Namaku Arman, 19 tahun. Aku mahasiswa semester tiga jurusan teknik di salah satu universitas swasta di Jakarta Selatan. Tinggi badanku 178 cm, badan sedang tapi sudah agak berotot karena suka main gym di kampus. Sejak Papa meninggal dua tahun lalu karena serangan jantung, rumah besar kami di Kemang ini hanya dihuni aku, Mama Miya, dan Tante Tara. Rumah dua lantai dengan halaman kecil di belakang, kamar-kamar luas, dan ruang keluarga yang nyaman. Dulu rumah ini ramai, tapi sekarang suasananya sering sepi, kecuali saat nafsu mulai muncul di antara kami bertiga.
Mama Miya berumur 42 tahun. Kulitnya putih susu, halus, hampir tidak ada keriput. Payudaranya besar, ukuran 36D, masih kencang dan berat meski sudah melahirkan dua anak. Putingnya cokelat muda dan mudah mengeras. Pinggangnya ramping, perutnya agak rata dengan sedikit lemak lembut yang membuatnya terlihat sangat feminin. Pantatnya montok, bulat, dan selalu bergoyang lembut setiap dia berjalan di rumah pakai daster tipis atau kaos oversize. Rambutnya hitam sebahu, biasanya diikat ponytail sederhana. Matanya besar dan lembut, tapi kalau sedang birahi, matanya jadi gelap dan penuh nafsu. Mama bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan swasta, pulang malam tapi selalu rapi dan wangi.
Tante Tara, adik Mama, 38 tahun. Tubuhnya lebih atletis karena setiap pagi dia yoga dan lari di taman kompleks. Payudaranya lebih besar lagi, ukuran 38E, berat dan agak kendur alami yang justru bikin kelihatan sangat menggoda. Pinggulnya lebar, pantatnya besar tapi kencang. Kulitnya juga putih, tapi sedikit lebih kecokelatan karena sering olahraga outdoor. Rambutnya hitam panjang sampai punggung, selalu tergerai di rumah. Di luar rumah Tante selalu pakai hijab kekinian yang modis – kadang warna pastel, kadang hitam elegan – yang malah bikin dia terlihat semakin seksi karena kontras dengan tubuhnya yang montok. Tante kerja sebagai desainer interior, sering bawa laptop dan sketsa ke rumah.
Sejak kejadian di hutan Solo dua bulan lalu, semuanya berubah. Kami bertiga pergi liburan keluarga ke villa kecil di lereng hutan dekat Solo. Malam kedua, hujan deras sekali, listrik padam, dan kami terpaksa tidur berimpitan di satu kamar karena kamar lain bocor. Malam itu tangan kami saling menyentuh di bawah selimut. Aku merasakan payudara Mama di lenganku, Tante Tara menempelkan pahanya ke kontolku yang sudah keras. Kami hampir melakukannya, napas kami saling terengah, tapi tidak ada yang berani memulai. Keesokan harinya kami pulang dan pura-pura lupa. Tapi sejak itu, setiap kali bertemu di rumah, tatapan kami lama sekali. Kalau aku lewat di dapur dan tangan Mama menyentuh pinggangku, rasanya seperti listrik. Kalau Tante Tara membungkuk mengambil barang di lantai, pantatnya yang montok membuat kontolku langsung tegang.
Malam ini hujan deras sekali sejak sore hari. Air mengguyur atap rumah tanpa henti, angin kencang membuat pohon-pohon di halaman bergoyang. Jam tujuh malam listrik mati total karena banjir di gardu listrik dekat kompleks. Rumah gelap gulita. Aku nyalakan beberapa lilin besar dan senter HP di ruang keluarga. Aku hanya pakai celana pendek hitam longgar, dada telanjang, duduk di sofa sambil main HP.
Jam delapan lewat, Mama dan Tante Tara pulang. Mobil mereka masuk garasi dengan suara ban yang basah. Mereka masuk rumah sambil tertawa kecil dan mengeluh basah kuyup.
“Ya Tuhan, banjir di mana-mana! Jalan dari kantor macet banget,” kata Mama sambil melepas sepatu haknya. Blus putihnya basah menempel ketat di tubuhnya. Bra hitamnya kelihatan jelas, payudaranya yang besar terlihat bulat sempurna. Roknya juga basah, menempel di pinggul dan paha.
Tante Tara di belakangnya melepas hijab basahnya. Rambut panjangnya tergerai, menempel di bahu dan dada. Blus abu-abunya transparan, bra merahnya kelihatan, putingnya sudah agak keras karena dingin. “Untung sampai rumah. Arman, listrik mati ya? Panas banget badan Tante.”
