Setelah malam di klub itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan ibu. Gambar ibu menari erotis dengan pria asing itu seperti replay di kepalaku, membuat tidurku gelisah. Adrenalin dari mengikuti ibu masih terasa, campur dengan kecurigaan yang semakin menggerogoti. Apa yang terjadi setelah aku pergi? Apakah ibu pulang dengan pria itu? Aku tanya Reza secara halus saat ketemu di kampus besoknya, pura-pura cerita soal klub malam. "The Vault? Tempat elit bro, banyak sosialita kayak ibu-ibu kaya yang lagi cari fun," katanya sambil nyengir. Persahabatan kami makin dekat, tapi aku belum berani cerita soal ibu. Reza playboy, tahu banyak rahasia Jakarta malam, tapi kalau dia tahu ibuku seperti itu, malu rasanya.
2997Please respect copyright.PENANA9RRGj8rwJF
Hari-hari berikutnya, aku mulai perhatikan ibu lebih detail. Rutinitasnya: pagi gym dengan Rio (yang masih bikin aku curiga dari telepon mesra itu), siang zumba, sore arisan, malam clubbing. Ibu selalu tampak energik, seperti punya sumber tenaga tak habis-habis. Ayah? Dia semakin sibuk, pulang larut, tapi selalu coba romantis. Aku ingat malam itu, Jumat malam, ayah pulang lebih awal dari biasa. "Ris, aku kangen kamu," katanya saat makan malam, tangannya pegang tangan ibu. Ibu tersenyum, tapi matanya seperti bosan. "Aku juga, Budi. Tapi malam ini aku ada janji clubbing sama teman-teman." Ayah mengangguk, tidak protes. Aku lihat itu sebagai kesempatan—mungkin ibu akan pulang larut lagi, dan aku bisa intip apa yang sebenarnya terjadi.
2997Please respect copyright.PENANAp204i3UbRF
Aku pura-pura tidur di kamar sekitar jam 10 malam, tapi sebenarnya nunggu. Ayah sudah di kamar tidur, mungkin nonton TV. Ibu pergi clubbing seperti biasa, dress seksi hitam yang memamerkan toket montoknya dan pinggul berisi dari hasil gym. Aku dengar mobil ibu pergi, dan hati aku berdegup. Malam ini, aku putuskan untuk tunggu ibu pulang. Bukan ikuti lagi—terlalu risky. Cukup intip dari kamar aku yang dekat tangga. Gejolak batin aku campur: takut ketahuan, tapi nafsu penasaran ini seperti obat. Aku bayangin kalau ibu beneran hypersex, seperti gosip yang pernah kudengar dari Reza soal ibu-ibu arisan yang suka "main".
2997Please respect copyright.PENANAgNSuV0bNbI
Jam 2 pagi, aku dengar suara mobil masuk garasi. Ibu pulang larut, seperti prediksi. Aku bangun pelan, buka pintu kamar sedikit, dan intip ke bawah. Ibu masuk rumah dengan langkah agak goyah—mungkin mabuk ringan dari minum di klub. Wajahnya merah, mata berbinar, dan dress-nya agak kusut. Ayah keluar dari kamar tidur, masih pakai piyama, tampak senang. "Ris, kamu pulang. Aku tungguin loh," katanya pelan. Ibu tersenyum, peluk ayah. "Maaf ya, Budi. Teman-teman pada asyik." Mereka masuk ke kamar tidur, pintu ditutup, tapi tidak dikunci—rumah besar, mereka pikir aku tidur nyenyak.
2997Please respect copyright.PENANAqP1AaxcxiJ
Adrenalin memuncak. Aku turun tangga pelan seperti pencuri, jantung berdegup kencang. Nafsu penasaran ini bikin tangan aku dingin, tapi aku harus tahu. Apa hubungan ayah-ibu seperti apa? Apakah ayah bisa puaskan ibu yang tampak haus petualangan itu? Aku mendekat ke pintu kamar mereka, dengar suara pelan. Lampu kamar redup, dan dari celah pintu yang agak terbuka (mungkin lupa nutup rapat), aku bisa intip. Ini pertama kali aku mengintip seperti ini—rasanya salah, tapi juga exciting terlarang. Aku lihat ayah dan ibu di kasur king size, ibu duduk di pinggir, ayah berdiri di depannya.
