Rumah dua lantai di pinggir jalan raya yang sepi di daerah Surabaya timur itu terasa terlalu besar malam ini. Lampu taman di depan menyala redup, menyinari pagar besi hitam yang dingin. Di dalam, udara malam yang lembab menempel di kulit, membuat segalanya terasa lengket dan berat. Maya berdiri di dapur, tangannya sibuk mengaduk sayur asam yang sudah mulai mendidih. Usianya 38 tahun, tapi tubuhnya masih seperti wanita yang baru melewati tiga puluh. Kulit putih mulusnya berkilau di bawah cahaya lampu neon, rambut hitam panjangnya diikat asal ke belakang, beberapa helai menempel di leher yang berkeringat tipis.
Suaminya, Pak Budi, lagi-lagi dinas luar kota. Sudah tiga minggu ini. Pesan terakhirnya cuma “Sayang, jaga diri ya. Besok aku telepon.” Maya mendesah panjang, meletakkan sendok kayu di meja. Payudaranya yang besar dan kencang naik-turun mengikuti napasnya yang berat. Baju rumah tipis berbahan katun yang dipakainya malam ini menempel ketat di tubuhnya karena udara panas. Bra hitam samar-samar terlihat dari balik kain, dan pinggulnya yang lebar membuat rok pendek itu terangkat sedikit saat dia membungkuk mengambil piring dari lemari bawah.
“Capek banget jadi ibu rumah tangga sendirian,” gumamnya pelan, suaranya serak karena jarang diajak bicara. Hanif, anak tirinya yang berusia 22 tahun, biasanya pulang malam dari kampus. Mahasiswa teknik yang sibuk, tubuhnya atletis dari rutinitas gym setiap sore. Tinggi, kulit sawo matang, rahang tegas, dan mata yang selalu penuh gairah meski dia berusaha menyembunyikannya. Maya tahu Hanif bukan anak kandungnya, tapi sejak dia menikah dengan Pak Budi lima tahun lalu, hubungan mereka selalu… aneh. Ada jarak, tapi juga ada tatapan yang terlalu lama.
Maya mengusap keringat di dada dengan punggung tangan. Payudaranya bergoyang pelan, putingnya yang kecil dan sensitif sedikit mengeras karena gesekan kain. Dia merasa malu sendiri. Sudah berapa lama suaminya tak menyentuhnya? Dua bulan? Tiga? Setiap kali Pak Budi pulang, capek dan langsung tidur. Maya sering mandi malam sendirian, tangannya menyusuri tubuh sendiri di bawah air hangat, membayangkan sentuhan kasar yang tak pernah datang. Malam ini pun sama. Dia melirik jam dinding: pukul 21.45. Hanif belum pulang.
Di lantai atas, kamar Maya yang luas dengan tempat tidur king size terasa dingin meski AC menyala pelan. Dia masuk ke kamar mandi pribadi, membuka keran shower. Air hangat langsung menyembur, membasahi tubuhnya. Maya melepas baju rumah dan bra-nya, membiarkan payudaranya yang montok bebas. Dia berdiri di depan cermin besar yang mulai berembun. Tangan kanannya menyentuh pinggul lebarnya, lalu naik ke perut rata yang masih kencang meski sudah melahirkan satu anak dulu (dari pernikahan sebelumnya yang gagal). “Kenapa aku masih cantik tapi kesepian gini?” bisiknya pada bayangannya sendiri.
Air mengalir deras di antara belahan payudaranya, menetes ke puncak yang sudah mengeras. Maya memejamkan mata, membayangkan tangan seorang pria yang kuat meremasnya pelan. Bukan tangan suaminya. Tangan yang lebih muda, lebih berani. Dia menggigit bibir bawahnya, merasa memeknya mulai basah bukan karena air shower. “Hanif…” nama itu meluncur tanpa sengaja dari bibirnya. Maya langsung membuka mata, wajahnya merah. “Gila, Maya. Dia anak tiri kamu!”
