Aku, Doni, 24 tahun, sudah pacaran sama Fani selama delapan bulan. Fani cewek manis, 22 tahun, kuliah di Surabaya sama aku. Rumahnya di daerah Rungkut, rumah tipe 2 lantai yang cukup mewah buat ukuran janda muda. Ibu Fani, Bu Mei, 39 tahun, janda sejak suaminya meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan. Masih muda, tubuhnya tetap kencang, kulit putih mulus, rambut hitam sebahu yang selalu harum shampoo mahal. Payudaranya besar, pinggulnya lebar, dan dia suka pakai daster tipis di rumah. Aku sering bilang dalam hati, “Ini ibu mertua idaman… atau mimpi buruk.”
Hari itu, Sabtu sore, aku datang ke rumah Fani buat jemput dia nonton. Fani lagi mandi di atas. Aku duduk di ruang tamu, main HP. Tiba-tiba Bu Mei keluar dari dapur, pakai daster merah maroon yang tipis banget, tali pinggangnya longgar. Dadanya bergoyang-goyang pelan tiap langkah. Dia bawa nampan es teh dan kue.
“Eh, Doni… sudah lama nunggu ya?” tanyanya sambil senyum manis. Suaranya lembut, agak serak, seperti orang yang baru bangun tidur.
“Belum kok, Bu. Baru sepuluh menit,” jawabku sambil berdiri sopan.
Dia letakkan nampan di meja, lalu duduk di sofa sebelahku. Jaraknya deket banget. Pahanya hampir nempel sama pahaku. Aroma tubuhnya—campuran sabun mandi dan parfum vanila—langsung nyerbu hidungku.
“Fani lama ya mandinya. Cewek itu suka lama kalau lagi dandan,” katanya sambil tertawa kecil. Matanya menatapku lekat. “Kamu sabar banget sih, Don. Jarang lho cowok sabar kayak gini.”
Aku cuma geleng kepala, tersenyum. “Biasa aja, Bu.”
Tangan Bu Mei tiba-tiba nyentuh lengan ku. Jarinya pelan mengusap. “Kamu tambah ganteng aja tiap kali ke sini. Olahraga rutin ya? Badanmu kok keras gini.”
Aku merasa darahku langsung naik ke wajah. “Bu… ini… biasa aja kok.”
Dia tertawa pelan, suaranya menggoda. “Biasa aja? Ibu lihat kok tiap kali kamu peluk Fani, otot lengannya kelihatan. Ibu suka cowok yang kuat… yang bisa ngangkat barang berat.”
Saat itu Fani turun dari tangga. 750Please respect copyright.PENANA3gTsgwZdTv
“Ma! Jangan godain Doni mulu dong!” teriaknya sambil ketawa.
Bu Mei langsung tarik tangannya, tapi matanya masih nantang ke aku.750Please respect copyright.PENANAcIi5xEyn3w
“Ibu cuma bercanda, sayang. Kan Ibu suka lihat Doni malu-malu gini.”
Fani mendekat, cium pipiku cepat. “Yuk, Don. Kita telat nih.”
Sepanjang malam, pikiranku nggak bisa lepas dari sentuhan Bu Mei. Malamnya, setelah antar Fani pulang, aku dapat chat dari nomor yang nggak aku kenal.
Nomor baru: Doni… ini Ibu Mei. Simpan ya. Besok Fani ada kuliah pagi sampe sore. Kamu bisa bantu Ibu angkat kulkas yang rusak di dapur nggak? Ibu nggak kuat sendiri.
Aku baca dua kali. Jantungku berdegup kenceng. 750Please respect copyright.PENANA02kj4AwMEO
Aku balas: Bisa, Bu. Jam berapa?
Jam 10 pagi aja. Ibu tunggu.
Besoknya, aku datang tepat jam 10. Pintu depan sudah terbuka. Aku masuk, panggil, “Bu Mei?”
“Iya, Don! Di dapur!” suaranya dari belakang.
Aku masuk dapur. Bu Mei pakai tank top putih ketat dan celana pendek jeans. Rambutnya diikat ponytail. Keringat tipis di lehernya. Kulkas memang agak geser dari tempatnya.
“Yang ini, Don. Ibu mau geser ke pojok biar bisa bersihin belakangnya,” katanya sambil nunjuk.
Aku angkat kulkas. Berat banget. Ototku tegang. Bu Mei berdiri di belakangku, tangannya memegang pinggangku “buat jaga-jaga” katanya. Tapi jarinya merayap ke bawah, hampir ke pinggul.
