Aku Eva, 28 tahun. Kulitku putih mulus, rambut hitam panjang sampai pinggang, tubuhku 165 cm dengan dada 36C yang selalu bikin cowok melirik. Tiga tahun lalu aku menikah dengan Irfan, anak tunggal Pak Danang. Irfan itu laki-laki baik, ganteng, mapan, kerja di perusahaan multinasional. Tapi di ranjang… sialan, kontolnya cuma 11 cm kalau lagi tegang maksimal, dan itu pun cuma tahan dua menit. Aku selalu pura-pura orgasme, padahal memekku masih lapar berat. Setiap malam setelah Irfan tidur, aku diam-diam memainkan klitorku sambil bayangin kontol gede yang bisa bikin aku ngiler.
Ayah mertuaku, Pak Danang, 55 tahun. Duda sejak sepuluh tahun lalu. Tubuhnya masih kekar, tinggi 180 cm, dada bidang, perut rata meski sudah agak berisi. Dia pensiunan tentara, suaranya berat, tatapannya tajam. Dari pertama aku masuk rumah ini, aku sudah curiga. Kadang aku lihat dia pakai celana pendek longgar, ada tonjolan gede di selangkangan yang nggak mungkin cuma “biasa”. Aku pernah tidak sengaja masuk kamar mandi saat dia lagi mandi, pintu nggak dikunci. Dari celah pintu, aku lihat kontolnya menggantung panjang, tebal, urat-uratnya kelihatan, bahkan saat nggak tegang sudah lebih besar dari kontol Irfan yang lagi ngaceng. Saat itu memekku langsung banjir. Aku langsung lari ke kamar, ngunci pintu, dan masturbasi sampai tiga kali sambil bisik “Kontol Ayah… gede banget…”
Irfan lagi dinas ke Singapura seminggu penuh. Baru kemarin berangkat. Rumah besar ini sekarang cuma aku dan Ayah mertua. Ibu mertuaku sudah lama meninggal, pembantu cuma datang pagi sampai sore. Malam ini aku nggak tahan lagi.
Aku pakai daster tipis tanpa BH dan tanpa celana dalam. Putingku sudah keras dari tadi. Aku turun ke ruang TV, pura-pura mau ambil air. Ayah mertua lagi duduk di sofa, pakai kaos oblong dan celana pendek. Kakinya terbuka lebar. Tonjolan di celananya kelihatan jelas, seperti ular gede lagi tidur.
“Malam, Yah,” kataku manja, sengaja membungkuk di depannya waktu ambil gelas di meja. Dasterku melorot sedikit, hampir kelihatan puting.
Pak Danang menatapku lama. Matanya turun ke dada lalu ke paha. “Malam, Eva. Irfan sudah telepon?”
“Sudah, Yah. Katanya besok baru meeting lagi. Katanya kangen…” Aku duduk di sofa sebelahnya, sengaja dekat. Paha kami bersentuhan. “Tapi aku yang lebih kangen sesuatu yang… gede.”
Dia angkat alis. “Maksudnya?”
Aku gigit bibir bawah. Jantungku deg-degan. Tapi nafsuku sudah meledak. “Yah… boleh Eva jujur sama Ayah?”
Dia mematikan TV. Suaranya jadi lebih berat. “Jujur aja. Ayah dengerin.”
Aku geser lebih dekat sampai pahaku menempel penuh di pahanya. Aku ambil tangan kanannya, taruh di pahaku yang mulus. “Kontol Irfan kecil, Yah. Cuma 11 cm. Dan cepat banget keluar. Setiap Eva minta dientot, lima menit udah selesai. Eva nggak pernah puas. Eva selalu pura-pura orgasme… tapi sebenarnya Eva pengen nangis karena memek Eva masih lapar.”
Pak Danang diam. Tapi aku lihat kontolnya di celana pendek mulai bergerak, membesar pelan.
Aku teruskan, suaraku semakin rendah dan mesum. “Eva sering lihat Ayah mandi. Pintu kamar mandi Ayah pernah nggak terkunci. Eva lihat… kontol Ayah gede banget. Panjang, tebal, uratnya kelihatan. Bahkan waktu nggak tegang sudah lebih besar dari kontol Irfan yang lagi ngaceng. Eva… Eva jadi basah setiap ingat itu. Malam ini Irfan nggak ada. Eva nggak tahan lagi, Yah. Eva minta… tolong dientot sama kontol besar Ayah. Eva mau merasakan dikocok sampe memek Eva robek, sampe Eva nggak bisa jalan besok.”
