tanggal 14 Februari 2025, tepat setahun setelah aku resmi jadi suami Rara. Kami baru pindah ke rumah baru di pinggiran Semarang, rumah dua lantai yang masih wangi cat dan kayu jati. Rara bilang rumah ini cocok buat “membangun kenangan bertiga”—maksudnya aku, dia, dan… kakaknya, Mbak Dita.
7445Please respect copyright.PENANAjLFwvE2QSe
Mbak Dita itu kakak kandung Rara yang beda lima tahun. Umur 32, single, karirnya bagus sebagai interior designer freelance, tapi entah kenapa selalu punya alasan buat numpang di rumah kami hampir tiap akhir pekan. Awalnya aku nggak keberatan. Malah seneng, soalnya Mbak Dita orangnya asik, pinter ngobrol, masak enak, dan—harus kuakui—dia cantik banget dengan cara yang beda dari Rara.
7445Please respect copyright.PENANAmkOukVgFkq
Rara itu tipe imut-manis yang bikin orang pengen melindungi. Badannya mungil, tinggi cuma 158, kulitnya putih susu, pipinya selalu merona, matanya besar berbinar, rambutnya lurus panjang sebahu yang selalu wangi shampoo strawberry. Payudaranya… ya Tuhan, ukuran 34B yang pas di genggaman tangan, kencang, bentuknya bulat sempurna dengan puting kecil warna mawar yang gampang mengeras kalau aku cuma hembus napas di dekatnya. Bokongnya bulat mungil tapi padat, kakinya ramping, betisnya mulus, jari kakinya kecil-kecil lucu. Setiap kali dia pakai hot pants di rumah, aku langsung susah konsentrasi.
7445Please respect copyright.PENANAGtYxEf975x
Sedangkan Mbak Dita… beda level lagi. Tinggi 168, badan atletis karena dia rutin yoga dan lari pagi. Kulitnya sawo matang glowing, rambutnya wavy cokelat tua sebahu, selalu diikat ponytail tinggi yang bikin leher jenjangnya kelihatan seksi. Payudaranya jauh lebih besar dari Rara—kira-kira 36D, berat, penuh, tapi tetap kencang karena olahraga rutin. Aku pernah “tak sengaja” lihat lekukannya waktu dia pakai tanktop ketat tanpa bra di pagi hari—putingnya cokelat tua, besar, menonjol jelas di balik kain tipis. Bokongnya… astaga, bulat penuh, tinggi, bentuknya kayak buah pir terbalik yang menggoda setiap dia jalan. Pahanya tebal berotot tapi lembut, betisnya terdefinisi, kakinya panjang banget. Kalau dia pakai legging yoga, garis celah bokongnya samar-samar kelihatan dan aku harus buru-buru ke kamar mandi buat tenangin diri.
7445Please respect copyright.PENANAls1ReKhxl7
Aku tahu ini salah. Aku suami Rara. Aku cinta Rara mati-matian. Tapi Tuhan, kenapa otakku nggak bisa berhenti membandingkan mereka berdua?
7445Please respect copyright.PENANAFiBUUcSqNm
Hari itu, Jumat malam, hujan deras di luar. Kami bertiga lagi duduk di ruang keluarga. Rara selonjoran di pangkuanku, kepalanya bersandar di dada aku, tangannya mainin jari-jariku. Mbak Dita duduk di sofa sebelah, kakinya dilipat ke atas, pakai kaos longgar oversize dan celana pendek denim yang memperlihatkan hampir seluruh paha mulusnya.
7445Please respect copyright.PENANAhx7q55YzVk
“Eh, besok Sabtu kan libur semua,” kata Rara tiba-tiba, suaranya manja. “Aku pengen ke villa yang punya private sauna itu, yang di Ungaran. Udah lama banget nggak sauna bareng.”
7445Please respect copyright.PENANAHbeDfHOa4V
Aku langsung ngerasa jantungku naik setengah oktaf. “Bareng siapa?”
7445Please respect copyright.PENANAx7aEFgxLWk
Rara menoleh ke atas, matanya berbinar nakal. “Ya bareng Mbak Dita lah. Kan kalian juga suka banget sauna. Lagian villa itu ada private sauna buat empat orang, kita bertiga pas.”
7445Please respect copyright.PENANAUiB0nZHCBD
Mbak Dita nyengir, memutar gelas wine di tangannya. “Aku sih oke aja. Tapi kamu yakin, Ra? Suamimu nggak bakal risih sauna bareng iparnya?”
