Aku Andika, 28 tahun, kerja sebagai marketing di sebuah perusahaan startup di Jakarta. Hidupku terasa cukup sempurna. Aku punya pacar bernama Silvi, cewek cantik, 26 tahun, kulit putih mulus, rambut panjang hitam lurus, tubuhnya ideal banget—payudara C-cup yang selalu bikin aku klepek-klepek tiap malam. Kami sudah pacaran tiga tahun, tinggal bareng di apartemen kecil di daerah Kuningan. Sex kami rutin, tapi ya… sudah mulai biasa aja. Silvi tipe yang manis di luar, tapi di ranjang dia agak pemalu. Dia suka bilang “pelan aja ya Dik”, padahal aku kadang pengen ngentot kasar.
Sahabat Silvi yang paling dekat adalah Dita. Dita ini beda banget. 27 tahun, tubuhnya lebih montok, bokongnya bulat sempurna, pinggul lebar, dan payudaranya D-cup yang selalu bergoyang-goyang tiap dia jalan. Kulitnya sawo matang, rambut pendek bob, dan matanya selalu nakal. Dita single, kerja sebagai event organizer, jadi sering banget nongkrong bareng kami bertiga. 1418Please respect copyright.PENANAAVJSoDsNDM
Silvi selalu bilang, “Dita itu sahabatku dari SMA, kayak adik sendiri deh.” Tapi aku? Aku selalu merasa ada yang aneh tiap Dita deket-deket aku. Tatapannya terlalu lama. Senyumnya terlalu manis. Dan kadang, saat Silvi nggak liat, tangannya sengaja nyenggol paha aku.
Malam itu, seperti biasa, kami bertiga lagi makan malam di apartemen. Silvi lagi sibuk masak di dapur, Dita duduk di sebelah aku di sofa sambil nonton Netflix. Film horor, lampu dimatiin. Tangan Dita tiba-tiba merayap ke paha aku, jarinya mengusap pelan di atas celana jeans. Aku kaget, tapi nggak berani gerak.
“Dit, apa-apaan?” bisikku pelan.
Dia cuma nyengir, matanya berkilat di kegelapan. 1418Please respect copyright.PENANAUnm8CGKCXy
“Sst… Silvi lagi sibuk. Aku cuma pengen ngerasain kontol lo yang gede itu, Dik. Udah lama aku ngimpiin.”
Aku langsung tegang. Kontolku langsung ngaceng di dalam celana. Dita tertawa kecil, lalu tangannya meremas pelan di atas kain.1418Please respect copyright.PENANAPVXuTOHjdy
“Besok Silvi ke Bandung meeting kantor, kan? Aku bakal dateng ke sini. Lo siapin kontol lo yang besar buat ngentot memek aku yang basah ini. Diam-diam. Jangan bilang siapa-siapa.”
Aku nggak sempat jawab karena Silvi datang bawa makanan. Dita langsung tarik tangannya, pura-pura biasa aja. Malam itu aku nggak bisa tidur. Silvi tidur nyenyak di sebelahku, tapi pikiranku penuh sama Dita. Memeknya yang katanya basah. Bokongnya yang montok. Aku masturbasi diam-diam di kamar mandi, bayangin ngentot Dita sambil gigit bibir biar nggak berisik.
Pagi harinya, Silvi berangkat ke Bandung jam 7 pagi. Dia cium aku di bibir sebelum pergi.1418Please respect copyright.PENANAin5uhiZXvB
“Jaga rumah ya sayang. Aku balik besok malam.” Aku cuma angguk, hati sudah deg-degan.
Jam 10 pagi, bel apartemen berbunyi. Aku buka pintu, Dita sudah berdiri di depan dengan dress pendek ketat warna merah. Gaunnya pendek banget, hampir nunjukin pantatnya. Payudaranya naik-turun tiap napas.
“Silvi udah berangkat?” tanyanya langsung, suaranya manja.
“Udah.” Jawabku pendek.
Dita masuk, langsung kunci pintu di belakangnya. Dia dorong aku ke dinding, badannya nempel ketat. Aku bisa ngerasain putingnya yang keras di balik dress.
“Lo tahu nggak, Dik? Dari dulu aku iri sama Silvi. Dia dapet cowok ganteng, kontol gede, dan setia. Tapi aku… aku pengen juga. Aku sering denger lo ngentot Silvi di kamar. Dinding apartemen ini tipis. Aku bayangin kontol lo masuk keluar memek aku tiap malam.”
