Sore itu, halaman kantor Koramil terasa berbeda. Tidak ada aba-aba, tidak ada barisan yang kaku, dan tidak ada suara sepatu beradu lantai dengan ritme resmi. Yang ada hanya tawa kecil, kursi plastik yang digeser seadanya, serta aroma masakan yang mengalir pelan dari dalam ruangan seperti kenangan yang enggan pergi.
Mayor Bagaskara Dharma berdiri di dekat pintu, berseragam sederhana, topinya sudah lama ia lepas. Wajahnya tetap tegas seperti biasa, tetapi sorot matanya sore itu lebih lembut.
Hari itu adalah hari terakhirnya menjabat sebagai Komandan Rayon Militer. Tidak ada upacara besar, tidak ada podium tinggi. Ia memilih perpisahan yang hangat, dekat, dan jujur.
Di sampingnya, Bu Tita tersenyum ramah, sesekali menyapa satu per satu para prajurit dan staf Koramil. Banyak dari mereka mengenalnya bukan hanya sebagai istri Danramil, tetapi juga sebagai pemilik rumah makan yang namanya sudah melewati batas kecamatan.
Masakan Bu Tita sore itu memenuhi meja panjang. Ada gulai, ayam bakar, sambal yang pedasnya bersahabat, dan beberapa hidangan yang membuat para anggota bercanda bahwa perpisahan ini terlalu mewah untuk disebut sederhana.
“Silakan makan dulu,” kata Bu Tita ringan. “Kalau Pak Mayor sudah mulai bicara, biasanya makanan jadi dingin.”
Tawa pun pecah. Mayor Bagaskara hanya menggeleng kecil, lalu menepuk meja pelan.
“Baik,” katanya. “Saya cuma mau bilang sedikit. Tidak pakai teks. Kalau salah-salah, ya mohon dimaklumi.”
Ia menatap wajah-wajah yang sudah begitu dikenalnya. Ada yang dulu datang sebagai prajurit muda dengan seragam kebesaran, ada yang pernah ia tegur keras, ada pula yang pernah ia bela mati-matian di hadapan atasan.
“Terima kasih,” lanjutnya. “Saya bukan komandan yang sempurna. Kadang keras, kadang terlalu diam. Tapi saya selalu percaya satu hal. Kita ini satu keluarga. Kalau satu orang jatuh, yang lain ikut menopang.”
Beberapa kepala mengangguk. Suasana mendadak hening, tetapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti jeda yang penuh rasa.
“Saya pamit dari jabatan ini,” katanya lagi, “bukan dari persaudaraan. Kalau nanti kita bertemu di jalan, di warungnya Bu Tita, atau di mana pun, jangan sungkan menyapa. Pangkat boleh berubah, tapi rasa hormat dan kebersamaan jangan ikut pensiun.”
Bu Tita menambahkan dengan nada bercanda, “Dan jangan lupa, kalau mampir ke rumah makan, bilang saja anak Pak Mayor. Diskon tergantung mood pemilik.”
Gelak tawa kembali mengisi ruangan. Ketegangan yang sempat menggantung luruh seketika. Beberapa anggota mulai maju, menyalami Mayor Bagaskara dengan mata yang sedikit berkaca. Tidak ada kata-kata berlebihan, hanya jabat tangan yang lebih lama dari biasanya.
Sore itu berakhir dengan makan bersama, cerita-cerita lama yang diulang, dan foto-foto yang diambil tanpa aba-aba resmi. Kantor Koramil menjadi saksi bahwa sebuah perpisahan tidak selalu harus tegar dan kaku. Kadang, ia cukup hangat, sederhana, dan penuh rasa syukur.
Sebelum matahari benar-benar turun, Bu Tita pamit lebih dulu. Sopir pribadinya sudah menunggu di depan, mobil terparkir rapi seolah paham betul bahwa perpisahan ini tidak ingin diputus mendadak.
“Maaf ya, saya harus ke rumah makan,” kata Bu Tita sambil menyalami satu per satu. “Jam segini biasanya mulai ramai. Kalau saya telat, nanti sambalnya keburu habis.”
“Lho, Bu, justru sambalnya yang kami tunggu,” sahut salah satu anggota, disambut tawa ringan.