“Wah… kuat banget ya kamu,” bisiknya tepat di telingaku. Nafasnya hangat.
Aku letakkan kulkas. Napasku ngos-ngosan. “Udah, Bu.”
Dia nggak mundur. Malah mendekat sampai dadanya nempel di punggungku. “Doni… kamu tahu nggak, Ibu sering mikirin kamu.”
Aku membeku. “Bu…”
“Ibu sudah lama janda, Don. Sudah lima tahun nggak ada yang sentuh Ibu. Fani punya kamu… Ibu lihat kalian mesra, Ibu cemburu. Ibu cuma bisa… di kamar sendiri… malam-malam…” Suaranya gemetar.
Aku berbalik pelan. Wajahnya merah, matanya berkaca-kaca tapi penuh nafsu.
“Bu… ini nggak bener,” kataku, suara hampir hilang.
Tapi tangannya sudah naik ke dada ku. “Ibu tahu. Tapi Ibu nggak tahan lagi, Don. Tiap kali kamu datang, Ibu basah. Ibu bayangin kamu yang ngasih Ibu kehangatan yang Ibu rindu banget. Kamu… mau bantu Ibu nggak?”
Aku diam. Otakku perang. Tapi tubuhku sudah bereaksi. Celanaku mulai sesak.
Bu Mei yang lihat itu. Dia tersenyum nakal. “Lihat… kamu juga mau kan?”
Dia tarik tanganku, letakkan di dadanya. Payudaranya empuk, putingnya sudah keras di bawah tank top tipis.
“Sentuh, Don… Ibu izinin.”
Aku remas pelan. Dia mendesah panjang. “Ahh… lama banget nggak ada yang remas gini…”
Kami berciuman. Ciuman pertama liar, lidah kami saling kejar. Tangannya langsung merogoh celanaku, pegang kontolku yang sudah keras banget.
“Besaaar… Ibu tahu kontol kamu pasti gede,” bisiknya di antara ciuman.
Kami pindah ke sofa ruang keluarga yang deket dapur. Dia dorong aku duduk, lalu naik ke pangkuanku. Tank topnya dia buka sendiri. Dua payudara besarnya melambai di depan wajahku. Putingnya cokelat muda, sudah tegak.
“Isap, Don… isap payudara Ibu…”
Aku hisap kiri, tangan kananku remas kanannya. Dia menggelinjang, pinggulnya menggesek kontolku yang masih di balik celana.
“Ahh… Doni… kamu jago… Ibu udah basah banget nih…”
Tangannya membuka resleting celanaku. Kontolku melompat keluar. Dia pegang, mengocok pelan.
“Gede banget… tebel… Ibu mau coba rasanya.”
Dia turun, berlutut di lantai. Mulutnya langsung melahap kepala kontolku. Lidahnya berputar di sekitar kepala, lalu dia telan dalam-dalam sampai ke tenggorokan.
“Ughh… Bu… enak banget…” desahku.
Dia ngocok sambil ngisep, matanya menatap ke atas, penuh nafsu. “Mmm… enak ya, Don? Kontol pacar anak Ibu… sekarang di mulut Ibu…”
Aku pegang kepalanya, dorong pelan. Dia nggak protes, malah semakin dalam. Air liurnya menetes ke dagu.
Setelah lima menit, dia berdiri, lepas celana pendeknya. Nggak pakai celana dalam. Memeknya sudah banjir, bulu halus rapi.
“Masukin, Don… Ibu mau sekarang.”
Aku duduk, dia naik ke pangkuanku lagi. Dia pegang kontolku, arahkan ke lubangnya yang licin. Pelan-pelan dia turun.
“Aaahhh… penuh… gede banget… memek Ibu penuh, Don…”
Dia mulai naik turun. Payudaranya bergoyang-goyang di depan wajahku. Aku hisap putingnya bergantian. Tanganku pegang bokongnya yang montok, bantu angkat turunkan.
“Enak, Bu? Kontol aku enak nggak?” tanyaku sambil dorong pinggulku ke atas.
“Enak… enak banget… kontolmu lebih enak dari suami Ibu dulu… ahh… Doni… kamu jago ngentot… Ibu suka… lebih keras, Don… entot Ibu keras!”
Aku berdiri, angkat tubuhnya tanpa keluar dari memeknya. Aku dorong ke dinding. Dia lingkarkan kakinya di pinggangku. Aku entot cepat, keras, 750Please respect copyright.PENANATl7kaOknAF
bunyi “plok plok plok” memenuhi ruangan.