Aku sudah nggak tahan. Tangan aku langsung meremas payudaranya yang besar. “Lo gila, Dit. Ini pacarku.”
“Pacar lo? Sekarang lo pacarku juga. Diam-diam.” Dia tarik resleting celanaku, tangannya langsung masuk, meremas kontolku yang sudah ngaceng keras. 1418Please respect copyright.PENANASVpL8bnYtV
“Wah… gede banget. Lebih gede dari bayangan aku. Ayo, ngentot aku sekarang. Memek aku udah banjir dari tadi.”
Aku angkat Dita, bawa ke sofa. Dressnya aku robek ke atas, nggak pakai bra. Payudaranya langsung loncat keluar, puting coklat besar dan keras. Aku hisap satu, gigit pelan, tangan satunya masuk ke dalam celana dalamnya. Memeknya memang sudah basah banget. Licin, panas, dan rapet.
“Uhh… ya Dik… jari lo tebel banget… masukin lebih dalem… aku suka jari cowok lo…” erang Dita sambil goyang pinggulnya.
Aku masukin dua jari sekaligus, gerakin cepat. Dita mendesah keras, kepalanya mendongak. “Ahh… lebih cepet… siapin memek aku buat kontol lo yang gede itu…”
Aku nggak tahan lagi. Celana aku buka total, kontolku yang sudah 18 cm berdiri tegak. Dita langsung jongkok di depanku, mulutnya langsung ngemut kepala kontolku.
“Mmhh… enak… kontol lo bau cowok banget… aku suka…” Dia ngemut dalam-dalam, lidahnya muter-muter di batangnya. Aku pegang kepalanya, dorong kontolku lebih dalem sampai ke tenggorokannya. Dita muntah-muntah kecil tapi tetap ngemut, air liurnya netes-netes ke payudaranya.
“Lo jalang banget, Dit,” kataku kasar. “Sahabat pacarku ternyata pelacur kontol.”
Dia lepas ngemut, senyum nakal. “Iya… aku pelacur lo sekarang. Ngentot aku, Dik. Masukin kontol lo ke memek sahabat pacar lo yang pengen banget ini.”
Aku dorong Dita ke sofa, angkat satu kakinya ke bahu. Memeknya terbuka lebar, pink dan basah mengkilap. Aku gesek-gesek kepala kontol di bibir memeknya, lalu dorong masuk pelan.
“Uhh… besar… kontol lo belah memek aku… ahh… dalem banget…” erang Dita, matanya melotot.
Aku mulai gerak, pelan dulu, lalu makin cepat. Tiap entotan bunyi “plok plok plok” keras karena memeknya banjir. Payudaranya goyang-goyang liar.
“Enak nggak memek aku, Dik? Lebih enak dari memek Silvi kan? Aku lebih sempit… lebih basah… ahh… entot lebih keras… aku mau jadi pelacur lo setiap hari!”
Aku ngentot semakin brutal. Tangan aku cubit putingnya, tampar payudaranya pelan. Dita semakin gila. “Iya… tampar lagi… aku suka kasar… kontol lo bikin aku mau cum… ahh… aku cum Dik!!”
Memeknya berdenyut-denyut, cairannya muncrat kecil ke perut aku. Aku nggak berhenti. Aku balik badannya, posisi doggy di sofa. Bokongnya yang montok aku tampar keras sampai merah. Lalu kontolku masuk lagi dari belakang, lebih dalem.
“Fuck… bokong lo enak banget, Dit. Aku mau entot lubang pantat lo juga nanti.”
“Entot aja… semua lubang aku punya lo… ahh… lebih cepet… aku mau lo crot di dalam memek aku… isi aku penuh sperma lo yang panas!”
Aku entot seperti mesin selama hampir 20 menit. Dita cum dua kali lagi sebelum aku nggak tahan. “Aku mau crot, Dit!”
“Crot di dalam! Jangan keluar! Isi memek sahabat pacar lo!”
Aku dorong dalam-dalam, sperma aku muncrat deras di dalam memeknya. Banyak banget sampai netes-netes ke sofa saat aku tarik kontol.