Bu Tita tersenyum, lalu menoleh ke suaminya. “Jangan kelamaan, Pak Mayor. Ingat usia.”
Mayor Bagasa hanya mengangguk kecil, senyum tipisnya menyimpan rasa terima kasih yang tidak perlu diucapkan.
Setelah Bu Tita pergi, suasana berubah sedikit. Lebih pelan, lebih intim. Beberapa yang tersisa adalah wajah-wajah lama. Para senior, rekan seangkatan, bahkan beberapa yang sebenarnya sudah pensiun tetapi sengaja datang sore itu. Rambut mereka sebagian memutih, perut tidak lagi setegap dulu, tetapi cara mereka duduk dan tertawa masih membawa bayangan masa muda.
“Gak kerasa ya, Pak Mayor,” ujar seorang mantan Bintara senior sambil menyeruput teh. “Kita dulu masih kurus, sekarang tinggal kenangan.”
Mayor Bagas tertawa pelan. “Yang penting kenangannya masih ada. Perut boleh maju, persaudaraan jangan mundur.”
Obrolan mengalir tanpa arah resmi. Mereka mengenang operasi kecil di desa, malam-malam jaga yang diisi kopi pahit, sampai kisah-kisah rumah tangga yang kini lebih sering jadi bahan candaan daripada keluhan.
“Kalau soal karier, mungkin kita beda-beda,” kata seorang pensiunan dengan nada jujur. “Tapi soal rumah tangga, kami sepakat satu hal. Pak Mayor ini sukses luar biasa.”
Mayor Bagas mengangkat alis. “Sukses apanya, Komandan?”
“Semuanya,” sahut yang lain cepat. “Istri punya rumah makan besar, anak-anak berhasil semua. Empat kandung, satu angkat, gak ada yang melenceng. Itu prestasi yang gak semua orang bisa dapat.”
“Ada juga,” tambah yang lain sambil tertawa, “piagam penghargaan suami setia, pasangan paling ideal. Itu resepnya apa, Pak Mayor? Tolong dibagi sebelum kami benar-benar pensiun dari rumah sendiri.”
Gelak tawa pecah. Mayor Bagas menggeleng, wajahnya sedikit memerah.
“Tidak ada resep khusus,” katanya akhirnya. “Cuma satu. Pulang. Seberapapun capeknya, pulanglah. Dengarkan. Jangan merasa paling benar. Dan ingat, istri itu bukan pendamping di belakang, tapi partner di samping.”
Beberapa mengangguk, beberapa menghela napas panjang.
“Pantas saja Pak Mayor masih kelihatan gagah,” celetuk seorang yang lain. “Kami ini sudah mulai sering mengeluh. Pinggang, lutut, tidur gak nyenyak.”
Mayor Bagas tersenyum. “Saya juga pegal. Cuma saya lebih dulu mengaku, hahahaha.”
Tawa kembali mengisi ruangan. Tidak ada iri, tidak ada cemburu. Yang ada hanya pengakuan jujur, bahwa di antara mereka, Mayor Bagaskara Dharma bukan hanya berhasil sebagai prajurit, tetapi juga sebagai kepala keluarga.
Malam merayap pelan. Satu per satu mereka pamit, jabat tangan terasa lebih erat, seolah ingin menyimpan sisa waktu di telapak tangan.
Mayor Bagaskara Dharma melangkah pergi dari jabatannya, tetapi meninggalkan jejak yang akan lama tinggal di hati orang-orang yang pernah berdiri bersamanya.
^*^
Malam turun perlahan di rumah makan ‘Khas Sunda Bu Tita.’ Lampu-lampu kuning menyala satu per satu, memantulkan kilau hangat di meja-meja kayu yang mulai terisi. Suara piring, sendok, dan obrolan pelanggan mengalun seperti musik latar yang sudah sangat ia kenal. Di balik senyum ramahnya saat menyapa tamu, pikiran Bu Tita berjalan di lorong lain, lebih sunyi dan lebih sempit.
Ia memberi isyarat singkat pada kepala pelayan, lalu melangkah ke ruang belakang. Di sana lebih sepi, hanya ada suara kipas angin dan dengung kulkas tua. Ponsel di tangannya terasa lebih berat dari biasanya.
