Di Malam yang gelap dan hujan deras. Aku, Fikri, berdiri di depan pintu rumah mantan pacarku dulu dengan tangan gemetar karena campuran amarah dan nafsu yang sudah lama kutahan. Sudah tiga tahun sejak Yunita meninggalkanku demi Budi, si pengusaha kaya yang katanya “lebih stabil”. Tapi aku tahu, dia masih ingat bagaimana kontolku dulu membuatnya menjerit keenakan di kosan kampus. Malam ini, aku akan mengambil kembali apa yang dulu milikku—di depan mata suaminya sendiri.
Aku sudah mempersiapkan semuanya. Pintu belakang kubuka paksa dengan kunci palsu yang kubeli dari teman tukang kunci di Pasar Gelap. Rumah sepi, hanya ada suara TV di ruang keluarga. Aku melangkah masuk pelan, sepatu boots hitamku meninggalkan jejak air hujan di lantai marmer. Di tangan kananku ada pisau dapur yang kucuri dari dapur mereka, di tangan kiri ada tali nilon tebal yang sudah kusiapkan.
Mereka berdua sedang duduk di sofa. Yunita memakai daster tipis warna pink yang ketat, rambutnya terurai panjang sampai punggung, payudaranya yang masih kencang terlihat jelas dari balik kain tipis itu. Budi, suaminya, duduk santai dengan kaos oblong dan celana pendek, tangan memegang remote TV. Wajah Yunita masih sama cantiknya—bibir tipis, mata sipit khas Jawa, kulit putih mulus. Tubuhnya semakin montok setelah menikah, pinggulnya lebih lebar, pantatnya lebih bulat. Kontolku langsung mengeras di dalam celana jeans.
“Fikri?!” 2962Please respect copyright.PENANA25wfbCrQmo
Yunita berteriak pertama kali, matanya membelalak ketakutan. Dia langsung berdiri, tangan menutupi dada.2962Please respect copyright.PENANAQ9zXCpnWFN
“Kamu ngapain di sini?! Keluar! Aku panggil polisi!”
Budi langsung bangkit, wajahnya pucat. 2962Please respect copyright.PENANAaHL8JtH2KP
“Lo siapa?! Berani-beraninya masuk rumah orang! Keluar sekarang juga!”
Aku tertawa pelan, suaraku dingin. 2962Please respect copyright.PENANAmV7o2sIa2T
“Diam lo berdua. Malam ini aku cuma mau ngentot mantan pacarku yang jalang ini. Di depan lo, Budi. Biar lo tahu, kontol gue lebih enak dari kontol lo yang lempeng itu.”
Yunita mundur sampai punggungnya menabrak dinding. 2962Please respect copyright.PENANAA5yEdcg91R
“Fikri… tolong… aku sudah menikah. Kita udah putus lama. Jangan gini… aku minta maaf kalau dulu aku ninggalin kamu…”
Aku melangkah mendekat cepat. Pisau kuacungkan ke arah Budi. 2962Please respect copyright.PENANAWXDRwCbaFC
“Lo duduk di kursi itu, Budi. Sekarang. Kalau lo berani gerak, gue tusuk leher lo. Gue serius. Lo tahu gue gila kalau sudah nafsu.”
Budi gemetar. Dia laki-laki tinggi tapi lembek. Dia mundur dan duduk di kursi makan yang aku tunjuk. Aku langsung mengikat tangannya ke belakang kursi dengan tali nilon, kaki juga aku ikat ke kaki kursi. Yunita menangis, tangannya menutup mulut.
“Fikri… jangan… please… dia suami aku… jangan di depan dia…” suaranya gemetar.
Aku menoleh ke Yunita, tersenyum sinis. 2962Please respect copyright.PENANAQXpQ3eRcE5
“Lo dulu suka ngentot sama gue di kosan, Yun. Tiap malam lo minta ‘lebih keras, Fik, kontol kamu gede banget’. Sekarang lo pura-pura suci di depan suami lo yang payah ini? Hari ini gue akan ngentot lo brutal sampai lo lupa nama suami lo.”
