Aku, Dimas, 28 tahun, baru tiga bulan tinggal di kontrakan kecil di pinggir Surabaya, tepatnya di daerah Rungkut. Kontrakan ini bukan yang mewah, tapi nyaman—enam rumah berderet dengan halaman sempit, pagar bambu rendah yang memisahkan antar tetangga, dan satu jalan kecil yang selalu basah kalau hujan. Aku pindah ke sini setelah putus dari pacar lama yang suka drama. Kerjaanku sebagai desainer grafis freelance memungkinkan aku tinggal di mana saja, asal ada WiFi dan listrik stabil. Yang aku cari adalah ketenangan. Yang aku dapatkan… adalah godaan yang tak terduga.
Rumah sebelah kananku ditempati Bu Ratna. Namanya Ratna Wijaya, 37 tahun, janda dua tahun. Suaminya, almarhum Pak Budi, meninggal karena serangan jantung mendadak saat lagi kerja proyek di luar kota. Mereka punya satu anak laki-laki, Reza, yang sekarang sudah kuliah semester lima di UI Jakarta. Jadi Ratna tinggal sendirian di rumah itu, hanya sesekali Reza pulang libur semester.
Ratna adalah tipe perempuan yang membuat pria susah berkonsentrasi. Tubuhnya tidak kurus seperti gadis ABG, tapi montok di tempat yang tepat. Payudaranya besar dan kencang, selalu terlihat menonjol di balik kebaya atau kaos longgar yang biasa dia pakai di rumah. Pinggulnya lebar, bokongnya bulat dan padat, kaki jenjang yang mulus meski dia sudah lewat tiga puluh lima. Kulitnya sawo matang, rambut hitamnya panjang sampai pinggang, sering diikat ponytail sederhana. Wajahnya cantik alami—mata sipit, bibir tebal, dan senyum yang selalu membuat pipinya ada lesung. Dia guru SD di sekolah negeri dekat sini, jadi pagi-pagi sudah rapi, tapi sore dan malam dia lebih santai, pakai tank top tipis dan celana pendek yang bikin aku susah menahan pandangan.
Kami mulai dekat bukan karena aku sengaja. Hari pertama aku pindah, dia datang bawa kue lapis dan teh manis. 2843Please respect copyright.PENANAyhLaXtHBkj
“Selamat datang, Mas Dimas. Kalau butuh apa-apa, bilang ya. Saya tetangga sebelah.” Suaranya lembut, agak serak, seperti orang yang jarang ngobrol lama-lama. 2843Please respect copyright.PENANAQ78nVLRlWK
Sejak itu, setiap pagi kami saling sapa. Kadang aku bantu dia angkat galon air, dia balas masakin aku rendang kalau Reza kirim daging dari Jakarta. Obrolan kami pelan-pelan dalam—dari cuaca, kerjaanku, sampai cerita hidupnya yang sepi.
Malam itu, hujan deras mengguyur Surabaya sejak sore. Aku lagi duduk di teras, laptop di pangkuan, ngerjain desain poster untuk klien. Listrik masih nyala, tapi angin kencang bikin pohon-pohon di belakang kontrakan bergoyang-goyang. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pagar bambu. Aku angkat kepala, lihat Ratna berdiri di sana, memegang payung kecil yang sudah basah kuyup. Dia pakai daster tipis motif bunga, rambutnya tergerai basah, dan ekspresinya… gelisah.
“Mas Dimas… maaf ganggu malam-malam. Listrik di rumah saya mati total. Mungkin sekeringnya korslet karena hujan. Bisa tolong cek sebentar? Saya takut sendirian di gelap gini,” katanya, suaranya hampir hilang ditelan deru hujan.
Aku langsung tutup laptop. “Bisa, Bu. Tunggu saya ambil senter dan obeng.”
Aku ambil tas tool kit kecil, pakai jaket hoodie, lalu ikut dia ke rumahnya. Rumah Ratna mirip punyaku—ruang tamu kecil, dapur, dua kamar tidur, dan kamar mandi di belakang. Begitu masuk, gelap gulita. Hanya cahaya senterku yang menyinari. Aku bisa mencium aroma sabun mandi dari tubuhnya, campur bau tanah basah dari luar.
“Kamar mandi belakang, Mas. Sekeringnya di situ,” bisiknya, tangannya memegang lenganku pelan.
Kami berjalan berdampingan. Tubuhnya dekat sekali, dadanya hampir menyentuh lenganku. Aku merasa panas meski AC mati. Sampai di panel listrik, aku buka sekering. Memang korslet. Aku ganti dengan yang cadangan, lalu putar MCB. Lampu kembali menyala.