7445Please respect copyright.PENANA9CrA1SxLzu
Rara cekikikan, tangannya meraba paha dalamku pelan-pelan di bawah selimut. “Risih apaan? Dia kan paling suka lihat aku sama Mbak Dita pake handuk doang. Kan iya, Sayang?”
7445Please respect copyright.PENANA8JcGOulKDe
Aku cuma bisa ketawa kering. “Ya… nggak gitu juga sih.”
7445Please respect copyright.PENANALLCMUgc3Dq
Padahal dalam hati: iya banget.
7445Please respect copyright.PENANAXw959MLGuh
Mbak Dita menatapku lama. Tatapannya beda malam itu. Bukan tatapan kakak ipar biasa. Ada sesuatu yang dalam, seperti sedang mengukur, menggoda, tapi juga… penasaran. Bibirnya melengkung tipis.
7445Please respect copyright.PENANAxQKSkQXNtz
“Tenang aja, Mas Andi,” katanya pelan, suaranya serak karena wine. “Aku janji nggak bakal ganggu privasi kalian berdua. Kecuali… kalian yang ngajak aku ikutan main.”
7445Please respect copyright.PENANAYsxhepmjks
Rara langsung nyubit lengan Mbak Dita sambil ketawa. “Ih Mbak! Jangan kasih ide aneh-aneh ke suamiku!”
7445Please respect copyright.PENANAUYunBIFwzp
Tapi aku lihat, Rara nggak marah. Malah pipinya tambah merah, matanya berkilat. Ada sesuatu di udara malam itu yang terasa lebih tebal dari biasanya.
7445Please respect copyright.PENANAPJ8G2dje9O
Malam itu kami tidur bertiga di ranjang king size karena kamar tamu lagi dibersihin. Rara di tengah, aku di sebelah kanan, Mbak Dita di sebelah kiri. Lampu dimatikan, tinggal lampu tidur kuning temaram.
7445Please respect copyright.PENANAcDmqaxFNsH
Rara langsung merapat ke dadaku, kakinya melingkar di kakiku, napasnya hangat di leherku. “Sayang… aku seneng banget kita bertiga gini,” bisiknya pelan.
7445Please respect copyright.PENANAozvKB6tTwL
Aku cium keningnya. “Aku juga, Sayang.”
7445Please respect copyright.PENANA9Nw2UoYI3U
Dari seberang, Mbak Dita bergeser sedikit. Aku bisa dengar kain sprei berdesir. Dia membalikkan badan menghadap kami. Dalam gelap aku bisa lihat siluet payudaranya yang naik-turun pelan mengikuti napas.
7445Please respect copyright.PENANAwFf23itANO
“Ra…” panggil Mbak Dita pelan.
7445Please respect copyright.PENANAnsxIkaGPiv
“Hm?”
7445Please respect copyright.PENANAOKyQwo4aLP
“Kamu masih inget nggak, dulu waktu kecil kita suka tidur bareng gini? Kamu selalu peluk aku dari belakang.”
7445Please respect copyright.PENANArXM5MmKlVJ
Rara ketawa kecil. “Iya… aku suka bau badan Mbak. Masih sama kayak dulu.”
7445Please respect copyright.PENANAILxURGGgJa
Aku diam saja, tapi jantungku berdegup kencang. Rara tiba-tiba bergeser, badannya sekarang setengah menghadap Mbak Dita, tangannya meraih tangan kakaknya.
7445Please respect copyright.PENANACyywEXedtB
“Mbak… boleh nggak aku peluk Mbak juga malam ini? Kayak dulu.”
7445Please respect copyright.PENANAPLHARr3AXk
Mbak Dita diam sejenak. Lalu suaranya terdengar lembut, hampir bergetar.
7445Please respect copyright.PENANAxv7k42fk5V
“Boleh, Ra. Ayo sini.”
7445Please respect copyright.PENANAHCOLGMLP6e
Rara merangkak pelan, badannya sekarang di tengah-tengah kami berdua. Dia memeluk Mbak Dita dari depan, kepalanya bersandar di dada kakaknya. Aku bisa lihat tangan Rara melingkar di pinggang Mbak Dita, jari-jarinya menyentuh pinggul yang penuh itu.
7445Please respect copyright.PENANAUM1VDHEDdM
Aku… cuma bisa menatap.
7445Please respect copyright.PENANAvg3zm7zgfO
Mbak Dita mengusap rambut Rara pelan. “Kamu tambah manja ya setelah nikah.”
7445Please respect copyright.PENANA5tPgFHjb7q
“Salah suamiku yang terlalu memanjakan,” jawab Rara sambil cekikikan.