Aku mendekat ke Yunita. Dia mencoba lari ke arah tangga, tapi aku kejar dan tarik rambutnya keras dari belakang.2962Please respect copyright.PENANAuhJThqh5nU
“Aaaahh! Sakit, Fikri! Lepasin!” jeritnya.
Aku tarik dia mundur sampai punggungnya menempel di dadaku. Tangan kiriku langsung meremas payudaranya yang besar dari luar daster. 2962Please respect copyright.PENANA0YAcv2HQUc
“Memek lo pasti sudah basah sekarang, Yun. Lo selalu basah dulunya kalau gue kasar.” Aku bisik di telinganya sambil menggigit cuping telinganya.
Budi berteriak dari kursi, 2962Please respect copyright.PENANAi36Pf1MrMC
“Lepasin istriku, bajingan! Lo gila! Ini pemerkosaan! Aku akan laporkan lo!”
Aku tertawa keras. 2962Please respect copyright.PENANA8FX97EXe7y
“Lapor aja, Budi. Tapi sebelum itu, lo akan nonton kontol gue masuk keluar memek istri lo yang dulu milik gue. Lo akan denger dia jerit nama gue, bukan nama lo.”
Aku robek daster Yunita dari atas sampai bawah dengan pisau. Kain tipis itu sobek mudah, memperlihatkan bra hitam dan celana dalam matching yang dia pakai. Tubuhnya putih mulus, perutnya rata, pinggulnya lebar. Payudaranya yang C-cup melambung keluar saat bra aku buka paksa. Putingnya sudah mengeras karena takut dan dingin.
“Tidak… Fikri… jangan lihat… tolong…” Yunita menangis, tangannya mencoba menutupi tubuhnya.
Aku tampar pipinya keras sekali.2962Please respect copyright.PENANAysEIPclghv
“Tutup mulut lo, jalang! Lo milik gue malam ini.” Aku dorong dia sampai berlutut di lantai depan Budi. Kursi Budi hanya dua meter darinya, jadi dia bisa lihat semuanya dengan jelas.
Aku buka resleting celanaku. Kontolku sudah berdiri tegak, panjang 18 cm, tebal, kepala merah mengkilap karena precum. Aku pegang kepala Yunita dengan dua tangan.2962Please respect copyright.PENANAyvdTDx2BcB
“Buka mulut lo, Yun. Hisap kontol gue seperti dulu.”
Yunita menggeleng, air mata mengalir deras.2962Please respect copyright.PENANAUtlF7mqxyq
“Tidak… aku nggak mau… Budi… tolong… panggil polisi…”
Budi menggeliat di kursi, tali menggigit pergelangan tangannya. 2962Please respect copyright.PENANAP5LRDanpvt
“Yunita… tahan… jangan lakukan… gue… gue nggak bisa apa-apa…”
Aku tekan kepala Yunita ke depan paksa. Kontolku menyentuh bibirnya. Dia mencoba menutup mulut, tapi aku cubit hidungnya keras sampai dia terpaksa membuka mulut untuk bernapas. Begitu mulutnya terbuka, aku dorong kontolku masuk sampai tenggorokan.
“Gghh… mmmppphhh!!” Yunita tersedak, matanya melotot. Air liurnya langsung meleleh keluar dari sudut mulut.
Aku pegang rambutnya dan mulai menggenjot mulutnya dengan brutal. 2962Please respect copyright.PENANAzIWINmoz3w
“Hisap, Yun! Hisap kontol mantan lo! Lo dulu jago ngisep ini. Ingat nggak? Tiap pagi sebelum kuliah lo selalu minta jatah oral dulu.”
Aku dorong pinggulku maju mundur cepat, kontolku keluar masuk mulutnya dengan suara basah “gluk gluk gluk”. Air liur Yunita menetes ke lantai. Dia batuk-batuk, tapi aku nggak kasih ampun. Tangan kananku meremas payudaranya, cubit putingnya keras sampai dia menjerit di dalam mulutku.