Di bawah, pintu depan berderit pelan. Hanif pulang. Tas ranselnya dilempar ke sofa ruang tamu. Tubuhnya basah keringat setelah latihan basket kampus yang molor. Kaos hitam ketat menempel di dada bidang dan perut six-pack-nya. Celana pendek olahraga memperlihatkan paha berotot yang keras. Dia haus. Bau masakan dari dapur membuat perutnya keroncongan, tapi yang lebih membuatnya berhenti sejenak adalah suara air shower dari lantai atas. Kamar Maya.
Hanif menelan ludah. Sudah berbulan-bulan dia merasakan ini. Setiap kali melihat Maya membungkuk di dapur, pinggul lebar itu bergoyang, atau saat Maya pakai baju tidur tipis tanpa bra di malam panas, kontolnya langsung bereaksi. Dia tahu ini salah. Maya ibu tirinya. Tapi fantasi itu semakin kuat. Malam ini, dia tak tahan. Pelan-pelan, tanpa menyalakan lampu ruang tamu, Hanif naik tangga. Langkahnya ringan, seperti pencuri. Pintu kamar mandi Maya sedikit terbuka – kebiasaan Maya yang sering lupa karena rumah besar dan sepi.
Dari celah pintu yang hanya selebar dua jari, Hanif mengintip. Napasnya langsung tertahan. Maya berdiri telanjang di bawah shower. Air mengguyur tubuh montoknya yang sempurna. Payudaranya yang besar dan kencang bergoyang lembut setiap dia menggosok sabun di kulit. Putingnya merah muda, mengeras karena air hangat. Pinggul lebarnya mengayun pelan saat tangannya menyusuri paha dalam, membersihkan area memek yang licin. Rambut hitam panjangnya basah menempel di punggung, air menetes dari ujungnya ke bokong bulat yang padat.
“Fuck…” bisik Hanif dalam hati. Kontolnya di dalam celana pendek langsung mengeras, menonjol jelas. Dia menekan tangan ke selangkangan, merasakan denyutannya yang panas. Maya memejamkan mata, tangannya berlama-lama di dada, meremas payudaranya sendiri dengan gerakan pelan yang tak sadar. Jari-jarinya menyentuh puting, memilin pelan. Napasnya tersengal, bibirnya sedikit terbuka. Hanif membayangkan dirinya masuk ke kamar mandi itu, memeluk Maya dari belakang, kontolnya yang keras menempel di celah bokong mulus itu, tangannya menggenggam payudara besar itu dan meremas kuat sambil menggigit lehernya.
Maya mematikan shower. Dia mengambil handuk putih besar, mengeringkan tubuhnya dengan gerakan lambat. Handuk itu melingkar di dada, tapi tak cukup menutupi seluruh payudaranya – bagian bawah masih terlihat, dan belahan dada yang dalam menggoda. Saat dia membungkuk mengambil celana dalam dari rak, bokongnya terpapar sempurna dari celah pintu. Kulit putih mulus, tanpa cela, sedikit merah karena air panas. Hanif hampir mengerang. Dia mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. “Dia ibu tiriku… tapi astaga, memeknya pasti enak banget,” pikirnya kotor, kontolnya sudah basah di ujung karena precum.
Maya keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuh. Rambutnya masih basah, menetes ke bahu. Dia tak sadar Hanif ada di koridor gelap. Cahaya kamar tidur menyinari tubuhnya yang masih lembab. Hanif cepat-cepat turun tangga, duduk di sofa seolah baru pulang. Maya turun beberapa menit kemudian, sudah pakai baju rumah tipis baru – tanktop putih ketat yang jelas memperlihatkan putingnya yang masih mengeras, dan short pendek yang hampir tak menutupi pangkal paha.
“Oh, Hanif udah pulang? Mama kira kamu belum.” Maya tersenyum, suaranya lembut tapi ada nada lelah yang tersembunyi. Dia berjalan ke dapur, mengambil mangkuk sayur asam. Saat membungkuk mengambil nasi dari rice cooker, tanktop-nya melorot sedikit di bahu, memperlihatkan tali bra hitam dan belahan payudara yang dalam. Hanif menatap tanpa berkedip dari sofa.