“Iya… gitu… hancurkan memek Ibu… Ibu milik kamu sekarang… aaahhh!”
Dia orgasme pertama. Tubuhnya kejang, memeknya menyedot kontolku kuat-kuat. Cairannya muncrat basahi paha kami.
Aku belum keluar. Aku bawa dia ke kamar tamu di lantai bawah. Kamar itu jarang dipakai. Aku taruh dia di kasur, posisi doggy. Bokongnya menggoda banget.
Aku masukin lagi dari belakang. Pegang pinggulnya, entot dalam-dalam.
“Bu… memek Ibu sempit banget… enak…”
“Iya… Ibu rajin olahraga kegel biar tetap kencang buat cowok kayak kamu… ahh… Don… lebih dalam… tusuk rahim Ibu…kontolin ibu terus don.”
Kami ngentot hampir 20 menit di posisi itu. Aku tarik rambutnya pelan, dia semakin liar.
“Tarik rambut Ibu…buat Ibu jadi pelacur kamu…”
Aku keluar di dalam. Sperma panasku muncrat penuh di dalam memeknya. Dia orgasme lagi, jeritannya tertahan bantal.
Kami ambruk berpelukan. Keringat bercampur. Dia cium dadaku.
“Doni… ini baru pertama… tapi Ibu sudah ketagihan kontol kamu.”
Aku diam. Rasa bersalah mulai muncul. Tapi nafsu lebih besar.
“Bu… Fani gimana?”
Dia tersenyum pahit. Ini saat plot twist itu keluar.
“Don… Ibu cemburu berat sama Fani. Anak Ibu punya pacar yang ganteng, kuat, dan bisa kasih dia kehangatan setiap hari. Sementara Ibu? Tiap malam Ibu cuma bisa masturbasi di kamar. Pakai jari, pakai vibrator murahan yang Ibu beli online. Ibu bayangin kontol kamu… Ibu nonton video bokep sambil bisik nama kamu. Ibu rindu pelukan lelaki, rindu dicium, dirangsang, diisi… Ibu rindu kehangatan yang beneran. Bukan mainan. Makanya Ibu sering godain kamu. Ibu harap kamu sadar.”
Dia menangis pelan di dada ku.
“Ibu nggak mau rebut pacar Fani. Ibu cuma mau… pinjem kamu sesekali. Ibu janji ini rahasia. Asal kamu kasih Ibu yang Ibu butuhin.”
Aku peluk dia erat. “Bu… aku ngerti. Aku juga… nggak bisa berhenti sekarang.”
Kami berciuman lagi, lembut kali ini.
Sore itu, sebelum Fani pulang, kami mandi bareng di kamar mandi tamu. Dia sabunin kontolku lagi, aku sabunin memeknya. Kami ngentot sekali lagi di bawah shower. Kali ini pelan, penuh kasih sayang.
“Besok Fani ada kelas sampe malam,” bisiknya sambil aku entot dari belakang. “Datang lagi ya… Ibu mau kamu entot Ibu di kamar Ibu… di kasur yang sama tempat Ibu biasa masturbasi sambil mikirin kamu.”
Aku keluar lagi di dalamnya.
Malamnya, Fani chat manja: Sayang, makasih ya hari ini. I love you.
Aku balas: I love you too, sayang.
Tapi pikiranku sudah di Bu Mei. Besok pagi aku sudah rencanain balik ke rumah itu.750Please respect copyright.PENANABXbDnqsdTr
Pagi harinya, jam 8, aku sudah di depan rumah. Fani memang baru berangkat kuliah jam 7.30. Bu Mei buka pintu pakai kimono satin hitam pendek. Rambutnya terurai. Wajahnya glowing.
“Masuk, Don… Ibu sudah nunggu dari jam 6 tadi.”
Kami langsung ke kamar Bu Mei. Kamar besar, tempat tidur , cermin besar di dinding.
Dia buka kimono. Telanjang bulat. Memeknya sudah basah lagi.
“Aku mau main lama hari ini, Bu,” kataku sambil buka baju.
“Main sepuasnya, Don. Ibu milik kamu hari ini.”
Aku dorong dia ke kasur. Aku cium seluruh tubuhnya. Mulai dari leher, turun ke payudara, perut, lalu ke memeknya yang sudah banjir. Aku jilat klitorisnya pelan.