“Wah, cepet banget, Mas. Makasih ya,” katanya lega, senyumnya lebar. Tapi matanya masih ada sesuatu—seperti ragu.
Aku hendak pamit, tapi dia tahan. 2843Please respect copyright.PENANABDeNazJwqH
“Mas Dimas… duduk dulu sebentar. Hujannya masih deras. Saya buatin kopi panas, ya? Biar nggak basah kuyup pulangnya.”
Aku mengangguk. Kami duduk di ruang tamu. Dia ke dapur, aku lihat sekeliling. Foto pernikahannya masih ada di dinding, tapi sudah agak pudar. Sofa empuk, TV kecil, dan aroma masakan yang masih menempel di udara. Ratna kembali bawa dua cangkir kopi susu dan sepiring pisang goreng.
Kami ngobrol. Awalnya ringan—tentang hujan yang makin deras, tentang Reza yang jarang telepon. Lalu dia diam sebentar, memandang cangkirnya.
“Mas Dimas… boleh saya jujur?” tanyanya pelan.
“Silakan, Bu.”
Dia tarik napas panjang. 2843Please respect copyright.PENANAEXWspCUL0i
“Dua tahun ini… saya benar-benar sendirian. Reza sudah besar, sibuk kuliah. Teman-teman kerja saya baik, tapi… malam-malam seperti ini, rasanya berat. Saya janda, tapi bukan berarti saya nggak butuh… pelukan. Atau… sentuhan. Saya malu ngomong ini, tapi sama Mas Dimas rasanya nyaman. Mas masih muda, ganteng, sopan. Saya sering lihat Mas dari jendela, dan… ya Tuhan, saya nggak tahu kenapa malam ini saya berani bilang.”
Jantungku berdegup kencang. Aku letakkan cangkir.2843Please respect copyright.PENANAIGnBUp7FKW
“Bu Ratna… saya nggak nyangka. Saya juga… sering mikirin Ibu. Dari pertama pindah, Ibu selalu ramah. Dan… jujur, Ibu cantik sekali. Tubuh Ibu… membuat saya susah tidur kadang.”
Dia tersipu, tapi matanya berani. 2843Please respect copyright.PENANAQj6N1X4yzY
“Jadi… Mas juga merasakan hal yang sama?”
Aku mengangguk. Tanganku bergerak sendiri, menyentuh punggung tangannya. Kulitnya hangat. Ratna balas genggam, jarinya gemetar.
“Mas… saya sudah lama nggak merasakan ini. Tolong… jangan anggap saya murahan. Saya cuma… kesepian,” bisiknya.
Aku bangun, tarik dia berdiri. Tubuh kami menempel. Aku cium keningnya dulu, lalu turun ke bibir. Ciuman pertama lembut, tapi langsung berubah panas. Lidahnya menyambut lidahku, tangannya memeluk leherku. Aku angkat dia, bawa ke kamar tidurnya yang gelap hanya diterangi lampu kamar kecil.
Di ranjang, aku tarik dasternya pelan. Bra hitamnya ketat, menyembunyikan dua gunung putih montok. Aku buka kaitnya, payudaranya melompat keluar—puting cokelat muda sudah mengeras. Aku hisap satu, jilat, gigit pelan. Ratna mendesah keras.
“Ahh… Mas Dimas… enak… lama sekali saya nggak dirasain gini…”
Tangan kananku merayap ke bawah, masuk ke celana dalamnya. Basah sekali. Jarinya licin, klitorisnya sudah membengkak. Aku masukkan dua jari, gerak pelan keluar masuk sambil terus menghisap payudaranya.
“Uhh… ya… di situ… Mas… lebih dalam…” erangnya, pinggulnya naik turun mengikuti jemariku.
Aku lepas bajuku, celanaku. Kontolku sudah berdiri tegak, keras, urat-uratnya menonjol. Ratna memandangnya lapar.2843Please respect copyright.PENANAAtpUUlZzlB
“Besar sekali, Mas… saya takut… tapi mau…”
Dia turun, mulutnya langsung menyambut. Bibir tebalnya melingkupi kepala kontolku, lidahnya menari di sekitar. Dia hisap kuat, tangannya memompa batangnya yang basah air liurnya. Aku pegang rambutnya, dorong pelan sampai masuk tenggorokan.
“Enak, Bu… hisap lebih dalam… ya gitu…”
Dia mengerang di sekitar kontolku, air liur menetes ke dagunya. Aku tarik dia naik, balik posisi. Aku buka kakinya lebar. Vaginanya sudah banjir, bulu halusnya basah. Aku jilat dari bawah ke atas, hisap klitorisnya kuat. Ratna menjerit.
“Mas! Ahh! Lidah Mas… enak banget! Jangan berhenti… saya mau keluar… ahhh!”
