap kali ia mengusap meja. Wajahnya polos seperti gadis desa—mata besar, bibir tipis, dan pipi yang selalu merona malu.
Bayu berdiri di ambang pintu beberapa detik, matanya menyipit penuh nafsu. Malam ini ia tidak bisa menahan diri lagi. Sudah dua bulan ia diam-diam mengamati Puput setiap hari, membayangkan bagaimana memek perawan gadis itu akan meregang di sekitar kontolnya yang besar. Rumah sepi. Tidak ada yang akan tahu.
“Puput,” panggil Bayu dengan suara rendah tapi tegas.
Puput tersentak kaget. Ia berdiri cepat, menoleh, dan wajahnya langsung pucat lalu merah padam. “M-Mas Bayu… maaf, saya kira sudah sepi. Saya… saya masih membersihkan sedikit lagi supaya besok pagi rumah rapi sebelum Ibu bangun.”
Bayu tersenyum tipis sambil melangkah mendekat. Jarak di antara mereka menyusut cepat hingga ia berdiri tepat di depan Puput. Tubuh tinggi atletisnya menjulang, membuat gadis itu harus mendongak.
“Lo tahu nggak, Put, dari dulu gue perhatiin lo. Lo cantik banget. Badan lo seksi. Dan gue tahu lo juga sering curi-curi lihat ke bawah waktu gue pakai celana pendek.”
Puput mundur hingga punggungnya menempel ke pinggir meja dapur. Tangannya gemetar memegang kain lap.
“Mas… jangan bicara begitu. Saya cuma pembantu di sini. Kalau Ibu tahu, saya bisa dipecat. Tolong, Mas… saya mohon.”
Bayu tidak mundur. Ia mengulurkan tangan kanannya dan mencengkeram pinggang ramping Puput dengan kuat. Gadis itu langsung tegang seperti tersengat listrik.
“Mas… lepasin… saya takut…”
“Lo nggak akan ke mana-mana malam ini,” kata Bayu dingin tapi penuh nafsu.
“Gue sudah kepanasan dua bulan. Kontol gue sudah nggak tahan. Malam ini lo harus melayani gue. Kalau lo berani teriak atau melawan, gue bilang ke Mama lo suka godain gue. Lo tahu sendiri akibatnya.”
Air mata langsung menggenang di mata Puput.
“Mas… saya masih perawan… saya belum pernah… tolong jangan… saya mohon…”
Bayu tidak peduli. Dengan satu gerakan cepat ia menarik pinggang Puput hingga tubuh gadis itu menempel erat di tubuhnya. Tonjolan kontolnya yang sudah keras sepenuhnya menekan perut bawah Puput. Gadis itu bisa merasakan panas dan kekerasan yang luar biasa. Matanya membelalak lebar.
“Ya Tuhan… Mas… itu… itu apa? Kok keras sekali… dan… besar sekali…”
Bayu menurunkan resleting celana pendeknya dengan satu tangan. Kontol 20 sentimeter-nya melompat keluar bebas, kepala jamurnya yang besar dan mengkilap langsung menempel di paha luar Puput. “Ini kontol gue, Puput. Panjang 20 senti. Tebal banget. Dan sekarang lagi ngaceng gara-gara lo. Lo harus tanggung jawab.”
Puput mencoba mendorong dada Bayu, tapi tenaganya terlalu lemah. “Mas… tolong… jangan… saya takut sakit… saya belum pernah disentuh pria…”
Bayu mencengkeram dagu Puput dengan lembut tapi tegas, memaksa gadis itu menatap matanya. “Lo angkat rok lo sendiri sekarang. Kalau nggak, gue yang robek seragam lo dan gue entot lo kasar di sini sampai lo nangis darah.”
Dengan tangan gemetar, Puput akhirnya mengangkat rok seragamnya perlahan. Bayu menarik celana dalam tipis gadis itu ke bawah hingga jatuh ke lantai. Memek Puput yang masih perawan, mulus, pink muda, dan hanya ditumbuhi bulu halus tipis langsung terpapar. Bibir memeknya sudah sedikit basah karena ketakutan bercampur sensasi aneh yang tak bisa ia pahami.
Bayu menggenggam kontolnya yang besar dan mengusapkannya pelan di paha dalam Puput, lalu naik ke bibir memek yang tertutup. Gerakannya lambat, menggoda, mengoleskan precum yang keluar dari lubang kontolnya. “Rasain dulu, Puput. Cuma digesek di luar. Tapi kalau lo masih melawan, gue masuk kasar.”
Puput menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, air matanya jatuh ke pipi. “Mas… ahh… panas sekali… tolong jangan dimasukin… saya mohon…”
Bayu terus menggesek kontolnya di memek Puput selama hampir dua puluh menit penuh. Ia mengubah sudut, menekan klitoris kecil Puput dengan kepala kontolnya yang tebal, kadang menggesek naik-turun sepanjang celah memek yang semakin basah. Puput napasnya semakin cepat, pinggulnya tanpa sadar mulai bergerak kecil mengikuti gerakan.
“Mas… rasanya… geli… tapi… ahh… jangan… saya malu…”
Bayu tersenyum puas. Ia meremas payudara Puput dari luar seragam, mencubit puting yang sudah mengeras. “Payudara lo enak banget, Put. Keras dan besar. Badan lo sudah mulai basah. Lo mau gue entot sekarang, kan?”
Puput menggeleng lemah sambil menangis, tapi suaranya sudah bergetar. “Saya takut… tapi… badan saya aneh… Mas… pelan-pelan ya… kalau memang harus…”
Bayu tidak menunggu lagi. Ia mengangkat tubuh ramping Puput dan membaringkannya di atas meja dapur yang dingin. Ia membuka kaki gadis itu lebar-lebar, lalu menempatkan kepala kontolnya yang besar di bibir memek Puput. Dengan gerakan pelan tapi tak terhentikan, ia mendorong masuk.