Budi menangis sekarang.2962Please respect copyright.PENANA0fneiSVDWU
“Fikri… lo manusia atau setan… hentikan… istri gue nggak suka…”
Aku pandang Budi sambil terus mengentot mulut Yunita. 2962Please respect copyright.PENANASEOfI8Jx7E
“Lo lihat ini, Budi? Lihat istri lo yang suci itu sekarang jadi pelacur mulut gue. Kontol gue lebih gede dari punya lo, kan? Lo nggak pernah bisa bikin dia jerit kayak gini.”
Setelah lima menit menggenjot mulutnya, aku tarik kontolku keluar. Yunita batuk-batuk hebat, ludahnya menetes di dagu dan payudaranya. Wajahnya merah, matanya bengkak karena nangis. 2962Please respect copyright.PENANA9iWNuJpN30
“Fikri… cukup… aku mohon… aku akan lakuin apa saja… tapi jangan di depan Budi…”
Aku angkat tubuhnya berdiri, lalu dorong dia ke meja makan yang besar. Aku baringkan dia telentang di atas meja, kepalanya menggantung di ujung dekat Budi. Aku buka kakinya lebar-lebar. Memeknya sudah agak basah meski dia menolak—bibir memeknya yang pink dan mulus terlihat jelas. Bulu kemaluannya dirapikan rapi, pasti buat suaminya.
“Lo lihat ini, Budi?” Aku buka memek Yunita dengan dua jari.2962Please respect copyright.PENANAN1b6ztlynq
“Memek istri lo masih cantik. Dulu gue yang bikin dia basah setiap hari.”
Aku ludahi kontolku, lalu gesek-gesek kepala kontol di bibir memeknya. Yunita menggeliat, mencoba menutup kakinya. 2962Please respect copyright.PENANAsYQr5eNiI3
2962Please respect copyright.PENANABgJi1zer46
“Jangan masuk… Fikri… sakit… aku nggak basah… tolong jangan…”
Aku tampar paha dalamnya keras. 2962Please respect copyright.PENANA5aJvM5sQfe
“Diam! Lo akan basah juga nanti.” Lalu dengan satu dorongan keras, aku tusuk kontolku masuk sampai pangkal.
“AAAAAHHHHH!!! SAKIT!!! FIKRI KELUARIN!!! KONTOL KAMU TERLALU BESAR!!!” Yunita menjerit keras sekali, tubuhnya melengkung di atas meja.
Aku merasakan memeknya yang sempit dan panas menggigit kontolku. 2962Please respect copyright.PENANAsHf1OfKNRG
“Enak banget memek lo, Yun. Masih ketat meski sudah kawin sama si lempeng ini.” Aku mulai menggenjotnya dengan ritme brutal—cepat dan dalam. Setiap dorongan membuat meja bergoyang dan payudaranya bergoyang-goyang liar.
“Plak! Plak! Plak! Plak!” suara tabrakan pangkal kontolku dengan memeknya menggema di ruangan.
Yunita menjerit-jerit tanpa henti.2962Please respect copyright.PENANAJHjpWr3uLO
“Aaaahh… sakit… pelan… Fikri… pelan… aku nggak tahan… Budi… maafkan aku… aaahhh!!”
Budi menangis tersedu.2962Please respect copyright.PENANAd3VK02lggv
“Yunita… tahan sayang… dia gila… polisi akan datang…”
Aku tertawa sambil terus mengentot. 2962Please respect copyright.PENANA1sAWW4N2RG
“Polisi? Rumah lo aja jauh dari tetangga, Budi. Hujan deras lagi. Jeritan istri lo nggak akan kedengeran. Nikmati aja pertunjukan gratis ini.”
Aku angkat satu kaki Yunita ke pundakku, posisi lebih dalam. Kontolku sekarang menyentuh dasar memeknya setiap kali. Aku genjot lebih cepat, tangan kiriku meremas payudaranya, cubit putingnya, tampar payudaranya sampai merah.
