“Makin Tabu Makin Menggebu, Makin Dilarang Makin Merangsang, Makin Tua Makin Membara.”
^*^
Pagi di rumah Mayor Bagaskara Dharma terasa tenang dan ringan. Cahaya matahari merambat masuk lewat jendela, menyentuh lantai ruang makan yang masih dingin oleh sisa malam. Dari dapur, terdengar bunyi piring beradu pelan dan aroma tumisan sederhana yang menguar, wangi bawang dan sambal yang akrab, seperti penanda hari yang dimulai dengan niat baik.
Bu Tita sudah siap sejak subuh. Rambutnya tersanggul rapi dibalik jilbab sederhananya, celemek terikat di pinggang. Tangannya cekatan menyiapkan sarapan. Nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening. Tak mewah, tapi cukup untuk mengisi tenaga dan hati. Mayor Bagas duduk di kursi rotan, membaca koran sambil sesekali melirik ke arah dapur.
“Sudah siap sarapannya nih, Pak,” kata Bu Tita sambil meletakkan piring di meja.
Mayor Bagas melipat koran. “Wah, seperti biasa, dari aromanya saja sudah terasa pas di perut,” ujarnya sambil tersenyum.
Mereka makan bersama tanpa banyak kata. Bukan karena tak ada yang ingin dibicarakan, melainkan karena kebersamaan itu sendiri sudah cukup. Sesekali Bu Tita mengingatkan jadwal, pasokan bahan, atau pesanan yang harus disiapkan hari itu. Mayor Bagas mendengarkan sambil mengangguk, sesekali menimpali dengan komentar singkat.
Tak lama kemudian, suara klakson terdengar dari depan rumah. Tidak nyaring, lebih seperti sapaan sopan. Bu Tita menoleh ke jam dinding.
“Itu Agri sudah datang,” katanya.
Benar saja, Inggar, salah seorang pegawai mereka, sudah menunggu di depan dengan mobil bak terbuka yang biasa dipakai mengangkut bahan-bahan rumah makan. Sejak dulu, Agri keponakan jauh Bu Tita itu memang ikut mengelola usaha rumah makan mereka. Anak muda yang ulet, tak banyak bicara, tapi kerjanya rapi dan bisa diandalkan.
Mayor Bagas berdiri, mengantar sampai depan.
Bu Tita menatap suaminya. “Nanti jangan lupa makan siang, Pak. Ibu udah masak yang Bapak suka.”
Mayor Bagas tersenyum kecil. “Siap, Bu.”
Di depan rumah, Agri turun dari mobil. “Pagi, Pak, Bu,” sapanya sopan.
“Pagi, Gri,” jawab Mayor Bagas sambil menepuk bahu menantunya.
Bu Tita melambaikan tangan ketika mobil perlahan melaju. Dari teras, ia berdiri sejenak, memastikan semuanya berjalan seperti seharusnya. Pagi itu terasa hangat, bukan hanya karena matahari yang mulai naik, tetapi karena hidup, meski sederhana dan berulang, tetap memberi rasa tenang ketika dijalani bersama orang-orang yang saling menguatkan.
Dengan bercelana pendek dan kaos loreng, Mayor Bagas melangkah keluar dari rumahnya, menghirup udara yang masih segar. Embun sudah tidak ada yang menempel di dedaunan. Di tangannya, sebuah senapan angin tergenggam santai, bukan untuk berburu sungguhan, hanya untuk mengisi waktu dengan sedikit keisengan.
Ia berjalan pelan, matanya menyapu ke sekeliling. Pepohonan rindang berdiri kokoh, suara burung-burung bernyanyi di antara dahan-dahan tinggi. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menciptakan pola bayangan yang bergerak pelan di tanah.
Mayor Bagas mengangkat senapannya, membidik sebuah ranting kering di kejauhan. Ia menarik napas, menahan selama beberapa detik, lalu menarik pelatuk.
Pletak!