Kami berdua ambruk di sofa, napas ngos-ngosan. Dita cium bibir aku dalam-dalam, lidahnya main-main. “Ini baru awal, Dik. Besok-besok aku mau lo entot aku di kamar Silvi, di ranjang kalian. Aku mau lo bandingin memek mana yang lebih enak.”
Malam itu kami ngentot lagi di kamar mandi, di dapur, bahkan di balkon apartemen saat malam mulai gelap. Dita memang jalang banget. Dia suka bilang kata-kata kotor yang bikin aku makin ngaceng.
“Kamu tahu nggak, Dik? Silvi pernah cerita kontol lo gede, tapi aku nggak nyangka segede ini. Tiap kali dia cerita kalian sex, aku masturbasi di kamar sambil bayangin lo ngentot aku kasar gini. Memek aku udah basah banget tiap lo dateng ke rumah.”
Keesokan harinya, Silvi pulang malam. Aku dan Dita sudah rapi, pura-pura baru selesai makan malam bareng. Silvi seneng liat sahabatnya di sana. “Kalian berdua ngapain aja seharian? Nggak nakal-nakal kan?” tanyanya sambil ketawa.
Dita cuma nyengir ke aku diam-diam. “Biasa aja, Vi. Andika baik banget jagain aku.”
Tapi di balik itu, Dita kirim chat ke aku: “Besok siang aku dateng lagi. Siapin kontol lo. Kali ini aku mau lo entot aku di ranjang Silvi sambil aku pakai baju dalam Silvi.”
Hubungan rahasia kami berlanjut selama berbulan-bulan. Tiap Silvi lembur atau pergi ke luar kota, Dita datang. Kadang dia datang malam-malam, langsung buka baju di depan pintu. Kami ngentot di mana-mana: di sofa, di meja makan, di kamar mandi, bahkan di mobil aku di basement apartemen.
Suatu malam, Silvi lagi tidur di kamar. Dita datang lewat jam 11 malam, pura-pura mampir karena “kesepian”. Silvi bangun sebentar, sambut Dita, lalu balik tidur lagi karena capek. Dita langsung tarik aku ke ruang tamu, angkat roknya. Nggak pakai celana dalam.
“Entot aku sekarang, Dik. Silvi tidur di sebelah. Aku mau denger lo ngentot aku pelan tapi dalam sambil dia tidur.”
Aku masukin kontol dari belakang sambil berdiri. Dita gigit bibirnya keras biar nggak berisik. Tiap entotan aku pelan, tapi dalam banget. Payudaranya aku remas dari belakang.
“Uhh… kontol lo… di memek aku… sementara pacar lo tidur… aku jalang banget ya?” bisiknya.
“Iya, lo jalang paling gila. Memek lo ngecup kontol aku terus.”
Kami cum bareng pelan-pelan. Sperma aku lagi-lagi aku crot di dalam memeknya. Dita pulang dengan memek penuh sperma aku, senyum puas.
Ketegangan makin tinggi. Suatu sore, Silvi lagi di kamar mandi mandi. Dita datang, langsung tarik aku ke dapur. Dia jongkok cepat, ngemut kontol aku dalam 2 menit.
“Buruan… Silvi bentar lagi keluar… crot di mulut aku…”
Aku crot di mulutnya, Dita telan semua, lalu bangun dan pura-pura bantu masak saat Silvi keluar.
“Wah kalian lagi masak bareng ya? Lucu deh,” kata Silvi polos.
Dita cuma nyengir, bibirnya masih ada sisa sperma yang dia jilat diam-diam.
Puncaknya terjadi saat kami bertiga liburan ke villa di Puncak. Silvi booking villa dua kamar. Malam pertama, setelah Silvi tidur karena minum wine terlalu banyak, Dita merayap ke kamarku.
“Kita ngentot di sini. Di villa ini. Aku mau lo entot aku di balkon, sambil liat bintang-bintang.”
Kami keluar ke balkon. Udara dingin. Dita telanjang bulat, bokongnya menonjol ke aku. Aku ngentot dari belakang sambil berdiri, tangan aku nutup mulutnya biar nggak teriak. Entotanku keras dan cepat.
“Memek aku milik lo sekarang, Dik… Silvi nggak tahu… dia nggak tahu sahabatnya lagi di entot kontol pacarnya di balkon… ahh… cum lagi… cum di dalam!!”
Aku crot deras. Sperma netes ke lantai balkon.