Pak Danang menarik napas dalam. Tangannya yang tadi aku taruh di pahaku sekarang meremas pelan, naik ke dalam daster. Jarinya menyentuh memekku yang sudah banjir.
“Eva… kamu tahu ini dosa besar,” katanya berat, tapi suaranya sudah penuh nafsu. “Kamu menantu Ayah. Istri anak Ayah.”
Aku buka paha lebih lebar, biarin jarinya masuk ke celah memekku yang licin. “Justru karena itu, Yah. Eva mau kontol yang beneran bisa kuasai Eva. Kontol Irfan nggak pernah bisa. Eva mau Ayah yang ngajarin Eva jadi pelacur beneran. Ayah… tolong entot Eva malam ini. Entot memek menantu Ayah yang selalu basah tiap lihat kontol Ayah.”
Dia mendadak tarik aku ke pangkuannya. Aku langsung merasakan batang kontolnya yang sudah keras menekan pantatku. Besar. Panas. Tebal. Aku menggigil.
“Kalau Ayah kasih, kamu nggak boleh berhenti minta,” bisiknya di telingaku sambil gigit daun telingaku. “Ayah kontolnya besar, Eva. Bisa bikin memek kamu bengkak besok. Kamu siap?”
Aku balik badan, sekarang duduk menghadap dia, dasterku sudah naik sampai pinggang. Memekku terbuka lebar di atas kontolnya yang masih di balik celana. Aku gosok-gosok memekku ke tonjolan itu.
“Ayah… Eva sudah siap dari lama. Eva mau kontol Ayah sekarang. Keluarin. Biarin Eva lihat yang Eva impiin tiap malam.”
Pak Danang berdiri, angkat aku seperti boneka. Dia bawa aku ke kamarnya yang besar di lantai bawah. Pintu dikunci. Lampu dibiarkan redup. Dia duduk di tepi ranjang, aku berdiri di depannya.
“Buuka dastermu,” perintahnya.
Aku buka tali daster, biarin jatuh ke lantai. Tubuhku telanjang bulat. Putingku keras seperti batu. Memekku licin, cairan sudah menetes ke paha.
Pak Danang tarik celana pendeknya turun. Dan… astaga.
Kontolnya melompat keluar. Panjangnya pasti 20 cm lebih, tebal seperti botol kecil, kepalanya besar mengkilap, urat-urat tebal melilit sepanjang batang. Batangnya agak melengkung ke atas, bola-bolanya besar dan penuh. Aku langsung berlutut tanpa disuruh.
“Ya Tuhan… gede banget, Yah,” bisikku kagum. Aku pegang dengan dua tangan, masih ada sisa yang nggak kepegang. Panas, berdenyut. Aku cium ujungnya, lidahku menjilat lubang kecil yang sudah mengeluarkan precum.
“Hisap, Eva. Tunjukkin sama Ayah seberapa lapar memek kamu.”
Aku buka mulut lebar, masukin kepala kontolnya. Rasanya penuh banget di mulut. Aku hisap kuat, lidahku putar-putar di kepala. Pak Danang mendengus, tangannya pegang rambutku, dorong pelan sampai kontolnya masuk lebih dalam, nyentuh tenggorokan.
“Bagus… enak mulut menantu Ayah. Irfan nggak pernah tahu kamu bisa ngisep kontol sebegini enak ya?”
Aku cuma bisa mengerang “Mmmphh…” sambil ngisep lebih dalam. Air liurku menetes ke bola-bolanya. Aku mainin bola-bolanya dengan tangan, hisap kontolnya seperti es krim yang meleleh. Pak Danang mulai dorong pinggulnya, ngentot mulutku pelan tapi dalam.
Lima menit kemudian dia tarik aku berdiri, lempar aku ke ranjang. Aku telentang, paha terbuka lebar. Memekku merah dan basah sekali.
Dia naik ke atas ranjang, kontolnya menggantung seperti tombak. “Minta dengan benar, Eva.”
Aku pegang kontolnya, arahin ke lubang memekku. “Ayah… tolong entot Eva. Masukin kontol gede Ayah ke memek Eva yang sempit ini. Eva mau dientot Ayah sampe Eva jerit. Sampe memek Eva penuh sperma Ayah.”