Ranting itu patah dan jatuh ke tanah. Ia menyeringai kecil, menikmati kepuasan sederhana dari tembakannya yang tepat sasaran.
Ia melanjutkan langkahnya, melihat seekor tupai kecil di cabang pohon, ekornya bergerak-gerak, sontak matanya menatapnya penuh waspada. Mayor Bagas tersenyum, menurunkan senapannya. Ia bukan pemburu, dan pagi ini ia pergi bukan untuk membunuh.
Angin berembus pelan, membawa aroma rumput dan dedaunan. Mayor Bagas terus berjalan, menikmati ketenangan limgkungannya, di antara alam yang hanya membalas keisengannya dengan bisikan lembut pepohonan.
Mayor Bagas melangkah lebih jauh hingga tiba di tepian sungai kecil yang membelah hutan. Airnya jAtnikeh, mengalir tenang dengan suara gemericik yang menenangkan. Ia baru saja hendak duduk di atas batu besar, menikmati hari yang damai, ketika matanya menangkap sesuatu di seberang.
Seketika, tubuhnya menegang.
Di bawah rimbunnya dedaunan, tersembunyi dari jalur utama, ada sepasang manusia pria dan wanita yang sedang melakukan sesuatu yang sangat mencurigkan. Gerakan mereka begitu alami, liar namun intim, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Kulit mereka berkilau oleh pantulan cahaya matahari yang menyelinap di antara ranting-ranting.
Gelombang kecil di permukaan air menunjukkan bahwa mereka mungkin sempat bermain di sungai sebelum semuanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mendebarkan.
Mayor Bagas tetap diam, bukan karena takut ketahuan, tapi karena pemandangan ini begitu mengejutkan. Ia tidak tahu siapa mereka, dari mana mereka datang. Apakah sepasang kekasih yang sengaja mencari ketenangan di alam terbuka? Atau mungkin pasangan terlarang yang memanfaatkan kesunyian tempat untuk melampiaskan hasrat?
Ia menelan ludah, tiba-tiba merasa seperti penyusup di sebuah adegan yang seharusnya bukan untuk matanya. Jari-jarinya menggenggam senapan angin lebih erat, bukan karena gelisah, tapi dorongan naluriah sebagai Purnawirawan TNI untuk tetap siaga.
Mayor Bagas menahan napas sejenak, lalu melangkah lebih dekat, berusaha tidak menimbulkan suara di antara semak-semak. Daun-daun kering di bawah kakinya sedikit berdesir, tapi suara gemericik air dan desahan halus dari pasangan di seberang tampaknya lebih mendominasi. Dari celah dedaunan, ia mengintip, mencoba mengenali wajah mereka. Namun, masih belum terlihat jelas.
Lelakinya tampak masih muda, namun kekar, dengan rambut sedikit gondrong tergerai di bahunya, sementara perempuan itu memiliki tubuh ramping dengan kulit kecokelatan yang berkilau oleh sinar matahari, dan masih memakai jilbab walau sudah acak-acak, rambutnya banyak yang keluar semakin menyamarkan wajahnya. Sepertinya mereka bukan orang-orang yang pernah Mayor Bagas temui di kota sekitar.
Jantung Mayor Bagas berdetak lebih cepat, bukan karena terangsang, tapi karena perasaan aneh yang menyusup dalam dirinya. Ada sesuatu yang begitu liar dan primitif dalam cara mereka bersetubuh, seakan mereka bagian dari alam itu sendiri, tanpa beban, tanpa peduli apakah ada orang lain yang akan melihat segala tindakan tak pantasnya.
Mayor Bagas masih berdiri di balik semak-semak, napasnya tertahan saat menyaksikan bagaimana pasangan itu larut dalam dunianya sendiri. Ada sesuatu yang ganjil dalam perasaannya, bukan sekadar rasa bersalah karena mengintip, melainkan sesuatu yang lebih primitif.
