Malam itu hujan deras mengguyur kampus Universitas Garuda, membuat seluruh area terasa seperti kuburan yang basah dan sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 22.17 WIB. Lampu-lampu koridor gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis sudah sebagian besar padam, hanya menyisakan cahaya kuning redup dari lampu emergency dan ruangan dosen di lantai tiga yang masih menyala terang.
Di dalam ruangan dosen nomor 312, Dr. Ratna Wijaya duduk sendirian di balik meja kerjanya yang rapi. Usianya 32 tahun, tapi penampilannya masih seperti wanita 27 tahun yang baru lulus S3. Tubuhnya tinggi semampai 168 cm, dengan payudara besar yang selalu menonjol di balik kemeja putih ketatnya, pinggang ramping, dan pinggul lebar yang membuat rok pencil hitamnya terlihat seperti dibuat khusus untuk menggoda. Rambut hitam panjangnya tergerai sampai punggung, wajah oval dengan bibir penuh dan mata sipit yang tajam. Ratna adalah dosen mata kuliah Manajemen Strategi yang terkenal strict, dingin, dan tak kenal kompromi. Mahasiswa takut sekaligus mengaguminya. Ia single setelah perceraiannya dua tahun lalu, dan ia sengaja menjaga jarak dari semua pria di kampus. “Kerja dulu, cinta belakangan,” katanya selalu dalam hati.
Malam ini ia lembur koreksi skripsi mahasiswa semester akhir. Tumpukan kertas di depannya masih tebal. Ia menghela napas panjang, melepas kacamata baca, dan mengusap pelipisnya yang mulai pegal. “Besok pagi harus selesai,” gumamnya pelan. Suara hujan di luar jendela semakin deras, membuat ruangan terasa semakin terisolasi.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.
Ratna mengerutkan kening. “Siapa? Masuk.”
Pintu terbuka pelan. Yang muncul adalah Nando Pratama, mahasiswa semester 8 jurusannya. Tubuhnya tinggi besar, 185 cm, berotot karena sering latihan tinju di gym kampus. Kulit sawo matang, rambut pendek acak-acakan, dan tatapan mata yang selalu penuh nafsu setiap melihat Ratna. Nando adalah tipe bad boy yang nilainya sering merah, tapi otaknya cerdas. Ia sudah mengincar Ratna sejak semester 3. Setiap malam ia masturbasi sambil membayangkan memek dosennya yang angkuh itu. Ia sudah mengumpulkan ratusan foto candid Ratna dari Instagram dan CCTV kampus. Malam ini ia datang dengan rencana yang sudah matang.
“Bu Ratna… maaf ganggu malam-malam. Saya butuh bimbingan skripsi mendadak. Besok deadline revisi bab 3,” kata Nando dengan suara rendah, pura-pura sopan sambil menutup pintu di belakangnya.
Ratna melirik jam dinding, lalu menggeleng tegas. “Nando, jam segini? Besok pagi saja. Kampus sudah sepi, saya juga capek.”
Nando tidak mundur. Ia melangkah mendekat, meletakkan tasnya di kursi tamu, dan menatap Ratna dengan tatapan yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi. “Bu… saya sudah nunggu seminggu. Kalau tidak sekarang, nilai saya jeblok total. Saya janji cepat.”
Ratna menghela napas kesal. Ia berdiri, merapikan roknya yang naik sedikit karena duduk lama, dan menunjuk kursi di depan meja. “Duduk. Cepat. Lima belas menit saja.”
Nando duduk, tapi matanya tidak lepas dari belahan dada Ratna yang terlihat dari kancing kemeja yang agak longgar. Ratna mulai membuka file skripsinya di laptop dan menjelaskan revisi dengan nada profesional. Tapi Nando tidak mendengar. Pikirannya sudah di tempat lain.
Sepuluh menit berlalu. Tiba-tiba Nando berdiri, berjalan ke pintu, dan menguncinya dengan pelan. Klik.
Ratna langsung waspada. “Nando, apa yang kamu lakukan? Buka pintunya sekarang.”