“Iya, Ma. Kampus molor. Lapar banget nih.” Hanif menjawab, suaranya agak serak. Matanya tak bisa lepas dari gerakan Maya. Setiap kali Maya bergerak, pinggul lebar itu bergoyang, dan Hanif bisa bayangkan bagaimana rasanya mencengkeram pinggul itu sambil mengentot dari belakang.
Mereka makan malam berdua di meja makan yang besar. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar. Maya duduk di seberang Hanif, kakinya yang mulus bersilang di bawah meja. Sesekali lututnya tak sengaja menyentuh kaki Hanif di bawah meja. Hanya sentuhan ringan, tapi bagi Hanif seperti listrik. Kontolnya masih setengah keras di celana.
“Mama kesepian ya kalau Papa lagi dinas?” tanya Hanif tiba-tiba, matanya menatap langsung ke payudara Maya yang naik-turun saat bernapas.
Maya tersentak kecil, tapi tersenyum. “Iya, Nak. Rumah ini terlalu sepi. Mama cuma masak, bersih-bersih, nunggu kalian pulang. Kamu sendiri gimana? Kuliah lancar? Pacar nggak?”
Hanif tertawa pelan, suaranya dalam. “Belum ada yang serius, Ma. Cewek-cewek kampus kebanyakan main-main doang. Yang mau serius susah.” Dia mengunyah nasi, tapi pikirannya di tempat lain. 5937Please respect copyright.PENANAA69RHVqjVF
“Mama cantik banget malam ini. Baju baru ya?”
Maya merasa pipinya panas. “Ini baju lama kok. Cuma tipis karena panas.” Dia menggeser duduknya, short-nya naik sedikit, memperlihatkan paha dalam yang putih. Hanif menelan ludah keras. Mereka terus makan, tapi udara di antara mereka semakin tebal. Maya merasakan tatapan Hanif yang tak biasa – bukan tatapan anak ke ibu, tapi tatapan pria ke wanita. Dan anehnya, dia tak merasa jijik. Malah ada getar kecil di perut bawahnya.
Setelah makan, Maya mencuci piring di wastafel. Hanif berdiri di belakangnya, pura-pura ambil air minum dari dispenser. Tubuhnya hampir menempel. Bau sabun mandi Maya yang manis menguar ke hidungnya. Maya membungkuk sedikit saat menggosok piring, bokongnya hampir menyentuh selangkangan Hanif. Hanif mundur cepat, tapi terlambat – ujung kontolnya yang keras sempat menyenggol pinggul Maya sekilas melalui celana tipis.
“Maaf, Ma,” gumam Hanif, suaranya rendah.
Maya berbalik, wajahnya merah. 5937Please respect copyright.PENANAhn3j4qEn3H
“Nggak apa-apa, Han. Rumah sempit kok.” Tapi dia tahu rumah itu besar. Dan dia tahu Hanif tak sengaja. Atau… sengaja?
Malam semakin larut. Maya naik ke kamar lebih dulu. Hanif duduk di ruang TV, menyalakan film action tapi pikirannya tak ke sana. Dia membayangkan Maya di atas tempat tidur sekarang, mungkin membuka kaki pelan, tangannya menyentuh memek yang basah karena kesepian. 5937Please respect copyright.PENANANFYMfEWfgO
“Besok aku harus lebih berani,” pikirnya. 5937Please respect copyright.PENANAFSRB70GgYU
“Cuma ngintip doang nggak cukup lagi.”
Di kamar, Maya berbaring di tempat tidur king size yang dingin. AC menyala pelan. Handuk rambutnya dilepas, rambut hitamnya tergerai di bantal. Dia mematikan lampu, tapi tak bisa tidur. Tangan kanannya turun pelan ke perut, lalu lebih bawah, menyusup ke dalam short. Jari tengahnya menyentuh memek yang sudah licin. “Ahh…” desahnya pelan, hampir tak terdengar. Dia membayangkan Hanif – tubuh atletis itu menindihnya, kontol besar yang tadi sempat dia rasakan sekilas saat di dapur, masuk pelan ke dalam tubuhnya yang lapar.