Dia dorong pelan. Kepala kontolnya masuk. Aku sudah merasa penuh.
“Lebih dalam, Yah… ahh… gede banget…”
Dia dorong lagi. Setengah batang masuk. Memekku meregang maksimal. Rasanya nikmat sekali, campur sedikit sakit yang enak.
“Ya ampun… kontol Ayah… bikin Eva penuh… ahh… terus, Yah… entot Eva!”
Pak Danang dorong sekali kuat. Seluruh kontolnya masuk sampai pangkal. Aku jerit kenikmatan. “Aaaahhh! Gede… penuh… enak banget, Yah!”
Dia mulai gerak. Keluar masuk pelan dulu, biar memekku terbiasa. Tiap masuk, kepala kontolnya nyentuh titik G-ku. Aku sudah gemetar.
“Enak, Eva? Kontol Ayah lebih gede dari kontol anak Ayah kan?”
“Lebih gede… jauh lebih gede, Yah! Kontol Irfan nggak pernah bisa begini… ahh… lebih cepat, Yah… entot Eva keras!”
Dia percepat. Suara “plok plok plok” memenuhi kamar. Memekku mengeluarkan cairan terus, membasahi bola-bolanya. Aku angkat pinggul, ikut gerak. Tangan Pak Danang meremas dadaku, cubit putingku keras.
“Kamu pelacur Ayah sekarang, Eva. Setiap Irfan nggak ada, memek ini milik Ayah.”
“Iya, Yah! Eva pelacur Ayah… ahh… Eva milik kontol Ayah… entot lebih keras… Eva mau cum, Yah!”
Dia angkat kedua kakiku ke bahunya, posisi mating press. Kontolnya masuk lebih dalam lagi. Aku merasa kontolnya nyodok sampai rahim.
“Cum, Eva. Cum di kontol Ayah.”
Aku orgasme pertama dalam hidupku yang beneran. Tubuhku kejang-kejang, memekku menyemprot cairan bening ke perutnya. “Aaaahhhh! Aku cum, Yah! Memek Eva cum karena kontol Ayah!!”
Dia nggak berhenti. Masih ngentot keras. Aku orgasme lagi, kali ini lebih kuat. Air mata keluar karena kenikmatan.
“Eva… Ayah mau keluar di dalam. Boleh?”
“Keluarin, Yah! Isi memek Eva penuh sperma Ayah! Eva mau hamil sama kontol Ayah!”
Dia mendengus keras, dorong dalam-dalam, dan menyemburkan sperma panasnya ke dalam rahimku. Banyak sekali. Aku merasakan tiap denyutannya. Kontolnya berdenyut panjang, memompa sperma sampai memekku penuh dan meluber keluar.
Kami terengah-engah. Kontolnya masih di dalam, masih agak keras.
Aku cium bibirnya dalam, lidah kami saling belit. “Terima kasih, Yah… ini yang Eva cari selama ini.”
Dia senyum licik. “Ini baru malam pertama, Eva. Seminggu ini Irfan nggak ada. Ayah belum selesai sama kamu. Besok pagi, siang, malam… memek kamu akan Ayah entot terus.”
Aku meremas kontolnya yang masih di dalam memekku. “Eva siap, Yah. Eva mau jadi pelacur Ayah selama Irfan pergi… bahkan setelah Irfan pulang pun, kalau Ayah mau, Eva akan diam-diam minta kontol Ayah lagi.”
Dia tarik kontolnya keluar. Sperma putih kental keluar dari memekku yang menganga. Dia ambil ponsel, foto memekku yang penuh sperma.
“Ini buat koleksi Ayah. Biar setiap Ayah kangen, tinggal lihat memek menantu Ayah yang sudah Ayah tandai.”
Aku tertawa nakal, lalu naik ke atas tubuhnya, duduk di wajahnya. “Sekarang giliran Eva. Ayah bersihin memek Eva dengan lidah dulu… sebelum ronde kedua.”
Pak Danang langsung menjilat memekku yang penuh sperma campur cairanku. Aku mendesah lagi.
Malam itu baru mulai.
Versi PDF: lynk.id/bande41/4qevw0zv8egk
ns216.73.216.105da2