Tapi tiba-tiba kami denger suara langkah. Silvi bangun, keluar ke balkon kamar sebelah. Hampir ketahuan. Kami buru-buru masuk, hati berdegup kencang. Dita cuma ketawa kecil. “Seru kan? Risikonya bikin aku tambah basah.”
Hubungan kami semakin intens. Dita mulai minta hal-hal lebih gila. Dia minta aku foto memeknya yang penuh sperma dan kirim ke dia saat Silvi di sebelah. Dia minta aku rekam video saat aku ngentot dia di kamar Silvi, sambil dia pakai parfum Silvi.
“Lo milik aku juga sekarang,” katanya suatu malam saat kami ngentot di mobil di parkiran mall, setelah Silvi belanja. “Kontol lo tiap hari masuk memek aku. Silvi cuma dapet sisa-sisanya.”
Aku mulai merasa bersalah, tapi gairahnya terlalu kuat. Setiap kali Dita bilang “ngentot aku lebih kasar dari yang lo kasih ke Silvi”, kontolku langsung ngaceng maksimal.
Suatu hari, Silvi curiga. “Dik, kok akhir-akhir ini Dita sering banget ke sini? Kamu nggak ada apa-apa kan sama dia?”
Aku pura-pura kaget. “Nggak ada apa-apa, sayang. Dia kan sahabat lo.”
Malam itu, saat Silvi tidur, Dita datang lagi. Kali ini dia bawa lingerie hitam seksi. Kami ngentot di ruang TV, TV dinyalain keras biar nutup suara.
“Entot memek aku sambil lo liat foto Silvi di hp lo,” tantang Dita. “Biar lo tahu lo lagi selingkuh sama sahabat pacar lo.”
Aku buka foto Silvi di hp, lalu ngentot Dita doggy style sambil liat foto itu. Rasanya campur aduk—bersalah tapi gairahnya gila.
“Lo lihat pacar lo yang cantik itu? Sekarang kontol lo di memek aku yang lebih enak. Aku lebih jalang dari dia. Aku mau lo crot di wajah aku kali ini.”
Aku tarik kontol, Dita berlutut, mulutnya terbuka. Aku crot banyak di wajahnya, di payudaranya. Dita jilat sperma yang netes, senyum puas.
“Besok Silvi ulang tahun. Aku mau lo kasih hadiah spesial buat aku juga. Saat malam perayaan, lo entot aku di kamar mandi vila yang kita sewa.”
Dan begitulah yang terjadi. Di pesta ulang tahun Silvi yang kecil-kecilan di villa, saat semua tamu lagi minum-minum, Dita tarik aku ke kamar mandi. Pintu dikunci. Dia angkat dressnya, nggak pakai underwear.
“Buruan Dik… entot aku cepet… Silvi lagi nunggu lo di luar… tapi memek aku nggak bisa nunggu.”
Aku angkat satu kakinya ke wastafel, kontolku masuk keras. Kami ngentot cepat dan kasar, ciuman basah, gigit leher. Dita cum sambil bisik, “Aku cinta kontol lo… aku mau lo tinggalin Silvi buat aku… tapi diam-diam aja… aku suka jadi simpanan lo.”
Aku crot di dalam lagi. Saat kami keluar, Silvi tanya, “Kalian lama banget di kamar mandi?”
Dita jawab santai, “Andika bantu aku ngebetulin riasan. Dia emang jago banget tangannya.”
Silvi ketawa, nggak curiga.
Cerita ini terus berlanjut. Sampai sekarang, setiap minggu aku masih ngentot Dita diam-diam. Kadang di hotel, kadang di apartemen saat Silvi pergi, kadang di tempat-tempat berisiko. Dita jadi candu aku. Memeknya, mulutnya, bokongnya—semuanya milik aku sekarang.
Suatu malam, setelah sesi ngentot yang panjang di mobil, Dita bilang sambil bersandar di dada aku, “Lo tahu nggak, Dik? Aku nggak pernah nyesel minta lo ngentot aku pertama kali itu. Memek aku sekarang cuma buat kontol lo. Silvi boleh jadi pacar lo di depan, tapi di belakang… aku yang jadi ratu kontol lo.”
Aku cium keningnya. “Dan lo ratu jalang terbaik.”
Kami ketawa pelan. Rahasia kami semakin dalam, semakin intens, dan semakin berbahaya. Tapi itu justru yang bikin kami ketagihan.
ns216.73.216.105da2