Nando berbalik, senyumnya berubah menjadi seringai buas. “Bu Ratna… saya sudah bosan pura-pura. Sudah tiga tahun saya gila sama Bu. Setiap kali Bu ngajar, kontol saya ngaceng di bawah meja. Setiap malam saya coli sambil bayangin memek Bu yang sombong itu. Sekarang… malam ini… saya mau yang asli.”
Wajah Ratna memucat. Ia mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh lemari arsip. “Kamu gila? Saya dosenmu! Ini pelecehan! Buka pintu sekarang atau saya teriak!”
Nando tertawa pelan, suaranya dalam dan mengancam. Ia melangkah mendekat. Tubuh besarnya membuat Ratna terlihat kecil. “Teriak aja, Bu. Kampus sepi. Satpam lagi pada ngumpul di pos depan. Hujan deras. Tidak ada yang dengar. Dan kalau Bu lapor… saya punya video Bu waktu lagi ganti baju di ruang ganti dosen dua bulan lalu. Saya pasang kamera kecil. Mau lihat?”
Ratna gemetar. Marah, takut, dan jijik bercampur. “Bangsat! Kamu penjahat! Lepas! Jangan mendekat!”
Ia berusaha lari ke samping meja menuju pintu, tapi Nando lebih cepat. Tangan besarnya menyambar lengan Ratna, menariknya kasar hingga tubuh Ratna membentur dada bidangnya. Ratna langsung memberontak. Ia memukul dada Nando sekuat tenaga dengan tinju kecilnya.
“LEPAS! ANJING! LEPASIN AKU!” teriak Ratna sambil cakar wajah Nando dengan kuku-kukunya yang panjang. Darah tipis mengalir dari pipi Nando.
Nando menggeram kesakitan tapi malah semakin bergairah. Ia mendorong Ratna hingga punggungnya menabrak meja kerja. Kertas-kertas skripsi beterbangan. Dengan satu tangan ia menjepit kedua pergelangan tangan Ratna di atas kepala, tangan satunya lagi merobek kemeja putih Ratna dengan kasar. Kancing-kancing berhamburan.
“Brengsek! Jangan sentuh aku! Tolong! Tolong siapa saja!” Ratna menjerit histeris. Air mata sudah mengalir di pipinya. Ia menggeleng-geleng keras, rambutnya acak-acakan.
Nando menatap payudara Ratna yang terbungkus bra hitam renda. Putingnya yang pink kecokelatan terlihat jelas. “Wah… memeknya Bu Ratna lebih indah dari bayangan saya,” desisnya sambil menunduk dan menggigit puting kiri Ratna melalui bra.
“AAAAHHH! SAKIT! JANGAN GIGIT! BABI! LEPAS!” Ratna menggeliat seperti ular, kakinya menendang-nendang perut Nando. Salah satu tendangannya mengenai selangkangan Nando cukup keras.
Nando meringis tapi tidak melepaskan. Ia malah menampar pipi Ratna cukup keras hingga kepala Ratna tersentak. “Diem lo, jalang! Memek lo milik saya sekarang!”
Ia menarik bra Ratna ke bawah dengan kasar hingga kedua payudara besar itu melompat keluar, bergoyang-goyang. Nando langsung menyedot puting kanan Ratna dengan rakus, lidahnya berputar-putar, giginya menggigit pelan tapi kuat. Tangan satunya meremas payudara kiri dengan kasar, meremas-remas seperti ingin memeras susu.
Ratna menangis tersedu. “Jangan… tolong… saya tidak mau… Nando… kamu bisa dihukum penjara… lepas… aku mohon…”
Tapi Nando sudah tidak peduli. Ia menarik rok Ratna ke atas hingga pinggang, lalu merobek celana dalam hitam Ratna dengan satu tarikan kuat. Memek Ratna yang rapi, berbulu tipis, dan masih kering karena takut terpapar udara dingin ruangan.
Nando menjepit paha Ratna dengan lututnya yang kuat agar tidak bisa menendang lagi. Jari-jarinya yang kasar langsung meraba bibir memek Ratna, menggesek-gesek klitorisnya yang masih kering.
“Basah juga akhirnya… meski Bu pura-pura suci,” ejek Nando sambil memasukkan satu jari ke dalam lubang memek Ratna yang sempit.