Aku bangkit dari sofa. “Iya, Tante. Aku sudah siapkan lilin di kamar mandi atas juga. Mau mandi dulu? Air hangat masih ada di heater cadangan.”
Mama tersenyum melihatku. Matanya turun ke celana pendekku sebentar, lalu naik lagi. “Iya, yuk mandi bareng. Hemat air panas. Kita bertiga saja kok, sudah malam.”
Kami naik ke lantai dua menuju kamar mandi utama yang luas. Ada shower besar, bathtub, dan meja wastafel marmer. Aku nyalakan dua lilin besar di meja. Cahaya kuning temaram menerangi ruangan. Bayangan kami bertiga terlihat besar di dinding keramik.
Tanpa banyak kata, Tante Tara mulai melepas baju. Dia buka kancing blusnya satu per satu, perlahan. Payudaranya yang besar melambung keluar begitu bra merahnya dilepas. Putingnya cokelat gelap, sudah keras menonjol. Lalu dia tarik roknya turun, celana dalam hitam tipisnya basah dan menempel di memeknya yang sudah agak bengkak. Dia tarik celana dalam itu pelan, memeknya yang mulus dengan sedikit bulu rapi terlihat.
Mama melihatku sambil tersenyum tipis. Dia buka blus putihnya perlahan, kancing demi kancing, seperti sengaja memberiku pertunjukan. Payudaranya hampir meluber dari bra beige basah. Dia buka kaitan bra di belakang, payudaranya jatuh bebas, berat dan penuh. Lalu rok dan celana dalamnya ikut jatuh. Memek Mama yang tebal dan pink terlihat sudah basah, bukan hanya karena hujan.
Aku berdiri di depan mereka, kontolku sudah tegang keras di dalam celana pendek. Kepalanya basah dan menonjol jelas.
Tante Tara mendekat ke belakangku. Payudaranya yang berat dan hangat menempel langsung di punggungku. Putingnya menusuk kulitku. Bibirnya menyentuh telingaku, napasnya panas dan cepat.
“Arman... Tante tahu dari dulu kamu suka ngintip. Waktu Tante mandi atau ganti baju, kamu sering berdiri diam di balik pintu. Tante juga sering dengar kamu mendesah nama Tante di kamar kamu malam-malam. Benar kan, Sayang?” bisiknya sambil tangannya memeluk pinggangku dari belakang.
Aku mengangguk pelan, suaraku serak. “Iya, Tante... maaf.”
Mama maju ke depanku. Tubuhnya yang telanjang menempel di dada ku. Payudaranya yang besar tertekan di perutku. Tangannya menyentuh dada ku, meraba otot perutku, lalu turun ke celana pendek. Dia remas kontolku dari luar kain dengan lembut tapi kuat.
“Malam ini tidak ada maaf-maaf lagi, Nak,” kata Mama dengan suara lembut tapi bergetar nafsu. “Mama sudah lama tahu kamu lihat Mama seperti perempuan, bukan hanya ibu. Sejak kejadian di hutan Solo itu, Mama susah tidur memikirkan kontol kamu. Mama mau anak Mama. Tante Tara juga mau keponakannya. Kita bertiga saling menginginkan. Malam ini kita akui semuanya. Tidak ada pura-pura lagi.”
Mama mencium bibirku duluan. Ciumannya dalam, lidahnya masuk langsung, berputar pelan dengan lidahku. Rasa bibirnya manis, hangat, dan lapar. Tante Tara dari belakang menciumi leherku, gigit kecil, lalu hisap kulitku. Tangannya masuk ke celana pendekku, genggam kontolku yang sudah berdenyut keras, naik-turun pelan.
Aku melepas celana pendekku sendiri. Kontolku melompat keluar, tegak lurus, urat-uratnya kelihatan. Mama turun ke bawah, berlutut di lantai kamar mandi yang basah. Dia pegang kontolku dengan dua tangan, pandanginya lama.
“Ini kontol anak Mama... sudah besar sekali sekarang,” bisiknya. Lidahnya menjilat dari bola-bola sampai ke ujung pelan sekali. Lalu dia telan separuhnya, mulutnya hangat dan basah.
Tante Tara memutar tubuhku sedikit, lalu berlutut juga di samping Mama. Mereka berdua bergantian mengulum kontolku. Mama telan dalam, Tante Tara jilat sampingnya. Air liur mereka menetes ke lantai.
Kami masuk ke bawah shower. Air hangat mengguyur tubuh kami bertiga. Aku berdiri di tengah, Mama dan Tante Tara di depan dan belakangku. Tangan mereka saling meraba tubuhku, sabun tubuh wangi dioleskan ke dada, perut, kontol, dan bola-bolaku. Aku remas payudara Mama dari depan, cubit putingnya sampai ASI kecil keluar. Tante Tara gosok pantatku dengan payudaranya yang besar.