“Ahhh!!! Mas… sakit… besar sekali… keluarin… tolong keluarin!!!” Puput menjerit kecil, tangannya mencengkeram bahu Bayu kuat-kuat, air matanya mengalir deras.
Hanya kepala kontol yang masuk. Bayu berhenti total, membiarkan memek sempit Puput meregang di sekitar kepala kontolnya. “Tarik napas dalam, Put. Gue diam dulu. Lo biasakan dulu. Kalau lo teriak lagi, gue entot kasar sampai lo pingsan.”
Lima belas menit berlalu. Puput masih menangis, tapi napasnya mulai stabil. Bayu mendorong lagi perlahan, masuk tiga senti tambahan. Memek Puput diregangkan luar biasa. Gadis itu menggigit lengan sendiri untuk menahan jeritan.
“Mas… penuh banget… perut saya terasa… sakit… tapi… ahh… jangan berhenti… pelan-pelan…”
Bayu tersenyum. Staminanya kuat. Ia mulai menggerakkan pinggulnya sangat pelan, hanya masuk-keluar beberapa senti selama hampir empat puluh menit berikutnya. Setiap kali Puput menangis “sakit”, ia berhenti dan mencium leher gadis itu lembut, meremas payudaranya, menjilat putingnya melalui seragam yang sudah basah keringat.
Lambat laun desahan Puput berubah. “Mas… ahh… sudah agak enak… kontol Mas… gede banget… isi saya… ahh… lebih dalam sedikit… tapi pelan ya…”
Bayu mendorong lebih dalam lagi. Sekarang sudah sepuluh senti masuk. Ia menggenjot pelan, dalam, dan panjang. Meja dapur berderit pelan mengikuti irama. Puput mulai memeluk leher Bayu, kakinya tanpa sadar melingkar di pinggang pria itu.
“Mas Bayu… entot saya pelan-pelan… ahh… enak sekali… saya merasa penuh… badan saya panas…”
Bayu mengubah posisi. Ia berdiri sambil mengangkat satu kaki Puput tinggi, kontolnya masuk lebih dalam lagi. Gerakannya tetap lambat tapi semakin dalam, setiap hunjaman ia tahan sebentar agar Puput merasakan setiap urat kontolnya yang tebal.
Puput orgasme pertama kali di menit ke-70. Tubuhnya gemetar hebat, memeknya mengejang kuat di sekitar kontol Bayu, cairan beningnya menyembur membasahi batang kontol yang besar.
“Mas… aku keluar… apa ini… enak sekali… badan aku gemetar… jangan berhenti… entot aku terus pelan-pelan…”
Bayu tidak berhenti. Ia membalik tubuh Puput menjadi posisi doggy di pinggir meja. Kontolnya masuk dari belakang, lebih dalam lagi. Ia menggenjot pelan tapi mantap selama hampir 30 menit. Tangan kirinya meremas payudara Puput dari belakang, tangan kanannya memainkan klitoris gadis itu.
Puput orgasme kedua kali lebih kuat. “Mas… lagi… aku keluar lagi… kontol Mas bikin saya gila… ahhh!!!”
Bayu masih kuat. Ia kembali ke posisi missionary, mencium bibir Puput dalam-dalam, lidahnya menjelajah mulut polos gadis itu. Pinggulnya terus bergerak pelan tapi dalam. Mereka bercinta seperti itu hampir satu jam penuh. Puput orgasme ketiga dan keempat kalinya bertubi-tubi, tubuhnya sudah lemas, matanya sayu penuh kenikmatan.
“Mas Bayu… entot saya terus… saya sudah suka… kontol Mas terlalu enak… saya ketagihan… meski ini salah… ahh… lebih dalam… isi saya penuh…”
Akhirnya, setelah hampir dua jam setengah adegan ngentot yang super panjang dan penuh detail, Bayu merasakan klimaksnya mendekat. Ia mempercepat sedikit gerakan, kontolnya menghunjam dalam-dalam. Sperma panas dan kentalnya menyembur deras ke dalam rahim Puput yang masih perawan. Denyutan demi denyutan, sperma meluap keluar dari memek yang teregang lebar, mengalir ke meja dapur dan lantai.
Puput tergeletak lemas di meja, napasnya tersengal, tubuhnya berkeringat dan gemetar. Memeknya menganga merah bengkak, penuh sperma kental yang terus mengalir keluar. Ia menatap Bayu dengan mata campur aduk—malu berat, takut, bersalah—tapi ada kilau ketagihan yang baru muncul di pupilnya.
“Mas… ini salah besar… saya pembantu… tapi… rasanya… saya belum pernah merasakan enak seperti ini… badan saya masih gemetar… jangan bilang ke siapa-siapa ya… tapi… besok malam… kalau Mas mau… saya… saya mungkin mau lagi…”
Bayu mencium kening Puput lama sekali sambil tersenyum puas. Kontolnya masih setengah keras di dalam memek gadis itu. “Ini baru permulaan, Puput. Besok malam gue akan entot lo lagi. Setelah ini… giliran Mama, Tante Farah, Kak Tiara, dan Dina. Semua akan ketagihan kontol gue seperti lo sekarang.”
Puput hanya bisa mengangguk lemah, tubuhnya masih bergetar menikmati sisa kenikmatan. Malam ini adalah awal dari malam-malam panjang yang akan mengubah seluruh rumah itu.
ns216.73.216.98da2


