Aku yang masih enak dikasur masih teringat dengan kejadian semalam aku tersenyum bahagia, sebetulnya saya bisa pulang awal jam 10 malam karena memang saat itu aku dan Vanes sedang horny hornynya jadi kita ber 3 ronde sampai akhirnya pagi menyambut kita.
"Walah...repot bener nih, pikiru. "Lagi sendiri, eh ngaceng." kebetulan dia rumah tidak ada pembantu, karena istriku, indah, lebih suka bersih-bersih rumah sendiri dibantu kedua anakku. "Biar anak-anak ga manja dan bisa belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat pengeluaran," kilah istriku. Aku setuju saja.
Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, setelah memutar DVD BF. Sengaja kusetel, biar hasratku cepat tuntas. Setelah kucuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan tidak pakai celana. Pelan-pelan kuurut dan kukocok tongkolku.
Tampak dari ujung lubang tongkolku melelehkan cairan bening, tanda bahwa birahiku sudah memuncak tinggi. Aku pun teringat Firda, sahabat istriku. Kebetulan Firda berasal dari suku chinese. Dia adalah sahabat istriku sejak dari SMP hingga lulus kuliah, dan sering juga main kerumahku. Kadang sendiri, kadang bersama keluarganya.
Ya, aku memang sering berfantasi sedang menyetubuhi Firda. Tubuhnya mungil, setinggi Vanes, tapi lebih gendut. Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Dan pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng kalo dia berkunjung.
Aku hanya bisa membayangkan seandainnya tubuh mulus Firda bisa kujamah, pasti nikmat sekali. Fantasiku ini ternyata membuat tongkolku makin keras, merah padam can ciran bening itu mengalir lagi dengan deras. Ah Linda... seandainya aku bisa menyentuhmu... dan kamu mau ngocokin tongkolku... begitu pikiranku saat itu.
Lagi enak-enak ngocok sambil nonton bokep dan membayangkan Firda, terdengar suara langkah sepatu dan seorang memanggil-manggil istriku.
"Ndah...Indah....aku datang," seru suara itu....
Oh my gosh... itu suara Firda mau ngapain dia kesini, pikirku. Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Firda memang tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan keluarganya.
Belum sempat aku berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan diri, tau-tau Firda udah nongol di ruang tengah, dan
"AAAHHH...ANDREEEEW...!!!!, "jeritnya. "Kamu lagi ngapain?"
"Aku...eh...anu...aku....ee...lagi...ini...,"aku tak bisa menjawa pertanyaannya. Gugup. Panik. Sal-ting. Semua bercampur jadi satu.
Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku, tiba-tiba muncul dihadapanku dan straight, langsung melihatku dalam keadaan telanjang, gak pake celana, Cuma kaos aja. Ngaceng pula.
"Kamu dateng ok gak ngabarin dulu sih?" aku protes.
"Udah, sana, pake celana dulu!" Pagi-pagi telanjang, nonton BF sendirian, lagi ngapain sih ?" ucapnya sambil duduk di kursi di depanku.
"Yee...namanya juga lagi horny... ya udah mending colai sambil nonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya lagi pergi ke sekolah. Ya udah, self service, "sahutku.
"Udah, Ndrew. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?"
"Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk, "kilahku.
"Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi." Firda beranjak dari duduknya, dan pamit pulang.
Buru-buru aku mencegahnya. "Lin, ntar dulu lah...,"pintaku.
"Apaan sih, orang aku mau ngajak Indah jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri, "sahutnya.
"Bentar deh Fir. Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,"aku berusaha merayunya.
"Gila kamu ya!!!" Linda protes sambil melotot. "Kamu jangan macem-macem deh, Ndrew. Gak mungkin donk aku lakukan itu," sergahnya. "fir,"sahutku tenang. "Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil liatin aku colai." "Gimana?"
Firda tidak menjawab. Matanya menatapku tajam.
Sejurus kemudian...
Bersambung...
ns216.73.217.85da2