Kami mandi hampir 40 menit. Banyak ciuman, banyak sentuhan. Mama ajarkan aku cara jari memek Tante Tara sampai Tante orgasme kecil di bawah shower. Tante Tara hisap kontolku sambil Mama cium bibirku.
Akhirnya kami keluar, badan masih basah, langsung ke kamar Mama yang paling besar. Dua lilin besar di nakas menyala. Kasur king size dengan seprai putih bersih.
Aku duduk di tepi kasur. Mama dan Tante Tara berdiri di depanku, tubuh telanjang mereka bersinar di cahaya lilin.
Mereka mulai berciuman di depanku. Lidah mereka saling masuk, tangan saling remas payudara. Lalu mereka berlutut bersama di antara kakiku.
Mama yang mulai. Dia telan kontolku sampai pangkal, tenggorokannya meremas ujung. Kepalanya naik-turun pelan tapi dalam. Tante Tara hisap bola-bolaku, lidahnya menjilat anusku sedikit.
“Uhh... enak sekali... Ma... Tante...” erangku sambil pegang rambut mereka.
Setelah 15 menit oral yang panas, aku baringkan Mama telentang. Kakinya kuangkat tinggi, memeknya terbuka lebar. Aku jilat dari anus sampai klitoris pelan-pelan. Lidahku masuk ke dalam memeknya, rasanya asin manis. Lalu aku isap klitorisnya kuat sambil masukkan tiga jari, goyang cepat.
Mama merintih keras, “Arman... jilati memek Mama lebih dalam... ya ampun... anak Mama jago sekali... Mama mau keluar... ahh!”
Mama orgasme pertama, cairannya menyemprot ke mulutku.
Tante Tara naik ke wajah Mama, menungging. Mama jilat memek adiknya rakus sambil aku bangkit dan arahkan kontol ke memek Mama.
“Ma... aku masuk ya... pelan dulu.”
“Masuk, Nak... isi memek Mama yang lahirkan kamu... hamilin Mama lagi...”
Satu dorongan panjang. Kontolku masuk semua. Hangat, ketat, basah sekali. Aku diam sebentar, lalu mulai gerak. Keluar masuk pelan, lalu semakin cepat. Payudara Mama bergoyang-goyang. Aku remas dan hisap putingnya.
Di samping, Tante Tara mendesah karena dijilati Mama.
Aku genjot Mama hampir 20 menit. Ganti posisi missionary, lalu side fuck, lalu Mama naik ke atasku cowgirl pelan. Aku dorong dari bawah sambil Tante Tara duduk di wajahku.
Lalu ganti ke Tante Tara. Doggy style panjang. Pantatnya yang besar aku tabrak keras, “Plak! Plak! Plak!” suaranya memenuhi kamar. Tante Tara jerit, “Entot Tante lebih keras, Arman...! Kontol keponakan Tante enak sekali... isi rahim Tante...!”
Kami bergantian hampir satu jam. Aku ejakulasi pertama di dalam Mama, dorong sangat dalam, semprot berkali-kali. Mama jerit orgasme hebat.
Langsung cabut dan masuk Tante Tara, ejakulasi kedua di dalamnya.
Kami istirahat minum air, peluk-pelukan, ciuman lembut. Lalu lanjut ronde ketiga dengan Tante Tara naik ke atasku, goyang liar reverse cowgirl sambil Mama jilat sambungan kami dan anus Tante.
Malam itu berlanjut sampai pukul empat pagi. Banyak posisi, banyak orgasme, banyak kata-kata mesum yang penuh nafsu tapi penuh kasih.
Pukul empat pagi, kami bertiga berpelukan telanjang di kasur besar yang basah keringat dan cairan. Sperma masih mengalir pelan dari memek Mama dan Tante Tara.
Mama usap perutnya, tersenyum. “Mulai malam ini, rumah ini jadi tempat kita bebas. Mama mau kontol kamu setiap hari.”
Tante Tara cium bibirku. “Tante juga. Di rumah ini, Tante bukan cuma tante lagi... Tante milik Arman.”
Aku peluk mereka erat. “Besok pagi aku mau bangun dengan mulut kalian berdua di kontolku.”
Mereka tertawa pelan dan cium aku bergantian.
List Cerita pdf dan cek kode cerita459Please respect copyright.PENANAtfeUaLDyAp
docs.google.com/spreadsheets/d/1Y9KMFZBWbZEZ3EsMZ0cq_RS03eTHZrjjz5hWzH16C2c/edit?usp=sharing459Please respect copyright.PENANAaul2Gi2fNO
Versi PDF:459Please respect copyright.PENANAylFi6ZJU49
lynk.id/bande41459Please respect copyright.PENANAhFnccQacnD