7445Please respect copyright.PENANAdiGe4FLvcr
Aku pura-pura batuk kecil. “Eh, aku juga boleh ikutan peluk nggak?”
7445Please respect copyright.PENANAnPy53hz4fe
Rara menoleh, senyumnya lebar di kegelapan. “Tentu boleh, Sayang. Sini…”
7445Please respect copyright.PENANAG0OSm4DSi8
Dia meraih tanganku, menariknya sampai aku ikut merapat. Sekarang posisinya: Rara di tengah, tangan kirinya melingkar di pinggang Mbak Dita, tangan kanannya memegang tanganku. Dadaku menempel punggung Rara, sementara dadaku hampir menyentuh lengan Mbak Dita.
7445Please respect copyright.PENANAxxEtDrSPvR
Dan di situlah pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang aneh.
7445Please respect copyright.PENANARblbgvQusz
Paha Mbak Dita menyenggol pahaku. Bukan sengaja, tapi juga bukan nggak sengaja. Kulitnya hangat, lembut, sedikit berkeringat karena selimut tebal. Aku bisa mencium aroma parfumnya—campuran vanila dan kayu cendana—bercampur dengan aroma tubuh Rara yang manis strawberry.
7445Please respect copyright.PENANArfnZBs0GCF
Rara tiba-tiba bergumam pelan, setengah mengantuk. “Mbak… payudara Mbak masih empuk banget ya…”
7445Please respect copyright.PENANAJRXasSPLDP
Mbak Dita tertawa kecil, suaranya bergetar. “Kamu kok masih suka ngeraba gitu sih, Ra.”
7445Please respect copyright.PENANAICR5z2rb0L
“Biasa aja… aku kangen.”
7445Please respect copyright.PENANACUw9qsATA5
Aku diam, tapi kontolku mulai bergerak sendiri di dalam celana boxer. Aku coba tahan napas supaya nggak terdengar.
7445Please respect copyright.PENANAR9fxTGykuQ
Mbak Dita tiba-tiba berbisik, hampir nggak kedengeran.
7445Please respect copyright.PENANAgf2cRIVuTf
“Andi… kamu nggak apa-apa di situ?”
7445Please respect copyright.PENANAvjWbPC6AnE
Aku menelan ludah. “Nggak apa-apa kok, Mbak.”
7445Please respect copyright.PENANA9pOdIwwn1W
Dia diam sejenak.
7445Please respect copyright.PENANAbSrIlZPUUD
“Lho kok napasnya cepet banget?”
7445Please respect copyright.PENANA9NWGe3E5gh
Rara langsung cekikikan pelan. “Ih Mbak! Jangan ngegoda suamiku dong…”
7445Please respect copyright.PENANAxxkXz9fsCS
Tapi tangan Rara malah merayap ke bawah, menyentuh kontolku dari luar celana. Dia cuma mengelus pelan, nggak agresif, cuma… menggoda.
7445Please respect copyright.PENANAAlXOGPVJ6V
“Mbak… suamiku lagi tegang nih,” bisik Rara sambil tertawa kecil.
7445Please respect copyright.PENANAYYy2n4CLmv
Mbak Dita nggak jawab langsung. Tapi aku merasa pahanya sengaja bergeser lagi, kali ini lebih jelas menekan pahaku.
7445Please respect copyright.PENANAZzuiMF5KgB
“Ya Tuhan, kalian berdua…” gumam Mbak Dita, suaranya serak. “Aku jadi ikutan panas.”
7445Please respect copyright.PENANA36TAZGER6X
Rara menoleh ke aku, matanya berkilat di temaram lampu tidur.
7445Please respect copyright.PENANAakTdKIWcg4
“Sayang… besok di sauna kita bertiga ya? Tanpa baju. Kayak dulu waktu kita pacaran dulu, cuma pakai handuk.”
7445Please respect copyright.PENANAH2I7dFLhu5
Aku cuma bisa mengangguk pelan.
7445Please respect copyright.PENANAGLfNJaZbri
Mbak Dita menarik napas dalam-dalam.
7445Please respect copyright.PENANA2HhTi7BfPn
“Kalau gitu… tidur dulu ya.
7445Please respect copyright.PENANAZmQHPyQncm
Dan malam itu, aku tidur dengan dua tubuh wanita yang sangat kucintai—satu istriku, satu kakak iparku—menempel di kedua sisi tubuhku, napas mereka berirama, payudara mereka naik turun pelan, dan aku… nggak bisa tidur sama sekali.7445Please respect copyright.PENANAHSVyrPukGT