2997Please respect copyright.PENANAyWeKLf75AI
Ayah mulai cium ibu, tangannya raba punggung ibu. "Kamu cantik banget malam ini, Ris," gumam ayah. Ibu balas ciuman, tapi gerakannya lebih agresif, tangan ibu tarik piyama ayah. "Ayo Budi, aku pengen kamu sekarang," kata ibu dengan suara genit, seperti lapar. Mereka telanjang cepat—ayah buka dress ibu, bra hitamnya dilepas, toket montok ibu terpampang, puting coklatnya sudah mengeras karena dingin AC atau nafsu. Tubuh ibu sempurna: perut rata dari zumba, paha kencang dari gym. Ayah telanjang, dan aku lihat kontol ayah—kecil, mungkin cuma 10 cm saat tegang, dan sudah berdiri tapi tampak lemah. Ibu raba kontol ayah, gosok pelan. "Masukin yuk, Budi," desah ibu, suaranya penuh harap.
2997Please respect copyright.PENANAsEnj1KLCzm
Ayah dorong ibu rebah di kasur, naik ke atas. Ibu buka kaki lebar, memek ibu yang sudah basah terlihat—bulu halus, bibir memek pink menggoda. Ayah arahkan kontol kecilnya ke memek ibu, dorong masuk pelan. "Ahh... enak Ris," desah ayah, mulai goyang pinggul. Ibu desah pelan, "Ya Budi... lebih cepat..." Toket ibu bergoyang ringan saat ayah pompa, putingnya digigit ayah pelan. "Ohh... kontolmu keras ya malam ini," kata ibu, tapi ekspresinya seperti pura-pura nikmat, matanya setengah tertutup tapi tidak benar-benar ecstasy. Ayah goyang lebih cepat, napasnya memburu. "Ris... aku... ahh..." Hanya 2 menit, ayah sudah bergetar, kontol kecilnya berdenyut di dalam memek ibu, crot sperma cepat. Ejakulasi dini ayah terungkap jelas—dia orgasme terlalu dini, meninggalkan ibu yang masih bergoyang pinggul pelan, seperti belum puas.
2997Please respect copyright.PENANAPC4BpNYmtw
Ibu desah kecewa pelan, "Sudah Budi? Aku belum..." Ayah tarik keluar kontolnya yang sudah lemas, sperma menetes dari memek ibu. "Maaf Ris, aku capek hari ini," gumam ayah, rebah di samping. Ibu tersenyum paksa, cium ayah. "Gapapa, tidur yuk." Tapi aku lihat ekspresi ibu: frustasi, nafsu yang belum terpuaskan. Toket ibu naik turun cepat, memeknya masih basah, puting mengeras tapi tidak tersentuh cukup. Ayah langsung mendengkur, sementara ibu bangun, pakai robe, dan pergi ke kamar mandi—mungkin untuk masturbasi sendiri, pikirku.
2997Please respect copyright.PENANA2bNdX07skO
Aku mundur pelan, naik ke kamar dengan kaki gemetar. Adrenalin dari mengintip itu bikin aku ereksi sendiri, meski jijik. Bukan karena ibu—itu tabu—tapi karena adegan hot meski singkat, membuatku bayangin cewek-cewek di kampus. Gejolak batin aku hebat: kasihan ayah yang kontol kecil dan ejakulasi dini, tidak bisa puaskan ibu. Dan ibu? Hypersex-nya mulai terlihat—dia butuh lebih, itulah kenapa clubbing, dancing erotis, telepon mesra dengan Rio. Kecurigaan aku semakin kuat: ibu pasti selingkuh untuk puaskan nafsu itu. Konflik dalam diriku: harusnya aku marah, tapi malah penasaran ingin lihat lebih. Besok, aku harus cari tahu soal Rio atau pria lain. Ini baru awal, dan aku tahu, rahasia ini akan bikin hidupku berubah.
ns216.73.216.48da2