“Lo suka nggak, Yun? Kontol mantan lo lebih enak dari suami lo?” tanyaku sambil terengah.
Yunita menggeleng lemah, tapi suaranya mulai berubah. 2962Please respect copyright.PENANA9Ew0mR5Ioa
“Nggak… aku benci… aaahh… jangan bilang gitu… Budi… aku cinta kamu… aaahhh… Fikri jahat…”
Tapi memeknya semakin basah. Cairan memeknya mulai keluar, membuat kontolku licin dan suara “plok plok plok” semakin basah.
Aku pandang Budi.2962Please respect copyright.PENANAGpuxukDcuU
“Lihat, Budi. Istri lo basah sekarang. Memeknya ngeluapin cairan gara-gara kontol gue. Lo nggak pernah bikin dia basah segini, kan?”
Budi cuma bisa menunduk, air mata jatuh ke lantai.
Aku terus menggenjot selama hampir dua puluh menit di posisi itu. Yunita sudah tidak lagi menjerit “sakit” terus, sekarang campur aduk dengan erangan. 2962Please respect copyright.PENANATZalVkEGXq
“Ahh… ahh… Fikri… pelan… aaahhh… dalam banget… kontol kamu… aaahh…”
Aku rasakan orgasme pertamanya datang. Memeknya menggigit kontolku kuat-kuat, tubuhnya kejang, kakinya menendang-nendang. 2962Please respect copyright.PENANAI1SBkDlKR5
“Aaaaahhhhh!!! Aku keluar… Fikri… aku keluar… jangan berhenti… aaahhh!!!”
Aku tertawa menang. 2962Please respect copyright.PENANAIOtV36DImN
“Lihat tuh, Budi! Istri lo cum gara-gara gue entot dia! Lo kalah total!”
Aku nggak berhenti. Malah aku percepat genjotan. Aku tarik Yunita bangun dari meja, balik badannya menghadap Budi, lalu entot dia dari belakang sambil berdiri. Payudaranya bergoyang-goyang di depan muka suaminya. Aku pegang pinggulnya dan hantamkan kontolku dari belakang dengan keras.
“Plak! Plak! Plak! Plak!” suara pantatnya yang montok kena pangkal kontolku.
Yunita sekarang memegang pinggiran meja, kepalanya menunduk, rambutnya acak-acakan.2962Please respect copyright.PENANA830gOXsZsl
“Fikri… kamu kejam… aaahh… tapi… dalam banget… aaahh… Budi… maaf… aku nggak kuat… kontol dia terlalu gede…”
Aku tarik rambutnya ke belakang supaya kepalanya mendongak, matanya bertemu mata Budi. 2962Please respect copyright.PENANAqPmGrVYCCY
“Bilang ke suami lo, Yun. Bilang ‘kontol Fikri lebih enak dari kontol kamu, Budi’.”
Yunita menggeleng, tapi aku tampar pantatnya keras sampai meninggalkan bekas merah. 2962Please respect copyright.PENANAWfFI9uy9ZS
“Bilang! Atau gue entot lebih kasar lagi!”
Dengan suara gemetar dan terengah, Yunita akhirnya berkata, 2962Please respect copyright.PENANAIB419WTtru
“Kontol… Fikri… lebih enak… dari kontol kamu… Budi… aaahhh… maafkan aku…”
Budi menangis tersedu-sedu.2962Please respect copyright.PENANAE3HMtRjdYu
“Yunita… kenapa… kenapa lo bilang gitu…”
Aku semakin semangat. Aku angkat satu kaki Yunita ke atas meja, posisi standing fuck yang sangat dalam. Kontolku masuk sampai paling dalam. Aku genjot tanpa ampun, keringatku menetes ke punggungnya yang putih.
“Lo milik gue lagi malam ini, Yun. Memek lo gue isi penuh. Gue akan crot di dalam, biar lo hamil anak gue di depan suami lo.”