“Ahh… Don… jilat memek Ibu… lidah kamu panas… enak… lebih dalam… isap klitoris Ibu…”
Aku masukin dua jari, goyang-goyang sambil jilat. Dia jerit-jerit kecil, pinggulnya naik turun.
“Ibu mau cum… Don… jangan berhenti… aaahhh!”
Dia squirting kecil, cairan manisnya memenuhi mulutku.
Lalu aku naik, masukin kontolku pelan-pelan.
“Kali ini pelan dulu ya, Bu… aku mau nikmatin setiap inci memek Ibu.”
Dia memeluk leherku. “Iya… pelan… rasain… memek Ibu ini sekarang cuma buat kamu… Fani nggak akan tahu… ini jadi rahasia kita…”
Kami bercinta dalam posisi misionaris hampir 15 menit. Penuh ciuman, penuh bisikan mesra.
“Bu… memek Ibu enak banget… ketat… panas…”
“Kontol kamu juga… tebel… bikin Ibu ketagihan… entot Ibu setiap hari kalau bisa…”
Kami ganti posisi. Aku duduk di pinggir kasur, dia naik ke pangkuanku menghadap aku (cowgirl). Dia naik turun sambil putar pinggulnya.
“Lihat, Don… payudara Ibu goyang-goyang… suka?”
“Suka banget, Bu…”
Dia pegang tanganku, letakkan di bokongnya. “Remas bokong Ibu juga don…”
Aku remas sambil dorong ke atas. Dia semakin cepat.
“Don… Ibu mau keluar lagi… bareng ya… keluar bareng di dalam memek ibu…”
Aku rasain otot memeknya menggenggam kontolku. Aku dorong kuat-kuat. Kami orgasme bareng. Sperma aku muncrat banyak di dalamnya, dia jerit panjang, tubuhnya kejang-kejang.
Kami rebahan. Dia taruh kepalanya di dada ku.
“Doni… terima kasih. Ibu udah lama banget nggak merasa enak gini. Ibu cemburu banget sama Fani… tapi sekarang Ibu punya kamu juga. Meski cuma rahasia.”
Aku usap rambutnya. “Aku juga ketagihan, Bu. Kita harus hati-hati.”
Dia tersenyum. “Iya. Besok lusa Fani ada praktikum sampe malam. Kamu boleh nginep di sini. Ibu mau kamu entot Ibu di setiap kamar rumah ini.”
Kami lanjut lagi. Kali ini di lantai kamar, posisi 69. Dia ngisep kontolku yang masih basah campur cairannya sendiri, aku jilat memeknya yang penuh sperma.
“Enak ya rasa memek ibu, Don?” tanyanya sambil ngocok kontolku.
“Enak, Bu… aku suka.”
Kami cum lagi di mulut masing-masing.
Siang harinya, kami istirahat makan siang. Tapi di meja makan, dia duduk di pangkuanku, kontolku masih di dalam memeknya. Kami makan sambil ngentot pelan.
“Besok aku mau coba anal, Bu. Boleh?” tanyaku nakal.
Dia tertawa genit. “Boleh… Ibu belum pernah anal sama siapa pun. Kamu yang pertama. Tapi pelan-pelan ya… Ibu mau belajar biar bisa puasin kamu.”
Sore menjelang Fani pulang, kami mandi bareng lagi. Dia berlutut di bawah shower, ngisep kontolku sampai aku cum di mulutnya. Dia telan semua.
“Rasa sperma kamu enak, Don. Ibu mau tiap hari.”
Saat Fani pulang, kami sudah rapi. Bu Mei pura-pura biasa saja di dapur.
Fani peluk aku. “Sayang, kamu kok bau sabun Ibu ya?”
Aku dan Bu Mei saling pandang sekilas. Senyum kecil.
“Iya, tadi aku bantu Bu Mei bersihin kamar tamu,” bohongku lancar.
Bu Mei tersenyum manis. “Iya, Doni anak baik. Bantu Ibu banyak.”
Malam itu, di kamar Fani, aku ngentot Fani seperti biasa. Tapi pikiranku penuh Bu Mei. Saat Fani orgasme dan bilang “Aku cinta kamu”, aku jawab “Aku juga”, tapi dalam hati aku tahu: aku sekarang punya dua wanita di rumah yang sama.
Dan Bu Mei, di kamarnya sebelah, pasti lagi senyum puas sambil pegang memeknya yang masih penuh sisa sperma aku dari siang tadi.
Ini baru awal.
750Please respect copyright.PENANAyQTtDOVOgN