Di bawah, Hanif mendengar desahan samar dari lantai atas. Dia tersenyum gelap. Malam ini baru permulaan.
Tiba-tiba, suara pintu garasi terdengar dari luar. Mobil Pak Budi masuk pelan ke halaman. Maya langsung duduk tegak di tempat tidur, jantungnya berdegup kencang. Hanif di bawah juga membeku. Suara langkah kaki mendekat ke pintu depan…5937Please respect copyright.PENANAv7RCOcRjGz
Suara kunci garasi berputar pelan di tengah malam yang lembab dan panas, diikuti deru mesin mobil yang pelan-pelan mati di halaman depan. Maya langsung tersentak bangun dari tempat tidur king size yang luas dan dingin itu. Jantungnya berdegup kencang sekali, hampir mau copot dari dada. Tangan kanannya masih basah dan lengket dari cairan memeknya sendiri yang tadi dia usap diam-diam di bawah selimut tipis. Desahan kecil yang lolos dari bibirnya tadi masih terngiang di telinga sendiri. Dia buru-buru menarik selimut sampai menutupi dada montoknya yang naik-turun cepat, merapikan rambut hitam panjangnya yang acak-acakan karena gelisah sepanjang malam. “Budi? Kok pulang mendadak seperti ini?” gumamnya dalam hati, campuran antara lega karena suaminya akhirnya pulang dan kecewa yang dalam karena fantasi liarnya tentang Hanif baru saja terpotong begitu saja di saat yang paling panas.
Di lantai bawah, Hanif cepat-cepat mematikan televisi yang sebenarnya hanya dia nyalakan sebagai alasan untuk tetap terjaga. Kontolnya masih setengah tegang di dalam boxer pendek hitam yang ketat, ujungnya sudah basah oleh precum yang menetes pelan ke kain. Dia buru-buru mengambil bantal sofa tebal untuk menutupi tonjolan yang sangat jelas itu. Pintu depan terbuka dengan suara berat. Pak Budi masuk dengan tas kerja besar di bahu, kemeja kusut parah, wajahnya tampak sangat lelah.
“Maya, Hanif, Papa sudah pulang,” seru Pak Budi dengan suara serak karena capek. Maya turun tangga dengan langkah cepat tapi pinggul lebarnya tetap bergoyang alami dan menggoda di balik tanktop tipis putih yang sangat ketat. Tanpa bra, payudaranya yang besar dan kencang bergoyang pelan setiap kali kakinya melangkah, puting cokelat mudanya masih agak mengeras karena sisa sentuhan jari-jarinya sendiri tadi di kamar. Pak Budi hanya melirik sekilas ke arah tubuh istrinya, tapi tak ada sedikit pun api gairah di matanya.
“Kok tidak bilang-bilang pulang malam ini, Pa?” tanya Maya sambil memeluk suaminya sekilas saja. Pelukan itu terasa dingin, hanya tepukan punggung biasa tanpa kehangatan. Pak Budi langsung duduk di sofa ruang tamu, tepat di sebelah Hanif yang pura-pura baru bangun dari tidur mengantuk dengan rambut acak-acakan.
“Meeting selesai lebih cepat dari rencana. Besok pagi-pagi sekali Papa harus ke Jakarta lagi untuk meeting besar,” jawab Pak Budi sambil menguap lebar. Matanya melirik Maya dari kepala sampai kaki, tapi hanya sebentar lalu kembali ke ponselnya. 5937Please respect copyright.PENANAExjkr4yncW
“Kamu tidur saja dulu, Ma. Papa masih ada laporan yang harus dikirim malam ini juga.”
Hanif duduk lebih tegak, tangannya menekan bantal lebih kuat di pangkuannya. 5937Please respect copyright.PENANACnyOsFK7Mr
“Papa capek sekali ya? Mau minum apa? Air dingin atau kopi panas?”