“AAAAAHHH! SAKIT! Keluarin jari lo! Jangan masukin! Aku perawan di situ lagi! Tolong… sakit banget!” Ratna menjerit sambil menggeliat sekuat tenaga. Tubuhnya berkeringat dingin. Air matanya membasahi meja.
Nando menambah satu jari lagi, mengaduk-aduk dalam-dalam, memutar-mutar, menggosok dinding memek Ratna yang masih kering dan tegang karena ketakutan. “Sempit banget memek dosenku… lama-lama juga basah sendiri, jalang.”
Ratna terus berontak. Ia menggigit bahu Nando hingga berdarah. “Lepas! Bangsat! Aku benci kamu! Aku akan laporkan ke polisi! Lepas!”
Nando tertawa gila. Ia membuka resleting celananya dengan satu tangan. Kontolnya yang sudah ngaceng maksimal melompat keluar. Panjang 18 cm, tebal seperti botol kecil, kepala merah mengkilap, urat-urat menonjol. Ia menggesek-gesek kepala kontolnya di bibir memek Ratna yang masih kering.
“Siap-siap, Bu… kontol murid lo mau masuk ke memek Bu sekarang.”
“JANGAN! TIDAK! NANDO! JANGAN MASUKIN! AKU MOHON! AKU AKAN KASIH NILAI A+! APA SAJA! JANGAN PERKOSA AKU!” Ratna menjerit sekuat tenaga, suaranya pecah karena takut. Tubuhnya menggigil hebat.
Nando tidak peduli. Ia mendorong pinggulnya maju dengan kuat. Kepala kontolnya yang besar mendesak masuk ke lubang memek Ratna yang kering dan tegang.
“AAAAAARRRGGHHH!!! SAKIT!!! KELUARIN!!! KONTOL LO TERLALU BESAR!!! ROBEK MEMEK AKU!!! TOLOOONG!!!” Ratna menjerit histeris. Air matanya mengalir deras. Tubuhnya melengkung hebat mencoba melepaskan diri, tapi Nando menindihnya dengan berat badan 85 kg-nya.
Nando mendorong terus, senti demi senti. Memek Ratna yang kering membuat gesekannya terasa seperti api. “Sempit banget… enak… memek dosenku… akhirnya aku ngentot juga…”
Ia terus mendorong hingga pangkal kontolnya menempel di bibir memek Ratna. Seluruh 18 cm kontolnya sudah tenggelam di dalam memek Ratna yang terasa seperti diremas-remas oleh otot-otot yang panik.
Ratna menangis tersengal. “Sakit… sakit sekali… keluarin… please… aku tidak tahan… kamu hancurkan aku…”
Nando mulai menggerakkan pinggulnya. Keluar-masuk pelan dulu, lalu semakin cepat. Suara plok-plok-plok basah mulai terdengar karena memek Ratna akhirnya mengeluarkan cairan lendir paksaan karena gesekan kasar.
“Enak ya, Bu? Memek lo ngisep kontolku sendiri,” ejek Nando sambil terus menggenjot. Tangan kirinya meremas payudara Ratna, tangan kanannya menjepit leher Ratna cukup kuat agar tidak teriak terlalu keras.
Ratna terus berontak meski tenaganya mulai melemah. Ia menggeleng-geleng, “Tidak enak… aku benci… ini pemerkosaan… aku akan bunuh diri setelah ini… lepas… lepas…”
Nando semakin brutal. Ia mengangkat satu kaki Ratna ke bahunya, membuat memek Ratna semakin terbuka lebar. Ia menggenjot lebih dalam, lebih cepat, kepala kontolnya menghantam-hantam serviks Ratna.
Plok! Plok! Plok! Plok!
“Memek lo makin basah, Bu… bilang jujur… suka kan? Kontol murid lo lebih gede dari mantan suami lo yang impoten itu?”
Ratna hanya bisa menangis dan menggigit bibirnya hingga berdarah. “Tidak… tidak suka… sakit… keluarin… aku mohon… Nando… kamu anakku… jangan begini…”
Nando tertawa. Ia menarik kontolnya keluar sepenuhnya, lalu memutar tubuh Ratna hingga membungkuk di atas meja. Payudara Ratna menempel dingin di permukaan meja. Nando masuk lagi dari belakang dalam satu hantaman kuat.