Matanya mengikuti gerakan mereka. Cara lelaki itu menyusuri lekuk tubuh pasangannya dengan penuh penghayatan, sementara perempuan itu menengadah, seolah menyerahkan diri sepenuhnya. Mereka begitu alami, seakan alam ini memang milik mereka. Mayor Bagas berusaha memperhatikan wajah mereka, namun masih belum jelas.
Namun, tiba-tiba, sesuatu membuat bulu kuduk Mayor Bagas meremang. Dari balik punggung lelaki itu, ia melihat sekelebat bayangan bergerak di antara pepohonan. Seperti mata yang mengintai. Sepertinya bukan hanya dia yang menyaksikan adegan ini. Ada orang lain di luar sana.
Mayor Bagas segera merapatkan tubuhnya ke batang pohon, matanya menyipit, mencoba menelusuri siapa atau apa yang mengawasi dari kejauhan. Sensasi mencekam mengusik gairah yang sempat hadir, dan kini, ia lebih fokus pada satu hal—apakah pasangan itu dalam bahaya? Ataukah justru dirinya yang harus bersiap menghadapi sesuatu?
Mayor Bagas masih menempel di batang pohon, napasnya berusaha dikendalikan. Dari celah dedaunan, ia kembali mengintip ke arah pasangan paruh baya yang masih tenggelam dalam pusaran gairah. Sang wanita menggeliat dalam pelukan pasangannya, jemarinya mencengkeram rerumputan, sementara bibirnya merekah, mengerang dalam kenikmatan yang semakin memuncak. Penis itu semakin dalam menghujam vagina dan anusnya bergantian.
"Oooh ssst Jack... ahh... teruus Jack..."
Jantung Mayor Bagas berdegup keras. Tubuhnya menegang seketika. Nama itu menggema di udara, menyusup ke dalam kepalanya seperti sesuatu yang tak terduga. Matanya menatap lekat wajah perempuan itu, bukan nama yang dia ingat namun samar-samar, merasa sangat familiar dengan suara itu. Namun, dalam keadaan seperti ini, sulit baginya untuk memastikan.
Mayor Bagas tetap membeku di balik batang pohon besar, napasnya tertahan rapat. Nama “Jack” itu seperti petir kecil yang menyambar ingatannya, tapi ia belum bisa menangkap wajah dengan jelas, cahaya matahari yang menyelinap membuat siluet mereka terkadang buram, terkadang terlalu terang.
Di pinggir sungai, pasangan itu semakin larut.
Jack, lelaki bertubuh kekar dengan rambut gondrong yang kini basah oleh keringat dan percikan air mengangkat kedua paha wanitanya lebih tinggi. Lutut perempuan itu tertekuk, kakinya terbuka lebar, menampilkan seluruh kemesraan tubuhnya yang berkilau oleh campuran air sungai dan keringat. Vaginanya yang sudah membengkak dan basah kuyup terlihat jelas setiap kali Jack menarik pinggulnya ke belakang, hanya untuk kemudian menghujam lagi dengan penuh tenaga hingga pangkal.
Setiap dorongan dalam menghasilkan bunyi basah yang khas, bercampur dengan gemericik air dan desahan panjang sang perempuan.
“Ahh… Jack… lebih dalam lagi… nikmaaat ini… udah lama aku nggak begini…” suara perempuan itu parau, setengah merengek setengah memohon.
Jack hanya menggeram pelan. Tangannya yang besar mencengkeram pinggul wanita itu, jari-jarinya menekan kulit hingga meninggalkan bekas merah samar. Ia menarik keluar perlahan sekali, hampir sampai ujung, membiarkan kepala penisnya yang membengkak menggesek dinding dalam vagina yang sudah licin itu, sebelum kemudian menusuk kembali dengan satu hentakan kuat yang membuat tubuh perempuan itu tersentak ke atas.