Maya langsung berjalan ke dapur lagi, langkahnya membuat pinggul lebarnya bergoyang lebih jelas di bawah cahaya lampu neon yang redup. Hanif tidak bisa melepaskan pandangannya sama sekali. Setiap gerakan Maya, bayangan bokong bulat putih mulus yang tadi dia intip di kamar mandi langsung muncul kembali di kepalanya dengan sangat jelas. Pak Budi hanya menggeleng lelah dan naik ke kamar utama tanpa banyak bicara lagi. Malam itu rumah kembali sunyi, tapi sunyi yang penuh dengan desiran tak terucap dan ketegangan yang semakin tebal di udara.
Pak Budi mandi cepat sekali, lalu langsung ambruk tidur di tempat tidur setelah hanya mengucapkan “Selamat malam” sambil mematikan lampu kamar. Maya berbaring di sebelahnya, memeluk bantal erat-erat. Tubuhnya masih panas seperti terbakar. Memeknya masih berdenyut pelan, basah, dan terasa sangat lapar akan sentuhan. Dia memejamkan mata, berusaha memaksa diri tidur, tapi pikirannya langsung melayang kembali ke Hanif. Bayangan tubuh atletis anak tirinya yang tinggi tegap, dada bidang, perut six-pack yang keras, dan kontol yang tadi sempat dia rasakan senggolan sekilas di dapur waktu cuci piring terus berputar di kepala. 5937Please respect copyright.PENANAIthcucPVDS
“Gila… dia anak tiri aku,” bisik Maya dalam hati, tapi tangannya tanpa sadar turun lagi ke perut rata yang mulus, menyusup ke dalam short pendeknya yang tipis. Jari tengahnya mengusap klitorisnya dengan gerakan pelan sekali, hanya lingkaran kecil yang menggoda, sambil membayangkan Hanif berdiri di belakangnya, tangan kuatnya meremas pinggul lebarnya dengan penuh nafsu, kontol kerasnya yang tebal menekan celah bokongnya dari belakang sambil menggigit lembut lehernya.
Di kamar sebelah, Hanif sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Dia berbaring telentang di tempat tidur, boxer-nya sudah diturunkan sampai ke paha. Kontolnya yang tebal dan panjang berdiri tegak sempurna, urat-uratnya menonjol karena nafsu yang sudah tidak tertahankan lagi. Tangan kanannya menggenggam batangnya erat, naik-turun dengan gerakan pelan sambil memejamkan mata rapat-rapat.5937Please respect copyright.PENANAKDHlQwCSuk
Dia membayangkan Maya telanjang di kamar mandi tadi malam – air shower mengguyur payudara besarnya yang montok dan kencang, puting merah muda yang mengeras karena air hangat, memek mulusnya yang tebal bibirnya terbuka sedikit saat dia membungkuk mengambil sabun. 5937Please respect copyright.PENANAXAFogfS5dI
“Mama… memek Mama pasti enak sekali… pasti sangat basah dan hangat,” gumam Hanif pelan, napasnya tersengal-sengal. Tangan kirinya meremas bola-bolanya sendiri dengan lembut, bayangan lidahnya menjilat klitoris Maya sampai Maya menjerit namanya dengan suara parau. Gerakannya semakin cepat, precum menetes deras ke perutnya yang keras dan berotot. Dia hampir mencapai puncak, tapi dia tahan dengan susah payah, ingin menyimpan nafsunya untuk momen yang lebih baik nanti.
Pagi harinya pukul 07.30, matahari Surabaya sudah terik menyinari halaman rumah yang luas. Pak Budi berangkat lagi dengan mobil jemputan kantor, hanya mencium kening Maya sekilas dan berkata “Jaga diri ya, Ma. Papa telepon nanti malam.” Rumah kembali sepi hanya berdua. Maya di dapur membuat sarapan spesial pagi itu: telur dadar dengan irisan cabai rawit merah, nasi goreng kampung yang harum, dan kopi hitam pekat untuk Hanif. Dia mengenakan daster tipis motif bunga merah yang longgar di bagian dada, tanpa bra lagi karena cuaca sudah sangat panas dari pagi. Setiap kali dia bergerak mengaduk nasi goreng di wajan, payudaranya yang besar dan montok bergoyang bebas di dalam kain tipis itu, putingnya samar-samar terlihat menonjol karena gesekan kain halus yang terus menerus.