Yunita panik. “Jangan… jangan di dalam… aku lagi subur… Fikri… tolong… keluarin di luar… aaahhh… aku mohon…”
Tapi aku nggak peduli. Aku terus genjot sampai aku merasakan orgasme keduanya datang lagi. Kali ini lebih kuat. Tubuh Yunita kejang hebat, memeknya menyemprot cairan sampai membasahi lantai. 2962Please respect copyright.PENANAwmoZJtSU0x
“Aaaaahhhh!!! Lagi… aku cum lagi… Fikri… kamu bikin aku gila… aaahhh!!!”
Saat memeknya menggigit kontolku paling kuat, aku juga mencapai klimaks. Aku dorong kontolku dalam-dalam dan menyemburkan sperma panas-ku ke dalam rahimnya. 2962Please respect copyright.PENANAEVbjQpd2kM
“Nggghhh!!! Terima ini, Yun! Sperma mantan lo! Isi memek lo sampai penuh!”
Aku crot berkali-kali, sperma tebal keluar banyak sekali sampai memeknya penuh dan kelebihan menetes ke lantai.
Yunita menangis lagi, tapi tubuhnya lemas karena dua kali orgasme. 2962Please respect copyright.PENANA6Bn1O1RDBZ
“Fikri… kamu jahat… kamu muncratin aku… Budi… maaf… aku sudah kotor sekarang…”
Aku tarik kontolku keluar pelan. Memek Yunita menganga, sperma putihku keluar perlahan dari dalam. Aku paksa Yunita berlutut lagi di depan Budi.2962Please respect copyright.PENANAuTURNH2xSa
“Hisap kontol gue sampe bersih, Yun.”
Yunita sudah lelah, tapi dia patuh sekarang. Dia hisap kontolku yang masih keras, membersihkan sisa sperma dan cairan memeknya sendiri.
Aku pandang Budi yang wajahnya sudah pucat pasi.2962Please respect copyright.PENANAvqSLmcyMsd
“Lo lihat, Budi? Istri lo sekarang jadi pelacur gue lagi. Dan ini baru permulaan. Malam masih panjang.”
Aku istirahat sebentar, minum air dari dapur mereka. Yunita duduk di lantai, memeluk lututnya, sperma masih menetes dari memeknya. Budi masih terikat, matanya kosong.
Setelah sepuluh menit, nafsuku bangkit lagi. Kontolku sudah keras kembali. Kali ini aku tarik Yunita ke karpet ruang tamu, tepat di depan Budi. Aku suruh dia naik ke atas kontolku—cowgirl position.
“Naik sendiri, Yun. Masukin kontol gue ke memek lo yang penuh sperma gue.”
Yunita menggeleng lemah. “Fikri… cukup… aku capek… memekku sakit…”
Aku tarik rambutnya dan tampar pipinya.2962Please respect copyright.PENANA3znP5k6unD
“Naik! Atau gue entot pantat lo yang belum pernah gue sentuh.”
Dengan tangan gemetar, Yunita naik ke pangkuanku. Dia pegang kontolku dan arahkan ke memeknya yang sudah licin oleh sperma. Pelan-pelan dia turun, kontolku masuk lagi sampai habis.
“Ahhh… penuh lagi… Fikri… Kontol kamu terlalu besar…” erangnya.
Aku pegang pinggulnya dan mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dengan kasar. Payudaranya bergoyang-goyang tepat di depan wajahku. Aku hisap putingnya keras, gigit pelan.
“Gerak sendiri, Yun! Goyang pinggul lo kayak dulu waktu lo naik kontol gue di kosan!”
Yunita mulai gerak naik turun, awalnya pelan, tapi semakin cepat karena aku tampar pantatnya. 2962Please respect copyright.PENANArFCNRpvzmB
“Plak! Plak!” suara tamparan pantatnya.
“Ahh… ahh… ahh… Fikri… kontol kamu… menggesek dinding memekku… aaahhh…Kontolmu sampe mentok..aaahhh” erangannya semakin mesum.
Budi terpaksa nonton istri tercintanya naik turun kontol mantan pacarnya dengan liar. “Yunita… lo… lo menikmati ini?” suaranya pecah.