“AAAAHHH!!! LEBIH SAKIT DARI BELAKANG!!! KONTOL LO NGENA G-SPOT AKU!!! JANGAN GERAK!!! TOLONG!!!”
Nando memegang pinggul Ratna yang lebar dengan dua tangan dan menggenjot seperti mesin. Setiap hantaman membuat pantat Ratna bergoyang-goyang. Ia menampar pantat Ratna keras berkali-kali hingga memerah.
“Pantat dosenku empuk banget… enak digenjot sambil ngentot memeknya.”
Ratna hanya bisa menangis dan menggenggam pinggir meja hingga jari-jarinya memutih. “Aku benci kamu… aku benci… keluarin… jangan cum di dalam… aku tidak pakai pil…”
Tapi Nando semakin mendekati klimaks. Gerakannya semakin liar, semakin dalam, semakin cepat. Keringatnya menetes ke punggung Ratna.
“Siap-siap, Bu… saya mau crot di dalam memek Bu… isi penuh…”
“JANGAN!!! JANGAN CUM DI DALAM!!! AKU MOHON!!! JANGAN HAMILKAN AKU!!! BANGSAT!!! LEPAS!!! AAAAAAHHH!!!”
Nando menggeram seperti binatang. Ia mendorong kontolnya sedalam mungkin dan menyemburkan sperma panasnya dalam jet-jet kuat di dalam rahim Ratna. Satu… dua… tiga… tujuh kali menyembur. Sperma tebal dan banyak memenuhi memek Ratna hingga meluber keluar di sekitar batang kontolnya.
Ratna merasakan cairan panas itu membasahi dalamnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menangis tanpa suara lagi, hanya bahunya yang naik-turun.
Nando menarik kontolnya keluar perlahan. Memek Ratna yang tadinya rapat sekarang menganga sedikit, sperma putih kental mengalir deras ke lantai.
Ia membalik tubuh Ratna lagi, memaksa Ratna berlutut di depannya. Kontolnya yang masih setengah tegang dan penuh campuran sperma serta lendir memek Ratna menempel di wajah Ratna.
“Bersihin, Bu. Hisap kontol saya sampai bersih.”
Ratna menggeleng lemah, air mata masih mengalir. “Tidak… aku tidak mau… cukup… tolong… biarkan aku pergi…”
Nando menjepit rahang Ratna dan memaksa mulutnya terbuka. Ia memasukkan kontolnya yang kotor ke dalam mulut Ratna yang hangat.
Ratna muntah-muntah kecil tapi Nando tetap mendorong hingga kontolnya menyentuh tenggorokan. Ia mulai menggenjot mulut Ratna pelan.
“Enak… bibir dosenku… hisap lebih kuat, jalang…”
Ratna hanya bisa terisak sambil kontol Nando keluar-masuk mulutnya. Lidahnya terpaksa membersihkan sisa sperma dan cairan memeknya sendiri.
Setelah puas, Nando menarik kontolnya, mengusapnya di rambut Ratna, lalu berpakaian kembali.
Ratna ambruk di lantai, tubuh telanjang, memek dan mulutnya berlepotan sperma, air mata mengalir deras. Ia meringkuk, memeluk lututnya sendiri, menangis tersedu-sedu.
Nando berjongkok di depannya, mengangkat dagu Ratna dengan kasar.
“Ini baru permulaan, Bu Ratna. Besok malam kita lanjut di tempat lain. Kalau Bu lapor… video dan foto-foto itu akan tersebar ke seluruh mahasiswa dan grup WhatsApp dosen. Mengerti?”
Ratna tidak menjawab. Hanya tatapannya yang kosong dan penuh kebencian.
Nando tertawa, mencium kening Ratna dengan paksa, lalu berjalan ke pintu, membukanya pelan, dan menghilang ke dalam hujan deras.
Ratna tetap meringkuk di lantai ruangan dosen yang berantakan. Sperma Nando masih mengalir pelan dari memeknya yang sakit dan bengkak. Ia menangis tanpa suara.
“Kenapa… Tuhan… kenapa aku…”
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dr. Ratna Wijaya merasakan kehancuran total.
ns216.73.216.105da2