Hanif turun tangga dengan kaos oblong hitam ketat yang menempel sempurna di dada bidang dan perut six-pack-nya. Boxer pendek abu-abu memperlihatkan paha berotot yang keras dan tegang. Rambutnya masih acak-acakan, bau sabun mandi segar yang maskulin. 5937Please respect copyright.PENANAVAJTDPP0F9
“Pagi, Ma. Papa sudah berangkat ya?”
“Iya, Nak. Baru saja tadi pagi. Sarapan dulu yuk, Mama masak yang banyak hari ini supaya kamu kenyang.” Maya menyodorkan piring sambil membungkuk di meja makan. Belahan dada dalamnya terbuka lebar, hampir memperlihatkan puting yang sudah agak mengeras lagi karena udara dan tatapan Hanif. Hanif duduk tepat di depannya, kontolnya langsung bereaksi kuat di dalam boxer, menonjol jelas di bawah meja.
Mereka makan dalam diam yang tegang dan penuh muatan gairah. Sesekali lutut Maya yang mulus dan putih bersentuhan dengan lutut Hanif di bawah meja – sentuhan ringan, hangat, dan berlangsung cukup lama. Maya merasakan getar kecil yang menyenangkan di perut bawahnya setiap kali kulit mereka bersentuhan. Hanif pura-pura tidak sadar, tapi dia sengaja menggeser kakinya sedikit lebih dekat lagi. 5937Please respect copyright.PENANAdBxBNCAllJ
“Kamu hari ini kuliah jam berapa, Han?” tanya Maya, suaranya lembut tapi agak serak karena gugup.
“Siang, Ma. Baru jam dua. Pagi ini santai saja di rumah. Aku mau ngerjain tugas di kamar sambil nemenin Mama sekalian.” Hanif menatap langsung ke mata Maya, lalu turun pelan ke dada yang naik-turun saat Maya bernapas dalam-dalam. 5937Please respect copyright.PENANAiKDtqBHpKj
“Mama hari ini tidak ada acara? Sendirian terus di rumah besar seperti ini pasti bosan sekali.”
Maya menghela napas panjang, payudaranya ikut naik-turun lebih jelas di balik daster tipis. 5937Please respect copyright.PENANAxaqWFFv5Dr
“Iya, Nak. Sendirian saja. Bersih-bersih rumah, cuci baju, masak… bosan sekali. Papa jarang pulang lama-lama seperti ini.” Dia menggigit bibir bawahnya pelan, tanpa sadar gerakan itu sangat menggoda. Hanif memperhatikan setiap detail, membayangkan bibirnya sendiri yang menggigit leher Maya dengan lembut tapi penuh nafsu.
Setelah sarapan selesai, Maya naik ke lantai atas untuk membereskan kamar utama. Hanif mengikuti diam-diam dari belakang, langkahnya pelan dan hati-hati. Dari celah pintu kamar yang sengaja tidak ditutup rapat, Hanif mengintip lagi dengan napas tertahan. 5937Please respect copyright.PENANATj0p8IxrsT
Maya membungkuk dalam-dalam mengambil seprai kotor dari tempat tidur. Daster tipisnya naik tinggi sampai pinggang, memperlihatkan bokong bulat putih mulus tanpa celana dalam sedikit pun. Memeknya terlihat samar dari belakang – bibir tebalnya yang pinkish, sedikit mengkilap karena udara panas dan sisa basah dari malam tadi. Hanif berdiri di koridor, tangannya meremas kontol di luar boxer dengan gerakan naik-turun pelan sambil menahan napasnya yang semakin berat.