Yunita menoleh ke suaminya dengan mata sayu karena kenikmatan. 2962Please respect copyright.PENANA7o257lvkAT
“Budi… maaf… tapi… kontol dia… enak banget… aaahhh… kontolnya bikin memek aku penuh… aku nggak bisa berhenti… aaahhh!!”
Aku tertawa puas. 2962Please respect copyright.PENANAOLsdwc1mJR
“Denger tuh, Budi. Istri lo sudah ngaku. Dia jalang gue lagi.”
Aku balik posisi, sekarang aku yang di bawah, Yunita di atas, tapi aku genjot dari bawah dengan brutal. Pinggulku naik turun cepat, kontolku menghantam memeknya dari bawah. Suara “plok plok plok plok” sangat keras.
Yunita menjerit lagi orgasme ketiganya. Tubuhnya kejang, memeknya menyemprot lagi. 2962Please respect copyright.PENANANtoY6iUWcR
“Fikriiii!!! Aku mau keluar lagi!!! Kontol kamu bikin aku gila!!! Aaahhhhh!!!”2962Please respect copyright.PENANA6SdHo9y3G3
"Aaahhhh..Kontolin aku terus,Fikriii!! memek aku cuma buat kontolmu yang gede ini."
Aku nggak berhenti. Aku terus genjot sampai dia orgasme keempat. Kali ini dia menangis karena terlalu nikmat sekaligus malu.
Setelah itu, aku suruh dia doggy style lagi di lantai, tepat di samping kursi Budi. Aku entot dari belakang sambil tarik rambutnya seperti tali kekang kuda.
“Bilang ke suami lo berapa kali lo cum malam ini, Yun!”
Di antara erangan, Yunita menjawab, “Empat… kali… Budi… aku cum sampe muncrat empat kali… gara-gara Fikri… aaahhh… kontol dia lebih enak… maafkan aku… aku sudah jadi pelacur dia lagi…memek aku cuma buat kontol dia.”
Aku genjot tanpa henti selama hampir satu jam penuh di berbagai posisi: missionary di sofa, berdiri sambil angkat satu kaki, spooning di lantai, bahkan aku angkat tubuh Yunita dan entot sambil berdiri sambil dia memeluk leherku.
Setiap kali aku crot, aku crot di dalam memeknya. Sudah lima kali aku crot di dalam. Memek Yunita sudah penuh banget, sperma menetes terus ke lantai seperti air mancur kecil.
Pukul dua pagi, Yunita sudah lemas total. Tubuhnya penuh bekas tamparan, gigitan, dan sperma. Dia berbaring di lantai, memeknya menganga lebar, sperma putih mengalir deras.
Aku duduk di sofa, kontolku masih setengah keras. Aku pandang Budi yang sudah diam seperti mayat.
“Lo lihat, Budi? Malam ini gue ambil kembali Yunita. Pagi ini gue pergi, tapi lo akan ingat selamanya bagaimana gue ngentot istri lo di depan lo dengan brutal. Dan lo… lo nggak bisa apa-apa. Lo cuma bisa ngaceng doang.”
Yunita merangkak pelan ke arah Budi, suaranya lemah. “Budi… maafkan aku… aku dipaksa… tapi… tubuhku… sudah menikmati… aku nggak tahu lagi…aku cuma mau kontol dia di memek aku.”
"Aku, udah lama nggak ngerasain nikmat seperti ini..Budi..Baru kali ini..memek ku bisa begini, aku memang cinta kamu..budi..tapi nggak sama kontol kamu..."
Aku berdiri, pakai celana lagi. Sebelum pergi, aku tampar pantat Yunita sekali lagi. “Kalau lo rindu kontol gue lagi, Yun, telepon aja nomor lama gue. Gue akan datang kapan saja buat ngentot lo lagi—bahkan di depan suami lo yang lembek ini.”
"Datang lagi...besok fikri"
Aku buka pintu belakang dan menghilang ke dalam hujan malam.
ns216.73.216.105da2