Bu Tita menarik napas, lalu menekan nomor yang sudah lama tersimpan tanpa nama. Nada sambung terdengar sekali, dua kali, sebelum akhirnya diangkat.
“Ini aku,” katanya pelan, tanpa basa-basi.
Suara di seberang sana terdengar terkejut, lalu cepat berubah hangat. Suara seorang lelaki, tenang, matang, usia yang barangkali tak jauh berbeda dengan Mayor Bagas. Suara yang terlalu ia kenal.
“Kita harus berhenti,” lanjut Bu Tita, langsung ke inti. “Untuk sekarang. Semua.”
Ada jeda. Hening yang panjang, seperti seseorang sedang menahan keberatan.
“Mas Bagas sudah pensiun,” kata Bu Tita lagi. “Dia akan lebih sering di rumah. Bisa juga di sini, di rumah makan. Aku tidak mau ada kecurigaan. Aku tidak mau ada apa pun yang tidak kita inginkan.”
Suara lelaki itu merendah, nyaris membujuk. Ia berkata semuanya bisa diatur. Seperti dulu. Tidak akan ada yang tahu. Tidak akan ada yang berubah.
Bu Tita memejamkan mata.
“Justru karena kita besan dan sudah terlalu lama,” jawabnya lirih, “kita harus berhenti.”
Nada di seberang mulai terdengar berat. Keberatan, mungkin juga rasa takut kehilangan. Ia mengatakan mereka sudah melewati terlalu banyak hal untuk mengakhirinya begitu saja.
“Kita tidak mengakhirinya,” potong Bu Tita cepat. “Kita menghentikannya untuk sementara. Itu berbeda.”
Ia berdiri tegak, seolah keputusan itu perlu posisi tubuh yang kokoh.
“Iya, untuk sementara,” lanjutnya, “jangan hubungi aku. Dengan cara apa pun. Jangan datang. Jangan kirim pesan. Jangan titip kabar lewat siapa pun.”
Hening kembali jatuh di antara mereka. Dari luar, terdengar tawa pelanggan. Dunia berjalan seperti biasa, seakan percakapan ini tidak pernah ada.
“Ini demi kebaikan kita semua, termasuk keluarga kita masing-masing,” kata Bu Tita akhirnya. “Iya, termasuk keluarga kamu juga.”
Panggilan berakhir tanpa kata perpisahan.
Bu Tita menatap layar ponsel yang sudah gelap. Ia tidak tahu apakah keputusan itu akan benar-benar menutup sesuatu, atau justru hanya menahannya agar tidak meledak. Ia hanya tahu satu hal, garis batas telah ia tarik sendiri.
Ia merapikan napas, menyimpan ponsel, lalu kembali melangkah ke depan. Senyumnya kembali terpasang, cekatan, sempurna.
Di luar, malam semakin ramai. Tidak satu pun dari mereka yang duduk menikmati hidangan tahu, bahwa di balik dapur hangat itu, sebuah rahasia lama baru saja diminta untuk tidur sementara.
Ponsel di saku celemek Bu Tita bergetar.
Ia berhenti di tengah langkah. Lampu-lampu terasa terlalu terang, suara restoran mendadak menjauh, seperti ditelan air.
Sebuah pesan masuk. Nama pengirimnya berbeda, asing, seolah sengaja disamarkan.
[Apa perlu aku mendatangi Mayor Bagas dan memintamu? Memangnya kamu masih mau melayani dia?]
Bu Tita membeku. Dunia serasa berhenti berputar. Detak jam di dinding terdengar terlalu keras. Tangannya gemetar, namun wajahnya tetap tenang di hadapan para pelayan yang lalu-lalang.
Ia menarik napas panjang, lalu mengetik dengan jari yang kini terasa dingin.
[Kita besan, sudah sama-sama tua, sudah saatnya berhenti dulu, titik]
Pesan terkirim.
Tidak ada balasan.
Bu Tita mematikan layar. Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya tidak segera kembali. Di luar, suara sendok dan piring terus berdenting, seolah menertawakan rahasia yang baru saja membuka mata.
^*^
ns216.73.216.56da2