Maya berbalik tiba-tiba untuk mengambil sarung bantal. Daster-nya melorot di satu bahu, hampir memperlihatkan payudara kiri yang montok dan penuh. Dia tidak sadar Hanif ada di sana. Atau mungkin dia sengaja? Hanif mundur cepat ke kamarnya sendiri, duduk di kursi belajar sambil mengocok kontolnya pelan di balik meja. “Aku tidak tahan lagi… Mama punya memek yang pasti sempit dan basah sekali,” pikirnya dengan pikiran kotor yang semakin liar, gerakannya semakin cepat tapi dia tahan lagi, ingin menyimpan semuanya.
Siang menjelang, Maya memutuskan mandi lagi karena keringat sudah banjir di seluruh tubuh montoknya. Kali ini dia sengaja membiarkan pintu kamar mandi terbuka sedikit lebih lebar dari biasanya. Air shower mengguyur tubuhnya yang sempurna dengan deras. Maya menyabuni payudaranya dengan gerakan super lambat dan menggoda, tangan kanannya meremas satu payudara penuh dengan lembut, jari-jarinya memilin puting yang mengeras sampai dia mendesah kecil 5937Please respect copyright.PENANAiCjrMQxldP
“Ahh…”. Tangan kirinya turun ke perut rata yang mulus, lalu ke memeknya yang sudah sangat licin. Jari tengahnya mengusap klitoris dalam lingkaran pelan yang lama, masuk sedikit ke dalam lubang yang berdenyut, keluar-masuk perlahan sambil membayangkan kontol Hanif yang tebal dan panjang masuk pelan ke dalam tubuhnya yang lapar. 5937Please respect copyright.PENANAOtfp6peiy2
“Hanif… Nak… Mama pengen sekali…” desahnya pelan di bawah air deras, mata terpejam rapat, pinggulnya mengayun pelan mengikuti irama jarinya sendiri.
Hanif berdiri tepat di depan celah pintu, mengintip tanpa malu lagi. Kontolnya sudah dikeluarkan dari boxer, digenggam erat, naik-turun dengan irama yang sama seperti gerakan jari Maya. Dia melihat setiap detail kecil: air menetes di belahan payudara besar Maya yang bergoyang berat, sabun putih meluncur pelan di perut rata dan paha dalamnya yang mulus, memeknya yang terbuka sedikit saat jarinya masuk lebih dalam. Hanif hampir mengerang keras, tapi ditahan kuat-kuat. Precum-nya menetes deras ke lantai koridor.
Maya mematikan air shower, mengambil handuk putih besar dan mengeringkan tubuhnya dengan gerakan lambat yang sangat menggoda. Handuk melilit longgar di dada, tapi bagian bawah payudaranya masih terlihat jelas, dan belahan dada dalamnya menggoda sekali. 5937Please respect copyright.PENANAAT2iketXXr
Saat keluar kamar mandi, dia melihat bayangan Hanif di koridor gelap. Maya tidak berteriak. Dia hanya diam, jantung berdegup kencang, memeknya semakin basah dan berdenyut. Dia berjalan ke lemari pakaian, membiarkan handuknya jatuh ke lantai dengan “tak sengaja”. Tubuh telanjangnya terpapar sepenuhnya di depan cermin besar: payudara montok bergoyang berat, pinggul lebar mengayun lembut, memek mulusnya yang sudah basah berkilat di bawah cahaya siang yang masuk dari jendela.
Hanif tidak tahan lagi. Dia masuk pelan ke kamar, berdiri di ambang pintu, kontolnya masih keras menonjol di luar boxer. 5937Please respect copyright.PENANANQAY71WCp2
“Ma…”
Maya berbalik cepat, pura-pura kaget, tangannya setengah menutupi dada tapi tidak sempurna – putingnya masih kelihatan di sela jari-jarinya. 5937Please respect copyright.PENANABMy1wy6vYB
“Hanif! Kamu ngapain di sini?!” Suaranya gemetar, tapi matanya turun ke kontol Hanif yang tebal dan panjang, ujungnya mengkilap oleh precum.