Tubuhnya kejang, cairannya muncrat ke mulutku. Aku terus jilat sampai dia gemetar hebat.
Sekarang giliranku. Aku posisikan kontolku di mulut vaginanya, gesek-gesek dulu. “Mau dimasukkan, Bu?”
“Iya… Mas… masukin… pelan dulu… ahh!”
Aku dorong masuk pelan. Ketat sekali. Dinding vaginanya memeluk kontolku panas dan basah. Setengah jalan dia sudah mendesah gila.
“Besaaar… penuh sekali… Mas Dimas… lebih dalam… hentakkan!”
Aku hentak kuat sampai pangkal. Kontolku menghantam serviksnya. Ratna menjerit nikmat, kuku mencakar punggungku. Aku pompa cepat, keras, suara plok-plok basah memenuhi kamar. Payudaranya bergoyang-goyang liar setiap hentakan.
“Enak, Bu? Kontolku enak nggak ngebor memek Ibu?”
“Enak… enak sekali! Lebih cepat, Mas! Ngebor saya… saya janda kesepian… sekarang dimiliki Mas Dimas… ahh! Saya milik Mas!”
Aku angkat kakinya ke bahu, posisi misionaris dalam. Kontolku masuk lebih dalam. Aku gigit lehernya, hisap putingnya bergantian. Ratna orgasme kedua, memeknya berkedut hebat di sekitar kontolku.
“Keluar lagi, Mas! Saya keluar lagi! Jangan keluarin dulu… terus… terusss!”
Aku balik dia, doggy style. Bokong montoknya terangkat, memeknya terbuka lebar, merah dan basah. Aku tampar pelan bokongnya, lalu masukin lagi. Hentakan makin brutal. Tangan kananku meremas payudaranya dari belakang, tangan kiri mainin klitorisnya.
“Plak! Plak!"2843Please respect copyright.PENANAhGYhlzYb4n
" Enak nggak, Bu? Memek janda ini milikku sekarang!”
“Iya! Milik Mas! Tampar lagi… ahh! Saya suka kasar… lebih kasar, Mas Dimas!”
Aku tarik rambutnya pelan, pompa seperti binatang. Keringat kami bercampur. Aku rasakan orgasme mendekat. 2843Please respect copyright.PENANAC0okv7lc8G
“Bu… saya mau keluar…”
“Keluarin di dalam, Mas! Isi saya… saya mau penuh… ahhh!”
Aku hentak terakhir, kontolku berdenyut hebat. Sperma panasku muncrat deras ke dalam rahimnya. Ratna orgasme ketiga, memeknya mengisap kontolku sampai tetes terakhir. Kami ambruk bersama, napas ngos-ngosan.
Aku peluk dia dari belakang, kontolku masih setengah keras di dalam. Kami ciuman lembut. “Terima kasih, Mas… malam ini… saya hidup lagi,” bisiknya.
Aku cium punggungnya. “Ini baru permulaan, Bu Ratna. Besok… besok lagi ya?”
Dia tersenyum malu-malu, tapi matanya penuh api. “Iya… kapan pun Mas mau. Tapi… ada tetangga lain juga loh. Bu Devi di sebelah kiri, Bu Nayla di depan… mereka juga janda. Siapa tahu… suatu hari Mas bisa bantu mereka juga.”
Aku tertawa pelan. Hujan masih deras di luar. Malam ini baru babak pertama.
Kami mandi bersama di kamar mandi kecil. Sabun licin di tubuhnya membuat tanganku tak berhenti meraba. Di bawah pancuran, aku angkat dia lagi, ngebor memeknya sambil berdiri. Orgasme keempat datang lebih cepat. Air hangat bercampur cairan kami.
Setelah itu, kami berbaring telanjang di ranjangnya. Dia cerita panjang tentang masa kecilnya di desa, bagaimana dia dulu malu-malu, sampai nikah dan suaminya jarang kasih perhatian di ranjang. Aku cerita tentang pacarku dulu yang dingin. Obrolan kami mengalir natural, penuh tawa kecil dan sentuhan intim.
Jam menunjukkan pukul dua pagi saat aku akhirnya pulang ke rumahku sendiri. Sebelum keluar pintu, Ratna tarik aku, cium bibirku dalam. 2843Please respect copyright.PENANAhMGChN9ucJ
“Besok sore, kalau Mas pulang kerja, mampir ya. Saya masakin ayam goreng. Dan… mungkin kita bisa ulangi lagi. Lebih lama.”
Aku mengangguk. “Pasti, Bu. Tidur yang nyenyak.”
Aku kembali ke rumahku, tubuh lelah tapi bahagia.
ns216.73.216.105da2