“Uhh… ya Allah… gitu… lagi… lagi… enak bangeeet Jack… aaaah…”
Jack kemudian mengubah posisi. Ia menarik tubuh perempuan itu hingga duduk di pangkuannya, menghadap ke arahnya. Kini posisi mereka seperti duduk berhadapan di atas rerumputan yang basah. Kedua tangan perempuan itu melingkar di leher Jack, sementara pinggulnya naik-turun mengikuti irama yang ia atur sendiri.
Payudaranya yang penuh bergoyang-goyang setiap kali ia menurunkan pinggul, putingnya yang mengeras bergesekan dengan dada bidang suaminya. Namun sayang wajahnya masih kurang jelas karena terhalang jilbabnya yang acak-acakan dan tidak dilepas.
Jack menunduk, menangkap salah satu puting itu dengan mulutnya. Ia mengisap kuat, lidahnya berputar-putar di sekitar areola, sesekali menggigit ringan hingga perempuan itu menjerit kecil.
“Aduh… pelan… ahh… tapi jangan berhenti…”
Sementara mulut Jack sibuk di dada, tangan kanannya turun ke belakang. Jari telunjuk dan tengahnya yang sudah licin oleh cairan vaginanya merayap ke belakang, menyentuh lubang anus yang juga sudah sedikit terbuka karena sebelumnya sempat dimasuki. Perlahan ia memasukkan satu jari, lalu dua, memutar-mutar di dalam, merenggangkan otot-otot itu sambil tetap menjaga irama hentakan pinggul perempuan itu.
Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepala, jilbab dan rambut panjangnya kian acak-acakan namun tetap menghalangi wajahnya liar. Walau terlihat wjahnya memerah hebat, mata terpejam rapat, mulut terbuka lebar mengeluarkan erangan yang semakin tak terkendali.
“Jack… aku… aku mau… mau keluar… ahhh… terusin… jangan berhenti… masukin yang belakang lagi… please…”
Jack tak perlu diminta dua kali. Ia menarik penisnya keluar dari vagina, ujungnya basah mengkilap oleh cairan wanita binal itu. Dengan gerakan cepat namun terkontrol, ia mengarahkan kepala penis itu ke lubang anus yang sudah sedikit terbuka. Perlahan, sangat perlahan, ia mendorong masuk. Perempuan itu menahan napas, tubuhnya menegang sejenak, lalu meleleh ketika akhirnya kepala penis itu masuk sepenuhnya.
“Uuhhh… pelan… pelan dulu… sayaaang, aaah besar sekali… sakiit tapi nikmaaat…”
Jack berhenti sejenak, membiarkan istrinya menyesuaikan. Tangannya kembali ke depan, jari telunjuk dan tengahnya kini memainkan klitoris yang sudah membengkak, menggosoknya dengan gerakan melingkar cepat. Perlahan ia mulai bergerak lagi, keluar-masuk di lubang belakang dengan ritme yang semakin dalam, semakin kuat.
Perempuan itu kini tak lagi bisa menahan suara. Erangannya memenuhi udara pagi yang seharusnya tenang itu.
“Ya Allah… Jack… aku… keluar… keluar sekarang… ahhh…!!”
Tubuhnya mengejang hebat. Pinggulnya bergetar tak terkendali, cairan bening menyembur kecil dari vaginanya, membasahi paha Jack dan rerumputan di bawah. Jack sendiri menggeram dalam, tangannya mencengkeram pinggulnya kuat-kuat, lalu beberapa hentakan terakhir yang dalam dan kasar sebelum akhirnya ia melepaskan segalanya di dalam anus pasangannya. Tubuh mereka berdua bergetar bersama, napas tersengal-sengal, keringat bercucuran.
Mereka diam beberapa saat, masih saling berpelukan erat, seolah dunia di sekitar mereka tak pernah ada.
Mayor Bagas, yang selama ini hanya bisa menatap dengan napas tertahan, merasakan jantungnya berdetak kencang sekali. Bukan hanya karena pemandangan di depannya, tapi karena nama “Jack” itu terus berputar di kepalanya.
Dan perempuan itu siapa? Suaranya sangat dia kenal…
^*^
ns216.73.216.56da2