“Maaf, Ma… aku… aku tidak sengaja melihat Mama mandi lagi. Malam kemarin juga,” aku Hanif, suaranya berat penuh nafsu yang sudah tidak bisa ditahan. Dia maju selangkah lagi. 5937Please respect copyright.PENANA0TOEwnDxpq
“Mama cantik sekali. Tubuh Mama… aku tidak bisa berhenti memikirkan Mama setiap malam. Aku… aku sering mengocok kontolku sambil membayangkan Mama.”
Maya mundur sampai pinggulnya menyentuh meja rias, payudaranya naik-turun cepat karena napasnya yang tersengal. 5937Please respect copyright.PENANAKNjo5x9vGY
“Ini salah, Han. Kamu anak Mama… meski hanya tiri. Kita tidak boleh seperti ini.” Tapi suaranya tidak meyakinkan, matanya masih tertuju ke kontol Hanif yang berdenyut kuat.
“Tapi Mama juga kesepian kan? Papa jarang pulang, jarang menyentuh Mama. Aku melihat Mama sendirian setiap malam, mendengar desahan kecil dari kamar Mama… aku tahu Mama juga menginginkan ini.” Hanif semakin dekat, bau sabun mandi Maya yang manis bercampur aroma memek basahnya menguar kuat ke hidungnya.5937Please respect copyright.PENANAZKVLYUTEPR
Tangan kanannya terulur pelan, hanya menyentuh lengan Maya yang mulus dengan ujung jari. Hanya sentuhan ringan, tapi seperti listrik menyambar seluruh tubuh. Maya menggigil hebat, putingnya mengeras lebih keras, memeknya menetes cairan hangat ke paha dalamnya.
“Jangan, Han… kita… kita harus berhenti di sini,” bisik Maya, tapi tubuhnya tidak mundur. Malah dia merasa lututnya lemas, pinggulnya sedikit maju tanpa sadar.
Hanif menunduk, napasnya panas menyapu leher Maya yang putih mulus.5937Please respect copyright.PENANAkr4VhNSQcF
“Boleh aku mencium Mama sekali saja? Cuma sekali… aku janji.”
Maya tidak menjawab. Matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka menggoda. Hanif mendekatkan wajahnya perlahan, bibir mereka hanya berjarak satu senti…
Tiba-tiba bel pintu depan berbunyi nyaring dan panjang. Suara tetangga sebelah yang cerewet: 5937Please respect copyright.PENANAsRmUAR8yY5
“Bu Maya! Ada paket dari online shop! Besar sekali nih!”
Maya mendorong dada Hanif pelan tapi tegas, wajahnya merah padam total. Dia buru-buru mengambil handuk dari lantai, melilit tubuh montoknya dengan tangan gemetar. 5937Please respect copyright.PENANAGgILZEOOyW
“Kita… ini tidak boleh kejadian lagi, Han. Mama serius.” Tapi suaranya lemah, dan matanya masih melirik kontol Hanif yang masih keras sebelum dia buru-buru turun tangga.
Hanif mundur dengan kontol masih tegak, tersenyum tipis penuh janji gelap.5937Please respect copyright.PENANADFWrVP8nUA
“Iya, Ma. Maaf… tapi aku tidak bohong, Mama membuat aku gila.”
Maya turun untuk mengambil paket, kakinya lemas sekali, memeknya masih basah dan berdenyut hebat. Di dalam hati dia tahu nafsu ini sudah terlanjur menyala besar dan sulit dipadamkan. Sore itu hujan deras mulai turun mengguyur Surabaya dengan lebat, langit gelap gulita, listrik rumah padam sebentar.5937Please respect copyright.PENANAyZHX5P1MKs
Maya dan Hanif terjebak berdua di ruang tamu yang gelap, tubuh mereka hampir bersentuhan di sofa panjang saat mereka duduk dekat mencari senter dan lilin…
ns216.73.216.98da2


